My Life As An X-Agent : Chapter 12

1420593275715BayyhspCcAAupMJ.jpg large.jpg

Jiyong’s POV

 

Aku masih bisa merasakan nafasku yang keluar dan masuk dengan tenang sampai sesuatu menggelitik hidungku dan memaksaku untuk membuka mata. Bau masakan. Aku menggerakkan bola mataku keatas dan kebawah lalu ke samping kanan dan kiri untuk menyesuaikan pandanganku yang masih buram. Aku tidur dengan nyenyak dan entah mengapa itu membuatku terkejut. Selama disini aku tak pernah benar-benar tertidur karena jika iya maka aku akan terbangun beberapa menit kemudian karena mimpi buruk. Tapi tadi malam sungguh berbeda. Aku tersenyum sambil memejamkan mataku dan merenggangkan tubuhku, masih membiarkan diriku untuk beristirahat beberapa menit lagi sambil menikmati bau masakan rumah yang sungguh aku rindukan. Sudah berapa lama sejak aku merasakan kebahagiaan karena hal-hal kecil ya? Seminggu? Sebulan? Aku tidak pernah benar-benar mau memikirkan apapun secara serius sejak kami terjebak disini, karena jika aku meresapi semua kejadian yang terjadi di dalam lubang hitam menjijikkan ini maka yang akan tersisa hanyalah kenangan buruk. Maksudku, hidupku sudah cukup hancur lebur kenapa repot-repot memikirkan hal yang tak perlu?

Aku menghela nafas panjang dan akhirnya melompat keluar dari tempat tidur untuk menyapa seseorang yang aku yakin tengah susah payah memasak sesuatu untuk sarapan pagi. Setelah menutup pintu kamar aku menarik nafas panjang sebelum membuka mata. Apakah dara tengah memakai sebuah celemek warna pastel yang lucu sementara rambutnya yang kini pendek bergoyang-goyang pelan mengikuti gerakan tubuhnya yang menari-nari kecil? Aigooo, ini sungguh mendebarkan! Aku tersenyum dan tanpa sadar berlari kencang menuju dapur yang tak jauh dari tempatku berdiri sementara mataku masih terpejam. Aku sungguh tak sabar ingin memeluk Dara dan memberikan ciuman selamat pagi yang sudah pasti akan membuatnya tertawa bahagia. Aku mulai memperlambat langkahku saat merasakan bau masakan semakin tajam dan sosok yang siap untuk aku peluk semakin dekat. Dengan satu langkah kaki aku pun mendapatkannya dalam pelukanku.

“Selamat pagi, jagiya~”

aku memeluknya. Tapi setelah beberapa detik aku merasakan sebuah kejanggalan yang sangat tidak mengenakkan. Tubuh yang tengah kupeluk dari belakang ini sungguh kekar dan keras. Apakah dara baru saja melakukan fitness ekstrim?

“a-aauhh…jagi~ kau membuatku malu…”

aku membuka mataku lebar-lebar saat mendengar sebuah suara pria dewasa yang dibuat-buat menyerupai suara wanita. Dia bahkan bicara dengan menggunakan aegyo. Dihadapanku menjulang seorang Park Sanghyun setinggi 180 CM yang tengah menutup wajahnya malu-malu sambil menahan tawa. Aku langsung melemparkan kedua tangan yang tadi memeluk tubuhnya ke udara kuat-kuat.

“y-yaa! Apa-apaan ini!?” aku membentaknya sambil berusaha menahan malu yang sudah terlanjur tergambar di wajahku.

“w-waeyo…ppfthhh….ja-jagi..BUHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHA!!!”

lelaki berambut merah muda di hadapanku itu lantas tak kuasa menahan tawa yang sudah ditahannya sejak awal dan kini berguling-guling di lantai sambil memeluk perutnya sendiri.

“haisssth! Benar-benar…hentikan itu! YA! Park Sanghyun!!!”

wajahku kini memerah sementara niat untuk menyiram wajah sanghyun dengan minyak goreng panas semakin kuat. Hauuhh! Ini benar-benar membuatku gila. Kini aku mengerti bagaimana perasaan Dara.

“hahahahaha..hauh…aigoo…mianhe…hyung…hahhahhaha..mian…HAHAHAHAAHAHAHAHAAAA!!!!”

“Demi tuhan sanghyun-ah, aku akan membuatmu botak dalam 3 menit jika kau tak berhenti tertawa!!!”

“aku tidak tahu kau selalu melakukan hal memalukan itu pada noona…”

“YAAA!!!”

aku mengambil piring dan siap melemparkannya dengan brutal ke segala arah.

“Ndeee…jwesonghamnida hyung…jwesonghamnida…”

Sanghyun langsung bersujud di hadapanku dan memeluk kedua kakiku

“aku belum menikah, hyung…tolong ampuni jiwaku…”

“aigoo, chinca…..ini akan jadi rahasia kita berdua, mengerti?”

“call. Tapi traktir aku milk tea thailand selama 3 bulan….”

“call…”

“gumawoyo, jagiya~”

“haissth!!!”

Sanghyun hanya tertawa kecil saat aku selesai mengomelinya. Ini sungguh-sungguh memalukan, kwon Jiyong. Kumohon kendalikan hormonmu, brengsek!!! Aku mengusap wajah dengan tangan kananku dan lalu menarik rambutku hingga ke belakang sementara sanghyun kembali memasak. Aku melirik ke kanan dan terdiam saat melihat dara tengah tertidur di sofa yang berada tepat di seberang dapur kecil ruangan apartement ini. sofa dan dapur kecil ini hanya dipisahkan oleh sebuah counter panjang tempat gelas-gelas minuman bergantung di langit-langitnya. Dara tertidur pulas, sementara selimut tebal warna peach menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan wajahnya yang putih pucat serta rambut coklatnya yang berantakan. Aku menghela nafas dan tanpa pikir panjang berjalan mendekati sofa lalu berjongkok di hadapan istriku yang masih tertidur itu. Kamar apartement ini masih dalam kondisi ‘penjara bawah tanah’ karena tidak sedikitpun cahaya matahari mampu menembus masuk. Udara yang kami dapatkan hanya berasal dari pendingin ruangan dan walaupun jam dinding menyatakan ini sudah pagi hari, aku malah merasakan suasana masih berhenti pada malam hari karena sistem keamanan yang sungguh ketat dan cenderung membuat depresi ini.

Aku menghela nafas lagi dan kembali mengamati wajah dara. Ia mendengus kecil lalu menggaruk hidungnya dengan ujung jari telunjukny. Aaackhh…sungguh manis, aku sampai-sampai tak bisa menahan tawa dan malah membangunkannya.

“mmmhh…”

“sshhh…jagiya…mianhe…kembali lah tidur kalau kau masih mengantuk, neh?” aku berbisik pelan sambil meraih tangannya dan memberikan kecupan kecil pada dahinya.

“ji-ah…?”

“ya, aku disini dee…”

Dara tersenyum sementara matanya masih terpejam, membuatku tak bisa melakukan apapun selain ikut tersenyum juga. Tangan kami saling menggengam sekarang dan aku hanya duduk di hadapannya sambil terus menatap wajah cantiknya. Aku hanya ingin terus menikmati hal-hal kecil seperti ini setiap hari dan aku tidak akan meminta apa-apa lagi.

“sarapan sudah siap~”

Tiba-tiba sanghyun mendentingkan gelas dan membuat ketenangan romantis antara aku dan dara terpecah.

“bolehkah aku mencekik adikmu dengan bantal guling?” aku berbisik pada dara dan itu membuatnya tertawa kecil.

“tergantung pada niatmu, tuan…apakah kau ingin membunuhnya atau hanya memberi dia pelajaran?”

“hanya untuk senang-senang saja sih…”

“kalau begitu bantal guling adalah senjatamu…”

Aku tertawa mendengar balasan pintarnya dan dara langsung mencium dahiku, membuatku terdiam karena takjub.

“selamat pagi, jiyongie…”

Dara tersenyum lagi saat melepaskan ciumannya pada dahiku. Pipinya memerah karena malu dan itu membuat jantungku perlahan-lahan berdetak cepat.  Aku langsung menarik lengannya dan kini dara berada di dalam pelukanku. Aku menariknya semakin dekat dan langsung mencium bibirnya. Jari-jemari dara yang mungil menyentuh pipiku saat ia membalas ciumanku dan kami tenggelam pada sensasi menyenangkan yang tercipta karena ciuman kami. Aku menggigit bibir bawahnya dan ia tertawa saat akhirnya kami mengakhiri ciuman pagi yang luar biasa itu.

“selamat pagi, dee…”

Dara dengan girang mengecup bibirku sekali lagi dan ia langsung memeluk leherku erat-erat. Aku bisa merasakan kebahagiaannya yang meluap-luap dan itu juga membuatku jadi salah tingkah.

“yaaah…pernikahan itu norak tapi juga menggiurkan ya…”

Aku dan dara langsung melihat pada sanghyun sambil tertawa mengejek sementara kami berdiri dan bersiap untuk sarapan bersama. Aku tak sengaja melihat pada pintu kamar TOP-hyung saat berjalan melewati counter dan teringat dengan pertengkaran kami semalam. Itu sungguh gila dan aku jelas saja menyalahkan diriku karena sudah jadi idiot paranoid yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Aku sungguh-sungguh harus minta maaf pada TOP-hyung.

“ji…waeyo?”

Ternyata tanpa sadar aku hanya berdiam diri disana memandangi pintu kamar TOP-hyung sementara Dara sudah menggenggam tanganku erat-erat.

“a-ah…anieyo…aku hanya kepikiran…TOP-hyung biasanya sudah berisik jam segini…”. aku tertawa kecil sambil menggaruk leherku yang sebenarnya tidak gatal.

“kalian bertengkar ya, semalam?”

“yah…ada sedikit kesalahpahaman…aku akan bicara padanya nanti…”

aku tersenyum sambil menghela nafas melalui hidung lalu mengelus kepala dara perlahan.

“aku percaya kalau jiyong bisa menyelesaikan semuanya, neh?”

“hmmm…ya, tentu saja dee…”

Aku kembali memeluk dara dan mengubur wajahku pada lehernya.

“tentu saja…”

 

 

***

 

 

Author’s POV

 

            Sarapan pagi berlangsung dengan damai walaupun terisolasi dalam ruangan kedap suara dan kedap cahaya namun jiyong, Dara dan Sanghyun tetap mengobrol seperti biasanya, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Walaupun di dalam hati masing-masing mereka berandai-andai badai seperti apa yang telah terjadi di luar dinding apartemen ini. mereka sungguh cemas dan ketakutan akan apa yang akan datang dan tiba-tiba mendobrak pintu yang kini masih terkunci rapat. Beberapa kali sanghyun dan Jiyong melirik pada pintu kamar TOP, sungguh sunyi dan ini sebuah kesunyian yang menyiksa. TOP pasti merencanakan sesuatu di dalam sana. Saat kembali menarik tatapan mereka dari pintu kamar yang mati itu, mata jiyong dan sanghyun bertemu, mereka merasakan ketakutan satu sama lain.

“sanghyun ini sungguh enak! Sejak kapan kau belajar memasak, huh?” Dara memecahkan ketegangan dan mereka sungguh bersyukur setidaknya suasana jadi agak mencair.

“kau tahu kan aku berlangganan majalah memasak dan selalu nonton food network, noona…”

“aiyoo…tapi ini sungguh lezat^^” dara melahap satu lagi telur dadar gulung dari piring saji dan menggumam kegirangan. Tapi, tak lama setelah itu dara tiba-tiba langsung menutup mulutnya.

“dee…waeyo?” Jiyong buru-buru mengambil tisyu dan menyentuh punggung dara. Dara hanya menggeleng sambil memejamkan matanya sementara ia masih menutup mulutnya.

“noo-noona…apakah kau keracunan masakan yang aku buat? Yhaa? Eottoke???” sangyun buru-buru mengambil air hangat dan membawanya mendekati dara.

“tidak…aku…ughhh!!!” karena tiba-tiba merasakan mual yang mendadak, dara langsung berlari ke wastafel dan sontak membiarkan dirinya muntah.

“ANDWEEE NOONAA!!!”

Jiyong langsung menarik rambut pendek dara dari wajahnya dan mengelus-elus punggungnya perlahan sementara perempuan itu muntah sepuasnya.

“huwaaa…aigoo…noona…kau baik-baik saja kan? Aku harush ngapain nih? Hyung gimana dong?” Jiyong langsung mencubit pipi sanghyun dan itu berhasil membuatnya diam.

“tenanglah sanghyun-ah…ini…ini hanya morning sickness…” Jiyong terlihat malu-malu saat menjelaskannya “kau lupa, ya? Noona-mu kan sedang hamil, paboo…”

Sanghyun langsung menjatuhkan pundaknya dan menghela nafas panjang. “yhaaa, aku kira aku telah membunuh kakak perempuanku sendiri…yhaa, hyung aku benar-benar lupa…”

Sanghyun lalu buru-buru mengambil air hangat yang berada di meja dan memberikannya pada dara saat kakak perempuannya itu sudah berhenti muntah, dengan cepat dara langsung meminum air hangat tersebut dan menjatuhkan tubuhnya pada dada jiyong. Ia bisa merasakan kepalanya berdenyut dan tubuhnya dingin.

“aku baik-baik saja kok, jangan khawatir ya…ini kan hal biasa, hehehehe…”

“sebaiknya kita kembali ke kamar saja dee. Kau harus istirahat penuh, aku akan menemanimu, okay?” saat Dara mengangguk, jiyong langsung merebahkan tubuh dara pada lengannya dan dengan mudah menggendong lalu mengangkatnya. Sebelum berjalan menuju kamar, ia menatap sanghyun sebentar.

“Tetap waspada dan awasi semuanya, sanghyun-ah…”

Sanghyun mengangguk dan balas menatap jiyong tajam.

“tentu saja, hyung. Aku yang akan melindungi semuanya kali ini…”

Jiyong mengangguk dan bersiap untuk meneruskan langkahnya saat tiba-tiba gagang pintu masuk kamar apartemen mereka bergerak-gerak naik dan turun, Seperti ada seseorang yang berusaha membuka pintu. Sanghyun kembali menatap jiyong, kali ini dengan tatapan cemas.

“hyung…tapi, ba-bagaimana bisa? Sistem keamanan kita sungguh canggih…dan…dan aku yakin tidak ada yang bis-…”

Suara keras gagang pintu yang tiba-tiba digerakkan dengan cepat naik dan turun menghentikan ucapan sanghyun dan sontak membuatnya mengeluarkan handgun dan menodongkannya pada pintu. Ia merasakan sebuah ketakutan yang amat sangat, entah mengapa. Padahal hal-hal seperti ini tak pernah benar-benar membuatnya panik. Jiyong langsung berlari menuju kamar tidur Dara dan merebahkan istrinya yang kini juga terlihat cemas.

“tenang saja, neh? Aku akan menyelesaikan semuanya…” jiyong meraih tangan dara lalu menciumnya dalam-dalam. “aku sudah berjanji padamu, dee-ah…”

Jiyong langsung berjalan cepat keluar dari kamar dan buru-buru menutup pintu kamar dara lalu menguncinya dengan cepat, membuat dara kaget dan panik.

“j-ji?” dara langsung turun dari tempat tidur dan memukul-mukul pintu.

“y-ya! Jiyong!? Andwe! Keluarkan aku dari sini ji-ah!”

“Dara, kumohon turuti aku kali ini…”

Mendengar suara jiyong yang berubah tegas jantung dara berdetak kuat, ia lalu menggeleng dan memukul pintu makin kuat.

“ti-tidak! Itu pasti mereka!!! mereka akan menangkapmu ji! bagaimana kalau mereka menangkapmu dan sanghyun, huh!? tidak! Aku saja! Biarkan mereka menangkapku! Ini semua salahku ji, kumohon!”

Jiyong menyisir rambutnya ke belakang sementara menahan air matanya untuk jatuh. Bagaimana bisa dara menyalahkan dirinya atas semua ini!? ini jelas-jelas adalah kesalahannya. Mendengar jiyong tak membalas ucapannya, air mata dara langsung menetes dan ia sungguh merasa tak berdaya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan menutup mulutnya agar isakan yang sudah tak bisa ia tahan tidsk terdengar oleh siapapun yang kini berada di luar pintu utama. Ia tak boleh memperburuk keadaan, ia harus menahan semuanya karena ia percaya pada jiyong, tidak, ia harus percaya pada apapun yang jiyong rencanakan.

Gagang pintu masih digerakkan dengan cepat dan suara keras yang menggema di seluruh ruangan membuat sanghyun semakin panik. Apa sebenarnya mau si gila yang berusaha membuka pintu ini!? dan bagaimana ia bisa melewati semua sistem keamanan yang telah terpasang di bawah sana!? Ditambah lagi ia tak mengatakan apapun itu yang membuat suasana semakin mencekik. Jiyong lalu menyentuh pundak sanghyun yang masih menodongkan handgun silver-nya pada pintu. Ia menepuk –nepuk perlahan pundak adik iparnya itu dan mengangguk perlahan berharap dapat menenangkannya. Pertahanan sanghyun melonggar dan ia terlihat mulai tenang saat jiyong mengeluarkan handgun hitam miliknya dari kantung celana training.

“sanghyun-ah, mundurlah perlahan…tenangkan dirimu…”

Sanghyun mengangguk dan perlahan-lahan mulai mengatur nafasnya sementara ia tak melepaskan matanya dari gagang pintu yang terus bergerak cepat.

“ughh…”

Mata jiyong dan sanghyun terbelalak kaget saat mendengar sebuah lenguhan yang sungguh tidak asing dari balik pintu. Mereka berdua langsung menurunkan senjata mereka dan dengan cepat membuka semua kunci dan pengaman. Saat pintu terbuka, jantung mereka berdua seperti akan meledak karena apa yang mereka bayangkan ternyata benar-benar terwujud. Di hadapan mereka TOP tengah terduduk lemah dengan tubuh yang penuh luka dan bersimbah darah segar. Kemeja putih yang ia pakai dibawah mantel hitam panjang sudah berubah warna menjadi merah karena luka segar yang ada di perutnya. Ini jelas-jelas bukan luka dari jebakan pengaman yang mereka pasang, TOP yang menciptakan semua sistem  keamanan ini ia pasti telah mematikan semuanya sebelum memutuskan untuk keluar dari apartemen. Seseorang yang telah melakukan ini padanya. Luka-luka segar bekas sayatan senjata tajam dan luka bekas tembakan yang bersarang di kakinya itu jelas-jelas adalah ulah seseorang.

“hyung!”

sanghyun langsung meraih tubuh TOP dan berusaha menariknya masuk ke dalam ruangan. Dengan kekuatan terakhir yang tersisa TOP menarik lengan baju jiyong dan berusaha mengatakan sesuatu, namun ia malah terbatuk dan memuntahkan darah segar.

“hyung…tenang dulu…tenang…”

jiyong langsung memeluk tubuh seniornya itu dan menepuk-nepuk pundaknya yang sudah basah dengan darah. TOP lalu menjatuhkan tangannya dan langsung kehilangan kesadarannya. Jiyong dan sanghyun masih terdiam. Diam yang sungguh mencekam karena kini pikiran mereka berkecamuk dan itu membuat mereka mati rasa. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa alasan TOP keluar dari pertahanan mereka dan siapa yang melakukan ini padanya?

 

 

***

 

Saat situasi sudah mulai tenang jiyong akhirnya membuka pintu kamar dara dan ia mengintip sebentar sebelum akhirnya masuk. Dara yang melihat pakaian jiyong penuh dengan darah langsung berlari kepadanya dan dengan cepat memeriksa seluruh tubuh suaminya itu.

“ji!? apa yang terjadi? Siapa yang berada di luar sana?  Da-darah siapa ini!? Kau baik-baik saja kan!?”

“aku baik-baik saja, dee…”

Dara langsung memeluk jiyong erat-erat dan menghela nafas panjang.

“a-aku kira…aku kira aku akan kehilanganmu…”

Jiyong menggigit bibir bawahnya dan membalas pelukan dara. Ia tak akan membiarkan pikiran-pikiran buruk menguasainya sekarang.

“kau mungkin akan sedikit shock setelah ini, dee-ah. Tapi, kami membutuhkan bantuanmu sekarang…”

Jiyong melepaskan pelukannya dan meraih tangan dara lalu menuntunnya keluar kamar. Dara langsung menutup mulutnya saat melihat TOP yang sudah terbujur kaku di lantai. Sanghyun dan jiyong sudah membuka mantel hitamnya dan membersihkan darah yang ada pada kulit putih TOP, namun luka segar yang ada pada perutnya masih mengalirkan darah yang banyak. Tubuh TOP penuh dengan memar dan lebam yang mulai menghitam, seperti ada orang-orang yang sudah menghajarnya dengan sangat kejam.

“noona…” sanghyun masih tetap berusaha tersenyum pada dara walaupun dara tahu kalau adiknya itu masih menahan shock dan air mata  yang hampir tumpah. Sanghyun masih terus menekan luka yang ada di perut TOP sementara kemeja putihnya sudah penuh dengan darah TOP.

“T-TOP-ssi…ke-kenapa? J-ji?” tubuh dara bergetar dan ia tak punya keberanian untuk bergerak.

“tenang saja, dee…hyung masih terjaga..ia…ia belum mati…” jiyong memejamkan matanya dan mencengkram pundak dara kuat. “aku sungguh akan menyesali ini seumur hidupku…tapi kami butuh bantuanmu, dee…luka pada perut hyung masih terbuka lebar dan terus mengeluarkan darah, kalau kita biarkan…dia pasti akan mati…”

“kau ingin aku melakukan prosedurnya?” dara cukup terkejut dengan arah pembicaraan jiyong. Sebelum menikah, dara sempat menjadi seorang perawat sukarelawan dan karena tuntutan yang mengharuskan, dara sempat belajar melakukan prosedur operasi seperti menjahit luka dan pemberian obat keras dengan dokter sungguhan. Memang ia tak punya lisensi, namun untuk saat-saat terdesak seperti halnya saat ini, kemampuan dara adalah sebuah anugerah yang penting.

“aku tak tahu harus melakukan apa lagi…dan kau harus tahu, dee…aku sungguh terpaksa melakukan permohonan ini…”

Jantung dara berdegup kencang. Akhirnya. Akhirnya ia bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk menolong dan itu membuatnya bersemangat.

“apa kau percaya padaku, ji?” Dara meraih wajah jiyong dan memaksnya menatap pada dua pasang mata cokelatnya. Jiyong awalnya ragu namun akhirnya ia menatap balik pada mata dara dan mengangguk.

“ya, aku percaya padamu…”

Mendengar itu dara langsung teresenyum dan berlari menuju kamar tidurnya lalu keluar membawa sebuah kotak P3k yang sudah lumayan usang. Dara langsung membawa kotak itu dan duduk bersimpuh di samping tubuh TOP. Ia meletakkan tangannya di atas hidung TOP dan menghela nafas lega saat dapat merasakan nafas yang teratur.

“nafas dan detak jantungnya normal, ia bisa bertahan…sanghyun-ah tolong periksa dapur dan ambilkan apapun yang kau rasa berguna…mungkin..mmh..seperti perban, gunting dan kain lembut…” Dara tidak terlihat panik sedikitpun dan itu membuat jiyong dan sanghyun terpana. Jiyong mengetahui pekerjaan sampingan dara ini namun  setelah menikah ia melarang dara untuk kembali ke pekerjaan itu dan kini ia menyadari kalau istrinya itu sungguh hebat dalam melakukan pekerjaannya.

“ji, tolong ambil 1 mangkuk besar air dan es batu juga alkohol yang ada di atas lemari es…”

“baiklah…”

Dara mengambil jarum dan benang jahit yang untung saja ada di dalam kotak P3K serta beberapa obat luar yang sangat berguna. Orang yang tinggal di apartemen ini pasti sudah biasa menjahit luka orang-orang karena memiliki obat-obatan yang akurat. Dara baru saja akan merasa bangga saat tiba-tiba ia ingat kalau orang yang tinggal di apartemen ini adalah kiko mizuhara. Ia langsung mendengus kesal dan berusaha mengalihkan pikirannya pada luka TOP. Sanghyun dan jiyong kembali dengan semua benda-benda yang diminta dara. Dengan cepat dara menghentikan pendarahan dengan membersihkan darah dan menekannya dengan kompres. Pendarahan berhenti dan dara langsung menarik benang operasi dan mengaitkannya dengan jarum tanpa beban sedikitpun.

“sanghyun-ah…bersiap pada tempatmu dan ji tolong balurkan obat antibotik pada luka TOP-ssi yang lain…”

“ndee! Algeseumnida!”

Dara tertawa kecil saat jiyong dan sanghyun menjawabnya seperti itu. Prosedur penjahitan luka di mulai dan dalam 1 jam dara sudah menutup luka segar itu. Luka-luka memar di sekujur tubuh TOP juga sudah diobati dan di perban oleh jiyong sementara sanghyun tak henti-hentinya menghapus keringat di dahi dara. Jiyong melirik pada dara yang masih serius menjahit luka TOP dan ia tak bisa menahan senyum bahagia. Jantungnya berdegup kencang menyaksikan dara yang juga berjuang, itu memberikan keberanian pada dirinya yang ia rasa mulai melemah akhir-akhir ini.

Dara menghela nafas panjang saat sanghyun menggunting sisa benang operasi setelah dara mengikatnya dengan sempurna. Prosedur penjahitan selesai dan luka TOP tertutup rapi sepenuhnya. Dara menghela nafas lega dan menjatuhkan dirinya ke lantai, ia sungguh lelah namun bahagia.

“dee…kau baik-baik saja!?” jiyong langsung meraih kepala dara sebelum ia benar-benar jatuh menghantam lantai namun dara tersenyum dan air matanya keluar dengan deras.

“aku baik-baik saja, ji…*hic*…aku bahagia….aku berhasil….*hic*hic*….” dara menutup wajahnya dengan tangan dan terus menangis dalam pelukan jiyong.

“ya dee…kau berhasil…kau melakukannya…kau sungguh kuat, dara-ku sayang…” jiyong memeluk kepala dara dan menciumnya berkali-kali sambil terus menepuk-nepuk kepalanya lembut.

“noona…noona kau hebat sekali noona-yaa…*hic*….aku sungguh bangga…*hic*…” melihat dara yang meluapkan emosinya sanghyun pun tak bisa membendung air matanya ia mengubur wajahnya pada lututnya dan ikut menangis bersama dara. Meluapkan semua tekanan yang sudah mencekiknya akhir-akhir ini ia menangis sekuatnya bersama dara. Jiyong tertawa dan ikut menghapus air matanya yang sempat mengalir lalu sambil menghela nafas ia menepuk-nepuk pundak sanghyun.

“kalian berdua adalah manusia paling hebat yang pernah aku kenal…” jiyong mencium kepala dara dan mempererat pelukannya. TOP menghela nafas teratur dan detak jantungnya kembali normal sementara lantai kamar masih penuh dengan darah dan tangan-tangan mereka telah di penuhi oleh darah yang mengering tak sedikitpun mereka peduli dan selama hampir 1 jam penuh lamanya mereka meluapkan semua perasaan yang sudah lama tertahan melalui tangisan.

 

 

***

 

 

“kau lihat wanita mungil dan pria berambut merah jambu di pesta semalam?”

 

“oh ya, tentu saja…mereka terlalu mencolok untuk di abaikan…siapa mereka?”

 

“aku dengar mereka datang bersama A01 dan B01…”

 

“mereka hanya mengganggu rencana kita saja…aku rasa kekacauan semalam pasti karena mereka…”

 

“apa yang akan kita lakukan pada mereka?”

“sebelum mempertimbangkan untuk membunuh mereka…aku rasa ada baiknya kita bertanya beberapa hal. Aku melihat potensi besar  pada dua pasangan itu…”

 

“kau tahu bukan? Mereka bukan pasangan…”

 

“oh benarkan?”

 

“si wanita adalah istri A01 dan aku rasa pria merah jambu itu adalah adik si wanita…”

 

“darimana kau mengetahuinya? Ini cukup mengaggetkan…”

 

“entahlah hanya asal menebak saja…”

 

“yaaahh…kemampuan deduksimu ini memang patut di acungi jempol…”

 

“bagaimana dengan adikmu yang gila itu?”

 

“siapa? Kiko? hahahahahahhahahaaha kau tahu aku tak pernah menganggapnya adik…dia terlalu gila bahkan untukku…yang dia bisa pikirkan hanyalah bagaimana ia bisa bercinta dengan A01…itu saja…”

 

“jadi?”

 

“aku rasa daging yang sudah busuk tak bisa dipakai untuk acara pesta BBQ bukan?”

 

“perumpamaan yang lucu…”

 

“kita bunuh saja dia duluan sebelum membunuh si wanita mungil dan pria merah jambu itu…”

 

“hahahahaha…sungguh gila…apa kau tak bisa mempertimbangkan manfaat kemampuan si wanita dan si pria merah jambu untuk organisasi kita yang sudah kacau ini…”

 

“akan ku pikirkan…tapi mereka berdua tetap pengganggu…dan aku benci pengganggu…”

 

“kau benar-benar sadis, jae joong-ah…”

 

 

 

 

***

 

 

 

NOTES :

 

Hello guys! Wussup!

 

*di lempar tombak beracun*

 

Weitsss ga kena! Hahahhahahahaa!

 

Waa iyaa iyaa..maafkan hamba maafkan!!!

Haloooo pembaca yang emesh2 merah delima hahahah apa kabar semua? Sehaaat?

 

Woohooo akhirnya saya kembali loh dengan plot x agent yang bingung mau di bawa kemanaaa ceritaa ini wkakakka tapi ini udah lumayan terkontrol kok plot buat chap 13 udah mulai di tulis dan insyallah bakal update lagi kalo ga 4 hari ya 5 hari ya kalo nggak seminggu lah paling mepet 3 bulan….pepet ajaa terus thor ampee gepeng wkkakakakkak

 

Saya jadinya takut untuk janji update cepet kalo udah gini ceritanya…soalnya kadang saya cepet sekali malesnya wakkakakakakak tapi ntar coba tak paksain deh biar ini x agent cepet selesai soalnya ceritanya masiih panjaaaaaang sekaleeee huawahahahahah muantap pak buk

 

Mungkin chapter 13 bakal lebih ke flash back tentang peristiwa terlukanya TOP jadi buat perkembangan ceritanya kudu sabar nunggu chap 14 yaa hahahahahha gapapa lah ya kkkkk

 

Okay saya rasa segitu dulu aja deh ya cuap2nya wkakakakakak kurang dan lebih mohon di maapkan yaaa kkkkk jangan lupa comment yaa biar author semangat 45 ngerjain next update hahahahahah

 

Follow juga ig author di @atikapdewi sama temenan di facebook yuuu add facebook author yaa “atika purnama dewi”

 

Makasih semuanya yang sudah setia menantikan cerita buduk ini author sungguh2 bahagiaa sekaliii :*

 

Cup cup mesra

 

Salam sambalado

 

-HABIBANONO-

 

 

 

 

Advertisements

13 thoughts on “My Life As An X-Agent : Chapter 12

  1. Waaaaah akhirnya d update jga,,,
    Tu TOP knpa kok smpe berdarah” gtu, bunuh aj si kiko gpp tp dara m sanghyun jgn y, kkkkk
    Tu jiyong bsa slh peluk gmna sih, ap msh ngantuk jd gk bsa liht postur tubuhnya sanghyun dr blakng, wkwkwkkwkwk, gokil….

  2. wah akhirnya update juga,itu T.O.P di apain ampe kayak gitu,da jae joong dia jahat ya?,mudah2han jiyong bisa selalu jagain dara sma sanghyun…..next thor d tunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s