[Ficlet] Pamit

pamit

P A M I T

.
 || Sad, Romance, Hurt ||
.
|| Kwon Jiyong and Park Sandara ||
.
.
.
Melepaskan memang sangat sulit bagi Dara. Jiyong pamit tapi Dara masih terenyuh akan pesonanya

.

.

.

Tulus – Pamit, check this sound!

*

*

*

*

Sepasang merpati hinggap merapat tepat pada tangkai oak yang tersendu tanpa mampu mencampakan sang angin. Detik berselang, senja masih mengalun merdu dengan rentetan dedaunan yang siap terjatuh menyapa tanah. Begitu merintih, tak usai sebuah latar belakang tempat Jiyong dan Dara termenung hendak tersisih semudah Jiyong merentangkan kedua tangannya di antara kesunyian.

“Bagaimana menurutmu dengan musim gugur ini?”

Dara memecahkan kesunyian. Kurva pada bibir tipisnya sekelebat merekah dalam hitungan seperkian detik. Gadis ini memang bukan seorang yang ikut terenyuh dalam ketenangan yang selalu Jiyong berikan, lantas kedua manik mata hazelnya berbinar manja berharap menyesap sebuah kerangka kata yang akan Jiyong lontarkan.

“Musim gugur yang sama seperti hari-hari sebelumnya, Dara. Kau tahu arah pembicaraanku ‘kan?”

Mengedarkan arah pandangannya, Dara menerbangkan segala ekspektasinya akan sosok Jiyong. Ia tersenyum kecut, namun tak dapat dihentikan matanya masih enggan beranjak akan pesona pria yang masih sulit meninggalkan ruang dalam hatinya.

Jika kau memikirkan untuk Dara menangis, hal itu tidak mudah jika Jiyong berada di sampingnya. Pria ini menjadi sosok penenang, candu memabukkan, namun sarat akan kebohongan dari semua hal yang coba Jiyong tutupi secara normal untuk gadis yang ia jaga hatinya sejauh ini.

“Ji, bagaimana harimu?”

“Aku? Hari ini? Kau tentu tahu semuanya, Dara.”

Jiyong tak berbohong. Hari ini justru menjadi hari yang dirasakan amat panjang seumur hidupnya, lagipula apa yang akan seorang pria harapkan jika tidak ada bahan bicara yang bisa dirasakan jarum jam panjang terasa amat lambat.

Jauh dari manik mata yang terus Dara tatap dengan dalam, pria itu tahu betul maksud dari pertanyaan yang sengaja Dara berikan. Memang sepanjang hari, Jiyong dan dirinya saling memakan waktu mereka bersama mulai dari menonton pertandingan baseball yang digemari Jiyong siang tadi, dan sore ini giliran Dara yang memaksanya duduk berdiam di antara hamparan rerumputan hijau dengan pohon oak tua di antara mereka –tempat yang terus memutarkan memori indah.

“Ji, bagaimana kabarnya?” di sana, nada Dara begitu sesak untuk menyuarakan pertanyaan bodohnya sendiri.

Gadis bersurai hitam sepekat malam itu kini lebih memilih menghela napas gusar dalam pertemuan kedua mereka –saat Jiyong tak menanggapinya. Pria yang menyesap harum senja di sampingnya masih terpaku pada smartphone tanpa hendak bermaksud mengubris pertanyaan yang Dara berikan.

“Kau tahu, Dami Unnie menjadi mata-mata bagi pihakku.” Dara terkekeh hambar namun Jiyong tak beranjak menghentikan aktivitas smartphonenya. “Kau kalah, Ji.” Gadis itu melanjutkan dengan suara lirihnya dan di sana Jiyong baru melirik ke arahnya dalam diam.

“Dara, Chaerin hanya temanku dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan pada alasan yang aku berikan dua minggu yang lalu –alasan akan hubungan kita.” Pria itu berdiri, menaruh satu lengannya ke dalam saku jaket lalu berjongkok tepat di hadapan Dara yang menundukkan kepalanya dengan dalam. “Kau menangis? Jangan menangis, aku di sampingmu sekarang.” Jiyong melanjutkan dan dengan itu wajah sendu Dara menyembul, menatapnya dengan nanar namun Jiyong memberikan senyum hangat sebagai candu obatnya.

“Ji, aku tahu ada kebohongan yang kau berikan dan alasan ini pasti ada tokoh lain dari cerita kita bukan?”

“Dara, kau-”

Jiyong tersentak saat Dara menghamburkan tubuh kearahnya. Manis bibir gadis itu masih sama dan kerap kali ia rindukan walau dalam hitungan detik ia rasakan. Dentuman dalam dadanya pun masih berirama indah di sana. Wajah dan aroma tubuh Dara menjadi primadona bagi Jiyong, tapi pria itu tengah berada dalam fase yang sulit untuk dipahami Dara.

Berjarak beberapa inci, Dara memejamkan kedua matanya dengan lelah, sedang lengannya masih memeluk tubuh Jiyong dengan rapuh seolah sandaran yang ia perlukan ada di sana. “tapi kenapa aku masih sulit untuk mempercayai kebohonganmu Ji, aku masih belum bisa menerima keadaan.” Gadis itu melanjutkan saat Jiyong membiarkan Dara memeluk tubuhnya dalam senja yang kian menggelap.

Jiyong terdiam. Pandangan matanya meneduh lurus kearah Dara yang justru berbanding menatapnya dengan nanar. Menghela napas seolah bebannya bisa ikut terbawa bersama angin, Jiyong mengelus lembut surai Dara yang dulu sangat ia rindukan tiap detik napasnya berhembus.

Sandara Park, pemilik nama itu menjadi gadis yang masih mencintainya dengan sangat bahkan Jiyong tak bisa menghindar akan kenyataan menyakitkan baginya untuk dicintai oleh seorang gadis yang tengah ia coba untuk lepaskan.

“Dara, aku tidak bisa untuk melanjutkan hubungan ini. Jika kau berpikir keras bahwa Chaerin menjadi penyebabnya … kau hanya dimakan emosimu dan alasanmu tidak bisa menerima keadaan hanyalah karena tidak mempercayai hubungan lain yang akan terjalin di antara kita.” dengan teduh, Jiyong berbicara kearah Dara yang kini menatapnya dengan sebuah pertanyaan lain di raut wajahnya.

“Ji, aku tidak bisa mencampakanmu tapi apa kau akan melakukan hal yang sama sepertiku?” Dara berdiri, membiarkan siluetnya terlukis jelas di antara hamparan rerumputan yang menaru lembut saat mentari hendak bertemu dengan peraduannya.

“Percayalah, kita sama-sama pernah memperjuangkan. Lalu bagaimana bisa aku mencampakan seorang gadis cantik yang pernah mengisi ruang hatiku dalam waktu yang cukup lama?”

Keduanya terdiam. Memikat sunyi setelah detik berselang saat malam hendak menguar udara baru, sama halnya seperti sebuah langkah yang kelak akan mereka terima. Jika sebuah airmata yang terbelenggu itu tak dibiarkan menganak pada permukaan pipi, rasa sesal itu tiada henti dilepas. Dara mencoba belajar, merelakan sama sulitnya untuk menjaga hubungannya seperti dulu dan Jiyong memberikannya waktu, waktu terbaik yang ia berikan untuk memperteguh hati Dara tanpa perlu diombang-ambang oleh ombak lain kelak.

*

*

*

*

 fin
Author Note :
Terlalu memaksa? Huh, semoga gak terlalu mengecewakan yah.
Hi, Pinda 96 Liner!
Sorry kalo ada typo hehe, ficlet ini sudah pernah diposting sebelumnya dengan penggunaan nama tokoh yang berbeda ^^
Advertisements

12 thoughts on “[Ficlet] Pamit

  1. huahhh…jdi baper kak.
    kok ji ngelepasin dara gti sih kan pdhal mereka masih sama2 cinta.
    trs itu dara nyangkanya ji ngelepasin dara gegara cl kan? tpi ji bilang bukan.

    ookk….ditunggu karya2 ff yg lainnya kak…fighting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s