The Protector [16] : Let’s Talk About Love -End

protect copy

Author :: Rachi
Length :: Chapters

First of all, sya mengucapkan bnyk trimaksh utk zhie & dilla serta utk my lovely readers, my silent readers & my card reader (yg terakhir abaikan, tp serius card reader sngat membantu, hahaha..), krn sudah mau membantu dan membaca ff ini dr awal sampe akhir, hohoho…

Tadinya sya mau bikin epiloguenya di chap sendiri tp gara2 keegoisan sya pengen ff ini berakhir di chap 16, makanya chap terakhir adalah chap terpanjang dlm sejarah The Prot, kekeke.. Ookayyy, met reading ^_~

***

Sandara POV

Aneh. Hal pertama yang kurasakan ketika masuk ke dalam pesawat yang akan membawaku ke pulau Jeju. Sebagian penumpang menatapku dengan tersenyum. Bahkan para pramugari dan pramugaranya mengantarkanku sampai di tempat duduk. Hal yang tak biasa terjadi ketika naik pesawat kelas ekonomi.

Aku memutuskan untuk mengunjungi bibi Song di Jeju karena kupikir aku membutuhkan udara segar dan suasana yang tenang. Meski aku sangat merindukan Jiyong tapi mengingat Sanghyun yang membencinya setengah mati, harus kukubur dulu perasaan rindu itu. Setiap hari Jiyong selalu meneleponku namun setiap hari pula Sanghyun yang menjawab teleponnya. Tapi setidaknya aku tahu, Jiyong selamat setelah kejadian seminggu lalu. Entah kenapa Sanghyun selalu benci pada setiap pria yang mendekatiku. Aisht, anak itu, apa dia mau noonanya jadi perawan tua, huh?

15 menit lagi pesawat ini akan tinggal landas. Aku menyandarkan tubuhku ke kursi penumpang.  Tak lama kemudian, 5 orang pria dalam setelan gelap, bertopi dan berkacamata hitam, mondar mandir di dalam pesawat. Satu dari mereka memakai cadar hitam. Tanpa basa-basi, mereka menodongkan senjata kepada para penumpang lain. Butuh waktu sekitar lima detik bagiku untuk menyadari bahwa aku dalam situasi gawat.

<Nooooooo, jangan bilang ini adalah pembajakan pesawat>

<Oh yesssss Dara, pesawat yang kau tumpangi dibajak>

Shit. Shit. Shit. 

 

Tubuhku langsung lemas. Saat aku ingin menjalani hidup tenang, hal seperti ini selalu terjadi.Aku memeriksa penumpang yang lain dan tidak ada satupun dari mereka yang berteriak panik.  Aku mengerjap bingung. Bagaimana mereka bisa setenang ini?! Bisa saja para pembajak itu menjadikan semua penumpang sebagai sandera.

Aku mencengkeram kedua lenganku sendiri, saat salah satu mereka, pria bercadar hitam memandangku dari ujung pintu ruang pilot. Meski ia memakai kacamata tapi aku sangat yakin ia sedang memperhatikanku. Tanpa disangka-sangka, ia perlahan mendekatiku. Dadaku bergemuruh dan tubuhku sedikit gemetar saat ia menarik lenganku untuk berdiri. Please God, jangan biarkan ia membunuhku.

“Ikuti perintahku dan kau akan selamat.” Kata pria itu.

Nafasku tercekat mendengar suaranya yang asing. Aku hanya bisa diam mengikuti kemana ia membawaku. Dalam hati aku merutuk kesal, kenapa hanya aku yang dibawanya. Apakah aku adalah orang pertama yang akan dibunuh mereka? Apa ia akan membunuhku dengan cara menerjunkanku dari udara? Oh my gosh, jangan berpikir seperti itu Dara! Pikirkan hal-hal yang baik saja. Mungkin mereka mau membebaskanmu lebih dulu. Mungkin.

Pria bercadar hitam itu membawaku turun dari pesawat setelah ia memberi isyarat pada 4 teman lainnya. Ia menggiringku untuk masuk ke dalam sebuah helikopter yang ada di belakang pesawat terbang.  Memasang sabuk pengamanku dengan sangat kencang dan menutup pintu helikopter itu. Kemana ia akan membawaku?

Pria itu masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia memakai sebuah helm yang terhubung dengan microphone kecildi kepalanya. Beberapa detik kemudian, helikopter bergetar hebat. Apa ia benar-benar akan menerjunkanku dari helikopter ini? Oh hell no, hal itu tidak akan pernah terjadi! Tanpa pikir panjang kujambak helmnya dengan sekuat tenaga dan berusaha membukanya.

“Ouwch, ouwch, apa yang kau lakukan?!” teriaknya.

“Lepaskan aku, bodoh!” jeritku. ”Turunkan aku sekarang juga!”

“Hentikan, hentikan!” pekiknya sambil menutupikepala dengan kedua tangannya. Aku tak berhenti memukulnya meski ia merintih kesakitan. Rasakan itu penjahat!

“Oh shit, Dara, ini aku!”

Dari mana ia tahu namaku Dara? Tunggu sebentar. Suaranya mirip Jiyong. Sepertinya aku berhalusinasi. Aku kembali memukulnya tak peduli ia tahu namaku. Dan dengan terpaksa akhirnya ia melepas seluruh  atribut yang melekat di wajah dan kepalanya. Aku terbelalak kaget menatapnya. Dan orang itu benar-benar, JIYONG!

Apa.yang.ia.lakukan!?

“Jiyong?”

Ia mematikan mesin helikopter. “Untuk ukuran gadis, pukulanmu cukup keras.” Ia mengusap-usap kepalanya. Otakku masih belum mencerna apa yang barusan ia lakukan.

Pembajakan pesawat? Membawaku ke helikopter? What the hell Jiyong!

“Hanya dengan cara ini aku bisa bicara denganmu. Sanghyun memberitahuku bahwa kau akan pergi ke Amerika. Aku mencari semua jadwal penerbangan dengan tujuan Amerika tapi namamu tidak terdaftar di maskapai penerbangan manapun. Aku sampai harus menelepon Komisaris Cha  dan meminta bantuannya untuk melacak kemana kau akan pergi dan meminjam helikopter ini. Bahkan sebelum kau masuk ke dalam pesawat, aku harus meminta bantuan pada penumpang lain agar aku bisa melakukan sandiwara ini.”

Aku diam mematung. Jadi itu sebabnya kenapa penumpang lain tidak ketakutan? Itu hanya pura-pura? HE.IS.UNBELIEVABLE jika aku bisa mendeskripsikannya. Aku ingin memeluknya erat tapi Sanghyun sudah mewanti-wanti, jika aku masih berhubungan dengan Jiyong, ia akan kembali ke dunia gangster.

“Aku mau turun.”

“Tidak.”

“Aku.Mau.Turun.”

“Aku bilang tidak.”

Emosiku mulai memuncak. Jangan membuatnya makin rumit Jiyong.

“Kwon Jiyong, kubilang aku mau turun dan buka pintu helikopter ini sekarang juga!”

“Aku tak mau.”

“Ada apa denganmu?!”

“Ada apa denganku?! Aku berusaha menghubungimu berkali-kali tapi orang aneh berambut pink itu terus-terusan me-reject teleponku. Dan kau sekalipun tidak menghubungiku!” bentaknya.

“Orang aneh berambut pink itu adikku! Dan bagaimana bisa aku menghubungimu, karena selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, ponselku disita dan aku tak diperbolehkan keluar rumah, karena adikku takut kau akan mengambilnya dariku. Pabo!”

Tubuhnya kembali kupukul-pukul dengan kedua tanganku. Tapi dalam sekejap, ia menangkap pergelangan tanganku dan mendorongku hingga aku terdesak dan membentur pintu helikopter di belakangku.

“Berhenti memukulku atau kucium kau.”

Raut wajahnya nampak serius. Perlahan ia mundur dan kami duduk di posisi masing-masing dalam keadaan diam. Ia menghela napas dan menatapku lekat.

“Maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk membentakmu.” Ucapnya lembut. Aku menghapus air mata yang sudah telanjur jatuh di kedua pipiku. Stupid Kwon Jiyong.

“Aku sudah menemui keluargamu dan mereka sudah memberiku restu, kecuali Sanghyun yang masih menolakku.  Aku juga sudah bicara pada keluargaku. Keluargaku janji akan berusaha menerimamu. Jadi, please, jangan menghindar dariku, mengerti?”

Oh God, kenapa kau harus menciptakan makhluk manis ini di dunia? Aku tak rela kalau gadis lain yang memilikinya.

“K-kau mau menerimaku apa adanya?” tanyaku sambil terisak.

“Ya.”

“Meskipun aku anak mantan gangster?”

“Ya.”

“Biarpun adikku menentang hubungan kita?”

“Aku akan berusaha dekat dengannya.”

Seketika wajahku berseri-seri mendengar jawabannya. Sebuah senyum terukir di ujung bibirku. Kuusap air mataku dengan punggung tanganku. Well, jika ia bersikeras ingin bersamaku, siapa yang bisa menolak ajakan pria hot ini, kekeke.. Aku melingkarkan tangan kananku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.

“Okay, jika kau memaksa.” Ia tertawa sembari mencubit pipiku.

“Kita akan kemana?” tanyaku lagi.

“Tentu saja ke Jeju.”

“Dengan helikopter ini?”

“Yeap.”

Aku mempererat pelukan tanganku ke tubuhnya. Oh, i love this man.

“Jiyong?”

“Hmm..?”

“I love you.”

“I know.”

“Do you love me?”

“No, I don’t. But i love you more.”

Senyumku kian mengembang. “Oppa..?”

“Please Dara, jangan mulai.” Ia memutar bola matanya.

“You and me, against the world, yeaaayyy!!”

Aku mengacungkan tangan kiriku ke udara.  Jiyong tersenyum dan mencium keningku cukup lama. Happy ending? Aku tidak tahu. Masih banyak hal yang harus kami lakukan agar hubungan kami berjalan lancar.Nobody knows where love will lead, isn’t it?

♥♥♥

Epilogue

♥♥♥Cafe♥♥♥

Kwangsoo memutar bola matanya ke penjuru cafe mencari sosok gadis yang akan ditemuinya. Ia merapihkankemeja kotak-kotak biruyang senada dengan celana panjangnya. Yeah, ia sedang mengikuti kencan buta yang diatur keluarganya. Ia menghentak-hentakkan jari-jarinya ke meja dengan gugup ketika matanya tanpa sengaja melihat pintu cafe yang dibuka seorang gadis. Seperti gerakan slow motion, gadis itu menyibakkan rambut hitamnya yang bergelombang dan wajahnya seakan bersinar. Cupid sepertinya berpihak pada Kwangsoo karena gadis itu berjalan menghampiri dirinya dan bertanya,

“Apa kau Lee Kwangsoo?”

Seperti tersihir akan pesona gadis cantik itu, Kwangsoo tak henti-hentinya menatap dengan takjub. Tubuh gadis itu cukup mungil. Ia mengenakan gaun tanpa lengan yang menunjukkan kulit putihnya. Hidung Kwangsoo kembang kempis dan air liurnya sudah mau keluar dari mulutnya yang menganga lebar.

“Y-ya, aku Lee Kwangsoo. Kau mengenalku?”

Gadis itu tersenyum manis.

“Aku Lee Seulgi. Aku berasal dari Seoul.Bibiku mengatur sebuah  pertemuan dengan seorang pria di cafe ini. Katanya orangnya sangat tinggi dan pria itu bernama Lee Kwangsoo. Ia juga memakai kemeja kotak-kotak berwarna biru. Kulihat hanya kau yang pas dengan ciri-ciri itu.”

“Ah-ahah-haa begitu, si-silahkan duduk.”

Dengan gelagapan, Kwangsoo mempersilahkan gadis cantik itu duduk. Deg, deg, deg. Kwangsoo merasakan jantungnya berdegup kendang dan darahnya berdesir hebat ketika Seulgi duduk dihadapannya.

“Se-sebentar.”

Ia berbalik, merogoh ponsel di kantong celananya dan menelepon seseorang dengan kedua tangan menutupi seluruh ponsel agar pembicaraannya tak terdengar Seulgi. Sebuah senyuman puas terukir di wajahnya.

Yeoboseyo?” 

“Eomma, aku suka yang ini.”

♥♥♥ Let’s Go Party ♥♥♥

Daesung sedang menghadiri reuni sekolahnya dulu. Namun sayang, sudah belasan gadis yang menolaknya untuk diajak dansa. Padahal Daesung cukup keren dengan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya dan senyuman selalu menghiasi wajahnya. Akhirnya, setelah gadis ke 9 menolaknya, ia menyerah. Dengan tertawa pahit ia menenggak segelas minuman dingin dengan cepat. Ia menghampiri sebuah cermin besar yang letaknya tak jauh darinya. Dengan lunglai, ia menatap dirinya sendiri.

“Apa aku terlihat menyeramkan hingga tidak ada yang mau berdansa denganku?” ia memicingkan kedua matanya sambil mendekati cermin. Matanya yang sipit makin tak terlihat garisnya.

“Permisi.Apa kau Kang Daesung?” Seorang gadis menepuk bahunya hingga Daesung menengok ke arahnya.

“Ya, itu aku. Siapa kau?” tanya Daesung.

“Apa kau sudah lupa? Aigoo, aku Minji, Gong Minji. Apa kau masih ingat?”

“Minji?”

Gadis itu mengangguk. Daesung memandangi Minji dari atas sampai bawah. Untuk sesaat ia tak hapal dengan wajah itu, tapi setelah berpikir sejenak, ia baru ingat. Minji adalah gadis yang pernah duduk selama beberapa bulan dengan dirinya sebelum akhirnya ia pindah keluar negeri. Namun Minji yang ia kenal dulu adalah Minji yang tubuhnya gendut dan berkacamata. Sedangkan Minji dihadapannya adalah Minji yang bertubuh ramping dan tidak berkacamata.

“Kau benar-benar Minji yang itu?” tanyanya tak percaya.

“Ya. Akhirnya kau ingat.”

“Sudah lama kita tak berjumpa. Bagaimana kabarmu?”

“Aku baru pulang dari New York beberapa minggu yang lalu. Bagaimana kalau kita mengobrol sambil berdansa?” ajak Minji.

Tanpa berpikir panjang, Daesung langsung mengiyakan ajakan Minji.

“Let’s go.”

♥♥♥ Gotta Talk To You ♥♥♥

Di sebuah studio photo, seorang gadis berrambut pirang sedang bergonta ganti pose sesuai arahan sang fotografer. Setiap posenya selalu mengundang decak kagum bagi siapapun yang melihatnya, terutama kaum pria. Setelah berganti baju 10 kali, akhirnya sesi pemotretan itu selesai. Sang fotografer yang bernama Lee Soohyuk menginstruksikan seluruh krunya untuk beristirahat.

“Hey, Seungri, apa kau tahu dia?” tanya Soohyuk menunjuk gadis berrambut pirang itu pada sepupunya yang ternyata adalah Seungri.

“Aku tidak tahu.” Jawab Seungri menggeleng pelan.

“Kau tidak tahu dia!? Kau hidup dimana Lee Seungri? Ia adalah salah satu model Korea yang sedang naik daun saat ini. Lee Chaerin, biasa dipanggil CL. Berbagai sampul majalah dihiasi wajahnya.”

“Benarkah? Tapi aku jarang melihatnya di televisi.” Lanjutnya datar sambil membuka-buka majalah di tangannya.

“Aisht, kau ini. Aku akan mengambil minuman dulu.” Soohyuk meninggalkan Seungri yang duduk sendirian di bangku.

Seungri masih sibuk membuka-buka majalah di tangannya saat Chaerin lewat didepannya dengan nafas terengah-engah. Gadis itu terlihat kesulitan membawa barang-barang miliknya untuk dimasukkan ke dalam koper. Tanpa bertanya lebih dulu pada Chaerin, Seungri langsung terlonjak dari tempat duduknya dan membantu gadis itu.

“Hati-hati nona.” Ucap Seungri.

“Ah, terima kasih.” Ujar Chaerin.

Setelah barang-barang tersebut masuk ke dalam koper, Seungri dan Chaerin saling berpandangan. Chaerin memang tidak terlalu cantik. Tapi ada sesuatu dimatanya yang membuat Seungri tak berhenti memandangnya.

“Hey, CL, sebentar lagi mereka akan mengambil gambarmu yang terakhir.” Teriak asistennya memanggil untuk pemotretan yang terakhir.

“Oke.”

Chaerin melirik Seungri sembari tersenyum. Ia membungkuk dan mengucapkan terima kasih pada Seungri sebelum mendatangi asistennya. Seungri mengelus-elus tengkuknya sendiri dan tanpa sadar ia juga tersenyum.

Tak lama kemudian pemotretan telah selesai. Chaerin dan asistennya sudah pergi meninggalkan studio photo. Ketika Soohyuk memanggil Seungri untuk meminta tolong membereskan peralatannya, salah seorang kru memberikan sebuah kertas pada Seungri. Seungri membuka kertas itu dan terkejut. Sebuah nomor ponsel asing tertera di kertas itu. Yang lebih mengejutkannya lagi, nama pemilik nomor tersebut.

397249551

Call me maybe

CL

Siapa yang mengira bahwa salah seorang model terkenal di Korea memberikan nomor ponsel pribadinya padanya? Seungri bagai menang lotere. Ia segera keluar dari studio photo lewat pintu belakang dan memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar. Dengan ragu-ragu, ia memencet nomor ponsel yang tertulis di kertas tersebut. Setelah beberapa kali dering, terdengar suara gadis yang sama didengarnya saat ia berbincang dengan Chaerin tadi. Seungri melebarkan senyumannya.

“Hallo?”

♥♥♥ My Girl ♥♥♥

“Kau sangat cantik di video itu.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Youngbae dan Hyesun sedang melihat video Hyesun ketika masih remaja. Mereka berdua tengah tidur-tiduran di lantai yang hanya di alasi matras dan sebelah tangan Youngbae digunakan sebagai bantal di bawah kepala Hyesun. Siapa yang mengira bahwa Youngbae akan menemukan tambatan hatinya. Dan gadis yang beruntung itu bernama Goo Hyesun.

Youngbae dan Hyesun belum lama menjalin hubungan. Setiap akhir pekan, Youngbae bolak balik Seoul-Busan untuk mengunjungi Hyesun. Masing-masing keluarga sudah menyetujui hubungan mereka, namun mereka tak mau cepat-cepat ambil keputusan.

“Oppa?”

Hyesun beranjak bangun dari posisi tidurnya dan kini duduk di samping Youngbae yang masih tiduran.

“Ya.”

“Seniorku mengirim surat cinta.”

“APA?!” ujar Youngbae langsung bangun dari tidurnya. Hyesun tertawa geli. Ia hanya ingin mengerjai kekasihnya karena wajah Youngbae sangat menggemaskan jika ia panik.

“Siapa ia, katakan padaku?!”

“Aigoo oppa, aku hanya bercanda, hehehe.”

“Aisht Hyesun, kau membuatku jantungan.”

Yongbae mendesah lega. Ia tak bisa membayangkan kekasihnya akan direbut pria lain. Susah payah ia mendapatkan hati gadis itu. Perjuangannya begitu berat. Ia harus berhadapan dengan kakak laki-laki tertua Hyesun yang menyukai olahraga tinju dan Youngbae sering dijadikan pengganti samsaknya. Ia juga harus meluluhkan adik lelaki Hyesun yang berusia 15 tahun dan selalu menganggu kencannya dengan Hyesun, hanya karena adiknya tidak menyukai pria dari Seoul!

Hyesun memberikan kecupan singkat untuknya. Youngbae tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menutup mata dan memperpendek jarak diantara mereka. Hyesun ikut menutup kedua matanya. Ketika wajah mereka semakin dekat tiba-tiba,

BYURRRR

Youngbae merasakan bajunya basah kuyup karena tersiram sesuatu. Ia membuka matanya dan mendapati Goo Jinwoo, adik lelaki Hyesun menyiramnya dengan baskom penuh berisi air.

“Oopss sorry, aku tidak sengaja.” Kata Jinwoo santai.

Youngbae menghela napas. Jinwoo sudah sering membuatnya kesal namun Youngbae selalu bisa memaafkannya.

“Jinwoo, kemana air bekas cucian beras yang ada di baskom?” teriak eomma Jinwoo dari dapur.

♥♥♥ We Belong Together ♥♥♥

BRAKKK

Seunghyun menggebrak meja dengan tangan kanannya setelah para juniornya melaporkan bahwa penjahat yang mereka tangkap melarikan diri saat akan dibawa ke kantor polisi.

“Bagaimana penjahat itu bisa lari dari kalian?ia hanya sendiri dan kalian berempat!”

Para juniornyaberdiri sambil menundukkan kepala, tak berani menatap Seunghyun. Namun salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri menjawab pertanyaan Seunghyun.

“Ma-maafkan kami senior Choi. Tadinya kami berhasil menangkapnya tapi ketika kami akan memasukkannya ke dalam mobil, tiba-tiba ia dapat membuka borgolnya dan secepat kilat melarikan diri dari kami. Gerakannya sangat lincah dan larinya sangat cepat senior.”

Seunghyun mendengus kesal. Sudah lama ia mengincar penjahat itu namun karena kecerobohan junior-juniornya, ia harus kehilangan jejaknya lagi.Ia kembali menatap para juniornya.

“Aku tak peduli selicin apa dia, cepat temukan dia!”

“Ba-baik senior.” Mereka berlima membungkuk hormat pada Seunghyun dan berbalik arah.

I’m still alive i’m still alive i’m still alive

I’m livin’ that i’m livin’ that good life

Ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya, Seunghyun menjawab teleponnya,

“APA?!”

Tidak ada jawaban. Seunghyun akan menutup ponselnya saat sebuah suara dikenalnya berteriak di seberang sana.

“Choi Seunghyun, jam berapa sekarang?!”

Ia melihat jam tangannya dengan mata membulat sempurna dan terkejut setengah mati. Ia lupa. Harusnya saat ini ia sudah berada di sebuah gedung pertemuan untuk bertemu dengan Bom. Ia menyambar jas panjangnya dan memakainya dengan tergesa-gesa.Ia sudah terlambat 1 jam dari waktu pertemuan mereka. Bayangan Bom akan melemparinya dengan berpuluh-puluh bonggol jagung membuat Seunghyun bergidik ngeri.

“Oh shit!” umpat Seunghyun.

Sebelum pergi, ia berpesan pada junior-juniornya,

“Jika kalian tidak bisa menangkapnya dalam 1×24 jam, akan kupastikan kalian akan makan jagung seumur hidup kalian!” ucapnya tegas. Ia meninggalkan mereka yang terbengong di posisinya masing-masing.

♥♥♥

Di sebuah gedung pertemuan, seorang wanita cantik berpakaian baju pengantin dengan buket bunga di kedua tangannya, sedang berdiri dengan cemas menunggu kekasihnya datang. Ia berkali-kali melirik jam tangannya dan mendelik kesal. Didepannya seorang pria tengah berdiri dan merapikan dasinya agar jas hitam yang dikenakannya terlihat sempurna.

Tak berapa lama kemudian, seorang pria tampan membuka pintu gedung. Ia melangkah dengan mantap sambil tersenyum lebar menuju wanita yang berdiri di ujung bersama seorang pria itu. Keduanya saling bertukar pandang.

“Kenapa kau lama sekali?” tanya gadis itu dengan cemberut.

”Maaf, ada hal yang harus kukerjakan dahulu.” Jawabnya. Wajah mereka tak lepas dihiasi rona kebahagiaan.

“Ehemm, apa kita bisa mulai gladi resiknya? Aku masih harus membersihkan lantai dan merapihkan meja-mejanya.”  Tanya pria tadi yang ternyata adalah seorang office boy di gedung pertemuan tersebut.

“Oh maaf tuan. Terima kasih sudah mau membantu kami.” Jawab gadis itu.

“Oke, kita mulai sekarang. Tuan Choi Seunghyun dan nona Park Bom, apa kalian siap?”

“Ya.” Jawab mereka serentak.

Bom tak perlu waktu yang cukup lama untuk bisa melupakan Siwon karena Seunghyun selalu hadir menemaninya. Mereka memutuskan menikah meski belum genap 3 tahun menjalin hubungan. Di1 tahun pertama, Seunghyun harus membiasakan diri untuk tidak mimisan seperti dulu. Ia sudah punya trik agar hidungnya tak lagi mimisan. Yep, ia akan menyanyi atau menari sebagai pengalihannya. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi ketika mereka sudah menikah dan berbulan madu? Kekeke….

♥♥♥ Hello, Fantastic Baby ♥♥♥

Sudah hampir 5 tahun sejak pernikahan Dara dan Jiyong, berbagai hal telah terjadi selama itu. Sekarang mereka sudah mempunyai seorang putra bernama Kwon Jongin dan saat ini duduk di bangku pra sekolah. Rambutnya lebat namun sedikit ikal.Ia tidak banyak bicara. Lucu dan menggemaskan, tapi sometimes ia bisa membuatmu ingin menceburkan diri ke dalam sungai. Jongin seperti sebuah misteri.

Sabtu ini, guru sekolah Jongin meminta para ayah untuk datang dalam rangka perayaan hari ayah sedunia bersama putra-putri mereka. Sebentar lagi, giliran kelas Jongin yang akan tampil dan Jiyong sudah tak sabar ingin menyaksikannya. Kini Jiyong sudah duduk di tengah-tengah bersama para ayah di samping kiri dan kanannya. Setelah anak-anak kelas 6 membacakan karangan mereka untuk ayahnya, tibalah kesempatan kelas Jongin untuk tampil.

Nyonya Kim, wali kelas perempuannya memanggil  3 anak berbeda dan meminta mereka untuk maju ke depan. Kebetulan, Jongin merupakan salah satu murid yang terpilih. Nyonya Kim mulai mengajukan pertanyaan pada murid pertama.

“Sehyun-ah, berapa 1 ditambah 2?” tanya nyonya Kim pada anak lelaki kecil bertubuh gempal dan berkulit sawo matang.

“Mmm, 4 seonsaengnim!” jawab Sehyun mengacungkan 4 jarinya. Nyonya Kim dan para ayah tertawa kecil. Ia membetulkan acungan jari Sehyun menjadi 3.

“Tsk, masa ia  tidak tahu jawabannya.”

Jiyong tersenyum sinis pada anak yang tampil di depan, membuat pria di sebelah kiri melirik sebal padanya. Jiyong menyombongkan Jongin dalam hati, jika Jongin yang menjawab pasti ia akan menjawab dengan benar.

Nyonya Kim beralih pada murid di sebelahnya. “Yoori-ah, apa kau tahu hidung panjang gajah bernama apa?”

Gadis kecil dengan gaun pink selutut menundukkan kepalanya. Ia menggeleng pelan dan memainkan jari-jarinya. Kali ini nyonya Kim dan yang lain tersenyum. Mungkin ia lupa, pikir nyonya Kim.

“Oh pleasee, ia juga tak tahu namanya? Belalai sweetheart, belaalaaaiii…”

Jiyong berkata pelan, namun suaranya masih bisa terdengar pria di sebelah kanannya yang menatap tajam dan menyuruhnya untuk tutup mulut. Jiyong hanya bisa tersenyum kecut. Tibalah nyonya Kim bertanya pada Jongin. Jiyong tersenyum lebar begitu nama Jongin dipanggil.

“Jongin-ah, sebutkan 5 nama buah-buahan yang kau tahu.”

“Aku suka buah apel, buah pisang, buah jeruk, buah strawberry dan buah….” jawaban Jongin terhenti di buah ke 5.

Jongin terdiam sebentar untuk berpikir. Beberapa waktu berlalu, Jongin tak kunjung menjawab. Jiyong, nyonya Kim dan yang lain masih menunggu jawaban Jongin. Sebelum menjawab nama buah yang ke 5, raut wajah Jongin berubah.

Here we come. The real Jongin, with his gorgeous smirk.

“Buah dada.”

Semua yang hadir dalam kelas terpana mendengar jawaban Jongin. Tak ada yang berani bergerak, apalagi bicara. Suasananya sangat hening. Bahkan jam dinding pun seperti berhenti berdetak. Seolah-olah bumi berhenti berputar. Jiyong menganga dengan lebarnya. Tubuhnya membeku dan dengan segera ia menutupi seluruh wajah dengan telapak tangannya.

Cangkang kura-kura, dimana aku harus menemukanmu?!

Bukan malu lagi yang Jiyong rasakan, tapi dunianya terasa hancur seketika. Ia berharap Jongin mendapat giliran pertama untuk menjawab.Bagaimana mungkin anak usia 4 tahun bisa hapal nama, nama, *uhukk uhukk* buah itu!?!

Dimana ia belajar kata-kata itu?!! Dari siapa?!! God, please help me!

“Appa bilang itu buah favoritnya.”

Do Minjoon! Dimana kau saat aku membutuhkanmu! Aku perintahkan kau untuk menghentikan waktu sekarang juga, agar aku bisa membawa anak ini pergi dari sini secepatnya!

KWON JONGIN.

 

Pure But Dangerous.

♥♥♥

Dara mengelus perut besarnya yang sudah memasuki usia kandungan 9 bulan. Yeah, sebentar lagi ia akan melahirkan anak keduanya. Dara bersandar di kursi malas dan sedang memasker wajahnya. Kedua matanya ditutupi mentimun. Ia lupa membawa olive oil(minyak zaitun) dan menyuruh Jongin yang sedang bermain mobil-mobilan di depan tv untuk mengambilnya.

“Honey, bisakah kau ambilkan olive oil di atas meja? Botolnya berwarna kuning.”

“Ya eomma.”

Jongin segera beranjak dari duduknya dan berlari ke meja makan. Ia mengamati ada 2 botol berwarna kuning dengan tulisan yang hampir sama. Karena ia belum sepenuhnya lancar membaca, ia hanya bisa mengingat apa yang eomma-nya katakan.

Oil.

Ia mengingat kata itu. 2 botol itu diambilnya dan dipegangnya dengan kedua tangan. Tangan kiri memegang botol pendek dan tangan kanan memegang botol tinggi. Pada botol tinggi, tertera tulisan oil di belakangnya. Jongin membawa kedua botol di atas meja dan kembali menemui eomma-nya.

“Honey, bisakah kau tuangkan beberapa sendok minyak itu ke dalam mangkuk di sebelah eomma?”

“Okay, eomma.”

Jongin menuangkan beberapa sendok makan minyak dari botol tinggi dan mengaduk-aduknya hingga tercampur rata.

“Eomma, ini.”.

“Oh terima kasih honey.”

Setelah Jongin memberikan mangkuk berisi minyak dan adonan masker pada eommanya, ia membawa mainan mobil-mobilannya keluar dan bermain di teras  rumah. Dara mengambil mentimun yang menutupi kedua matanya dan mulai mengoleskan adonan masker ke wajahnya. Beberapa menit kemudian, Dara merasakan keanehan pada wajahnya. Jika biasanya adonan maskernya makin lama makin mengeras setelah beberapa menit, adonan masker kali ini sangat lembek, lengket dan sedikit berbau.

“Kenapa minyak ini rasanya lengket sekali, tidak seperti minyak zaitun yang biasanya kupakai?” gumam Dara.

Dara bangkit dari kursi malasnya dan melihat ada 2 botol tergeletak di atas meja. Ia bertanya pada Jongin.

“Jongin, botol mana yang kau tuangkan ke dalam mangkuk eomma?” teriak Dara dari dalam rumah.

“Botol yang tinggi eomma.” balas Jongin juga berteriak.

Dara membelalakkan mata ketika membaca tulisan di botol tinggi itu. Ternyata Jongin salah mengambil botol. Yang ia ambil bukan olive oil (minyak zaitun). Dara merasa urat syaratnya bermunculan dan keriputnya mulai bertambah banyak meski Jongin baru berusia 4 tahun.

OH MY GOD

Not olive oil

 

But,

 

Cooking oil.

Dengan masker masih menempel di wajahnya, Dara berteriak,

“KWON JONGIN!!”

Innocent But Sometimes Cruel.

-The End-

Ada yg tahu Hwang Suk Hyun, anak kecil yg pernah main pilem Speedy Scandal thn 2008? Wuihh, daebak bener ekspresi mukanya apalagi pas lagi smirk, secara Jiyong juga suka melakukan smirk, woot woot woot…

suk hyun

Sya gk bisa membayangkan kalau anak Dara dan Jiyong benar2 seperti Suk Hyun, wuakakak..

Do Minjoon pasti tw donks, yg maen You Who Came From The Stars itu, hehee…

And please do not take seriously krn ini hanya cerita fiksi, huhuhu.. Mianhae, sya tdk bermaksud membuat anak kecil berpikir mesum, anggap saja Jongin tidak tahu apa itu artinya, kekeke..

Mianhae jg gk bs balas commentnya satu2, tp selalu sya baca koq, hehe..

Wokay, bubbyeee, sampai jumpa lagi, daragon hengshoooo ^_~ \^o^/ /^o^\ \^o^/

 <<back  special chapter>>

Advertisements

57 thoughts on “The Protector [16] : Let’s Talk About Love -End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s