My Lovely PRETTY BOY : 003

little-sun

Author : Little Sun

Genre : Romance

Ratting : T

Long : 3/10 chapter

Cast : Park Sandara, Kwon Jiyong, Jang Wooyoung, Ahn Sohee

**

Chapter 3

Chaerin dan Dara berjalan ke kelas mereka pagi ini, composing. Sejak kejadian mengejutkan yang terjadi pagi tadi, Chaerin tidak henti-hentinya mengungkapkan semua kekesalannya pada namja itu.

“Membanting pintu setelah mendapatkan kue?! Yang benar saja?” gerutu Chaerin.

“Sudahlah, biarkan saja,” kata Dara saat mereka memasuki kelas composing.

Saat mereka memasuki ruang kelas tersebut, beberapa anak sudah berada di sana. Chaerin dan Dara memilih duduk di salah satu tepi ruangan.

“Apa kita tidak bisa pindah apartemen?” tanya Chaerin tiba-tiba.

Dara menoleh ke arahnya sambil menaikkan sebelah alisnya, “Mwo?”

“Aku tidak mau namja itu menjadi tetangga kita,” kata Chaerin lalu menghela napasnya.

“Ya~! Chaerin-ah, kau terlalu berlebihan. Jangan terlalu memikirkan hal itu! Atau.. jangan-jangan kau sudah jatuh hati padanya! Ya~! Mengaku saja!!” kata Dara.

Chaerin menatap tajam ke arah eonninya itu, “Ya~! EONNI!”

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menolehkan kepalanya ke arah mereka berdua.

“Chaerin-ah, kecilkan suaramu!” desis Dara sambil tersenyum pada semua orang di dalam ruangan itu atas keributan yang baru saja mereka lakukan.

Mianhae,” balas Chaerin sambil berbisik. Dia juga tersenyum pada semua orang di dalam ruangan itu. Chaerin menghela napasnya, “Baiklah, arraseo. Aku tidak ingin bersikap terlalu kekanak-kanakan,”

“Anak pintar,” kata Dara sambil mengusap kepala Chaerin.

“Ya~! EONNI!” teriak Chaerin yang paling benci saat ada seseorang yang mengusap kepalanya.

“Chaerin!” desis Dara.

Arraseo!”

Tak lama kemudian pintu masuk terbuka kemudia ada enam orang namja masuk ke ruangan itu. Seluruh siswa yang duduk di tepi kelas langsung berdiri, termasuk Dara dan Chaerin. Keenam namja itu berjalan ke depan kelas, di depan sebuah green board besar di salah satu sisi ruangan. Seorang namja yang mengenakan hoodie dan topi hip hop berdiri paling depan di antara keenam namja tersebut. Lima namja lain berada di belakangnya.

Seorang namja dengan rambut putihnya -mungkin lebih tepatnya silver- duduk di balik meja. Seorang namja dengan rambut mohwaknya berdiri sambil bersandar ke meja. Seorang namja lagi dengan rambut coklat duduk di lengan kursi yang di duduki oleh namja berambut putih. Dara dan Chaerin terkejut saat melihat dua namja lagi yang berdiri bersama mereka. Namja dengan rambut hitam pendek yang ditata ke atas dengan menggunakan jel sedangkan namja yang satunya berdiri di samping namja tersebut dengan memakai sebuah topi biru dan sebuah tas merah tersampir di pudaknya.

Whats up everyone!” kata namja yang menakan hoodie dan topi hip hop. Bommie dan Minzy sudah memberi tahu mereka bahwa yang akan menjadi pengajar dalam kelas mereka kali ini adalah Teddy Park dan sepertinya namja inilah yang Bommie dan Minzy maksud. Melihat dari beberapa ciri-ciri yang disebutkan oleh Bommie dan Minzy sebelumnya seperti hoodie dan topi hip hop, sepertinya tebakan mereka tidak salah.

Dara dan Chaerin saling bertukar pandang.

I’m Teddy Park,” kata namja yang tadi mereka tebak sebagai Teddy Park dan ternyata benar, “Pelatih kalian untuk mengkomposer lagu. Aku akan dibantu oleh lima orang asistenku. Mereka adalah asistenku yang akan membantu kalian,”

Dara dan Chaerin kembali saling bertukar pandang. Saat Chaerin kembali menoleh ke depan, tanpa sengaja Chaerin bertatapan dengan namja yang telah membuat pagi harinya yang indah menjadi hancur. Dia memerkan seringainya lalu melambaikan tangannya ke Chaerin. Chaerin hanya mendesah sambil memutar matanya kemudian kembali memfokuskan diri ke Teddy.

Sejak keenam namja itu memasuki ruangan, tak sedetik pun wajah Dara memalingkan pandangannya dan namja yang kini juga sedang berdiri dan memandanganya. Mungkin terdengar sedikit kekanak-kanakan tetapi perasaan seperti yang selalu dibacanya dalam buku-buku dongeng yang dulu sering Ommanya bacakan sebagai cerita pengantar tidur kini benar-benar sedang terjadi. Ya, seolah hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu. Dara tidak memperhatikan semua kata yang dikatakan oleh Teddy. Seluruh indranya hanya tertuju pada satu namja. Ya, namja itu.

“Dan yang terakhir,” Teddy menoleh pada namja terakhir yang berdiri di samping Seungri, “Kwon Jiyong a.k.a G-Dragon, dia akan membantu kalian untuk mengkomposer lagu,”

Jiyong menegakkan tubuhnya. Dia menampilkan seulas senyum lalu berojigi.

Dara menahan napasnya saat tiba-tiba Jiyong menoleh ke arahnya dan memperlihatkan seulas senyum untuknya. Ya, senyum yang dia lihat saat pertama kali mereka bertemu.

Kwon Jiyong

**

Dara berjalan di koridor lantai tiga gedung universitas mereka. Jam sekolah sudah berakhir sejak satu jam yang lalu tetapi Dara masih berada di kampus. Dua minggu telah berlalu sejak mereka pertama kali memasuki YG University. Banyak hal-hal baru yang mereka temukan di sini. Tiga hari yang lalu Dara menemukan sebuah studio tua yang sudah tidak terpakai di lantai tiga gedung B*. Tidak banyak siswa yang mengetahui keberadaan ruangan ini dan sejak dua hari yang lalu, setiap Dara selesai mengikuti kegiatan sekolah, dia selalu datang ke tempat ini untuk berlatih.

Dara melangkah masuk ke dalam studio kecil itu lalu meletakkan tasnya di sebuah sofa yang terletak di salah satu sudut studio itu. Dara mengeluarkan ipod-nya, memasang kedua earphone-nya, lalu memasukkan ipod-nya ke dalam saku celananya.

Lagu dalam ipod-nya bermain secara acak. Party all the time by BEP terdengar dari ipod-nya. Dara mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti beat yang terdengar.

Party all the time, party all the time

Party all the time, party all the time

If, if we could party all night and sleep all day

And throw all of my problems away

My life would be easy, my life would be easy

Dia menggerakkan bahunya, tangannya, kakinya, pinggulnya. Detik demi detik berlalu dan Dara semakin hanyut dalam alunan musik yang di dengarnya.

I would drink and go out, out with my crew

Party, party all the time, yup that’s what I do

Mac models pop bottles, live like, like a sheik

Party Monday through Sunday, every day of week

Ha, I take life in the fast lane zoom

And the joint don’t pop till I walk in the room

When the DJ is rockin’ my favorite tune

When he shaking up the speaker like boom, boom, boom

Dara memutar tubuhnya dan kembali menggerakkan bahunya.

If we could party all night and sleep all day

And throw all of my problems away

My life would be easy, my life would be easy

Sesekali dia ikut menyanyikan lagu tersebut sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti irama. Melepaskan semua penat yang dia rasakan setelah seharian berlatih dan berlatih. Mengembalikan kembali semangatnya. Dara menggerakkan seluruh tubunnya dan mengakhiri gerakannya dengan sebuah gerakan memutar yang anggun.

“Itu adalah gerakan dance terindah yang pernah aku lihat,”

Dara menoleh dan melepaskan salah satu earphone-nya. Jiyong berdiri di ambang pintu sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu.

Jiyong sunbaenim,” kata Dara.

Jiyong sunbaenim?” tanya Jiyong sambil menaikkan sebelah alisnya, “Ku pikir kau memanggilku Ji?”

Well,” Dara meletakkan rambutnya di belakang telinga kanannya dengan sedikit gugup, “Itu..,”

“Sebelum kau tau siapa aku?” tanya Jiyong sambil melangkah mendekat, “Tapi aku lebih suka kau memanggilku dengan sebutan Ji daripada Jiyong sunbaenim. Hanya terasa berbeda saat kau mengatakan itu,”

Dara hanya berdiri diam tak bergerak. Rona merah mulai nampak di wajahnya.

“Kau.. sering datang ke mari?” tanya Jiyong.

Ne,” jawab Dara sambil mengangguk.

“Apakah kau sudah selesai berlatih?”

Ne?”

“Sepertinya begitu,” kata Jiyong. Dia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil Dara lalu berbalik dan kembali berdiri di depannya, “Kkaja!”

“Tungg..,”

Sebelum Dara sempat menyelesaikan kalimatnya, Jiyong sudah berjalan dan menarik Dara keluar.

**

Eonni, kau berhasil menghubungi Dara eonni?” tanya Minzy.

“Belum,” jawab Chaerin sambil terus berusaha menghubungi Dara.

Chaerin, Bom, dan Minzy saat ini sedang berada di café tempat mereka bekerja. Shift kerja mereka berempat sudah dimulai sejak satu jam yang lalu tetapi selama dua setengah jam terakhir ini mereka belum berhasil menghubungi ataupun mengetahui keberadaan Dara. Biasanya pada jam-jam seperti ini Dara akan berlatih di ruangan tua di gedung universitas mereka tetapi saat Minzy datang ke tempat itu, dia tidak menemukan seorang pun di sana. Tidak biasanya Dara menghilang seperti ini dan kini mereka mulai panik.

Aigooo~ that’s girl! Lihat saja jika dia kembali,” gerutu Bom.

“Ya~! Ya~! Ya~! Kalian bertiga! Kembali bekerja!” kata Manager Cho yang sudah berdiri di belakang mereka.

Aigoo~ Ahjussi, kami sedang mencari keberadaan Dara. Bagaimana bisa kami membiarkan teman kami yang buta arah itu pergi sendirian,” gerutu Bom.

Mwo? AHJUSSI? Bom nunna! Bagaimana bisa kau memanggilku ‘ahjussi’? Aku hanya dua bulan lebih muda darimu,” gerutu Manager Cho sambil mengetuk-ngetukkan pisau yang sedang dipegangnya.

Chaerin, Bom, dan Minzy memundurkan tubuh mereka.

Opp.. oppa.. Kyuhyun oppa, tolong jauhkan pisaumu,” kata Minzy sambil bersembunyi di balik Bom.

“Kalau sampai Nunna memanggilku ‘ahjussi’ lagi, pisau ini tidak akan segan-segan mencincang semua stock jagungmu,” kata Manager Cho yang tak lain adalah Cho Kyuhyun. Dia adalah anak pemilik café ini dan dia sudah lama mengelola café ini.

Ya~! Ahjussi! Jangan berani-beraninya kau mencincang anak-anakku!” kata Bom sambil menegakkan tubuhnya.

Kyuhyun hanya menampakkan evil smile-nya dan mengusap ujung pisaunya.

Bom, Chaerin, dan Minzy langsung menelan air liur mereka saat melihat hal itu.

A.. arraseo,” jawab Bom sambil memalingkan wajahnya.

Kyuhyun tersenyum puas.

Klingg~

Pintu café terbuka dan beberapa orang masuk, “Oh, eoseo oshipshiyo,” kata Kyuhyun begitu mendengar pintu depan terbuka.

Empat orang namja berjalan ke dalam bersama dengan tiga orang yeoja yang menempel di sekitar mereka seperti lem.

Kyuhyun menoleh ke arah mereka Chaerin, Bom, dan Minzy, “Cepat layani tamu!”

Bom langsung berdiri dan berjalan ke meja kasir, Minzy langsung membersihkan beberapa meja yang kotor, dan Chaerin berjalan ke meja di mana ketujuh tamu yang baru datang itu duduk.

Mereka duduk di salah satu meja di dekat jendela. Seorang namja duduk dengan seorang yeoja berambut sebahu yang menempelkan hampir delapan puluh persen tubuhnya pada namja di sampingnya. Dua orang namja duduk berhadapan dengan mereka. Di sisi lain meja ada seorang namja yang di sisi lain dan membelakangi Chaerin duduk di antara dua orang yeoja.

Such a playboy. Tsk!

Saat Chaerin mulai mendekati meja itu, dia bisa mengenali salah satu namja yang duduk dengan yeoja itu sebagai Kang Daesung, salah satu sunbaenya di YG University. Dia duduk dengan Choi Sooyoung, salah satuqueenka di angkatan mereka. Dua namja yang duduk berhadapan dengan Daesung dan Sooyoung adalah Dong Yongbae dan Choi Seunghyun. Ya, bisa dimaklumi jika Choi Sooyoung duduk dengan mereka. Selain dia salah seorang queenka, dia juga adik dari Choi Seunghyun a.k.a TOP. Chaerin berjalan mendekat. Dua orang yeoja lainnya sudah dapat dipastikan juga merupakan salah satu anggota queenka, hanya saja dia belum bisa mengenali namja yang duduk di antara kedua yeoja itu.

Eoseo oshipshiyo, ada yang ingin Agashi pesan?” tanya Chaerin.

Daesung menoleh ke arah Chaerin, “Latte,” lalu dia menoleh ke arah Sooyoung, “Kau mau apa?” tanya Daesung.

Americano,” jawab Sooyoung tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari daftar menu yang dipegangnya.

Chaerin menoleh ke arah Seunghyun dan Yongbae.

“Agashi?”

Macchiato,” jawab Seunghyun sambil membaca daftar menu yang dipengangnya.

Latte,” kata Yongbae sambil tersenyum ke arah Chaerin.

Chaerin langsung menuliskan semua pesanan mereka.

Baby, kau mau yang mana?” tanya seorang yeoja yang duduk di sebelah kanan Chaerin.

“Hmm.. Frappe? Latte? Espresso? Kau mau yang mana?” tanya yeoja yang duduk di sebelah kanan namja itu.

Frappe? Sepertinya enak,” jawab namja itu.

“Aku mau latte,” kata yeoja di samping Chaerin.

“Aku mau frappe,” kata yeoja di sebelah kanan namja itu.

“Baiklah, dua frappe dan satu latte,” kata namja itu.

Chaerin langsung menulis pesanan mereka ke note yang dipegangnya.

Neol?” kata namja yang duduk di sebelah kanan Chaerin, “Yeoja pengantar kue?”

Chaerin langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah namja itu. Chaerin terkejut saat mengetahui namja yang duduk di antara dua yeoja tadi adalah Lee Seungri! Namja kurang ajar yang tadi pagi langsung saja menutup pintu apartement-nya setelah menerima kue dari Chaerin.

“Kau bekerja di sini?” tanya Seungri, “Hah! Tak kukira, selain mengantar kue ternyata kau juga bekerja sebagai pelayan,” kata Seungri dengan nada mencemooh.

Semua orang yang duduk di meja itu langsung mengalihkan pandangannya ke Chaerin. Chaerin membuka mulutnya dan membelalakkan matanya, tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh namja itu.

Mwo? Namja berandalan!

Oppa, kenal yeoja ini?” tanya yeoja di sebelah Seungri yang ternyata adalah Kim Taeyeon, salah satuqueenka seperti yang diperkirakan olehnya tadi.

“Aku tidak tau kalau oppa juga punya selera seperti ini. Dia bahkan tidak terlihat seperti seorang yeoja,” kata Hwang Tiffany, yeoja yang duduk di sebelah kanan Seungri, juga salah satu queenka.

Well, dia bukan seleraku. Hanya saja tadi pagi dia baru saja mengantarkan kue ke rumahku,” jawab Seungri.

Well, you are not my type as well.

“Kue?” tanya Taeyeon.

“Ke rumah oppa?” tanya Tiffany.

Ne, sepertinya dia bekerja sebagai pengantar kue,” jawab Seungri sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Ohh..,”

Sabar Lee Chaerin! Jangan hancurkan image-mu di depan sunbae-sunbaemu.

Chaerin memutar bola matanya, “Apakah hanya itu saja yang ingin Agashi pesan?” tanya Chaerin sambil menampakkan senyumnya.

Ne,” jawab Sooyoung.

“Baiklah, saya permisi,” kata Chaerin lalu berbalik pergi.

“Jangan lupa pesananku, yeoja pengantar kue!” teriak Seungri.

Chaerin menggertakkan giginya, memutar bola matanya, lalu mengeratkan genggaman tangannya.

“Awas kau!” kata Chaerin saat sampai di depan meja kasir, tempat Bom berada.

Waeyo?” tanya Bom saat melihat ekspresi Chaerin.

Eonniiiiii, aku tidak mau mengantar pesanan ke meja itu,” kata Chaerin.

“aku tidak mau mengantar pesanan ke meja itu,” kata Chaerin.

Waeyo? Jika bukan kau, lalu siapa? Dara belum datang sampai sekarang,” kata Bom.

Eonni saja yaa. Pleasee,” kata Chaerin.

Mwo? Lalu yang akan menjaga kasir siapa?” tanya Bom.

“Aku yang akan menjaga kasir. Untuk sekali ini saja Eonni. Jebal!” kata Chaerin, “Jangan biarkan namja itu menginjak-injak harga diriku,”

“Kalau begitu biar aku yang menginjak-injak harga dirimu,” kata Bom sambil menyiapkan pesanan yang dibawa Chaerin.

EONNII!”

Arraseo, Chaerin-ah,” kata Bom, “Jangan lupa, telpon Dara dan suruh dia cepat datang,”

Ne,” jawab Chaerin.

**

Dara mangikuti langkah Jiyong menaiki tangga dan kini mereka sudah berdiri di atap YG Building. Sejak meninggalkan ruang kelas tadi sampai sekarang, Jiyong tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya. Jiyong terus menggenggam tangan Dara dengan kuat. Namun, entah kenapa dalam genggaman tangan itu Dara merasa sangat nyaman, tidak seperti saat dia disentuh oleh seorang namja.

“Ahhh.. udaranya sangat segar!” kata Jiyong saat mereka sampai di atap gedung.

Jiyong menoleh ke arah Dara.

“Kau suka tempat ini?” tanya Jiyong.

Dara mengamati keadaan sekitar. Dari atas sini dia bisa melihat pemandangan Seoul. Langit mulai memerah. Dari arah barat, perlahan matahari mulai meninggalkan singgasananya. Perlahan-lahan turun ke ufuk barat. Meski Dara begitu suka langit senja tetapi saat berada di tempat ini bersama Jiyong ketika senja tiba membuat Dara merasa nyaman.

“Kau suka?” tanya Jiyong sambil menolehkan kepalanya ke arah Dara. Mengamati Dara yang masih mengagumi pemandangan dari tempat ini.

Dara tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Jiyong. Jiyon tersenyum ke arahnya.

Ne, aku suka,” jawab Dara, “Kau sering datang kemari?” tanya Dara.

Ne, ini adalah tempat rahasiaku,” jawab Jiyong.

**

Jiyong dan Dara duduk bersebelahan di tepi gedung sambil memandang matahari yang mulai terbenam. Tak ada suara apapun  yang terdengar sejak mereka duduk berdua di sana. Hampir tiga puluh menit mereka duduk bersama tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang membuka pembicaraa terlebih dahulu. Hanya kicau burung yang terdengar dan semilir angin malam yang mulai terasa.

Jiyong melepaskan jaketnya dan mengenakannya di tubuh Dara.

“Kau tidak boleh kedinginan,” kata Jiyong sambil membetulkan jaketnya yang dikenakan oleh Dara.

Gomawo, Jiyo..,”

“Ehem,” Jiyong berdehem sebelum Dara sempat menyelesaikan kata-katanya.

Dara menoleh, “Gomawo, Ji-ah,” Dara langsung memalingkan wajahnya setelah mengatakan itu.

Jiyong tersenyum tanpa menoleh ke arah Dara. Dia tersenyum sedikit salah tingkat sambil menatap burung-burung yang berterbangan di langit.

“Dara-ah,”

“Hmm,” jawab Dara.

“Kau.. suka pada yeoja ya?” tanya Jiyong.

Dara langsung menoleh begitu mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jiyong, “MWOYA?!”

Jiyong menoleh lalu terkekeh saat melihat ekspresi sebal yang ditunjukkan oleh Dara.

“Habis kau selalu menghakimi setiap namja yang mendekat ke arahmu,” jawab Jiyong, “Sebenarnya kau itu sangat cantik,” kata Jiyong lalu tersenyum tipis ke arah Dara.

“Ya~!” teriak Dara sambil memukul bahu Jiyong.

Jiyong hanya terkekeh dan mengusap bahunya yang baru saja dipukul oleh Dara.

“Ternyata kau kuat juga,” kata Jiyong.

Mereka kembali terdiam untuk beberapa saat sambil memandang matahari senja.

Dara tersenyum tipis, “Hal itu..,” pandangan Dara menerawang jauh,”Kau tau tidak bahwa delapan puluh persen namja di dunia itu tidak setia?”

Jiyong terus memperhatikan ekspresi Dara dengan seksama. Ekspresi Dara yang terlihat saat ini, berbeda dengan ekspresi-ekspresi Dara yang dia lihat biasanya. Terlalu banyak kesedihan dan kebencian yang terlihat di wajahnya. Bukan keceriaan dan kebahagiaan yang biasanya terukir indah di wajahnya. Dan entah kenapa Jiyong seolah juga bisa merasakan semua kegelisahan yang saat ini sedang menyelimuti Dara.

“Awalnya, aku tidak pernah bersikap seperti ini. Dulu, saat aku masih kecil, Omma dan Appa selalu pergi bekerja hingga larut malam. Hanya aku sendiri yang tinggal di rumah,” Dara tersenyum seolah dirinya kembali ke masa-masa itu, “Aku tidak pernah mengeluh. Dalam seminggu, aku hanya bisa bertemu mereka beberapa jam saja. Tapi saat itu kami bertiga hidup dengan bahagian meski kami hanya tingga di sebuah apartement sederhana di pinggiran kota dan makan seadanya. Ya, kami sangat bahagian. Sampai suatu ketika saat kehidupan kami mulai berubah. Appa dipromosikan di perusahaannya. Begitu pula dengan Omma. Kami bertiga pindah ke apartement yang lebih bagus di kawasan elite. Appa dan Omma juga semakin jarang berada di rumah. Pernah suatu ketika aku berpikir mungkin mereka juga sudah mulai lupa bahwa mereka memiliki seorang anak perempuan yang selalu memunggu kepulangan mereka di rumah. Hingga suatu ketiga aku berpamitan pada mereka bahwa aku akan pergi ke rumah Wooyoung. Mereka pikir aku benar-benar pergi ke rumah Wooyoung. Padahal sebenarnya hari itu aku tidak jadi pergi ke rumah Wooyoung karena mereka sekeluarkan akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Aku berusaha menghubungi Appa dan Omma tetapi handphone mereka tidak bisa aku hubungi. Akhirnya aku kembali tinggal di rumah sendirian bersama dengan Tam-tam. Tiba-tiba saat lewat tengah malam aku mendengar pintu depan terbuka. Aku langsung terbangun dan berlari keluar untuk menyambut kedatangan orang tuaku. Entah Appa ataupun Omma. Namun, saat aku sampai di balik pintu kamarku, aku mendengar Appa sedang berbicara dengan seorang wanita tetapi itu bukan suara Omma…

 

 Dara berdiri di balik pintu kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya secara perlahan.

“Jagiya, bagaimana kalau istrimu tau?” tanya wanita itu.

Dari balik pintu kamarnya, Dara bisa melihat Appa-nya sedang memeluk wanita itu.

“Tidak akan. Dia tidak pulang malam ini,” jawab Appa Dara.

“Kau yakin ini aman?” tanya wanita itu sambil mengusap wajah Appa Dara.

Appa Dara menggerakkan bibirnya di bahu kiri wanita itu yang ini blus-nya mulai terbuka.

“Kau tenang saja,”

Tangan Appa Dara masuk ke dalam blus wanita itu.

“Ahh~,” wanita itu mengerang. Tangan Appa Dara terus bergerak naik dari balik blus itu.\

Dara menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Tanpa ia sadari, air matanya mulai jatuh.

 “Ahh~ bagaimana dengan anakmu?” tanya wanita itu. Wanita itu kembali mendesah saat tangan Appa Dara mengenggam salah satu payudaranya.

Appa Dara kembali mencium bahu kiri wanita itu, “Dia sedang berada di rumah temannya,”

“Ahh~,”

Dara langsung menutup pintu kamarnya dan berlari ke tempat tidurnya. Dia bersembunyi di balik selimutnya dan menutup kedua telinganya dengan bantalnya. Berusaha menghalau suara-suara yang terdengar dari ruang keluarga yang berada di depan kamar tidurnya. Air matanya  terus mengalir, seberapa pun kuatnya dia berusaha menghentikan tangisnya. Dan suara-suara itu juga semakin keras terdengar, seberapa pun kuatnya dia berusaha menutup kedua telinganya.

 

… sejak kejadian itu, aku selalu merasa jijik saat ada seorang namja yang menyentuh tubuhku. Aku.. masih belum bisa melupakan bayangan-bayangan itu dari dalam kepalaku,” kata Dara.

Tanpa terasa setetes air mata menetes dari wajah Dara. Jiyong mengerakkan tangannya dan menghapus air mata yang mengalir di wajah Dara. Dara terhenyak saat merasakan sentuhan Jiyong di pipinya, dia langsung menoleh ke arah

Jiyong dan tersenyum tipis.

“Aku seperti anak kecil ya, masih cengeng,” kata Dara sambil mengusap air matanya lalu terkekeh pelan.

Ani,”  jawab Jiyong.

Dara langsung menatap kedua manik mata Jiyong dengan seksama. Berusaha mencari ketulusan di balik kata-kata Jiyong.

“Aku senang kau mengatakan semuanya padaku,” kata Jiyong.

Jiyong menatap langit barat yang kini sudah tak lagi menampakkan matahari senja. Pandangannya menerawang, “Dari delapan puluh persen yang kau sebutkan tadi, masih ada dua puluh persen dan aku  salah satu di antaranya,” kata Jiyong lalu menoleh ke arah Dara.

Dua puluh persen di antaranya? pikir Dara.

“Mulai sekarang, datanglah padaku jika kau butuh sesuatu. Aku akan selalu berada di sinimu. Karena aku satu-satunya namja yang membuatmu tidak merasakan perasaan itu,” kata Jiyong.

Dara hanya terdiam dan menatap Jiyong lekat-lekat.

“Benarkan?” tanya Jiyong sambil mengusap kepala Dara, “I will be your black knight,”

 


see you next time!

©2012Littlesun

Please read, like, and comments! 😀


Advertisements

21 thoughts on “My Lovely PRETTY BOY : 003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s