[Series] My Everlasting Winter – Part 9

image

Script writer by : ElsaJung

Tittle : My Everlasting Winter

Duration : Series/Chaptered

Rating : PG-13+ (Teen)

Genre : Slice of Life, AU, Drama, Angst, Fantasy

 

 

Bab 9

“Forgive Me”

 

 

 

 

“Kau bukan Dara, benar? Tidak perlu berbohong.” Ujar Mino menyunggingkan senyumnya.

Ia berjalan beriringan dengan Bom yang kemudian mendaratkan tubuh di sebuah ranjang ukuran king size. Mino pun duduk di dekat Bom. Malaikat maut itu menatap gadis berambut coklat dengan tatapan iba. Sebenarnya Mino tidak mau melakukan hal ini, ia tidak tega. Bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain. Tidak ada cara untuk membantu Bom selain menyadarkannya. Mino harus meluruskan jalan Bom yang keluar dari kebenaran. Lagipula, waktu itu akan datang sebentar lagi. Waktu di mana segalanya berakhir dan kesempatan Dara untuk menjadi manusia ditutup rapat-rapat.

Dengan perasaan yang campur aduk, antara ragu dan terpaksa, tangan dingin Mino tiba-tiba bergerak menggenggam tangan Bom. Gadis itu tampak sangat gugup sehingga seluruh anggota tubuhnya bergetar. Namun, seiring berjalannya dentingan jam dinding yang menunjukkan waktu telah berlalu, Bom merasakan sebuah hal aneh ketika Mino semakin mengeratkan genggamannya. Tangan dingin itu perlahan-lahan, sedikit demi sedikit berubah menjadi hangat seakan memberikan energi pada Bom. Bom pun membalas genggaman itu secara refleks.

Tidak lama kemudian, tanpa disangka-sangka, Bom memajukan tubuhnya jatuh ke dalam dekapan Mino. Entah mengapa, tak seperti biasanya, Bom benar-benar membutuhkan kedatangan seseorang yang mampu menenangkannya. Dan ia berpikir, Mino-lah orangnya. Bom tak mengerti, ia belum mengenal Mino dalam jangka waktu yang lama. Tapi sepertinya rasa lelah Bom telah mengalahkan semuanya. Ia tak berpikir tentang rasa malu atau apa pun itu. Ia membutuhkan Mino.

Pelukan itu menguat. Bom meremas bahu Mino sembari menangis tersedu-sedu. Air mata Bom meresap melalui pakaian Mino hingga mengenai kulitnya. Ia dapat merasakan kesedihan Bom saat itu juga. Begitu dalam, sangat sakit. Dengan tangan yang gemetar dan bagian tangan lain menggeng-gam tangan Bom, Mino membalas pelukan gadis malang itu. Dalam pelukannya, Bom merasakan aura yang berbeda dalam diri Mino, berbeda dengan kebanyakan orang lainnya. Bukan hanya Bom, pasti siapa saja akan memiliki pendapat yang sama, bahwa laki-laki itu berbeda.

Kini Mino mengerti bagaimana perasaan Bom sebenarnya. Ia dapat merasakan tangan gemetar karena ketakutan. Ya, meskipun Bom sangat kejam, tetapi sejujurnya ia benar-benar takut ketika me-lakukan segala hal buruk yang pernah dilakukannya dulu.

“Kenapa kau berpura-pura menjadi Dara?” tanya Mino seketika membuat Bom tersentak.

Gadis itu segera melepas pelukannya. “Apa maksudmu? Aku Dara.” Ujarnya tampak gugup.

“Tidak perlu berbohong, aku mengetahui semuanya–lebih dari yang kau pikirkan.”

Bom tercengang. Mino adalah seseorang yang baru dikenalnya. Laki-laki itu memperkenalkan dirinya sebagai teman Dara. Namun demikian, bagaimana bisa ia tahu tentang Bom? Bukankah tak ada yang pernah bercerita sebelumnya. Entahlah jika Dara yang memberitahunya, tapi mengapa ia bisa tahu segalanya. Mungkin saja Mino menyadari adanya perbedaan dalam diri Bom dan Dara. Tapi, bagi seseorang yang belum pernah mengenal Bom sebelumnya, bukankah hal itu tak mudah? Memang benar, Mino jauh lebih misterius dari Dara.

“Mino,” panggil Bom lirih menatap Mino nanar.

Sebenarnya Mino tidak memerlukan jawaban. Ia hanya ingin menyadarkan Bom. “Jawablah.”

“Aku tidak tahu apakah ini akan baik-baik saja, tapi aku benar-benar merasa tertekan. Aku bukan-lah Dara. Dia saudaraku yang meninggal beberapa waktu lalu. Banyak hal telah kulalui, kendala dan berbagai macam gangguan lainnya. Aku bukanlah gadis beruntung seperti adikku. Aku merasa iri. Hal itu membuatku buta,” ucapan Bom terhenti beberapa saat sebelum air matanya kembali mengalir, kali ini jauh lebih deras. “Aku hanya ingin bahagia.”

“Kendala dan gangguan?”

Gadis itu menundukkan kepala, kemudian mengangkat dagunya sembari tersenyum kecut. “Tidak ada orang yang mau dekat denganku. Seluruh anggota Keluarga Park, Jiyong, teman-teman Dara, semua menghindar dariku. Aku mencoba bersabar sebelumnya, melihat orang tuaku memperlakukan saudara kembarku dengan sangat baik-hanya padanya. Lalu aku? Aku tak tersentuh sama sekali. Bahkan, aku tampak lebih kecil dari debu dan lebih menyerupai bakteri di mata mereka. Hidupku selalu seperti ini, aku dalam kesulitan.” Bom mengernyitkan dahinya. “Aku sangat bahagia setelah menjadi Dara. Namun, Hye Ji datang dan mengubah kembali semuanya sama seperti dulu. Dia selalu berada di atasku. Itu merupakan alasan kenapa aku selalu menyakitinya.”

Menurut Mino, Bom memang benar. Dara selalu berada di atas Bom karena sifat buruk Bom yang membuatnya tampak rendah di mata semua orang. Seunghyun meminta Mino melakukan hal ini karena ia harus membantu Bom juga. Maka, Mino berjanji akan melakukannya tanpa diminta sekali. Mino semakin mendekat pada tubuh Bom yang sempat menjauh beberapa senti. Laki-laki itu mencoba untuk tersenyum demi melegakan perasaan Bom.

Ia kembali memberikan sebuah dekapan hangat untuk Bom. Mino tidak akan meminta Bom me-ngingat Dara atau pun mencoba menangisi gadis itu. Perbuatan tersebut sangatlah tidak adil dan tak akan berhasil sebab Bom menangis karena angan-angan Dara yang diberikan Mino, bukan atas ke-sadarannya. Kalung itu tidak pernah dapat dibohongi. Ia akan mengisi dengan sendirinya dan menjadi bening ketika merasakan adanya air mata ketulusan.

***

“Tapi, Seunghyun, bukankah mereka semua menangisiku? Mungkin tidak dengan Jiyong karena ia tak tahu aku sudah meninggal. Namun, tak bisakah orang lain yang menyayangiku mengisi kalung ini meski hanya sedikit?” Dara melihat Seunghyun menggelengkan kepalanya. “Aku melihat Bom me-nangis, aku tahu dia orang yang sangat membenciku, tapi kenapa liontin ini tidak berubah warna?”

“Untuk pertanyaan pertama, tidak semua dari mereka murni mencintaimu apa adanya. Pertanyaan kedua, kalung itu dapat mengerti, mana tangisan yang mampu mengisinya dan mana yang tidak sama sekali. Kau pun merupakan penentu dari kembalinya kehidupanmu.” Jelas Seunghyun.

Malaikat maut yang telah lama menghilang tanpa jejak dan tanpa berpamitan itu pun telah kembali. Ia datang dengan wujud yang seharusnya saat berada di alam manusia–tampan dan sempurna seperti biasanya. Seunghyun tahu, hal apa saja yang terjadi selama ia pergi. Menurutnya, tidak ada kesalahan yang dilakukan Mino. Jika takdir memang berkata seperti itu, apa yang bisa dilakukan. Sekarang, ia berpikir bahwa peluang Dara untuk mendapatkan kehidupannya kembali cukup besar.

Hal yang membuat Seunghyun yakin akan pernyatannya adalah–pertama, Jiyong semakin curiga pada kebohongan dan sandiwara Bom. Kedua, Bom tampak sadar akan kesalahannya dari hari ke hari dan mungkin ia akan segera meminta maaf, itu salah satu harapan Seunghyun. Ketiga, adanya dukungan bantuan dari Taeyeon dan Baekhyun yang meyakinkan Jiyong bahwa Bom telah berubah.

Hanya tiga hal. Sebenarnya  lebih dari cukup. Dara sudah hampir berhasil.

Lalu, kenapa kalung air mata Dara tak segera terisi? Dan, kenapa Seunghyun hanya memperboleh-kan Bom dan Jiyong sebagai orang yang mampu mengisinya? Karena, cukup dengan tangisan mereka hidup Dara akan berubah. Jiyong-satu-satunya orang yang mampu mencintai Dara apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ia juga yang mampu mengerti semua hal yang Dara inginkan. Ia mencintai Dara dengan tulus tanpa meminta imbalan atau pun balasan yang sepadan. Sedangkan Bom-satu-satunya orang yang begitu membenci Dara dan segala hal yang dimilikinya. Saudara yang tak bisa menerima keberadaan kembarannya. Orang yang menginginkan kematian Dara.

Apa hubungannya dengan tangisan? Jiyong tentu menangis jika mengetahui kalau sebenarnya Dara-lah yang meninggal. Tapi, disini letak ujian Jiyong. Sampai sejauh mana ia mengenal Dara. Apakah dia masih bisa membedakan siapa Dara dan siapa Bom. Cinta sejati dan ketulusan akan membawanya ke arah yang benar. Bagaimana dengan Bom? Jika Bom menangis, itu berarti ia telah menyadari segala kesalahannya. Ia tahu, dimana letak kesalahan yang pernah dilakukannya. Maka, otomatis ia berubah menjadi orang yang lebih baik. Bukankah hidup Dara akan menjadi lebih baik?

Tentu, jika ia berhasil mendapatkan air mata ketulusan itu.

Tidak semua air mata merupakan air mata ketulusan. Seseorang bisa saja menangis. Namun, tidak dapat dipastikan apakah itu air mata ketulusan atau bukan. Mereka–orang-orang yang mengeluarkan air mata ketulusan benar-benar menangis dari lubuk hati paling dalam mereka. Kehilangan, sedih dan tidak percaya serta menginginkan orang yang dikasihinya kembali dengan tulus tanpa ada rasa benci sedikit pun, itulah air mata ketulusan. Orang-orang bisa saja berbohong dan menyimpan dengki ketika mereka menangis. Itu bukan air mata ketulusan.

“Seunghyun, aku tidak mengerti hal apa yang harus kulakukan sekarang atau untuk kedepannya sekali. Jalanan tertutup oleh tanda tanya besar yang membuatku pasrah akan takdirku. Apakah hidup-ku memang ditakdirkan untuk segera berakhir? Kurasa aku lebih baik menyerahkan diriku padamu di-hari kematianku. Seharusnya aku mengikutimu menuju tempat itu. Kedatanganku ke dunia ini hanya membawa banyak masalah bagi Jiyong, Bom dan keluargaku. Aku tak mampu berbuat apa pun.” Dara menundukkan kepalanya lemas sembari mengaduk-aduk segelas coklat panas yang diberikan Bibi Kim padanya. Hanya mengaduk tanpa menikmatinya.

Seunghyun mengangkat dagu Dara dengan telunjuknya. “Kesempatan hidupmu ada agar kau bisa memperbaiki kerusakan yang terjadi. Sebagai hadiah, kau akan diberi nyawa dan kembali hidup. Jika kau berhasil, hidup itu akan menjadi milikmu. Tapi, jika kau gagal, kau harus ikut denganku dan kau akan mengetahui kelanjutan ceritanya setelah itu. Aku tak dapat menjelaskannya.” Malaikat maut itu tiba-tiba menjentikkan tangannya lalu menghilang tanpa jejak, LAGI.

Ada hal yang sengaja tidak Seunghyun katakan pada Dara. Bahwa sebenarnya, jika Dara memang hidup kembali, hidup itu pun tak akan berlangsung lama. Ia telah ditakdirkan untuk hidup selama dua puluh tahun, tidak akan berkurang dan mungkin hanya lebih beberapa bulan karena hal ini. Sebelum usia Dara bertambah nanti, maka Seunghyun akan datang mengambil nyawanya lagi. Seunghyun sengaja tidak mengatakannya agar Dara tak semakin merendah dan pasrah. Setidaknya jika ia berhasil, keadaan orang-orang tersayangnya akan menjadi lebih baik.

“Dia tidak akan hidup lama? Aku sudah berkata bahwa hidup kembali adalah hal yang mustahil.”

Mino mendarat di tempat di mana Seunghyun sedang duduk termenung. Ia tampak menakutkan, sama menakutkannya seperti Seunghyun ketika berada di alam lain. Kedua sayap hitam lebar Mino merapat, kemudian menutup dan menghilang dari punggungnya. Dia memakai pakaian hitam panjang yang membuatnya tampak berbeda dari biasanya. Tatapan mata yang begitu tajam seperti telah meng-hilangkan senyum manisnya.

Kedua malaikat maut itu duduk bersama. Mino menampakkan senyum kecut di wajah manisnya. Ia sedikit tak percaya mendengar kebenaran berita itu. Berita bahwa Dara tak akan hidup lama meski telah memenuhi persyaratan yang harus dipenuhinya. Takdir orang bisa saja berubah jika pemiliknya memiliki keyakinan dan usaha untuk mengubah takdir tersebut. Tapi, untuk masalah umur dan hidup, siapa pun tidak mampu mengubahnya. Mengurangi atau menambah hidup, itu mustahil.

Bibir Mino terkatup rapat. Sama seperti Seunghyun, ia tak akan memberitahukan berita ini pada Dara. Kenapa? Karena hal ini akan menjadi pukulan tersendiri untuknya. Mungkin jika Dara sampai mengetahui semuanya, ia akan berhenti dan menyerah begitu saja. Untuk apa bertempur melawan ke-sakitan, menerima kenyataan pahit dan berdiam diri ketika orang yang dicintainya bersama orang lain jika perjuangannya akan berujung tidak jauh dari seharusnya.

“Aku tahu ini akan berujung menyakitkan. Ya, aku memang tidak pernah berhubungan sedekat ini dengan makhluk yang bernama manusia, tapi aku sungguh merasakan kedekatan ketika bersama Dara. Dia mengajarkanku, seperti apa itu kebahagiaan, perjuangan dan tawa. Aku melihatnya menangis, juga tersenyum setiap hari. Ia tersenyum dalam tangisnya. Ia selalu berpura-pura kuat di hadapanku.” Mino mengusap pipinya yang telah dibasahi air mata. “Tak adakah takdir yang lebih baik dari ini?”

Seunghyun menggelengkan kepalanya dengan berat hati.

***

Pernyataan bahwa kita harus menikmati hidup sebelum orang lain menikmati hidup kita sepertinya tidak berlaku bagi Dara. Ia hidup jauh lebih baik jika dibandingkan dari hari pertama kehidupan ke-duanya, dimana tidak seorang pun mengenalnya. Sekarang, Dara dapat kembali menikmati hidupnya. Jiyong sudah sepenuhnya menjadi miliknya dan Bom seakan tak pernah terjamah di rumah itu. Mereka tidak peduli dengan keberadaan Bom yang memang selalu mendekam di dalam kamar dan tak membiarkan siapa pun memasuki ruangan tertutup itu–selain Mino.

Tapi Dara merasa ia adalah orang yang sangat jahat saat ini. Dara tahu Bom menyukai Jiyong, sama seperti dirinya. Meski ia sendiri terganggu ketika melihat Bom dekat dengan Jiyong, bukan berarti merampas laki-laki itu merupakan pilihan yang tepat. Bom juga membutuhkan Jiyong. Dan Bom sekarang sedang menjadi dirinya. Semua akan berubah semakin berantakan mengingat Bom menjadi penakut karenanya. Gadis itu sangat berbeda. Ia lebih suka berdiam diri bersama Mino. Dari ekspresi Jiyong, laki-laki itu tampak baik-baik saja, tidak ada rasa cemburu.

Ada masalah lain yang mengganggu Dara. Mino juga sangat berbeda dari biasanya. Dulu, ia tak pernah kehilangan senyuman dari bibirnya. Sekarang, Mino pemurung. Tak pernah ceria. Dan, ada suatu hal yang sedang disembunyikannya, itu yang Dara pikirkan. Semua semakin memburuk ketika musim dingin hampir berakhir. Sejak awal, Dara sudah merasa kisah ini tidak akan berakhir baik.

Tiba-tiba, Bom keluar dari balik pintu kamarnya dengan penampilan yang sangat berantakan. Dia masih menggunakan piama, rambut tak tertata rapi, raut wajah kusut dan kantung mata serta lingkaran hitam di sekekelilingnya. Bom mungkin baru saja berhenti dari tangisannya yang selalu didengar oleh Dara setiap malam. Di belakangnya, Mino tampak menyusul keluar. Ya, Mino memang menjaga Bom dan sesekali keluar untuk menengok Dara.

Malaikat maut itu berjalan mendekati Dara. “Kau bukan orang jahat. Keadaan memang tidak baik.”

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku, Mino. Kau aneh.” Selidik Dara penuh keyakinan.

“Lebih baik kau mendatangi Jiyong dan menenangkannya. Dia di ruang makan sekarang.”

Dara mengabaikan ucapan Mino–tetap bersikeras meminta jawaban atas pertanyaannya. Namun, Mino memaksa Dara untuk mendengarkan dan percaya padanya bahwa ada suatu hal yang terjadi di ruang makan saat ini. Akhirnya, gadis itu mengalah dan meninggalkan Mino. Ia sempat sesekali menengok ke belakang sebelum akhirnya Mino menghilang. Sebenarnya tidak menghilang sepenuh-nya, hanya saja ia berjalan di belakang Dara tanpa terlihat.

Ketika menuruni tangga, Dara mendengar suara yang saling bersautan seperti sebuah percakapan. Percakapan yang tidak terlalu jelas. Ya, arahnya memang dari ruang makan. Suara seorang gadis dan laki-laki. Sang laki-laki-lah yang terdengar berkoar-koar. Mereka tampak sedang bercekcok. Sesekali terdengar suara si gadis yang berbicara dengan nada lirih dan beberapa raungan. Mungkin ia menangis. Dan itu sangat jelas karena semakin Dara mendekat, suara itu semakin terdengar sepenuhnya.

Bukan hanya suara. Wajah kedua orang yang saat ini sedang berdebat pun tampak jelas. Dara ber-sembunyi di balik lemari besar dekat ruang makan. Laki-laki itu adalah Jiyong dan gadis itu adalah Bom. Jadi ini yang ingin Mino tunjukan padanya? Pembicaraan Jiyong dan Bom. Dara tahu, tidak seharusnya ia menguping pembicaraan orang lain. Tapi, mereka berdua membuatnya penasaran.

“Kenapa kau menangis, Dee? Apakah ada hal yang mengganggumu?”

“Kau bodoh?! Kau tidak bisa merasakan?! Kenapa kau harus bertanya kalau kau tahu kau bersalah? Kau tahu apa kesalahanmu?” Bom menggertak dengan air mata yang mengalir deras. “Kau tak pernah menyadari keberadaanku, Jiyong. Aku kekasihmu. Kenapa kau hanya memikirkan Hye Ji?”

“Apakah kau menyimpan dendam padanya?”

“Apakah aku tampak seperti seorang pendendam? Tidak! Aku tidak menyimpan dengam padanya. Aku hanya cemburu kenapa kau memperlakukanku seperti ini. Dengan mudahnya kau membatalkan pernikahan, bahkan tega menjauhiku, lebih mementingkan Hye Ji, tak pernah mempedulikanku, ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa semua orang memperlakukanku dengan buruk?”

“DARA!!” bentak Jiyong dengan suara lantang membuat Bom tersentak dan diam seribu bahasa. “Dengarkan aku! Aku akan mencoba jujur kali ini karena aku sudah terlalu sabar selama hampir dua bulan belakangan.” Tambahnya menunjukkan amarah yang meledak-ledak.

Bom terdiam. Ia terkejut. Bahkan, sangat terkejut.

Jiyong kembali membuka mulutnya setelah menghirup nafas cukup lama. “Bukannya aku lebih mementingkan Hye Ji daripada dirimu, bukannya aku lebih sering memikirkan dan peduli padanya daripada dirimu, tapi, tidak pernahkah kau berpikir kenapa aku melakukannya? Tidakkah kau coba tanyakan pada dirimu sendiri kenapa aku seperti ini? Tidakkah kau mencoba membandingkan dirimu yang dulu dan sekarang secara seksama? Haruskah aku memperjelasnya?”

Bukan hanya Bom. Dara yang sedang bersembunyi di balik lemari pun terdiam tak bicara.

“Sungguh, kau berubah dan aku tidak mengerti karena apa. Perubahan yang sangat aneh. Sifat Sandara dua tahun lalu tidak sama seperti sekarang. Kau mengerti? Segala hal yang telah kau lakukan, aku sempat tidak percaya dan lebih memilih membenci Hye Ji yang tak bersalah. Pernah kau pikirkan bagaimana perasaan Hye Ji? Kenapa yang ada di pikiranmu hanya membuat ulah dan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu? Apakah kau lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kita?” Jiyong benar-benar frustasi. Bom membuatnya gila padahal hanya dua bulan.

TIDAK! Ini sama sekali tidak boleh terjadi. Mengakhiri hubungan sama saja dengan mengakhiri hidup Dara. Dara kembali hidup agar bisa bersama dengan Jiyong. Meskipun ia tidak hidup menjadi seorang Dara-melainkan menjadi seseorang yang berbeda, bukan berarti jika Dara dan Jiyong berpisah, semua akan baik-baik saja. Tidak boleh. Dara berharap, Bom bisa memperbaiki kesalahan dan segala jenis perbuatannya sendiri.

Tiba-tiba, Bom pergi begitu saja, menutup bagian hidung dan bibirnya dengan air mata bercucuran. Mata sembab itu kini kembali mengeluarkan air mata entah untuk yang keberapa kali. Bom belari-lari kecil menuju ke dalam kamarnya-disambut oleh Mino yang berdiri di ujung tangga mengadahkan kepala. Ya, situasi semakin memburuk dari hari ke hari. Peluang keberhasilan Dara mengecil.

Jiyong sangat marah. Jumlah kesabarannya kian lama kian menipis. Ia sudah terlalu lama bersabar dan mencoba tahan dengan sikap Bom. Sekarang, kesabaran Jiyong sudah sepenuhnya habis dan ia tak mau lagi bersabar atau berpura-pura tahan dengan sifat Bom. Sudah cukup! Oke. Mungkin Jiyong akan baik-baik saja jika Bom tidak menyangkut pautkan nama ‘Hye Ji’. Ini semacam penghinaan padanya seakan-akan Jiyong bukan orang baik-baik yang menyukai gadis lain ketika masih memiliki kekasih. Ya, menjadi pengecualian jika kekasih itu adalah Bom.

Segala jenis benda dan apapun yang ada di meja makan telah lenyap. Jiyong membuang semuanya, melemparnya dan membantingnya. Bukan hanya itu, benda lainnya pun tak lepas dari amukan Jiyong. Suara pecahan piring, gelas dan perabotan menggema di rumah yang tengah sepi.

Dara menengok ke arah Jiyong. Ia ingin menenangkan Jiyong barang sejenak. Tapi, dikala sedang marah, Jiyong akan membabi buta dan melakukan tindakan yang berbahaya pada siapa pun. Sedetik kemudian, Dara menengok ke arah Bom-mulai memasuki ruangan pribadi yang disebut kamar. Dara juga ingin menenangkan saudaranya. Tetapi, saat ia hendak berlari mengejar Bom, Mino yang masih berdiri di tempatnya berada tampak menggelengkan kepala.

Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat, lima dan seterunya. Gadis berparas cantik dengan rambut coklatnya berjalan keluar dari tempat persembunyian, lalu mendekati Jiyong. Tampaknya, laki-laki itu terlalu sibuk dengan kemarahannya hingga tak menghiraukan Dara. Dan lagi, pecahan benda-benda itu dengan sukses menerjang kulit kekasihnya. Ini mungkin hal yang biasa bagi Dara, mengingat ia sudah menerima banyak luka dan rasa sakit dalam dirinya.

“Ji,” Dara memanggil dengan suara yang khas.

Sekali lagi, panggilan yang sama terlontar dari bibirnya-yang kembali tak dihiraukan.

“Kumohon, jangan seperti ini.”

Tangan Dara melingkari pinggang Jiyong yang berdiri membelakanginya. Gadis itu menempelkan pipinya di punggung laki-laki bertubuh kurus itu. Semua orang memperhatikan dari segala penjuru rumah. Ketua pengurus rumah, para pengurus rumah, Mino dan Seunghyun yang tengah bersembunyi di suatu tempat. Dara memeluk Jiyong semakin kuat, membuat laki-laki yang dipeluknya berhenti melakukan aktivitas berbahayanya, kemudian membalik ke belakang.

Dara bisa melihat wajah Jiyong seutuhnya, tak hanya bagian belakang saja seperti sebelumnya. Ia kembali memeluk Jiyong, kali ini beberapa kali lipat lebih kuat. Jiyong terdiam lemas, tak membalas karena masih dalam proses meredam amarah. Tidak ada yang dapat dilakukan Dara untuk menenang-kan kekasihnya selain memberi pelukan. Mungkin, Jiyong akan tahu betapa Dara menghawatirkannya. Mungkin juga Jiyong akan tahu, Dara yang asli ada di bersamanya.

“Jangan seperti ini, Ji. Aku takut melihatmu memarahi Dara. Jujur, aku tahu kronologisnya.” Dara menitikkan air mata. Saat itu juga, salju tiba-tiba turun mengguyur kota Seoul. “Ini karena aku, bukan? Aku jahat, bukan? Aku dekat denganmu dan membuat Dara bersedih. Aku baik-baik saja meskipun dia membenciku. Aku tetap menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Jangan marah padanya.”

Jiyong mengusap ujung kepada Dara. Sebuah nafas berat diambilnya. “Kau tidak mengerti.”

“Kenapa kau seperti ini?!” pekik Dara dengan sedikit bentakkan.

“Kau terluka?”

Pertanyaan sebelumnya seakan angin lalu bagi Jiyong. Perhatiannya teralihkan saat menatap tubuh Dara yang berdarah di beberapa bagian, seperti kaki dan lengannya. Darah tersebut berasal dari luka yang terbentuk saat serpihan kaca menerjang dan menggores kulit Dara. Terlihat jelas oleh Jiyong-darah bercucuran itu bergerak menurun.

Jiyong mencoba menyentuh kulit Dara, berusaha memastikan luka itu tidak terlalu parah. Sayang, hanya tampikan yang diterimanya. Meskipun tidak terlalu kasar, namun berhasil membuat Jiyong bertanya-tanya, kenapa Bom sangat berpengaruh bagi gadis yang berdiri di hadapannya tersebut. Tak ada yang perlu Jiyong jelaskan karena menurutnya, tak terlalu penting bagi Dara untuk tahu menahui tentang permasalahannya dengan Bom.

“Kenapa?!!” Dara berteriak sembari memukuli lengan Jiyong.

Stop, Hye Ji!” Jiyong menggertak. “Karena aku menyukaimu.”

***

Bom menangis. Kali ini bukan tangisan meraung-raung yang disertai umpatan, melainkan tangisan tanpa suara yang membuat dadanya sesak. Sungguh, sangat menyakitkan. Bom menyukai Jiyong. Dia tahu, cara yang dilakukannya dalam mendapatkan Jiyong bukanlah cara baik. Tetapi, jalan pikiran Bom sudah terlalu buntu dan tertutupi oleh dendam. Lagi pula, tidak ada cara lain selain menyingkir-kan Dara, saudara kembarnya. Semua memang berawal baik. Lambat laun beberapa hal memburuk. Bom sudah sadar sepenuhnya jika perbuatan buruk tidak akan berakhir dengan kebahagiaan.

Sekarang sudah tiga hari dan Bom lagi-lagi mendekam di dalam kamar.

“Kau ingat seperti apa ekspresiku setiap melihatmu?” tanya Bom berbicara pada seseorang dalam foto yang tengah dipandangnya. Telapak tangan Bom mengelus permukaan wajah seseorang itu. “Aku sangat membencimu. Ah, tidak, bahkan membenci segalanya. Aku benci melihat senyumanmu. Apa kau ingat aku selalu marah padamu setiap kali kau mencoba menghiburku? Kita memiliki wajah dan tubuh yang sama persis. Tapi, tidak dengan kasih sayang ayah dan ibu. Aku juga merasa iri karena Jiyong menyukaimu,” nafas Bom tersendat dan ia ingin mengakui satu hal. “Aku menyesal.”

Foto itu memang cacat dalam arti kata tidak utuh karena sobek di beberapa bagian. Bom mendekap foto tanpa figura itu erat-erat. Ia menangis sejadi-jadinya. Untuk pertama kalinya, Bom ingin Dara ada di sampingnya seperti dulu. Bom merindukan Dara dan ia telah menyesali segala perbuatannya. Andai saja Dara ada, Bom berharap, ia bisa mencium kaki saudaranya hanya untuk meminta maaf.

***

“Kau kabur dari rumah?” tanya Seunghyun ikut duduk di samping Dara. “Kenapa?”

Semenjak saat itu-saat pertengkaran dan saat Jiyong berkata bahwa laki-laki tersebut menyukainya, Dara pergi dari rumah pada sore harinya. Ia pergi tanpa pamit atau izin-kepergian yang sering disebut kabur. Tidak untuk sekarang. Ini karenanya. Dara tak bisa berpura-pura bodoh dan tak mengerti akan keadaan. Ia kembali membuat Bom bersedih padahal situasi sedikit jauh lebih baik. Mungkin situasi yang baik itu adalah permulaan dari situasi yang jauh lebih buruk.

Dara tahu, dalam menggapai kebahagiaan, bukan hanya kita yang harus menderita, melainkan orang lain juga. Dan, dalam menggapai kebahagiaannya, Dara sangat menderita, begitu juga dengan Bom. Dara berpikir bahwa dia telah membuat Bom menderita demi mengejar kehidupannya, dan itu memang benar. Tapi, gadis bernama lengkap Sandara Park itu tak pernah berpikir membuat orang lain menderita karenanya. Tak perlu menyeret orang lain untuk ikut menderita dalam kisahnya. Dara hidup tanpa maksud bersifat egois. Ia hanya ingin orang-orang merasa bahagia karenanya, bukan menderita karenanya. Kutukan dan hujatan diluncurkan oleh Dara pada dirinya sendiri.

Seunghyun mendengus. “Kebanyakan orang memang seperti itu, menggapai kebahagiaan sembari membuat orang yang menghalangi kebahagiaannya menderita. Beberapa sengaja melakukannya, ada juga yang tak sadar melakukannya. Kau sadar, tetapi kau tidak menginginkannya. Aku mengerti apa yang kau pikirkan, Dara. Aku mampu membaca pikiranmu. Kau tidak bersalah.” Seunghyun terus menerawang pikiran Dara. “Memang sudah menjadi keharusan jika hidup manusia seperti itu. Orang yang menderita tersebut akan bahagia dengan caranya sendiri. Kau tidak perlu khawatir. Ini sepenuh-nya bukan salahmu. Lagi pula, bukankah Bom yang membuatmu menderita terlebih dahulu?”

“Ya, aku tahu, dia memang memulainya.” Jawab Dara menunduk lemas.

Sungai Cheonggyeche, tempat pelarian gadis itu tampak ramai seperti biasa. Banyak turis maupun orang lokal yang berkunjung. Bedanya, Dara dan Seunghyun duduk di bagian yang sunyi. Hanya ada mereka berdua, itu sudah cukup. Sama seperti Bom yang berdiam diri di kamarnya selama tiga hari, begitu pula dengan Dara yang berada di sungai indah tersebut selama tiga hari. Ia berdiam diri tanpa melakukan hal yang berarti. Membuang-buang waktu berharga secara percuma.

Tatapan mata Seunghyun tertuju pada bagian tubuh Dara yang membiru dengan bekas goresan. Ya, hal pertama yang harus dilakukannya adalah mengobati luka Dara. Gadis itu tampak menyedihkan. Seunghyun memejamkan matanya sejenak untuk berkonsentrasi. Setelah sebagian besar kekuatannya terkumpul dan siap mengobati Dara, ia menjentikkan jari. Luka Dara hilang sepenuhnya.

“Dia menyukaimu.” Seunghyun menunjukkan senyum termanisnya.

“Ya, lebih tepatnya menyukai Jung Hye Ji. Tidakkah dia seharusnya tetap menyukai Dara palsu?”

“Tidak. Jika Jiyong menyukaimu meski kau seorang Jung Hye Ji dan dia meninggalkan Bom yang berpura-pura menjadi Sandara, itu berarti dia sangat mengenalmu. Meski kau berada di dalam tubuh yang berbeda dengan wajah berbeda sekali, dia tetap memilihmu. Sekeras apapun usaha Bom untuk menjadi dirimu, dia tak akan berhasil. Kau bisa-”

Kalimat Seunghyun terhenti saat melihat tubuh Dara mengejang tidak karuan. Gadis itu tampak sangat kesakitan-sangat jelas dari raut wajahnya yang meringis dan perlahan mengeluarkan air mata. Tak ayal lagi, pasti sangat sakit. Tiba-tiba langit menjadi gelap gulita, petir bergemuruh, angin mulai berhembus semakin lama semakin kencang dan salju turun begitu lebatnya. Seunghyun kebingungan, sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Sekali pun ia bisa membaca pikiran setiap orang, ia tidak dapat mengetahui apa yang terjadi pada Dara.

Dari sudut mata tajamnya, terlihat sebuah kilatan cahaya melintas menerobos udara dengan mudah tanpa halangan. Firasat Seunghyun memang sudah mengatakan bahwa akan ada hal mengejutkan terjadi hari ini. Kilatan cahaya bagai komet yang melesat dalam sekejap itu menerjang mengarah masuk ke dalam leher Dara, lebih tepatnya ke dalam liontin kalung yang menggantung di leher Dara. Bagai bom, kilatan cahaya tersebut meletup dan berubah menjadi serpihan. Dingin, itu yang dirasakan Seunghyun. Tubuh Dara semakin memberontak seperti mengalami kematian kedua kalinya.

 

***

TBC

next >>

Advertisements

13 thoughts on “[Series] My Everlasting Winter – Part 9

  1. Apa Ji bakal sadar dengan semua yg terjadi?
    Apa Bom bakal terima kalo Ji mutusin dia?
    Apa Dara akhirnya bahagia kalo bisa balik sama Ji?
    Kebahagiaan seseorang adalah penderitaan buat orang lain…..
    Monggo dilanjut ya….

  2. Apaan tu kilatan ,, bikin P̶̲̥̅̊​U̶̲̥̅̊​S̶̲̥̅̊​I̶̲̥̅̊​N̶̲̥̅̊​G̶̲̥̅̊​ sj. Apa air matany bom. Haha…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s