FATE [Chap. 4]

12346798_1016594028383065_2142506412_n

Author : dinasptvd

Main Characters:

Kwon Jiyong [26th] ; Sandara Park [28th].

Support Characters:

Dina Park [22th] ;Song Daehan [2th] ; Kiko Mizuhara [26th] ; Kim Jaejoong [26th] ; 2NE1 Members ; BIGBANG Members.

******

Note:

Maafkan karena lama update. Disamping author sibuk, admin juga pasti sibuk jadi sabar yaa hehe

bytheway, mungkin kalian banyak yang bertanya-tanya..apa yang sebenernya dirasain Dara sebenernya. Well, perlahan akan semakin jelas ^^

Ah! Dan di chap ini akan banyak foto foto yang kupajang demi mendukung cerita! Semoga bagi kalian ngga ngebosenin ya.

Siijak!

****

“Gomawo..” ucap Dara, setelah turun dari Lambo mewah Jiyong sembari menggandeng tangan mungil putranya.

“Gwenchanhayo. Kalau begitu, segera masuk dan beristirahatlah. Aku yakin kau lelah, dan kurasa Daehan juga masih mengantuk hm?”  balas Jiyong memandang Daehan yang tengah berkedip polos padanya.

“Arasseo.. Tapi masuklah sebentar. Cuaca sangat dingin, pergilah setelah minum secangkir teh.”

Jiyong hanya mengangguk singkat sembari membenarkan beanie hitam yang nyarus menutupi seluruh wajahnya dengan tangannya yang bebas.  Kemudian ketiganya pun melangkah masuk ke dalam rumah, rumah Dara dan juga rumah sahabat terbaiknya yang bahkan sangat jarang ia kunjungi..apalagi semenjak sahabatnya itu pergi.

Klek

Ruangan bernuansa serba putih menyambut Jiyong.

Ruang tamu yang luas dengan beberapa perabotan ber-ornamen bunga, perapian di sudut ruangan, kolam ikan dengan bebatuan yang indah, serta sebuah piano putih yang kokoh.

Sungguh perpaduan yang cocok.

Dara yang suka sekali dengan bunga, dan Jaejoong yang sangat menyukai warna putih.

Jiyong tersenyum, kemudian kembali menelusuri detail ruangan itu. Hingga langkahnya berhenti di depan beberapa baris pigura yang diantaranya menampakkan sosok yang familiar. Ya, beberapa adalah foto Jaejoong, foto Jaejoong dengan Dara, dan juga foto Jaejoong dengan putra semata wayangnya, Daehan Kim.

“Aku akan segera turun. Hanya akan mengantarkan Daehan ke kamarnya.” ucap Dara padanya sebelum menaiki tangga pualam menuju ke lantai dua.

“Geurae.” balas Jiyong yang menoleh sejenak, lalu kedua matanya menangkap sebuah foto berukuran cukup besar yang digantung di dinding ruangan dengan pandangan sayu.

20130104_jaejoong

Perlahan tangannya pun menyentuh permukaan foto itu, “Jae. Na wasseo. Jika saja kau masih ada, mungkin saat ini kau akan menyambutku dengan senyuman khasmu dan mengacak rambutku hingga aku kesal, geji? ” (Jae, aku datang.)

Tanpa Jiyong sadari, Dara telah berdiri di belakangnya. Turut menatap foto suaminya sembari tersenyum. Sekarang, walaupun sekarang ini Jae tidak lagi disisinya, tidak lagi menemani hari-harinya, tidak lagi bisa membuatnya tertawa bahagia seperti sebelumnya, Dara tetap yakin bahwa dirinya akan selalu baik-baik saja. Dara tetap yakin, bahwa hanya dengan cinta mereka yang tetap hidup, semuanya akan baik-baik saja. Dara masih memimpikan Jaejoong hampir di setiap malamnya, ia masih begitu merindukannya. Hanya saja Dara cukup pandai menutupinya.

“Kau rindu padanya Jiyong?”

“Oh.”

Dara tersenyum, duduk didepan piano sembari menatap satu demi satu barisan piguta foto yang lain di atasnya. Jiyong pun mendekat, dan kedua matanya kembali melihat sosok yang familiar disana.

cassdaralmh41(1)

“Kenapa kau melihatnya seperti itu, noona?” tanya Jiyong tertawa kecil.

“Ah, ini? Karena Jae membuatku kesal hari itu. Aku sudah lama sekali menginginkan sebuah sepatu di sana namun karena ia terlalu sibuk.. ia tidak bisa mengantarkan aku dan terus menundanya. Dan ketika kita berdua akhirnya bisa kembali datang ke toko itu, sepatu yang kuinginkan sudah terjual dan tidak direproduksi lagi! [Dara tersenyum] Dia meminta tolong seorang staff toko untuk memotret kami, dia bilang dia sangat menyukai ekspresi wajahku saat marah, itu membuatnya gemas.”

Jiyong menggelengkan kepalanya dan tetap tertawa “Tapi dia akan terus meminta maaf, bukan?”

“Tentu saja.”

“Hingga dia harus menggunakan seluruh aegyonya, angeurae?”

“Eo!” Dara tertawa.

“Kau ini memang tidak pernah tumbuh, Dara.”

“Ya~!”

“Mian, mian. Ah, yang ini.. Diambil sebelum konser keluarga, bukan?”

Dara menatap sebuah foto yang ditunjuk oleh Jiyong, “Mm, maja. Aku nekat mengunjungi kalian padahal saat itu aku harus beristirahat total.”

“Kau sedang hamil saat itu, geji?”

Dara menaikan alisnya, “Kau sungguh mengingat segalanya, Jiyong. Kau membuatku takut.”

‘aku bukan sengaja mengingat segalanya tentangmu..tapi apa yang bisa kulakukan jika apapun tentangmu masuk begitu saja ke dalam pikiranku tanpa aku bisa mengontrolnya eoh? Kau, hanya kau yang selalu melupakan hal-hal penting, Dara. Kau bahkan tidak mengenaliku lagi saat aku resmi masuk sebagai trainee, kau tidak mengingat siapa aku bahkan setelah melihat wajahku setelah sekian lama.’  pikir Jiyong sesaat, lalu berdeham mengalihkan suasana.

“Bagaimana tidak,noona? Lihat. Kau bertambah gemuk di sini.”

“Omo.” Dara menutupi mulutnya. “Hanya sedikit.”

tumblr_nuuogxHP8k1rkcecjo1_400

Mereka berdua pun larut dalam obrolan yang panjang.

“Ah, tehmu!” Dara pun tergesa menuju dapur untuk membuatkan Jiyong secangkir camomile tea hangat. Jiyong mengangguk, dan kini ia duduk di depan piano Jaejoong, kembali terpaku melihat beberapa foto di atasnya..

jaemaison2   jj3

“Dia sungguh suka memotretmu diam-diam, Jae.” Jiyong tersenyum mengerti. “Dan kau, kapanpun kau serius seperti itu kau sungguh keren. Ara?” ucapnya lagi, dan kembali mengamati beberapa foto lainnya.

tumblr_np2n5eU2DE1rd60xqo2_400

“Hm..kurasa aku telah melakukan hal yang benar.” ucapnya lirih memandang dua foto terakhir yang terletak di hadapannya.

“Jiyong? Ini, minumlah.”

“Oh, eo gomawo.”

Keheningan menyelimuti mereka sesaat, sebelum akhirnya Jiyong kembali bersuara.

“Dara noona.”

“Hm?”

“Aku ingin bertanya satu hal. Kenapa kau tidak pernah marah padaku setiap kali aku memanggilmu ‘Dara’ ?”

Dara menatapnya, “Kau sudah memanggilku seperti itu sejak kita berdua masih berada di akademi bukan? Itu sungguh bukanlah masalah, Jiyong.”

Jiyong menaikkan alisnya, “Aku serius, Dara..”

 “Ckck, igeo bwa igeo bwa (lihat ini, lihat).. Itu karena kau selalu melakukannya kapanpun kau mau dan kurasa kau membuatku terbiasa, angeurae?”

Okay, kali ini Jiyong tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya. “Geurae? Apa aku seburuk itu?”

“Iya, kau seburuk itu.”

“Geumanhaera..” (berhentilah..)

Dara lantas membentuk sebuah pistol dengan kedua tangannya dan mengarahkannya pada Jiyong. “Piupiu~ Kau sungguh Kwon Jiyong yang suka seenaknya.” tingkahnya membuat Jiyong menggelengkan kepalanya.

“Dan kau, kau benar-benar tidak tumbuh. Neo 28ssai maja?”  (apa kau sungguh berusia 28 tahun?)

“Ack!”

Keduanya pun tertawa, sesekali pula Jiyong menyesap tehnya sembari terus mengamati wajah Dara di sampingnya.. yang kini tengah tersenyum memandang foto Jaejoong dengan pandangan yang jelas menyiratkan bahwa masih ada cinta di dalam sana.

“Jae-a, apa kau yakin aku bisa membahagiakannya seperti yang kau minta?”

****

Hari demi hari pun berlalu., BIGBANG yang telah menyelesaikan tour mereka kini tengah berlibur dan sibuk dengan aktifitas masing-masing, sebelum nantinya harus segera menyempurnakan MADE SERIES Album mereka . GD atau Kwon Jiyong memilih untuk menghabiskan waktunya dirumah dan sesekali mengunjungi beberapa teman designer-nya, Seunghyun yang sibuk bepergian ke berbagai negara seperti China dan Jepang hanya untuk mengunjungi beberapa gallery dan bahkan membeli banyak karya seni, Seungri dan Daesung berlibur di U.S sedangkan Youngbae tetap berada di Korea.

#Sigh

Lee Chaerin tengah mendengus kesal sembari melamun di atas meja kerjanya. Pikirannya kacau semenjak Seungri tidak lagi menghubunginya dalam beberapa hari terakhir. Ya, Lee Seungri, maknae boygroup Seoul kelas atas yang begitu terkenal.

“Eonni, waegeuraeyo?” Dina Park muncul di balik pintu, namun segera mengerutkan kening setelah melihat sikap aneh Chaerin yang kini tengah melamun. Oh. Masih melamun.

#Smirk 😏

Dina Park segera menunjuk ke arah pintu masuk butik, “Woa! Seungri oppa da!” yang sukses membuat Chaerin berdiri dari kursinya sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.

BRAK

“Seungri?! EODI? EODI?!”

“BWHAHAHAHAHAHA!” Dina Park pun tertawa keras memegangi perutnya, membuat Chaerin seketika membelalakkan kedua matanya dan wajahnya berubah semerah tomat.

“DINA PARK!”

Uh-oh.

Kini keduanya pun saling berkejaran seperti anak kecil hingga keluar dari ruangan, membuat Hayi dan pegawai butik lainnya tidak dapat menahan diri untuk tertawa karena melihat bos mereka bertingkah seperti itu untuk pertama kalinya. Terlebih lagi beberapa customer yang cukup ramai melihat mereka dan tertawa ringan.

“Eonni, eonni! Arasseoyo arasseoyo, mian!”

Chaerin menangkapnya, mengunci kepala Dina di lengan kirinya, “Aish.. Kau sungguh mengingatkanku pada kakakmu sewaktu SMA eoh? Dara juga selalu mempermalukanku seperti apa yang kau lakukan sekarang aigoo! Reputasiku aigoo!”

“Mianhaeyo, arasseo arasseo~” ucap Dina lagi yang masih tertawa di balik lengan Chaerin.

“Jangan.Lakukan.Itu.Lagi!”

“Waeyo? Eonnineun, SEUNGRI OPPA JOHA-mm..mm?!” Chaerin kembali melotot dan menutup mulut Dina dengan tangan yang lain.

“Aaah, kurasa aku mendengar nama Seungri disini?” Park Bom, tengah menyilangkan tangannya dan berdiri di ujung tangga. Memandang keduanya dengan mata menyipit dan alis terangkat naik. Sedangkan Chaerin hanya dapat menggigit bibir bawahnya dan menunduk.

Oooohyeah, jangan harap siapapun bisa  menghindar dari seorang Park Bom yang sedang penasaran.

“Jadi? Kau menyukainya, Chaerin-a?”

“A-a-an-aniiiii!”

“Geurae? Tapi kenapa wajahmu saaaangat merah seperti itu, Chaerin-a? Apa kau mau melihatnya dengan cerminku ini?”

“M-mwo?! Aniya, eonni! Aku hanya..eo..kepanasan! Ya, kepanasan! Aigoo, kurasa AC disini sedang bermasalah.”

Bom kembali menyipitkan mata sambil tersenyum lebar, ” Ini sudah suhu yang paaaaling dingin, Chaerin-a.”

“Oh? G-geurae? Ah kenapa aku k-kepanasan seperti ini. Ha ha ha..”

“Pfft.” Dina Park berusaha keras menahan tawanya kali ini.

“Dina-ya~” Bom mengelus rambut Dina perlahan, berkedip dengan aegyonya.

“Ne~, Bommie eonni?”

“Aigoo yeppora..apa kau, tau apa yang terjadi dengan sahabatku ini ng?”

Chaerin semakin memerah, memelototi Dina di sampingnya.

“Ah Chae eonni! Berhentilah menginjak kakiku!”

“YA!”

“Omoya~ Apa kau tidak mau bercerita padaku apa yang terjadi hm? Kau seperti zombie beberapa hari ini dan aku tidak mengerti apa yang harus kulakukan untuk menyadarkanmu dan mwo? Seungri?”

“Aish..”

“Wae? Seungri wae?”

Chaerin menghembuskan nafasnya pelan, “Ani..hanya saja dia tidak pernah lagi datang kemari atau bahkan menghubungiku! Sedangkan kau eonni, Seunghyun oppa masih meluangkan waktunya untuk mengirimkanmu pesan dan bahkan menelpon kapanpun ia senggang..”

“Pfft. Jadi, kau SUNGGUH menyukainya eoh? Omona, Lee Chaerin!”

“Ah eonni~~~” Chaerin mengerucutkan bibirnya kesal.

“Arasseo, arasseo mian.. Ah tunggu, bukankah kau tidak mengikuti siapapun di akun instagram milikmu, benar?”

Chaerin mengangguk. “Wae?”

Bom mendengus pelan, menyalakan ponselnya dan membuka akun instagram. Segera ia men-scrolling timeline miliknya dan menunjukkan pada Chaerin beberapa foto Instagram Seungri yang diuploadnya pagi ini. “Lihat. Dia sedang berada di U.S saat ini dan nampaknya ia sangat menikmati liburannya. Bukankah aktifitas Bigbang tidak sepadat dulu? Tentu mereka akan memanfaatkan hari libur mereka.”

Chaerin merampas ponsel Bom dan kembali melihat satu demi satu foto-foto Seungri. “Ah..begitu. Tapi bukankah setidaknya dia menelponku eonni?”

“Neo Seungrieui yeochingini?!” (apa kau pacarnya?!) Kalimat Bom sukses sebagai sebuah tamparan.

“Aish! Sungguh menyenangkan menjadi dirimu, Bommie eonni. Baru beberapa hari bertemu lagi setelah sekian lama dan kalian ‘resmi’ bersama sekarang.”

Bom tersenyum, “Chaerin-a, aku menjalani secret dating saat ini. Butuh kekuatan dan kesabaran dalam menjalaninya, ara? Hm.. dan kurasa ini tidak akan mudah jadi aku pun juga masih harus sangat berhati-hati. Kau! Kelak kau juga akan sepertiku bila kau berpacaran dengannya. Bila ‘kita’ semua menjalin hubungan dengan mereka!”

Chaerin mengangkat bahunya asal, “Well, itu adalah tantangan eonni. Lagipula kau, aku, Dara eonni dan Minzy tidak sepenuhnya ‘bukan siapa-siapa’. Kita ini lulusan YG Academy dan bahkan pernah tampil di beberapa media sejak lagu-lagu kelulusan kita termasuk sebagai lagu-lagu terbaik.Minzy? Prestasi menarinya sudah dikenal hingga internasional. Kita pasti akan cukup mudah melaluinya. Kau mencintainya. Dan aku juga-“

“Kau mengakuinya.”

“….”

“Kau mencintainya.”

“Ah..ani.”

“Kau mencintainya, Chaerin. Aku sudah mendengarnya jangan coba-coba menyangkal.”

“Aish..G-GEURAE NA SEUNGRI JOHA!” ucapannya membuat Bom dan Dina saling ber-highfive di hadapannya. Lalu…

🎵iPhone’s ringtone

Ponsel Chaerin tiba-tiba berbunyi di atas meja. Dengan tergesa ia melihat siapa nama penelponnya diikuti oleh Bom dan juga Dina.

“Eo? Ini panggilan internasional..”

Dina Park membelalakkan kedua matanya berkata, “Aktifkan speaker saja dan bicaralah eonni. Mungkin saja itu…” Chaerin segera mengangguk.

Tut

Yeoboseyo?” ucap Chaerin.

“Oh yeoboseyo! Chaerin-a?”

DEG

Ia mengenal suara ini. Ia begitu mengenal suara ini.

“S-Seungri?”

“Eo, naya  Seungri. Apa kabarmu-“

“KYAAAAAAH”

Tanpa sadar ketiganya berteriak senang sedangkan Seungri terdengar panik di ujung sana.

“WAE WAE WAEEEE?!”

****

“Bagaimana syutingmu apa itu berjalan lancar?” Yang Hyun Suk bertanya pada Dara dibalik meja kerjanya.

“Ne. Semuanya tidak ada masalah, appa sajangnim.”

“Aku tidak menyangka skill acting mu masih begitu baik, Dara.. percayalah fansmu pasti akan sangat merindukanmu. Ah tentu kau tau apa yang terjadi di depan Building kita pagi ini?”

Dara tersenyum, “Ne, aku sudah meminta managerku untuk mengatasi semuanya. Dia mengantarkan seluruh hadiah fans ke rumahku siang tadi, appa.”

Hyun Suk tersenyum padanya.

“Kau harus lebih sering menyapa fansmu, ne? 2 tahun lamanya untuk vakum seperti itu tentu membuat mereka khawatir akan kondisimu.”

“Mereka..kadang masih memberiku semangat melalui beberapa komentar di instagram. Aku tersentuh.”

Sesaat Dara menunduk diam, berusaha keras untuk menutupi lagi kesedihannya akan kenangan buruk 2 tahun lalu..saat suaminya pergi.’Appa’nya itu pun mengangguk mengerti dan sedikit mendekatkan dirinya pada Dara. “Hidupmu terus berjalan. Kau harus selalu ingat bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja. Kepergiannya bukanlah akhir, Dara. Aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan yang terbaik.”

Ucapan Hyun Suk membuat Dara berkaca-kaca. Ia meremas ujung blouse-nya lalu mengangguk singkat. “Ne..”

“Lalu, apakah kau sudah meminta Bom untuk segera menemuiku?”

“Beberapa hari yang lalu, appa. Namun kurasa dia akan memikirkannya lagi.”

“Geurae? Baiklah, tidak masalah. Hanya sangat disayangkan bila aku melepas bakat emasnya. Aku tidak akan pernah menemukan suara seperti miliknya lagi.”

Dara pun tertawa kecil.

“Terima kasih, nak kau sudah memberitahunya. Sisanya akan kuserahkan pada Seunghyun.”

“Seunghyun-i? Waeyo, appa?”

Hyun Suk pun menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Dara. “Kau tidak tahu?”

“Ne?”

“Seunghyun dan Bom resmi berkencan. Baru 1 minggu ini, namun mereka setuju untuk merahasiakannya dari publik jadi kurasa aku tidak perlu cemas. Dan aku percaya, Seunghyun bisa membujuk Bom untuk kembali datang di YG. Ide yang menarik, bukan?”

Dara membelalakkan kedua mata indahnya, dia-tidak-tahu tentang itu!

Walaupun Dara mengerti bahwa dirinya sibuk syuting setiap hari dalam 2 minggu ini, tapi ia selalu menyempatkan waktunya untuk menelpon Bom. Mengingat bahwa sahabatnya itu selalu datang kerumahnya untuk menjemput Dina dan mengecek keadaan putranya. Tapi, Bom tidak pernah memberitahunya, apapun.

Melihat wajah bingung Dara, Hyun Suk pun kembali bersuara “Oh, nak kupikir Bom memiliki alasannya sendiri. Mungkin saja hanya karena tidak sempat memberitahumu. Dan karena syutingmu untuk Dr.Ian sudah selesai, nikmatilah waktumu.”

“Ne, appa. Gomabsimnida.” ucap Dara seraya berdiri lalu membungkukkan badannya. Kemudian melangkah keluar dari ruangan.

“Ah, Dara?”

Dara menoleh, “Ne, appa?”

“Bisakah kau mampir ke studio sebentar? Jiyong, entah apa keinginannya tapi ia sedang menulis lagu dan ini sudah seharian penuh ia tidak bergerak didalam sana. Bawa dia pulang, nak. Kurasa dia sedang ada masalah. Dan kebetulan hanya kau yang ada disini hari ini jadi..”

“Ne..arasseoyo,appa.”

****

Hamparan rumput hijau di taman yang luas, angin yang berhembus lembut, suara kicau burung yang saling bersautan, hening..dan damai. Disitulah tempat ternyaman yang selalu namja itu datangi hampir di setiap waktu luangnya. Sebuah taman yang letaknya tidak jauh dari YG Building.

Kwon Jiyong merapatkan jaket Saint Laurent miliknya, lalu membenarkan letak kacamatanya dan kembali menatap kosong ke depan. Namja tampan dengan rambut  hitam legamnya itu tengah mendengarkan sebuah lagu melalui earphone sembari memejamkan kedua matanya. Dalam keheningan itu, perlahan ia mendengar langkah kaki berjalan mendekatinya. Ia menoleh, mendapati sosok familiar yang kini telah menempati kursi kosong disampingnya.

Kim Jaejoong. Sahabatnya sejak kecil.

Namja dengan postur tubuh tinggi, kulit putih yang bersinar di bawah matahari, senyuman lembut yang khas dengan rambut merahnya yang turut menyempurnakannya secara keseluruhan.

“Jae?”

Apa dia sedang bermimpi?

“Jiyong. Bagaimana kabarmu, dude?”

Ya..ini mimpi. Jaejoong sudah..

“Hei? Kenapa kau menatapku seperti itu?” sahabatnya itu kembali tersenyum padanya.

“A-apa ini sungguh..kau, Jae?”

Sahabatnya menganggyk, “Geureom naya..wae? Kau tidak percaya apa yang kau lihat?”

Ini pasti mimpi..

“Jae, kau..” Jiyong merasa suaranya tercekat, betapa ia sangat merindukan sahabatnya itu. Dilihatnya lagi, Jaejoong tersenyum disampingnya. Tapi aneh..kenapa tubuhnya seolah bersinar? Kenapa aku seolah tidak dapat menggapainya meskipun ia jelas berada disampingku?

“Waktuku tidak banyak, Jiyong. Aku hanya ingin bilang sesuatu padamu.”

Jiyong mengerutkan kening menatapnya.

“Jaga Dara dan anakku. Arasseo? Aku yakin, kau adalah orang yang tepat.”

 “Jae?”

Jiyong melihat senyum jaejoong yang lembut terarah padanya dengan sangat tulus sebelum akhirnya seberkas cahaya seolah menyelimutinya dengan cepat.

Tok Tok Tok..

GASP.

Suara ketukan di pintu membangunkannya secara tiba-tiba.

Jiyong membuka kedua matanya.. kini ia mendapati dirinya berbaring diatas sofa, dengan keringat di keningnya yang masih mengalir. Mimpi. Ia bermimpi tentangnya. Tapi kenapa itu terlihat nyata? Jaejoong..berpesan padanya untuk..

“Jiyong?”

Namja itu segera bangun dari posisinya dan melihat seorang yeoja yang sangat dikenalnya tengah berdiri di sisi pintu studio, tersenyum padanya.

Dara?”

“Aku mendengarnya dari sajangnim. Kau menulis lagu?”

“Oh..hm. Hanya untuk mengisi waktuku.” balas Jiyong yang kini masih duduk di atas sofa sembari mengusap pelan wajahnya dengan telapak tangan. “Kurasa aku harus pulang, geji?” ucap Jiyong lagi dan itu membuat Dara tertawa melihat sikap aneh namja dihadapannya itu saat ini.

Jiyong baru saja akan berdiri dari tempatnya namun ia tiba-tiba merasakan sakit di kepalanya dan itu membuat tubuhnya oleng dan akan terjatuh.. namun dengan sigap sepasang lengan mungil Dara segera menahannya.

Dara mendongak, mengamati Jiyong di hadapannya.

Wajah lelahnya, rambut hitamnya yang sedikit berantakan, mata tajam yang memandangnya, bibir merahnya..semua itu, entah kenapa membuat Dara terhipnotis sesaat.

“Gwenchanha?” ucap Dara, wajahnya dan wajah Jiyong kini hanya berjarak beberapa inci hingga mereka dapat merasakan hembusan nafas satu sama lain.

Jiyong diam menatapnya, yang juga mengamati setiap bagian wajah Dara dengan intens.

“Dara..kau membuatku gila.”

DEG DEG

Tatapan tajam Jiyong yang mengarah padanya, lengan kekar yang memeluk pinggangnya, aroma maskulinnya.. membuat dunia Dara serasa berhenti. Dan saat itu pula, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak begitu kencang. Lagi.

 

To be continued..

 

Next>>

Advertisements

21 thoughts on “FATE [Chap. 4]

  1. Waaaahhh suka banget am moment mereka yang di akhir >..<
    Chae bom am dina pada somplak , hahaha
    Jae minta Ji jagainDara an Daehan , ahhh sungguh terhura , hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s