CHEONGDAMDONG HOST CLUB ~ Stay With Me [Chapter 7]

cheongdamdong host club

Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)
Cast     :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon), All Member Big Bang
Genre  :: WARNING ~~Menjunjung tinggi kemewahan, kekonyolan, dan keromantisan,,,kekeke

 

Annyeong readers, bagaimana kabar kalian??? Semoga makin baik yaa dan makin cantik setiap harinya. Mianhae aku baru bisa update, ini aja bikinnya di kantor, hahahaha. Lagi bête plus lagi gak ada bos jadi biasalah nyuri-nyuri waktu, hoho. Semoga kalian masih inget chapter sebelumnya ok. Selamat membaca ^_~

Jiyong Pov

            Aku membuka mataku, astaga mengapa keningku terasa sakit kepalaku terasa berdenyut. Samar-samar aku melihat sosok bidadari di hadapanku yang sedang mengamatiku. OH MY GOD apakah aku sudah mati? Apakah aku mati karena sebuah lemari pendingin sialan itu? Apakah aku berada di surga sekarang, sehingga aku di temani bidadari cantik ini??

~ Gyuuuuut ~

“KYAAAAAAAAA, aaapppoooo “ Jeritku saat bidadari surga itu menekan sesuatu yang terasa nyeri di keningku.

“ Apakah sakit sekali??” tanya bidadari itu yang ternyata si dada kerucut, ghaah pantas saja mana ada bidadari memakai baju yang kumuh dan aku masih hidup ternyata.

“ Apa yang kau sentuh, itu sangat sakit?” tanyaku pada Dara. Dan yeoja yang aku tanyai itu hanya memicingkan matanya dan memberikan aku sebuah cermin merk rakyat jelata.

“ Kau lihat saja sendiri” ungkapnya cuek dan secara spontan aku mensejajarkan wajahku dengan cermin itu.

“ Kyaaaaaa,, andweeee, kening kebanggaankuuuuuu “ teriakku seperti yeoja yang sedang mendapatkan ciuman dari idol star kebanggaannya. Aku mendapati benjolan berukuran sedang bertengger indah di keningku. Ini semua gara-gara lemari pendingin itu. Aku bersumpah akan membinasakannya.

“ Cih kau itu berisik sekali, tenanglah ini akan segera mengempis. Pakai ini” ucap Dara memberikan mangkuk berisi seperti parutan sesuatu.

“ Apa ini?” tanya ku heran dan mencium aromanya yang menyengat dari mangkuk itu

“itu parutan jahe, itu akan mengempiskan benjol di kening ikan louhan mu” ucap Dara cuek sambil mengejekku ikan louhan, kalian tahu ikan louhan ia mempunyai kening kepala yang menonjol dan berundak, sialan seorang king Jiyong disamakan dengan hewan pisces berwajah aneh seperti itu.

“ Aisshht jangan samakan aku dengan ikan jelek itu. Dan bagaimana cara memakainya?” tanyaku bodoh sambil masih mencium aroma parutan jahe di mangkuk.

“ Aiigoo, dasar anak manja. Palli aku pakaikan” ucap Dara sambil mengambil mangkuk parutan jahe itu dan menumpahkannya di selembar perban yang sudah ada di dekatnya. Lalu mendekati wajahku.

“Appa selalu memberikan ini jika aku terluka sepertimu”ucap Dara menjelaskan dan aku hanya melihat raut wajahnya yang seperti malikat yang rindu akan pria yang sangat ia sayangi, yups appanya.

            Awalnya aku merasakan panas luar biasa karena parutan jahe itu di sekitar benjolku namun karena Dara yang memakaikannya aku menahan itu semua. Perlakuannya terhadapku cukup lembut seperti eomma yang selalu lembut memperlakukanku dan emmm,,, membuatku sedikit berdegup saat berada dekat dengan wajahnya. Omo sadarlah Kwon Jiyong.

“Selesai, jangan melepasnya sampai nanti malam. Mengerti?” perintahnya padaku.

“ Ok, gumawo Dara-aah” ucapku tersipu.

“ Oia, penyebab kau pingsan dan mendapat benjol di keningmu ituuuuu, mengapa ada di depan pintu kost ku? Apakah itu punya mu?” tanya Dara mengingatkanku pada pendingin sialan itu.

“ Emm itu karena aku membelinya, semua itu karena kau tak mempunyai lemari pendingin. Mana bisa zaman sekarang ada seseorang di Cheongdamdong tak mempunyai lemari pendingin di rumahnya? Jadi aku kebingungan saat aku ingin mengompresmu dan membutuhkan bongkahan es. Dan aku menyuruh sekertaris keluargaku untuk membelikan kulkas bodoh itu. Naneuuuuun, kulkas itu lebih besar dibandingkan dengan pintu kostmu.” Ucapku dengan nada pelan.

“ Kau itu bodoh atau apa? Zaman sekarang masih ada namja bodoh akut sepertimu?” ucap si yeoja tidak tau berterimaksih itu dan tak terharu sama sekali dengan pengorbananku padanya dan parahnya lagi ia mengatakan aku bodoh akut??? Cih IQ ku tertingi di Cheongdamdong. Dan tak lama kemudian hp ku berdering, layar besar dan mulus itu menampilkan nama “APPA”

“Yeoboseo, wae menelefonku. Tidak kah kau sibuk saat ini sehingga kau mempunyai waktu untukku?” jawabku ketus pada orang yang ku sebut appa itu.

“Cepatlah pulang, sekarang juga. Yeobo bicaralah pada anak manja mu ini. Dia tidak akan mendengarkan perkataanku”ucap appa yang sepertinya memanggil eomma menggantikannya berbicara di telefon.

“Jiyong-aah, palli pulang lah. Ku mohon untuk kali ini saja. Appa mu akan menyampaikan sesuatu. Bisa kah kau menurut pada eomma, bukan kah kau kebanggan eomma?”ucap yeoja paruh baya yang sangat aku cintai dan aku tak bisa menolak perintahnya.

“Ne eomma, aku segera pulang. Annyeong” jawabku lemas lalu memutuskan sambungan telefon. Lalu aku menatap Dara yang sedang menatapku dengan mata bulatnya. Omo aku harus menghindari ini, bisa-bisa mimisanku kambuh jika ini berlangsung lama.

“Emm Dara-aah, aku pamit pulang dulu ne, gumawo untuk ini” ucap ku sambil menunjuk perban yang melintang di keningku.

“Ne, berhati-hatilah” jawab Dara dan kini aku pergi meninggalkan Dara melewati pintunya dan kembali aku melihat si pendingin sialan itu.

“Kau akan musnah, beraninya kau membuat kening kebanggaanku seperti ini”ucapku pada pendingin yang diam membisu.

**

~ Setibanya Di rumah Jiyong ~

“Aku pulaaaaang” kataku dengan suara melengking menggema di seluruh penjuru rumah megah milik appa.

“ Akhirnya kau pulang nak, palli appa sudah menunggumu” ucap eomma menyambutku sambil menarikku memasuki ruang makan.

“Kau sudah pulang anak pembangkang” ucap appa sambil memasukan sendok berisi sup ke dalam mulutnya, ia berbicara tanpa melihatku.

“Ne, wae kau mencariku, apa yang ingin kau bicarakan? Cepatlah aku sangat lelah?”ucap ku sambil duduk sembarangan di kursi makan.

“Kau sekarang berkelahi, hingga kening mu diperban seperti itu?”ucap appa yang ternyata memperhatikanku.

“Omo, bagaimana bisa aku tidak melihat itu. Kau berkelahi Ji? Katakan siapa yang memukulmu hingga seperti ini?”tanya eomma yang baru menyadari adanaya perban di kepalaku.

“ Anniyo, aku tak berkelahi. Sudahlah, apa yang kau ingin bicarakan padaku?” desakku pada Appa yang masih sibuk dengan makanannya.

“ Sampai kapan kau akan melakukan pekerjaan bodohmu itu? Aku sudah tua, lihatlah rambut putihku sudah mulai mendominasi kepalaku. Bisakah kau mulai belajar mengenai perusahaan appa, nuna mu sudah mengurusi 2 perusahaan appa yang di Jepang, dan kau hanya bermain-main dengan kelompok bodohmu itu” ucap appa panjang kali lebar. Dan aku hanya mengorek-ngorek telingaku dengan cuek seakan itu mengartikan responku yang tak ingin mendengar ocehannya yang beribu kali itu-itu saja. Perusahaan perusahaan dan perusahaan. Siapa suruh mempunyai perusahaan banyak sedangkan kau memproduksi anak hanya dua, Dami nuna dan aku.

“Aiishhht, anak ini?” kesal appa sambil memukul kepalaku dengan sendok supnya.

“Appa, kau mengotori rambutku” protesku pada perlakukannya sambil membersihkan rambutku yang terkontaminasi bau sup.

“Yeobo, kau saja lah yang menasehatinya. Dia lebih mendengarkanmu daripada aku. Dan jangan sampai ia bercerita macam-macam pada nenek” ucap appa sambil beranjak pergi dari kursi makannya dan berjalan melewatiku namun dengan tiba-tiba, Plak. Aku menjerit tanpa suara, menahan sakit di keningku.

“Dasar kau pria tua, lihat pembalasanku” umpatku masih dengan menahan sakit karena appa dengan sengaja memukul perban yang menutupi benjolku. Dia itu memang senang sekali menjahiliku. Ghah appa macam apa dia? Dia senang menjahiliku karena aku selalu merebut perhatian eomma dan terlebih lagi saat aku sering dibela oleh nenek yang tidak lain adalah eomma dari appa. Nenek sering memenangkan aku dan selalu memarahi appa jika appa tidak mengabulkan permintaanku atau sedang memarahiku. Maka dari itu aku sangat mengidolakan nenek, dia wanita tangguh yang pertama aku temui dan kini aku mengenal wanita tangguh ke dua yaitu Dara. Aahh Dara, mengapa jantungku berdebar jika mengingat namanya. Sial aku mulai gila. Readers tolong beri aku kecupan untuk menyadarkanku. *Jiaaah pada pengen pasti tanpa disuruh juga,kekeke (author nongol).

“Ji, dengarkan nasihat appamu, dia mulai sakit-sakitan. Tadi dokter Liem menjelaskan jika appa sudah tak boleh lagi terlalu lelah. Dia butuh istirahat Ji, kumohon kau mau belajar meneruskan perusahan appa di sini. Biarlah kakakmu mengurusi perusahaan di Jepang. Ngomong-ngomong tentang nunamu, besok ia akan ke Korea dan akan berkunjung jadi kau yang menjemputnya di bandara, arraso??”ulas eomma padaku sambil mengelus lembut puncak kepalaku dan itu perlakuan yang selalu aku sukai dari eomma.

“Ne eomma, aku akan menjemput Dami nuna besok, aku akan menghubunginya malam ini, kau tak usah khawatir. Dan bilang pada pak tua menyebalkan dan sok sibuk itu aku menyayanginya dan beri aku waktu untuk memikirkan nasihatnya tadi. Saranghaeo eomma, gumawo selalu menyayangiku lebih dari pak tua itu, kekeke”godaku jahil sambil memeluk eomma.

“Dasar kau dan pria tua itu sama saja, sangat kekanakan dan manja” ucap eomma namun mempererat pelukan kami. Tuhan aku berterimakasih dikaruniai keluarga indah ini. Dreet dreet dreet hp ku bergetar, ku lepaskan pelukan eomma dan mengangkat hp ku itu yang ternyata dari Sekertaris Kim.

“Yeoboseo? Tuan Jiyong, perintah anda telah kami laksanakan. Lemari pendingin itu telah kami hancurkan karena itu lemari pendingin yang limited edition yang hanya diproduksi 6 buah saja dan telah kami hancurkan semuanya. Kami pastikan anda tidak akan menemukan lemari pendingin yang bertabur batu swarosqi berwarna biru yang semacam itu di dunia ini.” Ucap sekertais Kim dengan pasti dan aku yang mendengar kabar itu hanya tersenyum iblis “kau dan teman-temanmu sudah musnah lemari pendingin sialan”gumamku dalam hati penuh kemenangan. *lebay nih si Jiyong (author nongol lagi).

**

Dara pov

~ Keesokan Harinya ~

            Hari ini Dara kembali bekerja di apartemen Big Bang host club, mereka saat ini sedang tertawa terbahak-bahak karena Dara sedang menceritakan kebodohan sang King Jiyong vs Lemari pendingin.

“ Huahahah, aku tak tahu bahwa Jiyong sebodoh itu” ucap Daesung di tengah-tengah tawanya dan dia mulai beringus karena lamanya tertawa.

“ Aigoo, aigoo perut ku” kini Taeyang memegangi perutnya yang berkotak-kotak itu. Perutnya mungkin mulai terasa kram karena kebanyakan tertawa.

“ Wkwkwkwk, Jiyong hyung kau membuat aku menyesal pernah mengidolakanmu,,hahahaha ternyata IQ mu tak sebanding dengan tingakahmu yang bodoh” ucap Seungri dengan polos menghina dina Sang Ketua yang matanya kini berkilat hebat ke arahnya.

“Ya!!!kau panda yadong, jangan pernah kau mengataiku seperti itu. Top hyung maknae meledekku sangat keji seperti itu. Hukum dia hyyuuuuung” rengek Jiyong manja pada Top yang sedang menahan tawa dengan kepalan tangannya menempel pada mulutnya.

“Ekheem, mianhae Ji, kali ini Seungri memang benar. Kau sangat bodoh dan tak bisa dibanggakan. Muahahahaha” kini tawa Top meledak pula, membuat Jiyong kembali di posisi kesakitannya. Ia berada di sudut ruangan menyendiri sedih di penuhi kabut hitam kelam seakan-akan lampu mewah apartemen tak bisa menerangi sudut ruangan itu jika Jiyong sedang seperti itu.

“Apakah aku memang bodoh?? 1 + 1 = 2, 1 x 1 = 1 dan aaarrrggghhhh, mereka menertawakanku semakin kencang, hiks bukankah aku masih Kwon Jiyong sang namja perfect??? Huaaaah apakah itu sudah menghilang dariku??”gumam Jiyong sambil menenggelamkan wajahnya ke kedua lutut cungkringnya dan parahnya lagi kini tak ada yang membujuknya karena semua sedang sibuk tertawa dengan imaginasi adegan Jiyong vs lemari pendingin. Ting tong ting tong. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Dara yang tidak banyak mengeluarkan energinya untuk tertawa bersukarela untuk melangkah menuju pintu apartemen melihat sang pemencet bel.

“Annyeong, oppa? Bagaimana bisa?”ucap Dara kaget.

“Annyeong, mian membuatmu kaget. Boleh aku masuk?” tanya Woo bin pada Dara yang masih terkejut karena penyamarannya sudah terbongkar oleh Woo bin dan saat mereka masuk semua mata tertuju pada namja bertubuh tinggi dan berwajah maskulin itu terkecuali Jiyong yang masih dengan posisi tersakitinya.

“Annyeong, aku Kim Woo Bin senang berjumpa dengan kalian. Boleh kah aku meminjam Dara hari ini? Aku akan membayar sesuai dengan kesepakatan” ucap Woo bin to the point. Mendengar nama Woo bin menggema di rongga telinga Jiyong, Jiyong langsung mengangkat wajahnya dan menatap nanar namja tinggi itu. Kilatan persaingan kini tergambar jelas. Bahkan teman-teman Jiyong menatap ngeri tatapan Jiyong yang seperti Hyena yang sedang mengintai mangsa namun sang mangsa hanya tersenyum lugu.

“Annyeong Jiyong” sapa Woo bin saat Jiyong mulai menghampirinya namun Jiyong berjalan dengan angkuh dan tak membalas sapaan Woo bin.

“Bagaimana kau bisa tahu jika dia adalah Dara?” selidik Jiyong sambil memutari tubuh tinggi Woo bin. Ke empat member lain hanya menatap ngeri. Daesung mulai menggigit 10 jarinya, Taeyang sudah membuka bajunya bersiap-siap untuk menjadi pelerai jika nanti ada perkelahian antara Woo bin dan Jiyong, Top sedang memikirkan tarif yang perlu di bayar Woo bin jika ingin meminjam Dara hari ini, sedangkan sang maknae Seungri bergaya ala cheerleaders dengan dasinya yang diikatkan di kepala dan memegang ke dua bantal sofa yang berperan sebagai umbul-umbulnya. Dan Dara hanya menatap heran makhluk-makhluk di sekitarnya.

“Aku mengikutinya sejak kau mengambilnya dari ku, kau masih ingat bukan?” ucap Woo bin mengingatkan kejadian saat Dara sedang mengejar sosok appa Dara.

“Cih, bukan kah itu termasuk tindakan tidak menyenangkan karena kau mengikuti seseorang tanpa seizing dari orang itu” kini Jiyong berusaha memojokkan Woo bin.

“Heol, sudahlah Ji, aku hanya ingin berbicara padanya saja. Kau tak keberatan Dara-aah?” ucap Woo bin bertanya pada Dara yang tampak kikuk untuk menjawab pertanyaan Woo bin.

“Emm, a-akku, aku serahkan pada Top saja. Dia yang mengurus jadwalku dengan tamu” ucap Dara mengalihkannya pada Top yang masih memikirkan bayaran yang pas untuk penyewaan Dara kali ini *Mata duitan mood on.

“Aku rasa jika hanya mengobrol kau boleh meminjam Dara hanya dengan waktu 2 jam dengan bayaran yang sangat mahal tentunya. Ini sudah termasuk kencan” ucap Top membuat Jiyong melotot hampir mengeluarkan matanya dan rahangnya seakan jatuh kelantai. Jiyong tak percaya dengan apa yang dikatakan Top.

“Hyung, mengapa bisa..” Jiyong berucap

“Ji, nanti aku jelaskan. Biarkan mereka pergi” ucap Top sok bijaksana dan dengan wajah gelap Jiyong melangkah menuju kamarnya. BRUUUGGGHHH bantingan keras dari pintu kamar Jiyong seakan memecahkan gendang telinga yang mendengarnya.

“Sebaiknya kalian cepat pergi” ucap Top pada Woo bin dan Dara.

“Top, apakah tidak apa-apa?” tanya Dara khawatir.

“Gwencana, palli bersenang-senanglah dan kau Woo bin jika dalam 5 menit kau tak mengirimkan uangmu ke rekening kami, kau akan mati” ucap Top mengingatkan tentang uang, dia bisa sangat cerewet mengalahkan ahjumma yang menagih uang kontrakan.

“Ne Top Hyung, Gumawo. Kami pergi ayo Dara” ucap Woo bin dengan menggandeng tangan Dara.

~ setelah kepergian Dara dan Woo bin”

“Hyung, bagaimana dengan monster yang satu itu. Sepertinya ia sedang sangat marah” ucap Daesung berwajah takut.

“Ne hyung, aku mulai mulas melihatnya berwajah seram seperti itu sangat menakutkan” ucap Seungri menambahkan sambil memegangi perutnya yang benar-benar mulai merasakan mulas.

“Tenanglah aku dan Taeyang yang akan berbicara padanya” jawab Top pasti.

“Mwoo??mengapa harus dengan ku, kau sendiri yang menyetujui Dara dizinkan pergi dengan Woo bin bukan aku. Aku sahabat Jiyong, namun jika ia sedang seperti itu aku pun takut hyung” ucap Taeyang tak terima.

“Aiishht baiklah aku yang akan berbicara sendiri pada Jiyong” pasrah Top dan segera melangkah menuju kamar sang Monster naga sedang mengamuk.

“Omo, aura kamar ini sangat menyeramkan membuatku takut” ucap Top berbalik arah menjauhi kamar sang Naga yang mengamuk.

“EEyyyy hyuung, kau harus bertanggung jawab atas semua ini” teriak serempak Dae, Bae, dan Seungri sambil mendorong Top kembali dihadapan pintu kamar Jiyong. BRAAAKK pintu terbuka Jiyong terpampang nyata di hadapan mereka yang menatap ngeri dan takut.

“Aku pergi, tolong handle semua tamu aku akan segera kembali” ucap Jiyong dingin. Wajahnya masih kelam, namun matanya basah dan ingusnya masih mengalir mengurangi ketampanannya saat itu. Dan makhluk yang bertampang bodoh hanya mengangguk seperti idiot yang terpaksa  mengangguk daripada nyawa mereka melayang saat ini juga.

**

~ Di Café Dara dan Woo Bin ~

 “Oppa, apa yang ingin kau bicarakan padaku? Apakah itu sangat penting?” tanya Dara menatap wajah Woo bin.

“Omo, kau jangan menatapku seperti itu aku tak bisa bernafas jika kau memandangku seperti itu” ucap Woo bin terus terang.

“Aiisshh kau ini, palli bicaralah kau hanya mempunyai waktu 2 jam saja oppa” desak Dara yang sudah akrab sekali dengan Woo bin yang sangat baik dan ramah terhadapnya. Berbeda dengan namja yang selalu bertengkar dengannya dan hobby anehnya yang suka mengambek di sudut ruangan.

“Aku tak ingin membicarakan apapun Dara-aah, aku hanya ingin melihatmu dengan dekat” jawab Woo bin sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah polos Dara. Dan itu berhasil membuat wajah Dara memerah.

“Oppa berhenti menggodaku. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” ucap Dara, dan woo bin berfikir sejenak.

“Kajja ikut aku” ucap Woo bin sambil menarik tangan Dara.

~ Di lain tempat ~

             Jiyong melangkahkan kakinya di lorong, menghirup udara dan merasakan kenangannya saat dulu. Berseragam dan sangat popular disemua kalangan. Lalu Jiyong menghentikan langkahnya mendapati ruangan favoritnya yaitu ruang music. Saat ini sekolah sedang libur sehingga tidak ada siswa yang berada di sekolah sehingga Jiyong dapat melihat-lihat dnegan puas semua kenangannya itu. Jiyong mengelus lembut sebuah gitar yang tergeletak, kemudian ia mengambilnya dan memposisikan duduknya dengan nyaman bersama gitar di pangkuannya.

            Dan tanpa sepengetahuan siapapun Woo bin dan Dara sudah berjalan di lorong sekolah. Woo bin  mengajak Dara ke  sekolah tempat Woo bin dan Jiyong bertemu.

“Aku dan Jiyong bersekolah di sini, walaupun aku siswa pindahan aku tak kalah popular dengan Jiyong, kekekeke “ jelas Woo bin bercerita.

“Oppa kau sangat percaya diri sekali, kau tak berbeda jauh dengan bocah manja itu”ucap Dara yang mendapat respon tawa dari Woo bin. Namun percakapan mereka terhenti saat mereka mendengar seseorang bernyanyi dengan alunan suara gitar. Merekapun mencari sumber suara nyanyian itu dan mereka akhirnya mendapati sosok yang mereka kenal yang sedang bernyanyi sambil menutup mata seakan menghayati nyanyiannya.

“Kau membuat wajahmu menyedihkan, sama sepertiku. Maukah kau tinggal bersamaku? A yo what’s up baby girl, kau lebih indah terutama hari ini, bagaimana kabarmu ini terlihat canggung diantara kita. Aku hanya ingin tahu, semua ini terasa aneh. Sehingga membuatmu merasa tidak nyaman” alunan gitar dengan gaya akustik keahlian Jiyong sangat gemilang membuat Dara menatap sosok Jiyong tanpa mengedip.

“Aku bersikap seolah-olah mengagumkan dan berbicara padamu. Membuat lelucon dengan pesona. Suasana menjadi lebih baik kadang-kadang aku bersikap serius tapi aku pikir tidak. Ini lucu, sebelum kita tahu gelas ini kosog wine dan tea rasanya seperti telah terisi penuh di dalam. Apakah begitu kesepian, aku tahu bagaimana perasaanku. Meskipun bibirmu mengatakan tidak. Matamu mengatakan bahwa kau ingin denganku. Maukah kau tinggal denganku, datanglah padaku(Lyric Stay With Me)” lanjut Jiyong menyanyikan nyanyian ia buat versi akustik namun saat jiyong hendak melanjutkan nyanyiannya ia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia karena sedang di tonton oleh kedua makhluk yang membuatnya kesal hari ini. Dengan cepat ia berdiri dan meletakkan gitarnya.

“Wah kau masih hebat tentang music hyung?” ucap Woo bin ramah. Namun Jiyong membalasnya dengan senyuman iblis khasnya.

“Sedang apa kalian di sini? Bukankah kalian sedang berkencan?”tanya Jiyong penasaran dengan adanya mereka di sekolah itu.

“Aku yang mengajak Dara untuk melihat-lihat sekolah kita hyung. Dan ini acara kencan kami”jelas Woo bin polos.

“Mworagooo?? Cih apakah kau tak mempunyai uang untuk berkencan di tempat yang mewah sehingga kau berkencan di sebuah sekolah? Kencan rakyat jelata” ucap Jiyong meremehkan tanpa sadar membuat Dara tersinggung.

“Oppa, kajja kita pergi. Di sini ada makhluk yang sangat menyebalkan aku muak melihatnya” ucap Dara sambil menyeret tangan Woo bin menjauh meninggalkan Jiyong yang terperangah dengan sikap Dara.

“Ya!!! Dada kerucut kau yang menyebalkan. Ghah” umpat Jiyong kesal.

**

“Oppa minhae atas perlakuan bocah manja itu” ucap Dara meminta maaf pada Woo bin yang berfokus pada kemudinya.

“Gwencana Dara-aah”jawab Woo bin, salah satu tangannya mengelus lembut rambut Dara.

“Oppa, bisakah kau menurunkan aku di sini aku ingin membeli sesuatu”ucap Dara.

“Apakah aku bisa menemanimu?”tanya Woo bin.

“Anniyo, ini rahasia. Kekeke”ucap Dara.

“Arasso” ucap Woo bin sedikit kecewa lalu menepikan mobilnya.

“Berhati-hatilah. Dan jika terjadi apa-apa kau langsung menghubungiku ne” ucap Woo bin pada Dara yang sudah membuka pintu mobil.

“Ne oppa, Gumawo untuk hari ini”pamit Dara pada Woo bin lalu Dara melambaikan tangannya pada Woo bin yang kini beranjak pergi.

“Mungkin lebih baik jika aku naik bis saja ke apartemen Big Bang” ucap Dara sambil melangkah menuju halte bus dan duduk menunggu bus datang.

Tin, tiiiiiiin. Tin tiiiiiiiin, sebuah mobil mengklakson dengan risih di depan halte bus yang hanya ada Dara di sana. Namun karena Dara tahu betul milik siapa mobil lambhorgini putih itu, ia enggan menghampiri sang pengemudi. Dara hanya pura-pura tidak mendengar dan mengacuhkan mobil yang terus mengklason dirinya.

“Ya!!! Apa kau tuli dada kerucut?” Ucap Jiyong yang menyerah dan menghampiri Dara.

“Kemoceng sepertimu seharusnya berada di pasar tradisional. Kau sangat berisik kemoceng” ucap Dara sambil melangkah pergi meninggalkan Jiyong dengan tampang bodohnya.

“Ya!!!kau mau kemana?? Kau harus kembali ke apartemen, ya!! Dara-aah. SANDARA PAAAARRRRK!!!!” teriak Jiyong sambil berlari mengejar Dara yang sedang melakukan langkah seribu.

“Jangan meneriakiku di depan umum tuan Kwon yang agung” ungkap Dara kesal lalu melewati tubuh Jiyong namun tangan Dara berhasil di tahan oleh Jiyong. Byuuurrrr, tiba-tiba hujan deras membuat mereka basah kuyup.

“Hujan, palli Dara-aah kita ke mobil” ajak Jiyong namun Dara masih bersikukuh tak ingin bersama Jiyong. JGEEERRRR tiba-tiba petir hebat terdengar keras membuat lulut Dara melemah sehingga Dara terduduk begitu saja.

“Ya!!mengapa kau duduk di sini? Seperti gembel saja?”ucap Jiyong.

“….” Dara hanya diam.

“Aiiishht aku lupa kau takut dengan petir, kajja kita pulang Dara-aah. Mobil mewahku sudah disertai anti petir dan peluru. Percaya lah” ucap Jiyong asal, namun seketika itu pula Dara dengan kekuatan seperti kilat berlari menuju mobil lamborgini Jiyong. “Dasar yeoja aneh” pikir Jiyong.

“Ya!! Palii bukakan pintunya. Ini terkunci bodoh” teriak Dara yang mendapati pintu mobil Jiyong yang masih terkunci.

“Ne arraseo.” *pip pintu pun terbuka dan Dara langsung masuk ke mobil tanpa ba bi bu. “Sebegitu takutkan kau dengan petir sehingga kau mudah dibodohi. Mobil itu mobil biasa. Ckckckc yeoja yang sangat aneh” gumam Jiyong saat memasuki mobilnya. GELEGAAAAR *petirnya tetep exsis

“brug” baru sempat Jiyong menutup pintu mobilnya, Dara langsung memeluk pinggang Jiyong. Membuat Jiyong membatu seketika.

Jiyong Pov

            Aku baru saja menutup pintuku dan tak lama petir menggelegar dan secara tiba-tiba Dara memeluk ku. Itu membuatku membatu seketika. Namun sepertinya ada yang salah dengan posisi Dara yang sedang memelukku ini. Dan saat aku melihat Dara. OOOOH MY… DICK. Dia memeluk pinggangku dari samping sehingga mau tak mau wajahnya tenggelam tepat dengan kebanggaanku, masa depanku, asset berhargaku. Andweeeeeee, ottokeee???

“Dara,, emm pallin kita pulang,, emm petirnya sudah tak terdengar lagi” ucap ku bohong untuk mempersingkat keadaan ini. Gelegaaaaar *petir lagi.

“OMOOOOOOOO, Ya!!! Jangan memperdalam wajahmu Da-da-aaaaaaaaaaaaaah”entah itu terdengar jeritan atau desahan. Dan sudah kurasakan asset masa depanku itu sudah menampakkan ketangguhannya.

“Apa sih ini?” ucap Dara polos memantul-mantulkan keningnya pada asset berhargaku. Dia masih menenggelamkan wajahnya dibagian itu.

“Ahh, Dara ku mohon lepaskan peluk ah, ya!!!!! Lepaskaaaan” ucapku menyadarkan diri, jika tidak besok aku pastikan aku akan menjadi cover Koran “KWON JIYONG PUTRA PENGUSAHA MEMPERKOSA TEMAN WANITANYA” andwe, andwe andweeee.

“Hujannya sudah berhenti. Kajja kita pulang” ucap Dara bertampang polos ia tidak tahu perbuatannya tadi huh??

“Kaj-kajja kita pulang” ucapku menahan gejolak di dada dan gejolak emm kalian mengertikan readers. Kekekee

**

~ Setibanya di Apartemen Big Bang ~

Dara yang lelah dan tertidur ku gendong ke lantai atas, karena apartemen kami berada di paling atas. Yeoja ini sangat kurus sekali tanpa rasa berat aku menggendongnya. Aku seperti membawa sebuah papan ski besar saja. Kekeke. Kau harus makan yang banyak mulai saat ini Dara-aah. Ting, lift terbuka menandakan aku sudah di lantai atas.

“Omo, apa yang ter-ja..”tanya Seungri kaget melihat Dara di tangan ku. Namun aku menyuruh mereka diam dan jangan mengeluarkan suara dikarenakan takut Dara terbangun.

            aku membuka kamarnya. Lalu meletakkan Dara di ranjang pribadiku. aku tak pernah mengizinkan siapapun untuk tidur di ranjang kebesaranku ini. Namun entah kenapa ini berbeda jika Dara. aku menatap wajah lelah Dara, namun masih terlihat cantik dimata ku.

“Aku tak pernah merasakan ini. Dan hari ini kau hampir membuatku gila Dara-aah. Tidur yang nyenyak aku ada di luar menjagamu. Stay with me” ucap ku sambil membelai wajah mulus Dara dengan punggung tangan ku Namun tiba-tiba mata k terhenti di satu titik. Bibir mungil Dara. Entah perasaan seperti apa ini. Jantungku berdetak keras, cepat dan seperti sedang menabuh gendering. Tiba-tiba aku mendekatkan wajahku, semakin dekat dengan wajah Dara. Tuhan apa yang aku lakukan cepat segera sadarkan akuuuuu.

~ Chuuu ~ fresh kiss *huaaah mauuuu (author nongol lagi dan lagi)

            Namun belum sempat aku melepaskan bibirku dari bibir Dara. Sepertinya ada yang sedang memperhatikanku dan akupun berinisiatif membuka mataku dan…

TADAAAAAA…

            Mata bulat Dara kini benar-benar membulat. Ia shock dengan apa yang ia lihat.

“Tuhan sudah ku bilang untuk mencegahku melakukan kebodohan ini. Hari ini aku akan mati di tangannya” gumamku dalam hati. Aku pun berdiri dengan cepat lalu ancang-ancang mengambil langkah seribu. Syuuurrr sialan mimisanku kumat. Dan ini karena perbuatanku sendiri.

“KWON JIYOOOOONG, SIAPKAN PETI MATIMU SEKARAAAAAAAANG” Teriak Dara yang membuatku refleks berlari menghindarinya sambil menyumpal hidungku dengan jari telunjukku.

“Hyung, Dae, Bae, Rat cegah Dara agar tak mengejarku, ia akan membunuhku, palliiiii palliii. Aku tidak ingin mati muda di tangan yeoja berdada kerucut” ucapku masih berlari menghindari Dara yang seperti kerasukan mengejarku dengan membawa pisau buah. “Tuhan apakah ini hari terakirku, eommaa, neneeeeek tolong akuuuu” Jeritku dalam hati.

TBC….

Tinggalkan jejak seperti biasa ne. Daragon tetep semangat yah walaupun wabah jiko muncul lagi,kekeke. Tetep setia dengan Daragon ne. Ok. Gumawo *bow.

 

<<back next>>

Advertisements

31 thoughts on “CHEONGDAMDONG HOST CLUB ~ Stay With Me [Chapter 7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s