The Darkness of Tokyo : Prologue

tokyo-darkness2

Author : VA Panda

Title : The Darkness of Tokyo

Genre : Horror, Thriller

Cast : Park Sandara | Kwon Jiyong | Mizuhara Kiko Ikuta Toma | Lee Chaerin

Support Cast : Soo Ra and Soo Hye (Oc’s) | All member of 2ne1 and Big Bang

Length : Series

Merci : Princess © Poster State

Disclaimer : This story is purely fresh from my brain. All cast in this fanfiction not my mine expect Oc. If you wanna be take out this story please inform me, don’t take story without permissions.

©April 17, 2014

VA Panda storyline

.

.

.

.

-The terror will begin in Tokyo-

.

.

.

.

Kami berujung pada tempat ini, tapi selamanya kami tahu keberadaan kalian

.

.

.

Prologue

 

Maret, 2011 di Korea Selatan

 

“Masih mau mempertahankannya ?”

Lagi-lagi Sandara mendengar pertanyaan konyol yang di lontarkan sahabat wanitanya. Gadis dengan mata bergaris datar yang baru selesai di percantik penampilannya oleh Sandara nginaa mengumpat dalam kepala tertunduk.

“Aku mencintainya dan bahkan tidak pernah sekalipun terbesit sesuai dengan pikiranmu itu,”

Dia, Sandara Park menghela nafas dalam demi menahan tiap kata kotor yang mungkin akan mencolos dari bibir mungil yang telah tiap hari mendapat sapaan lembut dari seorang pria yang menurut kebanyakan orang ‘hebat dan menawan’ tapi lebih dari itu, Sandara mengenal prianya lebih dari siapapun tentunya.

“Cinta ? Kau gila ?”

Chaerin menggebrak meja riasnya dengan cukup keras disana. Dia menatap tajam tepat pada kedua manik mata cerah milik Sandara. Gila. Chaerin akan terus mengatakan bahwa pasangan itu lebih parah dari orang gila pada umumnya. Chaerin bosan, kembali dia menjadi seorang yang dewasa di sini, setidaknya dia sangat beruntung memiliki Seungri yang membuatkan perlahan bersikap dewasa dan tentunya dia sangat biasa dengan sikap dewasa yang tiba-tiba muncul. Sinar lampu di atas kepalanya memancarkan ide cemerlang.

“Aku memiliki cara lain dan mungkin kau tidak perlu mengerjakan apa yang Bom bicarakan padamu. Serius, caraku bahkan lebih normal dan masuk akal.” Kata Chaerin dengan meremehkan. Dia hanya memutar bola mata hitamnya dengan angkuh saat membandingkan seberapa hebat idenya jika dibandingkan dengan seorang Park Bom.

“Berhentilah, Chae. Apa sulitnya untuk melakukan itu, lagipula Jiyong sudah berjanji akan menikahiku. Perlu kau tahu, aku sudah melakukannya sebelum Bom memberikan sarannya padaku,” balas Sandara tanpa sedikitpun ekor matanya menatap kearah Chaerin yang justru tengan menatap punggung Sandara.

Detik setelah Sandara menyelesaikan ucapannya dengan santai sembari membenahi peralatan gadis itu, Chaerin sekelebat ingin lekas menguliti seorang Kwon Jiyong. Siapa dia ? Seluruh pelosok Korea sudah hafal wajah dan nama pria itu –tepatnya, kalian bisa mengatakan kalau Kwon Jiyong tengah mengibaskan sayap mudanya. Muda, berbakat, cerdas, dan kharismatik. Kwon Jiyong cukup rakus dengan segala kehebatan yang banyak diidamkan siapapun manusia di bumi, tapi sampai kapanpun Chaerin akan mempersulit berbagai usaha Kwon Jiyong untuk merebut hati Sandara. Siapa sangka, Jiyong lebih gesit dari perkiraannya. Sandara yang lugu sudah di dapatkan oleh Kwon Jiyong dengan mudah, tubuh wanita itu telah dia cicipi. Setan tercela memang.

Chaerin memang sedikit bingung dengan pilihan Sandara yang amat bodoh. Bukan bermaksud untuk mengganggu urusan percintaan kedua orang yang menurutnya tidak sekalipun memiliki celah pikiran hebat menerutnya. Gadis itu dengan geram hanya sekali menatap acuh pada Sandara. Keputusannya sangat tepat, dia lelah dan terlalu bosan dengan Sandara yang terlalu menyembah Kwon Jiyong.

“Semudah itu ? Yah, kau memang gadis yang menggilai sutradara aneh itu. Terserah apapun yang kau mau. Lakukanlah hal itu jika bisa membuat kalian kembali bersama dan jangan pernah menyapaku sampai kapanpun !”

Sandara tercekat dalam diam. Chaerin dan Sandara memang sudah sering membahas masalah ini, sejujurnya Sandara sempat terpaku dengan beribu kemungkinan yang Chaerin bicarakan padanya jika Sandara memiliki hubungan serius dengan atasnya sendiri, tapi dia sudah terlalu buta untuk kembali menghentikan berbagai usaha yang gadis itu lakukan agar Jiyong kekal kelak di sampingnya. Walaupun musthil, tapi jelas dia melakukannya dengan berbagai cara –termasuk hal yang diungkit Sandara pada Chaerin.

“Satu lagi….” Chaerin menghentikan langkah tepat saat lengannya hampir menarik kenop pintu. Gadis itu berberat hati untuk melakukan ini, tapi sekali lagi dia sangat kesal pada Sandara. “Setelah aku keluar dari pintu ini, maka anggaplah selamanya kita tidak pernah saling mengenal.” Sambungnya dengan datar sedangkan ruang paru-parunya terasa sesak hanya untuk mengatakan kalimat perpisahan pada sahabat terbaik yang dia punya.

Sandara sontak menengadahkan kepalanya untuk mendapati sosok Chaerin, tapi setelah terdengar suara pintu tertutup, gadis itu hanya berdiri diam tanpa berusaha mengejar Chaerin. Sandara terkulai lemas saat terduduk di bangkunya. Dia hanya menatap kosong pada cermin. Dia tahu, Chaerin sepenuhnya lebih benar, tapi hati kecil Sandaralah yang patut di persalahkan.

“Chae….Jika kau tahu, aku sangat-sangat menyukainya lebih dari nyawaku,” bisik gadis berambut ikal itu kecil sembari menerawang dalam pikirannya.

***

Juli, 2013

“Kerja yang bagus, Kiko. Kau yang terbaik,”

Jiyong memeluk tubuh ramping wanita Jepang itu dengan bersemangat. Pria itu tidak tahu akan mengatakan apalagi setelah Kiko berhasil menunjukkan aktingnya yang menawan. Hari ini, tanpa memerlukan waktu hingga matahari terbenam, scene Kiko telah berhasil dengan sempurna. Para kru langsung membenahi peralatan syuting untuk pergantian tempat tepat setelah sutradara muda itu bertepuk tangan dengan riang seakan mendapatkan hal yang sulit di percaya.

“Aku yang terbaik ? Sungguh ? Bisa bandingkan aku dengan pemain jagoanmu ?”

Setelah Jiyong menjauhkan diri dari Kiko, gadis itu mulai memperlihatkan kemampuannya dengan piawai. Kiko mulai berjalan dengan angkuh bersama Jiyong di sampingnya, setiap langkahnya gadis itu mengulas senyuman cerah pada setiap pasang mata yang ia jumpai.

“Chaerin juga hebat. Kalian berdua sama-sama hebat dalam dunia perfilman, aku sangat beruntung dapat menemui orang se-hebat kalian.”

“Setidaknya aku sudah mulai menyamainya, bukan ? Well, kehidupan di New York memberiku peluang besar dalam nginaa ini dan sangat menyenangkan bisa bekerja sama dengan seorang sutradara muda yang telah banyak memperoleh penghargaan sepertimu.”

“Jadi kita sama-sama beruntung yah ? Aku harap film yang aku buat ini dapat di perlihatkan di New York, atau setidaknya Kanada. Jika itu terjadi, wajahmu, sangat tidak asing bukan di mata mereka.”

“Aku sangat tersanjung mendengarnya. Oh..apa kau masih ingat lima tahun yang lalu, saat kau masih tinggal di Carlifornia. Jadi apa aku masih memiliki harapan ?”

“Maksudmu ?”

Kiko menghentikan langkahnya setelah gadis itu kembali mengingat masa lalunya bersama Kwon Jiyong. Jika pria itu bisa mencium tujuan Kiko ikut dalam kerja sama dalam film yang ia sutradarai tentu Jiyong langsung menjawab pertanyaan Kiko walau hanya dengan pertanyaan singkat yang Kiko tujukan padanya.

“Kau lupa ?”

Gadis itu sedikit menahan emosinya. Jiyong yang ia kenal hingga saat ini memang tidak banyak berubah. Pria itu masih belum mengerti atau tidak merasakan perasaan Kiko padanya. Gadis berambut hitam sebahu itu menyunggingkan senyuman tipis mengingat saat lima tahun yang lalu, Kiko yang masih bersekolah menengah atas dengan percaya diri menyatakan cintanya pada seorang mahasiswa yang sempat bersinggah sementara di rumahnya –mengingat Jiyong adalah anak dari kawan dekat ayah Kiko saat mereka masih bertempat tinggal di Tokyo.

“Hal memalukan yang sempat aku lakukan di depan matamu, oh ayolah..kau melupakannya ? Bahkan ayah dan kakak priaku selalu mengolokku hingga saat ini.” Dengan kesal Kiko berjalan cepat meninggalkan Jiyong yang berada di belakangnya dengan raut wajah bingung.

“Lupakan….”Gadis itu berujar dingin setelah mengambil tas dan menekan nomor di handphonenya. “Aku bilang lupakan, jangan mengingat hal yang baru aku katakan.”

Jiyong mengernyitkan dahinya dengan sempurna. Pria itu masih di sibukkan dengan ingatan lima tahun yang lalu, dan entah mengapa lembaran memori saat itu mudah ia lupakan. Jiyong baru akan berlari mengejar Kiko yang akan pergi ke lokasi selanjutnya namun terhenti saat ia menangkan sebuah suara isak tangis di salah satu sudut lokasi taman yang tidak jauh dari lokasi syuting mereka.

“Aku kira, tadi aku mendengar sesuatu.”

Pria itu berjalan dengan santai menyusuri keseluruhan taman kecil itu sembari menempatkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Alis Jiyong sedikit terangkat saat dia melihat samar dua sosok gadis kecil dengan gaun berwarna putih menyala tengah terduduk diam sembari menautkan kedua jemari mereka. Jiyong berjalan dengan pasti menuju tempat yang menarik perhatiannya, tapi setelah dia sampai di tempat itu hanya hembusan angin musim panas yang menyambutnya bersama bau laut yang jaraknya ternyata berada di ujung taman kecil yang ia temui.

“Busan penuh dengan hal-hal menakjubkan ternyata, aku kira taman ini memang sengaja di buat seorang pria untuk menyenangkan hati pasangannya.”

Dia berujar dengan semangat sambil menghirup oksigen yang datang bersama angin laut yang menyejukkan. Jiyong terpesona dengan pemandangan yang ia temukan dan pria itu jelas lupa apa yang membuatnya terbawa ke tempat seindah ini. Semilir angin yang menghanyutnya dengan lukisan senja di langit semakin membuat Jiyong sulit untuk meninggalkan tempat ini terlebih saat ini matahari hendak terbenam.

Pria itu menghembuskan nafas lembut sembari menutup matanya untuk merasakan suasana nyaman yang telah di tawarkan di tempat ini. Dia merentangkan kedua tangannya dan tersenyum diam mengimbangi keheningan yang memang telah ada sebelum Jiyong dapat menemui tempat ini. Walau Jiyong berada di ujung tebing yang cukup tinggi, pria itu tidak peduli karena entah mengapa setiap detik semakin membuat Jiyong nyaman berada di tempat ini.

“Apa sangat menyenangkan hidup di dunia ?”

“Mengapa kami tidak di ijinkan untuk mencoba ?”

Jiyong tersentak saat suara gadis kecil memekakan telinganya. Mata coklatnya dengan tangkas langsung terbuka dengan lebar. Pria itu baru akan berbalik namun ia langsung di dahulukan dengan dorongan tangan yang terasa amat dingin pada punggungnya. Jiyong mempertahankan hidupnya pada batu karang pada tebing yang mampu ia gapai.

Pandangannya langsung menghambur untuk menengok siapa yang berani membuatnya hampir terjatuh dari tebing ini. Wajah pria itu murka bahkan terbilang amat kesal karena dia bukan seorang yang handal berenang, terlebih jika ia terjatuh, sudah di pastikan lautan lepas akan membawanya terombang-ambing bersama ombak yang tengah pasang.

“Kami selalu menunggu dan menunggu, namun semudah itukah harapan kami di hempaskan.”

Bagian atas kepala Jiyong berhasil menyembul namun yang di dapat hanya suara sunyi bersama suara gadis kecil yang terdengar pilu tanpa ada sosok yang menyambut pemandangan dari kedua manik mata coklat miliknya.

To be continue..

next>>

Advertisements

98 thoughts on “The Darkness of Tokyo : Prologue

  1. Omoo pinda aku baru nemu ff bikinan kamu ini, padahal ini udah 1 tahun yah? Wahh kemana aja diriku. Ceritanya bagus pinda aku suka, haha horor banget kayaknya ini, aku mau lanjut baca dlu aahh, mumpung enggak ngapa2en kekek…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s