[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 12

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: YESTERDAY IS A MEMORY



Sandara tak menyangka siapa yang ditemuinya saat mengurus pendaftaran dirinya untuk orientasi kampus. Sora. Park Sora yang itu, teman sekelas Jiyong dulu. Dan Sora tak kalah kaget melihat Sandara menjadi adik tingkatnya.

“Sandara kan, apa kabar?” pertanyaan itu tidak disampaikan dengan rasa senang, melainkan cemas. Apa yang dia cemaskan, Sandara tidak tahu.

Perasaan Sandara mengatakan ada yang tidak beres, tapi dia enggan untuk mencari tahu. Hari ini kepentingannya hanyalah untuk mendaftar orientasi kampus.

**

Jiyong berkali-kali membunyikan klakson dengan tak sabar. Setengah jam yang lalu Sora bilang ada barangnya yang tertinggal dan dia perlu mengambilnya sebentar. Tapi sudah tiga puluh menit berlalu dan gadis itu masih belum muncul juga. Padahal jelas Sora tahu, lima belas menit lagi mereka berdua harus sudah tiba di kampus untuk mengurusi orientasi kampus.

Sora akhirnya keluar dengan langkah pelan, seolah mereka tidak sedang diburu waktu.

“Kenapa kau lama sekali sih? Lihat sudah jam berapa sekarang? Kita pasti akan terlambat,” Jiyong memburu dari balik kemudi.

“Jiyong, bagaimana kalau kita tidak usah datang saja,” pinta Sora.

“Apa kau sudah gila?!” tanya Jiyong kesal. “Kau sendiri yang memaksaku untuk ikut mendaftar kepanitiaan orientasi mahasiswa baru, padahal aku sama sekali tidak berminat. Tidak usah berkata macam-macam, ayo cepat!”

Sora takk menjawab. Memang dirinyalah yang memaksa Jiyong untuk melakukan apa yang diinginkannya, tapi itu sebelum…

“Harusnya kau sadar, ini adalah bagian dari tanggung jawabmu. Kau sudah berani berkomitmen di awal, maka selesaikan apa yang kau mulai,” Jiyong masih kesal.

**

Minggu yang padat. Orientasi kampus berlangsung selama satu minggu dan benar-benar menguras tenaga. Ini belum mulai perkuliahan resmi… dan Sandara merasa lelah karena harus ke mana-mana sendiri. Salah satu dari Rohye atau Bom biasanya bersamanya, tapi sekarang Rohye sudah di seberang lautan sana, sedangkan Bom sudah berbeda kampus dengannya walau mereka masih satu universitas. Sandara di kampus utama di Gwanak Main Campus, sementara Bom di Yeongeon Medical Campus.

Hari terakhir orientasi diwajibkan untuk membawa satu bibit pohon yang akan ditanam secara massal dan mereka akan dibawa berkunjung ke Pyeongchang Campus. Bukan studi mayor yang diambil Sandara sebenarnya, entah apa maksud panitia hingga harus membawa mereka hingga sampai ke Gangwon-do. Sandara tidak memiliki firasat baik tentang hal ini.

Beberapa kali Sandara bertemu dengan Sora dan beberapa kali pula dia menangkap pandangan aneh dari sunbaenya itu. Meski saat mata mereka bertemu, Sora akan menjadi yang pertama berpaling. Sandara enggan memikirkan tentang hal itu.

Lima menit berkutat dengan sekop kecil di tangan, Sandara sudah menggali lubang yang sekiranya cukup untuk ditanami bibit yang dibawanya, tapi kurang dalam. Sepuluh menit. Sandara rasa sudah cukup. Dengan sedikit ragu, Sandara melepas poly bag…

Tak sampai dua detik, jeritan keras Sandara terdengar disusul dengan lemparan bibit pohon di tangannya. Semua orang menghentikan aktivitas karenanya.

“Ada apa? Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau sedang mencari perhatian?!” suara salah seorang sunbaenya keras, nyaris berteriak, untuk mengimbangi dengan suara jeritan Sandara.

Sandara masih berteriak-teriak, kakinya menghentak-hentak ke tanah. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin mengucur deras dari seluruh pori-pori di tubuhnya, kedua tangannya menutupi telinganya setelah entah melemparkan sarung tangannya ke mana. Gagal mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.

“Ada apa ribut-ribut?” suara yang Sandara kenal. Suara yang Sandara kenal. Tapi kemudian diam membisu.

“Ada apa?” suara lain muncul. Sandara juga merasa mengenal suara ini dengan baik. “Sandara?!” suaranya terdengar kaget.

“Kalau kau ingin cari perhatian, bukan di sini tempatnya,” suara yang pertama tadi masih terdengar kesal.

Sandara merasa tubuhnya dipeluk seseorang.

“Dia ini phobia!” suara yang terakhir tadi menjelaskan.

“Ah, bilang saja dia memang sedang mencari perhatian, hal itu sudah sering terjasi,” suara pertama bersikeras.

“Apa kau tidak bisa membedakan mana yang cari perhatian, mana yang benar-benar phobia. Lihat wajahnya sudah pucat begini…”

Lalu Sandara merasa tubuhnya ringan dan tak ada lagi suara yang terdengar.

**

“…Dara…”

“Sandara…”

Sayup-sayup terdengar suara seseorang. Suara terakhir yang tadi membelanya, juga yang tadi terdengar paling dekat.

Sandara membuka mata. Gelap. Matanya mengerjap pelan. Seberkas cahaya muncul. Putih. Rupanya plafon. Di mana dia sekarang? Sandara bertanya-tanya. Matanya berkeliling.

Hampir saja dia kembali tak sadarkan diri saat mendapati siapa orang yang berada di sampingnya. Wajahnya hampir sama pucatnya seperti saat tanpa sengaja memegang cacing tadi, hanya kali ini dia sanggup menahan diri untuk tidak berteriak histeris.

Jiyong.

Kenapa dia bisa ada di sini? Sejak kapan dia berada di sini?

Tunggu… berarti, suara yang dikenalnya tadi adalah suara Jiyong? Bagaimana mungkin?

“Hey, kau sudah sadar?” dia menyapa. Ramah, seperti dulu.

Senyumnya mengembang. Sudah lama sejak terakhir kalinya Sandara melihat senyuman itu. Masih sama sepertinya yang terakhir diingatnya.

“Tadi kau pingsan,” jelas Jiyong melihat Sandara hanya diam.

Berarti, Jiyong yang membawanya ke mari.

Tunggu sebentar… Jiyong yang membawanya ke sini… Jiyong berada di sini…. Jiyong ada di tempat yang sama dengannya… Jiyong kembali menjadi sunbaenya!

Rohye, bawa aku ke Jepang bersamamu…

**

Baiklah, semuanya sudah jelas sekarang. Sandara harus kembali bersosialisasi dengan Jiyong. Setelah setahun akhirnya dia bebas tanpa harus menghindari Jiyong di koridor sekolah atau kantin, sekarang dia harus kembali menyusun skenario baru untuk menghindari cowok itu.

Rohye yang malam harinya langsung mendapat telepon darinya, justru menertawakannya. Menurut Rohye, memang  saatnya Sandara menghadapinya, cepat atau lambat hal itu memang sudah seharusnya terjadi. Dan masih menurut Rohye, Sandara harus berhenti berlari menghindar.

“It’s your life, stop running away…”



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

15 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 12

  1. itu jiyong kan yang belain dara….senengnya
    apa hubungan ji sama sora? keknya mereka deket.
    gk selamanya dara bisa menghindar….akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali.

  2. Akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua lagiii. Ternyata Jiyong nggak bisa lupa dengan phobia yg dimiliki Dara. So sweet abiss. Tapi kok kayaknya Sora bakal jadi penganggu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s