[Series] Coming To You – 3

coming to you

Author : Jung Yoorey

Title : Coming To You

Cast : Sandara Park (Dara 2NE1), Kwon Jiyong (GD Big Bang)

Other Cast : Lee Haru (OC), other

Genre : Fantasy, Fluffy, Friendship, Sad a bit Comedy

Rating : Teenager

Backsound’s : As Ever – A.N.JELL (He’s Beautiful OST)


Note

Baca note terakhir setelah cerita

Kenapa saat kau mulai berharga, kau pergi? apa ini yang kau sebut bahagia?

*

ciit ciit

Jiyong mau tidak mau membuka matanya ketika mendengar banyak cicitan burung memenuhi gendang telinganya. Tepat saat itu juga matanya disambut oleh sinar matahari yang merembes masuk lewat jendela. jiyong ingat, ia tidak menutup tirai itu semalam.

Jiyong menghela nafas kecil. Kenapa cepat sekali pagi sih? batinnya.

Jiyong mengeratkan pelukannya pada gulingnya. Tapi sesuatu yang mengganjal seperti melilit tubuhnya juga. dengan horor jiyong menunduk dan mendapati sepasang tangan halus dan lembut memeluk pinggangnya. Jiyong terbelalak. ia mendongak dan mendapati seorang perempuan tidur di pelukannya. dan jiyong bahkan membalas pelukan perempuan itu. bahkan desain kamarnya ini bukan seperti kamarnya. Seingatnya dia tidak pernah menaruh rak boneka dikamarnya.

Sedetik kemudian jiyong tersadar. Ia teringat kejadian semalam ketika hujan deras membuat sandara ketakutan dan menyuruhnya untuk menemaninya tidur. Bahkan jiyong tidak sadar kalau ia ketiduran disitu. Dengan cepat jiyong menarik tangannya yang memeluk sandara. Tepat saat itu sandara menggeliat dan wajahnya menghadap ke arah jiyong. Wajah polos yang sungguh cantik bak malaikat.

Jiyong merasakan wajahnya panas. Nafasnya tercekat. Ketika itu pula matanya tertumbuk pada kemeja sandara yang acak-acakan, dan parahnya kancing teratasnya terbuka menampilkan pakaian dalam sandara yang tembus pandang. Jiyong merasakan nafasnya benar-benar berhenti. Ia merasakan sesak di dalam boxernya.

Oh tidak.

Jiyong segera melepas tangan sandara dari tubuhnya dan menggantinya dengan guling. Jiyong memutar tubuhnya dengan cepat dan berlari keluar untuk menyembunyikan sesuatu berwarna merah kental yang tanpa sadar menetes dari hidungnya.

*

Jiyong’s car

“jiyong-ssi, apakah kau yakin membawaku ke sekolahmu?”

Jiyong menghela nafas sebal. Sandara terus bertanya hal yang sama sejak jiyong memutuskan untuk mengajak sandara ke kampusnya. Bukan apa, jiyong hanya takut kalau saja sandara kembali seperti semalam. Ya, jiyong melihat siaran cuaca pagi tadi dan hari ini seoul akan diguyur hujan.

“park sandara, jika kau bertanya lagi, aku akan menurunkanmu disini.” seru jiyong sebal. Bagaimana bisa sandara yang begitu penurut semalam jadi menyebalkan lagi esoknya? Apakah sandara punya dua muka? Tapi entah kenapa walau jiyong sangat kesal pada sandara, ia tidak pernah bosan meladeni seluruh celutukan bodoh sandara yang selalu ia ulang-ulang.

jinjja? ayo kita turun! Aku tadi lihat sesuatu disana~”

Jiyong mengernyitkan keningnya dan menginjak rem tiba-tiba. Untung saja ia tidak membawa mobilnya dalam kecepatan tinggi, walau di rem tiba-tiba pun tidak apa. jiyong memperhatikan arah telunjuk sandara yang menunjuk ke sebuah kedai ice cream lalu kembali menatap sandara yang menatapnya dengan tatapan cerianya.

“kau tau itu apa?” tanya jiyong.

Sandara menggeleng, senyum cerianya masih bertahan. “tadi seorang anak-anak keluar dari sana dan memegang sebuah kayu kerucut dan ada batu berwarna diatasnya, ia menjilat batu itu. Apakah di zaman sekarang batu bisa dimakan?” tanya sandara balik dengan begitu polosnya.

Jiyong tergelak. Oh lihatlah betapa polosnya perempuan didepannya itu. “aigoo, itu namanya ice cream. Yang kau sebut kayu itu adalah cone, itu bisa dimakan. Dan yang kau sebut batu itulah ice creamnya, ada berbagai macam rasa makanya ia berwarna.” Jelas jiyong sambil menahan tawanya.

Sandara membulatkan bibirnya membuatnya terlihat sangat imut. Jiyong kembali merasakan jantungnya yang berdebar.

“aku mau.” sahut sandara lagi.

Jiyong mengernyitkan keningnya. Ia melirik jamnya sekilas untuk memastikan ia belum terlambat. “baiklah. kau tunggu disini. kau ingin rasa apa?” tanya jiyong.

“aku ingin rasa seperti kemarin yang kuminum bersama hanna.” Jawab sandara sambil menjilat bibir atasnya.

Jiyong mengangguk dan segera keluar dari mobilnya untuk membelika sandara ice cream. Sementara itu sandara memilih untuk memutar matanya mengelilingi mobil jiyong. Ia merasa mobil itu seperti tandu kuda, bedanya mobil terasa dingin dan bisa menampung banyak orang, memiliki jendela, dapat memutar musik, kursinya empuk, memiliki sandaran dan harum. Kalau tandu? Oh kau hanya bisa duduk menunggu kapan kau sampai. Kecepatannya saja sudah beda.

Selagi sandara terkagum-kagum dengan mobil jiyong, pintu kemudi terbuka menampilkan jiyong yang terbalut dalam kaus hitam polos, kemeja kotak-kotak berwarna biru, jeans longgar, dan sebuah snapback bertengger di kepalanya. Sandara agak bingung dengan model topi itu, terlebih lagi jiyong memutar topinya sehingga sandara tidak bisa menebak modelnya.

Tangan jiyong terulur memberikan sandara sebuah ice cream berwarna pink dengan topping kacang diatas cone berwarna hitam. Sandara dengan girang menerimanya lalu mempraktekkan bagaimana bocah yang dilihatnya tadi menjilat bagian ‘batu berwarna’ itu. rasa manis dan dingin langsung memenuhi indera perasanya. Wajah sandara merona senang.

“ah rasanya seperti salju! Dingin dan lembut, rasanya menyenangkan~ Wuah, keren sekali, jantungku sampai berdebar!” seru sandara. Terdengar sekali di nada suaranya kalau ia sangat senang. Jiyong mau tidak mau ikut tersenyum melihat sandara yang terlihat kekanakan.

“padahal itu hanya ice cream biasa yang dijual di pinggir jalan.” Gumam jiyong sepelan mungkin. Jiyong melirik jam ditangannya dan memutuskan untuk melajukan mobilnya kembali. Senyumnya tidak pernah pudar selama sandara tidak berhenti memuji ice cream itu. jiyong merasa senang hanya dengan melihat dan mendengar suara sandara.

Rasa apa ini? batin jiyong. Yang jelas bukan rasa seperti milik ice cream sandara. Ini jauh lebih hebat dan membuatnya terpancing untuk terus berada disamping sandara—perempuan joseon yang baru dikenalnya 2 hari lalu dan sudah hampir membunuh gaho yang sudah bersamanya selama 7 tahun.

*

“bagaimana tentang tugasmu, kwon jiyong? Kau tau kan kalau kau mau cepat lulus, kau harus menyelesaikan tugas essay mu itu lalu menyetornya padaku setelah itu barulah kau menyusun skripsimu.”

Jiyong mendesah sepelan mungkin mendengar ceramah dari dosen tercintanya itu. kalau bukan kau dosen yang membimbing jurusanku, mungkin aku sudah membakarmu, dosen sialan, umpat jiyong dalam hati.

“saya tidak mau tau, pokoknya tugas essay mu itu sudah harus selesai minggu depan!” tegas dosen jiyong.

Jiyong mengangguk. “ne, algeussimnida (ya, saya mengerti—formal).”

“keluarlah.” Ucap dosen itu. dengan cepat jiyong membungkukkan kepalanya dan berlalu dari ruangan dosennya yang jiyong rasa seperti ruangan penentuan masuk surga atau masuk neraka. Setidaknya itu seluruh pendapat mahasiswa yang mengikuti jurusannya.

Jiyong menghela nafas lega ketika ia sudah berada diluar. “ah, kurasa ia lebih pantas menjadi seorang tentara daripada seorang dosen.” Umpat jiyong lagi. ia menyampirkan tas ranselnya di kedua bahunya lalu berjalan menuju kelasnya.

Sandara? Jangan bertanya tentang perempuan itu. jiyong menyuruh sandara untuk menunggu di perpustakaan selagi ia menyelesaikan mata kuliahnya. Toh, sandara tidak akan berbuat macam-macam di perpustakaan kan? Lagipula buku di perpustakaan tidak ada bedanya dengan buku di jaman dulu. jadi sandara tidak akan membuat masalah seperti kemarin.

*

siapa dia? cantik sekali.

tidakkah kau pikir wajahnya mirip dengan putri joseon zaman dulu? tapi ia lebih cantik.

wajahnya mulus sekali.

berapa ya nomor teleponnya?

kenapa dia cantik sekali? menyebalkan.

huh, cantikan diriku.

dia seperti bidadari. Kira-kira dia mengambil jurusan apa ya?

oh? Siapa yang meninggalkan adik perempuannya disini? sungguh tidak punya perasaan meninggalkan adiknya di perpustakaan.

dia sudah punya namjachingu, tidak ya?

Rentetan pujian dan makian terdengar ketika sandara melangkah dengan anggunnya mengelilingi perpustakaan kampus jiyong dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibir tipisnya. Tentu saja pujian itu berasal dari hampir semua lelaki yang dilewatinya dan makian dari perempuan yang merasa minder akan kecantikan sandara. Memang mereka tidak bisa bohong, sandara terlihat sangat cantik dalam balutan mini dress bermotif bunga-bunga berlengan untaian tali berwarna putih. Ia memakai jaket kulit jiyong untuk menutupi lengan polosnya. Kakinya sendiri dibalut oleh sneakers putih jiyong yang kebetulan muat di kaki sandara. Sebuah tas kecil tersampir di bahunya—tentu tas itu milik dami dan isinya hanya sebuah buku kecil.

Sandara tidak memperdulikan bisikan-bisikan itu, lebih tepatnya ia tidak merasa kalau bisikan-bisikan itu untuknya. Ia juga tidak kenal dengan mereka, jadi untuk apa mereka membicarai sandara yang tidak mereka kenal?

Sandara berhenti di sebuah rak buku khusus sejarah. Sandara yang memang memiliki otak cerdas dan salah satu penulis di kerajaan, jelas merasa tertarik. Ia menjelajahi rak sejarah itu dengan serius. Sampai akhirnya matanya tertumbuk pada sebuah buku yang berjudul ‘Joseon Terungkap’ dengan tulisan hanja di rak bagian atas, tidak terlalu tinggi. tapi untuk ukuran tubuh sandara yang mungil, ia tidak dapat menjangkau buku itu. dengan usaha berjinjit dan sesekali melompat, sandara berusaha menggapai buku itu.

hup.”

Sandara menoleh ketika sebuah tangan ikut terulur keatas dan mengambil buku itu dengan mudahnya. Tatapan mereka bertemu. sandara dapat melihat lelaki itu tersenyum padanya, matanya menjadi sangat tipis.

“ini.” ujarnya sambil menyodorkan buku itu pada sandara.

Sandara tersenyum manis dan mengambil buku itu lalu membungkuk pada lelaki itu. “gamsahamnida.”

Lelaki itu mengernyitkan keningnya lalu terkekeh. “tidak usah terlalu formal, eng..?”

Sandara tersenyum. “Sandara, park sandara.”

Lelaki itu mengangguk. “ya, sandara-ssi, tidak usah berbicara terlalu formal padaku. namaku dong youngbae.” Ucapnya sambil tersenyum.

Sandara mengangguk. “ne.”

Youngbae terdiam begitupula sandara. Sampai akhirnya youngbae menunjuk buku yang tadi dia ambilkan untuk sandara. “kau bisa membaca itu?”

Sandara melirik buku tebal ditangannya dan kembali menatap youngbae. “Tentu saja. Memangnya kau tidak bisa?”

Youngbae menggaruk tengkuknya. “ya, begitulah. Aku tidak terlalu bisa membaca hanja, aku lebih mengerti hangul.”

Sandara mengangguk kecil. “boleh kuajari?”

Youngbae terdiam sejenak. Kemudian sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman yang menenangkan.

“boleh. Ayo ke meja disana?”

*

yak kwon jiyong! hebat sekali kau membuat shim songsaengnim berteriak seperti tadi.”

Jiyong hanya tersenyum tipis menanggapi pujian—atau ledekan?—dari salah satu teman baiknya, lee seungri.

“memang apa yang kau pikirkan, huh?” tanya seungri lagi sambil menyejajarkan langkahnya disamping jiyong. langkah kaki lelaki itu entah kenapa menjadi lebih cepat dari sebelumnya.

Jiyong hanya mengangkat bahu. “tidak ada. Hanya ingin melamun saja.”

Seungri mengernyitkan keningnya. “apa kau memikirkan perempuan cantik yang bersamamu pagi tadi?”

Ciit

Sol sepatu jiyong yang cukup tebal itu langsung bergesekan dengan lantai koridor kampus ketika si pemilik berhenti tiba-tiba. Seungri bahkan hampir terpeleset ketika jiyong tiba-tiba berhenti.

Jiyong menoleh cepat dan menatap seungri cukup tajam. “darimana kau tau?”

Seungri memasang wajah polosnya. “hei, kau bahkan memarkir mobilmu di bagian C, tentu saja aku lihat. Kau turun dari mobilmu dengan seorang perempuan yang sangat cantik. oh ya, nanti kenalkan padaku ya? hehehe.”

Jiyong mendesah malas. “tidak boleh.”

Seungri merengut. “kenapa? apa dia yeojachingumu? Bukannya kau sedang dekat dengan sohee? Bagaimana dengan kiko si cantik jepang dari fakultas kedokteran? Atau lizzy dari fakultas hukum? Lalu—hmmph!”

Jiyong menikmati wajah seungri yang ingin protes. “kau ini fansku ya? kau sampai hapal semua perempuan yang dekat denganku. dan untukmu, kau cukup menyukai chaerin saja.” dengus jiyong sambil menjauhkan tangannya dari mulut seungri.

Seungri langsung menarik nafas besar. Baru saja ia ingin melancarkan protesnya, jiyong sudah berjalan kembali. Dengan cepat seungri menyusul jiyong.

“oh ya rat, kita ke perpustakaan dulu yah lalu ke kantin.” Ucap jiyong sambil melirik arlojinya.

Seungri mengernyitkan keningnya. Tapi baru saja ia ingin bertanya, jiyong sudah kembali menyeletuk, “dan jangan bertanya apapun.”

Seungri hanya bisa menelan seluruh pertanyaannya dengan kegondokan yang sungguh besar untuk jiyong.

*

Library

“youngbae-ssi, kau belajar dengan cepat.”

Youngbae tersenyum membuat matanya menipis. “terima kasih. ini berkatmu juga, songsaengnim.”

Sandara terkekeh. “kau harus memberiku sesuatu karena aku sudah mengajarimu.”

Youngbae menatap sandara. “aish, kenapa kau jadi tidak ikhlas begini?”

Sandara mengangkat bahunya. “kalau kau tidak mau tidak apa.”

Youngbae terkekeh dan menggeleng. “tidak, aku hanya bercanda. Kau ingin apa?”

Mata sandara berbinar. “aku ingin..” sandara kembali terdiam. Otaknya berputar keras mengingat nama sesuatu yang dia inginkan itu. “eng..”

Youngbae mengernyitkan keningnya. “apa?”

Sandara masih terdiam sambil menunjukkan raut wajah yang mungkin terlihat seperti ia akan memecahkan sebuah kasus yang mampu mengalahkan holmes. Youngbae menyandarkan sikunya di meja dan menatap sandara sambil tersenyum. Perempuan itu sungguh lucu dan manis.

“dara?”

Konsentrasi sandara buyar ketika suara yang dikenalnya itu menegurnya. Dengan cepat sandara menoleh dan tersenyum lebar lalu mendekati jiyong. Youngbae ikut menoleh ke suara itu. tepat saat itu juga terdengar suara bisikan lagi disekitar sana.

oh, dia teman jiyong..

jadi gadis itu milik jiyong? sial.

kenapa harus jiyong? jiyong milikku!

astaga, setelah my youngbae, sekarang lovely jiyongku?!

dia lebih cocok dengan youngbae daripada jiyong..

apa dia adik jiyong? tidak mirip.

dimana jiyong mengenal gadis cantik itu? sepertinya aku harus bertanya langsung pada jiyong.

lengkaplah sudah, jiyong yang tampan dan gadis yang cantik. kenapa mereka terlihat cocok?!

Sandara masih tidak menghiraukan bisikan itu. dia tetap tersenyum sambil berdiri didepan jiyong diikuti oleh youngbae dibelakangnya. Jiyong menatap sandara dan youngbae bergantian, lalu tangannya menarik tangan sandara agar berdiri disampingnya. Sandara mengernyitkan keningnya bingung.

Jiyong menatap youngbae tajam. “apa yang kau lakukan pada dara, heh?”

Youngbae menggeleng. “Tidak ada. Kami hanya belajar bersama.”

Jiyong menyipitkan matanya pada sandara. “benarkah?”

Sandara mengerjapkan matanya ketika wajah jiyong tepat berada didepannya. “y-ya. a-aku mengajarinya membaca hanja.”

Jiyong menjauhkan wajahnya dan menatap youngbae lagi. “dengar ya, jangan pernah mendekati sandara tanpa seizinku.” tegas jiyong. youngbae, sandara, seungri, dan bahkan beberapa murid disana terkejut mendengar ucapan jiyong.

yak kwon jiyong, memangnya apa hubunganmu dengan perempuan cantik ini?” celetuk seungri yang tidak tahan untuk tidak bertanya. Jiyong mengabaikannya.

Youngbae terkekeh. “baiklah, maaf karena telah mendekatinya tanpa meminta izin padamu.” Ucapnya. Setelah itu youngbae berjalan meninggalkan mereka, tapi sebelumnya dia mendekatkan bibirnya ke telinga sandara. “terima kasih sudah mengajariku. Kalau kita bertemu lagi, aku janji akan memberi apa yang kau mau.” bisiknya yang mungkin sengaja ia keraskan sehingga jiyong dan seungri pun bisa mendengarnya.

Sandara mengangguk pelan lalu youngbae berlalu dari sana meninggalkan sandara, jiyong, dan seungri bertiga. Jiyong menggertakkan giginya. “lain kali aku tidak ingin melihatmu berbicara dengan orang lain kecuali orang itu sudah mendapat izin dariku. Mengerti?”

Sandara mendongak dan mengangguk. “baiklah.”

Seungri menatap kedua orang disampingnya itu bingung. “kalian ini ada hubungan apa sih?”

Jiyong dan sandara menoleh. “kami.. teman.” ucap jiyong sedikit gugup.

Seungri menajamkan matanya. “benarkah? apakah seorang teman harus posesif? Tanganmu bahkan terlihat tidak ingin melepaskan tangannya.” seungri menunjuk tangan jiyong yang menggengam lengan sandara.

Dengan cepat jiyong melepas tangannya dari lengan sandara. Sandara juga segera menarik lengannya. Jiyong mendengus. “kau ini banyak bicara sekali, rat.”

Seungri hanya terkikik dan menatap sandara. Ia meneguk liurnya dan menjulurkan tangannya. “aku lee seungri.”

Jiyong mengangkat satu alisnya. Baru saja sandara tersenyum dan berniat membalas uluran tangan seungri, jiyong segera merangkul seungri cepat membuat tangan seungri tertarik. “dia park sandara. Sudah kan kenalannya? Ayo ke kantin.” Ucapnya tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Seungri menggerutu kesal. tapi jiyong tidak memperdulikannya dan melirik sandara yang masih kebingungan ditempatnya berdiri. “ayo dara, kita cari makan. Kau lapar kan?”

Sandara mendongak dan tersenyum manis. “tentu.”

*

“rat. Arah jam 3. Pujaan hatimu menuju kemari.”

Seungri menoleh sekejap ke arah yang dimaksud dan segera memperbaiki tatanan rambut dan kemejanya. Setelah ia merasa tampan, seungri segera menoleh lagi dan tersenyum pada seorang perempuan yang jalan ke arah tempatnya duduk.

“chaerin-ah, hai.” Sapanya. Chaerin—perempuan pujaan hati seungri itu tersenyum dan duduk didepan seungri.

“hai. Dimana yang lainnya? Kenapa hanya ada kau dan daesung?”

“jiyong pergi mengambil makanan dengan seunghyun, minji, dan bom. Kami disuruh menjaga meja, sekalian menunggumu. Hehe.” seungri cengengesan sambil mengangkat alisnya.

Chaerin mengangguk. “oh begitu.”

Daesung tiba-tiba berdiri. “kalau begitu aku pergi mengambil makanan dulu ya. chae, kau temani rat menjaga meja ya? bye.” Dengan cepat daesung meninggalkan meja itu dan menyusul jiyong mengambil makanan.

Seungri berlonjak dalam hati. dae, kau memang sahabat sejati! Batinnya.

Chaerin terdiam sambil menatap seisi kantin siang itu. tatapannya terhenti pada dua sosok yang sedang memilih makanan sambil bercanda. Dengan cepat ia menunjuk sosok itu. “seungri-ah, siapa perempuan itu?”

Seungri menoleh dan mendapati jiyong dan sandara sedang sibuk memilih makanan sambil bercanda tawa. terlihat jiyong sesekali mengusili sandara dan terbahak karena itu. “itu park sandara, kenalan jiyong.”

Chaerin mengangguk kecil. “apa hubungannya dengan jiyong?”

Seungri mengangkat alisnya. Dalam hati ia merasa sakit. Tentu saja ia tahu kalau chaerin menyukai jiyong, tapi seungri tidak membenci keduanya, ia sudah cukup dewasa untuk tahu hak setiap orang menyukai sesuatu. Dan seungri juga memiliki hak itu. ia memilih chaerin.

“aku tidak tahu.” Jawabnya datar. Chaerin hanya mengangguk pelan lalu kembali terdiam sambil menatap dua sosok yang terlihat bahagia itu. seungri menghela nafas pelan.

*

Sandara sudah mulai berbaur dengan teman-teman jiyong terutama bom, minji, dan chaerin. Begitu juga dengan teman jiyong yang lelaki, seunghyun, seungri, dan daesung. Terbukti dari sandara yang duduk disamping bom dan sesekali bercanda dengan daesung. Keberadaan sandara diterima oleh teman-teman jiyong. termasuk chaerin yang menyukai jiyong. chaerin yang awalnya ragu akhirnya jadi senang dengan sandara karena perempuan itu benar-benar bersifat di luar dugaannya.

“dara, ayo sebentar kita cari jepitan. Kau bilang ingin yang seperti ini kan?” bom menunjuk jepitan milik minji. Sandara menoleh dan mengangguk senang.

“benarkah? aku mau!” seru sandara.

Bom mengangguk. “tentu saja.” Kali ini bom menoleh ke teman-temannya yang lain. “oh ya, ayo kita ke fame? Sudah lama kita tidak kesana. Sekalian kita aja dara.” Serunya.

Mata sandara semakin berbinar. Tapi tidak dengan jiyong. wajah lelaki itu menunjukkan keraguan. Fame adalah diskotik, dan jiyong tidak mau membawa sandara kesana. “kurasa tidak.”

Sandara menoleh cepat dengan wajah merengut. “kenapa?”

Jiyong menatap sandara. “itu bukan tempatmu, sandara.”

Sandara kali ini benar-benar merengut. “tapi sepertinya seru, ji.”

Jiyong menggeleng. “tidak dee. Sekali tidak tetap tidak.”

Sandara melipat tangannya didepan dada sambil mengerucutkan bibirnya kesal.

bom, chaerin, minji, seungri, daesung, dan seunghyun menatap kedua orang itu yang terlihat seperti suami yang posesif pada istrinya. Sampai akhirnya seungri tiba-tiba bertepuk tangan dan terbahak.

“kalian terlihat seperti sepasang suami istri. Benar kan, dae?” seungri menyikut lengan daesung yang disambut anggukan daesung.

Daesung menyodorkan kedua jempolnya didepan jiyong dan sandara. “aku ingin menjadi anak kalian~”

Bom menyikut perut sandara. “aigoo.. Ji? Dee? Panggilan sayang kalian huh?” goda bom disambut tawa yang lainnya. Wajah sandara menunjukkan raut wajah bingung. sementara jiyong entah kenapa tiba-tiba merasa wajahnya memanas.

omo omo omo! wajah jiyongie memerah!” seru seunghyun dengan suara beratnya yang mengundang banyak mata. Jiyong dengan segera memberi death glare pada seunghyun. Seunghyun hanya membalasnya dengan peace sign.

“kalian berpacaran eh? keren sekali!” tambah minji diikuti tawa menggelegar bom. Sandara menggaruk tengkuknya bingung. ia melirik jiyong yang ternyata juga sedang meliriknya. Sontak saat itu wajah sandara memerah sempurna.

Teman-temannya yang lain mengetahui hal itu dan mereka kembali menjadi bahan ledekan. Tapi tidak dengan chaerin yang hanya bisa ikut tersenyum walau ia tidak nyaman dengan pembicaraan itu.

*

Sesuai ajakan bom siang tadi, kini sandara sudah berada di sebuah mall untuk mencari jepitan yang diinginkannya. Tentu saja jiyong juga ada. Mereka hanya berenam—tambah chaerin, seungri, dan seunghyun. Minji dan daesung pergi berkencan entah kemana.

Jiyong, seungri, dan seunghyun pergi membeli tas untuk seungri sementara para perempuan mencari aksesoris mereka. Bom merangkul sandara dan chaerin. Sandara terlihat antusias. Ini pertama kalinya dia merasa bebas dan memiliki seorang teman perempuan. Apalagi ini juga pertama kalinya dia memasuki mall. Matanya terlihat berbinar sempurna.

“dara-ah, menurutmu jiyong itu bagaimana?” tanya bom yang sedikit penasaran dengan hubungan sandara dan jiyong. ia tidak puas ketika siang tadi jiyong memperkenalkan sandara sebagai teman yang datang dari jerman. Chaerin menoleh ikut menunggu jawaban sandara.

Sandara menggigir bibirnya berpikir. “dia baik. Dan.. oh ya, dia juga lembut.” Ucap sandara sembari mengingat kejadian kemarin malam dimana jiyong menenangkannya dari ketakutannya terhadap hujan.

Kening bom dan chaerin mengkerut bersamaan. “lembut? Apa kau yakin?” bom mencoba menetralisir otak sandara.

Gadis itu mengangguk. “ya, dia sangat baik dan lembut. Ada apa memang?”

Bom menatap chaerin yang mengangkat bahu. “selama ini jiyong dikenal sebagai lelaki yang sinis dan kasar. Makanya aku—atau aku dan chaerin bingung kenapa kau bilang jiyong itu lembut.”

Sandara mengangkat bahu tidak mau tahu. “oh ya, aku ingin permisi buang air kecil, bisa kah?” pertanyaan sandara membuat bom dan chaerin berhenti berjalan.

Bom mengangguk kecil. “baiklah. tapi aku dan chaerin pergi duluan ke tempat itu ya? kau bisa menyusul kan?”

Sandara terlihat berpikir. Tapi setelah chaerin menunjukkan letak toilet dan letak tempat aksesoris padanya, sandara segera mengangguk. “baiklah, sampai bertemu disana.” Setelah itu mereka jalan terpisah. Sandara ke toilet, bom dan chaerin ke tempat aksesoris.

Sandara berjalan masuk ketoilet dengan sedikit ragu. Sekarang ia sudah berada dalam salah satu bilik. Sebelumnya ia hanya memperhatikan para perempuan lainnya yang keluar masuk bilik. Sandara menemukan ‘mangkok’ putih di dalam bilik tersebut—mirip dengan milik jiyong di kamar mandinya. Sandara tersenyum lega, sebelumnya jiyong sudah mengajarinya cara menggunakan ‘mangkok’ itu agar ia tidak menyalahgunakannya lagi. ayolah, bagaimana kalau sandara mencuci tangannya didalam situ? Atau lebih parah meminumnya? Tidak. sudah cukup sandara menyeburkan gaho kedalam.

Setelah selesai dengan urusannya itu, sandara segera berjalan keluar dari toilet dan celingak-celinguk mencari tempat aksesoris yang ditunjuk oleh chaerin tadi. Sandara tersenyum ketika menemukan tempat aksesoris yang ditunjuk oleh chaerin. Dengan cepat sandara berjalan kesana dan masuk kedalam.

Tapi bom dan chaerin tidak ada disana. Sandara mengernyitkan keningnya. Ia mencoba masuk lebih dalam melewati rak-rak aksesoris lainnya. Tapi tidak ada bom ataupun chaerin.

Apa aku salah? Batinnya bingung.

“hai.”

Sandara menoleh dan mendapati 2 orang perempuan cantik tengah berdiri didepannya sambil tersenyum. Bukan bom ataupun chaerin. Sandara mengernyitkan keningnya bingung. “apakah anda menyapa saya?” tanyanya formal.

Kedua perempuan itu berpandangan heran lalu kembali menatap sandara. “err ya. dan jangan terlalu formal padaku.” ucap salah seorang dari mereka.

Sandara mengangguk ragu. “baiklah. oh ya, namaku park sandara.” Sandara membungkukkan sedikit kepalanya pada dua orang perempuan itu.

Kedua perempuan itu kembali berpandangan heran. “oh hai sandara-ssi. aku sohee dan ini lizzy.” Si sohee itu menunjuk temannya.

Sandara mengangguk. “ya.” setelah itu sandara kembali membungkuk pada sohee dan lizzy lalu segera berjalan pergi. tapi lizzy menahan tangannya membuat sandara terlonjak.

“tunggu sandara-ssi, aku ingin bicara denganmu.” Ucapnya. Sohee mengangguk.

“apa itu?” tanya sandara bingung. ia sedikit cemas dengan keberadaan bom dan chaerin. Terlebih untuk kedua orang yang baru dikenalnya itu, mereka terlihat membahayakan.

“apa hubunganmu dengan jiyong?” tanya sohee langsung.

Sandara mengernyitkan keningnya. “eh? jiyong? dia.. teman lamaku.”

Lizzy dan sohee menaikkan alis mereka. “Apa kau menyukainya?”

Sandara menggeleng cepat. “anieyo!” serunya.

Lizzy dan sohee saling melirik dan kemudian mengangguk. lizzy melepaskan tangannya dari tangan sandara. “baiklah. kami duluan ya, maaf mengganggu.” Setelah itu lizzy dan sohee segera pergi sebelum melambaikan tangan mereka pada sandara.

Sandara menggaruk tengkuknya bingung. ia menghela nafas lalu segera berjalan keluar dengan agak cepat. Tapi ketika ia melewati pintu, sesuatu berbunyi dengan cukup nyaring membuat sandara terhenti disana.

Bip bip bip bip bip bip

Sandara terdiam cemas di pintu. “a-ada apa ini?” gumamnya.

Seorang petugas di toko itu mendekatinya. “jeosonghaeyo agasshi, bisa ikut dengan saya?” ucapnya pada sandara.

Sandara mengernyit bingung. “kenapa saya harus ikut dengan anda?”

Petugas itu menatap sandara. “alarm ini akan berbunyi jika seseorang membawa keluar sesuatu dari toko ini tanpa membayarnya. Saya harus memastikan hal itu, apakah anda mencuri atau tidak.”

Sandara melongo. “sa-saya tidak mencuri!”



TBC

next >>



Note :Gak mau berbelit lagi, ff ini aku gak janji ga bakal sad, soalnya aku ngefeelnya kalo ff buatanku itu angst gitu. jadi mungkin bakal ada bagian yang angst, tapi aku usahain biar happy ending. Dan soal setting tempat, aku mau berterima kasih karena udah ngoreksi ffkuu dan mianhaee /bow/ aku emang mikir, “ini gak papa kali ya kalo aku gak ngasih nama tempatnya. Kan udah ada di percakapan gitu.” tapi ternyata emang akunya yang salah wkwk miann. aku sadar kok pas udah baca ulang, lah aku jadi bingung sendiri, bener juga ternyata setting tempatnya kaga jelas wkwk. Insyallah di chapter ini dan berikutnya, settingnya udah jelas.

mian kalo typonya bertebaran atau setting tempatnya atau penjelasan tokohnya masih kurang, mohon ditegur ya kalau masih ada yang kurangJ btw, HAPPY EID MUBARAK GUYSJ MINAL AIDIN WALFAIDZIN, MAAF KALAU AKU ADA SALAH({})J

Advertisements

56 thoughts on “[Series] Coming To You – 3

  1. Waduhh, dara unnie dituduh jadi pencuri gitu? Hello, mbak petugas ato apalah, dara unnie itu nggak nyuri tau nggak sihh? kalo perlu periksa cctv nya aja deh kalo ada. Bom unnie sama chaerin unnie kemana lagi? dara unnie butuh bantuan kalian. Dara unnie tipe orang yang pinter bersosialita nih yee, cepet banget berbaur sama temen temennya jiyong oppa. Btw, jiyong oppa itu beneran nggak nyadar ya kalo ketiduran di kamarnya dara unnie eehh ralat kamarnya haru😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s