[Series] My Everlasting Winter – Part 7

image

Script writer by : ElsaJung

Tittle : My Everlasting Winter

Duration : Series/Chaptered

Rating : PG-13+ (Teen)

Genre : Slice of Life, AU, Drama, Angst, Fantasy

 

 

 

Bab 7

“Ice Princess”

“Jadi, kau menemui Jiyong, dan dia mengeluarkan ekspresi bodohnya?” tanya Dara terkekeh. Ia tertawa terpingkal saat Mino menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. “Sudah lama sejak aku meninggal, aku tidak pernah melihat ekspresi Jiyong ketika ia menemukan suatu hal yang mengejut-kannya. Bahkan, aku tak ingat terakhir kali Jiyong memasang ekspresi yang sama.” Tambahnya.

Mino dan Dara berjalan beriringan. Mereka berdua tampak sangat akrab. Sebenarnya, Dara dan Mino tak terlihat seperti sahabat karena mereka lebih pantas disebut sebagai pasangan kekasih. Bagaiamana tidak? Semua orang pasti memiliki pendapat yang sama. Mino berjalan merangkul bahu Dara. Sedangkan Dara sendiri–balas melingkarkan tangannya pada pinggang Mino. Dalam benak Dara, semua akan baik-baik saja. Toh, Mino hanyalah sosok malaikat maut yang jelas-jelas berbeda dengan manusia, dan selamanya tak akan pernah bisa menjadi manusia. Jadi, tidak mungkin dia menjalin hubungan dengan seorang malaikat maut. Tapi, pemikiran itu hanya berlaku untuknya.

Dalam jarak yang cukup jauh dari mereka berdua, Jiyong sedang menunggu kedatangan Dara dengan harap-harap cemas. Ia khawatir, ada suatu hal menimpa Dara. Barangkali Mino adalah orang jahat yang sengaja datang untuk mencelakakan temannya dengan cara berpura-pura menjadi teman Dara. Segala jenis pertanyaan muncul dibenaknya. Jiyong hanya berjalan-jalan di halaman rumahnya. Ia tidak akan beranjak sampai Dara benar-benar pulang dengan selamat. Hal yang Jiyong sesali, kenapa ia tidak bertanya, kemana Dara akan pergi. Jiyong hanya bisa mengutuk dirinya sendiri.

Sementara itu, di dalam rumahnya, Bom sedang duduk lemas mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Baekhyun juga Taeyeon. Semua kalimat yang didengarnya benar-benar membuat Bom merasa bosan. Bom sangat ingin menghampiri Jiyong yang saat ini mengkhawatirkan Dara, untuk memintanya kembali masuk ke dalam rumah, melupakan gadis pembawa masalah itu sejenak. Namun, hal itu seakan mustahil karena Bom tahu, Dara yang dikenalnya sangatlah baik hati. Dara tidak akan meninggalkan seseorang yang sedang mengajaknya berbincang-bincang dan memilih mendengarkan dengan seksama. Bom tidak bisa melakukan hal yang sama.

“Dara, apakah kita harus seperti ini?” tanya Mino disela-sela tawanya karena mereka masih membicarakan persoalan sama-ekspresi bodoh Jiyong. Dara yang mendengar pertanyaan Mino pun hanya mengadahkan kepala dan menautkan alisnya membuat keningnya mengerut. “Kau dan aku-kita berjalan seperti ini. Aku tak pernah memeluk siapa pun sebelumnya, apalagi seorang manusia. Maka dari itu, aku merasa canggung. Bukankah aku sangat tidak sopan melakukan hal ini?”

Dara berdecak. “Biarkan saja. Kita sedang bersandiwara. Tak akan ada hal apapun yang terjadi.”

Mino mengarahkan jari telunjuknya ke arah Jiyong. “Apakah itu yang kau maksud tak ada?”

Spontan Dara mengarahkan pandangannya mengikuti kemana jari telunjuk Mino menuju. Dara memang melihat Jiyong berdiri di halaman rumah dengan air muka yang menunjukkan bahwa dia sangat cemas. Mino melepas rangkulan tangannya, lalu memanggil Jiyong dengan lantang. Jiyong pun segera menoleh. Ia menampakkan wajah gembiranya, kemudian berlari menghampiri Mino dan Dara. Mino tersenyum, lalu membalikkan badannya untuk menghadap Dara yang saat ini berdiri di belakangnya. Seketika juga, Mino berkata jika sekarang saat bagi dirinya untuk pergi sejenak.

Jiyong mendekap tubuh Dara erat-erat. Rasa cemasnya seakan terobati seketika setelah ia merasakan keberadaan gadis itu yang begitu dekat dengannya. Jiyong menghirup aroma rambut Dara dengan begitu gembira. Setelah memeluk Dara singkat, Jiyong memperhatikan tubuh gadis itu dari atas sampai bawah secara seksama. Ah, Jiyong menghembuskan nafasnya lega. Syukurlah, tak ada luka di permukaan kulit Dara. Dengan begitu, Jiyong dapat memastikan jika keadaan Dara baik dan sehat-sehat saja. Selain itu, Jiyong juga tahu, bahwa Mino bukanlah orang yang pantas dicurigai.

Entah mengapa, saat Mino dan Dara pergi bersama, perasaan Jiyong terasa tak karuan. Perasaan-nya berkata, jika Mino akan membawa Dara pergi ke tempat yang sangat jauh-yang tak bisa dengan mudah dijangkaunya. Sebelumnya, sempat terbesit di pikiran Jiyong kalau Mino bukanlah laki-laki biasa. Laki-laki yang mengaku sahabat Dara tersebut memang sangat aneh ditambah hawa dingin di sekitar tubuh Mino yang dirasakan Jiyong ketika berada di dalam mobil. Tak cukup dengan dingin, Mino juga terasa selalu memerhatikan Jiyong tanpa menatap. Aneh

“Um, apa kau merasa ada suatu hal yang aneh dengan Mino?” Jiyong mengernyitkan dahinya.

“Menurutku dia biasa saja. Memangnya, apa yang membuatmu bertanya seperti itu, GD?”

“Tak.” Jawab Jiyong menundukkan kepalanya. Ia tampak memperhatikan area sekelilingnya. Lagi-lagi Jiyong merasakan ada keanehan. Dan, ia baru menyadari satu hal. “Tunggu!” Serunya membuat Dara menoleh seketika dengan mata bulatnya yang terbuka lebar-lebar karena terkejut. “Kemana dia? Mino? Maksudku, kemana Mino? Kurasa dia memanggilku beberapa saat lalu. Aku sangat ingat, Mino berdiri di dekatmu tadi. Apakah dia pergi? Tapi, kapan hal itu terjadi.” Jiyong bertanya-tanya.

Dara berpura-pura tidak tahu. “Maksudmu? Mino baru saja pergi. Mungkin, beberapa menit sebelum kau mengingatkanku tentang kepergiannya. Biarkan saja, dia pasti akan kembali. Tak perlu mengkhawatirkan Mino.” Dara menggandeng tangan Jiyong sehingga jarak antara mereka sangat berdua sangat dekat. Ah, Dara tahu, apa yang harus dilakukannya agar Jiyong tidak terus menanyakan hal-hal mengenai Mino, karena itu benar-benar berbahaya. “Ayo! Dara menunggu kita.”

Dara berjalan sembari menarik Jiyong agar laki-laki itu mengikutinya dan melupakan peristiwa menghilangnya Mino yang terjadi secara tiba-tiba. Hal ini bukan sesuatu yang aneh bagi Dara. Ia biasa dan terlalu sering melihat juga merasakan kejadian itu. Misalnya saja Seunghyun. Malaikat maut yang tampak dingin namun perhatian itu sering datang tanpa diundang, lalu pergi begitu saja jika urusannya telah selesai, layaknya angin, atau mungkin hantu. Namun, ini tentu saja mengejutkan Jiyong. Orang yang ada di dekatnya, tiba-tiba pergi tanpa suara, mustahil bagi manusia melakukannya.

Diam-diam, Mino mengikuti Dara dan Jiyong dari belakang. Hanya saja, dia transparan dan tidak dapat dilihat oleh Jiyong maupun Dara sekali. Mino menginginkan dirinya untuk menjadi sosok yang invisible. Kenapa? Karena Mino tahu sangat, hal apa yang akan menimpa Dara jika ia terus berada di dekat gadis itu. Semua berhubungan kuat dengan Bom. Bom tidak pernah menyukai seorang tamu, tidak suka dengan orang yang menggangu hidupnya. Bom akan mengutuk orang itu menjadi apa pun yang diinginkannya dengan berbagai cara. Mino tak akan membiarkan hal itu terjadi.

Baru saja mereka berdua berdiri di ujung tangga, tepatnya anak tangga paling atas, Bom tiba-tiba menarik sebelah tangan Jiyong, membuat laki-laki itu melepaskan genggamannya dari tangan Dara. Jiyong sempat memandang wajah Dara dengan air muka yang menunjukkan kepasrahan seakan-akan hendak dijatuhi hukum mati. Dara tersenyum menanggapi hal itu. Dibalik senyumannya, tampak begitu jelas bahwa Dara juga menginginkan Jiyong selalu ada di sampingnya. Tapi, ia mengurungkan keinginan itu saat Bom menatapnya dengan mulut yang bergumam menandakan jika gadis itu kesal.

Kaki Dara berjalan dengan arah yang berlawanan dengan keberadaan Dara, Jiyong dan Baekhyun. Ia pergi menuruni tangga, menuju lantai dasar. Beberapa ruangan yang dilaluinya tertutup rapat, seakan menyembunyikan beberapa hal di dalamnya. Ruangan itu merupakan kamar-kamar tamu yang kosong, tak berpenghuni. Diatara lebih dari lima kamar yang telah dilaluinya, Dara menemui sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Ia dapat melihat bayangan seorang gadis yang sedang meletakkan barang bawa-annya dari balik pintu. Dara sangat yakin jika gadis itu adalah Taeyeon.

Perlahan, Dara memasuki ruangan itu. Dia dapat merasakan aroma dari pengharum ruangan yang ada di sudut ruangan. Dara menghirup udara dengan santai, lalu menghembuskannya secara hati-hati. Tujuan dari hal itu tak lain dan tak bukan hanya karena Dara ingin menikmati setiap aroma yang kini dihirupnya kembali. Aroma buah-buahan tampak sangat cocok dan serasi dengan cat kamar yang ber-warna pastel itu. Ada beberapa warna, seperti cream, soft pink, atau bahkan biru muda yang indah.

Taeyeon tidak menyadari kedatangan Dara. Gadis itu juga melakukan hal yang sama, menghirup aroma buah-buahan segar. Ia meletakkan barang-barang bawaannya satu per satu ke dalam lemari. Ini menandakan jika Taeyeon akan tinggal dalam waktu yang cukup lama di Seoul. Setelah dirasa cukup, Taeyeon meraih sebuah kamera dengan selempangan yang selalu melingkar di lehernya. Belum saja ia mengambil gambar, Dara telah memanggilnya terlebih dahulu hingga membuat Taeyeon menoleh ke belakang dan secara tidak sengaja memotret gadis berbola mata hitam pekat yang berdiri di depan-nya dengan ekspresi polosnya. Dara tampak begitu menggemaskan dalam foto itu.

“Hye Ji!, aku sangat terkejut. Apakah kau senang membuat seseorang terkena serangan jantung?” Taeyeon berlari-lari kecil menuju ke arah Dara, kemudian memukul bahu gadis itu gemas. “Selalu! Kau datang secara tiba-tiba dan pulang tanpa berpamitan. Pantas, aku merasakan ada hawa dingin me-nusuk leherku sebelum kau memanggilku.” Tambahnya yang masih kesal karena terkejut. “Duduklah.” Taeyeon duduk di sebuah sofa, Dara pun mengikutinya.

“Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau terkejut. Aku benar-benar meminta maaf. Sebelumnya, aku hanya tertarik pada aroma buah-buahan yang ada di kamar ini. Tapi, lama-kelamaan aku menjadi tertari dengan pemilik barunya. Kamar ini cocok untukmu. Hanya satu kata, cantik.” Puji Dara.

Mereka berdua tampak sangat akrab. Dara dan Taeyeon saling bercanda. Sesekali, gadis dengan baju berwarna soft pink itu memotret ekspresi wajah lucu Dara. Mungkin, jika suatu saat mereka ber-dua pergi bersama ke suatu tempat, pasti semua orang akan menganggap mereka telah mengenal lama satu sama lain. Bukan hanya itu, Taeyeon pun terlihat sangat nyaman berada di samping Dara. Tidak Taeyeon saja memang, tapi orang lain juga. Dara memiliki jiwa dan sikap melindungi terhadap siapa pun, baik orang itu dikenalnya atau tidak sama sekali. Jarang ada manusia berhati malaikat seperti itu.

Saat sedang berbincang-bincang, Taeyeon sesekali melihat hasil potretannya. Dia melihat seluruh bagian wajah Dara sudut per sudut dengan teliti. Tak ada satu kekurangan di sana. Taeyeon berang-gapan bahwa Tuhan menciptakan Dara dengan sangat sempurna. Dan, satu hal teraneh yang selama ini tak pernah dialaminya, Dara tampak begitu bersinar disetiap gambar yang Taeyeon ambil. Tidak ada manusia yang dapat melakukan hal itu. Padahal, Dara hanya memberikan senyumannya.

Taeyeon sebenarnya telah menyadari hal itu sejak tadi saat ia pertama kali berjumpa dengan Dara, melalui gambar potretannya juga. Ia berangan-angan, dapatkah sebuah foto yang diambil tanpa meng-gunakan efek apa pun dapat menghasilkan objek potret bersinar seperti itu? Ya, tingkat kecerahan foto dapat dilihat dari efek pencahayaannya. Tapi, disini yang Taeyeon pertanyakan bukanlah kecerahan, tapi bagaimana bisa foto Dara sangat bersinar? Tidak. Taeyeon merasa bahwa dirinya tidak bersalah jika ia menyimpan rasa curiga pada Dara. Kenapa? Karena Dara membawa sensasi yang berbeda dan tidak sama seperti manusia lainnya. Lebih dingin dan sangat menakutkan, serta suram.

Taeyeon menggenggam tangan mungil Dara. Ia meraba jari-jemari yang berukuran kecil dan juga lentik itu dengan seksama. Lalu, pandangan Taeyeon beralih pada wajah, kemudian bola mata hitam besar milik Dara. “Aku tahu, bukan hak-ku menanyakan hal ini padamu. Tapi, aku merasakan adanya sedikit keanehan. Aku pun tahu, bahwa aku sangat lancang dan seharusnya mengerti jika hidup sosok makhluk yang dinamakan manusia tidaklah sama seperti sebuah dongeng, film atau drama. Aku ingin bertanya satu hal, apa kau benar-benar manusia sungguhan? Atau kau-”

Tubuh Dara menjadi kaku dalam seketika. Bola matanya tampak terbuka lebar setelah mendengar pertanyaan dari Taeyeon yang berhasil mengejutkannya. Sungguh, ia tak dapat mengatakan apa-apa saat ini. Mungkin, jika Dara mengelak, Taeyeon pasti tetap memaksa. Hanya gadis itu yang menya-dari hal tersebut. Namun, jika Dara jujur, semuanya akan berakhir sampai hari ini. Dara tak mau hal yang telah dijalaninya cukup lama, petunjuk yang mulai terkumpul, dan waktu yang hanya tinggal be-berapa saat ini berhenti ditengah-tengah. Jadi, sekarang, apa yang harus dilakukannya.

“Maksudmu Dara bukan manusia?”

Kepala Dara dan Taeyeon menoleh bersamaan ketika tahu Mino sedang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan berada di samping pinggangnya. Ia tampak tak terima Taeyeon melancar-kan pertanyaan itu secara tiba-tiba kepada Dara. Mino melakukan hal ini bukan karena adanya perasaan apa-apa. Tapi, untuk melindungi Dara karena itu adalah tugasnya. Dara merasa benar-benar terlindungi ketika Mino telah masuk ke dalam ruangan yang sekarang ini menjadi milik Taeyeon. Laki-laki itu duduk di samping Dara sembari mengangkat alis. Dara mengusap dadanya lega.

“Aku bertanya-tanya karena Hye Ji membuat suasana menjadi lebih dingin dan mencekam saat dia ada di sekitarku. Aku tidak bisa menjelaskannya secara lebih detail. Bahkan, aku yakin, Baekhyun pun memiliki pemikiran yang sama sepertiku.” Taeyeon menelan ludahnya karena menepati tatapan maut Mino yang sudah pasti ditujukan padannya. “Apa kau tak merasakannya?”

Mino menghilangkan kesan suram dan menakutkan dari wajahnya. Jika dia terus melakukan hal itu mungkin Taeyeon juga akan menyimpan rasa curiga pada dirinya. Alhasil Mino harus kembali memasang ekspresi wajah yang ceria. Namun, tetap, ia hanya tersenyum. Tak mungkin ia berbohong. Dara yakin, sekuat apapun Mino menguatkan dirinya untuk menjawab, laki-laki itu tidak akan bisa melakukannya. Kenapa? Berbohong, adalah hal yang benar-benar dihindari oleh Mino.

Rahasia sekuat apapun perlahan-lahan pasti akan terbongkar dan terkuak juga. Dara menundukkan kepalanya hingga ia dapat melihat bayangannya sedang tersenyum kecut di permukaan lantai licinnya. Dia tampak menoleh saat Mino sekuat tenaga meyakinkan Taeyeon dengan cara mulai berkenalan dan bertanya-tanya mengenai beberapa hal. Misalnya, sejak kapan Taeyeon dan Baekhyun mengenal? Dimana gadis itu tinggal sebelumnya. Serta, pertanyaan-pertanyaan bodoh lain demi melindungi Dara.  Apa yang dapat dilakukan Dara? Membohongi orang-orang terdekatnya untuk yang kesekian kali? Ia sudah terlalu sering berbohong. Dan kebohongan itu hanya akan menyakitinya setelah mengingat ada-nya kebenaran pahit di dalamnya. Dara tidak bisa. Sungguh.

Ini sangat berbahaya dan tak dapat dibiarkan. Jika Taeyeon semakin mencurigai Dara, semuanya pasti akan segera berakhir. Sebagai salah satu pihak yang bertanggung jawab dan bertugas melindungi Dara, maka Mino harus bisa melakukan tindakan lain. Ia segera memutar otak dengan begitu keras. Apa yang harus dilakukannya? Ah, hari ini matahari bersinar lebih cerah dari biasannya. Keadaan hati Dara memang tampak baik. Maka dari itu, jika salju turun secara tiba-tiba, pasti Taeyeon akan mulai terkagum-kagum, lalu memotret peristiwa aneh yang terjadi tersebut. Perlahan Mino memejamkan matanya, lalu menjentikkan jari dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Secara spontan, salju turun saat itu juga. Dan, benar saja, Taeyeon mulai berlarian menuju jendela, kemudian memutar lensa kamerannya bersiap untuk mengambil gambar. Gadis itu bergumam karena merasa asing dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Saat perhatian benar-benar telah teralihkan-Mino segera menarik tangan Dara,menggiringnya untuk berlari ke tempat yang jauh. Taeyeon adalah orang yang cukup berbahaya, menurutnya. Dia tidak tahu, bagaimana gadis itu bisa memiliki pemikiran tentang diri Dara. Mino berani bertaruh, sampai suatu saat nanti Bom tahu mengenai hal ini, ia pasti akan melakukan hal buruk pada Dara, memaksa gadis itu untuk mengaku.

***

“Berapa lama kau mengenal Jiyong? Kurasa kalian tidak terlalu dekat. Tapi, aku tidak mengerti, Baekhyun berkata jika kalian berdua telah saling mengenal dalam jangka waktu yang sangat lama. Apakah itu benar?” Taeyeon memutar-mutar ponselnya dan menatap wajah Bom sekali dua kali. “Bukannya aku ingin mengganggu hubungan kalian. Aku juga tidak menyindir. Aku hanya bertanya. Um, cara dan logat berbicaranya tidak seperti orang Korea.” Tambah Taeyeon membuat Bom kesal.

“Lima tahun sudah kami mengenal. Dan, berapa kali harus kukatakan, Jiyong berasal dari Swiss.”

Gadis yang sedang duduk santai di tepi ranjang itu pun balas menatap Taeyeon. Sebenarnya, jika boleh jujur, Bom merasa sebal terhadap kehadiran orang-orang yang kedatangannya tidak diharapkan olehnya. Dia sangat membenci hal itu. Baik Taeyeon maupun Baekhyun , keduanya hanya bisa mem-buat tekanan darah Bom bertambah setiap harinya. Tidak banyak memang hal yang harus dilakukan Bom. Namun, kesulitannya adalah, ia harus menjawab segala jenis pertanyaan yang berkaitan dengan diri Dara juga masa lalu gadis itu. Maka, mau tidak mau Bom harus berpikir keras, mengingat segala memori tentang Dara yang seharusnya sudah ia singkirkan sejak dulu.

Mungkin, jika ia sedang tak bersandiwara, Bom tega mencabik-cabik wajah cantik Taeyeon juga bila perlu membunuh gadis itu. Tak ada hal lain yang dapat dilakukannya agar dapat terlepas dari ge-nggaman Taeyeon. Ia benar-benar tersiksa, dan ini bukan main-main. Taeyeon memang gadis yang cantik dan juga baik. Namun, dia terlalu polos serta lugu untuk menanyakan segala seluk beluk Dara, yang tidak semuanya diketahui oleh Bom. Bagaimana bisa, mulut seorang gadis belia sepertinya bisa berbicara tiga jam tanpa berhenti. Pertanyaan apa pun keluar dari sana.

“Tapi, kurasa Jiyong terlihat lebih serasi dan dekat dengan Dara.”

Pertanyaan ini cukup menganggu Bom. Ya, bahkan sangat mengganggu. Bom mendengar, bahwa Taeyeon baru saja berkata jika Jiyong terlihat lebih serasi dan dekat dengan Dara? Sebagai Dara palsu, Bom tidak bisa menerima pernyataan Taeyeon tersebut. Lagi-lagi ia mendengar nama ‘Hye Ji’ Bom sungguh tidak habis pikir. Kenapa disetiap percakapan, entah itu dengan siapa saja, baik kedua orang-tuanya, Jiyong, Taeyeon, Baekhyun atau Keluarga Kwon sekali, selalu ada nama Dara yang terselip disana. Setidaknya, ada banyak nama yang dapat disebutkan. Anehnya, kenapa harus nama Dara yang mereka semua ucapkan. Entah mengapa, ini sangat memuakkan bagi Bom.

Lagi-lagi satu nama yang sama terus terucap. Bom benci akan hal itu. Tidak bisakah mereka semua berhenti menyebut ‘Hye Ji’ kali ini saja? Sudah cukup Bom marah dibuatnya karena membawa pergi Jiyong. Jiyong memang telah mengatakan semuanya, bahwa laki-laki itu yang meminta Dara ikut dengannya. Tapi, bagaimana pun juga, rasa benci Bom tak akan pernah berkurang dan justru malah semakin bertambah.

“Bagaimana bisa kau mengatakannya?” tanya Bom masih dengan nada datar, namun penasaran.

Taeyeon berdecak sembari melipat kedua tangannya. Dia berjalan-jalan di hadapan Bom. “Tidak-kah semua orang yang ada disekitarmu tahu? Hye Ji dan Jiyong, mereka tampak seperti sosok pasangan. Dimana ada Hye Ji, di sana ada Jiyong, dan begitu juga sebaliknya. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah Jiyong ada di dekatmu ketika kau membutuhkannya? Tidak bahkan saat ini saja Jiyong sedang bermain-main bersama Hye Ji.” Tambah Taeyeon menengok ke arah jendela. “Aku tak bermaksud apa pun. Aku hanya penasaran dan terheran-heran. Siapa kekasih Jiyong sebenarnya?”

“Kenapa harus selalu Hye Ji? Jiyong kekasihku! Dia milikku! Semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Apakah Jiyong tidak bisa melihat? Aku adalah Dara, kekasihnya sendiri. Tapi, kenapa ia harus bersama Hye Ji? Bermain bersama, tertawa bersama, bercanda bersama dan melakukan hal lain. Bahkan, kurasa Hye Ji telah mencuci otak Jiyong. Aku sempat tidak percaya ketika dia bertanya padaku, apa aku ini benar-benar Dara?” Bom mendesah frustasi. “Pantaskah dia menanyakan hal itu?”

Sungguh, Taeyeon tak habis pikir. Bagaimana bisa Dara yang diceritakan Baekhyun padanya be-berapa waktu lalu sangat berbeda dari kenyataan. Sangat berbeda dari Dara yang ada dalam cerita itu. Dara yang ia dengar baik, rendah hati, pemurah, sopan, selalu berbicara dengan aksen sopan, ceria, dan terakhir dia tidak pernah menyeringai. Namun, Dara yang ada di dekatnya saat ini memiliki sikap berlawanan dengan Dara asli. Taeyeon tahu, seseorang tak akan mungkin berubah secara drastis jika tanpa alasan. Sepertinya, Bom tidak pernah berpikir kalau Taeyeon bukanlah gadis bodoh.

Taeyeon mengerutkan keningnya sembari menarik bibirnya ke samping kanan untuk berpikir saat Bom berdiri beberapa langkah lebih depan darinya. Bom sedang melihat taman hijau yang terletak di sekeliling rumah kastil itu dari jendela besar kamarnya. Sebenarnya Taeyeon ingin menanyakan be-berapa hal kepada Bom mengenai perubahan sifatnya. Tapi, sama seperti kecurigaannya pada Dara, lagi-lagi perbuatan itu sangatlah tidak sopan. Dan, ia juga menanggung malu karena Mino tiba-tiba datang dengan wajah mengerikan. Sampai saat ini pun ia masih takut pada Mino karena udara yang semula biasa saja, sering berubah menjadi sangat dingin ketika laki-laki itu berdiri di sekitarnya. Ada hal yang mengganjal di hati Taeyeon. Dara dan Bom, mereka berdua mencurigakan.

Jika diharuskan untuk mengingat-ingat, kapan Baekhyun bercerita tentang saudara sepupu kembar-nya, maka ia akan mengingatnya saat ini juga. Sudah lama memang hal itu berlalu. Ya, Baekhyun ber-cerita banyak hal. Selain itu, ada satu cerita yang begitu menarik perhatiannya. Bom dan Dara selalu diperlakukan secara tidak adil oleh kedua orangtua mereka. Bom tak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan. Sedangkan Dara, dia mendapatkan segalanya, baik itu kasih sayang, perhatian, dan hal lain yang dibutuhkannya. Taeyeon berpikir, mungkin ini yang membuat karakter Bom menjadi keras dan bertentangan dengan saudaranya. Dan bukan hanya Jiyong saja yang merasakan keanehan. Bahkan, Taeyeon juga merasakannya. Ia tahu, ada suatu rahasia besar yang disembunyikan Dara dan Bom.

“Dara, aku minta maaf. Tapi, bukan hanya Jiyong saja yang merasakan hal itu. Mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama. Bahkan, aku yang belum mengenalmu ini pun merasakan adanya kejanggalan. Sekali lagi, aku meminta maaf.” Taeyeon membalikkan badanya. “Aku harus pergi.”

Bom tertegun. Benar apa yang dikatakan Taeyeon padanya beberapa detik lalu. Ini semua terlalu jelas. Hanya orang bodoh yang tidak menyadari adanya kejanggalan dari dirinya. Bom beruntung. Ia masih dianggap sebagai Dara meskipun memiliki sikap yang berbeda. Namun, jika hal tersebut terus berlanjut, maka segalanya mungkin akan terbongkar. Bom memiliki kesulitan dalam mengendalikan emosinya. Ia tidak dapat mempertahankan kesabarannya yang mudah mencapai batas. Sungguh, Bom berjanji bahwa dirinya tak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kali. Ia akan lebih berhati-hati.

***

Dara berjalan-jalan di hadapan Mino yang saat ini sedang menatapnya sembari tersenyum tipis. Gadis itu tampak begitu bingung dan mengkhawatirkan suatu hal yang tak henti-henti membebaninya. Sebenarnya Dara sedang memikirkan sisa waktu hidupnya yang hanya tersisa tujuh minggu. Ia tahu, waktu itu tak lama dan terus berjalan. Tapi, selama waktunya yang telah terbuang, Dara hanya dapat menemukan petunjuk mengenai Bom menyamar menjadi dirinya, Jiyong ternyata masih menyayanginya, kecurigaannya terhadap Bom bahwa gadis itu sangat membencinya, dan petunjuk-petunjuk lain. Dara memang mendapatkan petunjuk. Namun, yang membuatnya khawatir adalah, kapan kalung berliontin air mata pemberian Seunghyun dapat segera terisi penuh?

“Karena tetesan air mata itu tidak didapatkan. Mereka, orang yang dapat menghidupkanmu melalui air mata, harus menangisimu dengan tulus. Kau tidak boleh mengatakan kebenaran dari segala cerita yang ada. Kau juga tidak boleh memaksa mereka untuk menangisimu. Percuma, jika mereka memang menangis, tapi karena paksaan, warna liontin itu tak akan berubah.” Mino menjelaskan segalanya.

“Lalu, apakah semua petunjuk yang kudapatkan dengan susah payah, dengan penuh kesabaran, dan penuh air mata itu akan sia-sia jika tidak ada jalan keluar dari permasalahan ini?” tanya Dara tak per-caya. Mino menganggukkan kepalanya berat-membenarkan perkataan Dara yang sebenarnya tidak ingin dijawabnya karena takut gadis itu akan tersakiti. “Ini jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.”

Ini memang sangat sulit. Dara benar, kalung itu tak kunjung terisi. Ia tahu, hanya setetes dari dua orang, maksudnya masing-masih satu tetes perorang. Dua orang saja, bukan sepuluh atau lima puluh, bahkan lebih. Namun, tak mudah mendapatkan sebuah air mata yang bersumber dari sebuah ketulus-an. Meskipun menangis, jika tanpa ketulusan didalamnya, tidak akan ada arti apa pun. Permasalahan tak memiliki jalan keluar, semua sandiwara terus berlanjut dan kehidupan Dara berakhir tepat disaat salju berhenti menampakkan kepingan-kepingannya.

Perlu kutegaskan lebih jelas, aku benar-benar yakin jika orang yang sangat membenciku itu adalah Bom, saudara kembarku sendiri. Tapi, bagaimana caraku untuk bisa mendapatkan air mata ketulusan darinya? Bukankah ia tidak pernah menginginkanku ada dihidupnya? Lalu, haruskah aku menjelaskan segala hal tentang apa saja yang kupunya dan juga mengungkapkan bahwa Sandara, sangat bahagia bisa memiliki saudara perempuan seperti dirinya? Namun, jika aku mengatakan hal itu, bukankah aku sama saja melanggar persyaratan yang ada. Identitasku akan terungkap dan semuanya berakhir.

Mino tiba-tiba berdiri, lalu mendekati Dara yang termenung di hadapannya. “Aku merasakan ada bahaya yang mendekat. Bom, dia datang. Pikiranku mengatakan bahwa ia hendak melakukan hal yang dapat membahayakanmu.” Ia merangkul bahu Dara erat-erat. “Oke, aku akan melindungimu, apa pun caranya. Sekarang dia sudah berada dibalik pintu. Aku harus bersembunyi.”

Baru saja Dara hendak melihat Mino yang sebelumnya di sampingnya, laki-laki itu telah meng-hilang dari pandangannya. Dara hanya mengangkat bahu dan memaklumi. Mino memang bukan manusia. Jadi, tak aneh jika ia menghilang tiba-tiba. Tapi, ada satu hal yang dikhawatirkannya, Bom.

Tidak lama kemudian, Dara mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Jauh dari tempatnya duduk saat ini, Bom berdiri dengan senyuman lebar di bibirnya. Ia menggunakan pakaian one picies berwarna putih bermotif polkadot layaknya baju yang biasa dikenakan anak-anak sekolah dasar. Bom membiarkan rambut coklat lurusnya yang biasa diikat, kini terurai rapi. Dara tahu, pasti ada alasan di-balik perubahan gaya Bom yang menurutnya terbilang sangat drastis. Jika diperbolehkan menebak, Dara beranggapan bahwa Bom berubah agar tampak lebih menyerupai dirinya yang dulu.

Belum sempat Dara membuka pembicaraan, Bom telah bersiap dengan gunting besar yang sedari tadi disembunyikan dibalik badannya. Dara membelalakkan matanya, begitu juga dengan Mino yang kembali menjadi invisible berdiri tegang tak jauh dari kedua gadis itu. Gunting besar yang lebih pantas disebut gunting rumput itu diarahkan Bom menuju rambut Dara. Bom terus menunjuk rambut coklat lurus panjang yang hampir sama seperti miliknya itu dengan penuh amarah. Lagi-lagi, disetiap memiliki rencana jahat, Bom selalu menyeringai dan menyunggingkan senyum mautnya.

Dara menahan tangan Bom ketika gadis itu hendak menghujam bahunya dengan gunting besar itu. Sungguh, Dara tak tahu apa maksud Bom melakukan hal berbahaya tersebut. Tentu saja pikiran gila mulai bermunculan di otak Dara. Mungkin Bom telah dirasuki hantu wanita bermulut sobek yang ada di dalam film The Slit Mouthed Woman. Tapi, jika dipikirkan kembali menggunakan otak yang jernih, tidak ada yang namanya hantu. Dara tidak percaya akan hantu. Lalu, untuk apa Bom melakukannya? Apa ini masih berhubungan dengan kecemburuannya terhadap kedekatan Dara dengan Jiyong?

“Dara, tenangkan dirimu! Sadarlah!” Dara mencoba menghindari serangan bertubi-tubi Bom.

Yak! Kenapa kau kembali datang ke rumahku? Bagaimana bisa semua orang berpikir jika kau dan Jiyong adalah pasangan yang serasi? Kenapa bukan aku? Kenapa kau?! Apa yang salah denganku? Aku sudah menjadi Sandara yang sempurna untuk Jiyong.” Bentak Bom dengan satu helaan nafas se-hingga membuatnya berhenti sejenak dengan terengah-engah. “Tapi,” Bom menundukkan kepalanya. Ia menitikkan air matanya. Baru kali ini Bom menangis di hadapannya. “Aku selalu seperti ini.”

“Orang-orang mungkin hanya asal bicara. Aku dan Jiyong tidak memiliki hubungan apa pun.”

Ia kembali menyerang Dara. Kali ini, Bom berhasil menorehkan luka di lengan kanan saudaranya. Lengan Dara mengeluarkan darah segar. Bom tertawa cukup keras sembari mengadahkan kepalanya. Apa peduli Bom? Ia dapat tertawa sekeras mungkin. Kamar Dara adalah kamar terbesar yang ada di rumah Keluarga Park. Dan semua orang sedang berada di lantai bawah. Lagi-lagi Bom merancang se-buah rencana agar Baekhyun, Jiyong, Taeyeon tak ada di rumah. Bahkan Bom juga meminta Mino untuk ikut bersama ketiga orang itu. Namun, Mino dapat berpindah tempat sesuai keinginannya.

Hampir saja Bom berhasil menorehkan luka untuk yang kedua kali di tangan kiri Dara. Tapi gadis itu berhasil menampik pisau yang digenggam Bom hingga terjatuh ke lantai. Bom tidak mau tinggal diam. Ia segera menarik rambut Dara dan menuntunnya menuju dinding, kemudian menghantamkan kepala gadis itu tepat ke permukaan tembok besar yang begitu keras. Bom melakukannya bukan satu dua kali, melainkan beberapa kali. Dara berteriak-teriak karena merasa kesakitan.

Bom menarik-narik rambut Dara dengan sekuat tenaganya hingga beberapa helai rambut gadis itu mulai berjatuhan ke lantai. Sungguh Mino ingin segera menampakkan dirinya dan balik menyerang Bom dengan kekuatan yang dimilikinnya. Mungkin hanya dengan satu jentikkan jari saja ia bisa me-lenyapkan Bom dari muka bumi ini. Tapi, ia tidak memiliki wewenang apa pun untuk menghilangkan Bom, membuat gadis itu tiada. Mino tercipta dengan kekuatan yang ada agar dapat digunakannya untuk kebaikan. Sebenarnya ada satu cara yang cukup menegangkan. Mino akan melakukannya.

Keanehan mulai terjadi. Tubuh Bom terpental secara tiba-tiba dan jatuh terbaring cukup keras. Ini terlihat seperti sihir. Cahaya-cahaya putih menggumpal, mengelilingi seluruh tubuh Dara. Cahaya itu perlahan membentuk pola sebuah sayap berukuran besar serta lebar yang terletak di bagian punggung-nya. Bola mata Dara yang semula berwarna hitam, kini berubah menjadi biru muda bersinar. Rambut-nya terturai rapi dengan beberapa es membentuk kepingan-kepingan salju tampak menempel di sana. Tak lama kemudian, pola itu telah menjadi sayap yang sempurna. Benar-benar mengagumkan.

Tak hanya itu, pakaian Dara juga berubah. Tadinya, ia menggunakan pakaian one picies berwarna putih. Sekarang baju itu berubah menjadi sebuah gaun. Gaun putih panjang dengan es yang runcing di bagian dadanya. Ditambah dengan stiletto heels dengan warna senada. Dara tampak seperti putri es sekarang. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Sesungguhnya ia sedang tak sadarkan diri. Mino ada dibalik semua ini. Ia yang mengontrol tubuh Dara dengan pikirannya, membuat gadis itu tak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Saat ini Dara ada dalam kuasa Mino. Selain itu, wajah Dara yang sebelumnya berbeda jauh dari sebelum meninggal, kini telah berubah menjadi wajah aslinya.

Perlahan, suhu udara kamar Dara menjadi dingin ketika gadis itu mulai menggerakkan tangannya. Dara meraih gelas berisi air yang ada di hadapannya, kemudian menggenggam benda itu dengan kuat. Air dalam gelas yang saat ini digenggam Dara membeku seketika. Bom hanya ternganga melihat hal mengerikan itu. Ia kembali mengambil gunting yang tergeletak di lantai. Cukup dengan satu hentakan kaki, gunting itu terjatuh dari tangan Bom. Bom tak mengerti, bagaimana gadis yang dikenalnya ber-nama Hye Ji, bisa berubah menjadi saudara kembarnya-Dara yang sudah meninggal?

“Terkejut? Takut? Bertanya-tanya? Tidak percaya?” tanya Dara sembari tersenyum kecut. “Itulah hal yang kurasakan ketika aku meninggal, hari dimana salju turun untuk pertama kalinya. Sakit, sakit, seluruh tubuhku terasa sakit. Luka-luka menyayat kulitku dengan mudahnya. Dan, aku pergi untuk se-lamanya.” Gadis yang berada dalam kuasa Mino itu pun menunduk. “Kau tahu apa yang kurasakan ketika tahu kau berpura-pura menjadi diriku? Ini jauh lebih sakit dari apa pun.”

“Tidak! Ini tidak mungkin! Kau sudah meninggal. Aku akan membunuhmu, Sandara!”

Bom hendak mendorong tubuh Dara hingga menempel di dinding. Belum saja ia melakukan hal itu, Dara telah mendahuluinya dengan cara mengayunkan tangannya, kemudian memajukan ke depan, ditambah langkah kaki yang beriringan. Tubuh Bom terdorong ke belakang dengan wajah menghadap Dara. Bom sudah berusaha menahan dorongan Dara menggunakan kakinya. Ini sangat sulit. Padahal, Dara tidak menyentuh kulit Bom sedikit pun. Ia hanya menggerakkan tangannya ke depan.

Beribu pertanyaan yang belum terjawab kini semakin bertambah. Ada apa dengan gadis ini? Bom tidak mengerti. Dara yang terlihat lemah ternyata sangat kuat. Dan, bagaimana gadis itu memiliki wajah sama seperti gadis lain yang pernah dikutuknya. Penampilan Dara sangat mengerikan. Setiap kali Bom menatap sepasang bola mata Dara, ia merasa Dara bisa membekukan tubuhnya kapan pun. Pernyataan gila muncul. Dara hidup kembali? Ah, itu sangat mustahil.

“Bunuh aku sekarang juga!” Pekik Dara ketika tubuh Bom telah menempel di dinding. “Apa yang akan kau lakukan disaat seperti ini? Aku dapat membuatmu kehilangan nyawa hanya dengan sentuhan tanganku. Kau tahu, aku bisa membekukan sungai cukup dengan jari telunjukku. Lagipula, aku tidak mungkin meninggal untuk yang kedua kali. Kau terlalu bodoh kalau kau berpikir bisa membunuhku.”

“Menyingkirlah dariku! Kau hantu dan aku tahu itu. Kau tidak akan pernah bisa melakuhal hal apa pun padaku. Siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin Dara masih hidup. Kecelakaan yang dialaminya begitu mengenaskan.” Bentak Bom dengan keringat di pelipisnya. “Aku berkata, menyingkirlah!!”

Tidakkah ini terlalu berlebihan? Mino ingin membantu Dara dengan segala kemampuan yang di-milikinya. Namun, bukankah ia menapak di jalan yang salah sekarang? Tidak seharusnya Mino mengungkap kebenaran cerita jika Hye Ji adalah Dara. Dan, pikirannya berkata bahwa sebentar lagi beberapa orang akan datang memasuki ruangan ini. Mino rasa, Bom tak akan melakukan perbuatan semena-mena pada Dara setelah peristiwa mengejutkan ini terjadi. Ini pasti cukup membuat Bom ketakutan.

Tiba-tiba, Bom dengan cekatan meraih pisau buah yang berada di meja kecil di dekatnya.

***

“Menyingkirlah!! Kau dan aku berbeda!”

Suara Bom terdengar begitu keras, sampai-sampai Jiyong, Baekhyun dan Taeyeon yang sedang berbincang-bincang di lantai dua dapat mendengar teriakannya. Seketika Jiyong tersentak karena ia tahu itu suara kekasihnya. Pikiran Jiyong berkata, tidak mungkin Bom berteriak pada serangga yang mendekatinya. Ia tahu, kekasihnya tidak takut pada serangga. Dan, tak mungkin juga Bom berteriak sekeras itu hanya karena hal-hal kecil. Pasti ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sana. Apalagi mengingat penggalan kalimat Bom …Kau dan aku berbeda!. Ini tak bisa dibiarkan.

Jiyong segera beranjak, kemudian berlari menaiki tangga. Sedangkan Baekhyun dan Taeyeon mengekor dibelakangnya dengan harap-harap cemas dan benak yang bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Bom saat ini? Beberapa anak tangga itu serasa sangat jauh dan melelahkan bagi Jiyong karena dia harus membelah kedua pikirannya, satu untuk menaiki tangga dan satu untuk mencari dari mana suara Bom berasal. Jiyong menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lantai tiga. Akhirnya, ia mendapati Mino sedang berdiri di depan pintu kamar Dara.

Mino sendiri memang tahu jika Jiyong, Baekhyun dan Taeyeon akan datang. Maka dari itu ia berniat untuk bersandiwara seolah-olah tidak mengetahui apa pun. Ia ingin ketiga orang itu tak menaruh rasa curiga padanya meski hanya sedikit. Ya, Mino tahu semua yang dilakukannya saat ini merupakan kebohongan. Tapi, ini demi kebaikan Dara. Ia ingin membantu gadis itu meski tidak bermaksud memberitahu Jiyong jika sebenarnya Hye Ji adalah Dara, Bom berpura-pura menjadi kekasihnya, Dara telah meninggal dan hal lainnya. Mino pun tahu, berbohong untuk kebaikan bukanlah sesuatu yang dilarang. Justru itu hal yang baik karena bermaksud menolong.

Tangan Jiyong menarik kerah mantel Mino kasar-melihat laki-laki itu dengan tatapan mata tajam. Hanya ada dua kemungkinan, jika Bom tak bersama Mino-maka gadis itu bersama Dara. Kenapa? Karena Baekhyun dan Taeyeon bersamanya dalam waktu yang cukup lama. Dan, beberapa pengurus rumah telah diberhentikan oleh Bom. Sekarang hanya ada lima sampai sepuluh orang saja yang masih bekerja di sana. Lebih dari separuh pengurus rumah dilarang menginjakkan kaki mereka di lantai tiga, Bom yang melakukannya. Cukup Bibi Kim dan pengurus inti yang diperbolehkan menginjakkan kaki di lantai tiga. Lalu, mereka pun sudah melakukan tugasnya. Jika Mino ada dihadapannya, maka kemungkinan besar Bom bersama Dara. Kesimpulannya Mino adalah teman Dara, jadi, laki-laki itu pasti tahu hal apa yang sedang teman perempuannya lakukan saat ini.

Dengan tangan yang masih mencengkram kerah laki-laki dihadapannya, Jiyong bertanya dengan nada suara serak dan geram. “Dimana Dara? Apa yang terjadi padanya?! Kenapa dia berteriak begitu keras? Katakan padaku, Song Mino!!” Ia menarik kerah mantel Mino yang diselimuti butiran-butiran salju itu lebih kuat. “Hal apa yang kau lakukan padanya? Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang! Dan, dimana Hye Ji? Dimana mereka berdua? Yak! Kenapa kau tidak menjawab?”

“Bagaimana aku bisa menjawabmu jika kau terus bertanya? Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaanmu jika kau menarik mantelku?! Setidaknya, turunkan tanganmu agar aku bisa menjawab!” Jiyong mengangguk singkat, lalu menurunkan cengkraman tangannya. Setelah dirasa cukup, Mino menghela nafasnya sejenak sebelum menjawab. “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Aku berdiri disini beberapa menit sebelum kalian datang. Lihatlah, mantelku dipenuhi salju. Jika aku memang harus menjelaskannya, aku baru keluar untuk membeli makanan. Dan, aku pulang untuk me-nikmati makanan ini bersama Hye Ji. Mungkin aku sudah di dalam jika kau tidak menarik mantelku.”

“Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku belum melihatmu sejak tadi. Entah mengapa aku bertanya hal seperti ini padamu. Kurasa suara Dara berasal dari dalam kamar Hye Ji.” Jiyong menyipitkan mata.

Tanpa menunggu aba-aba, Taeyeon membuka pintu kamar Dara secara tiba-tiba. Betapa terkejut-nya ia ketika melihat Bom berdiri menempel pada dinding di dekat perapian yang sedang menyala. Ia juga melihat Dara duduk melulut di hadapan Bom. Tangan Bom yang memegang pisau buah seperti hendak menghujam Dara. Di dekat ranjang, Taeyeon melihat sebuah gunting besar tergeletak di sana dengan sedikit darah yang tampak pada ujungnya. Taeyeon tercengang saat melihat hal itu.

Sontak Taeyeon menjerit dengan suara yang jauh keras dari teriakan Bom tadi. Teriakan tersebut berhasil membuat semua orang yang berada di sekitarnya menoleh, termasuk Dara dan Bom sendiri. Bom pun tampak terkejut. Tak lama kemudian, pisau yang digenggamnya terjatuh. Sedangkan Dara juga ikut menoleh ketika mendengar suara Jiyong yang memanggil Bom. Taeyeon, Baekhyun dan Mino segera berjalan mendekati Dara dan membantu gadis itu untuk duduk.

Dara terlihat sangat berbeda. Ia tidak mengeluarkan kata apa pun selain merintih kesakitan karena luka sayatan di lengan kanannya terus mengeluarkan darah. Semua orang terkejut, kecuali Mino yang sebelumnya telah mengetahui hal ini. Taeyeon pun mengusap kening Dara yang mengeluar-kan keringat dingin. Sedangkan Dara sendiri, ia tidak tahu, hal apa yang telah dilakukannya. Ia hanya mengingat terakhir kali Bom hendak menorehkan luka di lengannya untuk yang kedua kali, tapi gadis itu tak dapat melakukannya, lalu, Dara tak merasa melakukan hal apa pun lagi.

Di tempat berbeda, tak jauh dari keberadaan Dara, Jiyong sedang memegangi kedua bahu Bom. Dia menatap Bom lekat-lekat dengan tatapan mata berapi-api seakan-akan hendak melahap gadis itu saat ini juga. Jiyong tidak mengerti, hal apa yang Bom pikirkan sampai-sampai menggenggam sebuah pisau di tangannya. Pisau itu dapat menghujam Dara kapan pun Bom menginginkannya. Kini semua benar-benar terlihat. Bagaimana sifat Bom yang sebenarnya. Ia semakin mencurigakan.

Bom hendak berbicara dengan mulutnya yang terbuka. Namun anehnya, ia tak dapat mengerluar-kan sepatah kata pun. Bom sangat takut dan gugup. Bahkan, untuk membalas tatapan Jiyong saja ia tidak berani. Hal yang tidak Bom inginkan akan dan pasti terjadi. Mungkin beberapa menit atau detik lagi, Jiyong bertanya, hal apa yang terjadi, apa yang dilakukannya pada Dara, bagaimana bisa pisau itu ada di tangannya, kenapa lengan Dara mengeluarkan darah dan pertanyaan lainnya.

Baru saja Bom memikirkannya, Jiyong langsung menanyakan hal itu. “Sandara, hal apa sebenarnya yang terjadi disini? Apa yang kau lakukan pada Hye Ji? Bagaimana bisa kau memengang pisau tajam itu? Kenapa lengan Dara mengeluarkan banyak darah? Hal apa yang terjadi? Apakah kau kembali berulah? Apakah kau kembali mengancam Hye Ji untuk tidak berbicara denganku? Apa ini ada kaitannya dengan kepergianku bersamanya? Sungguh, aku belum bisa memaafkanmu tapi kau telah melakukan kesalahan lain. Apa yang kau pikirkan?” Jiyong mengeluarkan semua pertanyaannya.

“Aku tidak tahu.” Jawab Bom pelan dengan suara yang bergetar ketakutan dan tampak linglung.

“Beritahu aku dan jangan pernah berbohong!” Bentak Jiyong membuat semua orang yang ada di sana tersentak mendengar suara lantangnya. “Aku tidak mengerti, hal apa yang kau inginkan? Apakah kau tidak pernah berpikir? Hye Ji adalah tamu kita. Dia temanku, Dara. Tidak seharusnya kau berulah dan menyakitinya, apalagi sampai membuatnya berdarah seperti itu. Apa kau tidak suka aku berteman dengannya? Baik, aku akan mengerti, tapi bukan dengan cara seburuk ini kau mengekspresikannya.”

Jiyong tak kuat lagi dengan sikap Bom yang membuatnya malu. Ia benar-benar tak enak hati pada Dara. Apakah pantas seorang tamu diperlakukan seperti itu? Terlebih Dara tak pernah melakukan hal yang menimbulkan masalah. Seharusnya Bom berterimakasih pada Dara. Gadis itu mampu menahan Jiyong untuk tidak menghindari Bom dengan sebab apa pun. Dara selalu mengontrol emosi Jiyong ketika Bom kembali membuat ulah. Dan sekarang, Jiyong mendapati Dara terluka tepat dihadapannya karena Bom. Cukup untuk kesalahan dihari-hari lalu. Saat ini, Jiyong tak akan memaafkan Bom.

Dengan cepat, Jiyong mendaratkan tamparannya di pipi kanan Bom. Gadis itu meringis kesakitan. Ia memegangi pipinya dengan mata yang berkaca-kaca. Bom tidak menyangka, ia masih tetap menerima tamparan dari orang yang disayanginya padahal jelas-jelas semua tahu bahwa dirinya adalah Dara. Ini merupakan tamparan tersakit yang pernah dirasakannya. Bom sangat mencintai Jiyong sampai-sampai ia rela mencari jalan pintas dengan cara menghilangkan nyawa saudara kembarnya agar dapat memiliki laki-laki itu. Tapi sepertinya, kebahagiaan itu hanya berjalan sesaat.

“Kwon Jiyong! Hentikan!” Ujar Dara membuat tubuh Jiyong melemas ketika mendengar seruan itu. Dara berjalan mendekatinya dengan langkah gontai. Ia tak bisa membiarkan Bom menerima tamparan lagi dari Jiyong. Dara akan melindungi saudaranya. “Ji, kau tidak pernah menampar, memukul atau menyakiti Dara sebelumnya. Kau pun melarang dirimu sendiri untuk melakukannya. Pergi kemana ingatanmu tentang semua itu? Kumohon, jangan menyakiti Dara.”

Dara hendak merangkul dan mendekap Bom dalam pelukannya. Namun, Bom menghindari Dara secara tiba-tiba. Gadis itu tampak ketakutan saat melihat Dara berdiri di dekatnya. Masih teringat di-benak Bom, seperti apa dingin yang dirasakannya beberapa saat lalu. Es itu seakan-akan menikamnya, membuatnya kesulitan bernafas. Bom tak ingin berada di dekat Dara. Ia takut Dara akan kembali be-rubah menjadi wujud aslinya yang begitu menyeramkan baginya. Sungguh, untuk pertama kali dalam hidup Bom, ia mengalami sebuah ketakukan yang amat sangat pada seseorang.

“Berhenti dan jangan mendekat, hantu! Aku tidak mau!” Pekik Bom meneriaki Dara keras.

Mino. Pasti Mino yang melakukannya. Dara yakin Mino telah mengendalikan tubuhnya  disaat ia tak sadarkan diri. Dan Dara tahu, Mino memiliki maksud baik dan ingin membantunya. Mungkin saja Mino muak melihat perlakuan Bom padanya. Sebenarnya Dara ingin berterima-kasih karena Mino telah menolongnya. Namun, jika ini akan berakhir buruk, yaitu membuat Bom menjauhinya, Dara benar-benar menyesali hal itu. Yang  ada pikirkannya, bagaimana ia bisa men-dapatkan air mata dari Bom jika gadis itu tidak kasihan, tapi malah takut padanya?

Tentang apa yang terjadi saat ini, Jiyong murka dibuatnya. Ia tidak mengerti sama sekali dan jadi sangat marah kepada perlakukan kasar Bom-yang-selama-ini-berakting-menjadi-kekasihnya. Sempat terlintas di pikiran Jiyong, apakah arwah saudara kembarnya tengah menghantuinya sehingga gadis tersebut bertingkah gila sampai-sampai melukai orang lain?

***

 

TBC

next >>

Advertisements

13 thoughts on “[Series] My Everlasting Winter – Part 7

  1. Kapan dara bakal dpt air mata ?jgn lama deh biar gak sia2 dara idup lgiii
    woahhh mino brhsil tu bkin bom ktakutan,smga bom bakal kapok deh jhtin dara

  2. Ko aku seneng ya pas bom kepergok nyakitin dara? Bahaha jahat sih dia. Nah kan jadi takut kan sama dara biarlah biar gak ganggu dara lagi
    Ahhhh gemessss jiyong gak sadar2 waeeeeeeee.
    Fighting!

  3. Sisa bbrpa minggu lg. Hmm…. Apa bisa happy ending. Iish tingkah bom bikin gw muak. Pgen tak hancurin wajahny. Hahahaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s