SHE’S A BABY [Oneshoot]

Author : Aitsil96

“Tebak siapa aku!”

Aku tersenyum, menyadari jemari tangan mungil nan lentik itu yang kini menutupi kedua mataku. Tanpa harus menebak, aku sudah sangat hafal betul dengan pemilik tangan ini. Suaranya yang halus bagai alunan merdu yang membuatku candu untuk menyambangi indera pendengaranku setiap harinya. Gadis beraroma strawberry yang selalu membuat degup jantungku berdetak tak normal dengan kehadirannya dalam jarak pandangku.

“Aku tidak mengenalmu. Jadi bisakah kau berhenti bermain-main denganku?”

Hentakan kaki terdengar begitu aku berhasil menggodanya. Ia melepas tangannya dengan cukup kasar, lalu berjalan memutar dan menyecahkan bokong indahnya di sebelahku. Aku kembali tersenyum. Melihat bibir cherinya yang mengerucut membuatku selalu senang untuk menggodanya. Lagi dan lagi.

“Kau benar-benar menyebalkan, Kwon!”

Kwon. Nama panggilan yang ia khususkan untukku. Hanya gadis itu yang selalu memanggil nama depanku. Dengan cara yang lucu, aku selalu suka saat suara candunya melantunkan namaku.

Pandanganku tak bisa lepas dari setiap pergerakannya. Memperhatikan penampilannya yang berubah menjadi lebih feminim dengan gaun one piece serta sweter berwarna peach yang membalut tubuh mungil miliknya. Tak terasa, gadis yang dulu urakan tersebut kini berubah menjadi gadis dewasa yang cantik nan elegan.

Selain cara bicaranya yang masih sering berteriak norak dan bertindak tanpa pikir panjang, ku rasa ia bisa berubah menjadi sedikit lebih manis.

“Dan juga sangat tampan. Bukankah begitu?”

Aku mengedipkan sebelah mataku, membuatnya mendecih lebih keras. Aku selalu suka saat-saat ini. Saat aku menghabiskan waktu berdua dengannya, walau hanya untuk sekadar melontarkan candaan konyol yang membuat beragam ekspresi menggemaskan di wajah mulus tanpa cela miliknya.

“Percaya diri sekali kau!”

“Jangan menyangkal kenyataan, Dee.”

Anggaplah pula itu panggilan spesial hanya untuknya, untuk gadis bermanik hazel yang selalu berpendar terang saat menatap. Manik favorit yang ku gilai hingga detik ini. Park Sandara.

Ia mencebik, “Sedang apa kau di sini?”

Tanganku terangkat untuk menunjukkan buku yang sedang ku baca. Saat ini aku sedang berada di taman belakang kampus. Tempat menyenangkan yang selalu menjadi favoritku untuk berdiam diri dan menghabiskan waktu setelah kelas selesai. Tenang dan sejuk dengan pohon rindang yang mengelilingi. Musim semi telah tiba, menambah keindahan tempat ini dengan bunga-bunga yang bermekaran.

Namun seindah apapun bunga bermekaran di musim semi, gadis ini tetap menjadi pemandangan yang lebih indah dan mengagumkan untuk dipandangi. Katakanlah aku menggelikan, namun aku hanya sedang berusaha jujur untuk kali ini.

“Tak cukupkah waktu yang baru saja kau habiskan di kelas untuk mempelajari materi? Aish, teruslah hidup dengan tumpukan buku-buku membosankan itu hingga menua!”

Aku tertawa, ia selalu saja mengomel jika berhubungan dengan hobiku yang satu ini, “Kau sudah menyelesaikan kelasmu?”

“Tentu saja.”

“Tak membolos lagi?”

Maniknya berputar malas mendengar sindiranku akibat salah satu hobinya ketika suntuk dengan rutinitas kuliahnya. Meninggalkan kelas demi mengunjungi deretan toko perbelanjaan di pusat kota.

“Tidak, Kwon. Bagaimana bisa aku melewatkan kelas Profesor Kim? Aku akan langsung ditendang dari kelasnya jika ketahuan membolos.”

Aku kembali mengalihkan perhatianku pada buku lalu menggumam sesaat, “Baguslah. Sudah seharusnya kau hadir dalam setiap kelas.”

“Dasar pria sok rajin!”

Aku tersenyum mendengar ocehannya. Rasanya sudah lama kami tidak bercengkrama seperti ini. Ya, akibat rutinitas kuliah yang sialannya menyita waktu mahasiswa semester akhir layaknya aku dan Sandara.

“Kau mengabaikanku? Setelah sekian lamanya kita baru bertemu kembali kau berani mengabaikanku, Kwon?”

Aku menoleh, mendapati tampang masamnya. Aku lupa. Ia memang terlalu benci untuk diabaikan.

“Buku itu lebih menarik dibanding kehadiranku, huh?” ia kembali bertanya dengan nada kesalnya.

Bagaimana mungkin ia meminta disandingkan dengan buku? Dengan benda mati yang tak ada apa-apanya? Demi Tuhan! Gadis ini terlalu kekanakkan. Sudahkah aku bilang bahwa kehadirannya lebih menarik dibanding apapun?

Mianhae,” ucapku menyesal seraya menutup buku dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

Sandara selalu menginginkan perhatian yang berlimpah. Baiklah, maka kini akan ku fokuskan seluruh perhatianku pada gadis mungil nan menggemaskan tersebut.

“Tak rindukah kau padaku?”

Deg!

Satu pertanyaannya membuat jantungku hampir melompat dari tempatnya. Pertanyaan singkat dan sama sekali tak terduga yang mengalir ringan dari bibir cherinya yang kini terlihat lebih menggoda dengan sapuan lipstik merah muda di permukaannya.

“Bagaimana bisa aku tak merindukan gadis kekanakkan seperti dirimu, Dee?”

Sandara memberengut lalu sedetik kemudian memukul pelan punggung tanganku. Ia yang sudah tahu betul akan maksudku hanya bisa tersenyum setelahnya. Senyum sehangat sinar mentari pagi. Sangat menenangkan.

“Aku juga merindukanmu, Kwon.”

Sedetik kemudian aku kembali dikejutkan dengan pergerakannya yang tiba-tiba mendekat ke arahku, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.

“Dee?”

“Biarkan seperti ini. Sebentar saja,” Sandara makin menyamankan posisi kepalanya, “Aku benar-benar muak dengan kelas Profesor Kim. Ia bahkan memberiku tugas lagi untuk minggu depan.”

“Itu artinya kau mempunyai pekerjaan selama seminggu ke depan hingga tak harus menyambangi butik langgananmu.”

“Oh Kwon, tingkat akhir ini benar-benar membunuhku secara perlahan.”

Tanganku dengan berani menyentuh pundaknya, mengelus perlahan dan menepuknya, berusaha memberikan kenyamanan pada Sandara, “Kau pasti bisa melewatinya, Dee. Kita pasti bisa melewatinya bersama.”

Ia mengangguk perlahan lalu membenarkan posisinya untuk duduk kembali. Maniknya memandangku dengan jarak kami yang cukup dekat, “Meskipun aku bodoh dan malas, kita akan lulus bersama, kan?”

Aku kembali terkekeh dengan raut wajahnya yang terlihat amat serius, “Tentu saja harus. Ingat, jangan terlalu sering membolos. Arrasseo?”

Sandara terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk patuh. Gadis penurut. Tanganku terangkat untuk mengelus surai lembut kecokelatannya. Merapikan sedikit rambutnya yang berantakan akibat diterpa angin hangat musim semi. Aroma menyegarkan tercium dari rambut indah nan terawatnya. Mint. Membuatku meresapinya seraya memejamkan mata untuk sesaat.

Lengkungan cantik menghiasi sudut bibirnya, menampilkan deretan gigi putih nan rapi yang berbaris di sana. Matanya berbinar, membuatku seakan mampu menyelami pandangan menghanyutkannya tersebut.

Astaga, tak bisakah aku menghentikan perasaan liar ini untuk terus bertumbuh besar setiap harinya?

Ting!

Satu pesan masuk di ponsel putih miliknya, membuat ia segera mencari benda kotak itu di dalam tasnya. Walau aku tak melihat isi pesan tersebut, namun aku sudah tahu betul akan sang pengirim. Hanya pesan dari orang itu yang mampu membuat Sandara terlonjak kaget dan menampilkan rona merah di pipinya.

Salah tingkah.

“Dong Hae?”

Ia mengangguk cepat dengan senyum penuh arti. Ya. Pria itu. Kekasihnya.

“Terima kasih karena membuat hariku lebih baik, Kwon.”

Senyum kembali menghiasi wajahku, namun kini diiringi dengan kedutan nyeri di ulu hati. Haruskah aku ikut senang ketika mendapati kenyataan bahwa aku menaruh perasaan sinting ini pada sahabat masa kecilku? Terlebih kini ia telah memiliki pria lain di sisinya?

“Sampai bertemu besok, pria menyebalkan!”

Tangan mungil itu terangkat untuk mencubit pipiku. Menarik-nariknya dengan gemas, dan aku hanya bisa meringis kesakitan akibat ulahnya tanpa sanggup melawan. Sandara tertawa puas setelahnya. Tawa menyenangkan yang renyah untuk didengar. Bodohnya, aku menikmati ini. Menikmati ia yang memperlakukanku hanya sebagai sahabat prianya. Tak lebih dari itu.

Langkah riangnya menjauh dengan lambaian tangan yang terarah padaku. Ia tersenyum, dan aku sama sekali tak bisa mengabaikannya dan membalas senyuman serta lambaian tangannya bagai pria dungu. Ia meninggalkanku. Lagi. Entah untuk yang keberapakalinya demi pria lain.

Aku sudah jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Park Sandara yang tak dapat ku tampik. Anggaplah aku sebagai seorang pengecut, karena memang begitu pada kenyataannya. Selagi ia masih sudi untuk menemuiku dan menampilkan wujudnya untuk berada dalam jarak pandangku, maka itu sudah cukup bagiku. Aku tak ingin merusak hubungan yang terlalu sempurna di antara kami. Sebuah hubungan persahabatan yang nyaman bagi kami berdua.

Meski Sandara tak tahu akan perasaanku yang sesungguhnya, melihat ia menemukan kebahagiaannya bersama pria lain dirasa sudah cukup bagiku. Ya, aku memang sinting, namun aku akan selalu mengawasinya. Terutama dengan pria yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu. Dong Hae.

Jika ia berani menyakitinya, maka aku tak akan segan-segan untuk membuat pria itu menjauh hingga bahkan tak bisa menyentuh sehelai pun rambut milik Sandara. Layaknya beberapa pria lain sebelumnya. Gadis itu terlalu berharga. Bahkan aku selalu memperlakukannya dengan hati-hati, seolah ia seorang bayi besar yang rapuh. Saking berharganya, maka aku tak akan sanggup menyakitinya. Sekalipun itu dengan sebuah pernyataan singkat yang mungkin saja terlontar tak sengaja dari bibirku.

Pernyataan tentang rasaku yang terlampau besar untuknya, misalnya?

.

.

.

–END–

*****

Note:
Inspired by : Zico – She’s a Baby

 

Advertisements

7 thoughts on “SHE’S A BABY [Oneshoot]

  1. Kirain ini nyeritain anaknya daragon wkwkw tapi ini rare bgt sih authornya ga ksh genre yg kejam2😁
    Jadi jiyong terjebak sama hubungan masa kecil jd ga bisa blak2an sama perasaanya, tapi tulus bgt perasaannya sama dara, sampe tetep senyum walaupun ditinggalin huhuhu😢
    Ditunggu mea culpa nya thor hehe fighting!!💪

  2. Kiraen mreka pcran..
    Ternyata ..zonk
    Saqt.a jd jiyong ..
    Sequel jusheoo ..
    Bkin mreka jadiian qtuu ..
    D.tunggu sllu ff nya..

  3. udah ku duga pasti mereka gak pacaran,, tpi mskipun tau mreka ga pcaran tetep aja ngerasa nyesek pas baca dara dpt pesan dari donghae.. duhhhhh sabar ji, sbelum janur kuning belum melengkung kau masih punya kesempatan. yaa skrg sahabat mngkin nnti sandara jdi teman hidupmu eakkkk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s