The King’s Assassin [38] : Sunset

ka

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

Malam terasa sangat panjang namun bagi Sanghyun, Daesung, Chaerin, dan Dara yang berada di dalam Lotus House, waktu yang panjang itu tidak cukup untuk saling berbagi cerita satu sama lain.

“Seunghyun-ssi… aigoo. Saya harap Tuan ada di sini bersama kita. Sayang sekali, beliau sekarang terkurung di Sungkyunkwan,” dia tertawa sembari mengisi kembali cangkir Sanghyun dengan teh.

“Aku juga merindukan orang itu. Aku berharap aku bisa menemuinya. Meski aku ragu apakah aku bisa kembali lagi ke mari dalam waktu dekat. Menteri Kim dan Master Wu sangat ketat. Taruhan, pasti mereka akan memarahiku karena menampakkan diri pada noona secepat ini,” Sanghyun tersenyum sebelum beralih menatap Dara yang masih menatapnya seperti menatap hantu.

“Aisht noona! Berhenti melihatku seperti itu!” Sanghyun terkekeh. “Kau terlihat kurus dan pucat. Apa Putra Mahkota tidak memberimu makan dengan baik? Aku bersumpah dia akan menerima balasannya dariku. Kau tunggu saja,”

Dara hanya bisa menghapus air matanya dan tersenyum, masih belum bisa mempercayai bahwa adiknya ada di sini sekarang bersamanya.

“Unnie… berhentilah menangis.” Chaerin mengelus punggung Dara.

“Aku hanya masih belum bisa mempercayai bahwa Sanghyun kecilku sudah tumbuh besar menjadi seorang pria pemberani,” ujar Dara.

Mereka masih berada di tengah-tengah pembicaraan saat Lady Hyori masuk, membawa sebuah peti kayu. Keempatnya terperangah takjub.

“Benda itu masih berada di sini… tersimpan dengan aman… aku menguburnya dalam tanah, jadi maafkan aku jika ini masih perlu dibersihkan lagi,” kata sang gisaeng negara sambil meletakkan peti itu di lantai.

“K-k-enapa kau menunjukkannya kepada kami, Lady Hyori?” tanya Chaerin. “Kau seharusnya tetap menyimpan itu—,”

“Suatu kehormatan bagiku untuk menyatakan kesetianku kepada kalian semua. Kuharap Ilwoo juga ada di sini bersama kita. Dan selama kalian membutuhkan aku untuk melindungi benda ini di sini, aku akan sangat bersedia. Kalian bisa memeriksanya.” Katanya sambil mengeluarkan kalung di lehernya yang tertutupi oleh pakaiannya, di sana tergantung sebuah kunci yang merupakan kunci dari peti.

“Well… Lady Hyori membeli peti ini beserta kuncinya dari seorang pedagang Cina tua. Peti kayu yang asli sudah rusak karena pelarian kami malam itu,” jelas Chaerin.

“Ini, Dara-ssi,” wanita itu menyerahkan kunci kepada Dara dengan tangan gemetaran, Dara menerimanya dan membuka peti.

Mereka semua mendesah penuh kekaguman. Semua halamannya sudah menguning, namun tulisan yang tergores masihlah tetap bisa dibaca dengan jelas. Sanghyun tersenyum kemudia meraih sebuah gulungan.

“Semua rakyat Joseon memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, tidak peduli pada kedudukan sosial, jenis kelamin, maupun usia.”

Dia menggigit bibirnya dan membentuk segaris tipis. Jika undang-undang ini dulu sempat disahkan, noona-nya pasti sudah akan berada di sekolah sekarang. Sanghyun lalu melirik ke arah Daeung yang sibuk meremas-remas jemarinya. Pria itu adalah seorang jenius. Dia harusnya juga berada di sekolah. Sayang sekali dia terlahir sebagai seorang budak.

Chaerin memaksakan sebuah senyuman dan meraih gulungan yang lain. Kali ini, dia melirik pada Lady Hyori.

“Semua gisaeng akan dipromosikan sebagai kontributor bagi pendidikan di bidang Kesenian dan Kebudayan dan akan menerima hak yang sama sebagaimana seorang wanita bangsawan. Musik dan Tari akan disertakan dalam pendidikan khususnya dalam lembaga pendidikan bagi wanita.”

“Aku sangat mengharapkan yang satu itu sebenarnya,” ungkap Lady Hyori.

“Sama denganku, unnie,” balas Chaerin.

Mereka terus membaca seluruh isi gulungan dengan ingatan akan Menteri Jung, Profesor Lee, dan Penasehat Park melintas dalam penglihatan mereka, membuat mereka bernostalgia akan apa yang seharusnya sudah mereka miliki sejak tujuh tahun yang lalu.

Dara mendesah. Ayahnya adalah seorang visioner. Dan Raja tidak pernah bersalah. Ketiga ayah mereka sangat mempercainya, kenapa dirinya sempat ragu?

Dara menggelengkan kepalanya, sampai wajah orang yang telah membunuh keluarganya kembali muncul dalam kepalanya dan dia melihat darah. Bagaimana bisa seseorang mengacaukan hidup milik orang lain? Bagaimana mungkin dia mendengerkan Choi dan menjalankan perintahnya?

Dia ingin membalas dendam dan dia ingin agar orang yang telah menindas mereka itu mati.

Namun kali ini, Dara meninginkan lebih. Sekarang dia mengeri apa yang telah ayahnya dan para abdi Raja lainnya korbankan.

Dan dia tidak akan menyia-nyiakan nyawa mereka menjadi terbuang begitu saja. dia ingin membuktikan tidak seorang pun yang bisa menghintikan apa yang seharusnye terjadi sejak tujuk tahun yang lalu. Gelungan-gulungan ini tidak hanya akan berakhir sebagai kertas dan tulisan belaka.

Dara akan mewujudkannya. Undang-undang ini harus disahkan.

“Noona, kau bilang kau berhasil mendapatkan nama-nama dari dokumen Putra Mahkota. Bisakah aku mendapatkan salinannya?”

“Tentu saja,” katanya sambil kertas yang dia simpan di balik lipatan pakaiannya di bagian dada. “Chaerin-ah, bisakah kau memberiku beberapa kuas dan beberapa lembar kertas?”

“Ini unnie. Aku juga akan mengambil buku catatan pegawai, yang kudapatkan dari putra Wakil Menteri Negara,”

Dara mulai menulis nama-nama itu secepat dan sebaik yang dia bisa. Dia juga menulis sebuah surat untuk Master Wu dan berjanji untuk mengijinkan Menteri Kim bisa masuk ke Istana Selatan esok hari. Dia tidak peduli jika Penjaga Gerbang akan melaporkannya pada Jiyong. Yang dia butuhkan sekarang adalah waktu untuk untuk mempertemukan kedua belah pihak— abdi Putra Mahkota dengan dua pengikut Raja yang masih tersisa.

**

Putra Mahkota dan pasukannya memutuskan untuk mendirikan perkemahan begitu mereka sudah dekat dengan kota utama di Provinsi Utara, mereka butuh beristirahat sebelum besok harinya memeriksa rakyat yang menjadi korban dan menilai apa yang sebenarnya terjadi. Musibah ini tidak seburuk yang dibayangkannya namun tetap saja hatinya sakit melihat keadaan rakyat.

Dia ingat kunjungannya dengan sang ayah di tempat ini tujuh tahun yang lalu. Dulu saat dirinya belum tahu apapun. Namun sekarang, matanya sudah terbuka lebar dengan semua korupsi dan diskrimanasi yang terjadi.

“Jeoha…” seorang pria tua memanggilnya, tak lama kemudian sampai di hadapannya begitu mereka memasuki klinik yang ramai. Mereka kekurangan obat, bahkan perawat dan tabib. Tapi mereka harus sedikit menunggu. Bala bantuan sedang dalam perjalanan.

“Ahjussi, minum obatmu, neh?”

“Ladang saya… ladang saya telah dibakar… hasil panen… semua yang sudah saya kerjakan dengan susah payah sia-sia. Jeoha… kami mohon berilah perhatian lebih untuk tempat ini. Saya sudah semakin tua dan saya akan segera menemui kematian. Setidaknya lakukan hal itu demi anak cucu saya,” kata pria tua itu dan Jiyong hanya bisa mengangguk dan memegangi tangan pria tua itu dalam genggamannya.

“Aku akan menyingkirkan semua orang jahat dari tempat ini. Aku berjanji,” katanya tersenyum.

Jiyong berdiri dan memeriksa keadaan sekelilingnya, melihat orang-orang saling berebut makanan, para ayah menolak makan demi memberikan makanan kepada anak-anak merea dan dia tidak bisa melakukan apapun selain merasa iba melihat kondisi mereka.

Tempat ini butuh banyak perhatian.

“Jeoha, semuanya sudah siap!” Seunghwan datang berlari ke sisinya dan Jiyong mengangguk.

“Aku ingin memberikan kejutan kepada Gubernur dan melihat apa yang sedang dia lakukan,” katanya dengan mata tersipit. “Bagaimana bisa dia membiarkan hal seperti ini terjadi begitu saja?”

“Jeoha… saya menerima laporan dari orang-orang kita yang memeriksa area ini. Kata mereka, ladang pertanian dirusak baru-baru ini saja.”

**

“Jeonha, jika kami menemukai bukti lebih, apakah Anda bersedia mendukung kami?” tanya Menteri Kim begitu akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menemui Raja.

“Hentikan ini, Menteri Kim. Kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri. Aku tidak bisa membiarkan kekacauan kembali lagi terjadi.” Jawab sang Raja pahit, lalu terbatuk dan menggosok dadanya.

“Tapi Jeonha…”

“Aku sudah lemah dan Raja yang tidak berguna bagi kalian. Aku bukanlah seorang pemimpin yang baik.”

“Jeonha, jangan menyalahkan diri Anda.”

“Tidak ada lagi harapan untuk pertarungan ini, Menteri Kim. Semakin kita mencoba melawan mereka, mereka akan semakin membuat kekacauan. Aku tidak bisa membiarkan hal seperti itu kembali terjadi. Tidak padamu. Tidak pada putraku,”

“Putra Anda telah melakukan penyelidikannya sendiri. Apakah Anda tidak tahu hal itu?” jawab Menteri Kim, rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat. “Ini karena beliau masih percaya bahwa kebenaran pasti akan membebaskan kita,”

“Putraku?”

“Dan hamba… bersama dengan Master Wu… kami sudah mendekati kebenaran. Izinkan hamba bekerja dengan putra Anda, Yang Mulia. Berikan restu bagi hamba dan yang perlu Anda lakukan hanyalah memeriksa laporan kami dan menandatanganinya dengan sepengetahuan Anda… jadilah saksi terakhir dan yang paling penting bagi kami, Jeonha. Jangan takut!”

“Menteri Kim… jika sesuatu terjadi pada putraku—,”

“Tidak akan terjadi apapun pada Putra Mahkota. Dia telah memilih orang-orang yang paling bisa diandalkan… termasuk putri mendiang Penasehat Park.” Akhirnya Menteri Kim memberitahukannya kepada Raja. Dia tidak bisa menahannya lagi.

“A-a-pa yang kau bicarakan?”

“Putra Mahkota akan menjadikannya sebagai Ratunya. Kami akan menjadikannya Ratu bagi Joseon. Hamba mohon, kami perlu Anda lebih kuat untuk terakhir kalinya saja – demi masa depan putra Anda. Juga demi keadilan bagi kematian ketiga pelayan setia Anda, Yang Mulia. Keluarga mereka. Hamba mohon, Jeonha. Mari kita lakukan ini.”

Raja memejamkan matanya, kenangan tentang Park Sandara di istana terngiang dalam kepalanya. Putranya. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhinya Jiyong berhasil menemukannya. Dan dia masih hidup. Dan dengan keyakinan yang tersirat penuh di wajah putranya, sang Raja mengingat bagaimana Jiyong kecil bersumpah untuk membuat Park Sandara sebagai Ratunya. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Ramalan itu… ramalan itu belum sepenuhnya terpenuhi. Karena jika ya… dia, Raja dari Joseon pastilah sudah mati. Dia mendesah. Sanggupkah dia menatap kematian sekarang?

“DImana Master Wu?” Raja menggertakkan giginya.

“Kami memiliki sebuah gudang tua, Jeonha. Dia tengah bersembunyi…”

“Dimana saksi-saksi yang kau bilang telah kalian dapatkan ini?”

“Hamba tidak bisa mengatakannya sekarang, Yang Mulia. Namun, tenanglah karena mereka semua aman dan cukup waras untuk memberikan kesaksian. Tapi kami tetap menyimpan semua catatan yang dibutuhkan.”

“Dimana Park… Sandara…”

“Dia ada di dalam Istana,” kata Menteri Kim membuat bibir Raja membentuk segaris tipis. “Dialah yang sekarang menjadi Komandan bagi pasukan pribadi Putra Mahkota,”

**

“Jadi akhirnya kau sudah tahu,” kata Harang duduk di sebelah Dara yang sedang sarapan esok harinya di dapur.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

“Master Wu punya alasannya sendiri. Apa menurutmu jika kalian berdua bersama… jika kita semua bersama dan tertangkap… apakah akan ada yang bisa bertahan?”

Dara tersenyum sembari meletakkan sumpitnya kemudian menatap bocah itu. Dia sekarang mulai mengerti kenapa Master Wu tiba-tiba saja pergi dan mengijinkan mereka pergi sendiri. Sanghyun membutuhkan bimbingan langsung dari Master Wu.

“Aku sangat bahagia, Harang-ah. Aku tidak sabar untuk melihat Penasehat Choi dan kroni-kroninya dipenjara, akhirnya mendapatkan balasan setimpal atas kejahatan yang telah mereka lakukan,”

Harang tersenyum dan kembali terdiam, meremas-remas jemarinya.

“Yah. Ayo. Makan bersamaku,” kata Dara berdiri dan baru akan mengambil mangkuk dan sumpit lain untuk Harang saat dia menyadari kegelisahan bocah itu.

“Yah, ada apa denganmu?”

“T-t-idak apa-apa… aku sedang tidak ingin makan.” Katanya membuat Dara menaikkan sebelah alisnya. “Noona… apakah sudah ada kabar dari Pangeran?”

“Tidak ada kabar apapun sampai sekarang, kenapa?”

Harang menarik nafas berat dan mengalihkan pandangan, alisnya saling bertautan seolah sedang memikirkan sesuatu untuk dikatakan.

“Harang? Katakan,” Dara mulai merasa cemas. “Ada apa?”

“Noona… aku mau mengatakannya padamu semalam tapi kau pergi keluar.”

“Kenapa? Apakah ada masalah?”

“Sebenarnya, Jeoha bicara padaku kemarin sebelum beliau pergi dan memintaku untuk mengawasimu. Beberapa penglihatan… muncul dalam kepalaku. Aku melihat sesuatu… meskipun tidak begitu jelas.”

“Sesuatu apa?” Dara mulai berjalan kembali mendekati Harang dan duduk di sampingnya. “Katakan padaku, Harang-ah,”

“Gelap… aku melihat matahari terbenam… dan aku melihat… darah. Banyak sekali darah…”

**

Profesor Dong, Profesor Choi, dan Bom berjalan tergesa menuju ke Istana seperti yang diperintahkan oleh sang Pangeran. Daesung akan menjemput Seungri dari universitas dan mereka akan menyusul siang nanti. Namun saat Dara menyambut mereka dengan muka masam, mereka segera menyadari ada sesuatu yang salah.

“Kenapa kau berpakaian seperti itu?” tanya Profesor Dong, terkejut melihat Dara tengah mengenakan baju pelindung seolah dia akan pergi berperang.

“Dara jangan berpikir kau bisa pergi!” Seunghyun memperingatkan. “Pangeran memerintahkan kami untuk memastikan bahwa kau tidak akan pergi—,”

“Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja,”

“Dara-ah… ada apa ini? Adikku bilang kau harus tetap tinggal di sini,” tambah Bom.

“Ada yang menghadang Putra Mahkota dan rombongannya di Utara. Harang mendapat penglihatan… saya rasa akan ada bahaya… nyawanya terancam… saya tidak bisa menjelaskannya dengan detail tapi saya mohon, saya tidak bisa mengambil resiko membiarkannya tinggal lebih lama di sana. Saya harus berada di sisinya sebelum matahari tenggelam.” Jawab Dara membuat Bom terkesiap kaget.

“Bagaimana bisa? Dia bersama dengan pasukannya…”

“Dara apa kau yakin?” tanya Seunghyun lebih jauh.

“Ya. Harang tidak pernah salah dengan instingnya. Aku harus pergi ke sana dan menemukan Pangeran. Aku harus melihat bahwa dia baik-baik saja.” katanya sambil meraih pedangnya dan busur serta anak panah.

“Sangat masuk akal. Waktunya sangat bertepatan dengan penobatan Putra Mahkota yang semakin dekat. Apakah ini sebuah jebakan?” tanya Profesor Dong.

“Tapi kau tidak boleh pergi sendiri. Setidaknya kau harus membiarkanku menemanimu,” kata Seunghyun yang kemudian menoleh kepada istrinya untuk meminta persetujuan.

“Biarkan Seunghyun menemanimu, Dara-ah…” katanya namun Dara berjalan mendekati Bom dan menggenggam kedua tangannya.

“Anda juga dalam bahaya, Putri Bom. Tolong, saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri jika sesuatu terjadi pada Anda saat Seunghyun oppa menemani saya. Saya akan baik-baik saja. Saya akan membawa beberapa orang pasukan.”

“Kalau begitu tolong bawa satu kompi pasukan bersamamu,” kata Profesor Dong.

“Aku akan membawa Harang bersamaku… dan sekitar dua puluh orang. Apakah itu cukup untuk membuat kalian semua tenang?” dia tersenyum pada mereka dan Seunghyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sepertinya kami benar-benar tidak bisa menghentikanmu.”

“Kuharap kau tidak mencobanya. Kau hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga, oppa,” Dara meringis pada mereka dan segera melangkah keluar dari kamarnya.

“Bisakah kita tetap tinggal di sini, Seunghyun-ah? Dengan begini kita bisa menerima kabar lebih cepat dibanding di rumah.” Usul Bom.

“Ya, mari kita tinggu Seungri dan Daesung,” Seunghyun setuju. “Yeobo… apakah Anda akan baik-baik saja di sini? Saya perlu bicara kepada Sekretariat Lokal dan Menteri Kim.”

“Aku akan baik-baik saja. Minzy sedang menuju ke mari. Lagipula, aku ingin menemui Appa.” Dia tersenyum.

**

“Aku lega kau membawa Snow saat kau datang ke mari,” Dara tersenyum pada Harang yang menunggangi kuda berwarna merah.

“Aku tahu kau sangat mencintainya. Tapi cintamu pada Pangeran jauh lebih besar sampai kau melupakan kuda malang ini,” goda Harang membuat bibir Dara merengut. Dara menarik nafas panjang dan memandang jauh ke depan sembari sedikit merundukkan badan, kemudian menendang bagian belakang tubuh kudanya.

“Snow! Ayo cepat! Tunjukkan padaku kemampuanmu, gadis pintar!” teriaknya pada kuda betina putih itu dan melaju cepat.

“Yah! Lebih cepat tuan-tuan! Kita tidak boleh membuang-buang waktu!” dia menoleh pada para pasukan langsung mengikuti komandan mereka.

**

Jiyong dan rombongannya memutuskan untuk tinggal di Balai Gubernur sementara waktu dan mereka disambut dengan persiapan besar— berbagai macam anggur dan makanan serta kamar-kamar nyaman yang membuatnya bertanya-tanya bagaimana bisa mereka mengetahui kedatangannya. Putra Mahkota meringis jijik.

Bagaimana bisa tempat ini terlihat begitu mewah sementara rakyat menderita?

Jiyong memutuskan untuk tenang dan beristirahat terlebih dahulu dan menemui Gubernur siang nanti.

“Suatu kehormatan Anda bersedia datang kemari, Jeoha, dan ijinkan saya menuangkan minuman untuk Anda,” kata sang Gubernur menuangkan anggur ke cangkir Pangeran.

“Terima kasih, tapi kuharap yang kulihat di kota dan di klinik bukanlah hal pertama yang menyambut kedatanganku.” Kata Jiyong. “Aku merasa sangat kecewa.”

Sang Gubernur menelan ludah dan berdeham, namun sebelum dia bisa berbicara Putra Mahkota sudah mengangkat tangannya, menghentikan apapun yang akan dikatakannya.

“Aku tidak butuh alasan apapun darimu, apapun alasan yang sedang kau pikirkan sekarang agar bisa keluar dari masalah ini, Gubernur. Aku ingin agar rakyat di tempat ini aman dan hidup nyaman seperti yang dikehendaki ayahku.”

“J-j-eoha… saya telah melakukan yang terbaik,”

“Benarkah? Apa kau mengatakan padaku bahwa inilah yang terbaik yang bisa kau lakukan? Duduk di sini sementara rakyat menderita? Apa kau bahkan mencoba menyelidiki musibah yang sedang terjadi? Apa kau pernah keluar dan melihat berapa besar kerugian yang mereka terima? Kau sama sekali tidak tahu apapun!”

“Jeoha, orang-orang saya sudah melakukan penyelidikan,” balas sang Gubernur.

“Benarkah? Orang-orangku tidak pernah melihat satu pun bayangan dari orang-orangmu di ladang! Dan berdasarkan hasil penyelidikan orangku, sepertinya api pertama baru muncul kemarin, sebelum kami sampai ke mari. Dan itu di mulai dari ujung timur, dekat gunung. Apakah kau ingin menyalahkan mereka yang tidak berada di dalam daerah kekuasaanmu? Menyalahkan mereka yang tinggal di gunung dan tidak menganggapmu sebagai pemimpin mereka?”

“Itu tidak benar, Jeoha…”

“Mungkinkah, kau sudah semakin tua dan tidak sanggup lagi memimpin tempat ini, Gubernur?”

“Aigoo, Jeoha… t-t-olong, tenanglah dan lupakan masalah ini sejenak. Kami tidak ingin Anda memusingkan masalah yang tidak penting,”

“TIdak penting? Kau berada di posisimu sekarang ini yang tidak penting! Lakukan sesuatu soal ini dan aku perlu menemukan siapa yang bertanggung jawab telah membakan ladang-ladang dan mata pencahatian rakyat, atau kau harus mengucapkan selamat tinggal pada posisimu. Ayahku telah memberiku kewenangan untuk melakukan itu dan jika kau tidak sanggup, kau akan menghadapi masalah serius!” Jiyong mendelik pada pria yang berdiri di hadapannya kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

“Bantuan akan datang nanti malam. Aku dan rombonganku masih akan berada di sini sampai besok.” Kata JIyong sebelum sepenuhnya meninggalkan pria yang kini mendidih menahan amarah.

Jiyong langsung menarik nafas dalam begitu akhirnya keluar dari ruangan yang baginya menyesakkan itu dan menatap langsung yang telah berubah oranye. Sebentar lagi, matahari akan tenggelam dan beberapa orangnya masih belum sampai. Dia mulai merasa cemas.

“Hong!” panggilnya pada pria berbadan tegap yang agak dibencinya karena selalu bersikap akrab pada Dara.

“Yeh, Jeoha,”

“Siapkan kudaku. Aku ingin melihat kenapa yang lain belum juga kembali,” kata Jiyong mengedikkan kepalanya ke tempat dimana mereka menambatkan kuda-kuda. Hong pun segera menurut dan tak lama kembali dengan seekor kuda jantan berwarna hitam.

“Ambil kudamu, kau akan ikut bersamaku,” kata Jiyong melompat naik ke punggung kuda. Dia lalu memberikan sinyal kepada Seunghwan untuk mendekat.

“Kau jaga tempat ini selama aku pergi. Aku akan menemukan yang lainnya,”

“Saya mohon, berhati-hatilah, Jeoha… Anda tahu apa yang terjadi kepada Anda di tempat ini sebelumnya,”

“Aisht, dasar pengecut! Aku akan baik-baik saja. Dan kuharap kau memberikan laporan padaku begitu aku mebali nanti,”

**

Berkuda kembali menuju ke sisi timur, Jiyong dan Hong mencoba untuk menemukan pasukan yang diperintahkan untuk mengambil barang-barang kebutuhan dan membawanya makanan serta obat-obatan ke klinik.

“Jeoha, lihat!” kata Hong sambil menunjuk ke arah pegunungan. “Mereka di sana!”

Ternyata pasukan itu tengah mengawal sebuah keluarga naik ke sebuah kereta terbuka dan Jiyong akhirnya bisa mendesah lega. Tempat ini mengingatkannya pada sebuah mimpi buruk dan dia tidak ingin kembali mengalami kejadian serupa bertemu dengan penjagat.

“Cepat, bawa mereka ke klinik agar kita bisa segera kembali. Lebih cepat lagi tuan-tuan! Matahari akan segera tenggelam! Aku akan menemaninya kalian kemudian kita akan sama-sama kembali ke Bagai Gubernur,” jelas Jiyong sambil menarik tali kekang kudanya ke arah lain.

“YEH JEOHA!!!” pasukannya segera membantu anggota keluarga terakhir untuk naik ke kereta lalu mereka sendiri naik ke atas punggung kuda masing-masing, tapi tiba-tiba saja kuda-kuda di barisan depan mulai meringik keras dan berbalik mundur.

“Whoa, tenang! Tenang!” para prajurit mencoba menenangkan kuda-kuda mereka yang mulai gelisah. Mereka bisa mendengar suara derap langkah dari kejauhan menuju ke arah mereka.

“ADA PENYERANG!” teriak Hong sementara detak jantung Jiyong mulai bertalu dalam dadanya seperti alarm tanda bahaya.

“AMANKAN ORANG-ORANG YANG BERADA DI DALAM KERETA! POSISI BERTAHAN! POSISI BERTAHAAAAN!!!” perintahnya dan serbuan anak panah mulai menghujani mereka.

“LINDUNGI PUTRA MAHKOTA!!!” perintah Hong kepada para prajurit yang mengambil posisi bertahan di hadapannya, sebelum melihat ke belakang dari mana serbuan anak panah berasal.

Jiyong hanya bisa menyaksikan semua terjadi di depan matanya penuh perasaan ngeri, beberapa kuda mereka terluka dan prajurit berusaha berlindung di balik tameng mereka. Dia menoleh dan melihat anak-anak di dalam kereta gemetar ketakutan dan dia mulai menggenggam pedangnya erat.

Dia tidak akan pernah membiarkan hal yang sama terjadi lagi. Tidak lagi, tidak seorang pun dari prajuritnya boleh mengalami nasib yang sama seperti dulu. Dia menganggukkan kepalanya kepada anak-anak itu, seolah ingin meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja; matahari yang berada di belakang mereka mulai ditelan pegunungan.

“SEMUANYA, MUNDUR!!!” perintahnya sebelum dia menarik tali kekang dan menendang kuda jantannya lalu melaju ke sisi timur bukit.

“Hong!” serunya sembari memberi isyarat untuk mundur, namun sebuah anak panah mengenai kuda Hong, membuat hewan itu melompat sebelum akhirnya terjatuh, menyebabkan Hong harus berguling di tanah.

“HONG!!!” teriak Jiyong dan segera prajuritnya itu dibantu berdiri dan mereka pun membentuk posisi bertahan.

“JANGAN TINGGALKAN SAUDARAMU! TIDAK AKAN ADA SEORANG PUN YANG MATI! ITU ADALAH PERINTAH! AKU BERSUMPAH AKAN MEMBURU KALIAN SAMPAI DI ALAM KEMATIAN JIKA KALIAN MELANGGAR PERINTAHKU!!!” bentaknya kepada pasukannya yang mulai berpencar panik ke segala arah.

“Omma! Appa!” anak-anak mulai menangis ketakutan sementara para orang tua berusaha untuk menenangkan mereka. Jiyong merasa hatinya diremas melihat ketakutan jelas nyata tampak di mata anak-anak itu.

Dia menatap ke depan dan sebelum dia sempat berpindah, sebuah anak panah mengenai kudanya hingga membuat hewan itu melompat tinggi dan sudah terlambat baginya. Dia jatuh dengan keras.

“JEOHA!!!” para prajurit langsung melompat turun dari kuda mereka masing-masing untuk membantu membangunkan Jiyong dan tiba-tiba saja, hujan anak panah yang menyerbu mereka mulai berkurang dan sesaat kemudian benar-benar berhenti; hanya tinggal suara rintihan yang terdengar dari sisi lain bukit.

**

Dara POV

 

“Komandan! Lihat!” aku memandang ke depan dan melihat Jiyong beserta pasukan yang dibawanya di ujung sana. Kami hanya perlu melewati lembah kedua bukit ini agar aku bisa sampai kepadanya.

Aku mendesah lega saat melihat matahari perlahan tenggelam di belakangnya. Aku datang tepat pada waktunya. Aku menemukannya tepat pada waktunya.

Kami hanya tinggal melewati jalan gelap yang disebabkan oleh bayangan dua bukit saat ratusan anak panah mulai ditembakkan ke arah mereka. Mataku melebar ngeri namun pikiran rasionalku mulai berdungsi. Aku turun dari kuda betinaku, Snow, dan memberikan tanda kepada pasukan yang ikut bersamaku untuk melakukan hal serupa. Kami berlari mendaki bukit, aku membawa dua puluh orang bersamaku dan juga Harang. Kami berpencar menjadi dua, Harang dan sepuluh orang prajurit di sisi bukit yang lain, aku dan sepuluh sisanya di sini. Ini bukanlah pertarungan yang berat. Tidak ada yang perlu di takutkan.

Namun dibalik wajah beraniku ada hati seorang wanita yang mencemaskan kekasihnya. Aku terus berdoa kepada langit.

Lindungilah dia.

Aku memeriksa seluruh area dan menyadari orang-orang itu bukanlah penduduk daerah ini. Aku tahu pasti. Aku tinggal di sini selama tujuh tahun lamanya. Aku memiliki perasaan buruk tentang para penyerang ini.

Aku meraih sebatang anak panah dan mengarahkannya pada pada bajingan pertama yang sangat bersemangat menembakkan senjata tajamnya ke arah Pangeran. Aku menarik busur dan dengan presisi yang tepat, orang itu sudah terguling di tanah. Tak lama, pasukanku mulai menghujani mereka dengan anak panah dan saat aku yakin sudah aman bagi kami semua untuk bergerak, aku berlari secepat mungkin untuk melihat mereka dan genangan darah ada di mana-mana. Pandanganku berubah merah, dan aku mulai mengayunkan pedangku ke segala arah seperti wanita gila dan untuk pertama kalinya, aku membunuh dengan brutal. Darah terciprat ke wajah dan tubuhku. Tapi aku tidak takut. Aku tidak peduli jika mereka mati di hadapanku.

Mereka berani untuk membunuhnya. Maka aku bersedia membunuh demi dirinya.

Siapapun yang ada di balik rencana ini akan selama kuhantui. Aku hanya berharap ini bukan rencana dari Penasehat Choi. Aku mungkin akan melupakan Seunghyun oppa. Aku mungkin akan membunuh ayahnya dengan tanganku sendiri.

Apa belum cukup dia sudah merencanakan pembunuhan tiga keluarga? Kenapa sekarang dia pun mengincar Putra Mahkota?

Aku tidak menyadari air mata membanjiri wajahku sampai kurasakan sepasang lengan memelukku dari belakang.

Rupanya itu Harang, dia menangis di belakangku.

“Noona! Cukup! Kumohon! Sudah cukup!”

Aku melihat sekeliling dan melihat pasukanku menundukkan kepala mereka. Aku melihat kebawah, mengikuti pandangan mereka dan aku terkesiap melihat mayat-mayat bergelimpangan. Aku melepaskan peganganku pada pedang dan membiarkan benda itu jatuh begitu saja.

Aku membunuh orang-orang itu. Tapi aku mencoba melawan kelemahan yang perlahan melahapku.

Tempat ini sudah aman. Apakah Putra Mahkota selamat?

Perlahan aku berjalan menuruni bukit tanpa memikirkan bagaimana penampilanku. Semua yang kubutuhkan adalah keselamatannya.

Aku berjalan… setengah berlari… setengah berjalan… sampai aku melihat Hong dan para prajurit lain membantu Jiyong berdiri.

Hatiku serasa diremas kuat dan kemudian aku mendapati diriku berlari ke sisinya.

Aku meraih tubuh Jiyong dari Hong, mencengkeram jubahnya, memeriksa tubuhnya… wajahnya, mencoba mencari luka dan saat aku menatapnya, yang kulihat adalah ketakutan yang tersirat jelas di wajahnya. Tubuhnya mulai gemetaran.

Tapi aku tersenyum lemah. Dia selamat. Aku merasa paru-paruku memompa kuat udara untuk mengisi kekosongan yang tidak kusadari. Aku mulai bernafas cepat. Aku sama sekali tidak terluka, bagaimana bisa? Tidak… tidak… aku masih ingin melihat Jiyong. Aku mencoba melawan kekuatan yang seolah menghisap jiwaku lepas dari ragaku.

Namun sia-sia saja aku mencoba bertahan.

Dan hal terakhir yang kurasakan adalah tangan Jiyong di wajahku. Hal terakhir yang kudengar adalah suaranya yang meneriakkan namaku.

Dan hal terakhir yang kulihat adalah berkas sinar terakhir dari matahari dan kemudian semuanya menghilang, menutupi pandanganku dan aku pun tenggelam dalam kegelapan.

**

<< Previous Next >>

Advertisements

118 thoughts on “The King’s Assassin [38] : Sunset

  1. Wahh dara unnie kenapa tuhh, semoga cuma pingsan aja nggak ada luka serius yg lain. Capt 39 nya pake pw yahh? blh minta pw nggak, authornim? kirim ke fb aja : Bernadette Michelle ato nggak twitter : bernadettemvs_
    terimakasihh

  2. Kekuatan cinta daragon,nggak nyangka dara bisa seberani itu,yukur jiyongnbisa selamat tapi apakah dara akan dihukum lagi gara2 nggak nurutin perintah jiyong?kira2 hukumannya apa?jadi penasaran

  3. onni pinta Pw.y part 39 40 ff.y bagus plisss onni, aku lgi suka nih sma daragonnnnn
    kirim ke fbKu Y namanya Ryeana Yeoja K-pop
    gomawoyo😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s