Remember When #1

remember when ff daragon

Remember When

.

.

“Cinta adalah apa yang pernah ku berikan padamu”

.

.

©2014
VA Panda presents



Malam pekat bercampur gumpalan awan yang menggelap menjadi saksi dimana Jiyong melanggar janji yang ia buat sendiri. Manik mata coklatnya terlihat berair hingga tak ayal, sepasang anak manusia yang menautkan kebahagiaan yang hendak didapat sempat meliriknya dengan prihatin. Jiyong sendiri sebenarnya sadar tapi yang hanya ia lakukan hanya duduk terdiam di ayunan berkarat dengan bantuan kaki untuk mengayunkan tubuhnya sendiri.

“Kau benar. Memang ada yang salah dengan ku,” lirih Jiyong selagi temaram lampu taman menyorot keseluruhan wajahnya yang sendu dengan kantung mata.

Air matanya perlahan berlinang bersama hembusan angin yang menampar Jiyong seakan menyadarkan pria itu agar kembali menjadi sosoknya seperti semula –pria dingin dan serius –tapi untuk malam ini, Jiyong membiarkan kelemahannya mendominasi. Ia bahkan mengendap untuk keluar dari rumahnya sendiri untuk pergi ke tempat ini. Sebuah tempat dimana seluruh kenangan itu bercampur.

Tempat dimana canda itu bercampur dengan senyum dan tawa.

Tempat dimana cerita itu bercampur dengan tangis dan risau.

Dan tempat dimana perjalanan untuk mengagumi gadis itu pupus.

Sekali lagi, angin kembali menamparnya dengan lebih keras. Ia tersadar, namun matanya masih terpejam untuk menarik energi di dalam dirinya sendiri hingga akhirnya kedua kakinya mampu untuk menahan berat tubunya. Perlahan Jiyong melangkah untuk meninggalkan tempat yang baginya sekarang hanya bisa menambah daftar pahit bagi dirinya sendiri.

Ia tahu, yang pantas disalahkan adalah dirinya, beruntung ia masih memiliki kesadaran untuk memutuskan menjaga jarak dengan Park Sandara karena bagaimanapun ia lah orang di antara mereka yang melanggar janji terlebih dahulu.

.

Remember When

.

“Dia mungkin akan mengunjungimu seperti yang lain, tapi Aku harap Kau adalah kunjungan terakhirnya.”

Sontak ia langsung menghentikan langkah. Ia menghembuskan napas dengan gusar selagi orang di balik punggungnya menatapnya dengan tajam.

“Lalu? Tidak masalah jika Dara mengunjungiku. Bagaimanapun, Aku adalah teman terdekatnya selama ia menetap di Seoul.” Katanya dengan percaya diri.

“Ya, itu benar. Maka dari itu Aku berharap bahwa Kau adalah kunjungan terakhirnya. Mungkin juga, entah Kau ataupun Dia akan merasakan penyesalan seumur hidup bahkan jika perlu Aku yang akan menjadi penonton di bangku pertama saat melihat drama kalian berakhir, Ji.”

Mata gadis itu menyipit –mencoba menatap dalam manik coklat dihadapannya tapi kilat di mata orang yang sudah lama ia kenal sudah sulit untuk dibaca hanya melalu tatapan. Di sana, Chaerin hanya bisa merasakan adanya kekosongan; tanpa kehidupan, bahagia, kesedihan, dan semua perasaan yang dimiliki orang hidup sepertinya.

Bagi Chaerin …. Jiyong adalah mayat hidup.

“Kau benar, Chae.” Sebuah suara getir itu memecahkan keheningan yang tercipta.

Chaerin menarik napasnya seakan sesak. Gadis itu berdiri kaku saat Jiyong menyorotkan pandangan remuk sembari melangkah menuju arahnya.

“Kau pengecut, Kwon Jiyong!” geram Chaerin dengan mengepal kedua tangannya.

Sekilas Jiyong menarik sudut bibirnya. Ia melirik langit ruang tamu lalu berdecak dan kembali menyunggingkan senyuman yang tidak sama sekali mengartikan senyum yang sama seperti satu tahun yang lalu.

“Kau benar dan Aku salah. Tapi … yang tidak Kau ketahui adalah drama yang Kau katakan sudah lama Aku hentikan. Aku tidak mungkin hidup di dalam drama yang memuakkan dan bisa membuatku merugi.”

“Sekarang Kau bahkan seperti bedebah!”

“Kau mengenalku lebih, Chae. Aku tidak akan hidup dengan hal yang hanya bisa menghambat agar Aku bisa berada di posisi ini, sekarang.”

Sepatu kulit Jiyong kini kembali menyapa lantai dengan tepukan di atas permukaan. Ia berbalik dan menggapai kenop pintu. Telinganya memang menangkap suara segukan dari Chaerin tapi Jiyong menulikan pendengarannya. Seperti minggu biasa yang ia punya, Jiyong pasti menyempatkan waktu untuk melihat keadaan adiknya yang juga sudah memisahkan diri dari rumah orang tua –sama seperti dirinya –sangat disayangkan jika pertemuan kali ini justru kembali memaksa Jiyong membuka lembaran pahit yang sudah coba ia kubur.

“Bukan itu alasannya!” teriak Chaerin lantang. “Bukan karena Kau menjadi Direktur di perusahaan ayah! Tapi karena Kau melanggar janji yang kalian buat sendiri! Kwon Jiyong, seperti yang Kau katakan ‘Aku mengenalmu lebih’ dan Aku tahu alasan kenapa Kau merubah sikapmu sampai 180 derajat ini.”

Jiyong mungkin menghentikan langkah tapi dengan langkah yang telah ia ambil, Jiyong tidak akan kembali ke titik semula. “Karena Kau lebih mengenalku lebih, maka seharusnya Kau tahu bahwa Aku tidak akan kembali mengusik masa lalu. Aku hanya perlu hidup tanpa perlu mengusik masa lalu bersama Dara juga bersama perasaanku dengannya.”

.

Remember When

.

Entah apa yang menarik Jiyong kembali ke tempat menyedihkan ini, aroma khas musim gugur dirasa memabukkan bagi Jiyong. Ia melangkah kecil sembari memastikan bangku taman bercat coklat dahan pohon itu adalah bangku yang sama saat terakhir kali Jiyong mendudukinya. Bangku itu penuh terlihat usang dengan berbagai coretan yang masih Jiyong ingat pelakunya.

Pria itu tertawa getir lalu terduduk di bawah rimbunnya pohon oak yang menguning. Ia menyesap kopi hangat yang di belinya setelah keluar dari rumah Chaerin dan melepas jas hitamnya. Mungkin jika orang mengatakan hal ini termasuk pada aktivitas melepas penat, maka hal itu benar adanya karena setidaknya Jiyong melewatkan rapat direksi mengenai rencana alokasi bangunan baru perusahaan.

Dedaunan kering yang bertebaran kini menjadi teman untuk berbagi cerita. Jiyong mulai tenggelam dalam kenangannya bersama Dara. Walau banyak waktu yang lebih dipenting Jiyong saat ini, tapi ia harus membenarkan bahwa memorinya bersama Dara termasuk ke dalam hal yang tidak akan dilupakan otaknya. Sekeras apapun Jiyong berusaha mengubur kenangan itu, nyatanya di setiap mimpi Jiyong, kenangan itu justru turut menjadi penghibur di hidupnya yang sekarang hampa.

Tanpa canda juga tawa … Jiyong merasa hidup bagaikan neraka. Dan jika nanti kelak Jiyong menemukan neraka, mungkin tidak akan jauh berbeda di kehidupannya saat ini. Toh, persamaan yang mencorok terletak pada rasa penyesalan.

.

Flashback

“Jika Aku melepasnya, apa ayah meyakinkannya untuk bisa hidup dengan baik?” tanya Jiyong sekali lagi.

Ayahnya terdiam dengan tak percaya bahwa anak pria yang di hadapannya ini terlihat lemah dengan air mata. Pria paruh baya itu melepas kacamata yang kemudian memajukan wajahnya untuk kembali memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah benar.

“Jadi, Kau menangis hanya untuk ini?” sindirnya kepada Jiyong.

Jiyong menundukkan kepala hingga ia menyadari bahwa ia sudah terlihat lemah dihadapan ayahnya. Dengan rasa percaya diri yang masih Jiyong punya, ia mendongkakkan kepala yang disambut dengan senyuman mengejek dari ayahnya sendiri.

“Kau adalah penerus perusahaan. Kau seorang Kwon yang tidak akan memperlihatkan kelemahanmu pada oranglain, Jiyong! Jika Kau pikir itu cinta, maka Kau salah besar, Nak!”

“Tapi, Aku ….”

“Kau hanya merasa kasihan pada Dara. Gadis yang hanya memiliki seorang teman yaitu Kau karena kasus ayahnya sebagai seorang pembunuh itu.

“Ayah Dara bukan pembunuh! Penyidik sudah memastikan bahwa itu kesalahan fatal agar menyelesaikan kasus dengan mengkambing hitamkan ayah Dara!”

“Tapi seharusnya … Kau bisa membedakan yang mana cinta dan yang mana kasihan. Apapun alasan mengenai Dara dan keluarganya, Kau hanya perlu menjaga nama baik seorang keturunan Kwon.”

“Kalau begitu, tolong bersihkan nama baik ayah Dara dan Aku akan menjadi robotmu.”

.

Remember When

.

Dara terpaku saat Jiyong yang berada dihadapannya memandangnya dengan tatapan yang terlewat dingin. Ia kembali menarik sapaan tangan yang tak diindahkan oleh Jiyong. Dara berdeham kecil, berusaha menahan air di matanya dengan menghamburkan pandangan ke sisi ruangan lain di tempat ini sembari menggigit bibirnya.

“Kau hanya berpamitan, kan? Sebenarnya, Aku tidak banyak waktu.”

Rasa sesak merayap di sekujur tubuh Dara. Lekas Dara tersenyum sebisa yang ia lakukan di depan Jiyong lalu kembali mengontrol nada bicaranya untuk terlihat tenang. “Ya, sama seperti yang lainnya. Aku berpamitan juga denganmu, Ji. Maaf menganggumu.”

Jiyong mengalihkan pandangannya dan mulai berlalu dihadapan Dara yang hendak berpamitan. Pria itu berjalan angkuh sampai akhirnya Dara menarik pergelangan tangan Jiyong untuk mengentikan Jiyong kembali melangkah jauh dari jangkauannya.

“Jika alasan Kau menjauhkanku selama ini karena malu berteman dengan anak pembunuh sepertiku, perlukan Aku bersujud dihadapanmu?” tanya Dara dengan suara bergetar.

“Kalau begitu, lakukanlah untuk membuatku puas.” Kata Jiyong yang disusul dengan tindakan Dara yang hendak bersujud dihadapan Jiyong. “Kau tahu pintu keluar dimana, jadi itulah tempat yang akan Kau tuju.”

“Jiyong!” teriak Dara frustasi. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia merasa lututnya melemas dan terjatuh di lantai yang dingin dengan menatap nanar ke arah punggung Jiyong yang terlihat mengabur karena air matanya yang menghalangi.

“Ji!” sekali lagi, Dara memanggilnya dengan berjuta harapan agar Jiyong merangkulnya untuk berdiri juga menyuruh untuk mengapus air mata yang jatuh dari matanya, sama seperti saat Dara mengalami masa sulit dimana teman di seluruh sekolahnya mengunjing, mencaci, bahkan menamparnya dengan kata-kata kotor saat ayah Dara di eksekusi dari hukuman yang diberikan pengadilan.

Mungkin ayahnya salah, tapi Jiyong selalu memastikan bahwa ayah Dara tidak salah seperti dugaan oranglain.

Hampir tiga tahun Dara hidup dengan kepastian yang diberikan oleh Jiyong, namun perlukan ia memusnahkan hal itu?

Dara menatap sendu saat Jiyong sudah menghilang bersama suara pintu yang tertutup itu. Ia terkulai lemas dengan terus menangis meratapi kebisuan Jiyong juga sikap yang sangat asing untuk Dara. Jadi sekarang, satu hal yang perlu sudah Dara tahu adalah Jiyong Kwon yang tidak akan pernah lagi dekat dengan seorang anak pembunuh yang mungkin nantinya bisa menggulingkan posisinya sebagai Direktur di perusahaan ayah Jiyong.

Dilain sisi, Jiyong menyandarkan punggungnya dengan lesu di pintu depan apartemennya. Bagai ribuan anak panah yang melesat di dada Jiyong, pertahanannya runtuh. Dari tempatnya, Jiyong mendengar dengan jelas, Dara menangis keras di sela nama dirinya yang Dara lontarkan.

“Aku mencintaimu, Dara.” Lirihnya pedih tanpa bisa menghentikan waktu dan juga langkah yang sudah ia ambil.

To Be Continuer ….

un | deux | trois



 

LEAVEYOURCOMMENT

Advertisements

33 thoughts on “Remember When #1

  1. aigooo,,, klo gk slah ini genrenya sad/angst ya neng pipin? (hehe, mian, sya bngung mw manggil apa, XD).. sya mesti siapin mental bt bca yg sperti,, sungguh! sakitnya tuh disni -> tunjuk hati- klo baca yg sedih2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s