The Darkness of Tokyo [Part 5-End] : New World

10276312_1471488663080948_1744920155_n

Author : VA Panda

Title : The Darkness of Tokyo

Genre : Horror–Dark Fantasy

Cast : Park Sandara | Kwon Jiyong | Mizuhara Kiko | Ikuta Toma | Lee Chaerin

Support Cast : Soo Ra and Soo Hye (Oc’s) | Kang Jae Soo (Oc) | All member of 2ne1 and Big Bang

Length : 5 Chapter

Disclaimer : This story is purely fresh from my brain. All cast in this fanfiction not my mine expect Oc. If you wanna be take out this story please inform me, don’t take story without permissions.

Note : Seungri, Seunghyun, Chaerin dan Bom di bagian ini adalah iblis yang rupanya seperti monster yang sedang menjelma menyerupai mereka.
Taeyang adalah titisan iblis yang membuat perjanjian dengan mempertaruhkan nyawanya namun di khianati oleh iblis sehingga dia terkurung di dunia cermin antara dua sisi (tempat yang sama seperti kedua anak Sandara, namun bedanya kedua anak Sandara masih bisa keluar-masuk ke dimensi manusia untuk memantau ibunya –Sandara)

Teruntuk anak la kepri, terima kasih karena sering banyak rumpi tentang hal mistis dan fantasi sama saya dan double terimakasih untuk Haru … karena suka bagi cerita hal-hal yang masih jadi misteri di dunia.
Untuk reader …big hugs ! terima kasih karena bisa menghargai saya dengan memberikan komentar juga dukungan ! tapi walaupun begitu keputusan untuk dapat membaca epilog tidak dapat di ganggu gugat. Kkk >.<
*tebar kamboja*
Happy reading guys !

Say no to PLAGIARISM !

©Mei, 2014

.

.

.

.

.

New World-

.

.

.

.

.

Iris mata putih Sandara perlahan berubah menjadi biru teduh. Sayap putih yang terbentang cukup panjang itu menjadiakan tumpuan Sandara untuk tetap bertahan melayang di langit ruangan tersebut. Sebuah mahkota hitam melekat di kepalanya hingga sedikit mengenai dahinya, belum lagi gaun hitam tanpa lengan yang juga langsung membungkus tubuh ramping Sandara hanya dalam hitungan detik kala angin ribut memalingkan fokus Taeyang dan ketiga iblisnya yang justru sibuk mempertahankan diri agar tidar terbawa arus angin.

Sandara kini terlihat layaknya bidadari. Gaun indah berwarna hitam sangat cocok di kulit seputih susu itu. Rambutnya yang ikal teratur melambai pada hembusan angin dengan sandaran mahkota membuat aura indahnya kian terpancar, dan lagi sayap putih bersih yang menempel di punggungnya semakin memperlihatkan kalau gadis ini tengah bermetamorfosis sebagai bidadari.

Dilain sisi, Taeyang juga merasakan haus akan kekuatan saat saudara perempuannya itu mendapatkan banyak bantuan di luar sana. Pria itu menduga, mungkin, para biksu memanjatkan doa pada Sandara hingga gadis itu bisa merubah dirinya menjadi hal yang di benci oleh para iblis yang ada di cermin sisi kegelapan.

Tanpa pikir panjang lagi, Taeyang merentangkan kedua lengannya serta menggumamkan mantra yang hanya dia ketahui. Bersamaan dengan matra yang di lantunkan pelan oleh Taeyang seraya segaris mata pria itu yang menatap ke langit-langit, ketiga iblis yang telah menjadi anak buahnya masuk secara bersamaan kedalam tubuh Taeyang hingga membuat pria itu terhuyung dari pertahanan tubuhnya. Kotak yang sebelumnya digenggam oleh monster yang menyerupai Park Bom pun melayang ke udara dan terbuka sendiri hingga menampilkan cahaya keemasan yang menjadikan Taeyang tersenyum puas.

“Sandara .. sekarang kita lihat, siapa yang lebih hebat !” geram Taeyang dengan bersuara layaknya lolongan iblis yang telah sepenuhnya mendominasi tubuh manusianya.

Sosok Taeyang saat ini sungguh menyeramkan. Pria itu sudah tidak dapat terlihat seperti manusia lagi. Seluruh giginya runcing hingga mampu merobek kulit bahkan bisa mencabik dan menggoyakkan tubuh Sandara tanpa ampun, matanya hanya tertinggal satu setelah mata yang dia miliki di makan lahap oleh mulutnya sendiri berkat bantuan lidah panjang persis seperti lidah ular. Kulit Taeyang juga telah berubah menjadi bersisik juga adanya gumpalan seakan di dalamnya terdapat cairan nanah yang siap meledak kapanpun. Hidungnya tebal dan besar berwarna hijau lumut nampak lebih gelap lagi, satu yang tidak tertinggal adalah sosok Taeyang kali ini berukuran melebihi batasan tinggi ruangan ini hingga mampu membuat lubang besar yang memperlihatkan malam kian menghitam.

“Kau akan aku bunuh, Sandara !” Taeyang mengumpat seraya mengayun-ayun ekor panjangnya seperti mengancam gadis dengan sayap itu sedangkan kotak di udara secepat kilat menutup dan terjatuh hingga membuat suara dentuman yang semakin terdengar di keheningan.

Langkah besarnya menjadikan getaran di bumi. Air liur kehijauan yang keluar dari mulutnya juga ikut menyambut setiap jejak kaki berukuran tiga kali tubuh orang dewasa itu. Bisikan suara salah satu iblis yang di dalam tubuh Taeyang memperingati agar dia berhati-hati pada sosok Sandara yang sebenarnya telah di rasuki oleh makluk penunggu cermin sisi kebenaran yang sangat di benci oleh para iblis yang berada cermin sisi keburukan.

“Gadis itu mendapatkan bala bantuan dari para biksu yang pernah memanggil upacara roh penunggu cermin sisi kebenaran.”

“Dia adalah roh terkuat yang berada di cermin sisi kebenaran. Tuan harus berhati-hati padanya.”

“Ambil liontin yang bersinar di lehernya, setelah kedua anak istimewa itu datang, Tuan harus mengaliri lingkaran setan yang kami buat dengan darah ibu dari kedua anak istimewa itu sebagai penyempurna kotak kuno itu untuk menciptakan dunia yang baru !”

Taeyang tersenyum picik setelah mendengar bisikan dari ketiga iblis yang menyatu dalam tubuhnya. Dengan perlahan, pria itu berjalan menghadang angin yang semakin menjadi di tengah pusaran debu layaknya badai pasir. Dunia baru akan dia dapatkan hanya dengan sekali tarikan pada liontin berlian biru berbentuk lonjong yang berada di leher Sandara.

Dunia baru.

Selangkah lagi.

Saat bulan telah tertutup sempurna, maka kekuatannya akan bertambah.

Taeyang akan menjadi manusia kekal dan tidak akan terperangkap dalam cermin terkutuk ini.

Janji dengan iblis ?

Persetan dengan itu !

Dia menang ! Dia terkuat ! Seluruh iblis dan makhluk lain bisa dia gerakkan layaknya boneka !

Keadaan berputar, bukan lagi Taeyang yang jadi lahapan iblis yang mempermainkan nyawanya dari perjanjian konyol

Tapi …

Taeyang yang telah mendapatkan kekuatan dari kotak kuno itu akan membalikkan keadaan.

Taeyang menang !

Selangkah lagi !

Dia menjadi Tuhan.

“Bisa kita mulai ? Jadi … tolong berhentikan angin yang kau buat ini, bodoh !” Suara Taeyang tidak lagi terdengar merdu, nyatanya iblis yang merasukinya mengubah suara Taeyang menjadi lolongan siluman anjing buas.

Mata Sandara memincing kearah Taeyang yang berada dua langkah seukuran kaki Taeyang saat ini. Gadis itu dengan anggun mulai turun menginjak bumi dengan bantuan sayapnya. Angin ribut perlahan terdiam setelah Sandara telah sepenuhnya menginjak lantai kayu itu. Pertarungan, baru akan di mulai. Sepenuhnya tidak akan lagi mengenal ikatan darah atau apapun karena yang terbaca di mata keduanya adalah masa depan yang akan tercipta di alam semesta. Taeyang tidak mengenal Sandara sebagai saudaranya walau sebagian kewarasannya masih bisa dia kendalikan di luar sentuhan ketiga iblis di dalamnya, sama halnya dengan Sandara tidak mengenal Taeyang sebagai saudaranya walau kewarasannya ikut memberontak pada pergerakan roh dari cermin sisi kebenaran yang menggerakkan seluruh sistem di tubuh kecilnya.

“Aku masih akan bisa memaafkanmu dan mengembalikanmu ke dunia lagi, jika kau menghapus keinginanmu untuk menguasai dunia,” Sandara berkata dengan lembut dan datar untuk setidaknya berkompromi sebelum Taeyang akan menyesal apa yang akan terjadi setelah Sandara mengalahkannya.

Taeyang hanya diam tanpa berkutik sedikitpun. Mulut tebalnya bungkam bersama desisan yang samar-samar terdengar. Taeyang jelas-jelas tahu apa yang akan terjadi jika dia kalah dari Sandara dan apa yang terjadi jika Sandara di kalahkan olehnya.

Portal untuk Taeyang bisa keluar untuk sepuluh tahun mendatang tidak akan dia temukan, jika Taeyang kalah dari pertarungan ini dan satu lagi hal terberat yang dia terima adalah menjadi iblis juga mendekam dalam cermin sisi keburukan karena perjanjiannya terhadap iblis yang tertera bahwa kelak dia harus mengalahkan ibu dari kedua anak istimewa yang akan datang –Sandara, dan jika Taeyang kala, berarti raga Taeyang sepenuhnya di miliki oleh iblis.

Jika Sandara yang kalah dalam pertarungan ini, mungkin dia tidak akan menanggung beban berat layaknya Taeyang. Sandara masih akan bisa kembali ke dunia nyata, tapi dia telah di hadapkan kenyataan bahwa dunia sudah di kuasai oleh boneka para iblis yang justru memanfaatkan kembali agar bisa mengendalikan dunia seorang diri, dan Taeyanglah orangnya.

“Untuk apa kembali ke dunia yang tidak pernah memberikan kebahagian padaku, jika aku bisa menciptkan sendiri dunia yang mudah aku kendalikan ?” Balas Taeyang yang terlihat memuncratkan cairan yang menggelembung di kulitnya. Cairan ini lengket dan berwarna kuning yang terus bercucuran setiap kali Taeyang berjalan dengan langkah besarnya. “Aku akan membuat surge !”

Secepat kilat, Taeyang menghempaskan tubuhnya demi meraih Sandara yang kemudian bisa di hadang oleh sayap Sandara yang mengangkat tubuh mungil Sandara ke udara. Taeyang tidak berhenti sampai di situ, ekor panjangnya dia gerakkan kearah Sandara sedangkan tangannya kanan yang menggenggam puing bangunan dia lontarkan tepat pada Sandara, namun sialnya roh yang memasuki tubuh Sandara bisa memecahkan puing bangunan itu dengan hembusan angin yang keluar dari kedua tangannya.

“Kau cukup hebat,” dengan napas memburu, Taeyang masih bisa berkomentar dengan kemampuan Sandara namun sedikitpun semangatnya tidak surut. Dia yakin, Sandara akan kalah.

“Perlambat pergerakkannya sampai temanku datang membawa kedua anak istimewa itu !”

Perintah yang di bisikan sang iblis membuat dia semakin memperoleh banyak akan untuk menghamburkan waktu dan membuat pikiran Sandara bercabang nantinya. Dia yakin, saat pintu terbuka dengan sangat lebar hingga engsel pintu rusak bersama teriakan meronta kedua anak istimewa itu, raga Sandara yang sepenuhnya akan datang untuk kembali menguasai tubuhnya dan di saat yang bersamaan itulah Taeyang bisa mengambil kelemahan Sandara untuk mencabut liontin itu agar roh dari cermin sisi kebaikan tidak bisa merasukinya lagi.

Taeyang langsung melemparkan benda-benda yang di sekelilingnya kearah Sandara sampai gadis itu kesulitan untuk membalas gerakan yang Taeyang berikan. “Masih yakin, kau akan memenangkan pertarungan ini ?” katanya setelah berguling bersama retakan bahkan hempasan lanti kayu yang terkena hempasan angin besar dari Sandara.

“Mereka ada disini ! Temanku berhasil menemukan mereka ! Kedua anak istimewa itu !”

Sandara jelas tidak dapat mendengar bisikan dari iblis yang berada di dalam tubuh Taeyang, sedangkan Taeyang bisa mendengar dengan jelas. Hal itu di manfaatkan Taeyang yang kembali melempar asal benda yang masih bisa dia gapai bahkan sesekali dia membenturkan kepalan tangannya ke dinding agar penyanggah bangunan sedikit rusak maupun dari langit-langit timbul serpihan bangunan.

“Eomma !” Pekik Soo Hye dan Soo Ra bersamaan setelah pintu di depan terbuka lebar.

Sandara yang terperanjat dengan pemandangan di pintu selain kedua gadis kecil itu, nyatanya sosok iblis yang menyerupai kadal besar berkaki dua dengan air liur yang bercucuran ke lantai menyambutnya dengan cepat. Entah mengapa, tapi Sandara justru lebih terfokus pada kedua gadis kecil itu dibandingkan Taeyang yang seharusnya perlu diselesaikan terlebih dahulu pertarungannya.

“Dapat !” Taeyang berteriak senang setelah mendapatan liontin dari leher Sandara hingga membuat sayap gadis itu seketika musnah seperti debu.

Samar-samar saat Sandara terjatuh ke lantai kayu, penglihatannya masih menangkap ketiga iblis yang sudah terpisah dari tubuh Taeyang dan kedua anak istimewa yang berusaha menghampiri Sandara namun entah mengapa pergerakkannya mudah di tangkap oleh iblis kadal itu.

***

Flashback

“Sandara !” Jiyong terpekik di depan pintu setelah menyadari Sandara sudah menghilang dari pengawasnya.

Pria itu berlari cepat untuk menarik lengan Sandara saat dirasa tubuh kekasihnya itu seolah terhisap kuat oleh sesuatu yang berada di cermin. Jiyong hampir kehilangan akal saat hanya lengan kanan Sandara yang bisa dia lihat, namun berulang kali dia terus berusaha untuk memanggil nama Sandara hingga suaranya perlahan mengecil oleh isakan.

“F*ck,” umpat Jiyong mengerahkan seluruh tenaganya demi merusak cermin yang berhasil membawa Sandara hilang tepat di depan matanya sendiri dengan membenturkan badannya ke cermin.

Rasa putus asa mulai merayap seluruh sistem otak dan tubuhnya, tapi tidak banyak hingga berhasil membuat pria itu menghentikan tingkahnya yang terus membenturkan badannya kearah cermin. Mungkin akan terdengar seperti orang gila untuk seorang Kwon Jiyong yang tidak pernah sedikitpun percaya hal-hal mistis dan sebagainya, tapi detik ini juga Jiyong tahu bahwa dirinya bodoh untuk tidak pernah sedikitpun mempercayai berbagai ucapan yang di katakana Sandara bahkan benda bisu ini nyatanya bisa membawa kekasihnya pergi ke suatu tempat yang tidak di ketahui oleh Jiyong.

Apakah ini pintu masuk atau semacam portal ? Bukankah itu hanya cerita fantasi seperti yang ada di tayangan televisi murahan ? Pertanyaan konyol itu nyatanya sudah memudarkan kepastian sutradara muda itu. Pria itu saat ini sudah sangat percaya akan hal-hal bodoh yang tersembunyi di dunia yang sebelumnya dia anggap hanya ada benda mati dan benda hidup yang berdampingan, namun nyatanya suatu benda mati itu bisa menghantarkan seseorang kelain tempat.

Cermin yang menghisap Sandara, pasti bukanlah benda biasa. Lagi-lagi Jiyong membatin.

“Jiyong ! Apa yang kau lakukan !” Kiko berteriak gusar seraya berusaha keras menarik Jiyong yang masih membenturkan tubuhnya ke cermin yang terlihat kokoh walaupun usang.

“Jiyong !” Gadis itu kembali berteriak keras sedangkan kru film yang lain hanya diam tak berkutik karena mereka tahu sikap keras Jiyong yang sangat di segani kebanyakan orang.

“Jiyong !” Pikiran Kiko kalut. Gadis itu menitikan air mata sedih saat Jiyong terkulai dengan rapuh di depan matanya.

Pandangan kosong dari Jiyong dengan cepat menyayat hati Kiko. Sebesar inikah cintanya pada gadis yang bernama Sandara, walaupun Kiko tidak tahu penyebab mengapa Jiyong bersikeras seperti ingin menghancurkan cermin kokoh itu, tapi dia bisa menyimpulkan bahwa pria yang amat di cintainya itu hancur karena gadis yang namanya di katakan tanpa henti.

“Jiyong, ceritakan padaku, ceritakan apapun yang membuatmu hancur seperti ini.” Kiko memohon dengan pedih yang sekarang semakin mengeratkan pelukannya pada Jiyong yang terus memberontak.

Suasana di liputi kebisuan yang pasti. Orang-orang yang berada di ruangan itu hanya melihat kearah Jiyong dan Kiko dengan kaku. Mereka kini tahu, siapa Sandara bagi hati Jiyong. Di saat yang bersamaan mereka hanya bisa meresap seluruh kejadian yang terasa cepat ke otak masing-masing, sedangkan sebagian orang juga ada yang tidak tinggal diam, hingga berusaha memanggil biksu maupun perlahan menghampiri Jiyong dan Kiko.

Beberapa menit berlalu. Jiyong mulai mau terbangun dari posisinya dan menjauh dari depan cermin. Pria itu masih menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun yang keluar dari mulutnya selain nama Sandara, kejadian yang di lihat di depan matanya terasa sungkan untuk di katakan.

“Tuan Kwon, ada yang harus Saya bicarakan dengan Anda.” Salah satu biksu berdiri di depan ruangan yang di kerumuni banyak orang itu, sedangkan di sebelahnya berdiri Toma dengan wajah tertunduk.

“Jiyong … aku yakin Sandara akan baik-baik saja,” ada nada kecewa dari suara Toma saat pria itu berusaha menghampiri Jiyong dan membawanya ikut bersama biksu.

“Gadis itu sebenarnya adalah orang pilihan dan hanya dengan cara ini dia bisa menghapus dosa yang pernah kalian buat,”

Jiyong mengerutkan kening sebelum bertanya lebih lanjut, “Saya tidak mengerti apa yang Anda maksud ! Tapi yang saya tahu, bagaimana mungkin Sandara bisa masuk ke dalam cermin sedangkan saya tidak bisa masuk bahkan pusaran yang berada di sana menghilang !” kata Jiyong dengan napas memburu.

“Jiyong … tenanglah. Biksu akan menjelaskan padamu,” Kiko mengusap lembut punggung Jiyong untuk menenangkan pria itu.

“Ingatkan Anda dengan anak yang gadis itu gugurkan ?”

 

 

***

Kabut tipis dengan aroma tanah lembab langsung menyapa indera pencium Jiyong. Otaknya sedikit mendapatkan keluhan saat yang di lihat adalah bangunan yang sama seperti model rumahnya, rumah bergaya Victorian. Kesan pertama Jiyong saat baru menginjakkan kakinya di tempat ini adalah perumahan klasik ala Inggris jaman dulu. Kedua manik matanya masih fokus melihat keadaan sekitar di bawah temaram lampu sisi jalan. Dengan lambat, Jiyong berjalan sembari melirik kanan-dan-kiri untuk memastikan di mana keberadaan Sandara.

Jiyong merupakan orang yang beruntung karena hanya dengan sekali percobaan untuk pelepasan jiwa dia bisa melakukan hal yang sebelumnya sangat dianggap tabu. Selepas biksu memberitahunya bahwa Sandara adalah gadis special seperti yang di ramalkan oleh anak buta bernama Kang Jae Soo, Jiyong memohon agar dia bisa ikut membantu Sandara menemukan arwah kedua anak mereka yang tersesat, terlebih ada pihak dari titisan iblis yang akan memanfaatkan darah Sandara juga arwah kedua anak istimewa itu demi menciptakan dunia baru. Sebenarnya tidak ada satu orangpun yang menyetujui keinginan Jiyong walaupun tidak banyak menanggung resiko, tetapi pria itu bersikeras agar dia bisa mencari Sandara dengan cara pelepasan jiwa dengan bantuan para biksu.

“Jalan satu-satunya agar Tuan bisa menuju dunia di Antara kedua sisi cermin adalah pelepasan jiwa. Resikonya memang tidak ada, tetapi jika para iblis mengetahui keberadaan Tuan, mereka bisa mengambil raga Tuan seutuhnya.”

Jiyong mengenyahkan kemungkinan raganya dapat diambil oleh iblis dari cermin sisi keburukan itu. Dia mengisi rasa percaya diri untuk bisa kembali bersama Sandara keluar dari cermin dan setelahnya dia sudah memikirkan untuk membina keluarga kecil yang bahagia, satu lagi adalah Jiyong tidak akan membiarkan mereka kembali tinggal di rumahnya yang dulu setelah matanya perih dan cukup ketakutakan bila melihat rumah Victorian mereka, apalagi harus meninggalkan Sandara seorang diri di rumah.

Saat masih sibuk dengan pikirannya, mata Jiyong menangkap siluet berukuran besar namun berbentuk kadal. Jiyong berlari dengan sesekali menyembunyikan dirinya sebisa mungkin. Sosok itu seperti monster yang menyeramkan dengan membawa suatu beban di punggungnya layaknya karung beras.

“Lepaskan kami, makhluk jelek !”

“Lepaskan tangan kotormu itu dari kami !”

Hembusan angin menyibakkan rambut panjang seseorang yang di bawa oleh makhluk aneh itu. Mata Jiyong kontan langsung membulat tidak percaya setelah mengingat kembali bahwa wajah dari anak perempuan itu sangat persis seperti saat dia akan terjatuh dari jurang. Bukankah mereka yang mendorong Jiyong hingga hampir terjatuh dari jurang ? Lalu apa hubungannya kedua gadis pucat itu dengan dirinya ?

“Apakah mereka anakku ?” Jiyong berbisik untuk meyakinkan dirinya sendiri. Larinya semakin di percepat tanpa memperdulikan monster itu membalikkan tubuhnya untuk menangkap dirinya. Bersama dengan pintu yang terbuka lebar, Jiyong mencari celah masuk di sisi monster itu dan langsung mendapatkan pemandangan yang sangat mustahil baginya.

“Dapat !”

***

 “Taeyang kembalilah seperti dirimu yang dulu. Taeyang yang lembut, Taeyang yang hangat dan Taeyang yang selalu menjadi oppa terbaikku.” Sandara terisak dengan napas tersenggal saat mata Taeyang yang terus menatap lekat padanya hanya dapat mengartikan kekecewaan dan dendam.

“Suuut ..” Taeyang kembali membungkam mulut Sandara dengan sapu tangan. “Akan lebih baik jika kau diam dan menyaksikan saat dunia telah berhasil aku kuasai, sau-da-ra-ku.” Kata Taeyang dengan nada sadis namun lembut.

Pandangan Sandara mengabur karena air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Wajahnya semakin terlihat sembab bersama jejak air mata yang mengalir tanpa henti. Taeyang memang sudah tidak dapat di kenali lagi oleh Sandara, Taeyang bukan lagi orang yang sama seperti yang di kenal Sandara dan gadis itu sangat merasa bersalah karena dirinyalah yang menjadikan Taeyang seperti ini. Jika mungkin dengan seluruh darah yang ada di dalam tubuhnya bisa memperbaiki segala kesalahan yang di perbuat Sandara … dia akan memberikan seluruhnya tanpa setetespun.

“Kau tahu … untuk menjadi abadi, harus ada yang mati.” Kata Taeyang sebelum dia menyayat lengan Sandara hingga perlahan darah Sandara mulai mengalir mengikuti alur dari simbol garis setan namun Sandara hanya diam tanpa memberontak.

“Terima kasih untuk darahmu, Dara. Tenang saja ini tidak akan berlangsung lama. Aku akan memastikan saat kau membuka matamu, kau sudah berada di dunia yang baru, atau mungkin kau akan berada di neraka,” sambung Taeyang dengan tawa mirisnya dan mulai menyayat pergelangan lengan Sandara hingga perlahan amis darah mulai tercium oleh Taeyang.

“Bau kemenangan … aku sangat suka itu.” Kata Taeyang seraya menjilati tetes darah Sandara dengan napsu.

Salah satu monster yang menjelma sebagai Chaerin meringkus kedua lengan Jiyong ke belakang. “Tuan … sepertinya ada tamu yang tidak di undang dalam pesta kita.”

“Chaerin ! Apa yang kau lakukan ?!” Jiyong berteriak keras saat Taeyang justru menertawakannya akan kebodohan Jiyong yang menganggap bahwa salah satu iblisnya adalah Chaerin.

“Hai,Kwon Jiyong.” Taeyang meninggalkan Sandara yang sudah terkulai lemas dengan tetesan darah kental yang semakin mengalir.

“Apa yang kau lakukan pada Dara, bajingan !” umpat Jiyong dengan berusaha keras melepaskan genggaman Chaerin yang kuat pada kedua lengannya.

“Aku ?”

“Lepaskan aku Chaerin ! Top ! Bom ! Kenapa kalian tidak membantuku ?”

Segaris senyum sombong Taeyang mulai terukir dengan bangga, mungkin tidak ada salahnya untuk membunuh Jiyong di detik ini juga, terlebih kekuatannya sudah setara dengan iblis cermin sisi keburukan.

“Lepaskan juga kedua anak kecil itu, monster kadal !”

“Kwon Jiyong … Kwon Jiyong,” Taeyang mendecak. “Tidakkah kau bisa membedakan siapa sebenarnya ketiga makhluk yang kau anggap sebagai orang yang kau kenal itu ?” tanyanya dengan menggelengkan kepala.

“Apa maksudmu !”

“Bagaimana kalau kita melakukan pertarungan ala pria dan aku akan mendongengkanmu tentang cerita yang aku alami selama berada di dunia cermin ini.”

“Kau gila, Taeyang !”

“Kita buat kesepakatan. Kalau kau yang memenangkannya maka aku akan melepaskan orang yang kau cintai itu dan membiarkan dia untuk mengantarkan kedua anaknya ke tempat yang seharusnya. Tapi … kalau kau kalah, maka kau hanya bisa menjadi penonton.”

“Jadi kau budak iblis itu ? Dunia ini sangat sempit ternyata.”

“Siapa yang mengatakan padamu kalau aku adalah budak ? Justru aku yang akan menciptakan dunia baru, di sini !”

“Kau tidak waras, Taeyang !” Geram Jiyong yang kali ini sudah di lepaskan dari genggaman Chaerin. “Jika kau ingin bertarung, maka akan aku lakukan dengan senang hati.”

***

Jiyong menghapus kasar darah yang keluar dari sudut bibirnya yang terobek hanya dengan sekali pukulan dari Taeyang. Pria itu masih mencoba berdiri sambil melirik kearah Sandara yang masih tidak sadarkan diri dengan tetesan darah yang masih keluat setetes demi setetes. Jiyong kembali mengingat kalau dia hanya melepaskan jiwanya, jadi jika apapun yang terjadi di dunia ini selama iblis tertinggi tidak mengetahui keberadaannya dan dia tidak melukai dirinya sendiri, Jiyong masih bisa kembali ke dunia nyata tanpa secuil luka sedikitpun. Hanya dengan mengingat itu, Jiyong kembali bertekat dan berdiri tegak lalu berlari dengan membenturkan kepalanya kearah perut Taeyang.

“Waw~ seperti anak kecil ternyata,” sindir Taeyang seperti tidak merasakan benturan kepala dari Jiyong pada perutnya maupun hantaman keras pada pipi Taeyang yang bahkan serasa hanya sentuhan kecil untuk Taeyang.

“Sekarang bagianku ?” Kata Taeyang sebelum menahan pukulan Jiyong dan mendorong Jiyong hanya dengan sekali dorongan kecil hingga berhasil membuat bekas pada dinding akibat benturan tubuh Jiyong.

“Aku masih memiliki pertanyaan untukmu, tapi seperti aku sudah bisa menyimpulkan bahwa kau sedang melepas jiwamu bukan ?” Taeyang berkata santai dengan kembali memakai pakaiannya dan mulai berjalan menghampiri kotak yang bisa menciptakan dunia baru itu. Sebentar lagi, pikirnya.

“Bukankah kau saudara Sandara ?” Jiyong berkata dengan lemah. Pria itu masih terkapar lemas tanpa tenaga sedikitpun dan sedikit merasakan tubuhnya yang remuk setelah pertarungan singkatnya bersama Taeyang.

“Nde ?” Taeyang berbalik yang kemudian mendecak lidah dengan sebal jika harus mengingat Sandara. “Kau mengingatku, Kwon ?” tanyanya lebih lanjut.

“Ya … Dara banyak bercerita tentang dirinya yang lebih memilih meninggalkanmu di bandingkan aku.” Balas Jiyong dengan senyum mengejek. Pria itu melihat Taeyang yang mulai masuk dalam perangkapnya.

“Sebentar lagi … kau harus membalas semua tindakan yang kau berikan pada Dara !” sambung Jiyong sembari mengambil serpihan kaca yang berada di lantai dan mulai menyayat tepat pada nadinya.

“A–apa yang manusia bodoh itu lakukan, Tuan ?!”

“Apa dia akan bunuh diri ?”

“Mungkinkah dia akan memanggil iblis tertinggi untuk menghentikan Tuan ?”

“Tuan harus mempercepat ritual ini sebelum mereka mencium tindakan Tuan !”

Keempat iblis itu langsung merubah wujudnya dan mulai bekerja sesuai perintah Taeyang sebelumnya. Iblis mata merah menyala dengan tanduk di kepala bersama wajah tua dengan cucuran darah mulai memakai jubah merah gelap besama dengan ketiga teman iblisnya yang sudah berubah wujud menjadi bentuk awal memakai jubah berwarna sama sambil memegang benda dengan pahatan kayu juga mata berlian pada ujung atasnya.

Lingkaran setan yang mereka buat hampir terisi penuh oleh tetes darah Sandara. Taeyang langsung menyimpan kotak dengan pahatan tulisan Yunani itu di dalam lingkaran setan dan menghampiri kedua anak istimewa yang terkurung dengan mantra yang Taeyang buat. Belati perak mulai di acungkan dengan gagah oleh Taeyang. Pria itu sangat siap untuk menikam kedua anak istimewa dengan belati iblisnya. Purnama sudah sempurna dan lingkaran setan sudah hampir di sempurnakan dengan darah Sandara.

“Bersiaplah kedua keponakanku !” geram Taeyang yang semakin mempererat genggamannya pada belati perak itu.

Kedua anak istimewa itu hanya diam dengan mata memelas kearah Taeyang. Soo Hye dan Soo Ra sedari tadi terkulai dengan lemas karena energi Sandara yang sudah tidak dapat mereka terima karena selama mereka berada di dunia cermin antara kedua sisi ini hanya energi Sandaralah yang mampu membuat mereka bergerak sesuka hati.

BUM !

Angin ribut kembali datang bersama kabut tebal yang membutakan penglihatan Taeyang. Pria itu masih meraba keadaan sekitar karena jaraknya dengan kedua anak istimewa itu sangatlah dekat. Sayup-sayup pendengaran Taeyang mengangkap langkah besar yang menderak di dinding maupun lantai di ruangan itu, tidak lama berselang, cahaya bola api merah meyakinkan Taeyang kalau iblis tertinggi telah datang.

Pria itu masih berjongkok kelantai untuk meraba belatinya yang terpental dari genggamannya sendiri. Taeyang berusaha menyesuaikan pandangan matanya tapi tebalnya kabut sangat menyulitkan penglihatannya.

SREK

Suara robekan kertas mendengung di telinga Taeyang tapi dia sangat tahu kalau itu bukanlah sobekan kertas melainkan sobekan daging tubuh salah satu anak buahnya yang dapat di tangkap oleh iblis tertinggi layaknya mencari perburuan liar di tengah hutan.

SREK

Lagi-lagi suara itu kembali mendengung pada gendang telinga Taeyang hingga menjadikan dia merasakan sakit kepala seketika. Dengan sedikit panik, Taeyang merayap di lantai untuk mendapatkan kembali belatinya. Langkahnya sebenarnya hanya sebentar lagi, namun karena tindakan bodoh Jiyong yang memutuskan nadinya hingga mungkin dia bisa berkomunikasi dengan neraka terlebih memberi informasi pengkhianatan yang di lakukan Taeyang kepada iblis tertinggi.

Semua manusia yang menghabiskan nyawanya dengan bunuh diri, tentu dia akan mencicipi neraka, sama halnya dengan Jiyong.

SREK

Di selingi dengan suara raungan pahit semakin menjadikan telinga Taeyang sejenak tuli tanpa mampu mendengar hal lain, pandangan yang tertangkap dari kedua manik matanya semakin berputar layaknya pusaran dimensi yang beberapa tahun lalu sempat dia lalui sebelum akhirnya menjadi penghuni dunia di antara dua sisi cermin.

SREK

Taeyang yakin keempat anak buahnya telah direngut ajal oleh iblis tertinggi yang menghunuskan tongkat dengan tiga runcingan tepat pada jantung mati mereka, menggoyangkan secara perlahan dan mulai merobek hingga kulit juga darah hitam tercium amis yang menandakan pemusnahan iblis menuju neraka hingga kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

“Kau mengkhianatku ! Lebih baik aku mengagalkan rencanmu ini di bandingkan jika harus bersujud pada budak sepertimu !” kata-kata terakhir dari iblis tertinggi itu terdengar murka kemudian di ikuti suara lolongan serigala dan menikam Taeyang langsung pada jantung pria itu. Berbeda dengan keempat iblis yang lebih dahulu di temukan oleh iblis tertinggi, Taeyang justru menjelma menjadi iblis seutuhnya –tahan awal menjadi iblis sebelum mendekam kekal di neraka.

Raga Taeyang sudah mulai di tarik paksa menuju sebuah portal masuk dimensi lain –penentu antara surga maupun neraka. Hal pertama yang tertangkap oleh indera penglihatannya adalah bau tengik yang membuatnya ingin menghilangkan indera penciumannya di detik itu juga terlebih hawa panas layaknya matahari berada hanya beberapa jengkal di atas kepalanya –itu adalah neraka, tempat yang akan di huninya kelak. Setelah raga Taeyang melayang melewati tempat tadi, heharuman bunga musim semi dengan cuaca menyejukkan dan yang di lihat disini sangat berbeda dari di dunia nyata –ini adalah surga, tempat yang berisi seluruh kenikmatan lebih di bandingkan alam semesta.

“Jiyong ?” Tanya Taeyang dengan berbisik. Matanya masih menatap lekat pada seseorang yang berdiri di altar surga dengan air mancur susu putih yang terlihat nikmat.

“Ini sangat tidak adil !” geramnya saat tahu bahwa Jiyong mungkin di berikan kenikmatan walau pria itu menghabiskan nyawanya dengan bunuh diri, tapi Jiyong melakukan itu untuk menyelamatkan nyawa oranglain, nyawa seluruh orang di alam semesta. Jiyong mendapatkan kemurahan–Nya.

Lengan panjang elastia yang di peroleh Taeyang setelah menjadi iblis mulai dia gunakan untuk menarik Jiyong bersamanya, kembali ke alam semesta. Jika Taeyang kelak harus kekal berada di neraka, maka Jiyong juga harus mencicipinya dan Taeyang sangat tidak menerima jika Jiyong bisa merasakan kenikmatan surga, karena hingga detik ini, Taeyang menganggap bahwa Jiyong masih si brengsek yang sama.

***

Sandara membuka kedua matanya dengan perlahan. Kegelapan tanpa seberkas sinar langsung menjadi hal pertama yang dia lihat. Kepalanya masih sedikit berdenyut saat Sandara mencoba terduduk dan mulai melihat kembali bekas kekacauan juga bekas sayatan pada pergelangan tangannya yang sudah tidak keluar tetesan darah.

“Eomma … Eomma bangunlah, bawa kami ke tempat seharusnya.” Sebuah suara gadis kecil yang mengguncang tubuh Sandara langsung membuat gadis itu tersadar dan dengan seluruh tenaga yang masih dia punya, Sandara mulai berdiri walaupun di saat itu juga dia merasakan hantaman batu besar pada kepalanya.

Sandara berlari dengan menarik lengan Soo Hye dan Soo Ra tanpa tentu arah. Sejenak dia melirik kanan dan kiri untuk mencari letak menuju cermin sisi kebenaran seperti yang diamanatkan oleh sebuah suara yang di dengar saat Sandara baru datang di tempat ini.

“Dimana ? Ke kanan atau ke kiri ?” Tanya Sandara ragu pada dirinya sendiri.

Purnama sudah setengah menghilang di langit gelap dan berarti waktu Sandara hanya sebentar lagi untuk menyelesaikan tugasnya.

“Eomma … bukankah tempat ini sudah kita lewati tadi ?”

Sandara hanya diam tidak menjawab. Saat ini, dia tengah berpikir dengan beribu kemungkinan yang terjadi pada dunia di antara dua sisi cermin ini. Bukankah mereka berada di antara dua sisi itu ? Jadi seberapa lama mereka berlari, tentu yang di dapat hanya satu titik hingga mereka melewati tempat yang sama secara terus menerus. Melihat bangunan yang sama, mungkin ini hanyalah rekayasa dari pantulan cermin dan Sandara hanya bisa memilih antara kanan maupun kiri.

“Kalian tolong teliti di bagian kanan sana, dimana yang terdapat pusaran, mungkin itu adalah portal masuk ke cermin dunia sisi kebenaran.” Kata Sandara sembari mengecup dahi kedua anaknya dan tak lama berselang air matanya mengalir cukup deras.

“Bagaimana dengan eomma ?” Tanya Soo Hye yang memeluk erat tubuh Sandara.

“Bagaimana kalau eomma kehabisan waktu dan tidak dapat kembali lagi ke dunia ?” lanjut Soo Ra dengan menangis namun enggap memperlihatkan rasa gelisahnya secara langsung pada Sandara.

“Eomma akan membantu kalian mencari pada sisi kiri dan eomm akan menunggu hingga kalian bisa menemukan portal itu,” tutur Sandara sembari mengusap lembut rambut panjang kedua anaknya yang sangat jelita.

Mata yang di lihat Sandara dari kedua anaknya tidak sama sekali mengartikan kekecewaan karena telah menyia-nyiakan kehadiran mereka yang sempat merasakan rahim Sandara. Mata coklat yang Sandara lihat terus menatapnya dengan rindu dan teduh hingga membuat hati Sandara bergetar sampai air matanya mengalir dengan deras pada kulit mulus itu. Jika waktu masih bisa di putar, Sandara sangat tidak akan membiarkan keinginan manusianya demi cinta pada Kwon Jiyong melepaskan janin itu. Janin yang kelak akan menciptakan kedua anak jelita di depan matanya ini.

“Cepatlah, waktu kita tidak banyak.” Tutur Sandara dengan lembut seraya menghapus asal cairan matanya yang masih mengalir.

Sandara mulai berlari kearah sisi kiri dan menyelisik tiap sisi tempat itu, namun dia masih tidak dapat menemukan pusaran yang merupakan pintu masuk.

“Eomma ! Kami menemukannya !” Teriak Soo Hye dengan sedikit bergetar karena tidak dapat menyembunyikan kesedihannya jika harus meninggalkan eommanya.

“Cepatlah kalian masuk !” Teriak Sandara menggema dengan terus berlari menghampiri kedua anaknya untuk setidaknya kembali memberikan ciuman perpisahan maupun pekukan hangat.

“Eomma !” Soo Ra yang baru akan merentangkan tangannya agar terhisap ke dalam portal itu terpekik dan berusaha membantu Sandara yang terjatuh di aspal.

“Pergilah ! Eomma baik-baik saja !” balas Sandara dan mulai berdiri walau dia merasakan lelah yang mendera juga kepala yang pusing karena darahnya yang sudah berkurang saat itu.

Setelah Soo Ra mulai mengikuti jejak Soo Hye yang terlebih dahulu masuk ke dalam portal, Sandara bisa bernapas lega dan tersenyum dengan tenang. Tak lama berselang, Sandara sudah merasakan napasnya tersenggal dan dingin di sekujur tubuhnya, gadis itu sudah tidak mampu berdiri dengan bantuan lutut yang bergetar. Keringat dingin menjalar di keningnya hingga akhirnya kesadarannya hilang dan dia terjatuh di atas aspal sebelum Sandara berhasil menemukan portal masuk yang sama untuk membawanya kembali ke dunia nyata.

-End-

Saya mohon untuk kalian bisa bersabar kapan saya akan post epilog ini.
Dan ngomong-ngomong anti-mainstream banget yah tiap kali saya punya ff ceritanya aneh -_-
Oh iya … Masya Allah, saya ingatkan lagi kalau ini fantasi ! Jadi ini cuma hayalan saya ! Jangan ngelakuin tindakan kayak Jiyong yah, apalagi buat pacar sendiri *plak* salah fokus.

<<back 

Advertisements

71 thoughts on “The Darkness of Tokyo [Part 5-End] : New World

  1. Pertarungan yang benar2 sengit dan menegangkan,,
    Jiyong udah ada ditempat yang indah karena udah mengorbankan nyawanya demi umat manusia.
    Itu gimana sama dara???
    Semoga jiyong dan dara bisa bertemu dan bersatu kembali

  2. Mwoya! Ji yong oppa engga beneran meninggalkan, ji yong oppa pasti selamat aku yakin itu…terus taeyang oppa sebenarnya aku kasian sama dia, tapi mau bagaimana lagi dia sudah memilih jalan itu yang seharusnya tidak dia pilih..

  3. baca.a tegang bgt .
    bae oppa kejam pisan …
    tu nasib dara unie gmna ???
    bisa balik lagi k.dunia nyata gga ?/?
    trus tu ji ppa gga mati benran kn ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s