MY GLOOMY WORLD [Chap. 7]

mgw

Author : Aitsil96

Main Cast : Kwon Ji Yong and Park Sandara

.

“Aku hanya bisa merasakan satu hal. Sakit.”

.

.

.

Dengan mengenakan seragam khas, pria itu duduk di bangsal yang dikhususkan untuk dirinya. Kamar itu sempit dengan warna putih di sekeliling menambah aura dingin terpancar. Ia bosan, rasanya telah lama duduk di sini menyendiri bertemankan sepi. Jikalau ada seseorang yang datang, maka ia hanya diizinkan untuk melihat dari luar dengan kaca transparan. Orang yang boleh masuk hanyalah wanita berseragam putih dengan membawa alat-alat yang tak ia mengerti. Terkadang ada seorang pria dengan jubah putihnya dengan memakai alat yang tergantung di leher.

Pria itu ingin sekali bertanya, mengapa ia berada di sana? Apa alasannya hingga ia bisa berada di tempat yang bagai pengasingan ini? Namun satu kata pun tak dapat keluar dari mulutnya. Bukannya tidak mau, namun ia memang tidak mampu mengucapkannya. Lidahnya kelu, pikirannya terus berputar dengan ribuan pertanyaan bersarang di benaknya. Mencoba mengingat apa yang telah terjadi karena kini ia merasa separuh ingatannya menghilang entah kemana.

Setengah jam terakhir ia habiskan waktunya dengan betah memandangi kaca luar seraya berbaring. Ia rela menghabiskan waktunya demi memandangi gadis yang kini juga tengah menatapnya. Coat biru safir melingkupi tubuh gadis mungil yang terlihat ringkih itu. Tiada hari yang gadis itu lewatkan untuk mengunjunginya. Namun setiap kali datang, gadis itu tak pernah memberanikan diri untuk masuk menghampirinya. Ia hanya betah memandangi dari luar dengan mata yang berkaca-kaca.

Sungguh, apa ada yang salah dengan dirinya hingga gadis itu harus menangisinya setiap hari? Betapapun ia mengingat dengan keras, namun ia rasa tak ada yang salah dengan dirinya. Apa karena ia dibawa ke tempat ini? Namun memangnya apa alasan sehingga ia terperangkap di ruangan hampa ini? Semakin ia berusaha mengingat, maka semakin banyak pula pertanyaan yang bergemuruh dalam benaknya. Membuat kepalanya hampir meledak saja saking tak tertampung.

Daripada memikirkan sesuatu yang ia sendiri pun tak tahu jawabannya, maka ia memutuskan untuk memandangi gadis itu setiap kali ia datang. Kedatangannya selalu sama. Pagi hari saat jam menunjukkan pada angka tujuh. Gadis itu selalu berdiri di sana memandanginya selama tepat satu jam. Tak ada interaksi atau bahkan percakapan yang mereka lakukan. Hanya saling memandang dengan sorot mata yang mengartikan perasaan masing-masing.

Jika pandangan gadis itu berkaca-kaca, maka lain halnya dengan pria yang ia tatap. Walau manik hitam tajam itu masih menawan, namun pandangan itu mengartikan kekosongan. Luka yang jauh lebih dalam dari yang bisa kau bayangkan telah bersarang di hatinya kini. Namun mungkin pria itu tak mengetahuinya. Bagaimana bisa ia mengetahui jika ingatannya hilang? Walau tidak hilang sepenuhnya, namun kenangannya bersama gadis itu hilang tak berbekas.

Ji Yong depresi. Ia dinyatakan shock berat setelah tak sengaja mendorong Hye Mi hingga terjatuh dan menimbulkan luka di kepalanya hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Semenjak itu tatapannya kosong, berbagai beban berat menghampirinya hingga ia tak sanggup lagi untuk menanggungnya. Pikirannya menghapus segala kenangan pahit yang telah dilaluinya akhir-akhir ini. Tak hanya kenangan buruk, namun kenangan indahnya bersama Sandara juga ikut terhapus hingga mungkin ia tak lagi mengenal gadisnya yang sangat ia gilai setengah mati itu.

Ketukan sepatu di lorong bergema menandakan ada orang yang kini tengah menghampirinya. Hye Mi datang, membuat Sandara yang sedang menatap Ji Yong teralihkan perhatiannya. Wanita paruh baya itu sedikit pucat, tak ada lagi riasan make-up tipis yang tersapu di wajahnya. Menandakan bahwa ia tak punya waktu lagi untuk mengurus dirinya sendiri di tengah musibah yang menimpa keluarganya. Setiap hari wanita itu habiskan di rumah sakit dengan linangan air mata yang tak henti untuk turun membasahi pipi mulusnya. Bisa dilihat dengan matanya yang bengkak berarir berwarna merah.

Mukanya dengan spontan menunduk, tak ada lagi keberanian dalam dirinya untuk sekadar menatap Hye Mi. Ia rasa ia sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengan wanita paruh baya itu. Malu, sedih, kecewa, kesal, semua rasa bercampur aduk ketika ia harus berhadapan dengannya. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Sandara memutuskan untuk melangkahkan kakinya, berlawanan arah dengan kedatangan Hye Mi.

“Berhenti di situ.”

Tangan rapuh milik Hye Mi menghentikan laju Sandara, sekuat tenaga wanita itu memegang pergelangan anak tirinya demi menahan langkahnya. Sandara juga tak ingin kalah dengan tetap menatap lurus ke depan, tak ingin langkahnya terhalangi. Ia sungguh tak ingin berbicara atau melakukan interaksi apapun dengan Hye Mi. Sungguh Tuhan, ia hanya ingin lenyap tak berbekas saja di detik ini.

“Kau akan terus menghindariku? Berhentilah bersikap seperti seorang pengecut dan hadapilah kenyataan.”

Pengecut? Hye Mi mengatakan itu padanya? Apa pendengarannya yang mulai rusak? Namun kini hatinya berjengit ngilu dan itu sukses membuat Sandara diam mematung tanpa perlu Hye Mi tahan lagi. Sandara menolehkan kepalanya tanpa harus repot-repot mambalikkan tubuhnya juga. Ia menatap Hye Mi dengan berani langsung ke arah matanya. Apa maksudnya mengatai ia seorang pengecut? Sandara meminta penjelasan dengan tanpa berkata-kata.

“Kau tak terima dengan perkataanku? Lalu mengapa harus sembunyi seperti itu? Kau tahu bahwa Jun Hyung dan Ji Yong membutuhkan perhatian darimu. Lalu mengapa kau bersikap seperti seorang pengecut dengan hanya menatapi mereka setiap pagi layaknya orang dungu?”

“Aku tahu kau mungkin merasa bersalah, tapi apakah kau tak lihat mereka? Ji Yong hilang ingatan, Jun Hyung masih tak sadarkan dari koma, lalu kau hanya datang sesekali dan terus bersembunyi setiap waktu? Kesampingkanlah rasa bersalahmu itu, Sandara! Bantulah aku untuk merawat mereka agar kesehatan mereka pulih dengan cepat.”

Rahang gadis itu mengeras dengan sempurna, menandakan kemarahan. Ia tahu yang Hye Mi katakan adalah kenyataan yang terjadi. Ia memang pengecut yang tak berani menyelesaikan masalah. Ia memilih untuk menghindar dari masalah yang seharusnya ia hadapi. Namun entah mengapa kemarahan kini menyelimutinya. Matanya memerah, berkaca-kaca menahan emosi yang membuncah. Entah karena marah pada Hye Mi, atau amarah pada dirinya sendiri.

“Lupakanlah untuk sejenak rasa bersalahmu, Dara-ya. Bagaimanapun juga, kau masih tetap anakku. Demi keluarga, kembalilah menjadi dirimu yang dulu. Bantulah ayah serta oppa-mu yang kini tengah membutuhkan kehadiranmu.”

Tangan Hye Mi yang tadinya mencengkeram, kini melembut dan menggenggam tangan Sandara dengan penuh kesungguhan. Ini permintaannya untuk Sandara agar keluarganya utuh kembali. Ia tak mau membiarkan Sandara terus larut dalam kesendirian dan kesedihannya. Jauh di dalam hatinya ia terlanjur menyayangi Sandara sebagai putri kandungnya sendiri. Selayaknya seorang ibu, ia rela memaafkan sebesar apapun kesalahan putrinya dengan hati yang lapang. Biarkan ia merangkul putrinya demi menyelamatkan nasib keluarga mereka yang sedang dirundung permasalahan yang hampir memecah belah.

Namun jawaban selanjutnya dari Sandara membuat mata Hye Mi yang hampir basah karena berkaca-kaca menjadi membulat dengan sempurna. Menohok hatinya dengan kalimat mengejutkan yang tak pernah ia sangka akan terlontar dari bibir Sandara.

Mianhaeyo, aku telah memutuskan untuk pergi ke luar negeri.”

*****

Mianhaeyo, aku telah memutuskan untuk pergi ke luar negeri.”

Kata-kata itu terucap spontan dari mulutku tanpa bisa ku kendalikan. Aku kini merasa terdesak hingga dengan bodohnya mengucapkan kata-kata yang tak pernah ku pertimbangkan sebelumnya. Hye Mi memang tak menyudutkanku, ia justru tengah berbesar hati untuk menerimaku kembali dan mencoba berdamai denganku. Namun akulah yang bersikeras merasa bahwa akulah yang telah bersalah hingga tak sanggup lagi untuk menanggapi keinginan baik Hye Mi.

Aku hanya ingin pergi, melepaskan seluruh beban yang melingkupi diriku. Aku tahu ini tindakan egois dan juga bodoh. Aku hanya mementingkan keinginanku sendiri tanpa melihat Hye Mi berjuang sendirian merawat appa dan juga Ji Yong. Namun apa gunanya bila aku masih tetap di sini? Aku rasa aku hanya akan menambah beban Hye Mi. Aku sama sekali tak bisa menghapuskan rasa sesal yang terlanjur dalam ini. Dengan adanya aku di sekitar mereka, hanya akan memperburuk keadaan, terlebih dengan hatiku yang sedang goyah.

Mworago?”

Mianhaemianhaeyo…”

Aku mendapati suaraku tercekat akibat desakkan air mata sialan yang kini mulai mengaliri pipiku. Hanya kata maaf yang dapat terlontar dariku dan kini aku hanya bisa menunduk. Oh Tuhan, sudah berapa ribu tetes air mata yang ku habiskan akhir-akhir ini? Aku menyadari bahwa kini aku telah berubah menjadi gadis yang cengeng. Cih! Kau benar-benar menyedihkan, Park Sandara!

“Kau memutuskan untuk menjadi seorang pengecut selamanya, huh?” Hye Mi mengintimidasiku dengan kata-kata tajam dan nada suaranya yang makin meninggi.

Aku membisu. Mulut bodohku tak mampu mengucapkan kata-kata lagi. Pikiranku kacau. Hingga yang dapat ku lakukan hanyalah menunduk seraya terisak seperti bocah dungu yang kehilangan permen favoritnya.

Hye Mi mendesah frustasi. Dengan tangannya ia mengguncang-guncang bahuku seraya berteriak agar aku bersedia merespon. Ia juga menangis. Tangis pilu depresi yang ia tumpahkan membuat suasana sekitar menjadi semakin terlihat dramatis. Namun idiotnya, aku hanya bisa terdiam. Diam seribu bahasa dengan linangan air mata yang membanjiri. Setelah beberapa lama hanya suara isak tangis emosi yang menyelimuti, Hye Mi mengusap wajahnya dengan amat kesal. Tatapan tajamnya terarah padaku.

“Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan!”

*****

Gadis itu tengah menatap pantulan wajahnya di cermin dengan tetesan air di wajah. Ini sudah kali ketiga ia terus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa mual di perutnya yang tak tertahankan semenjak tadi pagi. Sebenarnya ada apa dengannya? Perutnya seperti diremas-remas dengan kuat hingga membuat rasa nyeri tak tertahankan. Namun anehnya, yang Sandara keluarkan hanyalah cairan bening yang banyaknya pun tak seberapa.

Sandara meringis menahan gejolak di perutnya. Wajahnya sudah pucat pasi ditambah dengan bibirnya yang kering dan bergetar membuat tampilannya sangat menyedihkan saat ini. Apakah ia telah salah makan? Namun seingatnya ia bahkan belum makan dengan benar semenjak dua hari lalu, setelah pulang dari rumah sakit dengan pikiran kalut akibat perselisihannya dengan Hye Mi.

Kini yang gadis itu lakukan hanyalah duduk di kloset seraya memegang perutnya dengan rintihan nyeri. Ini mungkin salahnya yang tak menjaga kondisi kesehatan di tengah berbagai masalah menghampiri hidupnya. Ceroboh! Lalu bagaimana bisa ia pergi ke London dengan kondisinya yang memprihatinkan seperti ini?

Sandara kini tengah bergelut dengan tumpukan barangnya di kamar yang harus ia persiapkan untuk pergi. Ya, rupanya gadis itu tak main-main dengan ucapan konyolnya. Lusa adalah hari dimana ia akan meninggalkan Korea. Dengan modal nekat, gadis bodoh itu memilih London sebagai tempat tujuannya. Tanpa ada alasan yang jelas ia hanya ingin mengunjungi kota itu. Mempertaruhkan hidupnya di sana demi melupakan permasalahannya di Korea.

Seharusnya kini gadis itu tengah menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa nantinya. Namun kini kondisinya perlu diperhatikan terlebih dulu sebelum mempersiapkan segala keperluan keberangkatannya. Sandara memejamkan matanya, meresapi nyeri yang menjadi-jadi di perutnya. Bahkan kini pandangannya kabur, kepalanya amat berat. Ia mencoba bangkit, namun bahkan kakinya juga lemas, menghambatnya untuk menopang berat badannya dan membuat ia kesusahan walau hanya untuk sekadar berdiri.

Sandara menjerit keras berbarengan dengan tubuhnya yang menabrak lantai saking tak kuasa tubuhnya untuk bergerak lebih jauh lagi. Ia meremas perutnya, mencoba menahan rasa nyeri luar biasa yang semakin menjadi. Yang ia lakukan sebelum tak sadarkan diri adalah mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari posisinya dengan susah payah untuk memanggil seseorang yang bisa ia mintai pertolongan.

*****

Yang bisa gadis itu lakukan kini hanyalah menganga kaget dengan manik hazelnya yang membulat sempurna. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin test pack yang kini berada di tangannya menampilkan dua garis merah? Hamil? Jangan gila! Mana mungkin di dalam perutnya kini tengah bersarang janin yang sedang berkembang? Tuhan, katakanlah ini hanya halusinasi liarnya di siang hari karena kesehatannya yang belum pulih.

“Janinnya telah berusia seminggu. Kau harus menjaganya sebaik mungkin agar pendarahan yang lebih hebat tidak terulang.”

Itu suara Hye Mi yang baru saja memasuki kamarnya setelah mengantar kepulangan dokter ke depan pintu utama. Setelah Sandara menghubunginya, wanita yang masih betah tinggal di rumah sakit itu segera membawa dokter ke rumahnya dan mendapati Sandara dalam kondisi yang mengenaskan di kamar mandi. Gadis itu tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir melewati kakinya hingga membuat bau anyir menyengat. Sandara pendarahan, dan itu karena kondisinya yang lemah dan tertekan selagi mengandung. Ya, gadis itu tengah hamil. Walau sulit dipercayai, namun itulah kenyataannya.

Tak ada lagi tetes air mata yang dapat Hye Mi tumpahkan, mengingat bebannya yang begitu berat beberapa minggu terakhir. Air matanya telah kering tergantikan rasa kebal yang lebih menyiksanya, mengaduk-aduk perasannya hingga ke lembah yang paling dasar. Kini musibah itu datang lagi dengan Sandara yang dinyatakan hamil. Tanpa harus bertanya pun, Hye Mi mengetahui dengan pasti siapa ayah dari anak yang dikandungnya. Ji Yong.

“Aku akan bercerai dengan Jun Hyung.”

Kepala Sandara dengan spontan menengadah, dengan gerakan cepat maniknya terarah pada Hye Mi. Desisan yang keluar dari mulut Hye Mi seakan dingin dan menyeramkan. Pernyataan keparat apalagi yang kini akan dihadapinya?

“Menikahlah dengan Ji Yong. Biarkan kini aku yang mengalah dan bercerai dengan Jun Hyung.”

Mendengar itu, Sandara yang tengah berbaring mulai merangsek maju perlahan pada Hye Mi yang berdiri di pinggir ranjangnya. Ia memegang tangannya dengan sekuat tenaga yang ia miliki, “Andwae! Kau tak bisa melakukan itu! Appa membutuhkanmu, jebal.”

Hye Mi membeku. Berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun dan tanpa melakukan gerakan apapun. Ia layaknya patung yang tak goyah meski Sandara kini tengah mengemis padanya. Gadis itu menangis. Lagi. Entah untuk keberapa kalinya, yang jelas ia sudah bosan mengeluarkan cairan bening sialan yang membuatnya semakin terlihat lemah dan dungu. Ia meminta belas kasih Hye Mi untuk tak berpisah dengan Jun Hyung.

Oh ayolah, bahkan kini kondisi kesehatan Jun Hyung masih tak mengalami kemajuan. Ia masih dinyatakan koma dan dokter pun tak bisa memastikan pria itu akan sadar. Terlebih serangan jantung yang dialaminya bukan pertama kali terjadi. Jun Hyung memang memiliki riwayat penyakit jantung setelah istrinya dinyatakan meninggal beberapa tahun lalu. Dan sekarang Hye Mi akan meninggalkannya sementara Sandara juga telah berniat untuk mengasingkan diri dari Korea? Tidak! Bagaimana mungkin ini akan terjadi? Jangan lupakan kesehatan Ji Yong yang juga masih belum pulih.

Jebal… jangan tinggalkan appa, eoh?”

Hening menyelimuti.

Hye Mi mendesah sebelum akhirnya menjawab, “Lalu bagaimana dengan bayimu jika aku dan Jun Hyung tetap bersama?”

Sandara yang asalnya tertunduk lesu menatap wajah Hye Mi yang dingin.

“Seperti janjiku, aku akan pergi ke London dan membesarkannya sendirian. Kau tak perlu mengkhawatirkanku, aku bisa mengatasi hal ini sendiri. Tolong… tolong tinggallah di sisi appa dan juga Ji Yong. Rawatlah mereka, aku mohon.”

Dengan gerakan cepat Hye Mi menghempaskan tangan Sandara sekuat tenaga.

“Tak bisakah kau pikirkan nasib bayimu nantinya? Kau gila, huh? Bagaimana bisa aku dan Jun Hyung masih tetap bersama jika ayah kandung dari bayimu sendiri adalah kakak tirimu? Berpikirlah yang lebih rasional! Bayimu membutuhkan Ji Yong!”

Hye Mi melanjutkan, “Kau pikir kau bisa mengatasi ini sendiri? Kau pikir kau kuat dan akan melarikan diri di tengah kondisimu yang lemah seperti ini? Bahkan kau hampir mati pendarahan jika saja aku tak segera datang!”

“Sadarlah! Ini bukan saatnya kau buta dan memilih untuk menghindari masalah yang terjadi. Buka matamu dan hadapilah kenyataan! Kau tak bisa menjaga bayimu sendirian. Bagaimanapun juga, kau akan tetap membutuhkan Ji Yong karena dia adalah ayahnya. Ayah dari bayi yang sedang kau kandung, Sandara!”

Tak kuat menahan tekanan, gadis itu jatuh ke lantai dengan lemahnya. Ia menangis. Menjerit. Meraung frustasi hingga mengacak-acak serta menarik-narik rambut saking tak kuatnya menahan cobaan bertubi-tubi yang menghampiri takdir sialan yang ada di hidupnya. Tubuhnya meringkuk, menahan kesakitan yang kini mulai melanda bagian perutnya lagi. Jeritan keras tak henti-hentinya keluar dari bibir pucatnya. Sandara terlalu frustasi untuk menghadapi kenyataan keparat ini.

Melihat kejadian itu, Hye Mi hanya bisa menahan linangan air mata yang kini mulai mendesak pelupuk matanya. Air mata itu muncul lagi diiringi jerit pilu dari Sandara yang membuat ia merinding ketakutan. Bibirnya bergetar menahan amarah, penyesalan, serta rasa yang luar biasa dalam dan menyakitkan yang ia rasakan. Oh Tuhan, apa kesalahannya di masa lalu hingga membuat orang-orang yang dikasihinya mengalami penderitaan luar biasa menyiksa ini?

Bahkan dengan dua mata kepalanya sendiri kini ia menyaksikan Sandara memukul-mukul perutnya dengan tanpa ampun. Gadis itu seolah menyalurkan rasa frustasinya kepada janin yang sedang berusaha tumbuh dalam rahimnya. Hye Mi segera bertindak cepat dengan menghentikan tangan Sandara. Ia mendekap paksa gadis itu, berusaha menghentikan perbuatannya dan mencoba menenangkannya sebisa yang ia mampu.

Dalam pelukannya Sandara masih menjerit dengan pilu, membuat siapa saja yang mendengarnya akan berdesir miris. Mereka seakan bisa mengetahui betapa menyedihkan dan menderitanya Sandara saat ini dengan jerit tangisnya. Pikirannya kalut, ia tak bisa berpikir dengan jernih lagi kini. Hatinya kebas, merasakan penderitaan yang paling luar biasa hebat selama hidupnya. Membuat tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sandara hanya merasakan satu hal. Sakit. Tepat di ulu hatinya. Sakit yang amat sangat hingga rasa yang tak tertahankan.

–TBC–

 

Advertisements

15 thoughts on “MY GLOOMY WORLD [Chap. 7]

  1. Omg.. Dara hamil anak jiyong n jiyong sekarang sdng hilank ingatan.. Benar2 complete masalahnya. Yang hrs kuat eomma hye mi kasihan dia.. Dia cm korban.. D tunggu next chapternya un

  2. Udah nggak bisa bersatu karena Hye Mi dan Jun Hyung nikah, ditambah lagi Jiyong sama Jun Hyung masuk rumah sakit, ekstra Dara yang sekarang lagi mengandung anaknya Jiyong. Complete bener dah nih ff. Nggak ada bahagianya sama sekali. Author, udahlah jangan buat hidup mereka makin ruwet. Tapi berharap aja sih awal sampe tengahnya emang sedih tapi jangan dibuat sedih untuk endingnya. Ok??? Next chapter deh unnie. Fighting!!!😘

  3. Makin nyesek aja deh kak….. sekarang apalagi coba dara hamil jiyong hilang ingatan trus appanya dara jg nggak kunjung sadar kapan coba mereka bahagia klu setiap hari aja pada nangis terus….. kasihan hyemi jg klu kaya gini meski dia jg terluka tp dia jg harus tegar demi keluarganya agar bisa seperti dulu lg dan semoga aja jiyong sm appanya dara cpt sembuh jd mereka bisa nyelesaikan masalahnya dengan baik dan happy ending semua…… next chap deh kak dan semoga nggak sesedih chap ini ya kak coba dong bikin mereka bahagia dikit jangan dijahatin mulu dong daragonnya kan kasihan dan lg dah nggak kuat bacanya klu dedih mulu kaya gini hehehe…. fighting juseo unnie ♡♡♡

  4. Gilaaak nih ff nguras emosi, aku emng brharap appa dara sma eomma ji pisah tpi aku gak ngebayang kalo mnyakitkan kaya gini critany. Dan dara hamil? Kapan mreka emmmm gtu aishh hahaha.. what?? Ji hilang ingatan, appa dara koma aigooo mnyakitkan bngt ff ini nguras smua emosi dahh.

  5. Ya ampun baru bisa baca sekarang, dan ini nyesek banget:(((((
    Gak tau deh mesti seneng apa sedih Dara hamil, situasinya sulit gitu yaa. Udah gila kali kalo aku jadi Dara haha

  6. whatt .jiyong depresii ma hilang ingatan .
    n’ dara jga hamiiilll .
    unie daah dong knpa konflik” mulu .nangis” mulu kpan mrekaa happy.a hwaaaa….
    sembab nie mata bca ff nie .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s