[Series] My Everlasting Winter – Part 2

image

Script writer by : ElsaJung

Tittle : My Everlasting Winter

Duration : Series/Chaptered

Rating : PG-13+ (Teen)

Genre : Slice of Life, AU, Drama, Angst, Fantasy

Bab 2

“She is Me?”

“Tidak! Semua ini tidak mungkin!! Aku tak bisa menerimanya!” Dara berteriak

Tubuh Dara melemas saat ia melihat wajahnya telah berubah. Daya tahan persendiannya melemah, sehingga dia tidak dapat berdiri dengan baik. Dara hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada dinding yang berada lebih dekat darinya. Bayangan tubuh yang saat ini berhadapan dengannya adalah bayang-bayang tubuhnya sendiri. Bibir itu tampak berbeda, rambut, hidung, bahkan tubuh, semuanya berbeda. Tapi, sama seperti yang telah diucapkan Seunghyun sebelum Dara terbangun dari tidurnya, ia masih memiliki sepasang mata yang tetap berada dipihaknya. Sebenarnya, mata itu berfungsi mempermudah pencarian Dara. Mata itu hanya akan memperlihatkan sesuatu yang benar. Ada satu hal lain yang tak pernah Dara ketahui, yaitu seseorang yang sangat menyayanginya pasti mengingat sepasang mata itu.

Pandangan Dara perlahan menjadi kabur. Dara menyipitkan matanya agar dapat melihat makhluk yang berdiri di samping bayangannya. Dia benar-benar tidak tahu, makhluk apa itu. Apakah sesosok monster, atau malaikat lain yang berpenampilan lebih menyeramkan dari Seunghyun. Pakaian hitam yang dikenakan makhluk itu sama seperti milik Seunghyun dihari pertama Dara bertemu dengannya. Makhluk itu terlihat baik karena dia tersenyum ramah, bukan menyeringai. Meskipun tatapan matanya sangat tajam bak laser, namun Dara masih bisa melihat kedamaian yang tersembunyi di sana.

“Dara, aku Seunghyun.” Bayangan itu berbicara saat tubuhnya mulai tampak jelas.

“Akhirnya kau datang. Aku membutuhkanmu.” Dara menatap Seunghyun dengan pandangan yang berkaca-kaca. Ia segera melihat ke arah samping kanan dan kirinya secara bergantian. Tapi, Dara tidak menemukan satu orangpun berdiri di sampingnya. Lalu, apakah bayangan itu tipuan matanya saja? Atau Dara hanya berhalusinasi jika ia dapat melihat Seunghyun? Semua ini nyata.

“Kau tidak berhalusinasi, dan aku juga tidak berdiri di sampingmu. Aku berada di alamku sendiri. Sudah jelas bukan? Wujudku masih tampak menyeramkan. Aku tahu kau membutuhkanku. Lalu, apa kau ingin menanyakan beberapa hal yang belum kau mengerti? Atau kau ingin menyerah sekarang?” Tanya Seunghyun menyunggingkan senyumnya sembari menyentuh bahu bayangan Dara. Meskipun begitu, Dara dapat merasakan sensasi dinginnya tangan malaikat maut tampan itu.

“Untuk apa kau membiarkanku hidup? Bukankah mereka semua tahu jika aku sudah meninggal?”

Seunghyun tersenyum, “Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu.” Ia menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya yang sempat terhentikan. “Kau akan menemukan jawaban itu di tempat yang tak jauh dari café ini. Tempat itu adalah Sungai Cheonggyeche. Aku tidak bisa membantu lebih banyak. Lakukan yang terbaik jika kau ingin kehidupan nyatamu kembali. Jangan pernah menyerah.”

Bayangan tubuh Seunghyun sedikit demi sedikit menghilang. Dara berusaha memanggil-manggil nama Seunghyun karena ada beberapa hal yang masih menjadi teka-teki baginya. Ia menggapai-gapai bayangan yang mulai memudar dari hadapannya sembari terus memanggil nama pemilik bayangan itu. Dara sangat menyesal. Ia menyesal karena tidak menanyakan lebih banyak hal-hal yang berhubungan dengan hidup keduanya. Kesempatannya bertemu dengan Seunghyun telah terbuang sia-sia.

Waktu akan terus berjalan. Tiga hari sudah pencarian itu dimulai. Tapi, Dara belum menemukan satupun petunjuk pasti yang membuat semua bisa berjalan dengan lancar. Terlebih pikirannya menjadi semakin hancur karena bertemu dengan Jiyong. Wajah, kenangan dan hal lain yang ada dalam diri Jiyong mampu merubah segalanya, mampu membuat semangat hidup Dara menurun. Sekarang, Dara hanya bisa mengikuti kata hatinya, ia harus mendatangi tempat itu, Sungai Cheonggyeche.

Dara duduk di tepi sungai sembari menekuk kedua kakinya. Ia mencelupkan salah satu tangannya ke dalam air sungai yang sangat dingin karena sebagian dari air itu telah berubah menjadi es. Bayang-bayang wajah Dara muncul di permukaan air sungai. Ia menjetikkan jarinya dan bayangan itu mulai kabur. Dara melakukan hal yang sama berkali-kali. Sebanyak apapun aku menjentikkan jariku, wajah dan bagian-bagian tubuhku yang lain tak akan bisa berubah seperti dulu lagi.

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Dara. Sedangkan tetesan lainnya jatuh mengenai air sungai. Hawa dingin yang menusuk kulit dan mengendorkan sendi berhembus secara tiba-tiba. Awan hitam nan kelam menyelimuti langit-langit Kota Seoul, terutama kawasan sungai buatan itu. Banyak orang yang meninggalkan sungai karena mereka berpikir jika badai salju akan segera turun. Dan benar saja, kepingan-kepingan salju mulai turun sedikit demi sedikit. Namun, Dara tidak berpindah satu incipun dari tempatnya. Setidaknya, salju-salju ini akan menutupi wajah Dara dari tangisnya.

“Jung Hye Ji, apa itu kau?” seseorang mendekat sembari menepuk pundak Dara.

Satu-satunya orang yang mengenal Dara dengan nama Jung Hye Ji adalah Jiyong.

“Aku? Jung Hye Ji? Sejak kapan?” Dara berkata seolah-olah menanyakan inisial namanya sendiri.

“Ya, kau Jung Hye Ji. Kita bertemu kemarin lusa. Aku tak pernah berharap kau melupakanku.”

Jiyong menundukkan badannya, kemudian duduk di samping Dara. Pandangan matanya tertuju pada tangan kanan Dara yang masih berada di dalam air. Sebentar lagi, air itu akan semakin mengeras. Jiyong tidak tahu kenapa gadis yang duduk di sampingnya ini melakukan hal aneh layaknya anak kecil disaat cuaca sedang tak bersahabat. Jiyong berpikir jika ia harus segera menyelamatkan tangan Dara sebelum tangan itu membeku di dalam air sungai yang dingin. Sebuah pemikiran yang bagus.

Tapi, sebuah keanehan terjadi. Suhu tangan Dara sangat dingin, lebih dingin dari air yang sedang membeku. Jiyong juga merasa kesulitan saat menggerakan tangan itu untuk menjauh. Kali ini pandangan Jiyong berpindah menuju wajah Dara yang berubah menjadi pucat. Bibirnya yang merah berubah warna menjadi biru karena kedinginan. Air mata Dara menetes semakin deras saat Jiyong hendak menyentuh wajahnya. Seiring menetesnya air mata itu, salju-pun turun semakin deras.

“Hye Ji-ya, lebih baik kita duduk dan menghangatkan tubuh di café itu. Aku akan membelikanmu secangkir kopi hangat. Lihatlah, bibirmu membiru. Kau tampak seperti hantu yang bangkit dari kubur. Apalagi, dengan kulitmu yang sangat pucat. Aku tak mau orang-orang berpikiran sama sepertiku saat mereka melihatmu. Ayo, pergi sekarang!” Seru Jiyong menarik tangan Dara untuk segera beranjak.

Aku memang hantu dan kau tahu itu, ucap Dara dalam hatinya sembari menunduk lemah.

“Aku tidak ingin kopi. Aku hanya ingin duduk dan menunggu.” Jawab Dara datar.

“Ah, kau tidak ingin kopi. Sebenarnya, apa yang sedang kau lakukan? Udara disini sangat dingin.”

“Aku sudah mengatakannya padamu, GD. Aku hanya ingin duduk dan menunggu. Lagipula aku tidak merasakan udara dingin sedikitpun. Kau bisa melihatnya bukan? Apa tubuhku menggigil? Tidak, aku baik-baik saja. Jika aku kedinginan, pasti aku sudah pergi untuk menghangatkan tubuhku.” Dara memaksakan senyumnya. Ia tetap dalam posisi yang sama, yaitu duduk membelakangi Jiyong. Dara tak ingin Jiyong tahu jika dia sedang menangis sekarang. “Apakah ucapanku perlu?”

Jiyong melepas mantelnya dan meletakkan mantel itu di punggung Dara. Ia menyelimuti tubuh Dara dengan mantelnya. Jiyong berpikir, Dara berbohong saat mengatakan tidak merasakan dingin sedikitpun. Jadi, ia tak ingin melihat Dara kedinginan. Bukan hanya menyelimuti tubuh Dara dengan mantelnya, Jiyong juga mendekap tubuh mungil gadis itu dari belakang. Jiyong menyandarkan kepalanya dibahu Dara. Nafas hangat Jiyong membuat Dara menoleh dan menatap wajahnya nanar.

“Ji, aku tak memerlukan jaket ini, seharusnya kau yang-”

Jiyong meletakkan jari telunjuk di bibir Dara. “Aku baik-baik saja selama kau tidak kedinginan.”

Pandangan Dara hanya mengarah pada wajah Jiyong. Mata indah yang memiliki sinar menyejukkan. Bibir merah merona yang mengagumkan. Senyuman indah yang menawan. Rambut hitam yang selalu berkilau saat Dara melihatnya. Terakhir, kulit putih dan bersih yang memancarkan sinar. Cukup, Dara tak tahan lagi. Laki-laki ini telah membuatnya gila. Perlahan, tangan Dara bergerak menyetuh pipi Jiyong. Diusapnya sebelah pipi itu. Jiyong membalas tatapan mata Dara.

Dara membalikkan badannya, segera mendekap tubuh Jiyong erat-erat. Ia terdiam. Seharusnya ia melawan dan melepas pelukan Dara. Tapi ia terlalu lemah untuk melakukan tindakan itu. Energi yang ada dalam tubuhnya seakan diserap oleh Dara. Pikirannya tak terkendali sehingga Jiyong tak menyadari jika kedua tangannya mulai membalas pelukan Dara. Sedangkan Dara, ia hanya menunduk, sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Jiyong. Jujur, pelukan hangat ini sangat dirindu-kan oleh Dara.

Jiyong mengusap air mata yang menetes di pipi Dara. Dilihat mata yang memerah itu. Dilihat bibir tipis yang gemetar itu. Dilihat hidung mancung yang menawan itu. Diusap juga rambut coklat berkilau itu. Jiyong ingin melepas pelukan Dara, tapi sayangnya dia tak bisa melakukan hal itu. Ia hanya ingin membiarkan waktu berlalu, membiarkan hatinya hanyut dalam pelukan Dara. Dara pun juga melakukan hal yang sama. Ia tak akan melepas pelukan itu meskipun hanya satu inci.

Ah, andai saya jika Dara hidup dengan tubuh yang sama, ia pasti akan memeluk Jiyong kapan pun. Sayangnya, hal itu tak akan terjadi lagi. Jiyong tidak tahu bahwa gadis yang ada dipelukannya adalah Dara. Ya, sandiwara ini memang terasa menyakitkan setiap Dara mengingatnya. Kapan jawaban dari penderitaan yang baru berawal tersebut datang? Apakah Seunghyun meminta Dara datang ke sungai hanya untuk melihat gadis itu menangis? Jika tidak, lantas apa?

Ya, Jiyong sepenuhnya tahu, ini bukan kali pertama memeluk seseorang yang dikenalnya bernama Hye Ji. Ia selalu merasa nyaman saat merasakan detak jantung dan menghirup aroma manis gadis tersebut, seakan-akan mereka sudah lama mengenal. Terakhir, Jiyong merasakan pelukan yang sama dua tahun lalu. Tapi, setahunya, seseorang yang dipeluknya adalah kekasihnya, Sandara.

Laki-laki bernama Kwon Jiyong itu kembali mengusap rambut Dara lembut.

“Hal apa yang membuatmu menangis? Aku melihatmu menitikkan air mata saat kau menatapku.”

“Aku merindukan seseorang yang sangat kusayangi. Kurasa, dia lupa padaku. Kenapa?”

“Beberapa hari yang lalu saudara kembar kekasihku yang bernama Park Bom telah meninggal. Dia mengalami kecelakaan tragis. Kejadian itu terjadi saat aku dalam perjalanan pulang dari USA menuju Seoul. Kondisi wajahnya sangat menyeramkan dan tubuhnya tidak berbentuk layaknya manusia pada umumnya. Entah mengapa pada saat menatapnya, tiba-tiba air mataku bercucuran dan aku tidak dapat berhenti menangis satu hari penuh. Tapi, kekasihku Dara selalu berusaha menenangkanku.” Jelas Jiyong memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Ia tersenyum lemah saat melihat Dara.

“Sandara, kekasihmu? Kau berpikir jika seseorang yang meninggal adalah Park Bom?” Dara tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Jiyong. Bukankah semua orang tahu jika seseorang yang telah meninggal adalah dirinya, bukan saudara kembarnya yang bernama Park Bom. Kenapa Jiyong mengatakan hal itu? Apakah ada suatu kesalahpahaman yang terjadi setelah Dara meninggal?

“Ya, aku yakin Bom-lah yang meninggal. Orang-orang juga mengatakan hal yang sama. Bahkan, seluruh anggota Keluarga Park juga memiliki keyakinan yang sama denganku. Jika seseorang memintaku untuk memilih, siapa yang meninggal terlebih dahulu, Dara atau Bom, aku tak akan membiarkan Dara meninggal. Semua akan baik-baik saja karena aku tidak begitu dekat dengan Bom.”

“Jadi begitu. Mereka semua yakin jika saudara kembar kekasihmu-lah yang meninggal. Park Bom.”

“Ah!” Teji tersentak membuat Dara terkejut. “Aku harus pergi sekarang, Dara pasti menungguku. Aku sudah berjanji padanya untuk segera pulang. Dia pasti marah jika aku tidak menepati janji. Aku sangat mengenalnya. Jika kemarahan Dara sudah terpancing, dia tak akan memaafkanku. Besok pagi, tepatnya jam 10, tunggu aku di café itu, kau mengerti? Aku akan memperkenalkanmu pada Dara.”

“Baiklah, aku pasti datang. Aku akan datang lebih awal.” Sahut Dara memaksakan senyumnya.

“Baiklah, aku pergi. Kau pasti akan terkejut saat melihat Dara karena dia tak kalah cantik darimu.”

Dara melepas pelukan tangannya yang melingkar di pinggang Jiyong. Berat memang, namun Dara harus melakukannya meskipu dengan setengah hati. Setelah Dara benar-benar telah melepaskan pelukannya, Jiyong segera berdiri bangkit dan berjalan menjauh meninggalkan Dara. Ia sempat berbalik dan kembali memperlihatkan senyuman cerianya. Dara membalas senyuman itu, tapi dalam hatinya ia menangis. Dara tahu jawabannya-Bom berpura-pura menjadi dirinya.

Untuk kalimat yang baru saja dikatakan Jiyong bahwa Dara akan terkejut saat melihat Bom-tentu saja Dara terkejut. Bukan karena Bom memiliki wajah yang sangat cantik, tapi karena gadis itu telah berpura-pura menjadi dirinya. Bahkan, tak sedikit pun angan-angan Dara dapat menggapai bayangan ketika Bom dan Jiyong bersama-sama. Melakukan segala hal bersama, berbagi kebahagiaan dan hal lain yang biasa dilakukan Dara bersama kekasihnya tersebut. Ia tidak iri. Namun, bagaimana mungkin Dara menerima kenyataan bahwa Bom bahagia dengan berpura-pura menjadi dirinya disaat ia benar-benar dalam titik rendah.

Air matanya telah menghilang, langit-pun kembali cerah. Tidak ada lagi awan hitam, tidak ada lagi salju yang turun, dan tidak ada lagi angin dingin yang bertiup. Air sungai yang sebelumnya membeku kini telah berubah menjadi semula. Matahari kembali terlihat, sinarnya memang tak seterang pagi tadi, tapi setidaknya ada sedikit cahaya yang keluar dari sana. Sekarang, yang tersisa hanya gundukan salju yang perlahan-lahan mencair. Orang-orang kembali memulai aktivitasnya.

***

“Dee!!” panggil Jiyong mengetuk-ketuk pintu kamar Bom. Tak ada jawaban dari dalam, “Dara!”

“Uh, kenapa?” tanya Bom keluar dari dalam kamarnya. “Kau ingin kubuatkan sarapan?”

“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu untuk pergi ke café yang terletak tak jauh dari Sungai buatan itu, tempat yang sering kita datangi dua tahun lalu. Kau mengingatnya? Ada seorang teman yang ingin kupertemukan denganmu. Bersiaplah. Kutunggu lima belas menit lagi. Setelah itu, kita berangkat. Dia berkata akan datang lebih awal. Aku tak ingin dia menunggu lama.” Seru Jiyong mendorong tubuh Bom agar kembali masuk ke dalam kamarnya. Seperti biasa, Jiyong memperlihatkan senyumnya.

“Oke.” Seru Bom memberi hormat saat hendak menutup pintu.

Jiyong melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Satu, dua, tiga, empat, lima dan seterusnya. Ia hanya bisa memikirkan satu nama disetiap melewati satu anak tangga. Hye Ji dan Hye Ji. Jiyong sendiri tak tahu kenapa otaknya serasa dipenuhi oleh nama gadis yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu itu. Jiyong mendaratkan tubuhnya di sofa, ia menatap pintu kamar Bom, kemudian tampak mengulum senyum.

Sebuah suara terdengar. Suara seorang perempuan yang sedang memanggil-manggil nama Jiyong. Ia segera bangkit dari sofa saat melihat Bom sudah berdiri tegak di hadapannya. Bom mengenakan jeans hitam dengan kaos panjang berwarna pink muda dan jaket bulu berwarna coklat. Bagian bawah, Bom menambahkan hiasan dengan sepatu boots coklatnya. Jiyong sepenuhnya tahu jika saat ini musim dingin melanda Korea Selatan. Namun Jiyong tak terbiasa melihat kekasihnya bepergian dengan gaya berpakaian seperti yang dikenakan Bom saat ini. Dara selalu memakai baju setelan one picies, sweater, atau kemeja dengan lengan ¾. Jika untuk celana, Dara juga selalu tampak feminim. Ia selalu mengenakan rok yang mengembang seperti bunga.

Jiyong memiringkan kepalanya. Setelah dua tahun berlalu, baru kali ini Jiyong mengajak kekasihnya pergi keluar rumah. “Dara, sejak kapan kau mulai memakai celana jeans panjang? Yang kutahu, kau selalu memakai baju setelan, kemeja, atau sweater. Tidakkah ini terlihat aneh? Apa penglihatanku mulai terganggu? Ah, atau aku hanya belum terbiasa dengan style baru kekasihku ini?” Jiyong mencubit pipi Bom gemas, kemudian menciumnya singkat. “Aku terlalu bodoh untuk itu. Bagaimanapun juga, kau kekasihku.”

“Ah, benar. Saat kau pergi, Bom memberitahuku beberapa gaya berpakaian yang sedang menjadi trend di Seoul. Maka dari itu aku ingin memperlihatkannya padamu sekarang. Ini tidak terlalu buruk untukku bukan? Setidaknya, aku bisa menjadi seorang Sandara dan Bom disaat yang bersamaan. Aku hanya tidak ingin melihat semua orang bersedih, oleh karena itu biarkan mereka menganggapku sebagai Bom. Kau mengerti, kenapa aku merubah gaya pakaianku?” Bom mengembangkan senyum.

“Kau gadis yang baik.” Jiyong menyatukan keningnya dengan kening Bom sembari terkekeh geli.

Hati Bom berusaha menjerit bahwa ia bukanlah Dara. Semua orang mengira Bom meninggal dan percaya bukan Dara yang kehilangan nyawa. Bom memang sengaja memalsukan kematian Dara. Satu alasan, Bom ingin merasakan kebahagiaan yang belum pernah didapatnya seumur hidup. Dara adalah gadis yang baik, orang-orang menyukainya. Dara memiliki Jiyong-laki-laki tampan yang sempurna. Bahkan, gadis itu juga merenggut kasih sayang ayah dan ibu mereka yang seharusnya didapatkan Bom juga. Tak ada secuil pun kebahagiaan untuknya. Oleh karena itu, ia menyingkirkan Dara.

Bom dan Sandara, mereka berdua memang saudara kembar. Dara keluar dari rahim Ibunya setelah sepuluh menit Bom dilahirkan. Hubungan persaudaraan mereka berdua tidak sebaik hubungan persaudaraan pasangan kembar lainnya. Bom dan Dara tak pernah hidup bersama sejak hari pertama mereka dilahirkan. Dara hidup dengan kedua orangtuanya. Semua benda, semua hal yang diinginkan Dara selalu dapat terpenuhi. Semua orang menyayanginya dan menganggapnya sebagai ratu. Mereka semua akan tersenyum saat Dara datang dan menyapa mereka. Dara selalu merasakan kebahagiaan.

Berbeda dengan Dara, sejak kecil Bom hidup bersama kedua kakek dan neneknya yang tinggal di luar negeri. Mereka sangat sibuk. Perhatian mereka selalu terarah pada perusahaan. Tidak ada satupun orang yang mengurus Bom. Jika ia lapar, ia akan berbelanja dan memasak makanan itu sendiri. Jika mengantuk, ia akan tertidur dengan sendirinya, tidur tanpa diiringi dengan pelukan dan kata-kata yang membuatnya merasa tenang. Umur Bom mencapai dua puluh tahun, tapi ia belum pernah merasakan kebahagiaan yang membuatnya benar-benar bahagia.

Sekarang, Dara telah pergi. Jadi, Bom bisa merebut seluruh kebahagiaan itu dengan sangat mudah. Bom telah mendapatkan hal yang diinginkannya. Ia berhasil mendapatkan kebahagiaan, kasih sayang, dan perhatian yang tak ternilai. Bom juga mendapatkan Jiyong-kekasih saudara kembarnya. Ia menyukai Jiyong sejak beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, Dara tak pernah mengetahuinnya. Bom tahu, semua perbuatan yang dilakukannya saat ini pasti akan diketahui oleh banyak orang. Tapi, mereka semua tidak akan mengetahuinya jika Bom tak melakukan hal-hal aneh yang membuat semua orang merasa curiga padanya. Sehingga rahasia itu bisa terbongkar dengan mudah.

“Hye Ji!!” Jiyong memanggil Dara yang sedang duduk manis di bangku café.

“Ah, Ji, kau datang? Aku sudah menunggumu selama..” Dara menghitung jarinya. “Satu jam.”

Bom berdehem sembari melirik Dara kesal, “Jadi ini temanmu? Dimana kalian bertemu?”

“Ya, dia bernama Jung Hye Ji. Aku bertemu dengannya di depan Gereja. Saat itu, Hye Ji hampir tertabrak mobil, dan secara tak sengaja aku menolongnya. Kami berteman baik sejak hari itu. Kuharap, kau bisa menganggapnya sebagai temanmu.” Ujar Jiyong memperkenalkan Dara pada Bom. “Dan gadis cantik yang sedang duduk di sampingku ini bernama Park Sandara. Kau pasti tahu itu.” Serunya.

“Tentu saja.” Balas Dara. “Aku memesan hot chocolate untukmu dan vanilla latte untuk Dara.”

“Lalu, kau sendiri? Apa perlu aku memesankannya untukmu? Atau kau menginginkan kopiku?”

“Aku tidak meminum kopi, maka dari itu aku menolaknya kemarin.”

Bom tak henti-hentinya memandangi sepasang bola mata Dara. Mata itu, Bom merasa jika gadis yang sedang duduk di hadapannya memiliki sepasang mata yang sama sepertinya. Bola mata hitam itu, Bom sangat mengenalnya. Perlahan, bayang-bayang Dara mulai memenuhi otaknya. Siapa lagi yang memiliki mata seperti itu jika bukan adiknya? Mereka berdua kembar. Jadi, tak ayal jika ada beberapa bagian dari tubuh mereka yang sama. Inilah alasan kenapa Seunghyun membiarkan mata itu tetap ada.

Dara juga melakukan hal yang sama. Ia menatap saudara kembarnya lekat-lekat. Ia ingin memeluk Bom, tapi Dara tidak bisa melakukan hal itu karena dia sedang menjadi Jung Hye Ji. Sekarang, Bom terlihat bahagia karena dia memiliki Jiyong. Sejak dulu, Dara tak pernah melihat senyuman tulus Bom. Jiyong dan Bom berdua saling menggoda satu sama lain. Dara hanya bisa memaksakan senyumnya saat melihat mereka tertawa bersama sampai-sampai tidak menganggapnya ada di sana. Sepertinya Bom berhasil membuat Jiyong nyaman bersamanya. Gadis itu memang sama persis seperti Dara.

“Dara, kenapa kau tak pernah menjawab jika aku memanggilmu ‘Dee’?” tanya Jiyong secara tiba-tiba membuat Dara menoleh dan hampir menjawab. Tapi Dara tersadar jika Jiyong memberikan kalimat pertanyaan itu untuk Bom, bukan dirinya. Dara memandang Bom sembari mengerutkan kening. Jiyong juga menatap Bom, menunggu jawaban yang akan didengarnya dari bibir gadis itu.

Mana mungkin Bom mengetahuinya? Panggilan itu hanya ditujukan Jiyong kepada Dara.

Bom gugup tak tahu harus bagaimana. Tangannya gemetar sampai-sampai ia menyenggol vanilla latte-nya hingga tumpah dan mengenai dress putih Dara. Vanilla latte itu masih panas, maka dari itu saat Dara menyingkap roknya, permukaan kulit pahanya memerah dan melepuh. Bom yang melihat Dara merintih kesakitan hanya bisa menjatuhkan rahangnya. Pertanyaan jebakan yang diberikan Jiyong membuatnya merasa bersalah. Bom tidak tahu, hal apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jiyong gugup segera memegangi bahu Eunji.

“Aku baik-baik saja. Aku bisa mengobatinya. Aku hanya perlu membasuhnya menggunakan air.”

“Jika kau membasuhnya dengan air, luka itu akan semakin melepuh. Haruskah kita ke dokter?”

“Dara, aku baik-baik saja. Luka ini akan segera hilang. Aku bisa mengobatinya sendiri.”

“Maaf, ini salahku.” Sahut Bom dengan raut wajah bersalahnya.

Eunji, Jiyong dan Bom kembali berbincang-bincang. Dara pun menutupi luka melepuh yang ada di pahanya dengan selembar tisu yang diberikan Bom. Tapi kali ini sedikit berbeda, Jiyong mulai mengabaikan Bom sehingga ia berbincang-bincang dengan Dara. Bom benar-benar kesal melihat hal memuakkan itu. Seharusnya, Jiyong hanya memberikan perhatiannya pada Bom, bukan kepada Dara, atau gadis lainnya. Meskipun begitu, Bom hanya bisa menerimanya karena dia sedang menjadi Dara. Seorang Dara yang selalu sabar dan tabah saat melihat segala hal yang membuatnya marah.

Bom mengerutkan kening membuat volume matanya mengecil. Ia hanya memandang ke satu arah, Dara. Siapa gadis itu dan apa hubungannya dengan Jiyong? Selain itu, pertanyaan lain mulai datang dan merajam otak Bom. Sepasang mata yang benar-benar seperti miliknya.

Lalu, terkait dengan kopi panas itu, Bom sengaja melakukan hal tersebut demi mengalihkan perhatian Jiyong agar tidak menunggu pertanyaan yang tak akan pernah dijawabnya.

“Jadi, rumahmu tak jauh dari sini sehingga kemarin aku bertemu denganmu di sungai itu?”

“Ya, rumahku ada di komplek perumahan dekat pertigaan. Tapi, aku tak ingin kau datang kesana.”

“Kenapa” tanya Jiyong heran memiringkan sebelah alisnya sembari menyeruput kopinya.

“Ibukuku tak begitu suka jika aku memiliki seorang teman laki-laki. Jika kau ingin menemuiku, kau bisa mendatangi sungai itu. Aku selalu berada di sana setiap waktu. Ketika kau memanggilku, aku akan segera datang. Jangan bertanya kenapa, karena kau tak akan mengerti saat aku menjelaskannya.” Dara mulai beranjak dari duduknya. Ia merapikan bawahan rok putihnya. “Aku harus segera pulang.” Sebelum Dara benar-benar pergi, Bom memulai sandiwaranya dengan mencegah kepergian gadis itu.

“Kenapa kau terlalu terburu-buru?” Bom menahan tangan Dara. “Kami masih ingin mengobrol.”

“Aku benar-benar tidak bisa, meskipun sebenarnya aku ingin. Maaf.”

Jujur bukan sesuatu yang bisa dilakukan saat ini. Sesungguhnya, Dara ingin duduk di sana untuk berbincang-bincang dengan Jiyong dan menatap wajah Bom. Ia merindukan sebuah tubuh yang sama. Namun, Dara tidak bisa melakukannya. Pemandangan saat ini terlalu menyakitkan baginya. Melihat sebuah kemesraan dan kebahagiaan layaknya drama. Akan lebih baik jika orang lain menggantikan-nya hidup bersama Jiyong. Tapi, tidak dengan Bom.

Dara berjalan keluar dari café. Langkahnya terlihat sangat berat karena ia tidak dapat merelakan Jiyong untuk menjadi milik saudaranya dan sangat berat karena kondisi kakinya yang saat ini melepuh. Ya, vanilla latte itu begitu panas, bahkan sangat panas sampai Dara tidak bisa berjalan baik. Ia kembali menengok, namun matanya tak menemukan apapun. Jarak antara tubuh Eunji dengan café itu sangatlah jauh. Ia berjalan cepat, semakin cepat menuju sebuah tempat dimana dia bisa memukan Seunghyun. Dara hanya menemui Seunghyun disaat pikirannya mulai merumit dan menjadi satu.

Gereja Yoido Full Gospel, Dara memilih tempat itu, tempat pertama ia berubah kembali menjadi seorang manusia, meskipun belum sempurnya. Dara mendaratkan tubuhnya di bangku berwana putih itu, kemudian ia mendongakkan kepalanya untuk melihat birunya langit. Dia yakin, wajah Seunghyun akan muncul di sana. Tapi beberapa menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan malaikat mautnya. Kemana Seunghyun? Apakah ia tidak mau membantu Dara lagi? Tapi, mengapa?

“Seunghyun-ah!! Dimana kau? Aku membutuhkanmu!!” teriak Dara ditengah sunyinya taman itu. Tidak ada jawaban, hanya ada satu suara yang terdengar, yaitu suara kicauan burung di sekitar Gereja. Dara masih menatap langit sembari meneriakkan kalimat-kalimat yang sama, tapi tidak ada jawaban. Tangannya menggenggap erat-erat kalung kehidupan berbentuk air mata yang melingkar di lehernya.

“Aku tahu. Dara, aku tidak ada di langit ataupun di atas awan. Aku duduk di sampingmu.”

Suara Seunghyun membuat Dara terkejut, “Seunghyun!” Dara segera menoleh.

“Selamat, kau telah menemukan jawaban yang kau inginkan.” Serunya tersenyum tipis.

“Aku ingin bertanya, kenapa Bom menginginkanku? Ada masalah apa dibalik itu semua?”

“Jangan menanyakan hal itu padaku. Dekati dia dan cari jawaban itu sendiri. Meskipun sangat sulit, tetap lakukan itu. Aku tahu, hatimu mungkin sakit. Semakin kau mendekat, kau akan semakin terluka, dan hatimu-pun akan tergores. Tahan rasa sakit itu. Akan ada lebih banyak lagi air mata yang menetes dihari-hari berikutnya. Akan ada lebih banyak dendam-dendam yang menekan dihari-hari berikutnya, dan pada akhirnya akan ada kebahagiaan-kebahagiaan yang datang suatu saat nanti. Cobaan-cobaan akan datang silih berganti, dan semua itu bisa menguji mentalmu. Jaga dirimu baik-baik.” Seunghyun mengusap rambut Dara lembut. Seunghyun memperlakukan Dara dengan penuh kasih sayang karena ia memiliki tanggung jawab yang besar akan hal itu. Dara adalah bagian dari dirinya yang berbeda.

Angin berhembus kencang, otaknya dipenuhi dengan warna hitam, air matanya mulai menggenang, dan pandangannya kosong. Ia hanya menatap hamparan rumput hijau dengan mata bulat nan lebarnya. Sebelah alisnya mengangat secara spontan saat ia mulai berpikir. Dara memiliki banyak angan-angan di dalam pikirannya. Ia mulai bertanya, kapan kalung itu akan segera terisi penuh? Pencarian itu baru dimulai selama empat hari. Tentu saja, setiap harinya akan ada kejadian-kejadian yang menyakitkan. Lalu, dengan hal yang baru diucapkan Eunrique, akan ada banyak air mata dan dendam dihari yang akan datang. Dara kembali menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Kenapa kebahagiaan selalu ada diakhir? Kenapa kebahagiaan tak pernah datang lebih dulu? Kenapa semuanya semakin rumit?

“Aku tahu, ini akan menjadi sangat sulit. Lalu, Kenapa salju selalu turun disaat aku menangis?”

“Aku sudah mengatakannya padamu, kau sangat istimewa. Tuhan menciptakanmu dengan banyak kelebihan yang tak pernah dimiliki oleh siapapun, bahkan diriku. Satu hal yang kau tanyakan padaku, mengapa disaat kau menangis, salju selalu turun.” Seunghyun menggantung kalimatnya. Ia tersenyum tipis sembari mengadapkan wajahnya pada Dara. “Disaat kau bersedih, aku akan bersedih. Dan, jika kau menangis, maka aku juga akan menangis. Sebenarnya, salju adalah tangisan para malaikat maut, tangisan kesedihan untuk para manusia yang meninggal. Namun, kini salju itu telah menjadi milikmu. Disaat kau menangis, maka aku dan langit biru itu akan ikut menangis. Jika kau bersedih, langit akan mendung, jika kau menangis dan menitikkan air mata, salju akan turun, lalu jika kau menangis dengan kesedihan yang amat sangat, salju akan turun disertai angin. Manusia menyebutnya badai.”

“Berarti, aku tak boleh menangis karena salju akan turun karenanya. Um, kapan kalung ini terisi?”

“Jika waktunya datang. Hal yang paling sulit adalah saat kau mencari air mata kedua. Orang itu tak pernah menitikkan setetes pun air matanya untukmu. Aku tidak tahu apakah kau bisa mendapatkannya atau tidak. Meskipun begitu, tetaplah berusaha. Tak bosan-bosannya aku mengucapkan hal ini. Jangan pernah menyerah. Waktuku untuk bertemu denganmu telah berakhir. Sekarang, aku harus pergi.”

Seperti biasa, Seunghyun beranjak dari duduknya. Ia terus berjalan dan berjalan. Langkahnya jauh, semakin jauh sampai Dara hampir tak bisa melihatnya. Bayangan tubuhnya benar-benar menghilang saat ada sebuah benda, lebih tepatnya gumpalan kabut hitam. Seunghyun masuk kedalamnya. Kabut hitam itu juga perlahan menghilang dan hilang. Semuanya kembali seperti semula. Dara termenung duduk seorang diri di taman Gereja. Ia sedang mencari-cari suatu cara, bagaimana dia bisa mendapat-kan setetes air mata dari orang yang berbeda. Mungkin hanya satu tetes, tapi untuk mendapatkannya, Dara tidak boleh mengungkap kematiannya. Semua ini tak semudah yang dipikirkannya.

“Tidak peduli sesulit apapun hal itu, sebanyak apapun air mata yang akan keluar nantinya, dan tak peduli semenderita apa aku setelah ini, aku tidak akan mempedulikan semua itu. Aku akan mengambil sesuatu yang memang seharusnya menjadi milikku. Kehidupanku, seorang Sandara tetaplah menjadi seorang Sandara yang sama. Entah sudah meninggal atau belum. Aku akan mempertahankan semua itu dengan caraku sendiri, meskipun aku belum terlalu memikirkannya. Aku harus berusaha.”

 

 

 



 TBC

next >>



Advertisements

14 thoughts on “[Series] My Everlasting Winter – Part 2

  1. Oh air mata satu lagi pasti park bom. Haeis…. Ni rasany hampir sama kek ff satu lg apa judulny lupa park bom dara kembar. Park bom brpura” Jd dara jg. Haha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s