[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #4

cover

Author : Rmbintang

Main Cast : Kwon Jiyong, Sandara Park

Genre  : Romance

.

Chapter 4

.

Dara Pov

Aku sudah dirawat di rumah sakit selama dua hari, dan hari ini dokter sudah membolehkan aku untuk pulang. Jiyong sama sekali tidak menemuiku selama dua hari aku di sini, aku sedikit kecewa karena dia tidak peduli dengan keadaanku namun aku juga merasa bersalah karena mungkin dia tidak menemuiku karena perkataan kasarku malam itu yang mengatakan bahwa aku tidak ingin melihatnya dan diobati olehnya. Jiyong mungkin tidak datang karena aku yang menyuruhnya untuk tidak datang. Tapi sejak kapan Jiyong mendengarkan apa yang aku katakan?

Aku merasa bersalah terlebih setelah aku tahu bahwa Jiyong benar-benar mengkhawatirkan aku saat dia membawaku ke sini.Aku bertanya kepada salah satu suster yang merawatku tentang kejadian malam itu dan suster itu mengatakan bahwa Jiyong terlihat sangat khawatir dan putus asa. Dia bilang itu pertama kalinya dia melihat Jiyong seperti itu dan Jiyong juga membatalkan cutinya setelah mengantarku ke rumah sakit supaya dia bisa mengobatiku.

Aku menyesal karena telah menuduhnya sengaja ingin menyiksaku padahal yang dia lakukan untukku adalah murni karena dia mengkhawatirkan aku. Aku menunggu Jiyong datang ke dalam kamarku karena aku ingin meminta maaf dan berterimakasih kepadanya, namun sampai aku akan pulang batang hidung Jiyong tidak terlihat sama sekali.

“Dara kau yakin tidak ada yang tertinggal?” Tanya Ibuku yang kini sedang menutup resleting tas berukuran sedang yang berisi baju kotorku. Aku yang sedang duduk di ranjang hanya mengangguk. “Baiklah kalau begitu ayo kita pulang!” Katanya lagi sambil membawa tas itu. Aku menurunkan kakiku ke lantai lalu berdiri dan mengikuti ibuku dibelakangnya.

Eomma.” Kataku tiba-tiba membuatnya berhenti berjalan.

“Ada apa?” Tanyanya dengan sedikit khawatir. “Apa kepalamu sakit lagi?” Tanyanya yang langsung aku balas dengan gelengan.

“Aku baik-baik saja.” Kataku sambil tersenyum. “Aku akan menemui Jiyong dulu jadi eomma pergi duluan saja, aku akan menyusul.” Kataku.

“Oh baiklah kalau begitu.” Kata ibuku sambil mengangguk kemudian berjalan lagi. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok Jiyong namun dia tidak terlihat di manapun.

Aku memutuskan untuk bertanya kepada suster tentang keberadaan Jiyong, suster itu mengatakan bahwa Jiyong sedang memeriksa pasiennya jadi aku disuruh untuk menunggu sebentar. Aku menghubungi ibuku dan menyuruhnya untuk pulang duluan karena aku akan menunggu Jiyong dulu.

Aku duduk di kursi tunggu sambil memainkan beberapa game sampai aku merasa bosan. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat lorong di depanku dan saat itu aku langsung tersenyum karena melihat Jiyong muncul dari sana dengan berjalan santai. Setelah Jiyong dekat aku langsung berdiri kemudian tersenyum kepadanya namun dia hanya menatapku dengan dingin kemudian mengalihkan pandangannya.

Senyumku langsung terhenti saat itu karena sedikit kesal dengan apa yang Jiyong lakukan. Aku akan memanggil namanya saat dia lewat di hadapanku namun si brengsek itu melewatiku begitu saja tanpa sekalipun repot memandangku. Sialan! Aku sudah menunggunya selama beberapa lama dan saat akhirnya aku melihatnya dia sama sekali tidak menghiraukan aku. Dia melewatiku begitu saja seolah kami berdua adalah orang asing.

Aku membuka mulutku dengan sedikit tidak percaya kemudian membalikkan badanku untuk melihatnya dan saat itu hatiku seakan diperas dengan sangat hebat saat aku melihat Jiyong merangkulkan tangannya pada bahu dokter cantik yang merawatku lalu pergi berdua dengan dokter itu. Sialan! Jadi benar yang aku pikirkan? Jiyong dan wanita itu ada hubungan spesial?

Aku sangat marah sekarang jadi aku memutuskan untuk pergi lagi dan mengurungkan niatku untuk meminta maaf kepada Jiyong, kepada pria brengsek pengkhianat gila itu. Aku berjalan sambil terus merutuki Jiyong di dalam hati. Aku merutuki mereka berdua. Sialan! Kenapa aku harus sekesal ini hanya karena melihat Jiyong dengan wanita lain? Dara tolong sadarkan dirimu untuk tidak memikirkan lagi si brengsek itu.

***

Satu minggu telah berlalu sejak aku kembali dari rumah sakit dan selama seminggu itu Jiyong sama sekali tidak menghubungiku. Aku kesal setengah mati kepadanya karena dia sama sekali tidak bertanya tentang keadaanku sekarang. Apa dia mengacuhkan aku karena aku sudah tahu bahwa dia dan dokter cantik itu memiliki sebuah hubungan spesial?

“Dara apa yang sedang kau pikirkan?” Tanya Il Woo yang duduk di depanku. Kami sedang bekerja di apartemenku. Masih banyak yang harus kami diskusikan jadi aku memutuskan untuk mengajak Il Woo kerumahku karena aku tidak ingin lembur di kantor. Setidaknya aku bisa lebih bersantai jika bekerja di rumah.

Anni.” Kataku sambil menggelengkan kepala. “Aku tidak sedang memikirkan apapun.” Kataku lagi. “Apa katamu tadi?”

“Menurutmu mana yang lebih bagus?” Tanyanya sambil menunjuk dua buah gambar kepadaku.

“Menurutku yang ini lebih cocok untuk konsep kita.” Kataku setelah berpikir cukup lama.

“Aku juga berpikir seperti itu.” Katanya sambil tersenyum. “Jadi kita putuskan bahwa gambar ini yang akan kita pakai.” Sambungnya lagi yang aku balas dengan anggukan. Kami kemudian kembali mendiskusikan beberapa hal lain yang harus kami putuskan malam ini. Kami bekerja hampir sampai jam sepuluh malam.

Aku sedikit tidak enak sebenarnya karena ada seorang pria didalam apartemenku dijam seperti ini, aku tidak tahu bahwa diskusi kami akan berlangsung lama. Aku memikirkan apa yang akan Jiyong pikirkan jika dia tahu bahwa aku membawa pria lain karena saat kami masih bersama Jiyong sama sekali tidak membolehkan aku untuk dekat dengan pria lain. Dia sangat posesif kepadaku tapi aku suka dengan sifatnya itu karena itu berarti Jiyong benar-benar mencintaiku. Aku sedikit tersenyum ketika mengingat wajah cemburu Jiyong setiap kali aku terpaksa harus pergi dengan klienku.

“Dara.” Seru Il Woo tiba-tiba membuat lamunanku tentang Jiyong menjadi buyar.

“Huh?”Kataku sambil melihatnya yang kini sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.

“Hari sabtu ini kau ada acara?” Tanyanya sambil menatapku. “Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan. Kita bisa nonton lalu makan malam bersama.” Sambungnya sambil tersenyum. “Bagaimana?” Tanyanya lagi karena aku tidak kunjung menjawab.

“Aku belum tahu.” Kataku sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Kau bisa menghubungiku jika kau bisa.” Katanya lagi sambil tersenyum. Aku mengangguk kemudian membereskan berkas-berkas yang berserakan di meja ruang tengah kemudian mengantar Il Woo pulang sampai ke depan pintu.

Aku tahu bahwa ajakan Il Woo tadi adalah salah satu cara dia untuk mendekatiku. Dia mengatakan bahwa dia menyukai saat aku masih berada di rumah sakit, dan jujur saja itu membuatku sedikit canggung jika bertemu dengannya karena aku takut dia akan mengatakan hal itu lagi sedangkan aku sama sekali tidak memiliki jawaban yang tepat jika dia tiba-tiba mengutarakan lagi perasaannya.

Jiyong Pov

Satu hal yang sangat aku syukuri pada masa ini adalah semakin canggihnya teknologi. Karena dengan teknologi yang canggih ini aku bisa mengetahui keadaan Dara dan apa saja yang sedang dia lakukan hanya dengan melihat beberapa akun SNS miliknya. Aku tidak bisa bertanya langsung kepadanya jadi aku menggunakan cara ini untuk mengetahui keadaannya.

Sudah lebih dari satu minggu sejak Dara diperbolehkan untuk pulang oleh Seungkyung. Selama dia berada di rumah sakit aku sama sekali tidak menemui Dara karena aku sedikit kesal setelah melihat Dara dengan pria yang aku lihat bersamanya di sebuah restoran waktu itu. Aku tidak menemuinya karena aku tahu dia baik-baik saja karena aku selalu menyuruh suster yang merawatnya untuk selalu melaporkan kondisi Dara kepadaku.

Aku merindukannya sekarang jadi sudah sejak dua hari yang lalu aku menjadi stalker Dara disalah satu akun media sosialnya. Dia selalu mengupload photo di akun instagramnya sehingga aku bisa tahu apa saja yang Dara sedang lakukan. Aku biasanya selalu bahagia saat melihat photo-photo yang dia upload karena dia selalu tersenyum di semua photo itu, hal yang tidak pernah dia lakukan saat bertemu denganku.

Namun hari ini aku marah dan sangat kesal ketika melihat satu gambar baru yang dia post. Di gambar itu Dara berphoto bersama lelaki yang kini aku tahu bernama Jung Il Woo, namun yang membuatku sangat kesal adalah karena gambar itu di ambil di apartemennya. Kenapa Dara bisa mengajak pria itu ke apartemennya? Sebenarnya apa hubungan mereka? Apa mungkin pria itu adalah kekasihnya yang baru?

Banyak pertanyaan yang melintas di kepalaku tentang mereka berdua dan setiap kali aku menerka jawabannya selalu berhasil membuat kemarahanku semakin membesar. Aku tidak suka melihatnya bersama pria lain, aku selalu tidak suka walaupun pria itu hanya sekedar sahabat atau teman biasa bagi Dara.

Aku tiba-tiba saja merasa takut sekarang, takut jika Dara sudah melupakanku dan menggantikanku dengan pria itu. Aku baru sadar sekarang, bahwa ketakutan terbesarku adalah jika Dara merubah perasaannya dan sudah tidak lagi menganggapku penting. Awalnya aku biasa saja selama aku tahu bahwa Dara masih sendiri namun kini setelah pria itu hadir ketakutanku perlahan muncul dan ini benar-benar menyiksa diriku.

Setelah selesai dengan semua pekerjaanku di rumah sakit aku langsung keluar namun tidak langsung menuju ke rumah. Aku pergi ke sebuah bar untuk menjernihkan pikiranku lagi. Aku butuh alkohol untuk membunuh semua pemikiran negatif yang terus berputar di kepalaku, aku butuh alkohol untuk bisa melupakan senyuman Dara yang dia sunggingkan untuk pria lain, aku butuh alkohol untuk bisa mengatakan kepadanya bahwa aku sangat mencintainya dan menginginkannya kembali lagi menjadi milikku, aku ingin memilikinya sekali lagi dan memilikinya seumur hidupku.

Aku meletakkan kepalaku di atas meja bar kemudian menutup mataku. Dan saat itu tiba-tiba kenangan tentang Dara dan aku dulu berputar di kepalaku.

Flashback

“Ini semua salahmu Dara.”Kataku kepada Dara yang kini sedang duduk di kursi penumpang di sampingku sambil menggendong Dadoong, kucingnya yang kami rawat bersama.Kami baru kembali dari dokter hewan untuk memeriksa Dadoong yang akhir-akhir ini terlihat lemas dan tidak memiliki nafsu makan. “Jika saja kau tidak terlalu banyak pergi keluar dan lebih memperhatikan Dadoong aku yakin dia tidak akan sakit seperti ini.” Sambungku lagi sambil melihatnya sebentar kemudian kembali fokus kedepan jalan.

“Kenapa semua menjadi salahku?” Tanyanya sambil mengusap kepala Dadoong namun pandangannya dia tujukan kepadaku. “Kau sendiri bagaimana? Kau juga jarang berada di rumah.”

“Aku sudah menyuruhmu untuk memeriksakan Dadoong dari dua hari yang lalu Dara. Aku sudah bilang kalau aku sibuk jadi tidak bisa menemanimu tapi kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.” Kataku lagi tanpa membalas tatapannya.

“Tapi aku juga sibuk.” Sergahnya.

“Apa saja yang kau lakukan hingga bisa sesibuk itu huh?” Tukasku sambil melihat sebentar kepadanya. “Kau bisa minta izin sebentar untuk membawanya ke dokter atau kau bisa membawanya ke dokter setelah kau pulang bekerja.” Kataku lagi sambil terus menatapnya dengan kesal. “Atau kau ingin bilang kau tidak bisa membawanya karena kau selalu pulang lebih dari jam sembilan malam?”Tukasku lagi.

“Kenapa kau hanya menyalahkan aku?” Katanya kini dengan suara pelan. “Kau juga tidak mempunyai banyak waktu sama sepertiku. Bukankah kau juga bisa meminta izin sebentar untuk memeriksa Dadoong bersamaku?”

“Aku izin untuk memeriksa Dadoong kemudian pasienku aku terlantarkan. Apa itu maksudmu?” Tanyaku dengan sedikit keras membentaknya dan aku bisa melihat Dara sedikit tersentak saat aku membentaknya. “Kau selalu saja seperti ini. Kau selalu menjadikan pekerjaanku sebagai alasan kenapa kau tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.” Kataku lagi kini dengan suara lebih rendah tapi masih terdengar dingin.

“Aku tidak beralasan Jiyong. Aku memang sibuk.” Ujarnya.

“Dara aku tahu kau tidak pernah memperdulikan perkataanku setiap kali aku menyuruhmu untuk menjaga kesehatanmu tapi apa kau juga harus tidak memperdulikanku saat aku menyuruhmu untuk menjaga kesehatan Dadoong?” Tanyaku. “Kau selalu bilang bahwa Dadoong adalah anakmu tapi kau sama sekali tidak memperhatikannya. Apakah kau akan seperti ini juga kepada anak kita nanti?” Tanyaku lagi. Dara terus diam jadi aku mengalihkan pandanganku kepadanya dan saat itu aku melihat matanya sudah memerah. Dara membuang muka setelah satu butir air mata jatuh dipipinya. Aku melihat dia menghapus air matanya lalu kembali menatap kepadaku.

“Jiyong apakah kau harus sejauh ini kepadaku?” Tanyanya dengan suara pelan. “Apakah kau benar-benar harus berkata hal itu kepadaku?” Tanyanya lagi dengan suara tercekat kemudian aku kembali melihat air matanya jatuh lagi.

“Aku harus mengatakan hal itu supaya kau sadar dan mau mendengar semua yang aku katakan kepadamu.” Kataku. Dia terus menatapku dengan air mata yang semakin banyak.

“Jiyong kau selalu menyuruhku untuk mendengarkanmu. Tapi apakah kau pernah mendengar apa yang aku katakan?” Tanyanya dengan suara yang semakin bergetar karena air matanya mulai semakin banyak.

“Berhentilah menangis.” Bentakku lagi membuat Dara kembali tersentak. “Kau bukan anak kecil lagi Dara jadi berhentilah menangis saat kita sedang ada masalah seperti ini.” Kataku lagi kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku lalu mendekatkan kepalanya pada jendela mobil lalu menyandarkan kepalanya disana. Aku mendengarnya terisak sambil melihat keluar jendela. Aku sedikit kesal sebenarnya karena Dara akhir-akhir ini bersikap sangat cengeng.

FlashbackEnd

Bayangan tentang semua hal jahat yang pernah aku lakukan kepada Dara sebelum kami berpisah tiba-tiba saja muncul di benakku saat aku dalam kondisi setengah sadar karena minuman fermentasi yang aku minum. Aku mengingatnya kembali dan tersadar betapa jahatnya aku kepada Dara.

Dulu aku tidak pernah mengerti kenapa dia tiba-tiba memintaku untuk mengakhiri hubungan kami namun sekarang semua ingatan itu lebih dari cukup untuk menyadarkanku betapa bodohnya diriku karena telah menyia-nyiakan Dara dan selalu melimpahkan semua kesalahan kepadanya saat kami masih bersama.

Yang seharusnya aku lakukan saat itu adalah memeluknya dan meminta maaf untuk semua kata-kata pedas yang aku keluarkan saat sedang marah kepadanya. Aku harusnya menjelaskan kepada Dara bahwa aku mengatakan hal itu karena aku sedang emosi, aku tidak pernah benar-benar ingin berkata seperti itu kepadanya namun aku sama sekali tidak pernah mengatakan itu bahkan aku tidak pernah meminta maaf setelah aku membentaknya. Dara pasti sangat terluka apalagi aku tahu Dara paling tidak bisa jika dia diperlakukan seperti itu.

Aku mengambil ponsel dari dalam saku mantel kemudian mencari kontak yang aku beri nama naui cheonsa. Setelah menemukannya aku langsung menghubungi nomor Dara kemudian menunggunya untuk mengangkat panggilanku. Setelah menunggu lima kali deringan akhirnya aku bisa mendengar suaranya. Suara malaikatku lagi.

Dara Pov

Aku sudah akan pergi tidur saat aku mendengar suara dari ponselku yang berdering. Aku mengambil ponsel itu yang aku simpan di atas nakas kemudian aku tersenyum lebar setelah melihat nama Jiyong yang terpampang disana, akhirnya si brengsek ini menghubungiku juga. Aku mengatur napas dan mengatur suara sebelum aku mengangkat panggilannya. Setelah membiarkannya berdering selama beberapa lama aku kemudian langsung mengangkat panggilan Jiyong lalu mendekatkan ponsel itu pada telinga.

“Ada apa?” Tanyaku dengan suara yang aku buat ketus. “Aku sedang tidur kenapa kau menggangguku?” Tanyaku lagi. Aku diam kemudian menyadari suara berisik dan bising dari arah ponselku. Jiyong sedang di mana? Apakah dia sedang berada di bar?

Dee.” Katanya dengan suara serak. Jiyong pasti mabuk, suaranya selalu berubah serak jika dia baru bangun tidur dan jika dia terlalu banyak minum. Tapi kenapa dia pergi ke bar? Apa dia sedang ada masalah? “Mianhae.” Ucapnya lagi masih dengan suara serak. Aku mengerutkan keningku. Ini pertama kalinya aku mendengar Jiyong mengatakan maaf setelah sekian lama tepatnya setelah hubungan kami berdua berubah menjadi neraka.

“Kau di manaYongi?” Tanyaku.

Di tempat ini. Tempat pertama kali aku menciummu.” Katanya dengan suara lemah. Aku menutup mata setelah Jiyong mengatakan itu. Aku mengingatnya dan masih bisa merasakan lembutnya ciuman Jiyong saat itu walaupun kejadian itu sudah sangat lama berlalu tapi aku masih bisa merasakannya.

“Tunggulah.” Kataku setelah membuka mataku kembali.“Aku akan mengirimkan sopir pengganti.” Kataku. “kau tidak akan bisa pulang sendirian jika sudah seperti ini.”

Tidak bisakah kau saja yang datang?” Tanyanya kini dengan suara parau. “Aku ingin melihatmu jadi bisakah kau datang walaupun hanya sedetik saja?” Jiyong pasti sangat mabuk sehingga dia bisa mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.

“Kau tahu aku tidak bisa menyetir.” Kataku.

Aku akan menunggumu Dee.” Ujarnya lagi kemudian menutup telponnya. Aku menutup mataku lalu mulai berpikir panjang. Ada apa dengan Jiyong? Kenapa dia mabuk seperti ini padahal dia bukan seseorang yang suka mabuk. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan maaf kepadaku? Kenapa tiba-tiba dia mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganku?

Aku bangun dari posisiku kemudian membuka lemari lalu mengganti baju dan segera pergi untuk menemui Jiyong ke tempat dia berada sekarang. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya jika dia terus berada disana.

Setelah sampai aku langsung masuk dan mencari sosok Jiyong. Aku mencari selama beberapa saat sampai akhirnya aku melihat sosok Jiyong yang kini sedang duduk di kursi menghadap bartender. Dia sedang menuangkan vodka pada gelas di hadapannya. Aku mengamatinya selama beberapa saat. Perasaanku hancur saat melihat Jiyong kacau seperti ini. Namun apa yang sedang terjadi kepada Jiyong hingga dia bisa sangat kacau?

Aku berjalan pelan kearahnya lalu duduk di kursi kosong yang berada di sampingnya. Dia melirik kearahku setelah menyadari kehadiranku.

“Kau benar-benar datang?” Ucapnya pelan sambil tersenyum hangat. Senyuman yang sangat aku rindukan. Senyuman yang tidak pernah lagi aku lihat sejak dia mulai berubah.

“Kenapa kau minum?”Tanyaku sambil memperhatikan wajahnya. Dia masih sober.

“Aku membutuhkan ini sekarang.” Katanya kemudian melanjutkan menuangkan alkohol lagi. Dia akan mengambil gelas itu namun aku mengambilnya terlebih dulu.

“Sudah cukup Ji.” Kataku kemudian menjauhkan gelas itu. “Pulanglah.” Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Aku masih ingin di sini.” Katanya sambil mengambil gelas yang aku rampas lalu langsung meminum isinya. “Aku senang kau di sini.” Sambungnya sambil tersenyum kepadaku.

“Berhentilah bicara omong kosong.” Kataku sambil mendengus. Aku pikir dia sangat mabuk makanya aku datang ke sini karena mengkhawatirkannya tapi ternyata dia hanya sedikit mabuk jadi masih bisa bersikap normal hanya saja terkadang dia sedikit bicara ngawur. “Kau sedikit mabuk jadi berhenti bicara omong kosong dan langsung pulang setelah ini.” Kataku kini sambil berdiri dari tempatku duduk untuk pulang. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya karena sepertinya dia bisa pulang sendiri.

“Pulanglah bersamaku.” Katanya sambil menahan tanganku membuatku melihatnya lagi. “Ini sudah malam lagipula aku sedang mabuk jadi harus ada yang menjagaku.” Katanya lagi. Dia berdiri kemudian memegang tanganku. Dia akan berjalan namun tiba-tiba tubuhnya oleng kepinggir membuatku secara spontan memeluknya untuk menahan tubuhnya sehingga dia tidak jatuh. Efek alkohol sepertinya sudah mulai menyerang tubuhnya.

“Hati-hati.” Kataku kemudian membantunya berjalan sampai keluar bar. Jiyong menyerahkan kunci mobilnya kepadaku setelah kami berada diluar.

“Aku parkir disana.” Katanya sambil menunjuk kesebelah kiri tapi aku tidak menemukan apapun. Disana hanya ada pohon-pohon dan sampah. Sepertinya Jiyong mulai mabuk, bagaimana bisa dia menyuruhku untuk membawa mobilnya padahal dia tahu aku tidak pernah bisa menyetir mobil.

“Kau mabuk jadi aku akan mengantarmu sampai apartemen.”

Aku sedikit menyeret tubuh Jiyong yang semakin lemas sampai depan jalan kemudian mencegat taksi yang lewat. Aku masuk ke dalam taksi setelah berhasil memasukan Jiyong ke dalam taksi. Setelah menutup pintu taksi aku langsung meyebutkan alamat Jiyong kepada sopir taksi dan saat itu aku sedikit terpaku saat merasakan kepala Jiyong yang dia sandarkan pada bahuku.

Aku meliriknya yang kini sudah menutup matanya. Aku akan membuka mulutku untuk mengomel namun suara Jiyong langsung menghentikan niatku. “Biarkan dulu seperti ini. Aku mohon.” Ucapnya pelan sambil melingkarkan tangannya kemudian memelukku dari samping. Aku mendesah kemudian mengalihkan pandanganku pada luar jendela. Yongi sebenarnya kita sedang apa sekarang?

Author

Setelah sampai digedung tempat Jiyong tinggal Dara langsung keluar dari dalam taksi kemudian membantu Jiyong berjalan karena efek alkohol yang telah Jiyong minum sepertinya sudah mulai menyebar ke seluruh tubuh pria itu. Jiyong sudah tidak bisa berdiri tegak sehingga Dara harus memapahnya supaya dia bisa sampai dengan selamat ke dalam kamarnya.

Setelah memapah Jiyong dengan susah payah akhirnya Dara berhasil sampai di depan pintu apartemen Jiyong, apartemen di mana mereka pernah tinggal bersama selama hampir satu tahun dan malam ini adalah kali pertama Dara akan masuk lagi ke tempat ini sejak dia memutuskan untuk pindah. Tempat yang penuh kenangan bersama Jiyong, tempat yang menjadi saksi saat mereka akhirnya berpisah.

“Ji apa kata sandinya?” Tanya Dara setelah menyandarkan tubuh Jiyong pada tembok. Jiyong yang sudah dalam keadaan mabuk sama sekali tidak menjawab pertanyaan gadis itu. “Ya Jiyong bagaimana kita bisa masuk jika kau tidak menjawabnya.” Omelnya dengan sedikit panik.“Cepat jawab aku.” Kata Dara lagi kini dengan sedikit keras namun Jiyong tidak menjawabnya membuat gadis itu mendengus kesal.

Dara mencoba beberapa kata sandi yang mungkin Jiyong gunakan dari mulai tanggal ulang tahun Jiyong, ulang tahun Ibunya sampai tanggal peringatan kematian ayahnya namun pintu itu masih belum terbuka.

Dia mendesah kesal kemudian mulai mengingat sandi apartemen ini sebelum mereka berpisah dan setelah berpikir selama beberapa detik akhirnya Dara ingat sandi tempat ini saat mereka masih tinggal bersama. Dia sedikit ragu namun tetap mencoba memasukan angka-angka yang dia ingat lalu kemudian terdengar bunyi beep dua kali menandakan bahwa pintunya kini sudah terbuka.

Dara tertegun setelah mengetahui bahwa Jiyong sama sekali tidak merubah password tempat tinggalnya, tanggal jadian mereka. Dara sangat ingat bahwa dulu Jiyong sedikit protes saat Dara men-setting sandinya dengan tanggal itu dan dia berpikir mungkin Jiyong langsung menggantinya setelah mereka putus namun ternyata tidak. Apakah Jiyong terlalu malas hanya untuk mengganti password? Atau ada hal lain yang membuatnya tidak mengganti password apartemennya? Apakah Jiyong masih mencintainya?

Setelah tertegun selama beberapa saat Dara kembali kepada kesadarannya lalu melirik Jiyong yang sedang memejamkan matanya sambil duduk bersandar pada tembok. Dara berjongkok lalu membantu Jiyong untuk berdiri kemudian membawanya masuk kedalam. Dara langsung membawa Jiyong masuk kedalam kamarnya kemudian membaringkan Jiyong pada tempat tidur.

Dara mengedarkan pandangannya ke sepenjuru kamar ini, kamar mereka dulu. Kamar di mana banyak mimpi yang telah Jiyong dan Dara rangkai bersama, tempat di mana Jiyong selalu berjanji bahwa dia tidak akan pernah membuat Dara menangis dan meninggalkannya, tempat di mana mereka berbagi cinta, tempat di mana akhirnya Dara meminta Jiyong untuk mengakhiri hubungan mereka, dan tempat di mana Jiyong dengan mudah membiarkan Dara pergi.

Air mata mulai menggenang dikedua matanya saat mengingat semua kejadian yang tiba-tiba terlintas dikepalanya sejak dia menginjakkan lagi kakinya di kamar ini. Dara terluka setelah mengingat betapa seringnya dia menangis sendirian dikamar ini, menangis karena sangat ingin Jiyong berubah seperti dulu dan kembali menjadi Jiyong-nya, Jiyong yang selalu membuat Dara merasa dicintai.

“Dee.” Dara langsung mengalihkan perhatiannya pada sosok Jiyong yang sekarang sedang terbaring di tempat tidurnya. Kenapa Jiyong memanggil Dara dalam mimpinya? Kenapa Jiyong bersikap seolah dia masih mencintai Dara? Kenapa dia memutuskan hubungannya dengan begitu mudah jika dia masih mencintai Dara? Kenapa dia tidak pernah meminta Dara untuk kembali kepadanya?

Dara berjalan pelan kemudian duduk berjongkok untuk melepaskan sepatu yang masih Jiyong pakai. Setelah selesai dengan itu Dara lalu menghampiri Jiyong dan duduk ditepian ranjangnya. Dia memperhatikan wajah pria itu yang kini terlihat sangat lelah, memperhatikan garis wajah Jiyong yang masih sama seperti dulu. Dara terus memperhatikan Jiyong dan tanpa dia sadari sebutir air mata lolos dari matanya.

Dia memperhatikan Jiyong sampai akhirnya Jiyong membuka matanya. Tatapan mereka terkunci selama beberapa saat, mereka diam sambil terus memperhatikan ekspresi masing-masing. Tatapan Jiyong sangat tegas namun tatapannya melembut saat dia menyadari air mata yang mulai keluar lagi dari mata gadis yang sangat dia cintai.

“Kenapa kau menangis?” Ucapnya pelan sambil mengusap mata Dara, menghapus air mata yang masih keluar dari sana. Dara menggelengkan kepalanya lalu mengambil tangan Jiyong dan menurunkannya.

“Istirahatlah.” Ucapnya pelan kepada Jiyong. “Aku akan pulang.” Sambungnya sambil memasang sebuah senyuman kemudian berdiri dan akan pergi namun Jiyong menahan tangannya.

“Tidurlah di sini.” Ujarnya pelan setelah Dara kembali menatapnya. “Temani aku malam ini aku mohon.” Sambungnya dengan suara pelan namun tegas. Dia terus menatap Dara dengan pandangan penuh cinta dan kerinduan kemudian dia menggeser tubuhnya sendiri untuk memberi ruang untuk Dara.

Dia pikir Dara akan menurut, dia pikir Dara akan berbaring disampingnya namun Dara hanya diam kemudian melepaskan tangan Jiyong yang masih menahannya kemudian kembali menatap Jiyong.

“Kita hentikan sampai di sini.” Ujar Dara dengan suara pelan. “Aku tidak bisa pergi terlalu jauh lagi Jiyong. Aku tidak ingin terluka lagi.” Katanya dengan terus menatap Jiyong. “jadi ayo kita hentikan semuanya malam ini.” Sambungnya kemudian berbalik lalu meninggalkan Jiyong yang terus menatap punggung Dara yang semakin menjauh. Jiyong menatap punggung itu dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Bagaimana mungkin dia meminta Dara untuk tidur di sini? Di tempat di mana Jiyong menghancurkan mimpi mereka berdua dengan semua kata-kata kasarnya kepada Dara.

Jiyong Pov

Impianku sangatlah sederhana, yaitu mengobati semua orang yang membutuhkan bantuanku, membuat keluarga mereka bahagia karena masih bisa merasakan utuhnya sebuah keluarga. Aku bahagia ketika mendengar pasienku merasa lebih baik setelah aku mengobatinya, itulah alasan kenapa aku banyak menghabiskan waktuku di rumah sakit sejak aku diangkat menjadi dokter tetap di sini.

Aku selalu memikirkan orang lain, memikirkan kebahagian orang lain sampai aku melupakan kebahagianku sendiri dan parahnyaaku melupakan kebahagian orang yang paling aku cintai. Saat aku sibuk untuk mengobati orang lain dan membuat mereka bahagia ternyata Dara tersiksa karena aku tidak ada di sampingnya. Dara tersiksa karena aku tidak ada saat dia paling membutuhkanku, aku sibuk di rumah sakit sehingga melupakan Dara yang selalu menunggu aku pulang.

Awalnya aku menganggap Dara sangat kekanakan karena dia pikir aku egois hanya karena aku lebih mementingkan pasienku daripada dia. Aku menganggapnya keterlaluan saat itu namun kini aku sadar bahwa Dara tidak salah. Dara tidak salah karena yang dia inginkan adalah aku lebih perhatian kepadanya karena dia adalah kekasihku. Dia pasti sangat terluka karena aku menganggap orang lain lebih penting daripada dia, kekasihku sendiri.

Malam itu saat Dara mengantarkan aku pulang ke apartemen aku sadar bahwa aku sudah sangat menyakiti Dara, aku sadar bahwa dia memang pantas untuk membenciku selama ini karena apa yang aku lakukan kepada Dara adalah hal terjahat yang seorang pria lakukan kepada kekasihnya. Harusnya aku lebih memperhatikan dia, lebih memberikan banyak waktuku untuknya, lebih memperlakukannya dengan baik.

“Jiyong maafkan eommoni karena harus mengganggumu lagi.” Kata ibu Dara sesaat setelah aku selesai memeriksanya. Sebenarnya aku sudah tidak ada jadwal lagi namun tadi sore beliau menelpon dan bilang bahwa sedikit tidak sehat jadi aku menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit setelah semua jadwal dengan pasienku yang lain telah selesai.

Beliau datang pukul delapan malam bersama Dara. Satu-satunya hal yang bisa membuat Dara mau menginjakkan kakinya di tempat yang sangat tidak dia sukai ini adalah karena kesehatan ibunya. Dara akan selalu mengantarkan ibunya ke rumah sakit jika beliau mengatakan bahwa beliau perlu untuk ditemani, Dara tidak pernah menolak karena dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada ibunya. Dara sangat mencintai ibunya.

“Tidak masalah. Tapi sepertinya eommoni tidak boleh memakan makanan yang digoreng untuk sementara waktu.” Kataku sambil tersenyum.

“Kenapa?” Tanya Dara tiba-tiba. “Apa terjadi sesuatu kepada eomma?” Tanyanya lagi dengan sedikit khawatir.

“Tidak terjadi sesuatu yang serius hanya saja kolesterolnya sedikit naik.” Kataku menjelaskan kepada Dara. “Jadi eommoni ingat untuk tidak memakan makanan berlemak.” Sambungku lagi kini sambil melihat kepada ibunya Dara.

“Walaupun hanya sedikit?” Tanyanya.

“Walaupun hanya sedikit.” Kataku yang langsung membuat ibu Dara mendesah kecewa. “Jangan khawatir eommoni, jika kadar kolesterolnya sudah kembali normal aku akan membawa eommoni ke tempat makan paling enak dan akan membiarkan eommoni untuk memakan apapun yang eommoni inginkan.” Kataku untuk menghiburnya.

“Benarkah?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan. “Bolehkan aku meminta yang lain saja?” Tanyanya tiba-tiba.

“Apa yang ingin eommoni minta?” Tanyaku kepada beliau sambil tersenyum.

“Kau kembali menjadi calon menantuku.” Katanya yang langsung membuatku melirik kepada Dara yang sepertinya sedikit terkejut dengan apa yang ibunya katakan.

“Ya eomma.” Protes Dara sambil menatap ibunya dengan tidak percaya. “Kenapa eomma membawaku pada urusan kalian?” Tanyanya sambil berdecak. Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Dara.

Eommoni dengar sendiri bukan? Dara tidak ingin aku kembali kepadanya jadi sepertinya aku tidak bisa memberikan apa yang eommoni minta.” Kataku. Dara langsung menatapku setelah mendengar apa yang aku katakan.

“Sayang sekali padahal aku sudah sangat senang saat kalian mengatakan akan menikah tapi tiba-tiba kalian putus begitu saja.” Kata ibu Dara lagi yang hanya aku tanggapi dengan senyuman.

Eommoni ini resep obatnya.” Kataku sambil menyerahkan sebuah kertas berisi resep obat untuk mengalihkan pembicaraan kami. “Kau harus menghabiskan semua obatnya sehingga tidak perlu lagi datang ke sini.” Kataku sambil tersenyum.

“Ya Jiyongi kenapa kau berbicara seperti itu?” Tanya ibu Dara. “Apakah kau sudah tidak mau melihat eommoni lagi? Apakah kau bosan melihat eommoni karena kau bukan lagi calon menantuku?”Ujar eommoni dengan sedikit merenggut. Aku sedikit tertawa melihat tingkat lucu ibu Dara.

“Aku sangat senang bisa melihat dan bertemu dengan eommoni.” Kataku sambil tersenyum kemudian menggenggam tangan ibu Dara.“Tapi aku sangat sedih karena kita bertemu di rumah sakit seperti ini. Aku tidak ingin eommoni sakit makanya aku tidak ingin bertemu eommonidi sini. Akuberharap kitaakan bertemu di tempat yang lebih baik bukannya di rumah sakit.”

“Kalau begitu apakah kau mau datang untuk makan malam di rumah kami?” Tanya ibu Dara sambil tersenyum kepadaku. Aku sedikit melirik Dara untuk melihat reaksinya namun Dara sepertinya sedang sibuk dengan ponselnya.“Sudah lama kau tidak datang. Eommoni akan memasakan sesuatu yang enak untukmu.” Kata Ibu Dara lagi. Aku mengangguk sambil tersenyum untuk menjawab permintaannya.

“Aku akan menghubungimu jika aku memiliki waktu luang.”

“Kau sudah berjanji jadi kau harus datang. Ingat Jiyong kau selalu diterima disana.” Sambungnya yang aku balas dengan anggukan.

Setelah membereskan meja kerjaku aku langsung melepaskan jas dokter yang aku pakai dari pagi kemudian menggantikannya dengan mantel. Aku akan langsung pulang setelah dari sini karena aku merasa lelah setelah empat hari terakhir aku pulang hampir menjelang pagi karena banyaknya operasi yang harus dilakukan.

Saat sedang berjalan di lobi pandanganku menangkap sosok Dara yang sedang berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.Ibunya sudah tidak ada di sampingnya jadi aku menyimpulkan bahwa dia kini sedang menunggu taksi atau menunggu seseorang untuk menjemputnya. Aku berjalan cepat kearahnya.

“Apa yang sedang kau tunggu?” Tanyaku langsung setelah berada di sampingnya. Dia sedikit kaget dengan sapaanku yang tiba-tiba.

“Jantungku hampir saja lepas. Kau tahu?” Katanya sarkas sambil mendengus. Aku sedikit tertawa karena melihat tampangnya yang lucu saat dia sedang kaget.

“Apa kau sedang menunggu pria itu?” Tanyaku yang dia balas dengan mengerutkan kening tidak mengerti. “Jung Il Woo.” Kataku lagi.

“Bagaimana kau bisa tahu tentang dia?”

“Hanya tahu begitu saja.” Kataku acuh. “Jadi benar kau sedang menunggunya?” Tanyaku lagi. Dia hanya sedikit mengangguk pelan.

“Ya!” Katanya dengan sedikit keras. “Apa maksudmu tadi?” Tanyanya. “Kenapa kau bilang kepada ibuku bahwa aku tidak ingin kembali kepadamu?”

“Aku mengatakannya karena melihat reaksimu saat kau mendengar ibumu memintaku untuk kembali menjadi menantunya. Bukannya kau tidak suka saat itu karena kau tidak mau?”

“Bukan itu maksudku.” Kata Dara.

“Jadi apa maksudmu jika bukan itu?” Tanyaku. “Apakah kau ingin aku kembali kepadamu kalau begitu?” Tanyaku lagi. Dara diam tidak lagi berkata apa-apa. Dia hanya menatapku dengan berbagai ekspresi pada sorot matanya. Aku ikut menatapnya karena ingin tahu apa yang matanya pancarkan saat ini. Tidak ada lagi sorot kebencian disana, aku melihat sorot matanya berubah sendu sejak aku melihatnya menangis saat dia mengantarku pulang malam itu.

Saat pandangan kami berdua terkunci tiba-tiba Dara mengalihkan pandangannya dariku dan saat itu aku tahu bahwa sebuah lengan telah bersandar pada bahunya. Aku menatap tangan itu kemudian aku mengalihkan pandanganku kepada pemilik tangan itu yang ternyata adalah Il Woo. Setelah melihatnya aku kemudian melihat Dara lagi selama beberapa detik lalu setelah itu aku berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah katapun kepadanya.

Banyak perasaan yang bercampur aduk dihatiku sekarang, aku kesal melihat pria itu merangkul Dara di hadapanku, aku marah karena Dara hanya diam saja tapi yang paling aku rasakan saat ini adalah rasa menyesal karena telah memberikan kesempatan kepada lelaki lain untuk merangkulnya seperti itu, untuk memilikinya, jika saja aku tidak mengatakan iya saat itu aku yakin kejadian hari ini tidak perlu terjadi.

TBC

Advertisements

29 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] If You #4

  1. Kannn ji selalu nyerah sblm nyobaa,keburu dara sama ill woo nih:( semoga ji cpt balikan deh sama dara gereget baca sifatnya ji dsni kkkk

  2. beneran dipart ni nyesek bangettttt 😥
    tiap mereka mau balikan ada aja masalah nya ya ihhh nyebelin banget :/
    ayoo att mereka mau balikan gg tapi kapan att ihh

  3. Hindarin aja terus. Jiyong mab nggak mau berusaha buat dapetin Dara unnie lagi. Katanya mau memiliki Dara unnie utk selamanya, tapi apa? nggak berusaha ya nggak bisa dapetin Dara lagi lah. Keburu ama Jung Ill Woo dah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s