SNEEUWWITJE [Chap. 6]

swee-2

A storyline by. Cho Hana

Sandara Park || Kwon Jiyong

Park Sojin || Kim Jongin || Jung Soojung || Park Jiyeon || Park Hayeon

Kang Seulgi || Jung Taekwoon || Lee Seungri || Im Yoona

Romance || Drama || Marriage-Life

PG-15

.

She is a Snow White, not a Cinderella

.

Buat yang baru baca di chapter ini diharapkan baca prolog/chapter sebelumnya:

[Introduction+Prolog] [1] [2] [3] [4] [5]

Ny. Park sama sekali tak bisa menghentikan tawanya saat matanya telah selesai menelesuri goresan tintah merah sewarna darah yang ada di depannya. Bahkan ia sendiri hampir saja kehilangan akal. Selera humornya seolah terkuras habis siang itu. Segera dihentikan tawanya saat ia sadar beberapa pasang mata pengunjung kedai itu telah tertuju padanya. Ia berusaha menahan tawanya, meraih gelas jusnya lalu beralih menatap wajah Pengacara Han yang sejak sejam yang lalu telah berubah pucat.

“Apa anda sakit? Nampaknya wajah anda sangat pucat,” Tanya Ny. Park sambil menyesap jusnya.

“Saya tidak sakit, Nyonya. Saya ketakutan,” Sahut Pengacara Han dengan jujur.

Ny. Park hampir saja kembali tertawa, “Kau benar-benar lucu, Pengacara Han. Kau bekerja di bidang hukum, tapi hanya karena terror seperti ini saja kau sudah ketakutan setengah mati.” Ny. Park meremas kertas yang sejak tadi ia pegang. “Ini hanya omong kosong.”

“Ny. Park—“

“Jangan berlebihan, Pengacara Han!” Ny. Park lebih dulu menyela sebelum Pengacara Han berbicara banyak. “Kau pikir siapa orang yang mungkin mengirim surat itu? Dara? Lucu sekali. Dia buta tapi berani mengancam orang yang normal.”

“Ny. Park, kita sendiri tahu jika banyak orang yang bekerja di belakang Nona Dara. Mungkin benar jika dia yang telah mengancamku. Bukan tidak mungkin dia akan menyewa orang untuk mencelakaiku,” Pengacara Han menatap Ny. Park dengan tajam. Bagaimana bisa Ny. Park bersikap setenang itu? Bahkan setelah Pengacara Han telah memutuskan untuk bergabung dengan kubunya, bukankah seharusnya Ny. Park lebih menaruh perhatian pada keselamatan Pengacara Han?

“Ah, baiklah. Kita anggap saja jika yang menerormu adalah Dara, lalu apa yang kau inginkan, Pengacara Han?” Ny. Park menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, berusaha bersikap santai di tengah proses negosiasi mereka.

“Tolong jamin keselamatanku, juga keselamatan keluargaku.”

Ny. Park terdiam sejenak. Ia nampak menimang-nimang keinginan Pengacara Han itu. Apakah permintaan itu patut ia penuhi atau tidak.

“Jadi kau ingin aku memberimu pengawal?” Ny. Park berusaha memperjelas keinginan Pengacara Han.

“Lebih dari itu, selain pengawal aku juga butuh perlindungan darimu. Lindungi aku baik secara fisik maupun mental. Belakangan ini aku sedang banyak masalah. Kuharap masalah terror ini takkan mempbuat daftar masalahku semakin panjang.”

Ny. Park menatap wajah Pengacara Han dengan lekat. Seulas senyum ia kembangkan. “Baiklah. Jika itu maumu. Sesuai dengan perjanjian kita. Aku akan memberimu jaminan dan perlindungan. Sekarang bekerjalah dengan tenang. Selama kau ada di kubuku, kupastikan kau dan juga keluargamu akan terus aman.”

~~~

“Jadi kau mau kita pergi ke mana?” Tanya Jiyong di sela-sela perjalanan mereka.

Ia melirik Dara yang nampak duduk dengan tenang di belakang lewat kaca spion mobil. Seulas senyum tercipta di wajah Jiyong kala didapatinya wajah Dara yang sedang menahan kesal. Wajah gadis itu jadi dua kali lipat lebih cantik ketika ia sedang marah.

“Terserah kau saja. Aku tidak peduli,” Dara menyahut tanpa semangat sama sekali.

“Aish, jangan begitu. Kau kesal ‘kan karena aku mengajakmu keluar? Makanya aku menanyakan hal ini padamu. Hari ini kita akan pergi sesuai dengan keinginanmu. Hei, katakan saja, kencan seperti apa yang selama ini ada dalam mimpimu?”

“Kencan? Aku bahkan tak pernah bermimpi sekalipun melakukan hal itu.”

“Ommo, ternyata kau gadis yang masih polos rupanya.”

Sorot mata Dara langsung berubah tajam, menandakan jika ia tersinggung dengan ucapan Jiyong barusan.

“Baiklah. Karena kau adalah gadis polos yang tak tahu apa-apa, maka aku sebagai lelaki yang telah kencan selama berpuluh-puluh kali lebih akan memberimu alternatif,” Ucap Jiyong yang hanya disahut oleh desisan kesal dari belakang. “Apa kau ingin kita jalan-jalan ke mall?”

“Aku tidak suka keramaian.”

“Ah, begitu rupanya,” Jiyong menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Baiklah. Kalau begitu kita ke taman saja. Taman Hangang, tempat kau hujan-hujanan seperti anjing gila.”

“Aku sedang malas jalan-jalan di luar. Matahari sedang bersinar dengan terik bukan? Aku benci kepanasan dan berhenti menyebutku anjing gila sebelum kupatahkan batang lehermu.”

Jiyong diam-diam terkekeh. Lihatlah bagaimana bisa gadis buta seperti Dara mengancam akan mematahkan lehernya. Lucu sekali. “Baiklah. Kalau begitu kita makan saja ya.”

“Terimakasih tapi aku tidak lapar.”

Kruyuk~

Dara langsung memegangi perutnya. Sial! Mulut dan perutnya sama sekali tak bisa sinkron satu sama lain. Jiyong langsung terkekeh.

“Ya sepertinya mulutmu memang tak lapar, tapi bagaimana dengan perutmu? Kurasa dia sudah mulai menjerit sekarang,” Kekeh Jiyong penuh kemenangan. “Sekarang sudah jam makan siang. Kalau begitu kita pergi makan saja dulu. Setelah itu, baru kita tentukan mau kemana lagi. Oke?”

“Terserah kau saja,” Dara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Memasang wajah pasrah yang tampak sangat menggemaskan di mata Jiyong.

~~~

Soojung dan Jongin kini sudah berada di mobil perusahaan yang lain. Kini mobil sedang melaju menuju Busan. Ah, Soojung merasa sial sekali sekarang. Bagaimana bisa ia ditugaskan dalam perjalanan bisnis bersama dengan pemuda yang paling ia benci? Ini adalah malapetaka.

“Apa yang kau pikirkan?” Suara berat Jongin membuat Soojung tersadar. Ia yang sejak tadi hanya membuang wajah ke luar jendela langsung menoleh.

“Tidak ada. Aku hanya memikirkan tentang Dara-eonnie,” Dusta Soojung. “Aku khawatir jika orang itu akan melukainya. Bukankah ia adalah calon suami yang dicarikan oleh Ny. Park? Bukankah itu artinya mungkin saja ia ada di kubu musuh?”

Jongin mengulas senyum tipis lalu menyilangkan tangannya di depan dada, “Benarkah kau memikirkan tentang Samunim? Tidakkah kau memikirkan yang lain?”

“Tentu saja. Kau pikir hal apa lagi yang bisa kupikirkan di saat seperti ini?”

“Banyak. Memikirkan hal apa yang harus kau lakukan saat berdua bersamaku nanti misalnya,” Jongin melemparkan senyum nakal pada Soojung.

Soojung meringis. Ingin sekali rasanya ia melempar wajah Jongin dengan botol air mineral yang ada di tangannya sekarang, “Bercandamu sama sekali tidak lucu, Tuan Kim!”

“Lagipula itu bukan hal yang perlu kau terlalu khawatirkan,” Suara Jongin kembali terdengar. “Aku sudah menyuruh seseorang untuk memata-matai Kwon Jiyong. Orang itu pasti tengah mengikuti mereka sekarang. Jika ada apa-apa, mereka pasti akan segera menghubungiku.”

“Baguslah. Setidaknya aku bisa tenang sekarang.” Soojung kembali melemparkan tatapannya ke luar jendela mobil. Jongin masih mengarahkan maniknya pada sosok gadis yang duduk di  sebelahnya itu. Senyumnya masih belum juga luntur. Dilihatnya Soojung tengah melipat tangan sambil memainkan kuku lentiknya.

“Kebiasaanmu ternyata belum berubah juga ya.”

“Apa?” Soojung kembali menoleh pada Jongin.

“Kebiasaanmu saat sedang gugup. Bukankah jika kau gugup, kau akan selalu memainkan kukumu?”

“Yak, jangan sok tahu ya. Sejak kapan orang yang sedang memainkan kuku itu tandanya ia sedang gugup? Lagipula aku sedang tidak gugup sekarang. Jangan bicara ngawur deh,” Soojung memasang wajah kesal.

Jongin terkekeh. Sungguh, tingkah Soojung kini membuatnya gemas.

“Yak, Kim Jongin-ssi, jangan mencoba menggodaku ya. Fokus saja pekerjaan kita. Kalau kau berani menggodaku lagi, aku tidak akan segan-segan menendangmu keluar dari bus.”

Jongin semakin terkekeh. Semakin Soojung marah, semakin membuatnya merasa gemas. Haruskah ia berhenti bercanda dengan gadis itu? Haruskah ia memulai hubungan yang serius kembali dengan gadis itu? Mungkin Jongin bisa mempertibangkan itu nanti. Toh, ia masih punya banyak waktu.

~~~

 Jiyong dan Dara berhenti di sebuah restoran. Jiyong langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Dara.

“Perlu kubantu? Apa kau membawa tongkatmu?” Tanya Jiyong sambil menatap Dara yang beringsut turun.

“Aku tidak pernah membawa tongkat ke kantor,” Sahut Dara.

“Kalau begitu biar kubantu menuntunmu masuk.”

“Tidak perlu. Aku bisa— awww,” Baru saja Dara melangkahkan kakinya beberapa langkah, ia langsung menjerit. “Awww, sakit.” Ia merintih kesakitan saat separuh dari kakinya tak sengaja masuk ke dalam got kecil yang ada di depan restoran.

Alih-alih merasa kasihan, Jiyong lebih dulu mengudarakan tawanya. Ia merasa kejadian itu benar-benar lucu. Dara yang dingin merintih kesakitan seperti orang bodoh saat kakinya masuk ke dalam got… bukankah itu lucu?

“Yak, beraninya kau menertawaiku! Kau mau mati ya?” Dara memekik kesal sambil berusaha menarik kakinya keluar dari got.

“Ah, maaf, Dara-ssi. Tapi kau benar-benar terlihat konyol sekarang,” Ucap Jiyong masih dengan suara kekehannya yang terdengar menyebalkan untuk Dara. Ia menghampiri Dara lalu membantu gadis itu untuk menarik kaki kanannya yang terperangkap. “Heol, heels sepatumu patah.” Ucap Jiyong saat di dapatinya hak sepatu Dara patah.

“Apa? Sial! Ini benar-benar sial!” Dara memekik kesal.

“Tidak apa-apa. Lepaskan saja sepatumu.”

“Apa kau bilang? Melepaskan sepatu? Lalu kau mau menyuruhku berjalan tanpa alas kaki?”

“Tidak. Kau bisa memakai sepatuku,” Jiyong langsung melepas sepatunya lalu menyuruh Dara duduk di dalam mobil.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Dara saat Jiyong akan melepas higheels-nya.

“Aish, aku ‘kan sudah bilang, kau bisa pakai sepatuku. Jadi lepaskan heels-mu sekarang.”

“Tidak,” Dara buru-buru mencegah gerakan tangan Jiyong. Beberapa saat mereka saling bertukar  pandang satu sama lain.

“Kenapa? Kenapa kau melarangku melepas sepatumu? Apa kau khawatir denganku? Kau pasti khawatir ‘kan jika aku meminjamkan sepatuku padamu lalu aku akan berjalan tanpa alas kaki? Benar ‘kan? Iya ‘kan?”

Dara mendesis pelan, “Berhenti bicara omong kosong. Untuk apa aku peduli dengan orang sepertimu? Aku hanya takut pada sepatumu. Sepatumu pasti kotor dan bau ‘kan? Jika aku memakainya kakiku pasti akan tercemar oleh bakteri dari kakimu.”

“Mwo? Apa kau bilang? Hei, apa kau baru saja menghinaku? Aish, berani sekali gadis ini,” Jiyong menatap Dara dengan kesal.

Dara merogoh isi tasnya lalu mengeluarkan sebuah botol berukuran kecil. Bentuknya hampir sama seperti parfum. “Semprotkan ini pada sepatumu. Baru aku mau memakainya.”

“Mwo?” Jiyong menatap Dara dengan tatapan tak percaya.

“Ini adalah antiseptik semprot. Aku biasa menggunakannya jika ingin memakai barang dari orang lain. Cepat semprot di sepatumu biar bakterinya mati.”

“Aish, merepotkan saja,” Jiyong buru-buru menyambut botol kecil itu. Disemprotkannya antiseptik itu ke sembarang arah. Ulah Dara benar-benar sukses membuatnya naik pitam. “Ini sudah kusemprotkan antiseptiknya. Sekarang akan kupasangkan sepatunya di kakimu. Oke? Siap-siap untuk jadi Cinderella, Sandara-ssi.”

Jiyong langsung meraih kaki Dara lalu memasangkan sepatunya. Pelan-pelan diikatnya kedua tali sepatu itu. Dara diam. Jauh di lubuk hati kecilnya ia bertanya-tanya, apakah mungkin Jiyong punya alas kaki cadangan untuk ia pakai sekarang. Namun pikirannya itu ia tepis jauh-jauh, toh pemuda itu yang menyuruhnya untuk memakai sepatu. Jadi untuk apa ia memusingkan hal tidak penting seperti itu?

“Nah, sudah selesai,” Jiyong melepas kedua kaki Dara setelah selesai memasangkan sepasang sepatu converse-nya. “Sekarang ayo kita masuk. Kali ini jangan menolak tawaranku kecuali kau mau masuk got untuk kedua kalinya.”

Dara berdecak sebal. Dengan sangat terpaksa diterimanya bantuan Jiyong untuk menuntunnya masuk ke dalam restoran. Ya, tolong garis bawahi kata sangat terpaksa itu karena Dara benci harus berdekatan dengan Jiyong.

~~~

Sojin menyesap moccacino floatnya pelan-pelan sementara maniknya sibuk mengedarkan pandang. Seulas ia kembangkan saat seorang pemuda bertubuh jangkung masuk ke dalam café dan menghampiri dirinya.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” Pemuda itu langsung mendaratkan tubuhnya di kursi.

“Tidak apa-apa, Seunghyun-ssi. Aku juga baru datang,” Sahut Sojin.

“Jadi bagaimana? Kudengar hari ini Jiyong mulai bekerja. Apa semuanya berjalan dengan lancar?”

“Sejauh ini aku belum bisa menyimpulkan apa-apa. Kurasa terlalu dini jika aku harus menilai pekerjaannya saat ini.”

“Ah, dia pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik. Aku mengenal Jiyong dengan baik. Dia adalah sosok yang pintar merayu wanita dan tidak mudah menyerah. Percayalah, ia akan memulainya dengan baik hari ini.”

“Benarkah? Kita lihat saja nanti. Aku takkan percaya sebelum melihatnya sendiri,” Sojin kembali menyambar minumannya. “Aku sudah menyuruh seseorang untuk membuntuti mereka. Tidak lama lagi pasti ia akan segera mengabariku.”

Tring.

Tepat saat itu sebuah pesan gambar masuk. Sojin mengulum senyumnya lalu meraih ponselnya, “Kau lihat? Benar ‘kan apa kataku? Ia langsung mengabariku.” Sojin langsung membuka pesan tersebut. Tak lama sebuah foto terpampang jelas di layar ponselnya. Perlahan senyum Sojin mulai memudar. Entah mengapa, perasaannya jadi berubah drastis saat melihat foto itu. Dalam foto itu nampak Jiyong sedang berjongkok dan memasang sepatu di kaki Dara. Dalam foto tersebut diberi keterangan jika mereka sedang makan di sebuah restoran.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Seunghyun mulai jadi penasaran.

“Tidak apa-apa,” Sojin berusaha mengulum senyumnya kembali. “Aku baru saja melihat adegan yang sangat manis. Jiyong bekerja dengan sangat baik.”

Seunghyun ikut mengembangkan senyumnya, “Benar ‘kan apa yang kubilang? Jiyong takkan mungkin mengecewakanmu. Dia adalah ahli di bidang ini. Kakakmu pasti akan takluk dengannya.”

“Ya kuharap begitu,” Sojin meneguk kembali minumannya, berharap dinginnya air itu dapat meredakan hatinya yang panas.

~~~

“Nah, sekarang kita sudah ada di restoran sup paling terkenal di Seoul,” Ujar Jiyong sambil mendudukan Dara di lantai. Mereka memilih duduk di lantai dengan lesehan. “Jadi, Dara-ssi, kau mau pesan apa hah? Di sini ada sup kerang, sup ikan makarel, sup ayam ginseng—woah bahkan ada sup asparagus. Kurasa aku akan pesan sup asparagus.” Jiyong menelusuri buku menu dengan seksama.

“Kita ada di restoran sup?” Dara bertanya pada Jiyong.

“Eoh, benar. Ini restoran sup paling terkenal di sini. Kualitas supnya sangat tinggi dan enak.”

“Kalau begitu pesankan aku sup tahu.”

“Apa?” Jiyong buru-buru menyingkirkan buku menu dari pandangannya, beralih menatap Dara dengan tatapan tak percaya. “Sup tahu?”

Dara terdiam sebentar, “Ya, sup tahu. Mereka pasti menyediakannya ‘kan?”

Jiyong menghela napas panjang lalu meletakkan buku menu tadi di tempat semula, “Yak, apa kau gila? Aku membawamu jauh-jauh kemari dan kau hanya memesan sup tahu saja? Aish, bahkan saat kecil aku selalu memakan sup tahu setiap hari. Bagaimana bisa kau memesan makanan rumahan di saat seperti ini?” Jiyong memekik kesal. “Pesan sup asparagus atau sup seafood saja. Itu menu rekomendasi di sini.”

“Tidak. Aku tidak mau,” Dara langsung protes. “Jika kau pesan yang lain aku tak mau makan.”

Jiyong kembali menghela napasnya, “Cih, selera makananmu sama sekali tidak berkelas,” Cibir Jiyong. “Baiklah. Akan kupesankan sup tahu untukmu.”

Jiyong langsung beranjak menuju meja pemesanan. Sepeninggalan Jiyong, Dara mengembangkan senyumnya. Ia sangat senang karena Jiyong mau menuruti keinginannya. Sup tahu adalah makanan favoritnya. Dulu saat ibunya belum pergi, setiap pagi ia pasti akan selalu disuguhi dengan sup tahu. Sup tahu buatan ibunya adalah yang terbaik yang pernah ia makan. Tak lama Jiyong kembali. Mendengar derap langkah Jiyong, Dara buru-buru kembali memasang wajah dingin.

“Ah, ahjumma itu sangat baik. Dia memberikanku sepasang sandal jepit karena aku berjalan tanpa alas kaki,” Gumam Jiyong sambil mendudukkan kembali dirinya.

“Itu bagus. Ternyata masih banyak orang baik di luar sana,” Ucap Dara dengan sinis.

Jiyong menatap Dara dengan tajam, “Yak, apa maksud ucapanmu? Kau sedang menyindirku ya?”

Dara mulai memasang senyum sinis, “Apa kau merasa tersindir? Baguslah. Itu artinya perasaanmu masih cukup peka.”

“Dara-ssi, apa kau sedang mencoba mengataiku sebagai orang jahat? Woah, kau benar-benar orang yang suka berburuk sangka. Bagaimana bisa kau menganggapku sebagai orang jahat? Aku ‘kan pernah menolongmu dulu.”

“Menolong? Apa kau yakin saat itu kau benar-benar tulus menolongku?”

“Tentu saja. Kau pikir aku punya maksud terselubung?”

Dara semakin memperlebar senyumnya, “Apa kau yakin jika itu tidak direncanakan? Apa kau ingin bilang jika saat itu kau kebetulan melihatku lalu menolongku, begitu?”

“Tentu saja. Kenapa kau menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti? Apa kau sekarang sedang menuduhku punya niat jahat padamu?”

“Kau sangat naif, Jiyong-ssi,” Untuk pertama kalinya Dara menyebut nama Jiyong, membuat pemuda itu merinding untuk beberapa saat karena nada bicara Dara yang begitu sinis. “Bukankah kau juga berada di kubu keluarga tiriku?”

Jiyong terdiam untuk beberapa saat, berusaha menetralkan perasaan takutnya. Tatapan Dara kini berubah jadi tajam bak seekor harimau yang siap menerkamnya kapan saja. “Dara-ssi, kurasa kau punya hubungan yang kurang baik dengan keluarga tirimu. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi jujur aku bukan tipe orang yang peduli hal seperti itu. Asal kau tahu saja ya, mendiang ibuku adalah teman baik ibu tirimu. Mengingat mereka memiliki hubungan yang dekat, makanya aku tak mengecewakan dirinya. Kau pikir di zaman seperti ini masih ada yang mau melakukan perjodohan? Aku ini terlalu baik makanya aku sampai mau memenuhi keinginan teman baik ibuku.”

“Bohong!” Suara Dara terdengar serak. Bulu kuduk Jiyong kembali meremang. Tatapan mata gadis itu kini bertambah tajam. Jiyong menelan salivanya dalam-dalam, berharap Dara takkan melemparinya lagi dengan benda-benda yang ada di sekitarnya. Omong-omong, sekarang di depan Dara ada sebuah cangkir kaca dan jarak mereka terlampau cukup dekat. Tidak lucu ‘kan jika cangkir itu sampai melayang ke wajahnya?

“Pesanan kalian sudah siap,” Suara pelayan yang datang bak nyanyian merdu malaikat di telinga Jiyong. Ia menoleh dan mendapati seorang ahjumma tengah membawa pesanan mereka. “Sup asparagus dan sup tahu.” Ahjumma itu meletakkan pesanan mereka di meja.

“Terimakassih, ahjumma,” Ucap Jiyong dengan senyuman lebar.

“Ne, selamat menikmati.” Ahjumma itu pergi kembali ke dapurnya.

Jiyong kembali menatap Dara yang masih tetap memasang tampang horror.

“Yak, pesananmu sudah datang,” Jiyong meletakkan mangkuk sup milik Dara ke depan gadis itu. Ia mengambil sup dan sendok lalu menyodorkannya secara paksa ke tangan Dara. “Berhenti menatapku seperti itu dan makanlah. Lama-lama matamu bisa keluar jika kau terus melotot padaku.”

Dara masih terus diam. Dia belum berniat menyentuh makanannya meskipun sepasang sumpit dan sendok sudah berada di tangannya sekarang. Jiyong yang sudah mulai menyantap supnya beralih melirik Dara.

“Yak, kenapa kau tidak makan?” Jiyong berteriak. “Ah, kau mau kusuapi ya? Sini biar kusuapi.”

Jiyong baru saja akan merebut sendok dari tangan Dara, namun Dara mencegahnya, “Jangan macam-macam atau kupatahkan batang lehermu.”

Ah, ancaman yang sama lagi. Jiyong jadi tertawa geli sekarang.

~~~

Kedatangan Jongin dan Soojung di tempat itu di sambut dengan senyum hangat oleh Ny. Min, yang menjabat sebagai kepala yayasan. Yayasan itu diberi nama Rumah Singgah Mirae, tempat dimana anak-anak dengan kebutuhan khusus tinggal. Rata-rata mereka adalah anak yatim atau anak-anak yang keluarganya tidak mampu membiayai karena mereka harus diberi perhatian khusus. Disana ada anak yang cacat secara fisik maupun mental.

“Selamat datang di Rumah Singgah Mirae,” Ny. Min menundukkan badannya pada Jongin dan Soojung.

“Ah, terimakasih atas sambutan hangat anda,” Soojung tersenyum dengan ramah pada wanita itu.

“Tidak terasa Rumah Singgah Mirae sudah dibuka selama 5 tahun. Sepertinya tempat ini mengalami banyak kemajuan,” Jongin menatap ke luar jendela kantor, menatap beberapa anak yang tengah bermain di halaman depan.

“Ya, seperti yang Sekretaris Kim bisa lihat. Sekarang jumlah anak-anak di sini sudah mencapai lebih dari seratus orang. Mereka rata-rata mengalami cacat secara fisik dan mental. Di sini mereka bisa menemukan kebahagiaan tersendiri. Berkumpul dan bermain bersama dengan teman-teman yang memiliki nasib yang sama. Mereka merasa mempunyai surge sendiri di sini.”

Soojung mengikuti arah pandangan Jongin. Ia tersenyum tipis melihat bagaimana anak-anak di luar sana bermain dengan ceria tanpa beban apapun, “Mereka pasti bahagia di sini. Kami senang jika rumah singgah ini semakin berkembang.”

“Oh ya, saya pikir hari ini Samunim akan ikut datang kemari. Apa beliau berhalangan hadir?” Pertanyaan Ny. Min itu membuat Jongin dan Soojung kembali menatapnya.

“Ah ya. Beliau ada keperluan mendadak sehingga menunda kunjungan kemari. Mungkin lain waktu ia akan datang bersama kami,” Sahut Jongin.

“Baiklah. Itu bukan masalah. Samunim memang orang yang sibuk. Oh ya, saya lupa membuatkan minum. Manager Jung, Sekretaris Kim, tolong tunggu sebentar. Akan saya buatkan teh untuk kalia berdua.” Ny. Min berdiri dari kursinya.

“Ah, Ny. Min tak perlu repot-repot seperti ini,” Soojung merasa tak enak.

“Tidak apa-apa. Kalian adalah tamu di sini. Akan saya buatkan sebentar ya.”

Sosok Ny. Min lalu menghilang di balik pintu. Kini hanya tersisa Jongin dan Soojung di sana.

“Berada di tempat ini, aku jadi ingat saat kita pertama kali kita kemari,” Jongin bersuara pelan. “Saat kita sedang kuliah praktek. Kau ingat?”

Soojung lamat-lamat mengembuskan napasnya, “Ya. Aku ingat. Bahkan aku masih ingat pada bocah itu. Lee Jihyun.” Soojung tersenyum miris.

“Apa kau masih sedih karena dia telah meninggal?”

“Tidak. Aku bahkan tidak kaget saat mendengar kabar kematiannya. Lagipula ia memang sudah tidak punya harapan hidup. Kanker otak stadium akhir. Aku kasihan karena anak sekecil dirinya harus menanggung penyakit seberat itu. Akan lebih melegakan saat ia bisa melepas semua itu.” Mata Soojung nampak berair.

Jongin tersenyum tipis, “Aku juga kasihan padanya, tapi jika mengingat kelakuan nakalnya pada kita, aku jadi kesal. Dia bahkan pernah melaporkan kita pada Ny. Min karena berciuman di toilet.”

“Yak, berhenti mengungkit masalah itu. Semuanya ‘kan sudah lama berlalu,” Entah kenapa pipi Soojung justru bersemu merah sekarang. Mungkin ia merasa malu dengan kejadian di masa lalunya itu.

Jongin terkekeh, “Kenapa memangnya? Apa kau masih malu karena kejadian itu?”

“Yak, kubilang berhenti mengungkitnya.”

“Ah, waktu itu kau yang menciumku lebih dulu ‘kan? Kau menciumku dengan penuh nafsu. Kau melumat bibirku dengan ganas dan—“

“Yak!” Soojung hampir saja melayangkan tangannya ke wajah Jongin, namun pemuda itu lebih dulu menahan tangannya. Sesaat mereka sama-sama membeku dengan jarak tubuh mereka yang sangat kecil. Manik hazelnut Soojung bersirobok dengan manik hitam milik Jongin. Menciptakan perasaan aneh dalam diri mereka masing-masing.

“Kau—“Jongin berucap pelan sambil terus memandang wajah Soojung, “—tidakkah kau rindu dengan masa lalu kita? Tidakkah kau ingin kita kembali seperti dulu?” Kini Soojung kembali menemukan titik kelemahan dirinya sendiri. Tatapan mata Jongin yang tulus dan teduh. Ia lemah pada tatapan mata pemuda itu. “Tidakkah aku pikir kita bisa memulai semuanya kembali? Kau dan aku… kita bisa memperbaiki semuanya, Soojung-ie.”

“Jongin-ah, kita—“

Suara derit pintu yang berdecit membuat mereka langsung memisahkan diri. Kesadaran mereka dipaksa untuk segera kembali. Mereka berhasil kembali pada posisi semual sebelum Ny. Min masuk ke dalam.

“Ahh, ini tehnya. Silahkan dinikmati,” Ny. Min meletakkan dua cangkir di atas meja.

“Terimakasih,” Soojung dan Jongin kompak bersuara lalu menyambar teh mereka masing-masing. Sesekali mereka saling bertukar pandang lewat ekor mata mereka. Tampaknya mereka masih memendam rasa yang sama seperti dulu, tapi apakah mereka sanggup untuk memperbaiki semuanya?

~~~

Jiyong dan Dara kembali dalam perjalanan dengan mobil. Mereka baru saja selesai makan siang dan akan pergi ke tempat berikutnya.

“Jadi apa kau sudah ada rencana sekarang, Dara-ssi?” Jiyong melirik Dara yang duduk dengan tenang di bangku belakang.

“Tidak ada,” Sahut Dara singkat.

“Baiklah. Karena kau tak punya rencana apa-apa, berarti kau menyerahkan semuanya padaku. Bagaimana kalau kita pergi ke hotel?” Jiyong melempar tatapan menggoda pada gadis itu.

“Kau mau segera mati muda? Aku bisa mengirimkanmu ke neraka sekarang juga,” Dara melemparkan tatapan membunuh pada Jiyong.

“Wooh, kau galak sekali sih. Aku ‘kan Cuma bercanda. Lagipula mana ada pria yang mengajak kekasihnya ke hotel siang-siang begini. Setidaknya aku harus mengajakmu minum soju dulu sampai larut malam, baru aku membawamu ke hotel,” Tawa Jiyong langsung mengudara setelah ucapannya barusan selesai.

Dara hanya tersenyum tipis, “Kurasa kau benar-benar minta ditendang ke neraka. Berhenti bicara omong kosong dan segera antar aku pulang!”

“Aish, pulang apanya? Ini bahkan sampai sore. Kita harus tetap jalan-jalan,” Jiyong kembali fokus pada jalanan di depannya. “Hari ini sangat panas. Kurasa akan jadi menyenangkan jika kita makan es krim.”

“Es krim?” Dara mengerutkan keningnya.

“Iya, kenapa? Kau suka es krim ‘kan?”

“Kekanakan sekali. Aku tidak suka es krim.”

“Aih, mana mungkin kau tidak suka es krim. Semua gadis yang kukenal pasti suka es krim.”

“Sayang sekali tapi aku berbeda dari semua gadis yang kau kenal.”

Jiyong menautkan bibirnya sambil berdecak kesal, “Ya. Kau memang berbeda, tapi kupastikan setelah ini kau akan menyukai es krim.”

Jiyong buru-buru memacu mobilnya menuju sebuah gerai es krim. Sesampainya di sana, mereka segera turun. Jiyong membantu Dara duduk di salah satu meja paling pojok dan memesankan mereka dua gelas besar es krim. Rasa pisang untuknya dan rasa vanilla untuk Dara.

“Ini rasa vanilla untukmu,” Jiyong meletakkan segelas es krim tepat di depan Dara.

“Kenapa kau pesankan untukku? Sudah kubilang aku tidak suka es krim,” Bentak Dara.

“Aish, gadis ini benar-benar tidak punya selera yang bagus. Semua orang suka es krim, masa kau tidak? Cobalah makan sesendok dan kau akan tahu betapa nikmatnya es krim vanilla,” Jiyong menatap Dara dengan sebal. “Cepat makan atau kusuapi kau dengan cara paksa?”

Dara buru-buru menggerakkan tangannya, berusaha meraih sendok es krim yang ada di depannya. Jiyong langsung membantu Dara lalu pelan-pelan gadis itu mulai menyendokkan sesendok es krim ke mulutnya. Ia melahapnya pelan-pelan lalu mulai merasakan sensasi manis dan lembut di mulutnya.

“Bagaimana? Enak ‘kan? Kau pasti menyesal karena sempat menolaknya tadi,” Ucap Jiyong dengan senyum penuh kemenangan.

“Tidak. Rasanya biasa saja.”

Mulut Dara berkata demikian, namun nyatanya ia berkali-kali menyumpali mulutnya dengan sesendok penuh es krim yang terhidang di depannya.

“Cih, dasar naif,” Jiyong bergumam pelan lalu menikmati kembali es krimnya.

Dara nampak menikmati es krimnya dengan lahap. Kalau boleh jujur ini pertama kalinya ia kembali memakan es krim. Kalau ia tidak salah ingat, terakhir kali ia makan es krim sekitar 11 tahun yang lalu. Saat ia dan keluarganya berkunjung ke Taman Hangang. Jiyong menikmati es krimnya sambil menatap Dara. Sesekali senyumnya mengembang saat maniknya memergoki Dara tengah tersenyum tipis sambil memakan es krimnya. Tawa Jiyong pecah saat dilihatnya wajah Dara mulai celemotan dengan es krim.

“Yak, apa kau anak umur lima tahun? Bagaimana bisa wajahmu celemotan begitu?”

Mendengar ucapan Jiyong, Dara langsung mengusap wajahnya, namun bukannya bersih, noda es krim di wajahnya justru semakin belepotan.

“Yak yak, berhenti menggunakan tanganmu,” Jiyong meraih tisu yang ada di meja lalu mengusapnya ke wajah Dara. “Jika kau menggunakan tanganmu, bisa-bisa noda es krimnya akan belepotan sampai ke jidatmu.” Pelan-pelan Jiyong membersihkan noda es krim di sekitar mulut Dara. Gerakan tangannya berhenti saat maniknya dan manik Dara saling bersirobok. Mereka sama-sama terdiam yang untuk beberapa saat hingga akhirnya Jiyong bersuara lebih dulu. “Kau…. Pasti kau merasa deg-degan ‘kan sekarang? Iya ‘kan?”

Dara menautkan kedua alisnya, “Tidak kok. Aku biasa saja.”

“Aish, kau pasti bohong. Mana mungkin kau tidak deg-degan saat ada seorang pria yang mengusap bibirmu.”

“Aish, aku tidak bohong. Singkirkan tanganmu, bodoh!” Dara buru-buru menepis tangan Jiyong dari wajahnya.

Jiyong menatap Dara dengan heran, “Masa iya dia tidak deg-degan? Padahal jantungku saja sampai hampir melompat keluar tadi. Ah, menyebalkan!” Jiyong mengacak-acak rambutnya frustasi.

~~~

Taekwoon mengambil gambar sekelompok anak yang sedang bermain dengan serius. Berkali-kali ia berusaha fokus memotret, namun berkali-kali juga ia harus menghapus dan mengulang semuanya dari awal. Ya objeknya ter-blur-lah, pencahayaannya jeleklah. Pokoknya Taekwoon benar-benar tidak bisa mendapatkan hasil yang maksimal siang itu.

“Taekwoon-ah, kenapa? Apa kau ada masalah?” Seorang pria –yang merupakan rekan kerjanya- menghampiri Taekwoon yang nampak gusar.

“Tidak ada apa-apa, hyung. Aku hanya kesulitan untuk fokus,” Sahut Taekwoon berusaha tersenyum.

“Kau pasti sedang ada masalah. Seorang photographer akan kehilangan nyawanya jika ia sedang dirundung masalah,” Pria itu menepuk pundak Taekwoon dengan pelan. “Kita istirahat sebentar dan ceritakan semuanya padaku.”

Mereka lalu menepi, mengambil salah satu tempat duduk panjang yang kosong di sudut taman dan membersihkan kamera mereka sebentar.

“Jadi kau ada masalah apa? Ceritakan saja padaku. Anggap saja aku ini seperti kakakmu.”

Taekwoon tersenyum tipis, “Sebenarnya aku baru saja ditolak, hyung.”

“Apa? Ditolak? Woah, gadis mana yang berani menolak pemuda setampan dirimu? Apa dia masih waras?”

“Ini sudah kedua kalinya, hyung, dengan gadis yang sama.”

“Gadis yang sama? Wah, kau pasti benar-benar menyukai gadis itu,” Pria dengan kumis tipis yang menghiasi wajahnya itu terkekeh. “Sayangnya dia bukan orang yang beruntung untuk memiliki kekasih sebaik dirimu. Anggap saja ia bukan orang tepat, Taekwoon-ah.”

“Aku tidak tahu, apakah ia tak tepat untukku atau justru sebaliknya. Aku yang tak tepat untuknya,” Taekwoon menatap lelaki yang usianya lebih tua daripadanya itu. “Hyung, apa kau percaya jika aku benar-benar pria yang baik?”

“Nde?”

Taekwoon kembali mengulas senyumnya, “Aku pernah melakukan kesalahan yang fatal di masa lalu dan kurasa karena itulah ia menolakku sekarang.”

5 tahun yang lalu…

 

 

Taekwoon terus mengejar gadis bersurai panjang yang berlari di depannya. Sesekali ia berusaha meraih lengan si gadis yang masih berbalut seragam sekolah itu, namun gadis itu terus menyela tangannya.

 

 

“Hei, tidak bisakah kau berhenti? Aku hanya ingin bicara sebentar,” Taekwoon berteriak pada gadis itu. Diraihnya lengan mungil itu lalu dipaksanya berhenti.

 

 

“Apa yang ingin kau katakan?” Gadis itu menatap Taekwoon dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Taekwoon melirik nametag gadis itu. Jelas tertera di sana nama gadis itu adalah Kang Seulgi.

 

 

“Kang Seulgi, namamu Kang Seulgi ‘kan?” Taekwoon kembali menatap wajah gadis itu. “Aku kemari ingin minta maaf padamu. Aku tahu sikapku malam itu benar-benar keterlaluan, tapi sungguh aku tak sengaja melakukannya. Itu semua karena aku mabuk.”

 

 

Gadis itu—Seulgi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya sudah menetes dan ia tak berani menunjukkannya di depan Taekwoon.

 

 

“Aku tahu kau pasti merasa malu, takut dan marah padaku. Jika kau mau, aku akan bertanggung jawab jika kelak sesuatu terjadi padamu.”

 


Seulgi mendongakkan kepalanya. Ditatapnya lelaki di depannya itu dengan lekat. Seragam sekolah yang mereka kenakan berbeda. Lelaki itu nampak memakai seragam sekolah yang Seulgi ketahui merupakan salah satu sekolah paling elit di Seoul. Barang-barang yang ia kenakan juga terlihat mahal. Dilehernya bahkan tergantung sebuah kamera mahal. Tanpa Seulgi perlu cari tahu pun, ia sudah bisa menebak jika pemuda itu adalah orang kaya.

 

 

“Lupakan saja. Aku baik-baik saja sekarang,” Seulgi melepaskan lengannya dari genggaman pemuda itu. Ia kembali melangkahkan kakinya pergi, namun pemuda itu kembali menariknya.

 

 

“Kalau begitu, jadikan aku temanmu,” Ucapan pemuda itu membuat Seulgi menatapnya heran. “Kita lihat dalam jangka waktu tiga bulan. Jika sesuatu yang buruk tidak terjadi padamu, maka kau boleh mengusirku. Untuk sementara izinkan aku menjadi temanmu. Bagaimana?”

 

 

Seulgi terdiam sejenak. Sejujurnya perasaannya benar-benar takut sekarang. Mengingat bagaimana perlakuan pemuda itu padanya, ia merasa agak cemas. Namun, jauh di lubuk hati terkecilnya, ia merasa perlu memberi pemuda ini kesempatan. Bagaimana pun pemuda ini sudah memiliki niat baik dan tidak kabur begitu saja meninggalkannya. Seulgi bisa menuntut pertanggungjawaban jika kelak sesuatu yang buruk terjadi pada dirinya karena ulah pemuda itu.

 

 

“Baiklah. Mari kita berteman mulai sekarang.”

 

 

Ucapan Seulgi itu membuat senyum Taekwoon mengembang, “Kalau begitu biar aku memperkenalkan diri. Namaku Jung Taekwoon.” Dan sejak itu mereka menghabiskan waktu bersama sebelum akhirnya Taekwoon pergi ke Prancis untuk mengejar cita-citanya.

~~~

Hari sudah menjelang senja. Jiyong menghentikan mobilnya ketika mereka sampai di tepi sungai Han. Kini ia dan Dara sama-sama berada di luar, menikmati semilir angin yang berhembus dan pemandangan langit jingga yang nampak begitu cantik.

“Langitnya sangat cantik. Kau tahu, ada semburat jingga kemerahan di atas sana,” Jiyong berucap sambil menerawang jauh ke atas sana.

“Aku tahu. Aku masih ingat kok bagaimana indahnya langit senja,” Sahut Dara yang duduk tepat di sebelahnya.

“Oh ya?  Omong-omong kau buta sejak umur berapa?”

“Sejak tujuh belas tahun yang lalu. Saat usiaku sepuluh tahun dan ibuku pergi meninggalkanku.”

“Ibumu pergi meninggalkanmu?” Jiyong melirik Dara dengan kaget.

Dara hanya menghela napas panjang, “Jangan bertanya lebih lanjut. Aku tidak tertarik menceritakan apapun padamu.”

Jiyong ikut menghela napas panjang kemudian kembali menatap langit di atas sana, “Kencan hari ini adalah kencan terkonyol yang pernah kulalui. Kaki pacarku yang bodoh masuk ke dalam got lalu wajahnya jadi jelek karena belepotan dengan es krim. Sungguh menggelikan.” Jiyong terkekeh pelan.

“Apa kau sedang membicarakan aku?”

“Tidak, kecuali kau merasa jika kau memang pacarku yang bodoh.”

“Cih, aku tidak bodoh tau.”

“Baiklah, berarti kau pacarku yang cerdas.”

“Aku bukan pacarmu!”

“Memang! Kau kan calon istriku.”

Ingin sekali rasanya Dara menendang bokong Jiyong sekarang juga, “Apa kau pikir kita akan benar-benar menikah?”

“Tentu saja. Semuanya sudah jelas. Kita bahkan sudah bertemu sebelum saling mengenal secara resmi. Bukankah itu sebuah pertanda bagus?” Jiyong kembali mengarahkan maniknya pada Dara.

“Pertanda bagus apanya? Itu hanya sebuah kebetulan.”

“Kebetulan?” Jiyong terkekeh. “Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Kau tahu, semua sesuatu yang terjadi sudah dituliskan Tuhan. Itu namanya takdir.”

“Takdir?”

“Hmm. Takdir. Ketimbang menyebutnya kebetulan, aku lebih senang menganggap semua yang terjadi dalam kehidupan ini sebagai takdir. Entah itu sesuatu yang baik atau yang buruk, semuanya itu adalah takdir yang harus kita hadapi suka ataupun tidak. Takdir itu bisa ditolak oleh siapapun.”

Ucapan Jiyong itu membuat Dara membeku. Untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat yang bermakna dalam dari mulut pemuda itu. Padahal sepanjang hari ini ia hanya mendengar ocehan-ocehan tak jelas dari Jiyong. Dia pikir kepala Jiyong itu kosong, namun nyatanya pemuda itu cukup pintar juga membuat quotes.

“Kau tahu, adegan apa yang paling kusukai dalam semua drama?” Tanya Jiyong pada Dara. Gadis itu hanya diam, tak tertarik untuk menjawab pertanyaan itu. “Adegan dimana pemeran utamanya berciuman di bawah langit senja.”

“Apa?” Sorot mata Dara langsung berubah tajam membuat Jiyong tak dapat menahan tawanya.

“Kenapa kau kaget begitu? Aku ‘kan hanya ingin memberitahumu hal yang kusukai.”

“Dasar mesum!! Berhenti mengucapkan hal-hal yang tak penting atau aku akan—“

“—Mematahkan batang leherku?” Jiyong menyela dengan cepat. “Heol, ini sudah ketiga kalinya kau mengancamku seharian ini. Lihatlah dirimu, kau bahkan tidak bisa mengeluarkan kakimu dari got tapi kau berani mengancamku.”

“Apa kau sedang meremehkanku? Kau benar-benar tidak percaya jika aku bisa mematahkan lehermu?” Dara sudah mengambil ancang-ancang untuk mencekik leher Jiyong.

“Yak yak, hentikan semua ini atau kucium kau!”

Diluar dugaan ancaman Jiyong itu sukses membuat Dara takut, “Aku tidak sudi berciuman denganmu!”

“Tidak masalah. Toh, kita akan berciuman nanti—“ Ucap Jiyong seraya mendekatkan wajahnya ke telinga Dara dan membisikkan sesuatu. “—diatas altar saat kita menikah.”

“Sialan!” Dara mendorong tubuh Jiyong jauh-jauh. Ia kesal karena ucapan Jiyong itu sukses membuat wajahnya memanas.

~~~

Jongin dan Soojung sekarang dalam perjalanan pulang. Suasananya menjadi lebih canggung sekarang. Tak ada yang bersuara sama sekali. Hanya suara napas masing-masing dan deru mobil yang memecah keheningan di sana.

“Manager Jung,” Jongin akhirnya tak dapat menahan diri untuk diam.

“Nde?” Soojung menoleh pada Jongin.

“Aku merasa lapar. Apa kau juga lapar?”

“Oh iya. Aku juga lapar sebenarnya.”

“Bagaimana kalau kita makan dulu.”

“Ummm boleh juga.”

“Jajangmyeon?”

“Oh?” Soojung nampak sedikit kaget dengan pilihan menu yang ditawarkan Jongin.

“Aku sedang ingin makan jajangmyeon. Apa kau keberatan?”

“Ah tidak kok. Terserah kau saja.”

“Oke. Ahjussi, kalau kita lewat restoran jajangmyeon, tolong singgah ya. Kami ingin makan sebentar di sana,” Ucap Jongin pada sang supir.

Supir itu langsung memacu mini vans mereka dengan lebih cepat. Tak lama mereka telah sampai di sebuah restoran jajangmyeon dan langsung turun. Mereka memesan dua porsi jumbo jajangmyeon dan menikmatinya dengan tenang.

“Rasanya jajangmyeon sedikit berbeda, benar ‘kan?” Ucap Jongin disela-sela aktivitas kunyah-mengunyah mereka.

“Ummm. Sedikit asin kupikir,” Soojung memasukkan sesendok penuh jajangmyeon ke mulutnya. “Tapi ini lumayan untuk mengganjal perut.”

Jongin tersenyum melihat Soojung yang menikmati makanannya dengan lahap. Gadis itu sama sekali tak pernah berubah. Bahkan cara makannya masih sama seperti dulu.

“Kurasa jauh lebih enak rasa jajangmyeon yang kita makan tiga tahun yang lalu.”

Ucapan Jongin itu membuat Soojung berhenti mengunyah makanan sebentar, “Tentu saja rasanya berbeda. Kita berada di restoran yang berbeda sekarang, rasanya tentu saja tidak sama.”

Jongin menatap Soojung dengan lekat, “Ya, kau benar. Kita berada di restoran yang berbeda dan di waktu yang berbeda juga, tapi apakah mungkin perasaan kita masih sama?”

Soojung kini benar-benar membalas tatapan Jongin, “Jongin-ssi, apa yang sedang kau coba katakan padaku? Sikapmu benar-benar aneh.”

“Tidak ada. Aku hanya penasaran kenapa waktu berjalan sangat cepat. Aku menyatakan perasaan padamu, kita pacaran lalu kita putus begitu saja. Rasanya seperti sebuah balon hidrogen yang diterbangkan ke udara, melesat dengan cepat.” Jongin tersenyum miris.

“Semuanya berjalan begitu saja, Jong. Memangnya kau mau menghentikan waktu yang sedang berjalan?”

“Ketimbang menghentikannya, aku lebih memilih untuk memutar ulang waktu,” Ucapan Jongin itu membuat Soojung tersentak. “Aku ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin kembali di masa saat kita masih bersama agar bisa mengetahui apa alasanmu meninggalkanku.”

“Apa alasanku meninggalkanmu? Huh, kau lucu sekali, Kim Jongin-ssi,” Soojung tertawa sinis. “Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kau yang menghianatiku.”

Kini giliran Jongin yang tertawa dengan sinis, “Menghianatimu? Jadi kau lebih percaya omongan teman-temanmu itu daripada aku. Hei, Jung Soojung, apa kau lupa dengan ucapanku saat terakhir kali kita bertemu? Aku sama sekali tak punya hubungan dengan gadis itu!”

“Omong kosong! Kau selalu begitu, Jongin-ssi. Kau selalu datang padaku setelah aku puas bersenang-senang dengan gadis-gadis lain. Aku tidak mengerti denganmu. Jika kau menyukai mereka, kenapa kau pacaran denganku? Kenapa kau tidak pacaran dengan mereka saja? Bukankah mereka lebih cantik dan berkelas dibandingkan denganku?”

“Soojung-ah, kau tahu?” Jongin masih menatap wajah Soojung dengan lekat. “Aku seperti kembali ke masa lalu. Kata-katamu tadi… huh, kata-katamu tadi sama persis dengan yang kau ucapkan saat kita putus.”

“Ya, itu memang sama. Lalu kenapa? Kau ingin marah padaku?” Soojung seolah menantang Jongin dengan ucapannya.

“Tidak. Aku tidak marah. Hanya saja aku baru sadar. Sikap keras kepalamu sama sekali belum berubah.”

Soojung menahan napasnya. Entah kenapa ia jadi kesulitan bernapas sekarang. Kata-kata Jongin tadi sukses menohok hatinya. Ia membanting sendok makannya dengan kasar lalu meraih tasnya dan beranjak berdiri dari kursinya.

“Ya, aku memang belum berubah. Apa kau pikir kau sudah berubah? Kau juga masih sama seperti dulu, Jongin-ssi. Kau masih saja brengsek. Itulah sebabnya aku terus membencimu hingga sekarang dan apa katamu tadi? Kau ingin kembali ke masa lalu? Huh, lucu sekali. Silahkan kembali ke masa lalu, tapi jangan pernah kau mencoba mengajakku pergi bersamamu.”

~~~

Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam saat Jiyong mengantar Dara pulang. Seulgi yang sudah menunggu kedatangan Dara sejak tadi langsung membantunya turun.

“Nona baik-baik saja?” Tanya Seulgi sambil memperhatikan penampilan Dara. Ya, Dara tidak serapi biasanya. Bahkan ia mengenakan sepatu converse –yang tanpa harus Seulgi tanyakan ia sudah tahu jika itu bukan milik majikannya.

“Aku baik-baik saja. Tadi higheels-ku patah,” Sahut Dara.

Seulgi beralih melirik Jiyong sudah berdiri di samping pintu mobil. Matanya tertuju pada sepasang tungkai Jiyong yang hanya beralaskan sepasang sandal jepit. Ia langsung menundukkan badannya, lalu memberi hormat pada pemuda itu.

“Aku langsung pulang saja ya,” Ucap Jiyong.

“Tidak ada yang melarangmu pulang,” Ketus Dara.

“Yak, ucapkan selamat tinggal atau apa kek. Biasanya kalau pacar pulang ke rumah, itu mesti di kasih ciuman.”

“Yak!” Dara memekik kesal, membuat Jiyong buru-buru masuk kembali ke dalam mobil.

“Hei, aku pulang dulu. Jaga calon istriku  baik-baik ya. Dia agak stress hari ini,” Ucap Jiyong pada Seulgi sebelum akhirnya mobilnya melaju meninggalkan kediaman keluarga Park.

Seulgi menatap kepergian Jiyong dengan tatapan tak percaya. Ia baru tahu jika calon suami majikannya adalah orang yang seperti itu. Apa jadinya jika Dara yang dingin menikah dengan Jiyong yang hiperaktif itu?

“Nona dia—“

“Aku mau mandi air panas. Aku lelah. Tolong siapkan semuanya,” Dara buru-buru menyela.

“Oh baik, Nona.”

~~~

Jiyong baru saja selesai mengantarkan mini van perusahaan yang ia pinjam. Dengan langkah ringan, diseretnya kedua tungkainya menuju parkiran mobil. Kadang Jiyong membalikkan badannya dan menoleh ke belakang. Aneh, padahal ia sedang sendirian di sana, tapi ia merasa ada seseorang yang mengikutnya. Saat menoleh pun ia tak melihat siapa-siapa di belakangnya. Buru-buru Jiyong masuk ke dalam mobilnya, mengabaikan perasaan tak enaknya. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.

“Seungri-ah, kau dimana?” Tanya Jiyong pada seseorang di ujung sana.

“Oh, hyung, aku baru saja mau ke club, tapi aku masih di rumah nih.”

“Bagus. Kita bertemu di sana. Bawakan aku sepasang sepatu.”

 

“Sepatu? Memangnya untuk apa?”

“Sudah jangan banyak tanya. Lakukan saja apa yang kukatakan. Kalau kau sudah sampai, tunggu aku diparkiran ya. Aku akan segera ke sana.”

Jiyong segera memutuskan sambungan teleponnya lalu menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Tanpa ia sadari sejak tadi ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik tembok.

~~~

Dara membenamkan tubuhnya dalam air hangat sambil menikmati segelas wine. Aroma terapi yang menguar dari lilin di sekitar kamar mandinya membuat pikirannya relaks sejenak.

“Kau…. Pasti kau merasa deg-degan ‘kan sekarang? Iya ‘kan?”

 

 

 “Tidak kok. Aku biasa saja.”

 

 

“Aish, kau pasti bohong. Mana mungkin kau tidak deg-degan saat ada seorang pria yang mengusap bibirmu.”

“Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Kau tahu, semua sesuatu yang terjadi sudah dituliskan Tuhan. Itu namanya takdir.”

Entah kenapa sekelumit percakapannya bersama Jiyong kembali muncul dibenaknya. Dara meraih gelas wine-nya lalu menyesapnya pelan.

“Takdir? Omong kosong! Dia pasti hanya ingin menggodaku,” Dara bermonolog sendiri. “Seulgi-ah, aku sudah selesai. Tolong keluarkan aku dari sini.”

Seulgi yang sejak tadi menunggu di luar langsung masuk. Dibawakannya bathrobe milik Dara dan dipasangkannya di tubuh gadis itu. Ia menuntun Dara keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di depan meja rias.

“Ah, Nona, sepatu yang tadi anda gunakan, harus saya simpan dimana?” Seulgi bertanya kala maniknya menangkap sepasang sepatu yang tergeletak di dekat ranjang.

Dara terdiam sejemang. Kalimat Jiyong kembali berputar-putar di kepalanya.

”Kau bisa memakai sepatuku.”

 

 

“Kenapa? Kenapa kau melarangku melepas sepatumu? Apa kau khawatir denganku? Kau pasti khawatir ‘kan jika aku meminjamkan sepatuku padamu lalu aku akan berjalan tanpa alas kaki? Benar ‘kan? Iya ‘kan?”

 

 

“Ah, ahjumma itu sangat baik. Dia memberikanku sepasang sandal jepit karena aku berjalan tanpa alas kaki.”

Ia mengembuskan napas panjang lalu mulai memijat pelipisnya yang mendadak sakit, “Simpan saja sepatunya, tapi sebelumnya tolong dicuci dulu. Pastikan sepatunya bersih.”

“Baik, Nona.”

~~~

Setelah setengah jam menempuh perjalanan, Jiyong akhirnya tiba di tempat tujuannya. Ia segera membawa mobilnya menuju parkiran. Seulas senyum ia kembangkan saat maniknya mendapati Seungri sudah menunggunya disana. Jiyong memarkir mobilnya pelan-pelan, namun gerakan tangannya terhenti saat maniknya tak sengaja melihat sebuah bayangan dari kaca spionnya. Bayangan itu mirip seperti seorang manusia yang bersembunyi di balik tembok. Buru-buru Jiyong keluar dari mobilnya dan menghampiri Seungri. Perasaannya sekarang benar-benar jadi tak enak.

“Hyung, akhirnya kau datang juga,” Seungri langsung menyodorkan sebuah kotak berisi sepatu yang Jiyong minta tadi.

“Ah, terimakasih,” Jiyong buru-buru mengambil kotak itu lalu kembali menolehkan kepalanya ke belakang. Ditatapnya tembok yang ia curigai menjadi tempat persembunyian seseorang. Sepertinya  ia benar-benar tengah dimata-matai oleh seseorang.

“Hyung, kenapa? Apa ada sesuatu? Kau nampaknya sedang memikirkan sesuatu,” Seungri bertanya membuat Jiyong kembali menatapnya.

“Ah tidak. Aku hanya—“

“Aghhh. Sialan!”

Kata-kata Jiyong terputus saat sebuah teriakan nyaring terdengar dari balik tembok. Jiyong dan Seungri buru-buru mengarahkan atensi mereka pada sumber kegaduhan itu. Tepat saat mereka menoleh, mereka melihat ada dua orang pria yang sedang berkelahi. Kedua pria sama-sama bertubuh kekar dan mengenakan jaket hitam. Mereka saling adu jontos, menendang dan mencekik satu sama lain.

“Oh, apa yang mereka lakukan? Kenapa mereka berkelahi di sini?” Seungri memekik ketakutan.

Sementara Jiyong hanya mematung. Bukankah salah satu dari pria itu adalah orang yang membuntutinya. Kedua orang itu terus saja berkelahi hingga salah satu dari mereka tersungkur di tanah dengan darah segar yang mengucur dari mulutnya.

“Hyung, haruskah kita melerai mereka?” Ucap Seungri.

Jiyong langsung melempar tatapan tajam pada pemuda itu, “Kau gila? Kau mau kita terlibat dalam masalah ini?”

“Yasudah kalau begitu kita laporkan ke security saja. Jika terus dibiarkan akan ada pertumpahan darah di sini. Aku tidak mau jadi saksi di kantor polisi,” Seungri merengek, persis seperti anak kecil.

“Tidak perlu lapor pada security,” Suara itu membuat Jiyong dan Seungri menoleh. Manik mereka sama-sama menatap si empunya suara itu. “Aku yang membayar orang itu untuk menghajar orang yang memata-mataimu, Kwon Jiyong.”

“Park Sojin?” Jiyong menatap sosok itu dengan mata tak berkedip.

=CHAPTER 6 : END=

 

Aloha reader-nim~

Hana is back!

Heol, chapter ini Hana semangat banget ngetiknya karena di chapter ini daragon udah mulai kencan berdua kekekek

Gatau deh ini aku aja yang ngerasain atau gimana, tapi tiap ngetik semua bagian di chapter ini, aku gak berhenti senyum-senyum sendiri. Apalagi pas momen Daragon kencan itu. Mereka ucul banget. Author gemes >,<

Author juga semangat nih soalnya banyak readers yang pasti udah ga sabar liat momen kencan mereka. Ah, intinya author bahagia karena di chapter ini hampir full in daragon momen 🙂

 

 

Oh ya, sedikit ngebahas komentar raeders, kemaren ada salah satu readers yang berhasil menemukan salah satu drama yang menginspirasiku menciptakan karakter Dara kayak yang ada di FF ini. Dia bilang karakter Dara ini mirip sama karakter Kim Tae Hee di drama Yongpal dan ya, itu bener banget. Sebenarnya gak Cuma terinspirasi dari drama Yongpal, aku juga terinspirasi dari drama lain.

Ada yang pernah nonton dramanya Song Hye Kyo sama Jo In Sung? Judulnya “That Winter, The Wind Blows”. Dramanya udah lumayan lama sih, tapi sampai sekarang aku masih terus mengagumi karakter yang dimainin sama Song Hye Kyo itu. Kalo ada yang pernah nonton, kalian pasti bakal sadar kalau karakter Dara di sini sama persis kayak karakter dia. Di drama itu karakter ceweknya juga buta –sama kayak karakter Dara di FF ini. Malah kurasa karakter Song Hye Kyo di drama itu lebih dingin lagi daripada karakter Dara-unnie.

Yoweslah, btw, aku belum bisa kasih bocoran karena next chapternya belum aku garap sama sekali :”)

 

 

-Hana

 

Advertisements

40 thoughts on “SNEEUWWITJE [Chap. 6]

  1. Seneng baca chapnya ini dara sama jiyong bisa pergi breng gt,besok2 bisa dong pergi brduaan lagi kkkk ciri2 nihh ji mulai ad rasa suka sama dara kkkk apa dara bisa berubah ya stlah ntar dket sama jii,di tggu next chapnya thor dan ditggu daragon moment yg lbih banyak kkkk

  2. Iya bener bgt karakter dara sm kaya song hye kyo dan semoga endnya nggak sama ya kan klu di TWTB mereka nggak bersatu…. oh jd soojin tau klu jiyong lg dimata matain sm dara dan makasih unnie udah buat daragon full momentnya sedikit ngobatin rasa sedih gara” bubarnya 2ne1… next chap makin penasaran sm kelanjutan daragon makin mesra apa makin tambah dingin……

  3. Aku senyum senyum sendiri baca nih chapter. Berasa kalo baca ini bisa diabetes😂 suerr jiyong disini cerewet bin jahil dah. Sukanya goda Dara unnie melulu. Aku udh liat film That Winter The Wind Blow dan baru nyadar kalo karakternya Dara unnie terinspirasi dari Song Hye Kyo. Btw, aku makin jatuh cinta sama ff ini. Cepetan update ya, unnie😊 Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s