FATE [Chap. 10]

12346798_1016594028383065_2142506412_n

Author : dinasptvd

Main Characters:

Kwon Jiyong [26th] ; Sandara Park [28th].

Support Characters:

Dina Park [22th] ;Song Daehan [2th] ; Kiko Mizuhara [26th] ; Kim Jaejoong [26th] ; 2NE1 Members ; BIGBANG Members.

******

Note:

Sebelumnya terimakasih sekali untuk comment-commentnya. Aku sangat senang kalian mengikuti cerita ke-3ku ini. Dari mulai comment yang rasional, comment yang menghibur hingga comment yang menyemangatiku J Dan maaf bila masih banyak kekurangan, tapi aku sangat berusaha disini dan kubuat sedekat mungkin dengan karakter asli.

Siijak.

***

Yeoja itu menoleh, dan seulas senyum merekah menghiasi wajah cantiknya.“Jiyong!”

“…Kiko.”

“Jae.. kurasa, aku mencintainya.”

Kwon Jiyong memicingkan kedua matanya, menatap yeoja bertubuh kurus yang tengah tersenyum tipis ke arahnya dengan geram, “Kiko, kenapa kau ada disini?! Apa kau gila? Bagaimana bila paparazzi mengambil gambarmu dan semua ini menjadi berantakan untuk kesekian..kalinya.”

Kiko membenarkan posisi duduknya, kini mereka berdua berada di dalam apartemen Jiyong. Dengan dua gelas coklat panas terletak di atas meja. “Aku tidak bisa menghubungimu.. jadi aku kemari.”

Sebelum Jiyong sempat menjawab, yeoja di hadapannya bergumam. “Mian. Mianhae. T-tapi kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Lihat. Aku menyamar! Aku menutup wajahku dan mengenakan wig.”

“Aku tidak menyangka kau sampai harus datang menemuiku, itu yang kupikirkan saat ini. Hanya pastikan agar ini tidak akan dimuat di media MANAPUN. Apa yang ingin kau bicarakan lagi, hm?” Jiyong mendesah berat, masih mengingat kondisi tubuhnya yang kelelahan.

Kali ini Kiko menunduk, secara perlahan meraih tangan Jiyong dan menggenggamnya. “Mianhae. Aku pastikan itu. Aku selalu berhati-hati.”

Jiyong mengalihkan pandangan, menghembuskan nafasnya dengan kesal.

“Kau..belum bisa memaafkanku, Jiyong?”

“Itu sudah lama terjadi.”

“Lalu kenapa kau menghindar?”

Jiyong diam. Lalu mendesah. “Karena aku cukup yakin telah berbicara padamu tentang hal ini. Dan aku ingat aku pernah memberimu jawaban, angeurae?”

“Kau tidak memberiku kesempatan, Jiyong.”

Namja itu menarik tangannya perlahan, dan tersenyum. “Kau tau kita bisa jadi teman. Teman yang sangat baik, Kiko.”

Kiko menggigit bibir bawahnya, matanya mulai memancarkan kesedihan ketika ia melihat Jiyong berdiri.. berjalan ke arah jendela besar di sudut ruangan, memunggunginya. Sedetik kemudian ia menyadari suaranya berubah sedikit parau, “…Wae?”

Hening. Hanya lantunan musik klasik yang terdengar memenuhi ruangan mewah itu.

“Waktu berlalu, Kiko. Setiap orang juga berubah.”

“Hanya itu?”

“Jangan membuatku mengingat masa lalu. Kau, meninggalkanku.” Suara Jiyong tetap tenang.

“Tapi aku kembali..untukmu.”

Jiyong mendengus, dan tersenyum tipis memandang langit Seoul di balik jendela. “Hidup tidak semudah itu, Kiko. Hatiku juga tidak bisa sembuh dengan semudah itu.”

Yeoja yang pernah ia cintai itu pun diam seribu bahasa. Menatap Jiyong dengan pandangan terluka yang nampak jelas di wajahnya. “Wae..”

Lagi-lagi namja tampan itu mendesah.

“Wae..” Kiko mengulang kata-katanya. Namun Jiyong tetap tidak memberinya jawaban. “Kau.. mencintai orang lain?” Suaranya semakin lirih sekarang, ia menggenggam batas sofa dengan erat, mengantisipasi butir air mata yang akan mengalir keluar. Menanti jawaban yang ia mengerti akan menghancurkan harapannya.

Apa lagi yang ia miliki kali ini selain harapan?

“…Ya. Aku mencintai orang lain.” Jawab Jiyong datar, dan tegas. Seumur hidupnya, ia belum pernah merasa seyakin ini.

Namun sebelum Jiyong bergerak atau bahkan melakukan apapun, ia telah merasakan seseorang memeluknya dari belakang, terisak pelan di balik pundaknya. Satu kalimat yang didengarnya saat itu adalah..

“Apa aku sudah begitu terlambat?”

***

Hari ini Park Bom memutuskan untuk menemani Dara melakukan pemotretan cover drama terbarunya. Bersama hoobae mereka, Kang Seungyoon, ia, Dara dan beberapa crew nampak memadati studio YG Building sejak pagi. Seperti biasa, Bom setia membawa peralatan kukunya kemanapun ia pergi. Sembari memoles satu demi satu anak-anaknya itu, tingkah laku Dara yang gelisah mulai menarik perhatiannya. Dan dia tau sumber kegelisahan sahabatnya itu.

“Belum juga memberimu kabar eoh?” suara Bom membuyarkan lamunan Dara, membuat ibu-satu-anak-yang-sangat-imut itu tersentak.

“Kamjagiya..”

Bom tertawa, “Mian mian. Tapi sejak kemarin, di telfon pun suaramu terdengar buruk. Dan hari ini kau benar-benar terlihat tidak baik. Jadi, aku rasa Jiyong penyebabnya?”

“Nan gwenchanha.”Dara tersenyum menanggapi.

“Gwenchantago? Ah..geurae?” Bom mengerutkan keningnya, bertopang dagu dengan tangan kanan di atas meja.

“Mungkin dia terlalu lelah, Bommie..”

“Kau yakin? Kalau begitu kunjungi dia di apartemennya. Siapa tau dia sedang sakit.” Saran Bom, membuat Dara membelalakkan kedua matanya.

“Kau benar. Bisa saja dia sedang sakit..geji.”

Bom mengedikkan bahu, “Kau mau aku meminta tolong Seunghyun untuk mengantarmu kesana?”

“Aniya.. aku akan pergi sendiri dengan manager-ku nanti.”

Bom mengangkat alisnya, “Joha. Pastikan kau mengecek keadannya. Dia tidak menjawab telepon?”

Dara menggeleng.

an disaat sahabatnya lagi-lagi melamun, Bom mengalihkan pandangan sambil meraih ponselnya. Mengetukkan jemari lentiknya untuk menekan dial call dan menunggu. Suara berat kesayangannya menyambut di ujung sana, “Jagi? Kau bersama Jiyong kemarin, bukan begitu? Apa kau tau dimana dia?? Mwo? Dia tidak ada kabar? Arasseo, aku hanya penasaran. Perasaanku.. tidak enak.”

“Nanti sore aku akan pergi ke apartemen Jiyong setelah mengunjungi Jae.” Ucap Dara lagi sembari berdiri dan mengambil tas tangannya, membuat Bom memiringkan kepalanya untuk mengingat sesuatu.

“Apa hari ini..?”

“Ya. Hari ini hari ulang taunnya.”

***

Jiyong membuka kedua matanya, kemudian memandang sekeliling dengan setengah mengantuk. Ruangan bernuansa Eropa dengan berbagai ukiran kuno di dinding dan juga langit-langit. Sebuah foto dirinya yang berukuran besar di tengah-tengah ruangan. Berbagai tumpukan kertas. Beberapa penghargaan.

Oh. Ia masih berada di dalam kamar apartemennya.

Namja itu berusaha bangkit, lalu menyadari sebuah handuk kecil berada di atas keningnya. Secara perlahan ia pun menyandarkan punggungnya ke dipan tempat tidur di belakangnya. Sesaat yang ia rasakan tubuhnya terasa berat. Sulit untuk bergerak. Demam. Dia sedikit menggigil. Mengerang kesal, ia menatap jam di sisi ranjang dan terkejut.

17:05

“Astaga, apa aku tidur seharian penuh?” ucapnya. Dan beberapa saat kemudian sebuah suara mengejutkannya.

“Iya, kau tidur seharian penuh.”

Kiko Mizuhara, duduk dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada dan menatapnya dengan senyuman tipis.

Jiyong memijat pelan pelipisnya dan mengerutkan kening, “Kau masih disini?”

 “Kau sedang sakit. Mana mungkin aku pergi?”Yeoja itu mendesah pelan dan duduk di sisi ranjang.

“Kau tidak perlu melakukannya.”

“..Baiklah, aku tau. Maaf.” Balas Kiko singkat, masih menatap Jiyong. Kemudian menjulurkan tangan memberinya sesuatu. “Ponselmu.. terus berdering hampir seharian. Karena kau tidur lelap sekali, aku tidak tega membangunkanmu.”

Mata Jiyong terbelalak. Dara!

Bagaimana mungkin ia lupa memberinya kabar. Ini semua karena.. Jiyong menatap Kiko. Argh. Dia tidak menginginkan ini. Dengan tergesa ia mengambil ponselnya dari genggaman yeoja itu dan mendapati belasan missed calls maupun kakaotalk disana.

‘Ji? Kau sudah sampai?’11:10

‘Jiyong?’ 11:30

‘Aku menelponmu dan itu tersambung. Kau sudah sampai? Kenapa tidak memberiku kabar?’ 12:05

‘Jiyong, kau baik-baik saja?’ 13:15

‘Apa..kau sibuk? Setidaknya kau bisa memberitahuku, Jiyong. Aku khawatir sekali.’ 15:20

‘Jiyong-a..’ 16:01

‘Aku akan kesana nanti. Kuharap kau ada di apartemenmu.’ 16:50

 

“Shit.” Umpat Jiyong mengacak rambutnya frustasi.

“Jiyong, ada apa?”

Pertanyaan Kiko tidak begitu ia dengarkan karena yang ada di otak Jiyong saat ini adalah menelpon Sandara-nya. Ya. Ia segera menekan beberapa tombol melalui ponselnya dan menempelkannya di telinga.

“Yeoboseyo? Babe?”

Kiko membeku di tempatnya.

“Mianhae..hm?” Sekali lagi Jiyong mengacak rambutnya kesal. “Aku ketiduran  begitu sampai. Mian aku begitu lelah. Kau dimana sekarang?”

Alisnya berkerut, namun setelah mendengar keberadaan Dara raut wajahnya berubah tenang. “Arasseo. Tunggu aku disana. Ani, biar aku saja yang kesana. Na jigeum kalkkae..”

Tut

Setelah ia mengakhiri panggilan, dirinya segera menyingkap selimut tebalnya dan baru saja akan berdiri menuju kamar mandi ketika Kiko menahan lengannya. Menatapnya dengan gelisah. “K-kau mau kemana? Kau masih demam, Jiyong.”

Namja itu memandang ke arah tangan Kiko yang berada di sikunya lalu menurunkannya perlahan. “Aku harus pergi. Terima kasih sudah menemaniku tapi kurasa sekarang kau harus pergi. Eoh?”

 Kiko menelan ludah, ekspresinya terluka. “Kau..mencintainya?”

Jiyong memutar tubuhnya. “Mwo?”

Dilihatnya yeoja itu tersenyum. “Kau mencintainya.. Jiyong?”

Hening sesaat. Kemudian sudut bibir Jiyong terangkat naik, “Sangat.”

Itulah percakapan terakhir mereka berdua hari itu sebelum akhirnya Jiyong melangkah menuju kamar mandi, menyiapkan dirinya. Sedangkan Kiko, ia diam mematung dan menunduk. “Dia yeoja yang baik.. dan sangat cantik. Benar kan?”

Flashback

  • Iphone’s Ringtone

“Lagi?” gumam Kiko dari arah dapur. Setelah ia mengganti air yang akan ia gunakan untuk mengompres kening Jiyong. Setelah ia mengelap telapak tangannya, ia pun berjalan ke asal suara. Ponsel Jiyong masih berada di dalam kantung Jaket namja itu, tanpa membangunkannya, Kiko pun meraihnya dengan perlahan.

Ia mengerutkan kening menatap layar, membaca nama yang tertera disana. ‘Sandara’

“San..dara?” ucapnya lirih. Ia tidak yakin, ia memang tidak tau banyak mengenai idola-idola di Korea saat ini karena ia menghabiskan seluruh waktunya di Jepang. Tapi sepertinya nama itu tidaklah asing.

Dering ponsel itu berhenti. Dan di dalam layar telah tercantum 16 missed calls. Detik itu pula Kiko mengerti bahwa siapapun itu, ia adalah seseorang yang istimewa.

Baru saja Kiko akan meletakkan kembali ponsel Jiyong di sisi ranjangnya. Namun sebersit rasa penasaran menjalar merasuki dirinya. Sembari melirik namja yang telah tertidur pulas, jemarinya mulai menelusuri menu dan membuka folder gallery. Jiyong tidak memberikan password kali ini. Dan itu adalah keberuntungannya. Beberapa foto kini terlihat di dalamnya, dan foto-foto terbaru adalah foto yang Jiyong ambil saat ia menghadiri fashion show di Paris. Kiko tersenyum, dan mulai menjelajahi beberapa baris dibawahnya. Kemudian matanya terpaku pada sesuatu. Kiko melihat foto seorang yeoja disana. Yeoja yang sama sekali tidak dikenalnya. Dan tidak hanya satu.

Terdapat foto candid yeoja berambut hitam panjang itu tengah mengaduk spatulanya dengan senyuman manis, foto candid yeoja itu tengah tersenyum lebar di hadapan seorang anak laki-laki, foto candid yeoja itu tengah menyesap minumannya di sebuah cafe. Bahkan..terdapatfoto yeoja itu tengah tertawa ke arah kamera, berusaha menutupinya dengan kedua tangan. Dan, foto yeoja itu tengah menoleh ke arah kamera dengan tangannya yang berada dalam genggaman Jiyong. Ya. Itu tangan Jiyong. Kiko mengenalnya. Tato itu, tangan itu, tangan yang dulu pernah digenggam dan menggenggamnya.

Kemudian Kiko mendongak, menatap wajah Jiyong yang damai dalam tidur, lalu merasakan air matanya bergulir turun.

Flashback End

Yeoja itu menyesali kembali perbuatannya. Menyesali waktu yang telah berlalu. Menyesal karena kini ia tau bahwa dirinya sudah terlambat. Menyesal karena ia mulai sadar, bahwa Jiyongnya tidak akan pernah sama lagi..

***

Uap putih mengepul melalui mulutnya. Cuaca Seoul sangat dingin hari ini dan itu membuat Dara menggandeng tangan mungil Daehan lebih erat. Dina Park, menggosokkan kedua tangannya sembari memasukkannya ke dalam saku coat panjangnya ketika turun dari mobil lalu segera menuntun eonni serta keponakannya itu untuk masuk ke dalam ruangan.

Mereka bertiga baru saja tiba di krematorium pusat kota.Dara telah menyelesaikan pemotretannya sejak siang tadi, dan ia hanya memiliki waktu beberapa jam di rumah untuk bersantai sebelum ia harus datang kemari. Namun, istirahat singkatnya benar-benar terganggu karena rasa cemas.

“Tersenyumlah, eonni.. kita menemuinya sekarang. Hm?” Dina Park menatapnya seraya tersenyum, membuat raut wajah Dara berubah, menjadi sedikit lebih tenang.

Kini Dara, Daehan dan Dina telah berdiri berjajar di hadapan banyak bilik kaca kecil dengan setiap guci, foto, dan beberapa benda berharga lainnya. Namun, satu di antaranya sangat istimewa. Sebuah bilik kaca tempat suaminya beristirahat untuk selamanya.

“Eomma. Igeo eodieyo?” tanya Daehan yang tengah memandang sekelilingnya dengan bingung. Dara tersenyum, mengelus puncak kepalanya.

“Igeon.. appa jibiya.” *rumah appa

Mata sipit Daehan terbelalak, “Appaeui jib?”

Dara mengangguk. “Kau lihat itu, baby?”

Dirinya menunjuk ke arah bilik kaca di barisan tengah yang menunjukkan adanya sebuah foto. Foto seorang namja dengan keluarga kecilnya. Jaejoong, Dara, dan Daehan. Dina segera menggendong keponakannya itu agar dapat melihat lebih jelas. Daehan berkedip beberapa saat, dan perlahan ia mulai mengenali wajah-wajah itu.

“Eoh..appa.” ucapnya.

Tangan Dara bergerak, mengambil satu bucket bunga mini dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Daehan. “Kau mau memberikannya pada appa?”

 “Ne!”Putranya mengangguk dengan semangat.

Dina membawa Daehan lebih dekat, kemudian namja kecil itu menempelkan karangan bunga mini yang digenggamnya. “Appa.. Daehani wasseoyo. Appareul..neeeeeil neil bogosippeoyo.”

Oh. Dina Park menahan dirinya untuk tidak menangis. Namun matanya sudah berkaca-kaca sekarang. “Aigoo..nae nun waeirae igeo..” *kenapa mataku ini

Dara tertawa kecil, lalu kedua matanya kembali fokus menatap lurus ke depan. Seolah ia tengah menatap Jaejoongnya yang masih hidup, tersenyum ke arahnya. Selalu. Ya. Selalu. Kapanpun ia datang kemari, sejak kepergian suaminya. Ia selalu merasa Jaejoong masih berada di sekitarnya, menatapnya, tersenyum padanya. Dan itu semua terjadi secara otomatis.

Dina berjongkok, menurunkan keponakannya.

“Daehan-a..” panggil Dara, membuat putranya menoleh.“Ne, eomma?”

“Appa do, appa do Daehanireul manhi bogosipeosseo.”

Daehan tersenyum lebar, “Jeongmalyo?”

“Mm..” Dara mengangguk.

Pemandangan itu membuat Dina Park tersenyum. Kemudian ia mendengar eonni-nya mulai berbicara. Seperti biasa..

“Kami datang lagi. Bagaimana kabarmu disana, ng? Aku merindukanmu, Daehan juga sangat rindu padamu. Ini…sudah 2 tahun lebih, geji? Waktu sungguh tidak terasa tanpa kau disini.”

Dan hening. Dara tertawa hambar. Lalu menghela nafasnya sesaat. “Saengil chukhahae..yeobo.”

“Appa, saengil chukhaehaeyo.”

Dara mengusap puncak kepala putranya sekali lagi, “Appa pasti senang mendengarnya, sayang.”

Hari mulai gelap, Dara, Daehan dan Dina masih berada di tempatnya. Berbicara kepada ‘Jaejoong’ seperti biasa pada hari yang istimewa. Hari dimana dulu mereka berempat selalu berkumpul dan bercanda bersama-sama untuk merayakannya. Kali ini, untuk kali ini.. tidak ada air mata untuk Dara. Dina semakin merasakan kebahagiaan mulai menghampiri kakak perempuannya. Kebahagiaan baru yang perlahan menutup lubang di hati kakak perempuannya itu. Siapa lagi? Sudah pasti Kwon Jiyong-lah orangnya. Membayangkannya saja membuat senyum Dina merekah.

Selang beberapa waktu, setelah Dara dan Daehan selesai, suara langkah seseorang yang familiar pun terdengar. Semakin dekat di dalam ruangan sunyi itu hingga akhirnya menampilkan sosok namja dengan jaket tebal, skinny pants dan kacamata hitamnya berjalan ke arah mereka.

“Jiyong oppa.” Dina terkejut, dan dibalas dengan senyuman khas namja itu.

“Annyeong.” Mata Jiyong beralih pada Dara. “Maaf aku terlambat memberimu kabar, babe.

Tidak ingin mengganggu, Dina Park pun berpamitan pada keduanya. “Karena oppa sudah datang, kurasa aku akan pergi sekarang. Ada janji dengan Hyun Woo malam ini.”

Dara mengerutkan kening, “Hyun Wooirang?” *dengan Hyun Woo?

“Ya. Kita akan.. mm, makan malam.” Jawab dongsaengnya sembari tersenyum malu.

Jiyong mengangkat alisnya, “Oh. Kalian berkencan?”

“Semoga! Aku..menunggu pengakuannya.”

Dara tersenyum. “Baiklah. Hati-hati. Aku akan pulang dengan Jiyong.”

“Arasseo, eonni, oppa. Na kalkkae..”

Setelah Dina pergi, Jiyong kembali mengamati yeoja di hadapannya dengan pandangan gelisah. Ia bingung bagaimana harus menjelaskannya. Jujur, atau tidak. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Namun satu hal yang pasti ia yakini, ia-tidak-akan-menyakiti-Dara.

“Ji..” Suara lembut Dara menyadarkannya, membuatnya mendongak. “Kemana saja kau seharian ini? Wajahmu pucat.”

Sesaat kemudia yang Jiyong rasakan adalah sentuhan tangan Dara di salah satu pipinya. “Jiyong? Kau sakit?”

Namja itu menghembuskan nafas sejenak, dan tersenyum. “Gwenchanha.. hanya demam biasa.”

“Kau tidak perlu datang bila-“

“Sssh..” Jiyong menyentuh bibir Dara dengan telunjuknya. “Gwenchanha.”

Dara mendesah pelan. “Kau yakin?”

Jiyong menjawabnya dengan anggukan manis.

“Apa seharian ini.. kau beristirahat? Karena itu kau tidak memberiku kabar?”

Dara melihat Jiyong mengusap pelan tengkuknya. Kegelisahan jelas terukir jelas di wajahnya.

“Jiyong?”

“Aku akan menjelaskannya nanti, babe. Aku janji. Sekarang, tentu aku harus mengucapkan sesuatu pada Jae terlebih dulu, angeurae?”

Dan Dara pun mengangguk sembari tersenyum.

***

Jiyong menutup salah satu sisi pintu Lambonya untuk Dara. Kemudian kembali ke setir kemudi dan mulai memasang sabuk pengaman.

“Kita akan kemana?” tanya Dara.

“Ke apartemenku.”

Oh. Ini pertama kalinya Dara akan menginjakkan kaki disana. Memikirkan itu rupanya telah membuat jantung Dara berdebar. Ia menoleh, memandang cemas namja tampan yang pucat di sampingnya. Jiyong sedang sakit, tapi dia masih memaksakan diri untuk menjemputnya. Namja ini sahabat suaminya, ia pernah terluka, terluka begitu lama malah. Tapi.. ia masih saja menyimpan perasaan yang sama hanya untuk menunggu, hanya demi mencintai yeoja seperti dirinya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin takdir membawanya pada Jiyong seperti ini? Entah. Dia merasa beruntung. Dara tau itu.

“Kau sudah lama menungguku tadi?” tanya Jiyong, menggenggam tangan Dara dengan tangannya yang bebas. Mobil mewahnya telah melaju melintasi jalanan Seoul yang ramai.

Dara menggeleng, “Ani.”

“Geurae? Syukurlah..”

“Ji…”

“Hm?”

“Kau membuatku khawatir sejak kemarin.”

Jiyong mengerutkan keningnya, pikirannya kacau. Dan menyesal.

“Mianhae.” Jawab Jiyong lirih, menoleh ke arah Dara lalu mencium punggung tangan yeoja itu dengan lembut. “Aku tidak akan membuatmu khawatir lagi.”

“Tapi kau sakit.”

“Aku ini kuat, babe. Percaya padaku.”

“Jiyong.” nada suara Dara seolah memperingatkan, dan itu sukses membuat Jiyong menyerah.

“Arasseo… Sesampainya kita di apartemen, kau bisa dengan bebas merawatku. Selama yang kau mau.”

***

Seorang namja dengan rambutnya yang baru saja dicat putih itu pun membuka kaca mobilnya perlahan. Mengamati dari kejauhan. Ia baru saja tiba di tempat yang ditujunya setelah beberapa jam lalu mendapat telpon dari kekasihnya untuk dimintai tolong. Choi Seunghyun, mengurungkan niatnya untuk masuk ke area apartemen Jiyong sahabatnya ketika ia mendapati sosok yeoja yang sangat dikenalnya keluar dari lobby hunian mewah itu.

“Tidak salah lagi, itu Kiko.” Ucapnya, menggenggam setir kemudi dengan erat.

Menghela nafas, ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan menggelengkan kepalanya.

“Bom tidak akan suka ini.”

To be continued..

 Next>>

Advertisements

29 thoughts on “FATE [Chap. 10]

  1. Pliissss jgn sampe kiko ganggu hubungan dara jidi. Jgn hancurin kepercayaan yg dara kasik buat jiyong,huhuhuuuu.Kiko jauh2 yaa dri dara jidi.
    Terharu liat dara ngungkpin gitu kejaejoong.
    Jiyong hrs jujur ya sma dara.

  2. Smoga ji jujur aja dahh . Jdi gak ad salah paham . Klo smpai ketauan mak bommi bkalan ribet urusanny. Mkin pnasaran aja nih . Lnjut eonni

  3. kiko unnie .. tolong jangan ganggu mereka ..
    aku harap kiko ngerti dan mau menerima kalau ji oppa sudah suka sama dara unnie …
    dara unnie fighting …

  4. Aq bingung kudu benci atau biasa aja sama kiko ,,, dilema mulai melanda,,,semoga dara gx kecewa sama jiyong,,,jiyong kau hrs cerita semua biar enak,,,jan ada yg d.sembunyi.in biar daragon langgeng kkkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s