Gonna Get Better [Chap. 5]

untitled-1

Author : rmbintang

Category : Romance

Main Cast : Sandara Park, Kwon Jiyong

“Kenapa kau di sana?” Jiyong langsung mengalihkan pandangannya kepada Dara yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dara yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kini memandang Jiyong dengan tatapan bingung ketika mendapati pria itu kini berbaring di sofa bukannya di tempat tidur.

“Aku akan tidur di sini.” Jawab pria itu yang membuat Dara langsung mengerutkan keningnya.

Wae?” Tanyanya bingung. “Kenapa tiba-tiba?” Jiyong hanya mengangkat bahunya kemudian berbalik membelakangi Dara. “Jiyonga-ah ada apa?” Tanya Dara kini sambil berjalan kemudian duduk di meja menghadap Jiyong. “Apa kau marah kepadaku?” Tanyanya lagi kini sambil memegang bahu Jiyong yang sedang membelakanginya.

“Aku marah kepadamu?” Tanya balik Jiyong tanpa membalikkan badannya.

“Iya.”

“Memangnya kau sudah membuat kesalahan apa sehingga aku harus marah?” Tanya Jiyong lagi masih membelakangi Dara.

“Aku tidak tahu.” Kata Dara. “Tapi kau terus diam sejak kita pulang dari bar.” Lanjutnya. “Aku salah apa huh?”

“Kau tidak membuat kesalahan.”

“Lalu kenapa kau menjadi pendiam seperti ini?”

“Aku hanya lelah.”

“Bohong.” Ujar Dara namun Jiyong tidak menjawab lagi. “Jiyong-ah.” Ujarnya kini sambil merajuk yang membuat Jiyong akhirnya membalikkan badannya lalu menatap kepada wanita itu.

Wae?”

“Tidurlah di tempat tidur! Tubuhmu bisa sakit jika kau tidur di sini.”

“Aku tidak bisa.” Ujar Jiyong pelan.

Wae?” Dara bertanya kini dengan pandangan bingung.

Karena aku takut tidak bisa menahan diriku seperti tadi pagi jika tidur seranjang denganmu’ Ujar Jiyong di dalam hatinya namun tentu saja dia tidak menyuarakan hal itu. “Kau banyak bergerak ketika tidur, aku hanya tidak ingin kau menendangku lagi seperti tadi malam.” Ujar Jiyong berbohong sambil mengedikkan bahunya.

“Aku menendangmu?” Tanya Dara dengan kening yang berkerut. Ini pertama kalinya Dara mendengar bahwa dia banyak bergerak ketika dia tidur.

Tentu saja tidak.’ Ujar Jiyong di dalam hatinya namun dia hanya mengangguk kepada Dara untuk membalas pertanyaan gadis itu. “Dan lagipula kau ngorok, aku tidak menyangka gadis cantik sepertimu bisa sangat berisik ketika sedang tidur dan yang paling parah kau bahkan mengiler.” Ujarnya lagi sambil berdecak yang berhasil membuat Dara membelalakkan matanya tidak percaya.

“Bohong!” Ujar Dara dengan sedikit keras. “Aku tidak pernah ngorok apalagi berisik. Aku ini seperti puteri salju ketika sedang tidur. Kau pasti bohong.” Ujarnya tidak terima yang membuat Jiyong tertawa terbahak karena wajah Dara sangat lucu sekarang, percampuran antara malu dan tidak percaya.

“Bagaimana kau tahu kau seperti puteri salju ketika sedang tidur? Kau kan tidak bisa melihatnya?” Tanya Jiyong geli.

“Aku tahu saja.” Ujar Dara sewot kemudian mendengus kepada Jiyong yang masih tertawa.

“Dara aku sarankan kau jangan tidur dengan pria lain, mereka pasti akan langsung lari dari hidupmu jika tahu kebiasaanmu ketika tidur.” Ujar Jiyong lagi yang berhasil membuat Dara semakin kesal.

“Tutup mulutmu!” Ujarnya kini sambil berdiri. “Aku tidak mungkin ngorok apalagi ngiler.” Ujar Dara kini sambil memukul bahu Jiyong dengan sedikit keras. Jiyong semakin tertawa karena berhasil membuat Dara kembali kesal. Jiyong sangat menyukai menggoda Dara seperti ini.

“Ngorok, ngiler.” Ujar Jiyong lagi untuk kembali menggoda Dara. Dara yang kini sudah duduk di tempat tidur langsung mengambil bantal lalu melemparkannya dengan keras kearah Jiyong yang dengan mudah dapat Jiyong tangkap.

“Diam! Aku tidak ingin mendengarnya lagi.” Ujar Dara kini sambil menutup kedua telinganya dengan tangan karena Jiyong terus mengatakan kata-kata memalukan itu tapi Jiyong tidak berhenti menggoda sahabatnya itu. “Aku mohon berhenti berbohong!” Ujar Dara lagi karena sudah tidak tahan dengan godaan Jiyong itu.

“Aku tidak berbohong.”

“Aku tahu kau bohong karena Joo Won tidak pernah mengatakan hal itu ketika kami masih berpacaran.” Ucapan Dara barusan langsung membuat Jiyong menghentikan tawanya.

“Apa maksudmu?” Tanya Jiyong tajam kepada Dara. Dara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika dia sadar dengan apa yang telah dia ucapkan barusan. “Apa maksudmu kau tidur dengan pria brengsek itu ketika kalian bersama?” Tanya Jiyong lagi kini dengan suara mengintimidasi. Dia menatap tajam kepada Dara yang kini sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Jawab aku!” Bentak Jiyong karena Dara tidak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan dan hal itu berhasil membuat Dara menurunkan tangannya lalu menatap Jiyong dengan tatapan bingung. Ini pertama kalinya Jiyong membentak Dara.

“Kenapa kau membentakku?”

“Karena kau tidak menjawab pertanyaanku.”

“Lalu kenapa kau ingin tahu dengan urusanku huh?”

“Aku pikir kita sahabat tapi kau bahkan tidak pernah mengatakan bahwa kau telah tidur dengan pria brengsek itu.”

“Tidak semua hal bisa aku ceritakan kepadamu Jiyong.”

“Aku bahkan selalu mengatakan semua yang aku lakukan dengan kekasihku.”

“Tapi aku tidak segamblang dirimu menyangkut itu Jiyong. Itu hal pribadi yang aku tidak bisa bicarakan dengan siapapun.”

“Jadi benar kau sudah tidur dengannya huh?” Tanya Jiyong lagi kini semakin marah.

“Kenapa kau marah?”

“Karena kau telah tidur dengan pria brengsek itu.”

“Kenapa kau marah karena aku tidur dengannya?” Tanya Dara yang kini mulai kesal dengan nada bicara Jiyong.

“Karena kau tidur dengan lelaki Dara. Aku marah karena itu!” Ujar Jiyong dengan menggertakkan giginya.

“Lalu kenapa? Saat itu dia kekasihku jadi apa salahnya jika aku tidur dengan dia? Kau juga tidur dengan semua kekasihmu, kan?” Tanya Dara dengan menatap tajam kepada Jiyong yang juga sedang menatapnya dengan tidak kalah tajam. Dara bisa melihat kilat marah dari mata Jiyong dan hal itu membuatnya kembali merasakan kebingungan. Mereka berdua bertatapan sengit selama beberapa saat tanpa ada yang mengeluarkan kata-kata.

Jiyong marah karena cemburu ketika memikirkan pria lain telah menyentuh tubuh Dara, dia tahu dia tidak memiliki hak untuk marah karena hal itu tapi tetap saja Jiyong tidak bisa menahan amarahnya sedangkan Dara mulai marah karena dia tidak terima Jiyong membentaknya. Dara paling tidak suka jika ada seseorang yang membentaknya seperti Jiyong tadi.

“Bodoh!” Umpat Jiyong setelah beberapa saat kemudian dia kembali membalikkan badannya lalu berbaring membelakangi Dara yang sedikit terkejut dengan umpatan Jiyong.

“Ya kenapa kau mengumpat kepadaku huh?” Tanya Dara tidak terima. Dia berdiri kemudian menaruh kedua tangannya di pinggang lalu berjalan kearah Jiyong. “Ya Kwon Jiyong kau tidak bisa tidur begitu saja setelah membentak dan mengumpat kepadaku.” Dara masih tidak terima karena sikap Jiyong tadi. “Minta maaflah sekarang lalu aku akan memaafkanmu karena ini pertama kalinya kau melakukan itu kepadaku.” Ujar Dara lagi namun Jiyong masih tidak mengeluarkan kata-kata. Dara mulai frustasi sekaligus bingung dengan sikap Jiyong yang tiba-tiba berubah seperti itu.

Dara tahu Jiyong memang sangat marah ketika mantan kekasihnya itu mengkhianati Dara dulu, Jiyong marah dan bahkan mengancam akan membunuh pria itu ketika Dara menangis di pelukan Jiyong. Dara tahu Jiyong sangat peduli kepadanya namun sikap Jiyong hari ini sangat berlebihan ketika dia tahu bahwa Dara dan Joo Won pernah tidur berdua ketika mereka masih bersama. Sikap Jiyong ini sama persis seperti sikap pria-pria pecemburu di beberapa cerita yang pernah dia baca.

Apa Jiyong cemburu?’ Tanya Dara perlahan dalam hatinya dan hal itu sedikit membuatnya terkejut. ‘Tapi kenapa? Apa dia menyukaiku?’ Tanyanya lagi pada diri sendiri dan pemikiran itu membuat Dara semakin terkejut dan sedikit tidak percaya dengan kemungkinan Jiyong menyukainya. ‘Aigoo Dara, kau terlalu banyak membaca novel romance dan menonton drama.’ Ujarnya lagi sambil menggelengkan kepalanya. ‘Mana mungkin si brengsek ini menyukaiku’ Ujar Dara lagi sambil menatap punggung Jiyong kemudian dia berbalik lagi dan mulai berbaring di atas tempat tidurnya, membiarkan pemikirannya pergi jauh dari kepalanya.

****

Damnit. Jiyong tidak bisa menahan amarahnya ketika dia mendengar apa yang Dara katakan tadi. Dia tiba-tiba menjadi marah dan kesal setelah mendengar bahwa ternyata Dara dan mantan kekasihnya pernah tidur berdua. Dia bahkan membentak Dara karena dirinya benar-benar terganggu dengan pemikiran itu.

Bagaimana dia tidak marah? Dia, Sandara-nya pernah disentuh oleh lelaki lain. Okay, Jiyong mulai gila karena mulai posesif kepada Dara padahal status mereka hanya sebatas sahabat, tidak kurang dan tidak lebih. Status yang sangat dibenci oleh Jiyong melebihi apapun di dunia ini.

Jiyong mulai membalikkan badannya setelah beberapa saat Jiyong berbaring miring membelakangi wanita itu lalu menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit kamar hotel ini. Jiyong merasa bersalah karena tadi membentak wanita itu. Jiyong juga tahu bahwa mungkin Dara merasa bingung dengan perubahan suasana hatinya tadi.

Jiyong menggerakkan tubuhnya lagi kini berbaring miring kearah tempat tidur sehingga dalam posisi seperti itu dia bisa melihat Dara yang kini sedang memejamkan matanya dengan damai, Jiyong langsung menyimpulkan senyumannya ketika melihat wajah cantik Dara saat ini. Kemarahan dan kecemburuan Jiyong langsung menguap ketika melihat wajah cantik Dara.

Jiyong kemudian bangkit dari posisinya lalu berjalan kearah Dara dengan sangat pelan supaya wanita itu tidak terbangun. Dia kemudian duduk di lantai di samping tempat tidur, posisi Dara kini sedang menghadap Jiyong jadi dia bisa puas memandang Dara yang kini sedang larut dalam mimpinya.

Jiyong mengangkat tangan kanannya lalu mulai mengelus lembut rambut Dara dengan sangat hati-hati supaya dia tidak membangunkan wanita itu kemudian Jiyong menyingkirkan helaian rambut Dara yang menutupi wajah cantiknya supaya dia bisa memandang wajah cantik itu tanpa satupun penghalang.

Dengan jempol tangannya Jiyong mulai membelai lembut wajah Dara yang semulus sutera, dia terus membelainya kemudian setelah puas Jiyong beralih mengusap lembut bibir mungilnya, bibir yang selalu ingin dia rasakan, bibir yang selalu ingin dia hisap dan dia lumat dengan sangat rakus.

“Ya buang pemikiran kotormu!” Perintahnya kepada diri sendiri sambil menggelengkan kepalanya untuk membuang jauh pemikirannya untuk menghisap dan melumat bibir Dara.

Ini adalah alasan kenapa dia tidak bisa tidur seranjang dengan wanita itu, Jiyong takut tidak bisa menahan dirinya seperti saat ini dan tadi pagi. Dia tidak ingin mengambil kesempatan untuk menyentuh Dara ketika wanita itu sedang tidak sadar, Jiyong tidak bisa melakukan hal itu kepada Dara. Jiyong ingin merasakan bibir Dara ketika dia juga ingin merasakan miliknya. Jiyong hanya akan melakukan hal itu jika Dara juga ingin melakukannya. Jiyong memang brengsek tapi dia telah berjanji tidak akan bersikap brengsek kepada satu-satunya wanita yang dia cintai setengah mati ini. Ya, Jiyong memang mencintai Dara dengan sepenuh hatinya.

Mianhae karena aku hampir menjadi pria brengsek kepadamu tadi pagi.” Ujar Jiyong pelan sambil terus membelai wajah Dara. “Dan maafkan aku karena telah membentakmu, aku hanya cemburu Dara aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah dan kesal. Aku hanya mencintaimu.” Sambungnya dengan suara yang menyerupai bisikan supaya wanita itu tidak bisa mendengarnya. Belum saatnya. Jiyong belum siap untuk mengatakan semuanya kepada Dara.

Saat Jiyong sedang menatapnya intens tiba-tiba saja Dara memegang tangan Jiyong yang masih membelai wajahnya. Jiyong langsung gugup karena takut jika Dara mengetahui apa yang sedang pria itu lakukan namun ketika Jiyong kembali menatapnya ternyata Dara masih memejamkan matanya, membuat Jiyong langsung menghembuskan napas lega karena ternyata Dara hanya bermimpi.

Jiyong kemudian langsung memegang tangan Dara yang sedang memegang tangannya dengan cukup erat lalu Jiyong dengan perlahan mencoba melepaskan genggaman tangan Dara pada tangannya dengan sangat hati-hati namun sepertinya Dara enggan melepaskan tangan itu dan malah menggenggamnya lebih erat. Jiyong langsung tersenyum ketika Dara membawa tangannya dan meletakannya di dekat dada wanita itu namun senyuman Jiyong langsung memudar ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh Dara di dalam tidurnya.

Soohyuk-ah don’t leave me, please!” Jiyong mengerutkan keningnya ketika dia mendengar apa yang Dara ucapkan itu.

“Soohyuk?” Tanya Jiyong pelan dengan mata yang tidak pernah lepas dari sosok bidadarinya itu. “Siapa dia?”

Jiyong Pov

Aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku malam ini. Tidak setelah aku tahu bahwa Dara ternyata pernah tidur dengan pria brengsek yang pernah menyakiti hatinya dan yang paling menggangguku adalah nama seorang lelaki yang Dara ucapkan ketika dia sedang tertidur. Ini pertama kalinya aku mendengar nama lelaki itu,  apa hubungannya dengan Dara sehingga Dara bisa menyebut nama pria itu di dalam tidurnya?

“Jiyong!” Aku yang dari tadi terlarut dalam pikiranku langsung melirik Dara yang tadi memanggil namaku. Dara kini sedang melipat baju kotor dan memasukkannya ke dalam koper miliknya. “Aku masih marah kepadamu soal tadi malam.” Ujar Dara tanpa menatapku dan hal itu kembali mengingatkan aku tentang kejadian tadi malam saat aku membentaknya. Perasaan bersalah langsung melanda diriku.

Mianhae, aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya terlalu lelah dan kau juga tahu sendiri bahwa tadi malam aku masih berada dibawah pengaruh alkohol jadi semua yang aku katakan tadi malam diluar kendaliku.”

Arasseo.” Ujar Dara. “Karena kau meminta maaf maka aku akan melupakan masalah tadi malam tapi kau harus menjelaskan kenapa kau marah karena aku tidur dengan Joo Won?” Tanya Dara yang kini telah menatapku tajam. Selama beberapa saat aku bungkam karena tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin aku mengatakan kepadanya bahwa aku marah karena cemburu kepadanya.

“Aku marah karena dia pria brengsek dan kau tidur dengan pria brengsek itu. Dia sudah menyakitimu jadi aku tidak suka ketika kau mengatakan bahwa kau telah tidur dengannya.” Kataku beralasan. Semoga Dara percaya dengan apa yang aku katakan barusan.

“Tapi aku tidur dengannya sebelum aku tahu bahwa dia mengkhianatiku.” Kata Dara yang masih menatapku, tatapan Dara sangat meneduhkan membuatku selalu tenang saat menatapnya. “Jadi aku harap kau tidak marah lagi.” Ucap Dara kini sambil tersenyum hangat. Bahkan senyumannya juga sangat menenangkan. Semua hal yang ada pada Dara memang selalu berhasil menenangkanku.

“Aku tidak marah lagi.” Kataku dengan membalas senyuman Dara. “Dan aku benar-benar minta maaf untuk sikapku tadi malam.” Ujarku dengan sungguh-sungguh. Aku benar-benar menyesal karena telah membentaknya.

“Aku sudah memaafkanmu walaupun aku sedikit terkejut karena itu pertama kalinya aku mendengar kau membentak dan mengumpat kepadaku.” Ujar Dara kini sambil sedikit merenggut. “Awas saja kalau kau berani melakukan hal itu lagi.” Ancamnya sambil sedikit melotot, aku sedikit tertawa karena ekspresinya sangat menggemaskan saat ini lalu beberapa detik kemudian Dara ikut tertawa denganku.

“Jiyong-ah terimakasih karena selalu peduli dan mengkhawatirkan aku.” Ujar Dara tiba-tiba setelah beberapa saat. Aku mengangguk sambil tersenyum yang Dara balas dengan senyumannya, senyuman termanis yang ada di dunia ini. Ketika aku terlena dengan senyuman Dara itu tiba-tiba aku mengingat nama pria yang tadi malam Dara sebut di dalam tidurnya.

“Dara,”

“Hmmm?” Dara membalas sambil terus menatapku. Haruskah aku bertanya kepada Dara tentang pria itu? Tentang hubungan Dara dengan pria itu? Tentang seberapa penting pria itu untuknya?

Anni.” Kataku sambil menggelengkan kepala. Aku tidak bisa bertanya tentang pria itu kepada Dara karena aku tidak akan bisa menjawab jika Dara bertanya mengapa aku tahu nama pria itu.

Wae?” Tanya Dara dengan raut wajah penasaran. “Aku tahu kau ingin bertanya sesuatu. Katakan saja!”

Anni.” Kataku kembali menggelengkan kepala. “Aku tadi hanya ingin mengatakan bahwa tadi malam kau kembali mengorok.” Kataku lagi kemudian aku tertawa ketika melihat Dara telah merenggutkan bibirnya dengan kesal.

****

“Dara apakah kau sedang dekat dengan seseorang akhir-akhir ini?” Tanyaku tiba-tiba ketika aku dan dia sedang menunggu sarapan kami. Aku bertanya karena aku benar-benar penasaran dengan pria yang Dara sebutkan di dalam tidurnya itu. Aku tidak bisa mengalihkan pikiranku dari hal itu.

“Huh?” Tanya Dara bingung. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang hal itu?”

“Aku hanya penasaran.” Kataku sambil tersenyum. “Kau selalu menolak pria yang nenekmu kenalkan kepadamu jadi aku hanya berpikir apa mungkin kau sudah memiliki seseorang yang belum kau kenalkan kepada nenekmu dan kepadaku.” Dara tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.

“Hampir setiap hari kita bersama Jiyong jadi kau pasti akan tahu jika aku sedang bersama seseorang.” Jawabnya.

“Jadi kau tidak sedang bersama seseorang?” Tanyaku lagi yang Dara balas dengan anggukkan kepala. ‘Lalu siapa pria itu?

Wae?” Tanya Dara. “Tidak biasanya kau bertanya tentang hal itu kepadaku.” Sambungnya dengan kening berkerut.

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran.” Dara masih menatapku sambil mengerutkan keningnya.

“Kau menjadi aneh sejak kita pulang dari bar.” Katanya yang hanya aku balas dengan senyuman seadanya. Bagaimana caranya aku bertanya tentang pria itu kepada Dara. Ketika aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk bertanya lagi tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pintu. Itu sepertinya pegawai hotel yang mengantarkan sarapan kami berdua. Aku dan Dara terlalu lelah untuk pergi ke bawah jadi aku dan dia memutuskan untuk sarapan di dalam kamar hotel kami.

“Aku yang akan membukanya.” Kataku ketika aku melihat Dara akan berdiri untuk membuka pintu.

Saat kembali sambil membawa nampan saat itu aku melihat Dara sedang menatap kearah ponselnya. Sepertinya dia sedang membaca pesan masuk namun raut wajah Dara menggangguku karena dia terlihat sangat sendu ketika membaca pesan itu lalu beberapa detik kemudian aku melihat Dara mengetik untuk membalas pesan itu.

“Makanannya sudah datang.” Kataku sambil menaruh nampan itu di atas meja lalu menyerahkan satu piring untuk Dara. Dia tersenyum kemudian mengatakan terimakasih sambil mengambil piring dari tanganku. Aku terus memperhatikan Dara, dia tidak banyak bicara dan hanya terus memakan makanannya tanpa sekalipun menatapku. Aku merasa bahwa Dara sedang menyembunyikan hal besar dariku tapi aku tidak punya hak untuk bertanya karena status sialan kami ini.

“Jiyong!” Aku langsung mengalihkan perhatianku ketika mendengar suara Dara memanggil namaku.

“Huh?”

“Temani aku jalan-jalan sebelum kita pulang ke Korea!” Ujarnya pelan dengan sedikit senyuman. Aku balas tersenyum kemudian menganggukkan kepalaku. “Dan jika aku boleh tanya, berapa besar bonus kita untuk pekerjaan kita kemarin?” Tanya Dara lagi. Aku langsung menatapnya dengan bingung.

“Sekitar tiga kali gaji kita yang biasa.” Ujarku. “Memangnya kenapa?” Aku mulai curiga ketika Dara menyimpulkan sebuah smirk, aku tahu arti senyuman itu. “Jangan bilang kau akan menghabiskan semuanya hari ini!” Kataku dengan mata yang sedikit dibuka lebar. Dara tertawa setelah mendengar pertanyaanku.

“Aku mencari uang untuk dihamburkan jadi kenapa tidak?”

“Tapi itu terlalu banyak Dara.” Kataku lagi. Dia hanya mengangkat bahunya tidak peduli.

“Ini uangku jadi kau tidak bisa melarang apapun yang ingin aku lakukan dengan uang milikku sendiri.” Shit, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi jika Dara sudah mengatakan hal itu. Dia benar, ini uangnya dan aku tidak mempunyai cukup alasan untuk melarangnya menghamburkan uang miliknya karena aku hanya sahabatnya, hanya teman lelaki biasa. Aku kemudian diam tidak lagi bicara dan kembali menghabiskan sarapanku.

****

Aku pikir Dara hanya akan menghabiskan bonusnya untuk dibelanjakan hari ini tapi ternyata aku salah karena sepertinya uang yang dia habiskan melebihi bonus yang dia dapatkan. Aku dan Dara sudah berada di salah satu mall terbesar yang berada di Tokyo. Kami berada di sini sudah sekitar tiga jam yang lalu dan sekarang kedua tanganku penuh dengan belasan shopping bag hasil menguras habis tabungan Dara. Jam tangan, tas, sepatu, gaun yang harganya selangit. Bahkan bonusku ditambah bonusnya sepertinya masih kurang untuk membayar semua belanjaannya ini. Pada saat-saat seperti ini aku bersyukur Dara bukan kekasihku.

“Dara,” Ujarku pelan ketika melihat Dara meraih sebuah sunglasses cantik dari display.

“Huh?” Jawabnya sambil memperhatikan barang yang baru diambil.

“Kita sedang apa huh?”

“Belanja memangnya sedang apa lagi!” Jawabnya acuh kemudian dia memakai sunglasses itu. “Bagaimana? Apa aku terlihat cantik?”

“Tidak!”

“Masa sih?” Tanyanya sambil melepaskan kacamata itu kemudian memperhatikannya lagi. “Padahal aku suka warnanya.”

“Sudah cukup Dara, ayo kita pulang!” Kataku lagi.

“Kenapa?” Tanya Dara kini sambil menatapku. “Waktu kita masih banyak.”

“Tapi ini sudah terlalu banyak Dara. Kau belanja benar-benar seperti orang gila.” Ujarku lagi kini dengan sedikit tegas.

So what?” Tanyanya.

“Dara ini,-”

“Jangan berisik deh Ji!” Dara menjawab dengan sedikit kesal. “Kau bukan seseorang yang bisa melarangku untuk melakukan apapun yang aku mau jadi diamlah dan cukup temani aku.” Aku hanya terdiam. Rasanya seperti tamparan saat aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa bagi Dara.

Dara Pov

Terkadang aku berpikir apa takdirku memang seburuk ini? Tumbuh besar tanpa sebuah keluarga, dikhianati oleh orang yang aku cintai dan oleh temanku sendiri, lalu jatuh cinta lagi dengan seorang pria yang aku pikir Tuhan kirimkan untukku namun ternyata aku salah karena pria itu sama sekali tidak mencintaiku, dia mencintai orang lain, seseorang yang juga aku sayangi.

Someone please help me to erase him from my head, from my heart. Aku butuh alat yang bisa menghapus semua jejak lelaki itu dari kepalaku, dari hatiku. Siapapun yang mempunyai penghapus ajaib itu tolong pinjamkan kepadaku karena aku benar-benar membutuhkannya. Aku harus melupakannya.

Aku sedang sangat sedih saat ini jadi aku memutuskan untuk menghabiskan uangku karena salah satu hal yang bisa membuatku melupakan kesedihanku adalah dengan berbelanja sebanyak yang aku mau. Aku tahu kebiasaanku ini sangat buruk tapi apapun akan aku lakukan untuk melupakan wajah pria itu walaupun hanya untuk sejenak, melupakan rasa cintaku untuknya walaupun hanya untuk sementara, melupakan pesan yang tadi pagi aku terima, satu kalimat yang berhasil membuat pagiku serasa seperti kiamat.

Unnie dia melamarku, dan aku bilang iya

Aku kembali menghela napas ketika mengingat pesan itu. Menghabiskan hampir separuh tabunganku ternyata tidak membuatku melupakan pesan itu dengan begitu mudah karena pesan itu terus berseliweran di kepalaku seolah memaksaku untuk mengingat betapa menyedihkannya hidupku ini. Belum lagi wajah pria itu terus bermunculan di kepalaku seolah enggan pergi bahkan untuk sedetik saja. Aku ingin menangis setiap kali aku menemukan sesuatu yang aku rasa akan sempurna untuknya, dasi, jam tangan, kaca mata dan barang lainnya.

“Jiyong?”

“Huh?” Sahutnya dengan sedikit pelan. Aku memanggilnya karena aku pikir dia pergi. Jiyong terus diam sejak tadi aku mengatakan sesuatu yang aku rasa terlalu kasar, bahkan untuk seorang Jiyong ketika dia menyuruhku untuk berhenti berbelanja karena dia tahu aku sudah terlalu banyak menghabiskan uang. But who cares? Saat sedang seperti ini aku bahkan tidak peduli jika semua uangku habis yang aku pedulikan hanya aku bisa melupan pria itu untuk sejenak.

“Aku pikir kau sudah pergi.” Kataku yang masih berjalan di depan Jiyong yang mengekoriku dengan membawa semua shopping bag milikku hasil beberapa jam menjelajahi mall ini.

“Aku ingin tapi aku tidak bisa.” Aku mendengarnya berkata pelan. Aku menyunggingkan senyuman ketika mendengar apa yang Jiyong ucapkan itu karena aku tahu dia tidak akan mungkin meninggalkan aku. Aku kemudian berbalik menghadap Jiyong membuatnya langsung menghentikan langkahnya juga.

“Kita pulang setelah kita masuk ke sana.” Kataku sambil menunjuk sebuah butik yang  menjual pakaian formal untuk pria. Jiyong mengikuti arah tunjukku lalu kembali menatapku dengan kening berkerut.

“Apa yang ingin kau beli di tempat itu?”

“Kita harus membeli oleh-oleh untuk bos.” Ujarku sambil tersenyum kemudian kembali berbalik dan melanjutkan langkah kakiku diikuti oleh Jiyong.

Setelah akhirnya puas berbelanja aku langsung membawa Jiyong ke dalam sebuah cafe yang berada tidak jauh dari mall. Aku membawanya ke sana supaya kami bisa beristirahat sebelum kembali ke hotel. Aku dan Jiyong sudah membereskan semua barang kami jadi aku tinggal memasukan semua barang belanjaanku ke dalam koper lalu kami bisa langsung pergi ke bandara untuk pulang ke Korea.

Rasa nyaman langsung melanda diriku ketika aku duduk di sofa empuk yang berada di cafe ini, Jiyong duduk di hadapanku dengan barang belanjaanku yang berada di ruang kosong di sampingnya dan sisanya dia taruh di bawah lantai.

“Minumlah!” Aku langsung melirik Jiyong yang sekarang sedang menyerahkan sebotol air mineral kepadaku. “Wajahmu sangat merah, kau pasti kelelahan!” Katanya lagi. Aku mengambil botol itu lalu langsung meminumnya, Jiyong benar aku memang sangat lelah.

Suara musik yang diputar di cafe ini mendominasi suasana saat ini karena baik aku dan Jiyong tidak ada yang bicara, aku masih dipenuhi oleh pikiran tentang pria itu sementara aku yakin Jiyong tidak banyak bicara karena perkataanku tadi yang sangat kasar kepadanya. Aku ingat bahwa aku belum meminta maaf karena hal itu.

“Jiyong ini untukmu.” Kataku membuat Jiyong yang tadi sedang mengetik sesuatu di ponselnya langsung melirik kepadaku.

“Apa ini?” Tanyanya sambil menaikkan salah satu alis matanya.

“Dasi. Hadiah untukmu karena telah menemaniku seharian ini.” Kataku sambil tersenyum.

“Tidak perlu.” Katanya sambil mengambil gelas minumannya lalu meminumnya lewat sedotan. “Aku tulus menemanimu jadi tidak perlu memberiku hadiah.” Katanya lagi dengan tenang.

“Tapi kau marah.” Kataku pelan.

“Aku tidak marah.”

“Aku tahu kau marah karena perkataanku tadi. Aku minta maaf dan tolong terima ini!” Kataku lagi sambil menggeser hadiahku kearahnya.

“Aku tidak marah, aku serius.” Katanya. “Lagipula untuk apa aku marah? kau benar, aku bukan siapa-siapa jadi aku tidak punya hak untuk mencampuri urusanmu. Aku yang harusnya meminta maaf karena telah membuatmu kesal.”

“Jiyong aku tidak bermaksud seperti itu.” Kataku merasa bersalah. “Kau tahu, kau penting untukku.”

Yeah.” Katanya sambil menganggukkan kepalanya. “Aku sahabatmu dan aku harusnya tahu batasannya.” Ujarnya dengan lebih pelan tanpa sekalipun menatap kepadaku. Aku rasa Jiyong bukan hanya marah tapi dia juga terlihat sangat kecewa kepadaku. Aku menghela napas berat karena melihat Jiyong seperti ini entah kenapa membuatku tidak nyaman. Jiyong tidak pernah seperti ini sebelumnya saat dia marah jika aku melakukan kesalahan kepadanya.

Aku menundukkan kepalaku ke bawah. Aku menyedihkan karena semua orang pada akhirnya akan meninggalkan aku, aku rasa Jiyong juga akan meninggalkan aku setelah kejadian ini, setelah aku memaksanya untuk menemaniku, setelah dia tanpa banyak bicara membawakan semua barang belanjaanku dan yang aku lakukan malah berkata kasar kepadanya. Jiyong pasti berpikir bahwa aku sangat egois, dia pasti akan menjauh setelah ini dan memikirkan Jiyong akan meninggalkanku entah mengapa membuat dadaku terasa ngilu dan tanpa sadar satu butir air mata jauh membasahi pipiku disusul oleh butir-butir yang lainnya.

“Dara?” Aku mendengar nada khawatir Jiyong. Mungkin dia melihat air mataku. “Dara kau kenapa?” Tanyanya lagi dengan lebih khawatir. “Apa kau sakit?” Tanyanya lagi, aku mengangkat kepalaku lalu menggelengkan kepala sambil menghapus air mataku lalu tersenyum kearahnya.

“Kakiku sakit karena terus berjalan dengan sepatu ini.” Kataku memberi alasan. Jiyong terus menatapku dengan khawatir. aku tahu Jiyong tidak mudah untuk dibohongi jadi aku rasa dia tahu bahwa aku berbohong tapi seperti biasa dia akan pura-pura percaya kepadaku.

“Kakimu sakit?” Tanya Jiyong setelah beberapa saat, aku mengangguk dengan air mata yang mulai kembali jatuh di pipiku.

“Sakit sekali.” Kataku kini dengan sedikit terisak lalu menutup wajahku dengan telapak tangan untuk kembali menangis. Aku ingin menangis sejak aku menginjakkan kakiku di kota ini dan aku mencoba menahan semuanya tapi kali ini aku tidak sanggup lagi menahannya karena semua kesedihanku kini bertumpuk menjadi satu. Dadaku sangat sakit dan aku sudah tidak bisa terus berpura-pura baik-baik saja jadi aku menangis semakin terisak.

“Sshhh jangan menangis!” Tiba-tiba aku merasakan tubuhku dipeluk dari samping lalu sebuah tangan memegang kepalaku lalu membawanya pada sebuah dada bidang dan aku tahu ini pelukan Jiyong, pelukan yang sama yang selalu aku dapatkan ketika aku tidak kuat menahan rasa sakit yang aku rasakan. “Aku bersamamu Dara jadi jangan menangis, semuanya pasti akan baik-baik saja!” Ujar Jiyong tenang sambil mengusap lembut kepalaku.

“Kakiku sakit sekali Jiyong-ah!” Ujarku diantara isakan. “Aku tidak kuat lagi.”

“Aku akan memijatnya nanti supaya kakimu tidak sakit lagi.” Katanya masih menenangkan aku. “Sekarang berhentilah menangis!” Katanya kini sambil mengusap lembut wajahku untuk menghapus air mata yang masih mengalir. Aku menjadi lebih baik ketika Jiyong melakukan hal itu, rasa sakitku perlahan hilang saat aku merasakan Jiyong mencium puncak kepalaku dengan lembut sambil terus menenangkanku.

****

“Merasa lebih baik?” Aku mengangguk sambil terus memperhatikan Jiyong yang saat ini sedang berlutut di hadapanku sambil memijat kakiku. Tangisanku sudah berhenti beberapa saat yang lalu dan setelah yakin aku tidak menangis lagi Jiyong langsung melepaskan pelukannya lalu memutar posisiku sehingga kakiku keluar dari meja, Jiyong lalu berlutut dan mulai memijat kakiku. Aku mencoba mencegahnya karena kami menjadi tontonan pengunjung lain di cafe ini namun Jiyong tidak peduli dan terus memijat kakiku sampai aku merasa lebih baik.

“Sudah cukup! kakiku sudah tidak sakit lagi.” Kataku membuat Jiyong mendongkak lalu menatapku sambil tersenyum kemudian berdiri. “Aku ingin pulang!” Kataku lagi yang Jiyong balas dengan anggukkan.

“Tunggu sebentar, aku akan mencuci tangan dulu.” Katanya yang aku balas dengan anggukkan.

Aku tersenyum setelah Jiyong pergi. Terkadang aku merasa menjadi orang paling beruntung karena bisa bersahabat dengan Jiyong. Aku kembali tersenyum ketika sadar bahwa terkadang aku dan Jiyong sangat bertolak belakang namun terkadang aku merasa bahwa aku dan Jiyong adalah satu, dan terkadang aku merasa bahwa dengan Jiyong hidupku terasa berbeda, hidupku berwarna dan sangat sempurna ketika aku sedang bersamanya dan terkadang aku menganggap bahwa Jiyong adalah separuh jiwaku yang hilang. Jiyong lebih dari sekedar sahabat bagiku, He is my guardian and my soulmate.

“Apa aku membuatmu menunggu lama?” Aku langsung mengalihkan pandanganku ketika kembali mendengar suara Jiyong, dia berdiri di samping tempat dudukku dengan membawa sebuah bungkusan.

“Apa yang kau bawa?”

“Kakimu akan sakit lagi jika kau masih memakai sepatu tinggi ini jadi aku mencarikan sepatu yang lebih nyaman.” Katanya sambil mengambil sepasang sandal dari dalam bungkusan itu. Aku langsung menatapnya dengan sedikit terkejut.

“Kau tadi pergi keluar untuk membeli itu?” Tanyaku dengan mata yang telah membulat sempurna. Jiyong mengangguk kemudian kembali berlutut di hadapanku. Dia mengambil kaki kananku lalu melepaskan sepatu yang telah kembali aku pakai lalu mengusap telapak kakiku untuk membersihkannya dari debu lalu memakaikan sandal yang baru dia beli. Dia melakukan hal yang sama pada kaki kiriku.

Aku terus menatap Jiyong sambil terus tersenyum, aku sangat bahagia dengan perlakuannya ini. Aku tahu dia playboy dan pasti dia biasa bersikap manis seperti ini kepada wanita lain tapi walaupun begitu aku tetap saja bahagia karena pria brengsek ini adalah sahabatku.

“Jiyong kau sudah tidak marah lagi?” Kataku ketika dia kembali berdiri. Jiyong tersenyum kearahku laku mengacak rambutku pelan.

“Sudahku katakan bahwa aku tidak marah!” Katanya masih sambil mengacak rambutku.

“Aishh jangan sentuh rambutku!” Kataku sambil memundurkan badanku untuk membuatnya berhenti menyentuh kepalaku, aku tidak suka jika rambutku berantakan.

“Dara tapi tanganku sangat pegal dan sepertinya tanganku hampir lepas dari engselnya karena membawa semua barang belanjaanmu itu.” Katanya sambil melihat semua shopping bag yang masih duduk dengan rapi di tempatnya. “Kau harus melakukan sesuatu untuk membalasku!”

Wae?” Tanyaku sambil sedikit tersenyum. “Tadi kau bilang kau tulus melakukannya dan menolak hadiah yang aku berikan untukmu.”

“Aku berubah pikiran.” Ujar Jiyong. “Berikan hadiahku dan lakukan sesuatu supaya aku merasa lebih baik!”

Andwe.” Kataku. “Kau sudah menolaknya tadi.”

“Yah dasar wanita kejam.” Katanya sambil berdecak dan akan kembali mengacak rambutku namun aku dengan sigap langsung memundurkan tubuhku untuk menghindarinya.

“Baiklah aku akan memberikan hadiahmu.” Kataku akhirnya karena Jiyong sepertinya tidak menyerah untuk mengacak rambutku. Dia tersenyum lebar kemudian kembali ke posisinya semula. “Ini.” Kataku sambil menyerahkan kotak tadi kepada Jiyong.

“Terimakasih!” Ujarnya dengan senyuman lebar.

“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu lebih baik?” Tanyaku, aku melihat Jiyong tersenyum ringan sebelum dia menjawab.

“Jangan menangis lagi!” Ujarnya pelan.

“Huh?” Aku menatapnya dengan bingung.

“Hanya itu yang perlu kau lakukan supaya aku merasa lebih baik.” Aku melihat ketulusan ketika menatap tepat pada mata Jiyong.

“Baiklah!” Kataku akhirnya sambil menganggukkan kepala.

“Dan satu lagi. Minggu depan berkencanlah dengan seseorang yang aku siapkan untukmu!”

“Eh?” Tanyaku sedikit kaget. “Kau bilang kencan?” Jiyong menganggukkan kepalanya. “Tapi Jiyong kau tahu aku,-”

“Tenang saja, aku jamin dia pria baik-baik dan lagipula pria itu sudah menyukaimu sejak lama.” Ujar Jiyong lagi masih dengan senyumannya sedangkan aku masih menatapnya dengan bingung.

“Siapa?”

“Datanglah jika kau ingin tahu siapa pria itu. Aku rasa dia akan mampu untuk membahagiakanmu Dara jadi aku mohon datanglah!”

Okay aku akan datang.”

TBC

Annyeong readers-nim, maafin ya baru update setelah sekian lama, berhubung mood buat nulisnya baru masuk nih hihi. semoga suka ya sama chapter ini dan terimakasih sekali untuk komentar di chap. sebelumnya. lope lope!!

ditunggu komentarnya!!!!

Hengshooo!!!!!!! #NEVERSAYGOODBYE2NE1

Advertisements

25 thoughts on “Gonna Get Better [Chap. 5]

  1. jiyong mau jodohin dara sama namja lain ? seriusannn?yakin ji bisa liat dara bahagia sama namja lain ? berharap sih it cuma akal2an nya jiyong dan namja yg dimaksudin ji itu dirinya sndirii^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s