[Series] Coming To You – 11

Coming to youu 2

Author

Jung Yoorey

Title

Coming To You

Cast

Sandara Park (Dara 2NE1), Kwon Jiyong (GD Big Bang)

Other Cast

BigBang member, 2ne1 member, Choi Jinri (Sulli ex-F[x]), other

Genre

Fantasy, Romance, Angst, Hurt

Rating

Teenager

Backsound’s

I Think I Love You (Full House OST.)

Note

[!!!] Baca note diakhir cerita

 

Kenapa saat kau mulai berharga, kau pergi? apa ini yang kau sebut bahagia?

*

 

Youngbae’s apartement, 14.30 KST

“youngbae-ah, coba masakanku!”

Youngbae menoleh dan melihat gadis cantik berlari kecil kearahnya dengan sebuah mangkok dan sendok di kedua tangannya. youngbae tersenyum dan menggeser sedikit posisi duduknya menyisakan untuk gadis itu.

Jinri, gadis itu menjatuhkan bokongnya di sofa tepat disamping youngbae dan menyodorkan mangkoknya ke lelaki itu. “cobalah, ini resep baruku.” Ujarnya sambil memberikan sendoknya ke youngbae.

Youngbae menatap jinri sejenak dan meraih sendok. Ia memotong makanan itu lalu melahapnya. Jinri menatap youngbae dengan mata berbinar, menunggu responnya. Youngbae mengunyah dengan pelan untuk menggoda gadis itu.

“eng.. hm..” youngbae menelan makanannya dengan pelan dan menatap jinri ragu. “ini..”

Jinri mengangkat alisnya. “ya, ya?”

“makanan ini..”

Jinri merengut melihat raut wajah youngbae yang terlihat masam. “kenapa? tidak enak? Padahal aku sudah banyak belajar di slovakia..” gerutunya pelan.

Youngbae terkekeh dan mencubit hidung gadis itu. “makananmu sangat enak, lidahku sampai mati rasa.”

Jinri mendongak dan meninju lengan youngbae pelan. “aigoo, hentikan gurauanmu itu jika hanya ingin menghiburku.”

“serius, ini sangat enak. Boleh kuhabiskan?”

“tidak! jangan menghiburku.”

“aish kau cepat sekali marah, choi jinri. aku hanya bercanda.”

“hmph.”

“yah, jangan marah. Serius, makananmu super lezat!”

“benarkah?”

“yaa.”

“baiklah, tadi aku juga hanya bercanda, wlee~”

Youngbae menatap jinri yang sekarang berlari menuju dapur meninggalkan youngbae setelah menjulurkan lidahnya. Beberapa detik kemudian dia terkekeh, jinri masih sangat menggemaskan.

“yah choi jinri, gantilah pakaianmu dengan pakaian tebal, ayo kita berjalan-jalan!”

*

Jiyong’s Apartement, 14.30 KST

Minggu siang yang dingin di seoul membuat siapapun memilih untuk menutup pintu dan berbaring dibawah selimut. Meski siang, udara menjadi lebih dingin dari seharusnya.

Tidak jauh beda dengan apa yang jiyong dan sandara lakukan. Mereka duduk di sofa ruang tengah dengan masing-masing selimut yang melilit tubuh mereka. tv memutar sebuah film dan makanan berhamburan di atas meja. Keduanya terlihat fokus pada film.

Sandara mengeratkan selimutnya dan memeluk lututnya. Film berdurasi 2 jam itu baru berjalan selama 30 menit dan sudah membuatnya mengantuk. Tapi rasa penasaran membuatnya tetap terjaga. Lain hal dengan jiyong yang tidak bergerak sama sekali dengan mata yang menyipit pada tv.

Setelah perdebatan yang panjang, film yang mereka nonton adalah film komedi roman thailand, suck seed. Awalnya jiyong ingin menonton film action tapi sandara tidak mengerti dan tidak tertarik. Sementara itu, sandara pribadi ingin menonton doraemon yang dulu diberitahu oleh haru. Pada akhirnya, pilihan mereka jatuh pada satu-satunya film komedi yang ada di lemari jiyong.

fuahahaha!” jiyong tertawa keras sambil menunjuk ke arah tv. Sandara menoleh padanya dengan tatapan datar. Ia bingung dimana bagian yang lucu?

Sandara menggigit pipi bagian dalamnya dan kembali menonton. Sesekali ia mendengar jiyong tertawa keras. Ketika sandara menemukan letak kelucuannya, jiyong malah diam dan giliran dia yang tertawa.

Begitu seterusnya sampai tanpa terasa sudah berlalu 1 jam sejak mereka menonton. Sandara masih tertawa walau ia tidak begitu membaur dengan film yang diputar karena ia tidak mengerti bahasanya, tapi scenenya benar-benar lucu. Sebaliknya, jiyong malah menatap tv dengan serius seakan tidak ada yang lucu.

1 setengah jam berlalu tidak ada lagi suara dari sandara. Jiyong menoleh dan menemukan gadis itu terhentak kekanan, kiri, depan, dan belakang. Jiyong mengernyitkan keningnya dan mencondongkan badannya melihat wajah gadis itu.

Mata jiyong melebar ketika mendapati sandara terlelap. Badannya oleng ke kiri dan jiyong dengan spontan membuka selimutnya. Sandara terjatuh di pahanya dan itu membuat jiyong tersontak. Beberapa detik jiyong hanya menatap sandara yang tertidur. lelaki itu tersenyum dan memperbaiki letak selimutnya.

“tidurlah, kau pasti kelelahan.” Bisiknya sambil menepuk selimut yang dipakai sandara. Jiyong mengecilkan volume tv dan melupakan dinginnya cuaca. Ia menepuk-nepuk selimut sandara dengan lembut sambil menatap wajahnya yang kelelahan.

Jiyong menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah sandara. Ia memajukan bibirnya tepat di dahi sandara. Sembari menghirup aromanya, jiyong mengecup dahi polos itu dengan penuh sayang.

God.. i’m in love with her..

Jiyong tidak bisa menahan pompaan dari jantungnya. Tanpa sadar ia mencengkram selimutnya dan memperdalam kecupannya di dahi sandara. Ia menyayangi sandara. Ia mencintai sandara.

Sebelumnya jiyong bertekad untuk tidak mempercayai cinta lagi. ia tidak ingin jatuh cinta lagi. ia muak untuk mencintai seseorang. Pada akhirnya, semua yang datang akan pergi lagi. anehnya, walau jiyong tahu sandara mungkin akan pergi dari kehidupannya nanti, jiyong tidak bisa menahan dirinya. ia tidak suka membohongi perasaannya, dia jatuh cinta pada sandara dalam sekejap.

Jiyong tahu semua itu, dia tidak bodoh. Sandara pasti mempunyai perasaan yang sama padanya. jiyong memang terlalu percaya diri, tapi ia yakin sandara mencintainya juga. walau mungkin sandara bertindak polos dan bertingkah seperti tidak mengetahui apapun, itu sudah cukup membuat jiyong mencintainya apa adanya. Sandara berbeda. Dia beda dengan jinri, perempuan yang menyakitinya dulu.

Jadi apa jiyong salah jika dia takut kehilangan sandara? Apa jiyong salah jika dia ingin memiliki sandara? Apa jiyong salah jika dia mencintai gadis joseon itu?

Jiyong tidak tahu dimana letak kesalahannya, tapi ia merasa salah dengan semua ini. dia tahu dia tidak boleh mencintai sandara karena semua yang datang akan segera pergi. jiyong tahu itu dan ia terlihat idiot untuk berpura-pura tidak tahu.

Bohong jika jiyong tidak muak dengan hubungan seperti ini. ia ingin memiliki sandara seutuhnya. Ia ingin berada dalam status yang pasti dengannya. Bukan sekedar teman lama. Ia ingin menjawab semua pertanyaan orang-orang yang bertanya siapa sandara dengan,

Dia gadisku.

Jiyong menghela nafas berat. Apa memiliki seseorang yang dicintai harus seberat ini? sebenarnya, apa yang salah dengan semua ini?

*

Han River, 16.00 KST

Seungri dan chaerin sedang beristirahat di sebuah bangku setelah menghabiskan waktu mereka dengan jogging. Sebenarnya ini ide chaerin, ia ingin menikmati udara segar di sungai han. Siapa sangka akan sedingin ini?

Seungri mengeratkan jaketnya, ia tidak tahan dengan dingin. Seandainya bukan chaerin yang mengajaknya, seungri akan menolak ajakan gila itu. siapa yang jogging di sungai han dengan suhu 11 derajat celcius? Bahkan mereka menjadi pusat perhatian karena hanya mereka berdua yang jogging disana. Baiklah, demi chaerin.

Chaerin sendiri menggosok-gosok kedua tangannya untuk memberi kehangatan. Sebenarnya dia tidak tahu ide ini datang darimana, hanya saja ia sangat ingin ke sungai han untuk jogging.

“wah segar sekali ya.” ledek seungri sambil memasukkan tangannya di saku jaket. Chaerin melirik sinis dan mendengus.

“aish, kau ini laki-laki, harusnya tahan pada dingin.” Gerutunya.

Seungri mendelik. “kau pikir laki-laki itu batu? Kami juga manusia. Memangnya hanya perem—”

“—hatchii!”

Seungri menoleh sepenuhnya ketika gadis disampingnya itu bersin. “yah, lebih baik kita pulang. lihat, kau sudah flu.” Seungri mengeluarkan sapu tangannya dan melap cairan yang keluar dari hidung chaerin. chaerin menggeleng dan meraih sapu tangan seungri.

“aku tidak apa-apa. aku masih belum puas disini.” ucapnya pelan. matanya berair karena bersin.

Seungri memperhatikan chaerin. gadis itu menatap sungai han dengan tatapan kosong sambil meniup-niup telapak tangannya untuk memberi kehangatan. Sesekali ia bersin. Hal itu membuat seungri mendecak dan segera membuka jaket tebalnya. Chaerin mendongak dan mengernyit. Ia menahan lengan seungri.

“e-eh? apa yang kau lakukan? Kau sudah mulai hilang kewarasan?”

Seungri menepis tangan chaerin dan tetap membuka jaketnya. Setelah terbuka, ia menyampirkan jaketnya di tubuh chaerin. membungkus gadis itu dengan telaten agar ia tidak kedinginan, mengesampingkan fakta bahwa ia lebih membutuhkan jaket itu.

Mata chaerin terbuka lebar. Ia menepis tangan seungri dan membuka jaket yang dipakaikan seungri, tapi lelaki itu menahannya. “pakai saja. aku kan laki-laki.”

Chaerin terhenyak. “cuaca sedang dingin, rat! Kau bisa demam nanti. Ayolah, jangan menjadi gentle disaat seperti ini.”

Seungri menggenggam lengan gadis itu. “dengar, lebih baik aku yang sakit daripada kau, okay? sekarang nikmati waktumu dan lupakan soal dingin. Aku baik-baik saja.”

Chaerin mendesah, dia tahu seungri itu keras kepala dan tidak akan mengalah dari chaerin. “tapi..”

“sst. jangan membuka mulut terlalu lebar, angin akan masuk dan kau akan flu.”

Chaerin hanya menatap seungri kesal. “kau keras kepala.”

“hargailah saat seseorang bersikap baik padamu.” Balas seungri dengan seringai yang sangat menggoda.

Chaerin hanya mencibir lalu menahan senyum yang akan mengembang. keduanya lalu diam dan menatap sungai han. Seungri merasa bulu kuduknya menjadi lebih panjang karena angin yang sangat dingin. Sekali lagi, ini demi chaerin.

“seungri? Chaerin?”

Seungri dan chaerin menoleh ke sisi kanan mereka dan menemukan seorang lelaki dalam balutan jaket tebal menyapanya. Seungri dan chaerin bertatapan kemudian berdiri ke depan lelaki itu.

“youngbae? Apa yang kau lakukan disini?” seungri yang pertama membuka suara. chaerin berdiri lebih dekat ke seungri.

“aku tidak tahu sungai han itu milik kalian berdua. Ini tempat umum, bung.” Ucap youngbae dengan senyum memikatnya.

Seungri dan chaerin bertatapan lagi lalu menoleh ke youngbae. “sendirian saja?” tanya chaerin.

Youngbae tersenyum. “tidak. kebetulan sekali kita bertemu disini, aku ingin mengenalkan kalian dengan seseorang.”

“eh?” seungri dan chaerin mengernyit bingung.

Youngbae menoleh ke belakang diikuti oleh seungri dan chaerin. mata keduanya menyipit saat seorang perempuan dalam balutan jaket tebal tengah berlari-lari kecil kearah mereka.

“youngbae-ah! Tega sekali kau meninggalkanku!” teriaknya kesal.

Seungri dan chaerin bertatapan kembali dengan horor. Suara perempuan itu sangat familiar. Menelan seluruh kemungkinan terburuk, seungri dan chaerin pun menoleh ke perempuan yang sekarang sedang berdiri disamping youngbae.

“Seungri? Chaerin? apa ini benar kalian berdua?!”

Seungri dan chaerin meneguk liur mereka dengan susah payah. mata mereka melebar seiring dengan senyum lebar dari perempuan yang menyapa mereka.

“ch-choi jinri?”

*

Sandara tersontak kecil dalam tidurnya. Dengan pelan ia meregangkan badannya dan membuka mata untuk memandangi sekelilingnya yang agak redup. Sandara memfokuskan pandangannya ke atas dan menemukan sepasang mata sedang menatapnya tajam. Jiyong.

Sandara menyatukan alisnya dan terlonjak. Ia baru saja akan bangun tapi jiyong menahan bahunya. “tetaplah seperti ini.” bisiknya.

Sandara mengernyitkan dahinya dan mengucek matanya sebelum kembali menatap jiyong. “ta-tapi kakimu bisa sakit.”

Jiyong menatapnya lebih tajam dan lurus. Matanya terlihat sayu. “makanya jangan bergerak.”

Sandara tidak punya pilihan lain. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat ke jendela yang sudah gelap. Berapa lama ia tertidur di pangkuan jiyong? ia mendongak lagi dan menemukan jiyong masih menatapnya tajam.

“kenapa? apa ada yang salah?” tanya sandara gugup.

Jiyong menggeleng dan mengelus pipi sandara membuat sandara terbelalak. tatapan jiyong melembut. “apa yang salah..?”

Sandara mengernyit. “jiyong, ada apa denganmu?”

Jiyong menggeleng lemah. “aku takut dee..” gumamnya pelan sambil menunduk. sandara mengernyitkan hidungnya dan segera bangun dari posisinya. Ia duduk disamping jiyong dengan posisi bersila, tangannya menangkup wajah jiyong agar menatapnya.

“hei, ada apa sebenarnya? Apa aku melakukan kesalahan? Kau takut pada apa?” raut sandara menjadi cemas.

Tatapan jiyong meredup. Ia menatap sandara dalam.

Sandara terhenyak. Tatapan jiyong benar-benar menyakitkan. “jiyong, ceritakan padaku. jangan memendamnya sendiri. ceritalah..”

Jiyong menggeleng lemah dalam tangkupan sandara. “jika aku menceritakannya, aku akan menangis. Jadi itu adalah rahasia.” Jiyong tersenyum tipis ditengah kepahitan yang ia rasa. Ia kembali menunduk dalam.

Sandara memantapkan hatinya dan segera mengangkat kembali wajah jiyong agar menatapnya. “beritahu aku rahasiamu. Aku akan mendengarnya.”

Jiyong menaikkan satu alisnya. “jika aku memberitahumu rahasiaku, kau tidak akan pernah melihatku sama seperti sebelumnya lagi.”

Sandara tersenyum lembut, ia mengelus rahang jiyong. “tidak apa. aku gampang melupakan, kok.”

Jiyong menyerah. Sandara punya lebih dari beribu alasan untuk membuatnya membuka mulut. Mungkin ini waktunya untuk memberitahu sandara apa yang terjadi sebenarnya.

“sejauh mana youngbae menceritakan kisah kami padamu?”

Sandara menggigit bibir bawahnya. jujur saja, ia kaget jiyong mengetahui bahwa youngbae pernah bercerita tentang masa remaja mereka pada sandara. “eng..”

“tidak apa, katakan saja. aku tidak akan marah.”

Sandara menghela nafas. “eng.. dia bilang kalau kau mengencani perempuan yang dia cintai, padahal kau tahu kalau dia mencintainya. lalu perempuan itu berselingkuh dan yah.. seperti itu.” sandara meneguk liurnya merasa bersalah pada jiyong.

Jiyong tersenyum pahit. “seperti yang kau dengar, yang youngbae katakan itu benar.”

Sandara berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya tapi ia gagal.

“aku menyayanginya, sangat. Kami menghabiskan waktu hampir setiap hari hanya berdua. Dibanding bersama yang lainnya, aku lebih sering bersama gadis itu. saat itu aku benar-benar diliputi rasa cinta yang besar, aku mengesampingkan fakta bahwa youngbae juga menyukainya. Youngbae bahkan merestui hubungan kami. Tapi sepertinya aku tidak tahu diri, aku memanfaatkan restu teman-temanku dengan menghabiskan seluruh waktu hanya untuk berdua dengannya. Aku menjauh dari teman-temanku, juga youngbae. Aku pikir jika memilikinya, aku sudah tidak membutuhkan yang lain. Aku bahagia, sangat bahagia.”

Jiyong menarik nafas pelan. sandara mengencangkan pegangannya pada rahang jiyong. “aku bahkan bekerja paruh waktu untuk menghasilkan uang agar bisa membelikan cincin yang sangat dia inginkan. Aku tahu aku bisa meminta uang dari orangtuaku, tapi aku sangat mencintainya hingga berpikir bahwa dengan perjuanganku, ia bisa merasakan cintaku yang sangat besar. Saat itu kami sudah selesai dari ujian dan mengadakan pesta kelulusan. Aku berencana untuk melamarnya dengan cincin itu, aku tahu aku sudah gila karena cintaku ini, tapi hell, aku kehilangan akal sehatku. Kami baik-baik saja, kami sangat bahagia dan kami dikelilingi oleh cinta yang menggebu. Kami baik-baik saja dee.. sangat baik..”

Tes

Sandara tersontak ketika jiyong meneteskan air matanya. “ji-jiyong, kau baik-baik saja? hentikanlah ji, jangan lanjutkan. Aku tidak mau kau sedih. Maafkan aku, maafkan aku..” sandara mengusap pipi jiyong dengan lembut. Ia merasa bersalah karena memaksa jiyong untuk menceritakan rahasianya.

Jiyong menggeleng. “dia.. dia bersama lelaki lain, dee. Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dia bersama lelaki lain dan bermesraan tepat didepanku. dia membuat semua perjuanganku sia-sia. Dia, dia bersamanya, dia bersama lelaki lain dee..”

Sandara merasa sakit dihatinya sekarang melihat jiyong yang benar-benar tersakiti. Dia tidak tahu kalau gadis itu bisa meninggalkan beban yang mendalam dihati jiyong bahkan sampai saat ini. air mata lelaki itu turun lebih cepat.

“aku mencoba meminta penjelasannya, ta-tapi dia mengatakan kalau kami harus berpisah. Kami tidak akan bisa bersama lagi, bahkan untuk menjadi teman. ia ingin aku menghilang dari hadapannya, dia muak padaku. dia muak dengan kebaikanku, dia muak dengan perlindunganku, dia muak dengan hubungan kami yang biasa saja. Dia bosan denganku karena sikapku yang seperti anak-anak. Dia menginjak-injak perjuanganku, dee.. ia membuang cincin yang kuberikan dengan sepenuh hatiku.. ia meninggalkanku begitu saja..”

Sandara menatap jiyong nanar. Tangannya basah karena air mata jiyong. “aku tahu aku lemah karenanya.. dia gadis yang baik, cantik, dan bisa membuat siapapun mencintainya. dia dicintai oleh banyak orang, sangat banyak. Bahkan youngbae pun.. youngbae.. dia menghianatiku..”

Sandara mengernyitkan dahinya. Matanya melebar. “ja-jangan bilang, youngbae..”

Air mata jiyong jatuh makin deras. Sandara merasakan gigi jiyong menggertak menahan isakannya. “dia bersama youngbae malam itu.. youngbae adalah lelaki yang merebutnya dariku..”

Sandara menarik tangannya dan menutup mulutnya shock. Jantungnya berdetak dengan sangat keras. Jadi.. lelaki yang berselingkuh dengan gadis itu adalah youngbae? Sandara merasakan dadanya dihentak begitu kuat sehingga tanpa sadar ia langsung menarik jiyong ke pelukannya.

“j-ji m-maaf.. maafkan aku ji, maafkan aku.. maafkan aku saat itu menyalahkanmu pa-padahal aku tidak tahu apa-apa.. maafkan aku, maafkan aku..” bisik sandara sambil memperdalam pelukannya. ia membiarkan jiyong menaruh dagunya di bahunya, merasakan air mata lelaki itu. ia tahu ialah yang pertama membuka luka lama jiyong, dan ia merasa sangat bersalah karenanya.

Jiyong menggeleng. “youngbae mendapatkannya, dia merebutnya dariku. Aku.. aku tidak percaya dia akan melakukan itu padaku, aku sudah menganggapnya sebagai kakakku tapi..? dia tahu kalau aku sangat mencintainya, dia tahu perjuanganku, dia tahu kalau aku bahkan sempat mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan gadis itu dari bahaya. Semuanya untuk dia, dee.. apa yang aku lakukan? Kenapa mereka menyakitiku?”

Sandara mengelus rambut jiyong membiarkan lelaki itu menangis dipelukannya. “jiyong.. jiyong.. maafkan aku..”

Jiyong membenamkan wajahnya di bahu sandara. “itu sudah cukup.. aku.. aku tidak bisa meneruskannya lagi..” lirih jiyong.

Sandara mengangguk. “aku disini, ji. Aku disini untukmu.” Bisiknya lembut. Dia bisa merasakan sakit yang dirasakan jiyong saat ini, bahkan lebih.

Jiyong membalas pelukan sandara. “aku bodoh dan memiliki pribadi yang buruk. Aku tidak tahu lagi cara untuk membuat orang-orang menyukaiku.” Jiyong berbisik pelan, air matanya mulai berhenti mengalir.

Sandara bernafas lembut didalam dekapan jiyong. beberapa menit berlalu hanya diisi oleh keheningan dan nafas menderu jiyong. sandara menghela nafas dan menarik dirinya dari pelukan jiyong. ia menangkup wajah lelaki itu, menghapus jejak air mata dipipinya lembut. Ia memaksa lelaki itu menatapnya dengan menarik rahangnya mendekat.

“aku menyukaimu, ji.” Sandara berucap dengan senyum menghiasi wajahnya.

Jiyong terhenyak. Mulutnya terbuka pelan. “k-kenapa kau.. menyukaiku? A-aku sangat buruk, dee.. aku kasar dan—”

“karena kau. Itu satu-satunya alasan aku menyukaimu.”

Jiyong tertegun dalam pesona dan aura yang mencuat dari gadis dihadapannya ini. perlahan sudut bibirnya naik dan membiarkan gigi putihnya terpampang jelas.

“terima kasih sudah menyukaiku” Jiyong mengangkat tangannya dan mengacak rambut sandara pelan. dalam hatinya yang terdalam, jiyong sangat berharap jika sandara berkata bahwa ia mencintai jiyong. tapi setidaknya ini awal yang bagus mendengar bahwa sandara menyukainya yang penuh kekurangan itu.

Sandara tersenyum dan menjauhkan tangannya dari wajah jiyong. ia menunduk malu ketika jiyong menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Sekarang giliran jiyong yang menangkup wajah mungil sandara, membawa tatapan mereka untuk bertemu.

“sekarang waktunya untuk melupakan rahasiaku.” Ucap jiyong pelan dengan seringai menggodanya. Sangat kontras dengan matanya yang sembab.

Sandara mengernyitkan dahinya bingung lalu tersadar. Ia berjanji untuk melupakan rahasia jiyong sebelumnya. Ia tersenyum. “baiklah.”

Jiyong mengangguk dan mencubit hidung gadis itu lalu berdiri dari duduknya. Ia hampir tersandung ketika kakinya mengejang karena diam dalam posisi yang cukup lama. Sandara mendongak dan menyentuh lengan jiyong. “kakimu sakit? Maafkan aku. biarkan aku memijatnya untukmu.”

Jiyong menoleh padanya dengan tatapan aneh. “kau berbicara seperti istriku saja.”

Sandara melepaskan selimut yang melilit tubuhnya dan ikut berdiri disamping jiyong. “apa hanya suami istri yang boleh saling memijat dijaman ini? aneh.. padahal dulu aku sering memijat shinjoo oppa..”

Rahang jiyong mengeras. Ia melirik sandara tajam. “aku sudah bilang jangan menyebut nama lelaki lain jika kau bersamaku, sandara-ssi.”

Sandara mendongak dan menyentuh mulutnya sendiri. ia menatap jiyong dengan wajah peace. “eng, aku lupa.” kilahnya dengan senyum innocent.

Jiyong hanya mencibir dan berjalan ke kamarnya. Sebelumnya, dia menoleh ke sandara yang masih diam ditempatnya berdiri. “mandilah, setelah itu kita akan makan malam.”

Sandara terdiam sejenak kemudian senyumnya mengembang. “kau akan memasakkanku sebuah mie?”

Jiyong mengangguk dengan wajah datar. “hm, cepatlah mandi. Aku juga akan mandi, jika terjadi sesuatu langsung panggil aku.”

Setelah mengatakan hal itu, jiyong dengan cepat masuk kedalam kamarnya meninggalkan sandara. Setidaknya, tidak akan ada hal buruk yang bisa terjadi di apartementnya pada sandara. Meninggalkannya sendiri tidak akan menjadi masalah.

Setelah pintu tertutup, jiyong berjalan menuju tempat tidurnya dan merebahkan tubuhnya dengan cukup keras. Lengannya ia gunakan untuk menutupi wajah tampannya. Gigi lelaki itu menggertak kecil.

“bagaimana bisa aku menceritakan semuanya pada dia begitu saja? hell..” ia mengumpat merutuki kelemahannya pada gadis yang ia cintai itu.

Perlahan jiyong menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan wajah seseorang. Tiba-tiba jantung jiyong berdenyut, merasakan firasat buruk yang akan menghampirinya.

“sial. aku jadi mengingatnya lagi..”

Jiyong menggerutu dan mulai bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi. Ia harus cepat-cepat membersihkan diri dan membuat makan malam untuknya dan sandara.

*

Coffee Shop

Seungri, chaerin, youngbae, dan jinri hanya menatap gelas coffee mereka tanpa berkata-kata. Kegugupan menyelimuti mereka ditengah lantunan musik yang diputar oleh toko coffee tersebut. Sore sudah berganti menjadi malam, keempatnya masih saja diam—berkelut dengan pikiran masing-masing. seungri dan chaerin masih shock dengan kehadiran pendatang baru itu.

Bahkan sampai gelas mereka kosong, keempatnya masih tidak ada yang membuka percakapan dan nyaman diposisi masing-masing. chaerin sudah mengembalikan jaket seungri karena mereka sudah berada ditempat yang cukup hangat. Ia tidak tega melihat seungri menjadi panda beku.

Sementara jinri tidak berhenti meneguk liurnya. Entah sudah berapa kali ia memperbaiki posisi duduknya, tapi tidak ada yang terpengaruh. Bahkan youngbae terlihat diam dan terlihat tenang seakan menunggu teman-temannya membuka percakapan.

Jinri menghela nafas dan menggigit bibirnya. Ia mendongak menatap seungri dan chaerin yang masih melamun. “l-lama tidak bertemu ya, seungri, chaerin.” jinri yang pertama kali memecah keheningan.

Seungri dan chaerin mendongak, begitupula dengan youngbae yang tersenyum tipis sambil melirik jinri. seakan sebuah pertandingan dimulai, youngbae menyeringai. “apa kalian hanya diam melihat sahabat lama kita berkunjung?” ucap youngbae.

Chaerin menatap jinri datar sambil melipat tangannya didepan dada. “aku kaget kau masih bisa menunjukkan wajahmu didepan kami.”

Jinri tersontak kecil kemudian tersenyum pahit. Seungri dan youngbae memilih untuk bungkam menyaksikan percakapan pertama chaerin dan jinri setelah sekian lama berpisah. for your information, chaerin dan jinri dulu sahabat karib seperti halnya jiyong dan youngbae atau chaerin dan seungri. mereka sangat dekat. tidak sampai semuanya menjadi kelam.

“maafkan aku chaerin-ah, aku tidak mengabarimu semenjak malam itu.” ucap jinri pelan. tatapannya menyiratkan rasa bersalah yang sangat dalam.

Chaerin masih menatap datar. “kau mencampakkan jiyong, berselingkuh dengan youngbae, lalu meninggalkan kami semua begitu saja selama bertahun-tahun tanpa kabar satu pun. You’re such a b*tch.” Desis chaerin yang membuat jinri menggigit bibirnya.

“maafkan aku..”

“dan lebih mengejutkan lagi, kau berhubungan dengan youngbae tapi tidak menghubungi kami barang satu kali pun? Gah! Kalian berdua benar-benar kehilangan akal sehat memperlihatkan wajah kalian didepan kami!”

Chaerin menahan dirinya untuk tidak menggebrak meja sementara jinri menunduk tanpa berniat melawan. Ia pantas mendapat amarah chaerin. setelah menyakiti jiyong, jinri memang langsung pergi ke luar negeri tanpa mengabari teman-temannya. Yang tidak kehilangan kontak dengannya hanya youngbae. Ia tidak berani berhubungan dengan chaerin dan seungri mengingat betapa bencinya mereka berdua pada jinri sejak kejadian di prom night.

“kau tahu betapa cemasnya kami setelah kau menghilang begitu saja keluar negeri? Kau tahu betapa marahnya kami setelah kau menyakiti jiyong? sampai sekarang aku masih tidak tahu bagaimana jalan pikiranmu, choi jinri.” chaerin meneguk liurnya sebelum kembali melanjutkan. “kau tahu jiyong sangat mencintaimu.. dia melawan sebuah geng sialan yang mencoba mengganggumu sampai dia hampir tertusuk samurai, dia bekerja paruh waktu untuk membeli cincin yang sangat kau inginkan, dia bahkan meninggalkan waktunya bersama kami hanya untuk berduaan denganmu! kau tahu kan dia memperjuangkanmu sebanyak itu..? tapi kenapa harus…”chaerin melirik youngbae sengit. “.. sahabat kita sendiri?” suara chaerin lirih diakhir kalimat. ia mendesah berat lalu menatap jalanan di luar coffee shop—tidak sanggup melihat dua mantan sahabatnya lagi.

Jinri memperdalam tundukannya. Ia meremas tangannya sendiri dengan gugup. “maafkan aku chae..”

Youngbae bersandar di kursinya dan menatap chaerin. “tidak semuanya salah jinri. jangan menyudutkannya seperti itu.”

Chaerin mendelik. “kau tidak jauh beda dengannya. Kenapa kau tidak memberitahu kami kalau kau berhubungan kontak dengan jinri? kau tahu kan jiyong bahkan sangat kalang kabut mencari kabar jinri saat itu, tapi kau menyembunyikannya? Heol! Kalian aktor yang hebat!” nafas chaerin mulai tersengal, hidungnya memerah. Youngbae memilih untuk kembali bungkam.

Sementara itu, seungri menghela nafas dan melipat tangannya juga didepan dada. Ia menatap jinri dan youngbae bergantian lalu tatapannya berhenti pada jinri. “jadi, apa kabar choi jinri?” sapanya hangat walau tanpa senyuman.

Chaerin membuang mukanya sementara jinri mendongak. Gadis cantik itu tersenyum tipis. “a-aku baik-baik saja..”

Seungri mengangkat alisnya. “kau yakin?”

Jinri mengernyitkan keningnya. “tentu saja..” gumamnya ragu.

“bahkan setelah yang kau lakukan pada kami.. kau baik-baik saja?” sudut bibir seungri naik—mencibir.

Jinri mematung ditempatnya. Ia pikir seungri menerima kehadirannya kembali, tapi dia tidak jauh beda dengan chaerin. bahkan seungri terlihat lebih menakutkan.

Youngbae mendecak. “haruskah kita membahas hal ini di reuni pertama kita?”

“lalu apa yang harus dibahas? Kami tidak tahu apa-apa lagi tentangnya. Yang dia tinggalkan hanya kesakitan untuk kami.” Sindir chaerin pedas. Jinri kembali menunduk, mencoba untuk tidak menangis didepan sahabat lamanya itu. ia ingin terlihat kuat.

Seungri menyeringai. “kalau kau memang ingin membahas hal lain, haruskah kita membahas tentang kondisi kita sekarang?”

Chaerin, youngbae, dan jinri melirik seungri. lelaki bermata panda itu mengangkat bahunya. “yah, mungkin soal dimana kita tinggal, apa yang akan kita makan untuk makan malam, atau.. siapa kekasih kita sekarang?”

Chaerin menghela nafas, dia tahu kemana arah pembicaraan seungri. ia tidak begitu menyukai topiknya, tapi well, sekarang mungkin itu akan berguna. Gadis bermata kucing itu ikut tersenyum tipis. “siapa kekasihmu seungri-ssi?”

Seungri menoleh ke chaerin sekilas lalu menoleh lagi ke jinri yang menggigit bibirnya cemas. Ia bertanya-tanya kemana arah pembicaraan mereka. “aku punya banyak kekasih, chaerin-ssi. kau sendiri?”

Chaerin mengangkat bahunya. “aku baru saja putus dan sepertinya aku akan menerima ajakan kencan yang lainnya.” Dustanya mengikuti seungri.

Youngbae menghela nafas gusar dan kembali membanting punggungnya di sandaran kursi—ia sudah tahu kemana topik ini akan menuju. Jinri meliriknya sekilas dengan penuh tanya tapi lelaki itu menoleh ke arah jendela, tidak tertarik. jinri meneguk liurnya.

“lalu jinri, siapa kekasihmu sekarang?” tanya chaerin.

Jinri meremas tangannya lagi. “t-tidak ada..?” jawabnya ragu karena ia masih sangat bingung apa yang sedang ingin dilakukan chaerin dan seungri.

Seungri bersandar di kursinya. Chaerin terkekeh kecil. “wow, jiyong sudah mengalahkanmu.” Bisiknya dengan misterius.

Jinri mengangkat alisnya. “maksudmu?”

“youngbae tidak cerita?” chaerin menatap youngbae shock tetapi lelaki itu hanya menatap ke arah jalanan. Jinri hanya menatap keduanya bingung. “jiyong sedang dekat dengan seseorang.”

Jinri menghela nafas. Ia menangkap pembicaraan ini. seungri dan chaerin ingin memberitahunya bahwa jiyong sudah memiliki seseorang. Sebelumnya, ia sudah mendengar ini dari youngbae. Dan itu sudah terklarifikasi dengan ucapan chaerin barusan. Entah kenapa, jinri merasa sangat tidak rela.

“kau mengerti apa yang kami bicarakan, kan, jinri?” jinri menatap gelasnya ketika mendengar suara chaerin lagi.

“tolong jangan muncul dihadapan jiyong lagi, sudah cukup kau menyakitinya. Dia sudah memiliki seseorang yang lebih berarti sekarang. biarkan jiyong bahagia, kau tidak tahu betapa aku sangat ingin memukulmu dan youngbae ketika kalian berdua menyakiti jiyong secara bersamaan. aku akan melupakan pertemuan kita ini dan menganggap kita tidak pernah bertemu. selamat tinggal jinri-ssi, kuharap kau memikirkan semua yang sudah kami katakan.”

Jinri mendongak ketika seungri berbicara padanya. lelaki itu menarik chaerin untuk berdiri sebelum jinri menahannya. “seungri-ah.. chaerin-ah..”

Kedua sahabat lamanya itu kembali duduk dan menatap jinri tajam. “kenapa?” tanya chaerin.

Jinri mengepalkan tangannya dan mencoba menatap manik mata seungri dan chaerin. “aku sudah tahu soal perempuan yang dekat dengan jiyong. aku juga tahu kalau mereka belum bersama sebagai sepasang kekasih. Dan soal tidak bertemu jiyong, aku tidak bisa. Tujuan utamaku kemari itu untuk bertemu jiyong.” ucapnya tegas.

Seungri dan chaerin menegang. Youngbae akhirnya menoleh dan menatap jinri takjub karena akhirnya ia berani melawan seungri dan chaerin.

Jinri menahan nafasnya sebelum melanjutkan. “aku sudah menyakiti jiyong dan aku sadar akan hal itu. maka aku kemari untuk menyembuhkan luka yang kubuat. Aku akan bertemu jiyong dan membuatnya mencintaiku lagi. aku yakin dia akan mencintaiku. Aku tidak akan peduli kalian memakiku, tapi aku tahu, jiyong pasti akan kembali lagi padaku. aku akan memperbaiki semua kesalahan yang kubuat walau mungkin membutuhkan waktu yang lama. Tapi selama itu untuk jiyong, aku akan melakukannya. Dan satu lagi, aku juga akan menganggap kita tidak pernah bertemu. jadi tolong terkejutlah saat kita bertemu lagi nanti. Sampai jumpa, seungri-ssi, chaerin-ssi.”

Setelah mengatakan semua keluh dihatinya, jinri segera berdiri dan berjalan keluar coffee shop diikuti oleh youngbae yang tersenyum tipis pada seungri dan chaerin yang hanya bisa tercengang.

Sepertinya pertempuran kembali dimulai. Kwon jiyong.. apa yang akan kau lakukan jika kau tahu jinri sudah kembali? Maaf, bud.. aku pikir aku akan menjadi egois kali ini.

TBC

Next >>

Author’s note: annyeong readers setia CTY! Kembali lagi dengan chapter 11 yang sudah memasuki konflik.. (ini dari dulu konfliknya apa sih?!) wkwk tenang gurls, ff ini gak bakal sampai 20 chapter –insyaallahXD.

Di chapter ini aku rasa semuanya udah jelas ya, jadi aku gak mau ngebacot sepanjang di chapter yang kemarin-kemarin wkwk.

Okedeh, mian kalo suka lama, typo masih bertebaran, alur melenceng, gak ngefeel, atau semacamnya.. mohon ditegur dan diberi saran ya!^^

Thankyou for reading and dont forget to RCL! Hengsho daragon & applers XD

Advertisements

29 thoughts on “[Series] Coming To You – 11

  1. Kesel bgt bacanya, ada apa sih sma si choi jinri itu nyebelin bgt… Jdi pengen ninju 👿👿👿😡😡
    Di ff ini juga jdi benci bgt sma youngbae😤😤😤
    Kyanya dia tuh ga mau liat ji seneng apa dia iri apa gimana….kesel kesel

  2. Aissttt…ciih choi jinri pngen m’mbuat jiyong oppa jtuh cnta lgi aigoo gak mngkin bsa tau yah wlaupun nnti jiyong akn tau alsn jinri mlakukan itu dan sdkit mrsa ksian tpi hti.a jiyong psti ttp pda dara catat toe choi jinri dasar pabbo

  3. Hahh !!! Fck yeah fck yeah. Pngen nyumpak gw ni. Hahahahah… Sial. Paling benci sama tipe org bgni , udah prgi , balik lg. Clbk ga brlaku dkamus gw. Haha…. Sial… Jgan apa biarkan jinri taik ni mnganggu hbngan dargon. Pnulis cerita bisa dong mngubah smua ny. Hahahaha 😁

  4. hhhaha aku ingat bgt kalo di dunia nyata jinri kan pacaran sama yang lebih tua..wks~~`
    hahaha agustina aku setuju sama gaya bicara anda…sangat keren… dan buat miminnya yang cantik smngt terus buat karya” hebatnya…saranghae~~~~~~~ :*

  5. Kenapa saat Jiyong udh bahagia selalu ada aja yg mau ngerusak moment itu
    Semoga Dee tetep kuat ya kalo nanti Jinri mulai ganggu2 Jiyong

  6. Rasanya mulut nih gatel pingin ngomong kasar tapii mulut ini akan kujaga *peace. Okk, disini mulai memanas topiknya. Dara unnie dan jiyong oppa persiapkan diri kalian, akan ada penghancur hubungan kalian😞 youngbae oppa juga nyebelin. Kalo aku jadi jinri unnie aku gk bakal berani kembali ke kehidupannya jiyong oppa. Tau diri dikit dong. Aaaa sebelll. Jiyong oppa, jangan coba coba jatuh cinta lagi sama jinri unnie😨

  7. Oh myyy aku bener2 nggk suka ama si jinrang…
    salah2 ntar yb di manfaatin lagi…
    lagian diakan udh ninggalin jiyong…
    kalo emang dia mau harusnya jujur aja sama alasan yg sebenernya dari dulu,, bukannya saat jiyong udah bahagia nemuin cinta barunya…
    lagian si yb mau aja ngebelain jinrang lg hueeh..
    semangaat terus ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s