FICTION [Oneshoot]

Ficc

Author: ElsaJung | Cast: Kwon Jiyong – BigBang, Sandara Park – 2NE1, Song Mino – Winner | Genre: Sad, Slice Of Life | Rating: Teen | Lenght: Oneshoot

.

.

.

.

.

“I’m a writer who writes a fiction which is never ending”


 

Fiction

Tidak terasa tiga hari lamanya aku tetap dalam keadaan terjaga dengan pena di genggamanku dan buku lusuh di bawah tanganku. Kali ini tepat di lembaran ke 45 dari buku ke-50. Kurasa ini belum cukup. Aku perlu menulis beberapa kata yang harus kurangkai menjadi kalimat. Aku perlu menulis beberapa kalimat yang harus kurangkai menjadi paragraf. Aku perlu menulis beberapa paragraf yang harus kurangkai menjadi sebuah karangan. Aku perlu menggabungkan karangan itu menjadi suatu cerita dengan akhir seindah mungkin.

Bukan. Aku bukan pengarang novel. Aku hanya laki-laki biasa yang menulis apa yang kuingin di buku lusuhku. Tidak peduli sampai berapa puluh atau ratus buku, aku akan tetap menulis semuanya. Aku akan menulis cerita yang kuinginkan sampai akhir hayatku. Tidak. Aku tidak membutuhkan orang lain untuk membacanya. Yang kuingin hanya satu, semoga semua yang kutulis mampu menjadi kenyataan meski mustahil rasanya hal itu dapat terwujud.

Namaku Kwon Jiyong. Umurku genap dua puluh tiga tahun. Aku tinggal di Gangnam. Hidupku lebih pantas disebut sebagai hidup orang yang menyerah pada takdir. Ya, aku memang menyerah pada takdir. Tidak peduli apa yang akan terjadi, aku hanya menghabiskan sisa hidupku untuk menulis segala yang kuingin. Sebuah cerita indah tanpa akhir tentunya. Aku membuatnya seindah mungkin.

“Jiyong-ah, sudah tiga hari kau terjaga. Sebaiknya kau lekas tidur.”

Seorang gadis tersenyum penuh kehangatan ke arahku. Ia berjalan mendekat dengan segelas susu vanilla di tangannya. Aku menoleh, menatapnya. Bibirku tertarik ke samping, mengukir senyum simpul di wajah lusuhku. Aku memandangnya sekejap, kemudian kembali mengarahkan pandanganku pada kertas di halaman selanjutnya. Aku menulis beberapa kalimat yang kuinginkan.

“Kau tahu, Ji?”

Aku berdehem menanggapi ucapannya, mempersilahkannya untuk melanjutkan kalimatnya.

“Tuhan menciptakanku sebagai orang paling bahagia di dunia ini.”

Alisku terangkat sebelah dengan senyum tipis di bibirku.

“Di dunia ini ada banyak orang yang hidup bahagia dan aku adalah salah satunya. Aku bahagia menjadi kekasihmu. Aku bahagia bisa memelukmu, melihat senyummu dan merasakan kehadiranmu. Aku ingin kita tetap bersama selamanya. Dapatkah kau mengabulkan keinginanku?”

Bibirku tertarik ke samping lagi dan lagi. Aku menatapnya lekat-lekat, berusaha membuatnya mengerti kalau kami akan tetap bersama selamanya seperti apa yang dia inginkan. Kudekap tubuhnya saat dia berdiri di dekatku. Aku menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam, merasakan keadannya yang sangat nyata untukku. Jika Tuhan bisa mengabulkan satu permintaanku, aku ingin waktu berhenti.

Tanpa kusadari, air mataku menetes membasahi tangannya yang menopang daguku.

“Kenapa kau menangis? Jiyong-ah, berhenti menangis, okay?”

“Dara-ah.” Panggilku semakin memeluknya erat-erat.

“Ingat, aku tidak suka air mata. Bukankah kau selalu berkata padaku bahwa tidak boleh ada air mata yang menetes ketika kita bersama? Tidak boleh ada air mata dalam cerita ini. Ji, kumohon, aku tidak bisa membiarkan orang yang kucintai menangis.”

“Aku akan membuat cerita terbaik untuk kita. Sebuah cerita tanpa air mata.” Ujarku mengusap air mata yang tak kunjung mengering. Aku dapat merasakan tangan Dara bergerak menyeka air mata yang mengalir bak air terjun di pipiku.

Tak lama, gadis berambut sebahu yang berada di pelukanku tertawa. Ia memukul tanganku pelan, membuatku mengaduh kesakitan. Tubuhnya memang mungil, tapi bukan berarti kekuatannya sama kecil dengan kekuatan semut. Dia sering membuat kulitku mendapat luka biru setiap menerima tinju keras darinya. Tentu itu hanya candaan. Dia tipe orang humoris yang selalu tertawa.

“Lepaskan pelukanmu, Ji. Biarkan aku mengatur napasku.”

Dara merengek seperti anak kecil berumur lima tahun, sementara aku terus memeluknya.

“Kau tidak berubah, huh? Kenapa kau selalu memelukku? Omona, Jiyong, kau mesum!”

“Bagaimana bisa kau menuduhku mesum? Aku memelukmu karena aku ingin. Kau tahu, aku tidak bisa hidup tanpa memelukmu.” Ujarku manja sembari membelai surainya yang indah. “Diam dan tetaplah berada di dekapanku. Dara-ah, aku ingin mendengar sesuatu darimu.”

“Apa yang ingin kau dengar dariku?”

“Katakan padaku kalau kau mencintaiku.” Bisikku di telinganya.

Gadis itu melingkarkan tanganku di pinggangnya. “Aku mencintaimu, Jiyong. Sudah puas?”

“Aku tidak pernah puas dengan kalimat itu, Dara.”

“Ji, bagaimana bisa kau membuatku sangat mencintaimu? Apa ini semacam sihir?”

Aku berdecak menanggapi ucapannya. Astaga, kenapa dia percaya pada hal kuno itu?

“Tuhan menciptakan benang merah diantara kita. Takdir yang dihubungkan melalui benang merah itu berkata bahwa kau akan mencintaiku. Jadi, perasaan cintamu padaku tak sedikit pun berhubungan dengan sihir. Apa kau berpikir aku meminta bantuan pada seseorang untuk menyihirmu?” sergahku memberi satu takbam yang cukup keras di dahinya.

“Hei, kau melukai dahiku.” Dara kembali merengek dengan suara menggemaskannya.

“Sudah merasa baikan?” tanyaku setelah mengecup keningnya singkat.

“Sepertinya begitu.” Ia tersenyum malu. “Simpan kecupan itu untuk besok.”

“Baiklah, kekasihku yang manis.” Aku mengecup keningnya sekali lagi.

“Tidurlah, kau membuatku sedih dengan terjaga selama tiga hari.”

Jika Dara memintaku tidur, tidak mungkin aku bisa mengelak. Baik, aku akan tidur kurang-lebih tiga sampai empat jam lagi. Tidak terasa cerita untuk hari ini berakhir begitu saja. Meskipun cerita hari ini tidak terlalu manis karena tangisanku, aku akan membuat sesuatu yang lebih menarik untuk besok. Aku harus memikirkan sesuatu yang lebih manis agar aku bisa mengenangnya. Ya, sesuatu yang lembut seperti cake dan sesuatu yang manis seperti permen.

Saat ini di lembaran ke-49 aku kembali menulis satu per satu kata. Aku mencoba merangkainya seteliti mungkin. Menggabungkannya, memperindahnya dan memberi sedikit kesan berlebihan dan lucu sehingga menimbulkan tawa renyah. Seperti keinginanku, aku menulis sesuatu yang manis. Sesuatu yang membawa kebahagiaan.

Tanganku terhenti di baris terakhir. Mataku terasa berat. Dara benar, aku harus tidur. Setidaknya, jika aku beristirahat, tentunya aku bisa memberi peluang pada otakku untuk berkelana mencari hal-hal yang akan semakin memperindah ceritaku. Ya. Aku ingin cerita ini seindah mungkin tanpa memikirkan akhir pahit atau manis.

***

Ceritaku tersisa beberapa baris. Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, bersiap menulis lagi karena otakku sudah berkelana cukup jauh. Aku menemukan banyak hal manis yang terasa indah bila digabungkan. Tidak perlu merubah kalimat yang telah kususun di benakku. Aku hanya perlu menyelipkan hal manis itu di sela-sela kisah yang telah tersusun sesuai dengan yang kuinginkan.

Pandanganku terhenti pada seorang gadis yang tengah terlelap – seorang gadis yang membaring-kan tubuhnya di sampingku. Aku bergerak mempersempit jarak diantara kami berdua. Dia tampak sangat cantik saat menutup mata. Aku bisa melihat kedamaian di sana. Jarak kami semakin dekat dan dekat. Perlahan, aku membisikkan janjiku padanya. Sebuah janji yang mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkan ada sedikit pun air mata dalam cerita ini.

Aku beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju meja kerjaku dan merebahkan tubuhku di kursi. Kuraih pena hitam yang biasa kugunakan. Tidak hanya itu, aku juga mengambil buku lusuh-ku dan membukanya tepat di halaman ke-50. Ketika aku membukanya, selembar foto jatuh tertarik gravitasi. Foto itu terlihat tak kalah lusuh dari bukuku dengan beberapa bagian foto yang mengelupas dan sobek pada ujungnya.

Itu adalah foto Dara lima tahun lalu.

Ya, aku ingat sekarang. Aku sengaja menyelipkannya di buku ke-50 halaman 50. Tidak kusangka aku menemukan foto itu setelah lima tahun berlalu. Foto itu merupakan foto yang telah berusia lima tahun – satu-satunya foto terakhir Dara yang kumiliki.

Aku meraih buku lainnya – tepatnya buku ke-100 yang sebelumnya kususun berurutan di lemari. Kubuka buku itu dan membaliknya secara perlahan demi mencari halaman 100 dari buku yang berada di telapak tanganku. Kenapa aku mencari halaman 100 dari buku ke-100? Karena aku akan metelakkan foto Dara di dalamnya. Aku ingin tahu, di tahun ke berapa aku kembali menemukan foto itu dan sampai kapan aku menulis cerita ini.

“Kau bermimpi indah semalam?” kurasakan benda lembut menyentuh permukaan pipiku.

“Tentu. Karena kau di sisiku, aku bermimpi indah.” Jawabku membalas kecupan singkatnya.

“Kenapa kau bangun lebih awal? Bukankah masih ada banyak waktu? Kau ‘kan terjaga selama tiga hari. Seharusnya kau beristirahat lebih lama, Jiyong-ah. Aku sangat menghawatirkanmu.” Dara mengalungkan tangannya di leherku. Aku senang melihatnya dalam jarak sedekat ini.

Tidak ada tanggapan yang kuberikan selain guratan senyum hangat seperti biasa.

“Jiyong, dapatkah kau memelukku?”

“Sandara Park, apa yang salah denganmu? Seingatku kau tidak terlalu nyaman dengan pelukanku. Kau selalu merengek dan berkata kalau kau tidak bisa bernapas, kau merasa sesak, kau ingin melepaskan tubuhmu dari pelukanku karena aku mendekapmu erat-erat. Apa yang salah?” aku mencubit hidung mungilnya. “Katakan padaku, kenapa?”

“Siapa yang seperti itu? Sepertinya kau tidak sadar, tapi aku akan memberitahumu. Kau kira siapa yang tahan berada di pelukan seorang laki-laki bertubuh tegap dengan wangi maskulin yang memabukkan, huh? Belum lagi laki-laki itu sangat tampan. Aku merengek karena aku benar-benar meleleh, sungguh.”

“Sayangnya aku akan membuatmu meleleh seperti yang kau katakan. Kemarihlah, Dara.”

Aku menarik Dara hingga tubuhnya berada di pangkuanku. Aku merengkuhnya, memeluknya sesuai keinginannya. Aku tidak peduli tentang apa yang Dara pikirkan tentangku. Entah ia berpikir aku mesum atau semacamnya, bagiku hanya ada satu alasan kenapa aku seperti ini – yaitu karena aku mencintainya. Apakah memeluk termasuk perbuatan mesum? Oh, tidak. Terkadang Dara memang bersikap berlebihan.

“Kuberi beberapa pertanyaan. Aku ingin tahu apakah ingatanmu lebih baik dari sebelumnya atau kau menjadi semakin pelupa.” Ujar Dara sembari menopang daguku – sesuatu yang menjadi kebiasaan-nya setiap aku memeluknya.

“Silahkan,” balasku memberi senyum meremehkan.

“Berapa lama kita mengenal, kapan pertama kali kita bertemu, siapa yang menyatakan cinta pertama kali, apa kesan pertama saat kau melihatku, dan sebutkan semua hadiah yang pernah kau dapat dariku. Jawab semua pertanyaan itu.”

Astaga, pertanyaan yang sangat mudah. Aku selalu meluangkan waktuku untuk mengingat hal-hal yang ditanyakan Dara padaku. Semuanya. Aku berusaha mengingat segala sesuatu yang terjadi tanpa melewatkan sedetik pun memori yang terekam dalam benakku.

“Kita mengenal selama tujuh tahun. Pertama kali bertemu saat merayakan Pepero Day. Aku yang menyatakan cinta pertama kali. Kesan pertamaku adalah kau gadis tercantik yang pernah kutemui. Kau memberiku topi, puluhan coklat, sepatu, jam tangan dan masih banyak lagi.”

“Aigo, ingatanmu sangat baik sekarang!” serunya mengacak rambutku gemas sembari tersenyum.

Jujur, aku bahagia saat ini. Senyuman Dara adalah kebahagiaanku.

“Aku mencintaimu, Dara. Apa kau mengetahui hal itu?”

“Aku akan menjadi gadis paling kejam jika tidak mengetahuinya.”

“Menurutmu, kenapa aku sangat mencintaimu?”

“Selain karena takdir Tuhan, mungkin karena aku baik, cantik, ramah dan satu-satunya gadis yang bisa dicintai oleh Kwon Jiyong selama hidupnya – sejak kecil sampai akhir hayatnya.” Ujarnya dengan nada riang. “Aku tahu, jawabanku pasti benar.”

“Aku sangat mencintaimu, Dara-ah.

“Kau selalu mengatakan kalimat itu setiap saat. Aku senang kau tidak bosan mengucapkannya meski lebih dari seribu kali. Lagi pula, tanpa kau mengatakannya, aku tahu kau mencintaiku. Bukankah ini sudah berjalan lima tahun sejak kau mengatakannya setiap detik?”

“Ya, sudah berjalan lima tahun.” Aku tersenyum kecut. Ya, sudah lima tahun sejak semua berawal.

Lima menit bukan waktu yang lama. Lima menit terasa seperti satu detik saat aku memeluk Dara. Aku ingin memeluk Dara untuk beberapa jam atau beberapa hari ke depan. Memeluknya di dalam dekapanku, menghirup aromanya yang bahkan lebih harum dari bunga apa pun, mengusap surai coklat sebahunya yang lembut dan mengecupnya kapan pun aku mau. Dapatkah aku melakukan semua itu? Apakah Tuhan akan memberiku kesempatan?

Shit! Cerita ini tidak sesuai dengan kehendakku. Kenapa aku menulis sesuatu yang sedih?

Aku tidak bisa menahan air mataku yang meronta-ronta memintaku untuk membiarkan mereka keluar dari pelupuk mataku. Meski aku tidak menginginkan ada sedikit pun bagian sedih dari cerita ini, hal itu tetap tak bisa kulakukan. Dalam lima tahun ini, di tahun pertama aku tidak bisa menulis sesuatu yang manis atau bahagia. Satu tahun berlalu dan aku hanya menulis cerita penuh kesedihan. Di tahun berikutnya, aku mulai terbiasa membayangkan suatu kebahagiaan yang aku inginkan. Kalimat-kalimat indah pun tertulis begitu saja. Memasuki tahun ke lima, aku merasa kesedihan itu kembali terlebih setelah aku menemukan sesuatu yang sengaja kusimpan di dalam buku ke-50. Tak terasa aku menulis cerita fiksi ini selama lima tahun. Sudah sangat lama, bukan?

Aku ingin menghentikan semua cerita yang berjalan sesuai keinginanku, tapi aku tidak bisa melakukannya. Dalam hidupku, satu yang sangat kuinginkan – yaitu semua cerita yang kutulis dapat menjadi kenyataan. Kalau pun Tuhan mengabulkannya, mungkin dunia ini bukan tempat yang tepat.

Lamunanku yang panjang ini berakhir saat kalimat yang kutulis tak lagi terlihat. Ya, tinta penaku habis. Aku harus melanjutkan cerita ini sesegera mungkin. Tidak peduli aku akan terjaga lebih dari tiga hari atau bahkan tidak terjaga beberapa bulan, aku harus menulis lebih banyak kebahagiaan di cerita fiksiku.

Suara pintu yang perlahan terbuka menggema di tengah keheningan.

“Kau harus hidup lebih baik, Jiyong.”

Laki-laki bernama Song Mino itu mendekat. Ia membawa satu kantong keresek penuh yang berhasil kutebak berisi makanan. Dia memang selalu membawa banyak makanan setiap berkunjung ke rumahku.

“Berhentilah membuang waktu berhargamu yang hanya kau gunakan untuk melamun dan menulis cerita fiksi itu.” Mino meletakkan sekotak permen di atas meja kerjaku. “Makanan manis dapat memulihkan tenagamu. Kau terlalu banyak berpikir lima tahun belakangan ini.”

Aku terdiam dan tetap bersikeras menulis segala yang ada di dalam pikiranku.

“Aku tahu, mungkin ini sangat berat untukmu. Tapi, bukankah lebih baik kau mencari gadis lain?”

Sungguh, aku tidak mengerti kenapa semua teman-temanku memintaku untuk mencari gadis lain.

“Dapatkah kau berhenti mengucapkan kalimat itu? Dapatkah kau membiarkanku mencari kebahagiaan dengan caraku sendiri?” tanyaku geram tanpa menatapnya.

“Kutegaskan sekali lagi, dia sudah pergi.” Mino memberi penekanan di tiga kata terakhir.

“Siapa yang peduli jika dia sudah pergi? Ya, baik, aku tidak bisa berpura-pura meyakinkan diriku sendiri dan berkata kalau dia akan kembali dari dimensi yang berbeda. Dia akan kembali dan memelukku dengan senyuman cerah yang biasa kulihat lima tahun lalu. Aku benar-benar tidak bisa yakin akan hal itu sementara takdir berkata dia tak akan kembali. Bagaimana aku bisa hidup tanpa kehadiran seseorang yang kucintai?” tukasku penuh emosi dengan air mata yang merembes di kulitku – yang menetes di buku lusuhku.

Mino merangkul bahuku. Dia menatapku prihatin. Aku benci melihat tatapan itu.

“Jiyong-ah, sadarlah!”

“Berhenti menyadarkanku, Song Mino!!” Pekikku menarik kerah kemejanya hingga kakinya tak lagi menapak di lantai.

“Kau yang berhenti bersikap bodoh!” Dia memberiku tinju andalannya sampai kepalaku terhempas ke samping kiri. Tinju ini cukup memberi luka di bibirku, tapi tidak cukup untuk menyadarkanku.

“Kau memintaku memulainya.” Ujarku sengit balas memberi pukulan kuat di pipinya membuatnya mengaduh kesakitan.

Aku dapat mendengar nafas tersengal-sengal Mino di rongga telingaku.

“Akan kubuat kau sadar, Kwon Jiyong.” Balasnya kembali memukulku bertubi-tubi sampai aku merasakan darah mengucur dari hidungku. Sial! Aku benci ini!

“Brengsek!” umpatku sembari menangkis tinjunya, kemudian membalas pukulan demi pukulan yang sempat dilayangkannya tanpa henti padaku.

“Jiyong! Sampai kapan kau akan bertingkah seperti orang bodoh?” Mino lagi-lagi melayangan tinju dari tangan kanannya.

Aku mengepalkan tanganku yang mulai terasa nyeri. “Sampai aku bisa bertemu dengannya.”

Kini giliran Mino yang menarik kerahku. “Apa kau pikir Dara akan senang melihatmu seperti ini? Kau kehilangan semangat hidupmu. Ke mana perginya jiwa Jiyong yang kukenal sejak aku kecil? Ke mana perginya senyummu, huh? Aku tidak bisa membiarkanmu tersiksa karena cerita fiksi itu.” Ia memberi satu tinju terakhir sebelum kami sama-sama bersandar di dinding.

“Jika kau ingin aku tersenyum, kau harus membiarkanku melanjutkan cerita ini. Selama lima tahun aku selalu menuliskan bahwa aku dan Dara tersenyum di dalam cerita yang kubuat. Kami tertawa bersama, bercanda, saling berpelukan dan berbagi kasih sayang. Meskipun ini hanya angan-anganku saja, tapi aku bahagia di dalamnya. Ini memang menyiksa, tapi cerita ini adalah kehidupan baruku.” Aku memalingkan pandanganku dari Mino. “Jangan biarkan aku memukulmu lagi, Mino. Aku mencintai Dara dan kau tidak akan pernah bisa memaksaku mengakhiri cerita fiksiku.”

Laki-laki itu tercekat mendengar kalimatku.

“Aku harus pergi ke suatu tempat. Lebih baik kau pulang. Terimakasih sudah berkunjung.” Gumamku tanpa menatapnya sembari meraih coat dan buku lusuhku.

Mino hanya menatapku nanar, membiarkan tubuhku yang mungkin tampak semakin jauh dari pandangannya. Coat-ku mendayun-dayun saat aku berjalan melawan angin yang berhembus ke arahku. Air mataku menetes menyertai langkahku yang tak akan pernah berhenti sampai aku menemukan tempat tujuanku. Sedikit demi sedikit angin menjatuhkan daun berwarna kecoklatan yang mulai berguguran. Hal ini membuatku teringat sesuatu. Dara sangat menyukai musim gugur.

Langkahku terhenti di tempat pemakaman umum. Aku melangkah gontai menuju makam di mana gadis yang kucintai disemayamkan. Langkahku semakin terhuyung saat menemukan nama ‘Sandara Park’ terukir di batu nisan berwarna abu-abu. Gundukan tanah itu ditutupi rumput hias hijau yang begitu indah. Dara beristirahat dengan tenang di tempat ini.

Ya. Aku dan Dara menjadi pasangan kekasih kurang lebih tujuh tahun lalu. Di tahun kedua kami sebagai pasangan kekasih, Dara mengalami kecelakaan sehingga saraf di otaknya mati. Dia koma selama dua bulan. Awalnya dokter berkata, jika Dara bisa sembuh, itu akan menjadi keajaiban. Dia memang sembuh, tapi beberapa hari setelah Dara sadarkan diri, pembuluh darah di perutnya pecah karena pembengkakan tiba-tiba dan kematian tiba-tiba pula. Sejak hari itu, aku bertingkah seperti orang gila yang tidak memiliki semangat hidup. Dan, tak lama aku mendapat sebuah ide untuk mencari kebahagiaan dengan caraku sendiri.

Cara itu adalah dengan menulis cerita bahagia sesuai keinginanku. Akulah yang menentukan semua peristiwa yang terjadi di dalamnya. Karena aku memiliki andil yang besar di dalamnya, aku menulis hal-hal yang bisa membuatku bahagia dengan aku dan Dara sebagai tokoh utamanya. Aku merangkainya sampai menjadi sebuah cerita yang sangat indah. Dan, aku akan mengembangkan senyumku saat aku membayangkan cerita fiksi itu benar-benar terjadi.

Semua yang kulakukan hanyalah melamun dan menulis cerita.

Sejauh ini aku sudah menulis cerita di dalam puluhan buku yang berhasil membuatku tersenyum. Membuatku merasa bahwa Dara berada di dekatku. Membuatku merasakan keberadaan Dara. Membuatku serasa memeluknya dalam dekapanku.

Sampai saat ini, aku berjanji pada diriku sendiri. Cerita fiksi ini tidak akan berakhir hanya karena penaku yang kehabisan tintanya atau lembaran bukuku yang tak lagi tersisa. Cerita fiksi ini tidak akan berakhir meski Dara tidak akan pernah kembali dari dimensi lain. Cerita ini tetap berlanjut karena Dara selalu ada di hatiku. Cerita ini tetap berlanjut karena aku mencintainya.

Aku adalah seorang penulis yang menulis cerita yang tak akan pernah berakhir di hatiku. Cerita yang tidak akan berakhir bahagia maupun sedih. Cerita yang tidak akan berakhir hari ini atau selamanya. Aku akan menulis sesuatu yang baru dengan aku dan Dara yang tertawa bahagia di dalamnya. Cerita tanpa tangis tentunya.

“Dara-ah, bertahanlah beberapa tahun lagi. Kita akan bertemu jika kisah ini menemui kata ‘tamat’. Hari itu adalah hari di mana Tuhan menyatukan kita berdua. Tolong, biarkan aku melanjut-kan cerita ini. Jika aku tidak bisa menemuimu sebelum hidupku berakhir, biarkan aku menemuimu di dalam cerita bahagia yang kutulis.” Ujarku mengusap batu nisan yang berdiri di hadapanku. “Jangan memandangku dengan tatapan sedih, okay? Aku memang menyedihkan, tapi aku tidak mau kau memandangku seperti itu. Intinya, kau harus menungguku.”

Lagi-lagi aku membuka halaman selanjutnya di bukuku. Aku menuliskan bahwa Dara tengah melihatku sembari tersenyum hangat dan berjalan mendekat untuk memelukku.

Ya, kupikir aku akan menulis cerita bahagia sekarang meski semua hanya sekedar mimpi dan angan-angan bagiku.

=END=

Note:

Holaaaaa!! I’m comeback, guys! Masih ingat saya? Semoga saja masih :v Eh iya, aku mau minta maaf karena ga kunjung melanjutkan Bad Boy For Bad Girl. Sumpah, ff itu benar-benar dalam keadaan kritis sekarang. Bukan karena kehabisan ide, tapi karena bener-bener bingung cari waktu luang buat ngetik dengan nyaman karena dikejar-kejar sama try out, pelajaran tambahan dan lain-lain. Kalian yang kelas 9 atau kakak-kakak yang kelas 12 pasti tahu rasanya :” Sebenernya ff ini udah aku post di facebook dengan judul yang sama tapi cast berbeda. Kalo Kak Pinda ga ngechat aku dan bilang buat post di grup, mungkin ff ini hanya berakhir di fb. Aku ga ngepost ff ini karena agak ragu-ragu gimana gitu *authoraneh* okay, jadi, kumohon jangan lupakan aku dan ff absurdku yang Bad Boy For Bad Girl. Aku janji ff itu bakal aku terusin sampai end. Baiklah, sekian dan terimakasih. Pyoonggg^^

Advertisements

19 thoughts on “FICTION [Oneshoot]

  1. aduhhhh jiyong laki” yang setia bnget. jadi terharu sam jiyong dehh..huhu aku kira ini ceritanya gmna v ughhhh sad end….v kerennnn oiyaaa thor bolehkan buat ff yang daragon meerrried…hehe

  2. ternyata dara udh gk ada. aku kira dara msh hidup dan lg bahagia2nya sama ji…eehhhh ternyata. 😦
    tpi keren kok ceitanya. gk gampang ke tebak….heheheh
    ditunggu ff yg lainnnya dan terutama ff Bad Boy For Bad Girl ….SEMANGAAAAATTTT.

  3. Sumvahh baca ff ini air mata lngsung jatuhhh sebegitunya kah jiyong cinta sama dara ? Oh my god , terharu bgt. Tpi kasian juga sama jiyong mentalnya udh trluka bgt . Haduhhhhh kereen dahhh syukak syukak.

  4. ni author harus bertanggung jawab ni, karena buat air mata ku jatuh …. huuuuuuaaaaa, huuuuuuuuhuuuuaaaa, Nyesek betul thor ni cerita, awalnya sih gk masalah, karena aku kira ji yong sama dara terus beragama, tp di akhirnya ternyata itu hanya angan angan nya ji yong…. hiks hiks hiks sedih banget, terharu … gk tau lagi mau bilang apa, yang pasti ni cerita keeeeeeeereeeeeeeeeennn bgt thor, jinjja….

    ah… ff bad boy for bad girl di tunggu lo thor, gk sabar lagi nunggu lanjutannya semangat thor hwaiting…. semangat terusin ff nya dan ujiannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s