[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 10.

ano-another-copy

SCENE 10 <EVERYTHING ISN’T REVOLVING AROUND YOU>


Beberapa bulan terakhir, Sandara jadi sering pergi keluar dan jalan dengan Junki. Awalnya hanya demi menghindari Jiyong dan Joonyoung, yang belakangan jadi sering datang ke rumahnya tanpa diduga, hingga kemudian Sandara jadi merasa terbiasa dan tak canggung mengajak makhluk aneh itu untuk pergi dengannya. Lalu didukung dengan faktor ternyata Junki adalah sunbaenya, banyak yang mengira keduanya berpacaran.

Sandara tak akan membantah jika ada yang mengatakan padanya bahwa Junki itu menarik, karena memang secara fisik hal itu nyata adanya. Walaupun sering bersikap semaunya sendiri, ada satu hal dalam diri Junki yang membuat Sandara merasa nyaman, dan hanya Junki yang memilikinya.

Bila saat bersama Joonyoung dulu Sandara menjadi seorang manusia super, saat bersama Jiyong dia merasa menjadi orang yang sempurna, maka saat bersama dengan Junki dia merasa menjadi manusia biasa. Hanya itu.

Memang aneh jika selama ini keduanya tak pernah membahas tentang perasaan masing-masing satu sama lain. Karena semua orang yang melihat interaksi keduanya, tidak akan percaya jika memang mereka tidak memiliki hubungan romantis. Sandara bahkan tidak merasa canggung sama sekali berada di antara teman-teman Junki yang notabene adalah sunbaenim baginya.

“Babo, harusnya kau tidak membuntutiku. Habislah sudah kau oleh teman-temanku,” lagi-lagi Junki mengatainya babo.

Teman-teman Junki memang berisik. Menemukan Junki dan Sandara duduk semeja di kantin, mereka langsung menyerbu dan berebut minta traktir macam-macam, sambil mengolok mereka yang sama sekali tidak terlihat romantis.

“Dasar babo!” Sandara tak terima dirinya terus dihina oleh Junki, “Kau sendiri yang mengajakku ke kantin! Siapa tadi yang mengirimiku pesan, siang ini tidak ada jam kuliah kan? Ayo ke kantin,” Sandara membacakan pesan yang memang tadi dikirimkan Junki padanya.

Menyadari dirinya yang salah, Junki tetap tidak mau mengalah. “Ya, harusnya kau menolaknya. Bilang saja tidak bisa, cari alasan apa terserah,”

Sandara yang gemas langsung mengayunkan kamus kedokterannya yang tebal ke bahu Junki. “Tadinya kau tidak usah mengirimiku pesan, dasar babo. Aisht, menghabiskan tenaga saja berdebat denganmu. Aku masih ada kelas setelah ini,” Sandara pergi meninggalkan Junki yang masih mengelus bahunya yang kesakitan.

**

Sikap kekanak-kanakan Sandara sedang berada pada level tertinggi. Hari ini, dia ada kelas dari siang hingga malam. Begitu keluar dari gerbang kampus, tiba-tiba dia ingin bermain kembang api. Sikap impulsifnya menang. Dia melajukan mobilnya, mencari toko terdekat.

Seolah kerasukan, Sandara memborong segala jenis kembang api yang tersedia di toko.

Malam ini agendanya adalah pesta kembang api. Setelah memasukkan semua kembang api yang dibelinya ke dalam mobil, Sandara segera pulang. Belum juga sampai di ujung jalan, ponselnya meraung-raung. Lcd menunjukkan nama Junki dan sederet nomor.

“Kau masih di kampus?” Junki bertanya bahkan sebelum Sandara sempat mengucapkan halo. “Jemput aku di apartemen Youngdon, kau ingat, kan?”

Astaga… apa maksudnya? Apa Junki pikir, Sandara ini supir pribadinya?

Dan, “Tut… tut… tut…” sambungan telepon telah diputus begitu saja.

Terpaksa, Sandara memutar mobil untuk menuju ke apartemen Youngdon yang seingatnya berada di daerah belakang kampus. Posisi Sandara sekarang ada di jalan depan.

**

“Kenapa kau lama sekali, sih? Dari mana saja?” sambutan Junki saat melihat Sandara berada di ambang pintu, Youngdon membukakan pintu untuknya. Dia terpaksa harus naik karena baterai ponselnya habis dan dia lupa membawa charger.

Sudah untung Sandara mau datang.

Awalnya Sandara berencana memasang wajah terjutek yang dimilikinya, namun gagal saat melihat siapa yang ada di sana. Sekarang pasti dirinya terlihat seperti orang bodoh dengan mulut ternganga.

“Dia…” hanya itu yang bisa diucapkannya sambil menunjuk orang yang dimaksud. Orang itu pun tak kalah kaget melihat Sandara.

Pemahaman muncul di wajah Junki. “Oh iya, aku lupa. Kalian belum pernah bertemu ya,” Junki menarik tangan Sandara, membawanya masuk dan tidak hanya berdiri bodoh di depan pintu. “Sandara, ini Joonyoung. Joonyoung, ini Sandara,” dia memperkenalkan singkat.

“Aku sudah mengenalnya, Hyung,” ujarnya.

“Youngie…” akhirnya nama itu keluar dari mulut Sandara.

Junki kaget, tapi segera bisa menguasai diri. “Wah, baguslah kalau begitu,”

“Ehm… sepertinya ada yang cemburu. Joonyoung, hati-hati dalam perjalanan pulang nanti, ya. Hindari jalan yang biasanya kau ambil,” goda Youngdon.

“Apa maksudmu?” Junki salah tingkah.

“Lihat, lihat… dia cemburu. Apa kataku?” Youngdon merasa menang.

Sandara yang biasanya imun terhadap godaan teman-teman Junki, sekarang benar-benar merasa salah tempat.

“Ayo kita pulang,” pinta Sandara, nadanya keras, meski tidak bermaksud untuk memerintah.

Sayangnya, Junki tidak menyadari perubahan suasana hati Sandara. “Sebentar, download filmnya belum selesai,” Sandara benar-benar ingin mengamuk mendengarnya.

“Kenapa buru-buru?” tanya Joonyoung.

Sandara tak menjawab, bahkan dia sengaja tidak mau memandang wajah Joonyoung.

“Duduk dulu saja,” gantian Junki yang memerintah Sandara, tapi dengan nada yang lebih halus.

Menurut, Sandara duduk di ujung sofa yang paling jauh dari kursi yang diduduki oleh Joonyoung.

Lima menit. Junki belum juga mengalihkan pandangan dari layar tablet pcnya. Youngdon sibuk dengan ipodnya. Sedangkan dua manusia lainnya hanya duduk diam tanpa mencoba beramah-taman.

“Kenapa kau terus memandangiku?” protes Sandara. Dirinya dari tadi menghindari menatap Joonyoung, tapi bukan berarti Joonyoung juga melakukan hal serupa.

“Siapa yang memandangimu?” Junki merasa tak terima. Beralih dari tablet pc di tangannya dan memandang Sandara. Yang dipandang, justru sdang memandang ke arah lain.

“Kenapa?” tanya Joonyoung.

Junki sadar. Bukan dirinya yang dimaksud Sandara.

Youngdon yang merasa sedang terjadi perubahan atmosfer, melepas headphonenya dan mencari tahu apa yang sdang terjadi.

“Aku tidak suka,” nadanya pedas.

“Kenapa?” ulang Joonyoung.

Sandara yang mengerti maksud pertanyaan Joonyoung, menghela nafas. “Kumohon, beru aku waktu… kau tahu aku hancur,”

“Kenapa kau tidak membiarkanku membantumu?” balas Joonyoung.

Junki dan Youngdon hanya bisa melongo memandangi pertukaran dialog yang terjadi di depan mata mereka. Tak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“Tidak bisa, Youngie, karena kau justru akan terus mengingatkanku pada semuanya…” nadanya lelah, “semua hal yang membuatku hancur.” Tambahnya lirih.

Joonyoung diam. Sadar bahwa pernyataan Sandara itu ada benarnya. Kehadirannya justru akan mengingatkan Sandara akan rasa sakit hatinya.

Sepuluh menit kembali dalam kebisuan. Tak ada yang berani berkata-kata. Seolah ada larangan tertulis yang mencegah mereka mengeluarkan suara.

“Selesai!” seru Junki penuh kemenangan, membuat yang lain terlonjak kaget.

“Kau segeralah pulang, kasihan Sandara sudah menunggumu dari tadi,” kata Youngdon sedikit melirik ke arah Joonyoung.

Junki tidak membantar. Dia segera membereskan barang-barangnya dan berdiri. Sandara juga ikut berdiri, sedikit canggung saat berpamitan pada Joonyoung.

“Ini,” Sandara menyodorkan kunci mobilnya pada Junki.

“Aku sedang malas menyetir, makanya aku memintamu untuk menjemputku,” seloroh Junki seenaknya, hampir-hampir membuat Sandara mengamuk.

“Apa aku perlu mengantar kalian berdua?” tiba-tiba Joonyoung menawarkan.

Sandara jadi merasa kikuk dan serba salah. Dirasakannya ada sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya.

“Tidak perlu,” putusnya.

Setelah sekali lagi berpamitan, keduanya segera turun.

Di dalam mobil, dengan mata menatap jalanan malam Seoul, pikiran Sandara mengembara. Merangkai kejadian demi kejadian yang belakangan terjadi. Orang-orang yang dianggapnya sebagai bagian dari masa lalunya mulai bermunculan satu per satu. Sandara tahu hal itu akan terjadi, tapi dia belum siap jika terjadi secepat ini. Hatinya belum siap. Sandara bukan orang yang mudah lupa.

“Jadi, sudah berapa lama kau kenal dengan Joonyoung?” Junki bertanya menyelidik.

“Lama,” jawab Sandara singkat.

“Berapa lama?” pertanyaan Junki mulai memancing rasa kesal Sandara.

“Apa pentingnya untukmu?”

Diam. Suasana menjadi tak nyaman.

Tanpa di duga, Junki kembali bertanya. Hanya kali ini pertanyaannya membuat Sandara tersenyum. “Bungkusan apa yang ada di jok belakang?”

Sandara bahkan lupa dirinya memborong kembang api tadi!

“Kembang api,”

“Berhenti!” perintah Junki tiba-tiba.

Sandara kaget, tapi langsung mengarahkan kemudi ke jalur lambat lalu menginjak pedal rem. Ban mobilnya berdecit karena dihentikan tiba-tiba.

“Ada apa?” tanya Sandara kaget melihat Junki membuka pintu dan turun dari mobil.

Apakah Junki marah? Apakah dia telah berbuat salah? Tapi harusnya Junki tidak marah pada jawaban kembang api…

“Hey! Apa yang mau kau lakukan dengan kembang apiku?” Sandara buru-buru ikut turun melihat Junki mengeluarkan bungkusan plastik berisi kembang api miliknya.

Apakah Junki takut mobil Sandara akan meledak karena menyimpan kembang api?

Junki tak menjawab. Malah dia kembali masuk ke dalam mobil. Sandara yang kebingungan hanya berdiri diam di tempat, berdoa agar Junki tidak membuang kembang apinya. Dia butuh hiburan malam ini, tapi tidak ada niatan untuk kembali ke toko dan membeli kembang api.

Setelah sekian menit terlihat mencari-cari sesuatu di dalam mobil, Junki kembali keluar dengan sebuah geretan. Sandara tidak tahu jika mobilnya dilengkapi dengan geretan. Apa yang mau Junki lakukan?

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Menyalakan kembang api,”

Butuh waktu bagi Sandara untuk memproses jawaban Junki, hingga sebuah kembang api melesat ke atas.

Blaaaar!

Kembang api itu pecah. Kedua sudut bibir Sandara tertarik ke atas. Sandara pun tak mau kedinggalan. Kemudian keduanya saling berebut untuk menyalakan kembang api. Persis seperti anak kecil, sama-sama tak ada yang mau mengalah.

Diam-diam hati Sandara gerimis. De javu.

**

“Oppa,” panggilan Sandara menghentikan Junki yang bersiap turun. Jarang sekali dia memanggil Junki dengan sebutan ‘oppa’ seperti sekarang. Sikap kekanakan Junki menjadi salah satu penyebabnya.

Mereka telah sampai di depan rumah Junki.

“Ada apa?” tanyanya.

Sandara diam, menimbang.

“Terima kasih untuk malam ini, selamat malam,” ucapnya pada akhirnya.

Junki tersenyum, senyum yang sudah lama tak Sandara lihat. Dia mengangguk.

“Hati-hati di jalan, terima kasih sudah mengantarku pulang.” Junki turun dari mobil.

Sekali lagi Sandara menimbang, keputusannya sudah bulat.

“Oppa,”

Junki yang sudah sampai di pintu gerbang rumahnya berhenti dan berbalik. “Apa lagi?”

Sandara ikut turun dari mobil dan berjalan mendekat, membiarkan pintunya terbuka. “Ada yang ingn kukatakan,” katanya setelah jarak mereka berdekatan.

“Iya?”

Lagi-lagi diam. Sandara sibuk berpikir.

Junki ikut diam, menunggunya.

“Oppa, aku…” Sandara tak berani menatap mata Junki, “aku menyukaimu,” sepatunya benar-benar terlihat lucu.

Tidak ada tanggapan dari Junki.

“Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu, tapi akhir-akhir ini aku mulai menyadari kalau aku merasa nyaman berada di dekatmu.” Sandara masih memandangi sepatunya.

“Aku sama sekali tidak sadar, kenapa aku mau kau suruh meski kau tidak memiliki alasan yang jelas. Aku selalu saja menurut setiap kali kau meminta hal-hal aneh. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku menyukaimu,” ungkapnya, masih tanpa menatap lawan bicaranya.

“Kau selalu mementingkan dirimu sendiri, ya?” pertanyaan Junki ini membuat Sandara langsung mendongakkan kepala menatapnya. Sandara baru sadar kekurangannya dalam urusan tinggi badan, Junki begitu tinggi.

“Kau selalu saja mementingkan diri sendiri,” dia mengulangi pertanyaannya menjadi sebuah pernyataan. Membuat hati Sandara serasa tergores sembilu, “yang kau pikirkan selalu saja dirimu sendiri. Apakah sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranmu, bagaimana perasaan orang lain?” tuntut Junki.

Mata Sandara muai berkaca-kaca.

“Kau selalu berpikir, kau ini menjadi pusat segalanya,” ucapan Junki semakin jauh. Tapi Sandara lebih berkonsentrasi agar air matanya jangan sampai menetes.

Lima belas menit kemudian, Sandara sudah berada di balik kemudi mobilnya, dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya. Suatu keajaiban dia bisa sampai rumah dengan selamat karena sepanjang jalan pandangannya kabur karena air mata.

“… dan aku tidak suka dengan sikapmu pada Joonyoung tadi. Aku tidak tahu apa permasalahan kalian, tapi dia sudah berusaha untuk membantumu. Harusnya kau bisa menghargai niatnya itu,” ucapan Junki terus saja terngiang di telinga Sandara.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

16 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 10.

  1. Mungkin karena dara yg mementingkan diri sendiri itu yg nganggep dia yg paling sakit hati disini padahal jiyong juga sakit hati sih ga dikasih kesempatan buat jelasin atau buktiin. Dan nembak jun ki juga ga sepenuhnya dara suka sama jun ki, mungkin karena jun ki selalu ada disaat dara lagi sedih dan selalu ngehibur dara makanya dara bilang menyukai jun ki, padahal mungkin dara cuma pengen lindungin hatinya karena ngerasa jun ki ga akan nyakitin dara.
    Pada nyari jiyong ya? Nih lagi bobo di kasurkuuu~~~

  2. semoga dgn kejadian ini dara bisa berubah. dan bisa memberikan org lain kesempatan utk memperbaiki kesalahannya. dan lebih bisa menghargai orang lain dan tdk mementingkan perasaan sendiri aja.

  3. Nahhh luhh dara, junki bener tuhhh…
    Egois dehh yaa…
    Mengira dirinya yg tersakiti pdhal sebenernya dia yg menyakiti..
    Hemm untung junki baik tuhh nyadarin dara…
    Ahh junkinya sma saya aja boleh kok thor *nahlohh**

  4. Wahh aku baru nyadar kalo sebenernya Dara unnie juga ada salahnya. Aku kupa bahwa ada jiyong yang tersakiti dengan menghindarnya Dara unnie. Kuharap dengan perkataan Junki yang kek sambel itu bisa ngebuat Dara unnie sadar sama perlakuannya selama ini ke Jiyong dan Joonyoung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s