[Part 7] My Crazy Neighbor : Conflict

my-crazy-neighbor--haru-pandaAuthor : Haru & VA Panda|| Title : My Crazy Neighbor || Genre : Comedy, School life, Romance, Drama || Starring : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jang Kiyong, Mizuhara Kiko, Stephanie

.

.

“Sandara-ssi,”

“Ne?”

“Apakah kau menyukai Kwon Jiyong?”

Pipi Sandara berubah menjadi kemerahan saat Kiyong menanyakan hal yang sangat tidak masuk akal itu. Ia sampai tersedak saat selesai menelan roti yang baru saja akan melewati kerongkongannya. Kiyong tersentak kaget dan spontan memberikan air mineral kepada Sandara.

“Sandara-ssi, kau tidak apa-apa?”

“Omona, Kiyongie!” Sandara tertawa sangat keras yang membuat Kiyong diam dan keheranan melihat tingkahnya.

“Omo … omo, mengapa kau tiba-tiba menanyakan pertanyaan bodoh yang bahkan telingaku pun sampai kesakitan untuk mencernanya.” Ucap Sandara masih tertawa

“Tentu saja tidak!” Ucap Sandara lantang. “Mengapa aku harus menyukai siluman katak rawa yang sok tampan itu, aigoo terkadang selera humormu sangat receh, Jang Kiyong.”

Kiyong tersenyum kaku dan menundukkan kepalanya memutar-mutar botol mineral yang ada ditangannya. Sandara menghapus air mata kegeliannya dan menatap ke arah Kiyong.

“Ya, Jang Kiyong, wae?”

“Huh? Oh, hahaha Ani, aku hanya penasaran saja karena kalian begitu dekat. Mungkin menurutku dia menyukaimu.”

Sandara terdiam sejenak dan masih menatap Jang Kiyong. Bibirnya mengatup erat menahan tawa yang sukses membuat Kiyong kali ini benar-benar tidak mengerti kepribadian gadis di depannya ini.

“Puahahaha, mwoya!” Ucap Sandara sembari memukul pundak Kiyong. “Jang Kiyong berhenti membicarakan hal yang bahkan tidak dapat ku dengar dengan baik. Karena telingaku sangat sangat bermusuhan dengan Jiyong. Ia pernah menggigitnya hanya karena aku berusaha mengambil komik miliknya saat itu. Telingaku yang malang.”

“Tunggu, apa kau cemburu padanya Kiyongie?”

Kali ini Kiyong tertawa keras yang diikuti oleh Sandara. Suasana kantin saat itu dipenuhi tawa keduanya.

*

*

***

*

*

Hari ini benar-benar hari yang rumit untuk Sandara, sampai ia melupakan dance competition dan tatapan rendahan kelompok tiang penyangga Stephanie dan kawan-kawan.

Aish jinjja! Bagaimana aku bisa latihan dengannya jika keadaan kami sekarang seperti ini?” Gerutu Sandara sembari menjambak rambutnya pelan.

“Ah! Apa aku beri dia hadiah sekotak susu coklat dan kue berbentuk hati? Lalu memakai kostum bidadari dan mengetuk jendela kamar seperti peri dalam pinokio, lalu kami berbaikan?” Ucapnya sambil berputar-putar diatas kasur lalu terduduk memegang kedua tangan persis seperti putri kesepian.

“Mwoya! Bodoh sekali kau Sandara jika kau berani melukai harga dirimu untuk siluman katak sepertinya. Aku tidak akan melakukannya!”

*

*

***

*

*

Dara POV

Baiklah, harga diriku akan lebih tersakiti jika hanya berdiam diri dan akhirnya kalah dari para nenek sihir jahat itu. Aku akan mengalah pada Jiyong kali ini saja. Jika dia menolak untuk berdamai denganku akan kuhabisi dia bahkan tak akan aku biarkan dia berani mengangkat kepalanya didepanku.

“Hahahahaha Sandara Park, jjang!”

Bersamaan dengan fantasi liarku, aku segera turun ke bawah untuk melihat keberadaan kue berbentuk hati yang dibeli Durami untuk kekasihnya. Tepat dugaanku Durami tiba-tiba menjadi anjing patroli yang menjaga harta karun yang berharga.

Nae dongsaengie~ aku pinjam sebentar kuemu, eo? nanti akan ku ganti eonni janji padamu. Jebal Durami.”

“Ya eonni, bagaimana makanan dapat dipinjam? lalu bagaimana aku akan memberi ganti pada Song Mino, kekasihku!”

Aku berpikir sejenak sembari menyentuh batang hidungku diantara alis-alis mungil yang penuh karisma, memang kebiasaan ini tak dapat kuhilangkan saat aku berpikir maupun saat aku merasa tertekan dan merasa pusing.

“Berikan ia pelukan hangat saja, biasanya lelaki menyukai itu.” ucapku sambil memeluk diri sendiri dan merasakan kehangatan tak terlihat menyusup tubuhku.

Mwo?”

Aigoo kau adikku, andwae! Jangan sesekali melakukan itu tanpa pengawasanku, ara?”

Durami menatapku kesal dan bingung, ia mengambil potongan kue kecil sisa ia merayakan ulang tahun temannya dan memberikannya padaku.

Eonni ingin memberi kue itu untuk Jiyong oppa, bukan?” Ucapnya dengan senyum yang entah mengapa sangat menjengkelkan. Aku mengangguk pelan dan menggaruk jidatku tanda aku sangat bingung dengan perubahan Durami nae dongsaeng yang begitu cepat berlalu.

“Berikan saja ini, lalu eonni tambahkan whipped cream untuk membuatnya terlihat baru dan segar, bagaimana?”

“Kau sungguh cerdik, kau hanya menggunakan siasat ini agar aku tidak mengambil kuemu, Aish Jinjja. Kau sungguh licik Durami, sangat bukan tipeku. Arraseo, berikan kuenya dan hiasi whipped cream untukku.”

Durami mengacungkan jempolnya puas dan tersenyum lebar, benar-benat licik rubah satu ini. Suara pesan masuk terdengar dari ponsel entah milik siapa dan itu sungguh menganggu, ringtone nya sangat kampungan dan ketinggalan jaman.

Eonni kau tidak ingin tahu itu dari siapa? Ponselmu terus berbunyi dan itu sangat mengganggu!”

Mwo? Itu bukan milikku! Ah tunggu… “

Apa ini perbuatan si katak rawa itu? tapi bagaimana ia dapat menjangkau ponselku? Keadaan sangat serius saat itu. Jang Kiyong?

“Ini pesananmu nona, berikan ini pada jantung hatimu disebelah rumah kita niscaya kau akan hidup bahagia selamanya.”

Mwoya, siapa yang ingin hidup bahagia bersamanya. Berikan padaku dasar rubah licik.”

Durami terkekeh kejam dan mendorongku pelan sampai menuju ke depan pintu, rencanaku untuk menjadi peri cantik tidak akan aku laksanakan mengingat ia pasti tidak akan membukakan jendela untukku walau aku mengetuknya sampai pecah.

Aku berjalan menuju kediamannya sampai sesaat dari kejauhan aku melihat Kwon Jiyong si katak rawa sedang berjalan dengan Kiko. Dengan sigap aku kembali dan menyembunyikan diriku dibalik pagar rumah.

Dengan senyum di wajahnya Jiyong membukakan pagar untuk Kiko dan membiarkannya melewati pagar itu terlebih dahulu. Kiko tersenyum dan menundukkan kepalanya terlihat malu. Aish, pemandangan macam apa ini. Apa aku sedang melihat drama percintaan secara langsung? Membuatku kesal saja. Si katak rawa itu tidak pernah berlaku manis padaku bahkan saat aku memintanya pura-pura jadi pacarku saat dikejar oleh adik kelas gila sewaktu SMP.

“Apa yang mereka lakukan di dalam? Dan apa yang aku lakukan di sini? Aah! Ini sungguh gila!”

Jika aku kembali kerumah aku akan melukai hati adik kecilku karena gagal memberikan kue sisa ini, aku akan terus maju! Perlahan namun pasti, aku melewati pagar rumah Jiyong yang tidak terkunci dengan kue penuh whipped cream di tangan kiriku. Aku berjalan menunduk dan menuju ke bawah jendela.

Hah, Dara-ya apa yang kau lakukan? Sudah terlambat memikirkan itu paboya.

Aku sedikit mengintip dibalik jendela yang tirainya tidak tertutup. Pemandangan drama percintaan itu kembali terjadi. Ige Mwoyaaa!! Sejak kapan Kwon Jiyong memiliki sisi kejantanan seperti itu. Aku tak tahan melihatnya, ia bahkan sangat dekat dengan Kiko.

Oh, dia melihat ke arahku! Apa ia menyadari kehadiranku? Dengan secepat kilat aku sembunyi dibawah jendela dengan jantungku yang tak terkendali. Saat kurasa keberadaan sudah aman, aku kembali menyembul dibalik persembunyianku.

“Tertutup…. Tirainya tertutup! Apa yang mereka lakukan sampai menutup tirai seperti itu? Bagaimana dengan Dami eonni? Bibi? Ah, mereka pergi menemui appa di Busan, Yaaaak!” ucapku dengan nada berbisik.

Aku sudah tidak tahan dengan keadaan ini, akan ku beri pelajaran si katak rawa itu. Mengapa ia menjadi sangat mesum, dan dengan Kiko teman terbaikku. Tidak akan ku beri tempat aman untuknya.

“Yaaa! Kwon Jiyong buka pintunya, apa yang kau lakukan didalam?!”

Tak ada jawaban dan pintu tak terkunci. Dikamar? Yaaa Kwon Jiyong mati kau kali ini!

Dengan segera aku menaiki tangga menuju kamarnya, pintu kamarnya terbuka lebar. Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah, Jiyong mendekatkan kepala yang tidak ada isinya itu mendekat pada wajah Kiko.

“YAAAA!” dengan sigap aku menghentikannya dan melemparkan kue penuh whipped cream ke arah lelaki mesum ini.

“Omo,” Kiko tersentak kaget saat melihatku, ya dia memang seharusnya begitu karena aku berusaha menyelamatkannya.

“Kiko-ya apa yang kau lakukan! Mengapa kau mau saja diperdaya oleh lelaki mesum ini?!” Ucapku sambil berteriak dan menggoyang-goyangkan badan kecil Kiko untuk membuatnya sadar.

Ani, Dara-ya. Ia hanya ingin meniup mataku yang kelilipan karena melihat kado natal yang kau berikan untuk Jiyong-ssi. Ternyata itu mainan jebakan yang menyemburkan air bukan?”

“Eo…..”

Jiyong yang terduduk dikasurnya melihat geram ke arahku dengan whipped cream yang bahkan tidak ia singkirkan dari wajahnya. Sungguh menyeramkan.

G-Dragon POV

Gadis gila itu tertangkap oleh mataku seolah bertingkap sebagai agen FBI. Heol, mana mungkin dengan otak yang bahkan sangat aku ragukan di kepalanya itu, Dara bisa dengan kasat mata memataiku yang seperti dianggap musuh nomor satu di dunia olehnya!

Aku hanya menebak sebenarnya tapi sembilan puluh sembilan persen tebakanku pada kedatangannya yang tiba-tiba ini pasti benar. Chihuahua dengan otak dangkalnya pasti berpikir beribu akal mesum di otaknya mengingat tidak ada seorang pun di dalam rumah ini, hanya aku dan Kiko.

Entah sudah berapa tahun waktu yang aku habiskan dengan Dara tapi seharusnya Chihuahua itu tidak berpikir buruk tentangku. Ayolah, aku bahkan tidak sengaja bertemu dengan Kiko saat di toko kaset dan gadis itu memerlukan bantuan untuk setidaknya menyelamatkan nilai ujiannya besok lusa.

Wakatta!” Aku berdesis dan sebuah senyum simpul penuh arti menarik salah satu ujung bibirku.

“G-Dragon-ssi, apa kau mengatakan sesuatu?” Kiko bertanya dengan kebingungan setelah sebelumnya ia terus mengedarkan kedua mata di sekitar dinding ruang tamu rumahku.

“Aniya, aku tidak mengatakan apapun,” balasku dengan tersenyum dan yang gadis setipe seperti Kiko lakukan hanya tersenyum dengan amat sopan.

Demi Zeus yang agung! Kiko sungguh membuat pria manapun merasakan kehangatan di sekitarnya. Anggun dan juga sopan sudah sangat jelas dimiliki oleh gadisnya sekalipun kami tidak terlalu dekat dibandingkan dengan sikap sembrono dan kelakuan primata seperti Sandara Park.

“Kau sangat dekat dengan Dara?” Kiko bertanya sembari salah satu lengannya memegang bingkai foto Aku dan juga Dara yang tengah memakan lollipop saat taman kanak-kanak.

Well, seharusnya Kiko sudah banyak tahu tentang kedekatan kami mengingat Dara dan dirinya sudah berteman cukup lama tapi bagiku hal itu tidak terlalu berlaku karena bagaimanapun Dara memiliki karakter yang tidak akan bercerita banyak pada teman yang bukan satu klan dengannya, sebut saja Bom salah satu klan yang sama seperti Dara.

“Ya, kedua orangtua kami menjalin hubungan yang baik saat pertama kali Dara pindah di perumahan ini jadi karena itulah aku selalu disatukan dengannya.” Jawabku dengan sedikit menggosok tengkuk leher dan berbalik ke belakang tepatnya ke arah jendela.

“Tertangkap!” Bisikku pada diri sendiri dan entah mengapa kakiku melangkah menuju jendela, menutup tirainya. “Kau selalu saja ingin tahu,” sambungku.

“G-Dragon, ada apa? Mengapa kau menutup tirainya? Apakah ada sesuatu?”

Aku menggeleng ke arah Kiko dan memegang bahunya untuk memutar balikkan tubuh kecilnya. “Kau ingin mempelajari materi matematika kemarin bukan? Baiklah, kita naik ke atas dan mengambil catatan di kamarku.”

“Ka-kamarmu?” Ujar Kiko dengan terbata.

Aku mengangguk dan sekilas melirik ke arah jendela dengan memperlihatkan siluet kepala Chihuahua yang langsung berdiri.

“Dasar bodoh, seharusnya dia meninggalkan persembunyian secepat yang ia bisa.” Aku berdecak juga berkata dalam hati.

“Kiko, kau langsung saja menuju kamarku diujung sana. Ada hal yang perlu aku lakukan dan mungkin membawa sedikit camilan untuk tamu sepertimu.”

“Ah, eoh, baiklah.”

Setelah memastikan Kiko berjalan ke arah kamarku, lantas aku kembali turun ke bawa dan berlari dengan berusaha tanpa menimbulkan suara seolah sedikit frekuensi suaran sangat mengancamku.

Aku menuju pintu depan dan membuka kunci untuk memastikan Chihuahua itu bisa masuk dengan mudah karena aku tidak yakin rumahku akan baik-baik saja jika akal bodoh mungkin terbesit dalam kepala Dara untuk hanya masuk ke dalam rumahku.

“Baiklah, setidaknya aku bisa memastikan pintuku tidak akan dirusak olehnya.” Ujarku dan kembali menuju ke kamar juga sebelumnya membawa beberapa makanan.

Aku bersiul dan membiarkan otot mukaku berolahraga dengan tawa. Seorang Sandara memang cukup sulit ditebak, tapi yang ada dipikiranku tentu gadis itu akan bertingkah konyol selayak hidupnya hanya diisi dengan kekonyolan yang entah diperhitungan sebagai normal atau dibatas normal.

“Kiko, jangan!” Aku berteriak nyaring dan buru-buru menaruh makanan yang aku bawa di meja.

Aku terhenti saat hadiah natal yang diberikan Sandara sewaktu kami SMP itu berhasil menyemburkan air ke arah wajah Kiko.

“Omo, maafkan atas kelancanganku.” Gadis itu berkata dengan sangat bersalah.

Aku sekilas menengok pada tumpukan kotak hadiah natal yang sengaja aku simpan di bawah meja belajar. Ya, entah barang-barang itu bisa dikategorikan sebagai hadiah karena disana memang terdapat banyak ranjau selain mainan yang tengah Kiko pegang di lengannya.

“Apa kau baik-baik saja?”

Aku sangat ingat dengan jelas. Salju pertama yang turun mendekati natal, Sandara menjadi orang pertama yang memberikanku hadiah natal. Aku tidak menolaknya bahkan hadiah yang Sandara berikan menjadi hadiah pertama yang aku terima. Senang, tentu hal itulah yang aku rasakan namun aku segera mengurungkan niatku untuk balas memberikan hadiah indah untuk Sandara saat menyadari bahwa ia hanya memberikan jebakan.

Kini aku melihat mata Kiko yang terus terpejam, sepertinya jebakan itu tepat mengenai mata coklatnya. “Kiko-ssi, apa kau baik-baik saja?”

Kiko hanya memejamkan matanya dan lantas yang aku lakukan berusaha membuat matanya membaik dengan meniupkan mata ke arahnya.

“YAAAA!”

Aku mendengar suara teriakan Chihuahua. Menggangu pendengaranku saja. Aku berbalik menengok ke arahnya dengan gusar tapi gadis gila itu justru memberikan kue yang penuh dengan whipped cream. Dara mendorongku dengan kekuatan bantengnya ke arah kasur seolah mengusir aku layaknya kotoran yang harus jauh dari jangkauannya.

“Omo,” Kiko tersentak.

“Kiko-ya apa yang kau lakukan! Mengapa kau mau saja diperdaya oleh lelaki mesum ini?!” Chihuahua itu kini berulah.

Bertingkah seperti seorang penyelamat, ia menggoyangkan tubuh Kiko seolah berada dalam film yang setiap malam aku tonton. Ia menatapku seolah aku adalah penjahat dan berbalik menatap Kiko seolah ia adalah tawanan.

Ani, Dara-ya. Ia hanya ingin meniup mataku yang kelilipan karena melihat kado natal yang kau berikan untuk Jiyong-ssi. Ternyata itu mainan jebakan yang menyemburkan air bukan?” Kiko menjelaskan dan Dara memperlihatkan wajah tanpa dosa dengan penuh kebingungan.

“Eo…..”

Aku masih terduduk di kasur dengan wajah penuh whipped cream. Menatap ke arah Dara dengan mata menusuk bahkan sampai ingin mengulitinya detik ini juga!

“KELUAR DARI RUMAHKU!”

*

*

***

*

*

Sandara terperanjat dengan teriakan Jiyong. Ia sempat melompat sebelum akhirnya memundurkan langkah dan semakin mengimpit pada Kiko. Air mukanya sangat jelas kalau ia ketakutan dengan wajah menyeramkan yang Jiyong perlihatkan padanya.

“Apakah kau bisa menjelaskan kenapa kau meleparkan kue itu tepat pada wajahku?!”

Sandara diam dan mengaduh ketakutan. Ia menundukkan kepalanya seperti bertingkah saat anak dimarahi ibunya. Gadis itu menunduk terlewat dalam dan yang ia lakukan justru tak banyak setelah Kiko memegang bahu untuk sedikit membuatnya tidak tegang. Saling menubrukkan kedua jari telinjukknya dengan terus diam menunduk, Sandara akhirnya mulai membuka suara. “Anu… Ji, itu..”

“YA! Apakah kau berpikir aku akan membuat hal mesum sebelumnya?!”

“Bagaimana kau tahu?”

Heol, kau bahkan jauh terlihat lebih mesum dibandingkan denganku, Dara!”

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!”

“YA! KENAPA KAU BERTERIAK PADAKU!”

Sandara mengantupkan mulutnya secara refleks namun mata gadis itu tak kalah sinis dengan tatapan mematikan yang Jiyong pusatkan padanya. Kiko yang berada di antara mereka hanya diam membatu tanpa berbuat banyak ia hanya melihat pertingkaian mata antara Jiyong dan juga Dara.

“Aku masih menunggu jawaban atas tindakan tak mengenakan yang kau berikan padaku, Dara.” Jiyong berujar dengan muram. Suaranya terdengar menakutkan sepekat malam. Pria itu menatap Sandara tanpa sedikitpun mengapus whipped cream di sekitar wajahnya.

“Jika kau melihat saat di posisiku, hal itu terlihat kau sedang mencium temanku!”

“Apakah wajahku seperti orang yang akan melakukan pelecehan seksual seperti itu?”

“Ya! Dengan wajah sejelak katak itu kau memang terlihat mesum!”

“MWO?!”

Sandara memutarkan matanya. Ia sangat tidak suka berlama-lama dimarahi oleh Kwon Jiyong. Pertengkaran ini memang bukan menjadi hal yang pertama mereka buat tapi biasanya tidak ada oranglain selain mereka berdua. Kiko, gadis lugu itu diam membatu dengan wajah tegangnya. Ia melirik secara bergantian pada Jiyong maupun Dara dan setelah ia berusaha menenggelamkan keterkejutannya, lengannya meraup sapu tangan di sling bag untuk menyodorkan ke arah Jiyong.

“Kau perlu mengapus whipped creamnya.”

Jiyong menengok ke arah Kiko. Matanya melembut melihat Kiko yang berada di situasi yang tidak cocok untuknya ini justru tersenyum.

Sandara mendecak dengan cukup keras, empat pasang mata akhirnya berhasil menengok ke arahnya.

“Sebenarnya aku bermaksud baik dengan kedatanganku kali ini, tapi aku juga tidak menyangka kalau akan berakhir seperti ini.” Ia berujar dengan cara membuang muka yang justru membuat Jiyong kembali kesal dan sangat ingin membuangnya ke Mars bersama species yang mungkin sesuai dengannya.

“Aku juga ingin mengingatkanmu tentang dance competition.”

“Kau tidak pernah mencoba untuk berubah, Dara.” Jiyong berkata dengan sarkas.

“Huh? Apa kau sekarang berusah menasihatiku?” Tak mau kalah, Sandara melipat kedua lengannya dan melotot ke arah pria yang duduk dengan tenang namun penub aura menyeramkan yang menyelimutinya.

“Kau selalu membuat masalah dan selalu menyeretku di dalam masalahmu.”

“Mwoya? Jika kau berbicara soal permasalahan yang kemarin, hal itu tidak akan terjadi jika kau mau diajak bekerja sama denganku. Lagipula aku tidak pernah menyeretmu, kau sendiri yang datang, bertingkah seperti pahlawan saat Kiyong justru bisa membantuku lepas dari teguran Kepala Sekolah Lee. Aku bahkan tidak pernah bermaksud melakukan seperti itu, hanya saja….”

“Berhentilah hidup seperti parasit untukku.”

Sandara terdiam. Amarahnya memuncak. Ia mengepalkan kedua buku tangannya, membuang muka dan berdesis tak percaya. Kwon Jiyong hanya menatapkan dengan datar setelah mengucapkan hal yang paling mengerikan untuk telinganya.

“Parasit kau bilang?” tanya Sandara sekali lagi dengan tak percaya.

“Mulai sekarang, kau tidak perlu berada dekat denganku. Aku sudah sangat muak mengalami hari yang sangat melelahkan lainnya.” Jiyong beranjak dari duduknya. Ia mengusap wajahnya dan melangkah menuju pintu kamar dengan memegang kenop pintu. “Mengenai dance competition, aku tidak tertarik dengan hal semacam itu.” Sambungnya.

“Tapi Ji, kau yang…”

“Jika soal Stephanie, aku akan melakukan satu hal untuk membuat ia tidak mengganggumu lagi dan kau tidak perlu bergabung dengan club mereka.” Potong Jiyong. Mengarahkan mata pada arah pintu bermaksud membiarkan Sandara keluar dari kamarnya.

“Aku membencimu, katak rawa!” Sandara berteriak dan berlari. Ia berhenti tepat di depan tangga dan menengok ke arah Jiyong yang masih menatapnya dengan datar.

 

 

 

 

 


-To be continue-

<<back  ||  next>>


Trailer Fanfiction :

A/N :
Haru : Temukan misteri dibalik part kali ini, maaf jika kurang memuaskan dan aku sayang kalian chingu-chingu yang baik hati ❤
Pinda : Haru e& yah kayak karakter Dara di ff ini >.< Kalo mau up yang cepat, ditunggu semangatnya lewat komentar kkkk~

 

 

Advertisements

22 thoughts on “[Part 7] My Crazy Neighbor : Conflict

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s