[Series] My Lost Memory – Chapter 3

my-lost-memory

Author : Bernadette
Genre : Fantasy, Horror, Romance

 

Jiyong’s pov

Aku berjalan santai menuju ke perpustakaaan yang terletak di lantai 2 sedangkan ruang musik tadi yang dipakai oleh daesung untuk menciptakan lagu berada di lantai 4 dekat ruang kelasku.

Aku sengaja menggunakan tangga untuk turun ke lantai 2, untung-untung dapat menghilangkan lemak di tubuhku. Aku baru ingat bahwa tubuhku sudah sangat kurus. Bagaimana aku bisa kelebihan lemak? Tidak mungkin bukan.

Aku masuk ke perpustakaan. Sangat sepi. Hanya ada penjaga perpustakaan dan 1 sampai 4 mahasiswa-mahasiswi yang ada disini termasuk aku.

Aku mengedarkan pandanganku, mencoba mencari tempat duduk.

Mataku menangkap sosok hantu perempuan sedang duduk di tempat yang kemarin. Sandara. Sandara Park.

Untung saja di sekitar tempat yang diduduki Dara (mulai sekarang, aku akan memanggilnya seperti itu) tidak ada orang yang duduk disitu. Jadi, aku bisa dengan puas berbicara dengannya.

“Ehem” aku berdehem, mencoba menyadarkannya dari lamunannya. Okay, sekarang hatiku berdegup dengan kencang. Aku sungguh sudah gila.

Kalian tau? dia sangat cantik. Seperti mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa? aku berpikir keras mencoba mengingat sesuatu sampai Dara berbicara.

“Kemarin kau pulang dengan selamat?”

“Tentu saja. Aku pulang diantar oleh sahabat-sahabatku”

“Ehm, dara, bolehkan aku memanggilmu seperti itu?”

Ia mengiyakan nya dengan anggukan.

“Apa yang kau maksud dengan ucapanmu tadi malam?”

“Aku hanya ingin kau mengingat ingatanmu yang pernah hilang”

“Bagaimana kau tau aku hilang ingatan?”

“Aku bisa membaca pikiranmu”

“Lalu apa hubungannya denganmu?”

Dara’s pov

“Lalu apa hubungannya dengamu?”

Aku juga bingung bagaimana menjelaskannya. Dan aku akhirnya membalas ucapannya, “hanya kabulkan permintaanku. kau tak perlu tau alasannya” “ini permintaanku sebagai hantu”

Jiyong terdiam sejenak. “Dara, aku akan menganggap permintaanmu sebagai rasa simpati saja”

“Bisakah kita berteman?” tanyanya tiba-tiba.

“Apakah kau gila?” Tanyaku spotan. Mulutku memang tak bisa dijaga, aigoo.

“Memang kita baru bertemu kemarin, tapi aku ingin menjadi lebih dekat  denganmu meskipun kau hanya seorang hantu. Aku juga berteman dengan beberapa hantu lain jika kau ingin tau” ucapnya panjang lebar.

Aku menganggukan kepala sebagai jawabannya. Kau memang gila seperti dulu, jiyong.

(Flashback)

18 Juni 2014

Aku sedang mengerjakan sebuah tugas yang diberikan oleh Mr. Song di kelas musik yang tidak ada siapa-siapa disini kecuali aku seorang diri.

Tiba-tiba handphoneku bergetar dan menampilkan sebuah pesan dari jiyong.

‘Temuilah aku di atap’ pesan Jiyong tertulis indah di hpku.

‘sekarang?’ pesan terkirim.

‘Tentu saja, pabo’

‘ehm, baiklah, tunggu aku. Dan bisakah kau berhenti memanggilku pabo? karena aku tidak benar benar bodoh’

‘araseo, ppaliwa’

Aku segera memasukkan alat tulis milikku ke dalam tas dan mengembalikan beberapa buku yang kupinjam ke perpustakaan. Setelah mengembalikan buku, aku pun langsung menggunakan lift menuju atap.

“Waeyo? ada urusan apa memanggilku?” Aku agak berteriak.

“Kemarilah.”

Aku tersenyum entah apa sebabnya dan berlari kecil. Aku tak melihat kalau tali sepatuku belum kuikat dan kuinjak sendiri. Inilah kejadian yang tak bisa dihindari, aku terjatuh. Aku merasa cukup bodoh didepan Jiyong. Huft.

“Ack”

“Ya! mengapa kau selalu ceroboh?” Jiyong terlihat khawatir dan berjalan mendekat untuk membantuku berdiri.

“Ayo, kubantu untuk berdiri” ucapnya dengan tatapan lembut.

Aku mencapai tangannya. Dia menarik tanganku dengan cukup keras. Sehingga aku terdorong ke arahnya. Apa dia sengaja melakukannya? Aku terlihat sangat kege-eran saat ini. Yak! Sandara Park hentikan fantasimu yang berlebihan itu, batinku berucap.

Jarak kami sangat dekat saat ini. Dan aku juga tidak mencoba untuk menjauhi diri darinya. Entah terbawa suasana atau apa, Jiyong meraih tengkukku, mencium bibirku lembut dan penuh perasaan. Aku yang masih terkejut pun hanya ikut menutup mata mengikuti jiyong.

“Saranghae” Ujarnya setelah melepaskan ciumannya.

“Maukah kau menjadi kekasihku, dara?” lanjutnya yang sukses membuat hatiku bersorak ria.

Aku hanya bisa tersenyum penuh arti dan menganggukan kepala. Bisa dipastikan wajahku sangat memerah sekarang. Jiyong mengusap lembut pipiku yang makin lama memerah karena malu.

Tiba tiba hujan turun. Ini sangat aneh karena sebelum aku menuju ke atap, langit masih belum menandakan akan turun hujan.

Kami tak beranjak dari tempat kami. Membiarkan hujan ikut merasakan rasa kebahagiaan yang kami rasakan.

“Kau tak mau berteduh?” tanyanya.

“Ani. Biarkan seperti ini.” Tolakku.

Jiyong menciumku lagi.

Menciumku dan memelukku di tengah hujan. Membawa sedikit kehangatan di tengah tengah kami.

(Flashback end)

Salah satu momen yang kurindukan terngiang lagi dipikiranku. Dan salah satu alasan mengapa kami berdua sangat menyukai hujan, karena ciuman pertama kami. Dan pertama kali, menyandang gelar menjadi kekasih seseorang yang sangat kucintai, kwon jiyong.

Jiyong’s pov

Dia melamun lagi. Mengapa ia selalu melamun?

“Dara”

“Dara” panggilku lagi dengan suara sedikit keras.

“wae?” tanya dara kebingungan.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Sesuatu yang tidak penting”

 “Kwon jiyong”

Aisht, seungri selalu datang diwaktu yang tidak tepat dan berani sekali dia memanggil namaku, cih akan kubunuh dia.

“Kau berbicara dengan siapa lagi kali ini, hyung?” lanjutnya.

“Kau menggangguku. Ada apa?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Kelas kita akan dimulai 15 menit lagi.”

Ya, seungri dan daesung sekelas denganku. Aku dan youngbae melewatkan 1 semester karena  kecelakaan itu. Youngbae selalu menemaniku saat aku harus mengalami hari-hari yang kelam di rumah sakit. Ada yang aneh? seungri memang mahasiswa yang sangat pintar, maka dari itu naik satu semester dan sejajar dengan Daesung. Aku sangat iri dengannya.

“Geurae. Aku akan segera menyusul.”

“Baiklah aku duluan, hyung”

Aku menolehkan kepalaku ke arah dimana dara duduk tadi. Tetapi, ia sudah tak ada disana.

Mungkin aku akan menemuinya lagi nanti dan melanjutkan pembicaraan kita.

“Hyung” seungri memanggilku. Mengapa ia banyak memanggilku hari ini?

“Wae?”

“Apakah kau memiliki kemajuan tentang ingatanmu?” Tanyanya sambil menyandarkan punggungnya pada dinding lift.

“Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya penasaran”

“Aku hanya mengingat satu hal.”

“Apa itu?”

“Sebuah kecelakaan”

“Lalu?”

“Yang membuatku terlempar dari mobilku”

“Apakah itu penyebab aku koma dan amnesia?” lanjutku.

“Meolla hyung” ujar seungri dengan raut wajah gugup.

“Tak ingat sesuatu tentang seseorang?” tanya seungri pelan tetapi masih bisa didengar olehku.

Ting!

Pintu lift terbuka.

Aku mengacuhkan pertanyaannya seolah-olah aku tak mendengarnya dan segera berjalan menuju ruang kelas.

Seungri menjadi pendiam. Aku tak tau apa penyebabnya menjadi seperti itu. Biasanya ia tak berhenti berbicara dan selalu menggangguku. Ada apa dengannya?

“Seungrat” panggilku keras setelah melihat dosenku sudah pergi dari kelas.

Ia menolehkan kepala malas.

“Mengapa kau menjadi pendiam seperti itu?”

“Aku hanya mengantuk”

“Tak usah berbohong”

“jinjja hyung, aku hanya mengantuk”

“Lalu, dimana mata pandamu itu?” gurauku.

“Jangan meledekku hyung”

“Ada apa ini?” Youngbae mencoba memasuki pembicaraan.

“Seungri menjadi pendiam”

“Bae hyung, jangan dengarkan jiyong hyung”

“Lagipula hari ini aku hanya mengantuk. Jiyong hyung hanya melebih lebihkannya” lanjut seungri.

Aku mencibir kesal.

“Aigoo, jangan bilang kalian akan bertengkar hanya karena hal ini” youngbae berucap memperingatkan.

“Kami tidak akan bertengkar” jawab seungri dan aku hanya diam.

Aku segera menyibukkan diri sendiri dengan menggambar dengan tatapan kosong.

Youngbae menyenggol lenganku.

“Hey, sudah ingat dengannya?” tanyanya dengan ekspresi sedih menatap kertas gambaranku.

“Dengan siapa?”

“Sandara Park”

Aku langsung menoleh dan melihat gambaranku. Mengapa aku bisa menggambarnya tanpa sadar? dan bagaimana aku menggambar senyumannya jika tak pernah melihatnya tersenyum?

Kepalaku berdenyut, aku meringis kesakitan dan memegangi kepalaku

“Yak! wae geurae? jiyong-a neo gwaenchana?”

Aku kembali meneggakan kepalaku dan mengangguk lemah.

“Gwaenchana”

Sandara park. Neo nuguya?

Someone’s pov

Bagaimana perasaan kalian jika melihat orang yang kalian cintai mencium orang lain? merasa cemburu dan marah bukan?

Aku sudah merasakan perasaan itu. Dan jangan lupa dengan rasa dendam dan benci yang mendalam. Di otakku  banyak beribu ribu cara yang kupikirkan untuk membunuh orang itu. Orang yang sudah merebut kebahagiaanku. Orang yang sangat kubenci.

Sekarang dia sudah kubunuh. Dia sudah meninggal.

Tetapi, aku merasa tak puas jika hanya dengan membunuhnya. Apa perlu arwahnya kubuat menderita lagi?

Apa kabar, Sandara Park? Aku, disini, sangat senang melihatmu mati seperti itu.

Dan aku juga sangat senang bahwa kau sudah menghilang di memori Jiyong. Jika aku bisa, aku ingin menghilangkanmu dari memori jiyong untuk selamanya.

 

 

TBC

next>>

 

Author’s note : Annyeong haseyo unnie deul. Maap yaa kalo ceritanya tambah bikin  bingung ato gaje, maklum masih author baru. Dan bener bener maaf deh kalo pendek banget chapnya semoga chap selanjutnya aku usahain bisa lebih panjang lagi. Oh iyaaa makasih yah buat unnie deul yang mau nyempetin komen untuk ff nggak jelas ini, itu tuh alasannya ngebuat aku semangat nulis, hehe. Hengsho ^^

Advertisements

18 thoughts on “[Series] My Lost Memory – Chapter 3

  1. omoo, trnyata ada yg mmang bunuh dara. nuguya? aishh jahatnya, jadi gimana nnti jiyong dan dara bersama? udah mulai ingat tuh jiyong, ayoo ingat dara ji ingat kenangan lu sama dara 🙂

  2. Jadi dara bner2 udah mati?kirain dara koma dan arwahnya msh gentayangan:( yahhhh btw siapa tu someonepov ?org yg ngbnuh dara pastinya tapi nuguuya? Next chap thor^^

  3. jiyong ternyata pacar dara di masa lalu, ahh sudah kuduga hahaha. yongbae baik banget sampe ninggalin kelas demi nungguin jiyong. nungguin jiyong atau nungguin dara *ehh ngaco* itu siapa lagi yang ngacauin moment? kiko? krystal? jessica? taeyeon? CL? jangan mereka please -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s