Phases : Treisprezece

Untitled-2

~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Seoul, 30 November 2020

Jiyong berjalan tergesar menyusuri koridor, berbalik dan menganggukkan kepala singkat untuk meminta maaf pada orang-orang yang tanpa sengaja ditabraknya, sebelum kemudian segera kembali berbalik, tanpa sekali pun berpikiran untuk melambatkan langkahnya. Jika boleh, dia sudah akan berlari secepat mungkin, namun mengingat tempatnya berada sekarang, pikiran warasnya masih cukup bisa bekerja.

Jantungnya tak henti berdebar keras, tidak jika dia mendapat telepon di tengah rapat, menyebutkan bahwa istrinya dilarikan ke UGD. Katakan padanya, suami mana yang akan bisa tenang?

“Saya mencari Kwon Sandara, setengah jam yang lalu saya menerima telepon yang mengatakan bahwa istri saya dibawa ke mari.” Kata Jiyong cepat begitu dirinya sampai di resepsionis UGD.

“Anda suami Nyonya Kwon?” tanya perawat di balik meja – atau orang yang menurut Jiyong adalah seorang perawat. Dia tidak peduli anggapannya itu salah atau benar, bukan itu yang paling penting sekarang.

“Ya.”

Perawat itu berdiri dan berjalan memutar, keluar dari balik meja resepsionis, setelah memberitahukan kepada temannya untuk menggantikan.

“Mari ikut saya, Tuan.” Katanya setelah berada di depan Jiyong.

Mereka berjalan menyusuri lorong yang berada di antara deretan ranjang-ranjang bersekat gorden, beberapa tertutup yang mengindikasikan ada yang menempati dan beberapa terbuka kosong. Begitu sampai di ujung lorong, perawat itu menyingkap gorden di sisi kanan mereka. Hati Jiyong mencelos melihat istrinya terbaring, matanya terpejam, dengan selang oksigen terpasang di hidungnya.

“Tuan Kwon,” Jiyong tidak menyadari ada orang lain di sana, perhatiannya tertuju sepenuhnya pada istrinya. Nam Eunsang, asisten Dara membungkukkan badan padanya, yang hanya dia balas dengan anggukan singkat.

Sudah dua tahun ini Dara mengelola sebuah studio. Sejak Mino masuk TK, Dara merasa kesepian. Karena itu Jiyong memutuskan untuk membuatkan studio foto sebagai kesibukan bagi istrinya. Dan lagipula Dara sering membawa Mino ke sana sepulang sekolah, karena Jiyong secara khusus juga sudah menyiapkan tempat bermain bagi putranya.

“Kalau begitu, saya akan memanggil dokter jaga.” Ujar si perawat kemudian meninggalkan mereka.

Jiyong berjalan mendekat ke sisi ranjang yang ditempati Dara, Eunsang melangkah mundur untuk memberikan tempat pada suami atasannya. “Apa yang terjadi? Tadi pagi Dara masih baik-baik saja.” tutur Jiyong sebelum kemudian menundukkan badannya untuk mengecup kening Dara.

“Saya sendiri kurang tahu, tapi unnie sempat mengeluh sakit kepala saat sesi pemotretan pertama. Dan ketika siang dia sudah semakin pucat, kami memintanya untuk pulang lebih awal dan beristirahat, tapi belum sempat meninggalkan studio, unnie pingsan dan kami segera membawanya ke sini.” Jelas Eunsang.

Jiyong duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Eunsang di samping ranjang Dara, menggenggam tangan wanita itu dengan kedua tangannya.

“Tadi unnie sudah sempat siuman, sekarang dia hanya sedang tertidur, begitu kata dokter.” Lanjutnya.

“Kau boleh pergi, biar aku yang menjaganya. Bagaimana dengan Mino?”

“Ah, kata Dara unnie hari ini sepulang sekolah Mino akan ikut dengan Nyonya Kwon.” Yang Eunsang maksud adalah Jinhye.

“Arasso. Kau boleh pergi.”

“Baik, Tuan Kwon. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

Jiyong ditinggal seorang diri bersama dengan Dara yang masih tertidur pulas. Diamatinya wajah wanita yang telah menemaninya hampir separuh hidupnya. Kondisinya sekarang membuat hatinya ngilu, teringat kesalahan besar lain yang disebabkannya dan hampir merenggut kebahagiaan mereka.

Diciumnya tangan Dara yang berada dalam genggamannya. Berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan membiarkan wanita ini kembali terluka, tidak oleh siapa pun, terutama oleh dirinya.

**

Seoul, 12 November 2014

Malam semakin larut, hampir separuh dunia mulai terlelap. Namun tidak dengan pasangan pengantin yang baru beberapa jam lalu mengucapkan janji setia. Keduanya telah berganti dengan pakaian tidur mereka, saling berhadapan dengan senyuman tersungging di wajah masing-masing.

“Gomawo,” ucap Jiyong tak henti mengucap syukur mendapat kepercayaan untuk menjadikan wanita itu sebagai pendamping selama sisa hidupnya.

“Bukankah kita sudah melewati bagian ini?” Dara meletakkan kedua tangannya di bahu suaminya, menggeleng-gelengkan kepala, namun bibirnya tersenyum.

“Aku tidak bisa berhenti mengatakannya.” Jiyong tersenyum. “Gomawo. Saranghae.”

“Nado.” Balas Dara. “Jadi apa agenda kita malam ini?” tanyanya, senyumnya berubah nakal.

Jiyong menggeleng-gelengkan kepala, namun memutuskan untuk mengikuti permainan istrinya… ah, benar, Dara sekarang telah menjadi istrinya. Betapa senangnya dia dengan sebutan itu.

Tangan Jiyong bergerak memeluk pinggang ramping Dara.

“Hmm, apa yang akan kita lakukan ya?” dia menarik tubuh Dara mendekat ke arahnya. Sedikit membuat wanita itu terkejut, namun tidak kehilangan senyum di cantiknya. “Bagaimana kalau kau memberiku beberapa ide tentang apa yang bisa kita lakukan?”

Dara memiringkan kepalanya, pura-pura berpikir. “Hmm,” dia bergumam, tangannya bergerak melingkar di leher Jiyong. “Bagaimana kalau—“

Ucapannya terputus mendengar suara tangisan dari interkom yang terpasang di kamar mereka.

“Omo, Mino-ah!”

Tanpa berpikir, Dara segera melepaskan diri dari Jiyong dan berlari keluar menuju kamar sebelah. Mereka memasang interkom di kamar Mino agar mudah bagi mereka untuk mengetahui jika dia menangis di tengah malam – seperti sekarang.

Jiyong mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mengerang pelan karena putranya itu benar-benar memilih waktu yang salah untuk menangis. Tapi akhirnya dia ikut keluar dan menemukan pemandangan yang langsung membuatnya tersenyum. Kekesalannya pada Mino langsung hilang melihat bagaimana Dara dengan telaten menimang bayi yang kini telah kembali tertidur.

“Apa dia tidak terbangun karena lapar?” tanya Jiyong dengan suara pelan, takut membangunkan putranya, berdiri di belakang Dara.

“Tidak, dia sudah minum susu dalam perjalanan ke mari tadi.” Jawab Dara, juga dalam nada pelan. “Kurasa dia mungkin bermimpi dan terkejut atau semacamnya. Aku pernah membaca bahwa bayi juga bisa bermimpi.”

Jiyong menatap Dara penuh kekaguman. Sejak memutuskan untuk menjadi ibu yang sepenuhnya bagi Mino, dia benar-benar mendedikasikan dirinya. Membaca berbagai buku tentang cara mengasuh anak, bahkan sampai berkonsultasi pada psikolog anak.

“Aisht, anak ini hanya tidak rela bahwa kita sedikit melupakannya tadi.”

Dara menolehkan kepalanya mendengar penuturan suaminya, matanya tajam menuduh. “Kau tega sekali bicara begitu, mana mungkin aku melupakan Mino-ku?”

**

Seoul, 19 Agustus 2015

“Aigoo, cucuku benar-benar pintar!”

“Ji!”

Jiyong tersenyum melihat Mino dalam pangkuan ayahnya. Hari ini adalah jadwal kunjungan mereka ke penjara untuk menjenguk ayahnya. Karena kasus suap dua tahun lalu, ayahnya harus mendekam selama 15 tahun. Mereka sudah merelakannya, karena ayahnya sendiri pun telah mengakui perbuatannya.

“Ni!” Mino kembali berseru, tangan kecilnya bertepuk seolah mencoba mencari perhatian dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Menginjak usia satu tahun, Mino baru bisa mulai berbicara. Bocah itu lebih dulu bisa melangkah. Kata pertamanya adalah “Pa,” yang langsung mereka pahami sebagai “Appa,” lalu “Ni,” yang diteriakkan setiap kali Mino bersama dengan Jinhye. Mereka kemudian mengartikan bahwa Mino bermaksud memanggil “Halmoni,” Jiyong sempat protes, karena ibu tirinya itu belum pantas dipanggil sebagai nenek. Sementara Jinhye sendiri tidak merasa keberatan sebenarnya, karena dirinyalah yang diam-diam mengajarkan kata itu kepada Mino. Pada kunjungan mereka tiga minggu lalu, Mino mengucapkan “Ji,” yang langsung membuat Kwon Jisang tertawa penuh kemenangan. Tidak ada yang bisa lebih membahagiakannya dari itu, bahkan meski hukumannya masih akan berakhir lama, tapi kenyataan bahwa cucunya mengenalinya sangat membahagiakannya.

Perlahan kosa kata Mino semakin bertambah. Seperti “Mamama,” yang berarti dia lapar – minta makan, “Bububu,” yang maksudnya dia ingin bermain – entah dari mana dia mendapatkan kosa kata itu. Bahkan saat Hyungkyun berkunjung bersama Jinhye minggu lalu ke rumah baru yang Jiyong dan Dara tinggali, Mino mengucapkan “Hu,” dan menunjuk Hyungkyun. Mereka kemudian tahu bahwa “Hu,” yang dimaksud Mino adalah Hyungkyun.

Satu-satunya yang belum Mino sebut adalah Dara. Tidak omma atau bahkan namanya saja. Jika menginginkan Dara, Mino hanya menangis keras dan menolak digendong semua orang kecuali Dara – dari sanalah mereka tahu hanya Dara sajalah yang bocah inginkan. Dara mencoba berpikir positif dan menunggu sampai Mino memanggilnya – namun kesempatan itu tak terjadi juga sampai sebulan lebih, padahal semua orang sudah mendapat kesempatan.

Rasa tidak aman mulai menggerogoti Dara, hingga akhirnya semalam dia menangis di hadapan Jiyong.

“Mungkin Mino bisa merasakan bahwa aku bukanlah ibunya,” isaknya dalam pelukan Jiyong semalam.

 “Shhh, jangan berbicara seperti itu. Kau adalah satu-satunya ibu Mino di dunia ini. Jika sudah saatnya Mino pasti akan memanggilmu ‘omma’,” JIyong berusaha menenangkan istrinya.

“Mudah saja bagimu berbicara begitu, kau lebih sering menghabiskan waktumu di luar tapi lihat kata pertama yang dia keluarkan adalah ‘pa’. Sementara aku yang selalu bersamanya setiap saat, mengganti popoknya, menenangkannya saat dia terbangun tengah malam, menyuapinya, bermain dengannya seharian – dia tidak juga mengenaliku. Dia pasti bisa merasakan bahwa aku bukan ibunya…”

Jiyong tidak tahu harus berbuat apa selain memeluk istrinya. Dia tidak punya kuasa untuk memaksa kemampuan bicara Mino – bocah itu bisa dibilang pendiam dan lebih banyak bergerak. Baru sebulan dia benar-benar berbicara.

“Yah, kalian berdua! Berilah adik bagi Mino, aku ingin cucu perempuan.” Ucap ayah Jiyong tiba-tiba, perhatiannya masih sepenuhnya terpusat pada Mino.

“Abeoji,”

“Appa!”

Wajah Dara memerah. Itu yang selalu terjadi setiap kali orang menyebutkan mereka sudah saatnya memberikan Mino adik. Namun…

“Appa tahu kan, memiliki anak bukan prioritas kami saat ini, apalagi Mino masih kecil.”

Ucapan Jiyong tanpa sadar membuat Dara menelan ludah, berat. Seperti ada beban yang mengganjal dalam hatinya. Mereka memang sudah membicarakan hal itu – bahwa mereka akan fokus pada Mino dan menunda untuk memiliki anak. Namun tidak bisa dipungkiri, Dara mendamba untuk bisa merasakan pengalaman melahirkannya anaknya sendiri. Bukan berarti dia tidak menyayangi Mino – Tuhan tahu seberapa besar rasa sayangnya pada anak itu, melebihi rasa sayangnya pada dirinya sendiri. Tapi tetap saja, dia ingin tahu rasanya mengandung dan melahirkan. Dia ingin merasakan menjadi wanita sejati.

Suara tangisan Mino menyadarkan Dara dari pikirannya. Bocah itu menggapai-gapaikan tangan mungilnya kearahnya.

“Kemari sayang,” Dara meraih Mino dari pangkuan ayah mertuanya dan menggendong bocah itu, yang langsung berhenti menangis begitu berada dalam gendongan Dara.

“Jiyong benar, abeoji. Mino masih terlalu kecil, belum saatnya dia memiliki adik.”

**

Seoul, 20 September 2015

Air mata Dara tak hentinya mengalir, menangis bersama dengan Mino yang masih belum juga berhenti menangis. Bocah itu terus meronta, merasakan sakit di kepalanya yang dibebat perban dan tangan kanannya dipasangi selang infus. Suara tangisnya menunjukkan betapa Mino merasa tersiksa.

Siang tadi, satu set meja dan kursi resban yang Dara minta dari neneknya dikirimkan ke rumah barunya oleh orang tuanya. Rumah yang kini mereka tinggali cukup luas dengan teras lebar di bagian samping rumah, menghadap ke taman. Dara memutuskan untuk memindahkan satu set perabotan itu dari rumah orang tuanya dan meletakkannya di halaman samping.

Senang dengan perpaduan nuansa yang dihasilkan, dia membiarkan pintu geser menuju ke teras terbuka. Tanpa sepengetahuannya, Mino yang sudah mulai banyak bergerak melangkah keluar. Tahu-tahu, suara tangisan Mino memenuhi seisi rumah dan Dara menemukan bocah itu duduk di bawah meja dengan kepala mengucurkan darah. Ada jejak darah di sudut meja, sekali lihat saja Dara yakin Mino berusaha naik ke atas kursi namun gagal dan kepalanya terantuk meja.

Dengan tubuh gemetaran, Dara segera menggendong Mino dan berlari menuju ke rumah sakit terdekat – tidak mempedulikan pakaiannya yang ikut berlumuran darah. Menghentikan taksi di tengah jalan, lupa bahwa sebenarnya dia memiliki mobil di rumah. Namun dalam keadaan seperti tadi, dia tidak yakin bahwa dirinya bisa menyetir sampai rumah sakit dengan selamat.

“Apa yang terjadi, Dara-ah?!” pintu kamar rawat Mino terbuka dan Jiyong muncul dengan wajah panik.

Mino yang sudah berhenti menangis, hanya sesenggukan karena mungkin dia telah lelah, mengenali suara ayahnya. Dia segera menggapai-gapai ke arah Jiyong, bermaksud meminta gendong.

“Pa, pa!” pintanya setengah terisak.

Dengan sigap, Jiyong segera menerima tubuh Mino dari gendongan Dara. Berhati-hati agar bocah itu tidak terlilit oleh selang infusnya.

Begitu berada dalam pelukan ayahnya, secara otomatis, Mino langsung membenamkan wajahnya di bahu Jiyong. Kepalanya terkulai lemas.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Jiyong mengulangi pertanyaannya. Kakinya bergerak ke kanan dan ke kiri, menimang putranya.

Dara kemudian menceritakan semuanya dari awal. Jiyong tentu tahu tentang perabotan yang dipindahkan itu, dia sendiri yang bahkan mengusulkan kepada Dara untuk meletakkannya di teras samping. Namun yang tidak diduganya adalah bahwa putranya akan terluka seperti ini.

“Mianhe… mianhe…” lirih Dara, masih terisak. Sejak tadi, tangisnya pun tak bisa berhenti. “Besok aku akan mengembalikan perabotan itu ke rumah mama.”

“Ini bukan salahmu.” kata Jiyong, namun nada bicaranya seolah berkata yang sebaliknya.

Keduanya terdiam. Sampai akhirnya Jiyong memecah kesunyian dengan berkata, “Kiko berada di Korea. Dia menemuiku tadi dan ingin bertemu dengan Mino.”

“Huh?” hanya itu yang diucapkan Dara.

Telinganya tidak bisa menangkap apa yang selanjutnya Jiyong katakan, karena pikirannya sibuk membuat alasan. Bukankah Kiko berjanji untuk tidak masuk dalam hidup mereka? Bukankah Kiko berjanji untuk menyerahkan Mino pada mereka? Bukankah Kiko telah melepaskan haknya atas Mino? Bukankah…

Tapi Dara sendiri tidak bisa membantah kenyataan bahwa Kiko adalah ibu kandung Mino. Kenyataan bahwa perannya hanyalah sebagai pengasuh Mino. Bahkan setelah semua yang dilakukannya untuk anak itu, dia masihlah bukan siapa-siapa.

“.. begitu tahu Mino berada di rumah sakit, Kiko bilang dia ingin datang. Mungkin sebentar lagi dia akan datang.” Perkataan Jiyong kembali terdengar di telinga Dara.

“Oh, baiklah.” Respon Dara singkat, tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. “Ji, aku harus menelepon mama sekarang, tidak masalah kan kalau kutinggal sebentar kau dengan Mino?” bohong. Sebenarnya dia hanya mencari alasan.

Tapi Jiyong tidak menyadari apa pun. Dipikirnya Dara demikian karena mencemaskan Mino.

“Arasso. Sampaikan salamku untuk mereka.”

Dara mengangguk dan keluar.

“Ma! Ma!”

Betapa Dara menantikan panggilan itu terucap dari bibir Mino. Tapi kakinya tidak mau diperintah untuk melangkah masuk. Matanya menatap nanar ke dalam ruang rawat Mino.

Putranya memang mengucapkan kata-kata “Ma,” tapi bukan ditujukan untuknya. Melainkan untuk wanita lain, wanita yang telah melahirkannya. Wanita bernama Kiko Mizuhara.

Apa yang Dara harapkan selama ini? Mino memanggilnya sebagai ‘omma’? Siapa yang hendak ia bohongi?

Tak kuat melihat pemandangan yang menyesakkan itu, Dara memilih berbalik dan melangkah pergi.

“Ma!” suara Mino masih bisa dijangkau oleh telinganya, disertai dengan tangisan. Meski otaknya memerintahkan untuk masuk dan menunjukkan pada Kiko siapa ibu Mino sebenarnya, namun hatinya tidak bisa menerima sakit lain melihat anaknya itu memanggil ibunya.

**

Seoul, 21 September 2015

Jiyong terbangun dari tidurnya dan menemukan bagian ranjang di sisinya kosong. Tidak ada kehangatan yang tersisa, menandakan bahwa orang yang tadinya tidur di sana telah bangun sejak berjam-jam yang lalu.  Diliriknya jam digital di atas nakas yang berada di sisi ranjangnya, menunjukkan angka 03.40. Masih dini hari, namun istrinya telah terbangun. Meski begitu, Jiyong memiliki gagasan di mana istrinya berada.

Jiyong menghembuskan nafas berat, kemudian memaksa tubuhnya untuk bangkit. Dan dugaannya pun terbukti benar. Dia menemukan Dara berada di kamar Mino, tengah menggendong putra mereka yang tertidur lelap.

“Dara-ah? Kau tidak tidur?” tanyanya pelan, takut membangunkan Mino.

Mino sudah tertidur sejak perjalanan pulang mereka dari rumah sakit. Tidak, dia tidak perlu sampai rawat inap, hanya perlu menghabiskan cairan infus, lalu diijinkan untuk pulang. Setelah menggantikan pakaian Mino dan menidurkannya, Jiyong dan Dara ikut terlelap di kamar mereka. Jiyong tidak tahu jika istrinya terbangun dan mendatangi Mino.

“Aku tidak bisa tidur. Aku khawatir Mino akan berguling dalam tidur dan kepalanya kembali merasa sakit.” jawabnya.

Jiyong mendesah, duduk di sisi Dara, di atas dipan kecil yang diletakkan di sisi jendela.

“Biar kugantikan?” bujuk Jiyong, namun Dara menolak dengan menggelengkan kepalanya.

“Tidak. Aku masih ingin bersama dengan Mino.” Dia beralasan.

“Tapi kau lelah,”

“Aku tidak lelah.”

Nada bicara Dara telah final. Jiyong tidak akan mungkin bisa merubah keputusannya.

“Baiklah. Aku mengerti. Akan kubuatkan coklat hangat dan aku akan menemanimu nanti.” putusnya, lalu bangkit setelah mencium puncak kepala Dara, sayang.

Tak lama kemudian, Jiyong kembali dengan dua buah cangkir yang masih mengepul. Diletakkannya sebuah di bingkai jendela, dan sebuah lagi dipegangnya di depan bibir Dara. Bermaksud meminumkannya, karena dia tahu Dara akan kerepotan karena pasti wanita itu enggan melepaskan Mino.

“Terima kasih,” ucap Dara sebelum menyesap sedikit isinya. Dia kemudian menjauhkan kepalanya, isyarat bagi Jiyong untuk menjauhkan cangkir di tangannya. Dan Jiyong pun mengerti.

“Tadi Mino mencarimu saat kau sedang menelepon mama,” cerita Jiyong, teringat keributan yang dibuat Mino saat Kiko datang. Anaknya ini memanggil-manggil “Ma,” dan tak kunjung berhenti menangis sampai Dara masuk ke dalam ruangan.

“Mianhe,” ucap Dara, berbisik pada Mino yang masih tertidur pulas.

Mengikuti kata hatinya, Jiyong menempatkan dirinya di belakang Dara dan membuat punggung wanita itu menyandar pada tubuhnya.

Dara tidak memprotes ataupun menolak. Dalam hati dia berterima kasih karena Jiyong seolah mengerti apa yang benar-benar dia butuhkan.

**

26 September 2015

Suara tawa Mino menggema, mengukir senyum di wajah kedua orang tuanya. Bocah itu sepertinya telah lupa dengan perban yang masih membebat kepalanya, tertawa atas usaha ayahnya yang berusaha menghiburnya dari balik sofa.

“Pa!” lengkingan suara Mino kembali terdengar oleh Dara. Membuatnya tersenyum, meski sebenarnya ada sagurat kesedihan karena sampai sekarang Mino masih enggan memanggilnya dengan sebutan ‘omma’.

Namun dia berusaha menepis perasaan itu. Yang terpenting baginya adalah Mino telah kembali sehat dan lukanya berangsur-angsur telah pulih. Meski dirinya harus menahan lelah karena harus menggendong Mino selama bocah itu tidur. Dara masih tidak tega untuk menidurkan Mino di tempat tidurnya, masih takut bocah itu akan tanpa sengaja berguling dan lukanya akan kembali menimbulkan rasa sakit. Beberapa kali Jiyong menggantikan agar Dara bisa beristirahat, tapi tetap saja jiwanya sebagai seorang ibu tidak bisa tenang sebelum anaknya benar-benar sembuh. Apalagi Jiyong sendiri pasti merasa lelah setelah seharian bekerja.

Dengan cekatan, Dara mencincang halus wortel untuk makanan Mino. Ya, sementara Jiyong bermain dengan Mino, dirinya menyiapkan makan siang. Hari ini adalah hari minggu, sehingga mereka bertiga bisa makan siang bersama.

Tiba-tiba saja, Dara merasakan kepalanya berkunang-kunang, disusul dengan rasa nyeri yang teramat sangat di perutnya bagian bawah. Dia sampai harus terpaksa melepaskan pisau di tangannya dan menekan perutnya dengan kedua tangan.

“Ji…” rintihnya, namun suara yang keluar dari mulutnya terlalu pelan untuk bisa didengar oleh Jiyong yang masih tersenda-gurau dengan Mino.

“Ji!” panggilnya lagi, kali ini lebih keras. Entah Jiyong mendengarnya atau tidak, namun perhatian Dara teralihkan oleh sesuatu yang mengalir dingin, dan selanjutnya gelap.

**

Seoul, 27 September 2015

Dara membuka matanya perlahan, namun langsung memejamkannya lagi karena silau oleh cahaya yang tiba-tiba. Berkedip beberapa saat untuk membiasakan penglihatannya, matanya menemukan Jiyong yang duduk di sisinya, menatapnya penuh harap. Wajah suaminya itu terlihat lusuh.

“Dara-ah, kau sudah bangun sayang?”

“Ji?” ah, tenggorokannya terasa kering. Seolah tahu apa yang dia butuhkan, Jiyong mengambil segelas air di meja nakas dan membantunya minum.

“Dimana aku?” tanyanya. Namun pertanyaannya itu langsung terjawab dengan sendirinya begitu menyadari penampilannya. Gaun longgar berwarna biru, ruangan serba putih, dan bau karbol khas yang hanya ada di…

“Rumah sakit.” jawab Jiyong, membenarkan pikiran Dara. “Kau pingsan kemarin.”

Otak Dara langsung berputar, mencoba mengulang kejadian kemarin. Dia sedang memasak di dapur sementara Jiyong menjaga Mino. Suami dan putranya tengah tertawa keras saat perutnya merasakan sakit. Lalu dia merasakan cairan dingin mengalir di kakinya, dan kemudian kesadarannya hilang.

“Ji?” mata Dara berkedip, mencoba mencerna kondisinya.

Perutnya masih terasa sakit – sangat. Dan kemaluannya…

“Dara-ah, mianhe…” ucap Jiyong, tidak bisa lebih lama menyembunyikan kenyataan dari istrinya.

“Ji, katakan padaku ini bukan yang kupikirkan!” air mata mulai tergenang di sudut mata Dara.

“Dara-ah mianhe,” ulang Jiyong. “Kau keguguran.”

Dara duduk menyandarkan punggungnya di bantal, menatap ke luar jendela.

Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri. Dia yang diam-diam menginginkan anak dari rahimnya sendiri. Namun saat Tuhan mengabulkan permintaannya, dia yang mengabaikannya. Dia tidak menyadari kondisi tubuhnya sendiri.

Tidak mungkin dia menyalahkan kondisi Mino yang membuatnya memaksakan diri untuk begadang selama berhari-hari. Apalagi jika dirinyalah juga yang menyebabkan Mino terluka.

‘Dasar wanita bodoh!’ rutuknya dalam hati.

Air matanya kembali mengalir, yang buru-buru dia hapus begitu mendengar suara pintu terbuka. Tidak boleh ada yang melihatnya menangis.

Jiyong masuk dengan membawa sebuah bungkusan tas dan seikat bunga lili putih.

“Kubawakan sup seafood kesukaanmu.” yang Jiyong maksud pasti sup seafood dari restoran yang berada di dekat kampus tempat mereka kuliah dulu. Salah satu tempat yang menjadi saksi perjalanan kisah mereka.

“Aku belum lapar.”

“Aku tahu, tapi kau harus makan.” Tanpa diminta, Jiyong menuangkan sup ke mangkuk dan bersiap menyuapi Dara.

“Ayo buka mulutmu, aah…”

Tidak ingin berdebat, Dara memaksakan diri untuk membuka mulutnya. Menerima suapan dari Jiyong.

“Pintar, dengan begini kau akan cepat pulih.”

“Katakan padaku, Ji. Apakah kau senang dengan hal ini?”

Pertanyaan Dara menghentikan gerakan Jiyong. Kedua alisnya bertaut, tak mengerti maksud perkataan istrinya.

“Apa maksudmu, Dara-ah? Aku tak mengerti.”

“Apakah kau senang karena aku keguguran? Dengan begitu harapanmu untuk tidak memiliki anak dariku terkabul.”

“Apa yang sebenarnya kau bicarakan, Dara?!” sambar Jiyong tak bisa mengendalikan nada bicaranya yang langsung meniggi. “Bagaimana mungkin kau bertanya seperti itu?”

“Kau bilang, kau tidak ingin memiliki anak lagi. Katakan saja kau tidak ingin memiliki anak dariku!”

Mata Jiyong melebar mendengar tuduhan Dara. Dari mana istrinya ini bisa berpendapat demikian?

“Astaga, Dara-ah! Bagaimana bisa kau berpikir begitu?!” Jiyong meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja, sebelum benda itu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. “Bagaimana mungkin aku senang karena istriku keguguran anakku sendiri?” dia berusaha memelankan suaranya. Mengerti bahwa istrinya pasti masih dalam tahapan shock karena baru saja mengetahui bahwa dirinya hamil setelah keguguran.

“Tapi kau bilang kau tidak ingin Mino memiliki adik,” air mata Dara tak hentinya mengalir. Rasa penyesalan yang bertumpuk dengan rasa tidak aman semakin mendesak dalam dadanya.

Jiyong bergerak bangkit dan pindah di sisi Dara, memeluk wanita itu dari samping. Dara kemudian membenamkan wajahnya di leher Jiyong, kedua tangannya melingkari tubuh suaminya.

“Jangan berpikiran seperti itu, Dara-ah. Jangan berpikiran seperti itu. Mana mungkin aku tidak menginginkan anakku sendiri? Meskipun aku berkata belum saatnya Mino memiliki adik, tapi mana mungkin aku menolak jika Tuhan memberi kita kepercayaan Mino yang lain? Huh?” diciuminya puncak kepala Dara, membiarkan wanita itu menangis.

Keduanya masih berpelukan saat pintu kamar kembali terbuka. Kali ini Jinhye dan Mino beserta kedua orang tua Dara.

Dara melepaskan pelukannya pada tubuh Jiyong dan pria itu bangkit untuk memberikan tempat pada orang tua Dara.

“Sayang, bagaimana keadaanmu?”

“Udah nggak papa, ma.” Jawab Dara, mencoba memasang senyuman di wajah pucatnya.

“Yang tabah ya, nak?” kedua ibu dan anak itu saling berpelukan. Sementara ayah Dara hanya menepuk bahu Jiyong, yang dibalas dengan sebuah anggukan singkat.

“Ma!” sebuah suara kecil membuat tubuh Dara membeku. Telinganya mungkin salah dengar.

“Ma!” suara itu kembali terdengar.

Pelan, Dara melepaskan pelukannya pada mamanya, dan menatap ke arah Mino yang berada dalam gendongan Jinhye. Seolah mencoba memastikan bahwa telinganya tidak salah.

“Ma!” tangan kecil Mino berusaha menggapai ke arahnya. Jinhye yang mengerti segera berjalan mendekat.

“Maafkan aku, tapi Mino terus menangis dan meminta ommanya.” Ucap Jinhye masih menggendong Mino, meski bocah itu berusaha meronta melepaskan diri dan menginginkan Dara.

“Ma!”

“Mino sayang, omma sedang sakit.” Jinhye berusaha menjelaskan pada sang bayi yang tentunya enggan mendengarkan. Mino terus berusaha meronta.

“Mino-ah, kemari, ikut appa.” kali ini Jiyong maju, namun Mino menolak untuk ikut ayahnya.

“Ma!” serunya keras kepala. Mukanya sudah memerah, siap menangis.

Otak Dara serasa lambat memproses kejadian ini. “A-apa aku tidak salah dengar?”

Dan seolah menjawab keraguan Dara, Mino sekali lagi kembali berseru.

“Ma!”

“Oh Tuhan! Dia memanggllku omma!” seru Dara, tak lagi bisa menahan tangisnya. Tangannya terangkat untuk meminta Mino dari Jinhye. “Ke mari, sayang!”

“Tapi, Dara-ah…”Jinhye berusaha protes, namun Dara segera memotongnya.

“Tidak apa. Sini sayang,”

Akhirnya Jinhye menyerah. Dengan dibantu Jiyong, Dara mendudukkan Mino di sisinya, Jiyong memastikan agar anak itu tidak membebani Dara.

“Ma,” ucap Mino sekali lagi, memegangi pipi Dara dengan tangan mungilnya, seolah menanyakan keadaan omma-nya.

“Katakan sekali lagi, sayang. Panggil omma sekali lagi,” pinta Dara dengan air mata tak kunjung berhenti mengalir.

“Ma!”

“Oh Tuhan, Ji, kau dengar itu? Mino memanggilku omma!”

**

 

 

~ Tbc ~

Nah, itu.. LOL

Maaf, beberapa waktu kedepan waktu update makin nggak tentu.. semuanya udah ada di kepala, tapi yaah~ maklum..tangan cuman dua sementara yang dikerjakan banyak.. >.< jadi ya gini deh.. >.<

Semoga masih tetep sabar ya~

Eh, iya.. ini udah mendekati akhir kok.. tinggal satu atau dua chapter lagi, dan the end deh buat phases.. >.<

Kalau ada pertanyaan (asal nggak tanya endingnya gimana) silakan ketik di kotak komen.. XD

annyeong~ ^o^/

………………………………………………….

<< Previous Next >>

 

Advertisements

33 thoughts on “Phases : Treisprezece

  1. ya ampyunnn dillaaaa,,, susah bgt komentnya msuk, hrs bbrp kali diulang, hiksss…
    seneng di chap ini jd tahu gmn kelanjutan hdp mereka stlh menikah, btw, ini beneran udh mw abis dill? whoaaa…
    baaabyyy minoooooooo

  2. Nangis bombay 😭😭😭😭😭 trharu bgt sama perjuangan dara jdi eomma buat mino..
    Smga next chapt mereka punya adik perempuan buat mino 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s