HELLO BITCHES [Part. 16]

hello-bitches

credit namminra@IFA

Author: Zhie | Main Cast: Sandara Park (2Ne1), Kwon Jiyong (Bigbang) | Support Cast: Lee Junki (Actor), Goo Junhee (Actress), All Member 2Ne1, All Member Bigbang, Lee Soohyuk (Model), Kwon Dami, Kim Yoojung (Actress) a.k.a Choi Yoojung, Gummy | Genre: Romance, Adult| Rating: NC-17 (Maybe 😛 | Lenght: Series

~~~

Untuk alur kali ini, kuakui sangat cepat dan aku nggak bisa memperbaikinya… jadi mian bila tidak memuaskan, akan mencoba lebih baik di chap. selanjutnya. Happy Reading, neh! >.<

Dara masih berusaha keras membuka matanya yang terasa sangat berat pagi itu, dan tepat saat dia mencoba bangun dari posisi tidurnya… serangan hangover melanda, “Argh. Berapa banyak yang kuminum semalam?” gumamnya merasa segalanya berputar. Dara pun memijat pelipisnya pelan untuk meredakannya… dan saat itu mulai mereda, dia menyadari sesuatu… dia tidak berada di kamarnya sekarang, “Omo. Bukankah ini kamar Jiyong?”

Mata Dara seketika terbuka lebar, “Gyaaaahh… apa yang kulakukan di sini? Shit! Bagaimana… bagaimana dengan batas tutorial yang dia buat? Ingat… ingat Dara, ingat… ingat… berharap dia tidak pulang semalam atau kau akan kehilangan separuh bayaranmu.” pekik Dara dalam sekejap melupakan hangovernya, dan dengan cepat bangun dari tidurnya… namun sekali lagi dia dibuat terkejut dengan kondisinya sendiri saat ini. Dia… tanpa apapun?

Tanpa atasan…

tanpa bawahan, dan…

dalaman?

Tepatnya ia dalam keadaan tanpa busana sekarang.

Gleg

“O… o… apa lagi kegilaan yang kau buat kali ini Dara?” batinnya telah dapat sedikit menebak, dan bayangan yang terjadi semalam mulai terlihat samar diingatannya.

Flashback

“Dara, haruskan aku menghubunginya?” tanya Bom saat itu bingung dengan masalah baru yang pasti akan ia dapatkan.

“Hubungi dia jika kau tak ingin merasa berhutang padanya…”

“Argh. Aku ingin minum sekarang, bisakah kita memesannya?”

“Anio. Jiyong tak suka….”

“Cih! Bagaimana kau akan tahan tinggalnya, eoh?”

“Karena berbeda- itu membuatku jadi tertantang.” jawab Dara akhirnya, dan saat itulah ponselnya berbunyi…

“Yeoboseyo, Ne… Eomma. Ah. Aku…” Dara menerima telpon itu dengan sukacita pada awalnya namun itu berubah, saat seseorang yang ia tak inginkan kembali bicara padanya… “Apa lagi yang kau inginkan? Uang? Bukankah aku sudah mengirimnya? Cih. Bagaimana bisa kau menyuruhku memanggilmu Appa?”

“Dara- berhenti minum. Bukankah kau katakan Jiyong tak suka?”

Dan sampai akhirnya Jiyong datang…

“Ya! Dara, apa-apaan ini hah?“

“Kumohon cium aku. Bantu aku melupakannya. Aku ingin melupakannya-“

Dara meminta Jiyong untuk menciumnya dan akhirnya ciuman yang dalam itu pun terjadi, namun itu tidak lama… karena Jiyong cukup dapat menguasai dirinya.

“Cukup. Kita hentikan ini, Dara. Beristirahatlah.”

“Tapi, Jiyong…”

“Tidurlah.”

Jiyong meninggalkan Dara di sofa, tapi satu jam kemudian…

Duk… duk… duk…

“Jiyong, buka pintunya… aku kedinginan tidur di sana. Jiyong.” pekik Dara di saat kesadarannya yang tak lagi utuh, ia membuat keributan.

Duk… duk… duk…

“Jiyong. Jiyong. Jiyong. Jiyoooooooooong!!!”

Sementara itu, Jiyong berusaha keras mengabaikannya. Namun…

“Jiyooooooooooooooooooong! Ya, Kwon Jiyooooooooooooooong!!”

“YA!”

“Owh… kau bangun?” tanya Dara saat pintu itu telah terbuka.

“Pergi ke kamarmu, Dara… atau kau-“

“Atau appah? Kau akan maaaarah? Kau mengusirku? Ha ha, no… noooo… kau tak akan mengusirku. Aku wanita bayaranmu. Jadiiii, minggirlah… aku ingin tidur.”

Dara menabrak gontai Jiyong- melewatinya, “YA! Berhenti, jangan lagi tidur di sana… ya-“ Jiyong menangkap lengan Dara, namun Dara memanfaatkan itu untuk mendorongnya dengan seluruh kekuatannya yang tersisa.

Bruukkk

Beruntung mereka jatuh tepat di atas tempat tidur dan Jiyong berada di bawah kuasanya sekarang. Dara menyunggingkan senyumnya- menatap intens Jiyong yang menatapnya tajam.

“Kau marah?”

“Kau bertanya?”

“Neh.”

“…” Jiyong tak menjawab, Dara mulai mengarahkan jemarinya untuk menelusuri wajah memukau Jiyong.

“Kau tampan.”

“Dan kau mabuk. Kau akan menyesali ini, Dara.” Jiyong berucap tajam- mengingatkan.

“Neh. Aku akan menyesali semuanya. Semuanya.” jawab Dara seketika melemah diakhir kalimat, air mata kembali tergenang disudut matanya… namun dia dengan cepat menghapusnya dan akhirnya berguling ke samping Jiyong, “Ah. Aku gerah, aku akan lepas semuanya.”

“YA! YA! YA! ANIO.” Jiyong berusaha keras menahannya, ini kali kedua dia harus menahan kegilaan Dara.

“Waeeee?” Dara mencoba berontak.

“Jangan lakukan itu, Dara… aku akan membiarkanmu tidur di sini, tapi tolong… hanya tidurlah.” ucap Jiyong akhirnya, Dara terdiam sejenak mengamatinya dan dia akhirnya mengangguk.

“Ok. Tapi kau juga akan tidur, di sini… di sampingku.” Dara menyunggingkan senyum manjanya, membuat Jiyong hanya mampu menghela nafas panjang tapi dia berpikir sejenak, tidak ada salahnya menemani Dara hingga dia tertidur… itu lebih baik untuk memastikannya tidak kembali memecahkan apapun yang ada di kamarnya. Jiyong pun mengangguk setuju.

Jiyong merebahkan tubuhnya dengan benar di tempat tidur dan Dara dengan sendirinya beringsut mendekatinya- menyandarkan kepalanya di dada Jiyong, seolah-olah itu hal yang biasa mereka lakukan. Untuk kali ini Jiyong membiarkannya karena akan menjadi hal yang sia-sia bila ia melarang seorang wanita mabuk seperti Dara.

“Berapa banyak kau minum?” tanya Jiyong kemudian.

“Ehm, 1 botol… 3 botol… 5, 7? Entahlah.”

“Kenapa kau minum?”

“Ah. Itu… untuk melupakannya.”

“Apa? Apa yang ingin kau lupakan?”

“Apapuuuuuuuuun… apapun yang pannnnnntas dilupakan.”

“Itu menyakitimu? Kau sempat menangis tadi.”

“Neeeh. Sakit… itu sangat sakiiit, sakit hingga bila aku mengingatnya… aku merasa… tak ingin untuk hidup.”

“Wae?”

“Wae? Itu yang ingin kutanyakan, wae? Hidup… begitu kejam, padaku… benar-benar kejam.” jawaban lemah Dara kali ini membuat Jiyong memutuskan untuk tak lagi bertanya, karena entah kenapa Jiyong merasa itu sesuatu yang mungkin saja ingin Dara lupakan dan itu pasti sesuatu yang menyakitkan baginya dan Jiyong tak ingin membuat Dara kembali teringat akan hal itu.

“Baiklah. Sekarang tidurlah… kau berjanji untuk tidurkan. Besok kita akan membahas hal ini secara serius.” ucap Jiyong akhirnya.

“Serius?”… “Ah, terserahlah. Aku akan tidur sekarang.” jawab Dara tak perduli.

Tapi pada akhirnya, Jiyonglah yang tertidur. Dara yang masih terjaga pun tak menyia-nyiakan kesempatannya itu, dia menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan hingga ia tak lagi mengenakan apapun… dia merasa sangat gerah, alkohol telah mempengaruhi tubuhnya begitu banyak.

“Ah. Ini sangat nyaman.” ucapnya, seraya memperhatikan sekitar… matanya kembali terhenti pada Jiyong yang tidur dengan tenang- seperti bayi tanpa dosa. Pria Suci. Dara terkekeh saat julukan itu terlintas di benaknya, “Bagaimana bila aku membuatnya tak lagi suci?” pikirnya kemudian, lalu dengan berani Dara memposisikan dirinya di atas Jiyong yang masih terlelap- dia menindihnya. Dengan perlahan Dara mencondongkan tubuhnya untuk dapat lebih dekat mengamati Jiyong, Dara menghirup wangi maskulin di tubuh Jiyong… itu semakin meningkatkan gairahnya, Dara pun akhirnya mengecup kening Jiyong… beralih ke kedua sisi pipinya, hidungnya… lalu bibirnya… Dara mengecupnya lembut, hingga akhirnya Jiyong sedikit bereaksi dan membalas kecupannya singkat. Dara tersenyum, lalu ia beralih ke leher Jiyong yang kini terekspos bebas di hadapannya. Perlahan namun pasti Dara melakukannya, mengecupnya lalu kemudian menghisapnya pelan, hingga saat terdengar Jiyong mendesah… Dara merasa Jiyong kini telah menikmatinya, lalu ia pun mulai lebih berani untuk menghisap leher Jiyong lebih dalam hingga akhirnya dia meninggalkan beberapa bekas… namun tepat saat itu Jiyong bangun- membuka mata- sadar bahwa ia tidak lagi bermimpi sekarang. Dia melihat Dara berada di atasnya dan tengah menikmati tubuhnya.

“YA!” sentak Jiyong bangun dari posisi tidurnya, mendorong kuat tubuh Dara.

“Auw.” pekik Dara yang juga terkejut karenanya.

“APA KAU GILA?” lanjut Jiyong tak habis pikir, ditambah Dara tak mengenakan apapun sekarang… “Oh, Shit!” Jiyong kembali mengutuk dan membuang pandangannya dari Dara, ia pun segera berdiri dan menjauh dari tempat tidurnya.

Dara tertegun sejenak, namun kemudian… “Aku ngantuk, aku akan tidur.” ucapnya, membuat Jiyong hanya mampu tercengang… dia tak habis pikir, benar-benar tak habis pikir… dengan apa yang telah Dara buat, Dara kini dapat tidur dengan mudahnya. ‘Sialan!’ makinya dengan geram mau tak mau pergi menuju kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang tiba-tiba melandanya.

Flashback End

Tubuh Dara melemas saat ia mengingat semuanya, mengingat bagaimana ia mabuk dan bagaimana ia menikmati tubuh Jiyong… bukan, bukan karena ia tak pernah melakukan hal itu sebelumya… ia bahkan pernah berlaku lebih liar tentunya… hanya saja ini Jiyong, pada Kwon Jiyong? Dia harusnya dapat mengontrol dirinya seperti biasa, karena bagaimana pun mereka telah membuat kesepakatan namun yang terjadi semalam benar-benar diluar kendalinya. Jiyong memang sangat menggoda, Dara mengakui itu… mengakui bahwa ia begitu ingin mencicipinya tapi tidak sekarang, dan kini yang terpikirkan olehnya adalah bagaimana bila Jiyong benar-benar marah dan tak akan memakluminya? Memaklumi segala keliarannya… karena jujur, sangat disayangkan bila ia kehilangan separuh bayarannya- separuh hartanya… “Argggghhhhhh.” Dara tak sanggup membayangkannya- membayangkan kehilangan uangnya yang begitu berharga? ‘TIDAAAAAAK’. Hanya itu yang ingin Dara teriakan.

~~~

Jiyong Pov

Aku merasa bodoh di depan para pria-pria yang haus gosip ini, mereka terus menatapku penuh selidik… padahal aku sudah jelas mengatakan, tak ada yang terjadi antara aku dan Dara semalam. Tapi sepertinya mereka tidak berencana mengubah apa yang ada dipikiran mereka.

“Jadi, Hyung… benar kalian tak melakukan apapun semalam?” tanya Seungri kesekian kalinya.

“Ania.” jawabku malas.

“Jinjja?” Top Hyung ikut menambahkan.

“Hanya jujurlah pada kami, Hyung. Kami mungkin bisa memberimu beberapa tips bila kau ingin lebih tahan lama.” celetuk Seungri lagi dengan terkekeh, membuatku ingin membungkam mulutnya sekarang.

“Ya! Apa aku perlu bersumpah di depan kalian? Aku benar-benar tak melaku-”

“Jiyong.” panggil seseorang, membuatku tak lagi melanjutkannya…

“Cih, kenapa harus dia?” batinku, saat kini seorang yeoja dengan langkah modelnya berjalan mendekat… Junhee. Goo Junhee, wanita memuakkan kedua setelah Dami Noona. Itu yang kupikirkan.

“Annyeong, selamat pagi semuanya.” sapanya, namun bisa kulihat ketiga pria di hadapanku ini juga menyambutnya dengan malas.

“Wae, Junhee­­?” tanyaku akhirnya tanpa basa basi.

“Ah. Itu, aku datang untuk sekedar minum teh sebelum rapat besar YGKplus dimulai… kalian tahukan Appaku sangat sibuk jadi aku diminta untuk mewakilinya, dan sangat kebetulan… aku melihat kalian di sini jadi karena itu, kupikir-“

Drrrrtttt

Tanpa dikomando, aku dan yang lain telah berdiri dari duduk dan bersiap untuk pergi.

“Neh, sangat kebetulan Junghee-ssi… kebetulan kami juga telah selesai dan akan pergi.” ucap Top Hyung kemudian membuka suara.”

“Mwo? Kalian sudah akan pergi?”

“Neh, mereka akan pergi untuk pemotretan pagi ini sementara aku ada pertemuan yang lain. Jadi silahkan nikmati tehmu… kami harus pergi.” ucapku berusaha untuk sesopan mungkin, karena bagaimanapun dia salah satu anak dari orang yang berpengaruh di YGKplus… tapi bukan, bukan karena kami takut atau sejenis… bukan karena kami menunduk padanya atau pada mereka atasan… kami hanya berusaha bersikap selayaknya dan tak suka terlibat dengan sebuah masalah, oleh karena itu dengan sendirinyalah mereka yang akan segan dan benar-benar mengakui kamilah aset penting mereka.

“Ah. Tunggu.”

Kami pun kembali melihat ke arahnya.

“Aku hampir lupa memberi tahu ini pada kalian. Appaku akan mengadakan sebuah acara besar pekan depan, dan itu akan dihadiri oleh para desainer dan pengamat model internasional yang pastinya juga akan ada peliputan secara langsung dari media… tidak semua model diundang, walaupun itu model senior sekalipun tapi aku secara khusus mengundang kalian semua dan kuharap kalian semua dapat hadir, karena tidak bisa dipungkiri… ini bisa menjadi batu loncatan untuk kalian, di mana kalian juga pastinya dapat bertemu orang-orang hebat di sana. Jadi, pastikan untuk hadir neh… undangan resmi untuk kalian kupastikan akan menyusul.”

“Ah. Itu bagus, tentu kami akan hadir.” jawab Yongbae mewakili kami, “Terimakasih atas undangannya Junhee-ssi.” lanjutnya.

“Ne. Itu mudah bagiku.” gumam Junhee mulai menyombongkan diri seperti biasa, “Dan Jiyong- eh…apa yang terjadi dengan lehermu? Itu memerah.” lanjutnya kemudian, membuatku tersadar kembali dengan bekas yang Dara buat.

“Ah. Ini-“

“Bukankah itu jelas, ada seseorang yang membuatnya.” cuap Seungri cepat.

“Mwo?” Junhee terlihat bingung.

“Ah. Ada baiknya kau tidak perlu tahu itu, Junhee-ssi. Sesuatu yang buas telah menghisapnya.” jawaban Top Hyung berhasil membuat Seungri tak mampu menyembunyikan cengerinnya.

“Neh. Sesuatu yang langka, itu sangat langka.” tambah Yongbae tak mau ketinggalan.

“Jinjjayo? Apa itu sebenarnya, hah?”

Cukup. Jangan sampai obrolan ini terus berkembang, aku pun berdehem… untuk mengingat mereka untuk tak lagi melanjutkannya, “Junhee-ssi, ini bukan apa-apa… jadi sudahlah, kami harus pergi sekarang. Kajja.” ucapku pada akhirnya, dan membawa ketiga rekan bodohku ini untuk segera menjauh darinya.

~~~

Sementara itu…

Junhee yang melihat kepergian mereka pun, mulai memperhatikan Jiyong yang telah menjauh… “Cih. Apa mereka pikir aku bodoh? Tanda merah? Sesuatu yang langka?” Junhee tersenyum kecut, “Jiyong. Kwon Jiyong? Kau tidak mungkin memiliki seorang wanitakan? Ah. Aku akan mencari tahu itu dengan cepat dan bila wanita itu memang ada, aku hanya perlu mengacaukannya bukan?”

=To be continued=

Prolog | | 2 | 3 | 4 | 5 | 6| 7 8 | 9 | 10 | 11| 12|13|14|15

<<back  next>>

Annyeong, kita bertemu lagi… setelah banyaknya waktu yang berlalu. Dari awalnya FF ini dibuat saat 2NE1 masih lengkap hingga dibubarkan, jujur aku sempat kehilangan feel sesaat. Aku kembali mengulang- baca ff ini dari awal, di mana di situ kuceritakan bagaimana mereka hidup bersama, saling mendukung, tak terpisahkan… apalagi karakter Minzy yang kubuat di sini, benar-benar mencerminkan bagaimana sang maknae diperlakukan… dia disayang para eonninya, dilindungi oleh para eonninya tapi melihat dikehidupan nyatanya sekarang… malah dia yang memisahkan diri dari para eonninya. Sempat kesal pada awalnya, ditambah dengan rumor yang bertebaran… di mana itu membuat salah satu dari mereka kembali dibenci/disalahkan,dan aku sempat terhasut karenanya. Tapi jujur, semua itu hilang sekarang… aku sudah menerimanya semuanya. Single terakhir 2NE1 menyadarkanku, karena apapun yang terjadi sekarang… mereka pernah berjuang dan bekerja keras bersama, itu tidak mudah. 2NE1 bisa dikenal oleh dunia itu karena perjuangan mereka berempat, bukan bertiga… berdua, atau pun yang lainnya- mereka berempatlah yang mewujudkan mimpi bersama, dan bila pada akhirnya harus seperti ini… maka itu pastinya adalah yang terbaik untuk mereka. So, melalui FF ini aku tetap ingin memperlihatkan bagaimana kedekatan mereka dan semoga kalian tetap dapat mendapatkan feelnya…  dan untuk moment DG, ditunggu aja ya… pastinya butuh waktu untuk sampai ke tahap yang kalian inginkan kekeke. ^.^

Advertisements

38 thoughts on “HELLO BITCHES [Part. 16]

  1. akhrnya muncul lagi ini ff lama gak mncull:’ gmna nasib dara slnjutnya apa dara bakal ttep di keep sama ji ?kkkkkk
    ditgggu next chapnya dan entah kapan bakal di publish. ext chapnya but bakal ttep di tggu^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s