My Boy #8 – End

my boy

Author          : Sponge-Y
Main Cast     : Kwon Jiyong & Sandara Park
Support Cast: Park Bom, Big Bang member
Genre            : Romance

Sandara POV

“Bom, kajja. Kita harus ke bandara sekarang.” Kataku sambil menarik Bom dan berjalan keluar.

“Dara. Naik mobilku saja.” Katanya langsung menarikku kearah parkiran mobilnya. Aku benar- benar menyukai sahabatku ini. Tanpa pikir panjang lagi aku dan Bom naik ke mobil dan berjalan menuju kearah bandara.

“Ya! Bisakah kita lebih cepat lagi? Kita mungkin akan terlambat.” Gerutuku.

“Kamu lihat ini Dara, kecepatannya sudah 90 km/jam.” Balasnya sambil menunjuk ke arah speedometer. Ternyata benar, kecepatannya sudah 90 km/ jam. Tapi kenapa rasanya mobil ini berjalan lambat sekali.

“Bomie-ah, bagaimana jika Jiyong benar- benar pergi ke Amerika?” Tanyaku dengan suara pelan. Hanya membayangkannya saja sudah membuat hatiku terasa nyeri.

“Dara, kamu bisa mencegahnya. Aku yakin kita akan sampai di bandara tepat watu.” Katanya meyakinkanku.

“Lalu bagaimana jika kita terlambat?” Tanyaku lagi.

“Ya! Kamu harus yakin! Paling tidak kita sudah berusaha!” Bentaknya. Aku hanya diam sambil menundukkan kepala.

“Dara-yah, percayalah. Jiyong tidak akan meninggalkanmu.” Katanya lagi. Aku tahu, Bom hanya berusaha untuk menghiburku kali ini.

“Ne.” jawabku pelan.

Beberapa menit kemudian akhirnya kami sampai di bandara. Begitu Bom menghentikan mobilnya, aku langsung keluar tanpa menunggunya dulu. Yang terpenting sekarang adalah Jiyong. Dia tidak boleh pergi ke Amerika. Aku berlari masuk ke bandara dan berkeliling mencari Jiyong. Aku tidak peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang di bandara ini. Tapi dimana Jiyong? Bagaimana jika aku sudah terlambat? aku berlari menuju ke bagian informasi untuk menanyakan sesuatu.

“Permisi, apakah pesawat tujuan Amerika sudah berangkat?” tanyaku kepada pegawai yang berada di bagian informasi. Dia lalu memeriksanya.

“Belum. Masih 25 menit lagi.” Katanya.

 Mwo? 25 menit lagi? Aist.. ini benar- benar membuatku gila. Aku langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan terima kasih lebih dulu. Aku berlari sambil mengedarkan pandanganku ke penjuru bandara untuk mencari Jiyong. Tapi tetap saja aku tidak dapat menemukannya. Aku lalu mengambil handphoneku dan mencoba untuk menghubunginya. Tapi tidak ada jawaban. Harusnya aku tahu itu, dia tidak mungkin menjawab teleponku.

Aku benar- benar kacau sekarang. Kulirik jam tanganku dan ternyata aku menghabiskan waktu 5 menit hanya untuk mencari Jiyong. Itu artinya hanya tersisa 20 menit lagi sebelum keberangkatan pesawatnya.  Bagaimana ini? Jangan-jangan Jiyong sudah berada di pesawat. Aku hampir putus asa sekarang. Tidak Dara, kamu tidak boleh menyerah.

“Kenapa kamu datang kesini?” Tanya seseorang dari belakangku. Kukira aku sangat mengenal suara ini. Aku lalu berbalik dan melihat Jiyong yang kini sudah berada di hadapanku.

“Ya! Kamu pikir kamu mau pergi kemana?” bentakku.

“Aku akan ke Amerika.” Balasnya dengan tatapan dingin.

“Mwo? Kenapa tiba-tiba?” tanyaku lalu berjalan mendekatinya.

“Mianhe.”

“Ya! Kamu tidak boleh pergi begitu saja.” Kataku sambil memegang tangannya.

“Tapi ini sudah keputusanku.” Keputusannya dia bilang? Lalu apakah keputusannya adalah untuk meninggalkanku?

“Untuk berapa lama?” Tanyaku dengan suara parau. Tidak Dara, jangan menangis. Jiyong pasti hanya pergi sebentar saja.

“Aku sendiri tidak yakin. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan.” Tahun?? Dan dia mengatakannya dengan ekspresi tanpa dosa seperti itu?

“Ji, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kamu harus pergi?” Tanyaku meminta penjelasan darinya. Kali ini aku tidak bisa menahan air mataku lagi , aku bahkan tidak peduli jika Jiyong melihatnya.

“Mianhe Dara, tapi aku tidak bisa menjelaskannya padamu.” Katanya lalu menarikku ke dalam pelukannya.

“Kumohon Ji, jangan pergi.” Tangisku pecah dan aku semakin terisak di pundaknya. Sungguh, aku tidak ingin kehilangannya.

“Tapi aku tidak bisa.” Katanya sambil memeluku lebih erat. Suasana menjadi hening dan yang terdengar hanya isakan tangisku.

“Lalu bagaimana dengan hubungan kita?” Aku memberanikan diri bertanya tentang ini. Walaupun aku tahu, jawabannya pasti akan menyakitkan.

“Kurasa kita tidak bisa melanjutkannya lagi.” Jawabnya lalu melepaskanku dari pelukannya.

“Dara-yah, mianhe. Tapi kamu harus bisa melupakanku.” lanjutnya sambil menangkup wajahku menggunakan kedua tangannya. Melupakannya? Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan sangat mudah?

“Dasar bodoh. Aku tidak yakin bisa melakukannya.” Aku memberanikan diri untuk menatap matanya. Mata itu……. tidak bisakah aku menatapnya lebih lama lagi? Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibirku. Rasanya manis, juga sangat menyakitkan.

“Saranghae Dara, Jeongmal saranghae.” Katanya setelah melepaskan bibirnya dari bibirku. Berani-beraninya dia bilang bahwa dia mencintaiku sedangkan sebentar lagi dia akan meninggalkanku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran namja ini. Tak lama kemudian terdengar pengumuman,

“Penumpang pesawat tujuan Amerika dimohon untuk segera naik ke pesawat karena pesawat akan segera berangkat”.

“Mianhe Dara. Aku harus pergi.” Katanya lalu melepaskan tanganku dan berbalik meninggalkanku. Aku mengutuk diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menahannya. Sekarang dia benar-benar pergi. Dia meninggalkanku. Aku terduduk lemas dan terus menangis sambil melihat punggungnya yang berjalan semakin jauh. Kenapa semua ini harus terjadi?

“Dara-yah, gwenchanayo?” Tanya Bom menghampiriku.

“Dia pergi. Jiyong meninggalkanku.” Kataku disela- sela tangisanku.

“Gwenchana, Dara. Kajja kita pulang, tidak ada gunanya lagi kita disini.” Kata Bom mengajakku pulang. Bom benar, meskipun aku akan menangisinya disini seharian Jiyong tidak mungkin akan kembali lagi.

—-

Jiyong POV

Kenapa Dara harus datang? Padahal aku sengaja untuk tidak memberitahunya bahwa aku akan pergi ke Amerika. Karena aku tahu jika melihatnya menangis seperti ini, pasti akan semakin berat bagiku untuk meninggalkannya. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus pergi meninggalkan Korea dan melanjutkan hidup di tempat lain. Itulah keinginan Appa.

Flashback

“Kamu akan pergi ke Amerika siang ini. Aku sudah menyiapkan semuanya.” Kata Appa tiba- tiba.

“Mwo? Kenapa tiba-tiba?” Tanyaku. Apa yang dia pikirkan? Kenapa tiba-tiba dia menyuruhku pergi ke luar negeri?

“Aku juga sudah mengurus surat kepindahan kuliahmu. Kamu akan melanjutkan kuliah di Amerika.”

“Aku tidak mau. Aku akan tetap tinggal di Korea.”

Plaakkk!! Lagi- lagi dia menamparku.

“Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak bisa terus berada di Korea.”

“Wae?” tanyaku dingin.

“Berita tentangku telah menyebar dengan cepat. Jika kamu terus berada di Korea, mungkin statusmu sebagai anak yang tidak sah akan terungkap.Jadi kamu hanya perlu melanjutkan hidupmu di Amerika sampai keadaan menjadi normal kembali.”

Mwo? Jadi maksudnya dia ingin menyembunyikanku?

“Kamu adalah pewaris tunggal K-group. Aku tidak mau semua orang tahu bahwa kamu adalah anak haram.” Cihh… apa peduliku?

 “Maaf tapi aku tidak bisa. Aku akan tetap tinggal disini.” Kataku dingin sambil melangkah pergi.

“Kumohon, turuti perintahku kali ini. Aku melakukannya demi kebaikanmu juga.” Kata Appa tiba-tiba. Aku menghentikan langkahku dan berbalik menatapnya. Apa aku tidak salah dengar? Dia memohon kepadaku?

“Aku janji, lain kali aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi kali ini, aku minta pergilah ke Amerika.” Lanjutnya lagi.

“Apakah tidak ada cara lain? Aku tidak ingin pergi ke Amerika.”

“Tidak ada.” Katanya singkat. . Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku pergi? Lalu bagaimana dengan Dara?

“Jiyong?”

“Baiklah aku akan pergi.”

Flashback End

“Mianhe Dara. Aku harus pergi.” Kataku sambil melepaskan tangannya dan berbalik meninggalkannya. Aku tidak boleh goyah. Aku hanya perlu meninggalkannya dan melanjutkan hidupku dengan tenang di Amerika. Aku tahu aku telah menyakiti Dara. Tapi tahukah dia, jika bukan hanya dia yang merasakan sakit? Mati-matian aku menahan air mata ini agar tidak keluar. Aku tidak ingin Dara melihatku menjadi seseorang yang lemah. Aku hanya akan mengabaikan rasa sakit ini dan membiarkan Dara mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku.

—-

Dara POV

Bom menghentikan mobilnya di depan apartemenku. Kali ini aku sudah tidak menangis lagi, mungkin karena aku sudah terlalu lelah.

“Dara-yah, kamu ingin kutemani?” Tanya Bom khawatir.

“Anni. Aku hanya ingin sendiri saat ini.” Jawabku dengan senyum terpaksa. Aku hanya tidak ingin Bom mencemaskanku.

“Kamu yakin?”

“Ne.” Kataku lalu keluar dari mobilnya. Sebenarnya aku malas pulang ke rumah. Tapi kemana lagi aku harus pergi?

Aku membuka pintu apartemenku dan melangkah masuk. Hari ini benar- benar membuatku lelah. Aku berjalan menuju kamar dan merebahkan tubuhku di tempat tidur. Jiyong. Lagi-lagi aku teringat namja itu. Kenapa dia harus meninggalkanku? Kenapa dia harus pergi padahal aku baru saja menyadari bahwa aku mencintainya. Seandainya aku sadar dan mengatakannya lebih awal, pasti akan ada waktu lebih lama untuk bersamanya.

Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Kejadian semalam terlintas kembali di benakku. Rasanya baru tadi malam aku merasakan manis lembut bibirnya dan kehangatan tubuhnya. Aku ingin merasakannya sekali lagi, tapi kenyataannya itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan pernah bertemu dengan Jiyong lagi. Aku kembali menangis saat menyadari kenyataan ini. Sampai kapan aku harus menangisinya? Apa yang harus aku lakukan agar dia kembali lagi? Arrrgggghhhh….. aku mengacak rambutku frustasi. Kenapa semua ini terjadi begitu cepat? Bahkan Jiyong bisa membuatku jatuh cinta sekaligus sakit hati dalam waktu kurang dari sebulan. Tapi kenapa semua ini harus terjadi?

Bom POV

Sudah dua minggu berlalu sejak Jiyong pergi ke Amerika. Dan aku muak melihat Dara terus-terusan bersikap seperti ini. Dia hanya berangkat kuliah, melamun jika dosen sedang menjelaskan di depan kelas, dan setelah itu dia pulang untuk mengurung diri di apartemennya. Aku sudah membujuknya berkali-kali, tapi tetap saja dia tidak bergeming. Ya! Apakah dia sangat mencintai namja brengsek itu? Apa di dunia ini tidak ada namja lain selain Kwon Jiyong? Aku benar-benar akan membunuhnya jika dia kembali nanti.

“Ya! Dara. Kamu mau langsung pulang?” Tanyaku ketika dia sedang membereskan barang- barangnya.

“Ne.” Jawabnya singkat tanpa menoleh kepadaku.

“Bagaimana kalau kita makan es krim dulu?”

“Mianhe, Bom. Tapi aku sedang tidak ingin sekarang.” Katanya lalu pergi meninggalkanku. Selalu saja begini. Arrrgghhhh…… apalagi yang harus kulakukan padamu Dara?

“Chagiya, kamu belum pulang?” Tanya Seunghyun menghampiriku.

“Belum.” Jawabku sambil cemberut.

“Hei, ada apa? Kenapa kamu cemberut begitu?”

“Molla. Dara selalu berhasil merusak moodku.”

“Karena Dara lagi? Mungkin dia hanya butuh waktu untuk melupakan Jiyong, chagiya.”

“Tapi apa dia pikir namja di dunia ini hanya Kwon Jiyong saja?”

“Chagiya, itulah cinta. Mungkin aku akan seperti Dara jika kehilanganmu.” Katanya sambil mencubit pipiku.

“Ya! Seunghyun-ah. Itu sangat menjijikkan.”

Dara POV

Aku bingung dengan apa yang terjadi pada diriku sendiri. Sampai kapan aku akan seperti ini? Bahkan sampai saat ini aku tidak tahu apa alasan Jiyong pergi ke Amerika. Aku merindukannya. Aku sangat merindukan Jiyong. Aku membutuhkannya sekarang. Jadi beginikah rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai?

“Dara-yah.” Aku mendengar seseorang memanggilku. Aku menoleh dan ternyata Donghae oppa. Kemana saja dia akhir- akhir ini? Kenapa aku baru melihatnya?

“Dara, bisakah kita bicara sebentar?”

“Oppa, ada apa?”

“Tapi sepertinya kita tidak bisa bicara disini. Kajja kita bicara di kantin saja.” Katanya lalu mengajakku pergi.

Kita sudah sampai di kantin. Donghae oppa menyuruhku duduk sedangkan dia pergi untuk memesan makanan. Kantin ini. Ini adalah tempat dimana pertama kali aku bertemu Kwon Jiyong. Aku teringat kembali di hari dimana Jiyong membentakku dan membuang makananku di lantai. Dia terlihat sangat menyebalkan dan aku benar-benar membencinya. Tapi kenapa aku harus membencinya dulu jika akhirnya aku akan mencintainya?

“Ini makananmu.” Kata donghae oppa membuyarkan lamunanku.

“Gumawo oppa.”

“Makanlah. Kamu kelihatan semakin kurus.” Godanya.

“Jinjja? Ah.. mungkin hanya perasaanmu saja.” Balasku dan dia hanya tertawa kecil. Donghae oppa tidak pernah berubah, dia selalu bisa membuatku nyaman jika berada di dekatnya.

“Oppa. Apa kamu mendengar kabar dari Jiyong?” Tanyaku tiba- tiba.

“Anni. Sejak dia pergi aku tidak bisa menghubunginya lagi.”

“Emm.. jadi begitu.” Kataku sedikit kecewa. “Tapi kenapa tiba-tiba dia pergi ke Amerika?” Lanjutku.

“Itu keinginan Appanya. Appanya menyuruhnya pergi ke Amerika dan melanjutkan kuliah disana.” Jadi appanya yang memaksanya pergi ke Amerika?

“Kamu tahu sendiri kan bagaimana Appanya Jiyong itu? Aku harap kamu bisa mengerti Dara.” Lanjutnya.

“Ne, oppa. Aku mengerti. Mungkin aku dan Jiyong tidak ditakdirkan untuk bersama.”

“Kamu harus bisa melupakannya Dara.”

“Aku akan berusaha oppa. Tapi kemana saja kamu akhir-akhir ini? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?” Tanyaku penasaran.

“Aku hanya ingin menghindarimu.”

“Mwo? Kenapa kamu harus menghindariku?”

“Aku ingin melupakanmu.” Katanya sambil menatap tajam kearahku.

“Kukira jika aku menghindarimu, aku bisa dengan mudah melupakanmu. Tapi ternyata itu sulit. Perasaanku sama sekali tidak berubah.” Lanjutnya dengan senyum terpaksa.

“Oppa, mianhe. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu.”

“Aku tahu itu Dara. Tapi apakah kamu tidak ingin memberiku satu kesempatan?” Mwo? Kenapa Donghae oppa harus bertanya seperti itu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

“Mianhe, oppa. Jeongmal mianhe. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak yakin bisa melupakan Jiyong.” Jawabku ragu-ragu.

“Ah.. aku benar- benar keterlaluan Dara. Mianhe, jangan pikirkan lagi kata-kataku tadi, neh?”

“Aku yang seharusnya meminta maaf oppa. Kuharap kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku.” Kataku sambil menggenggam tangannya.

“Gumawo, Dara-yah.”

—-

4 Tahun Kemudian

Sandara POV

Tidak terasa waktu berjalan semakin cepat. Sudah empat tahun lamanya sejak kepergian Jiyong waktu itu. Sekarang aku sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi di Seoul. Appa dan Eommaku juga sudah kembali dari Prancis dan tinggal disini. Aku meninggalkan apartemenku yang dulu dan tinggal bersama orang tuaku di rumah yang baru. Bom dan Seunghyun sudah menikah tahun lalu dan sekarang Bom sedang hamil tua. Aku tidak menyangka Bom akan mendahuluiku seperti ini. Sedangkan Donghae oppa, sudah memiliki tunangan seorang yeoja yang cantik. Katanya, namanya adalah Yuri. Mereka berencana menikah bulan depan. Semuanya berubah dengan begitu cepat. Aku senang, melihat orang- orang yang aku sayangi hidup dengan bahagia. Tapi bagaimana dengan diriku sendiri? Kenapa perasaan ini tidak pernah berubah? Jujur, sampai sekarang aku belum bisa melupakan namja brengsek itu. Aku masih menunggunya dan berharap dia akan kembali lagi. Tapi mungkinkah itu? Bagaimana jika penantianku selama ini sia- sia? Bagaimana jika dia telah menikah dengan yeoja lain? Bisakah aku menerimanya?

Eomma sering mengomeliku karena belum juga mendapatkan namjachingu di usia yang sudah tidak muda lagi. Bahkan dia berkali- kali menjodohkanku dengan anak dari teman- temannya. Dia juga sering merencanakan kencan buta untukku. Tapi tidak ada satupun namja yang menarik perhatianku. Menurutku mereka semua sama saja, bersikap sok cool dan suka memamerkan hartanya. Benar- benar membuatku muak.

“Dara-yah, siapa namja yang tadi malam mengantarkanmu pulang?” Tanya eomma ketika kita sedang makan siang di rumah. Ini adalah akhir pekan, jadi aku tidak berangkat kerja.

“Namja? Tadi malam aku diantar Chaerin, teman kantorku. Dan dia itu seorang yeoja.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari makanan yang ada di piring.

“Mwo? Jadi bukan namja yang mengantarkanmu?”

“Anni.” Balasku cuek.

“Aigoo.. Dara-yah. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Kamu lupa sudah berapa usiamu sekarang? Bahkan teman- temanmu sudah banyak yang menikah.” Aisht.. Eomma mulai lagi.

“Ne Eomma. Jika sudah waktunya pasti aku akan menikah. Jadi, jangan mengkhawatirkanku, neh?”

“Tapi kapan?”

“Mollayo.”

“Ya! Dara! Sudah waktunya kamu memikirkan tentang masa depanmu.”

“Aigoo Eomma. Aku sedang tidak ingin membicarakannya. Aku hanya ingin makan dengan tenang.”

“Nanti malam pergilah, aku sudah menyiapkan kencan buta untukmu. Dan kali ini jangan membantah lagi.”Kata Eomma tiba-tiba.

“Mwo? Kencan buta lagi? Ayolah Eomma.. aku sudah bosan melakukan itu.” Rengekku.

“Sekarang pergilah ke butik untuk membeli baju dan setelah itu pergilah ke salon. Nanti Eomma kabari tempat untuk kencan butamu.” Katanya tanpa mempedulikan rengekanku.

“Mwo? Sekarang?”

“Ne. Kalau kamu tidak mau Eomma akan memaksamu menikah dengan namja pilihan Eomma. Tidak peduli jika kamu menyukainya apa tidak.”

“Arasso.” Kataku dengan terpaksa lalu bangkit dan beranjak ke kamar. Baiklah, kali ini akan kuturuti keinginan Eomma. Tapi jangan harap lain kali aku akan melakukannya lagi.

Sekarang aku sedang berada di sebuah kafe. Aku memakai dress putih selutut dan dibalut dengan blezer merah muda. Sedangkan rambutku kubiarkan tergerai dan aku menggunakan make up senatural mungkin. Penampilanku memang sangat sederhana, tapi kurasa itulah yang membuatku terlihat cantik, kekeke.

Tapi tunggu. Kenapa Eomma harus memilih kafe ini untuk kencan butaku? Ini adalah kafe kesukaan Jiyong. Empat tahun yang lalu, jiyong mengajakku makan es krim disini. Dan di tempat ini juga dia pernah berjanji bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aisht.. lagi-lagi aku teringat namja itu. Dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Apa dia masih mempunyai perasaan yang sama sepertiku? Sadar Dara. Ini tidak saatnya untuk memikirkan Jiyong lagi.

Sepertinya kafe ini memang disiapkan khusus oleh Eomma untuk kencan butaku. Maksudku, eomma telah menyewanya. Karena tidak ada pengunjung lain disini kecuali aku. Aku takut Eomma akan merasa kecewa. Aku yakin, aku tidak akan menyukai namja tersebut. Tapi kenapa lama sekali? Eomma bilang namja itu akan datang jam 7, dan sekarang sudah jam 7.30. Itu artinya aku sudah menunggunya selama setengah jam disini. Aisht.. benar-benar membosankan.

“Nona, seseorang telah memberikan ini.” Kata seorang pelayan tiba- tiba sambil menyerahkan sebuah kotak kepadaku.Apa ini? Aku menerimanya dan karena penasaran aku segera membukanya dengan perlahan. Dan ternyata isinya adalah cincin pasangan berwarna perak. Indah sekali. Siapa yang telah memberikan ini? Tapi sepertinya aku pernah melihat cincin ini. Tapi dimana? Kuamati lagi cincin itu dengan seksama sambil mencoba mengingat-ingat kapan aku pernah melihatnya. Akhirnya aku mengingatnya. Aku melihatnya terpajang di sebuah toko ketika aku sedang berjalan dengan Jiyong. Saat itu aku sangat menginginkannya, tapi sayangnya cincin tersebut sudah terjual.

Flashback

“Ji, lihat. Itu indah sekali.” Kataku sambil menunjuk sebuah cincin pasangan yang terpajang di jendela kaca. “Aku ingin membelinya.” Lanjutku.

“Lihatlah, cincin itu sudah terjual.” Katanya sambil menunjukkan tulisan “terjual” di dekat cincin itu.

“Benarkah? Kenapa mereka masih memajangnya jika sudah terjual?” Aku kecewa melihat tulisan itu. Padahal aku sangat menginginkannya.

“Sudahlah, aku bisa memberikanmu yang lebih bagus dari itu.”

“Jinjja?”

“Ne. Kajja kita pulang.”

Flashback End

“Apa kamu menyukainya?” Tanya seseorang tiba- tiba. Aku mendongak dan membeku melihatnya. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Benarkah itu dia? Namja yang sudah membuatku menunggu selama ini.

“Maaf baru bisa memberikannya sekarang. Dan maaf karena telah membuatmu menunggu begitu lama.” Lanjutnya.

“Jiyong?” Aku bertanya seperti orang bodoh dan dia hanya tersenyum melihatku.

“Benarkah kamu Jiyong?” tanyaku lagi sambil berdiri dan berjalan mendekatinya.

“Apakah selama ini aku punya kembaran hah?” Katanya dan aku langsung memeluknya. Ini benar-benar Jiyong. Namja yang selama ini kurindukan dan namja yang telah membuatku gila selama bertahun-tahun. Apa aku sedang bermimpi sekarang?

“Kamu masih secantik dulu.” Bisiknya sambil membalas pelukanku. “ Aku merindukanmu Dara.” Lanjutnya. Lagi- lagi aku tidak bisa menahan air mataku. Kenapa aku sangat cengeng bila sudah berhubungan dengan Jiyong?

“Aku juga merindukanmu. Kemana saja kamu selama ini?” Kataku masih memeluknya.

“Apakah kamu menungguku selama ini?” Tanyanya sambil melepaskan pelukannya.

“Dasar bodoh. Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu? Bahkan sampai saat ini aku belum bisa melupakanmu.” Balasku sambil memukul lengannya.

“Ya! Apa itu salahku? Bukankah waktu itu aku sudah menyuruhmu untuk melupakanku?” Jawabnya tak mau kalah. Aisht.. dia sama sekali tidak berubah. Dia masih tetap menyebalkan seperti dulu.

“Apa kamu pikir semudah itu hah?” Bentakku.

“Sssttt.. Dara. Jangan merusak suasana. Aku sudah menyiapkan semua ini agar suasananya terasa romantis. Tapi kenapa kamu malah membentakku?”

“Mwo? Jadi kamu yang menyiapkan semua ini?”

“Ne. Apa kamu menyukainya?” Tanyanya sambil tertawa bodoh.

“Tapi bagaimana kamu bisa menyiapkan semua ini? Apa kamu mengatakannya langsung kepada Eommaku?”

“Mollayo. Itu rahasia.” Katanya sambil tersenyum nakal.

“Ya! Jiyong-ah!”

“Aigoo Dara, sudah kubilang jangan teriak-teriak.”

“Ne, mianhe. Tapi sejak kapan kamu kembali ke Korea?”

“Sekitar seminggu yang lalu.”

“Mwo? Seminggu yang lalu? Dan kamu baru menemuiku sekarang?”

“Mianhe. Aku baru siap menemuimu sekarang.”

“Dasar bodoh.”

“Meskipun bodoh, tapi kamu masih tetap mencintaiku kan?” Tanyanya dengan senyum menggoda,

“Molla. Akan kupikirkan lagi.” Jawabku cuek. Dia lalu mengambil cincin yang berada di meja tadi.

“Dara. Aku tahu aku ini adalah namja yang jahat. Aku telah banyak menyakitimu. Tapi selama empat tahun ini perasaanku tidak pernah berubah. Aku masih mencintaimu seperti dulu. Waktu itu aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi aku juga tidak punya pilihan lain. Mianhe. Jeongmal mianhe. Tapi maukah kamu menikah denganku?” Katanya sambil memberikan cincin tersebut kepadaku. Apa dia bercanda? Tapi dari ekspresi dan tatapan matanya dia terlihat sangat serius. Aku tidak pernah melihatnya seserius ini.

“J-Jiyong-ah. A-apa kamu serius?” Tanyaku ragu- ragu.

“Sangat serius Dara.” Jawabnya yakin. Kupikir aku benar- benar bermimpi sekarang. Aku baru saja bertemu dengan namja yang sudah sangat kurindukan selama ini dan tiba- tiba dia melamarku.

“Aku tahu kamu pasti terkejut. Ini terlalu tiba-tiba.” Lanjutnya.

“Apakah kamu yakin mau menikah denganku Ji?”

“Ne. Aku sangat yakin. Aku sudah memikirkan ini selama empat tahun.” Aku tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa sebahagia ini.

“Dara?”

“Ne Jiyong. Aku mau menikah denganmu.” Jawabku mantap sambil memeluknya lagi.

“Saranghae Dara. Jeongmal Saranghae.”

“Gumawo. Ternyata tidak sia-sia aku telah menunggumu selama ini.” Kataku sambil melepaskan pelukanku.

“Kali ini aku benar-benar janji. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” Ucapnya lalu mengecup bibirku singkat. Bibirnya masih sama seperti dulu, sangat lembut.

“Kajja. Sekarang kita makan. Aku sudah sangat lapar.” Rengekku.

“Hahaha.. baiklah. Kajja.”

—-

 Selesai makan, Jiyong mengajakku pergi ke taman di sungai Han. Aku juga ingin lebih lama bersamanya setelah berpisah selama empat tahun. Setelah sampai, aku dan Jiyong duduk di tepi sungai Han.

“Kamu sudah mengantuk?” Tanya Jiyong tiba-tiba.

“Anni. Aku hanya lelah.”

“Kalau begitu sandarkan kepalamu ke bahuku seperti ini.” Katanya sambil meletakkan secara paksa kepalaku di bahunya. Aisht.. kupikir Jiyong memang namja yang tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan baik. Kuturuti saja kemauannya dan kusandarkan kepalaku di bahunya. Ini sangat nyaman.

“Ya! Dara! Apa kamu sering melakukan kencan buta seperi tadi?”

“Ne. Eomma memaksaku. Bukan hanya kencan buta, bahkan Eomma sering mengenalkanku kepada anak teman- temannya.”

“Dan kamu menurutinya???”

“Sudah kubilang Eomma memaksaku. Aku tidak punya pilihan lain.”

“Lalu kenapa kamu tidak pacaran saja sama salah satu diantara mereka?”

“Terus apa masalahnya untukmu? Apa kamu cemburu?”

“Cihh….. Buat apa aku cemburu. Aku tahu kamu tidak akan bisa menyukai namja lain kecuali aku.”

“Mwo?? Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri? Kenapa masih mencariku? Bukankah yeoja-yeoja disana lebih cantik?”

“Memang.”

“Lalu kenapa kamu tidak pacaran saja dengan yeoja disana?”

“Siapa bilang aku tidak pernah pacaran. Aku sendiri sampai lupa sudah berapa banyak yeoja yang sudah kupacari disana.”

“Mworago??” Aku menatapnya tidak percaya. Benarkah yang dia katakan? Apa dia hanya ingin membuatku cemburu saja?

“Dasar bodoh. Menurutmu disana aku hanya diam menunggu sampai pulang lagi ke Korea dan bertemu denganmu. Aku juga membutuhkan yeoja yang bisa menemani hari-hariku.” Apa dia bercanda? Kenapa dia harus cerita kepadaku?

“Ya!”

“Tapi aku tidak pernah menemukan yeoja yang sepertimu. Aku tidak pernah merasa sebahagia dan senyaman ini jika bersama mereka.” Aisht…. Dasar namja aneh. Aku hanya diam saja mendengar kata-katanya dan kupikir pipiku memerah karena malu.

“Kenapa kamu diam saja? Bukannya tadi kamu ingin marah?” Lanjutnya lagi.

“Tidak jadi.”

“Waeyo? Apakah kamu terharu mendengar kata-kataku?” Tanyanya sambil menaik turunkan alisnya. Dasar namja idiot.

“Cihh.” Aku hanya mencibirnya. Tapi apakah dia serius dengan perkataannya tadi? Tiba-tiba aku merasakan salju turun. Sepertinya akan hujan salju sekarang.Ini adalah salju pertama di tahun ini, dan aku melewatkannya bersama Kwon Jiyong.

“Jiyong-ah. Salju!” Aku bersorak sambil beranjak berdiri.

“Ne. Bukankah ini salju pertama di tahun ini?” Katanya dan dia ikut berdiri.

“Kajja kita pulang. Cuacanya sangat dingin. ” Katanya menarik tanganku.

“Pulang? Tapi aku masih ingin disini.” Rengekku.

“Tapi cuaca sangat dingin Dara. Lagipula ini sudah malam.”

“Sebentar lagi Ji. Aku masih ingin menikmati salju disini.”

“Aisht… kalau begitu pakailah ini.” Katanya sambil melepas mantel yang dia pakai dan memakaikannya di tubuhku.

“Gumawo.”

“Ji, ayo kita membuat permohonan.”

“Permohonan?”

“Ne. Orang bilang jika kita membuat permohonan saat salju pertama turun maka keinginan kita akan dikabulkan.”

“Mwo? Dan kamu percaya terhadap hal konyol seperti itu?”

“Ne. Ayolah Ji.”

“Shierro. Jika kamu ingin melakukannya, lakukan saja sendiri.” Aisht… dasar namja keras kepala. Terpaksa aku melakukannya sendiri. Aku menundukan kepala dengan tangan tergenggam di depan dada.

Aku ingin Kwon Jiyong selalu berada di sisiku

“Apa permintaanmu?” Tanya Jiyong tiba-tiba.

“Rahasia.” Jawabku cuek.

“Cihh.. apakah permintaan harus diucapkan di dalam hati?”

“Apa pedulimu? Bukannya kamu tidak percaya dengan hal konyol seperti ini?”

“Baiklah aku akan melakukannya.”

“Benarkah?”

“Aku ingin selalu berada disisimu, disaat senang maupun sedih. Itulah permintaanku Dara.” Katanya mengabaikan pertanyaanku.

“Mwo?” Dia lalu mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibirku. Aku merindukan bibir lembutnya ini.Lama kelamaan ciuman kita menjadi semakin intens. Sesekali Jiyong menggigit dan menyesap bibir bagian bawahku.  Aku membiarkan lidahnya menjelajah seluruh isi mulutku. Bahkan kita tidak mempedulikan salju yang turun semakin deras. Aku ingin bersama dengan Jiyong selamanya. Aku ingin selalu bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Meskipun dia namja yang menyebalkan dan keras kepala, tapi kurasa sifatnya itulah yang membuatku nyaman berada disisinya.

Jiyong POV

Akhirnya aku bisa kembali kesisi Dara lagi. Yeoja yang sangat kurindukan selama empat tahun ini. Aku tidak menyangka bahwa dia menungguku juga.

“Saranghae Jiyong-ah.” Katanya setelah melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Nado saranghae Dara.” Balasku lalu mulai mencium bibirnya lagi. Aku masih ingin menikmati bibirnya yang lembut. Aku sangat merindukannya.Aku juga tidak peduli dengan salju yang mulai membasahi tubuh kita. Lidahku mulai bergerak ke bagian dalam mulutnya dan lagi-lagi dia meresponnya dengan baik. Ternyata setelah empat tahun dia menjadi lebih dewasa, kekeke.

“Ji, jangan tinggalkan aku lagi neh?” pintanya disela-sela ciuman kami.

“Ne. Aku janji tidak akan membuatmu meninggalkanmu lagi.”

“Gumawo, Ji.” Katanya sambil memeluk erat tubuhku. Aku benar- benar tidak menyangka bisa jatuh cinta kepada yeoja ini. Yeoja yang menurutku sangat cupu dan keras kepala. Tapi aku bersyukur, bisa memilki Dara. Dia yang mengajarkanku apa arti cinta sebenarnya, hal terkonyol yang selama ini tidak pernah aku rasakan. Dia juga salah satu alasan untukku tetap bernapas sampai detik ini. Gumawo Dara-yah, jeongmal gumawo. Aku tidak tahu akan seperti apa diriku seandainya kamu tidak pernah muncul di hidupku.

Fin…

Fiiuuuhhh.. akhirnya ff ini selesai juga. Terima kasih buat para chingu yang sudah mau mengikuti ff ini dari awal sampai akhir. Dan juga terimakasih banyak buat Dillatiffa unnie yang sudah mau ngepost ff ini di DGI :D. Tapi maaf ya kalau endingnya sangat tidak memuaskan. Maaf juga kalau saya update ff ini terlalu lama. Tetap ditunggu ya komennya chingu, agar saya lebih baik kedepannya. Dan sampai jumpa di ff saya selanjutnya (kalau ada). Annyeong…….

 

<< Back

Advertisements

49 thoughts on “My Boy #8 – End

  1. Yeah.. happy ending.
    Keren ceritanya thor… Gomawo sudah bikin cerita bagus seperti ini😱 kekeke aku rungu ff yang lainnya ..😃😃😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s