How to Save a Life : Epilog

Untitled-2

Untitled-1

Author      : mbie07
Link          : HtSaL on AFF
Indotrans : dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan coba tebaaak~ lagi ujan… dan saya males mikir frase lain untuk PW.. XD

~ Epilog ~

 

Ada dua orang anak manusia yang dilahirkan di tempat berbeda, pada waktu yang berbeda. Mereka berdua hidup di dunia ini tanpa mengenal satu sama salin, tapi mereka dihubungkan oleh benang tipis tak kasat mata. Itu terikat pada jari mereka membentang melewati batasan ruang dan waktu, yang tanpa mereka tahu bahwa mereka terhubung.

 

 

 

Jiyong  terbangun dari tidurnya, tangannya bergerak menutupi mata dari sinar mahari. Dia bangun dan duduk sambil menggaruk kepalanya. “Arsitek terkenal sekaligus tunangan sang pelukis jenius Choi Seunghyun, Park Sandara terlibat dalam kecela–,” Jiyong memencet remot kontrol televisi kemudian berdiri. Dengan malas dia berjalan ke dapur, menguap.

Berapa lama dia berbaring di lantai? Mungkin cukup lama karena dia bisa merasakan protes kesakitan dari tubuhnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menatap kosong kedepan. Dia mendesah dan meraih mug berwarna putih. Dia mengisinya dengan air panas dan mengambil toples coklat bubuk. Dia memasukkan tiga sendok penuh bubuk coklat dan menambahkan setengah sendok gula, lalu mengaduknya.

 

 

Ada banyak jeda waktu diantara mereka, bertahun bahkan; saat sang pria tengah belajar langkah pertamanya, sang wanita telah berjalan menuju ke sekolah. Saat sang pria tengag bermain sebagaimana anak-anak lain seusianya, sang wanita mulai sadar akan penampilannya dan mulai merasakan cinta. Saat sang pria pulang terlambat karena permainan bola basket bersama teman-temannya, sang wanita terlambat pulang karena pergi berkencan.

 

 

 

Jiyong bisa merasakan ketenangan di penjuru tempat itu, dihiasi oleh suara kicauan burung-burung diluar sana serta suara mobil yang lewat. Dia lalu menyandarkan kedua lengannya pada bak cucuain dan memejamkan matanya. Sebuah senyuman terbentuk di bibirnya saat dia merasakan sepasang tangan memeluknya pinggangnya. Jiyong perlahan berputar dan balas memeluk Dara. Jiyong mendekatkan wajahnya untuk mengklaim bibir gadis itu, yang diterima dengan senang hati, memberikan ciuman selamat pagi yang bisa membekukan otak kepada Jiyong. “Selamat pagi,” gumam Jiyong, hangat nafasnya menyentuh bibir basah Dara. gadis itu tersenyum.

“Selamat pagi,” jawab Dara, semakin mendekatkan dirinya dengan Jiyong yang kini tengah menciumi rambutnya. “Aku membuatkan coklat panas untukmu,” bisik Jiyong. “Benarkah? Terima kasih,” bisik Dara memberikan Jiyong kecupan di bibirnya setelah menerima coklat panas dan berjalan menuju ke ruang tamu, mulai membersihkan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

 

 

Mereka menatap langit yang sama, menghirup udara yang sama, dan mengagumi binyang yang sama namun mereka tidak saling mengenal. Ada saat-saat dimana jalan mereka hampir bersinggungan namun karena mereka berjalan kearah yang sama, kedua sama-sama menatap kedepan, tidak sabar dengan masa depan mereka. Mereka berjalan beriringan di jalan masing-masing, seolah mereka tidak akan pernah bertemu, namun takdir punya caranya sendiri. Dan akhirnya terjadi.

 

 

 

Jiyong mengikuti Dara. “Kamu masih ada di berita,” Jiyong cemberut sementara Dara tertawa. “Biarkan saja, aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa itu hanya kecelakaan kecil,” dia tertawa. “Mereka membesar-besarkannya karena mobilmu ringsek,” jawab Jiyong, melingkarkan lengannya di pinggang Dara. Dara memutar bola matanya dan perlahan berbalik menatap Jiyong, mengalungkan tangannya di leher pria itu dan menciumnya di bibir. Dara lalu menarik diri namun Jiyong menahannya lebih erat, menyelipkan lidahnya kedalam mulut Dara, tenggelam dalam ciuman yang dalam.

“Jiyong,” kata Dara diantara ciuman mereka, dia perlahan mendorong Jiyong menjauh. Jiyong mengerang kemudian menarik diri dan mulai mengeluh. “Kumohon, lain kali jangan tidur di lantai lagi, badanku sakit semua,” kata Dara memutar matanya dan kembali memunggungi Jiyong untuk membersihkan tempat itu. Jiyong hanya terkekeh.  Dara menolah pada Jiyong, memberikan tatapan tajam, membuat Jiyong langsung berdiri tegap seperti seorang prajurit.

Dia adalah pria yang tidak suka merasakan, yang tidak pernah ingin untuk jatuh cinta dan yang berpikir bahwa dia akan menjalani hidupnya tanpa tumbuh menjadi dewasa. Hingga sang pria ini bertemu dengan wanitanya dan dia jatuh cinta sangat dalam kepadanya. Dia adalah gadis yang pernah merasakan romansa sempurna yang berakhir dengan tragedi paling memilukan dalam hidup. Sang wanita hancur, antara hidup dan mati seolah dia telah benar-benar mati. Sampai sang pria datang kepadanya dan mencintainya – seutuhnya termasuk dengan segala beksa luka serta kehancurannya.

 

 

 

Dara memutar bola matanya. “Apa yang kamu tunggu? Bersiap-siaplah atau kamu akan terlambat kuliah!” katanya, Jiyong mengerang keras. “Aku tidak ingin kuliah!!” Jiyong merengek membuat Dara kembali memutar bola matanya untuk kesekian kalinya. “Aishh! Aku ini Kwon Jiyong alias sang pelukis jenius G-Dragon! Aku sudah 21 tahun dan aku sudah menjadi seorang multi milioner dan aku menikahi Sandara Park! Hidupku sudah sempurna, aku tidak perlu pergi kuliah lagi!” katanya – seperti biasa yang terjadi setiap pagi.

Dara menggeleng-gelengkan kepalanya meraih cangkir coklat panasnya dan menyesap cairan didalamnya. “Cepat siap-siap,” kata Dara datar. “Aishh! Kenapa? Taruhan dengan hidupku bahwa aku masih bisa menjual lukisanku seharga jutaan dolar walaupun aku tidak kuliah!” katanya. “Sombong,” kata Dara.

Mereka berdua mengalami masa-masa naik dan turun, penolakan dan penerimaan, menahan dan melepaskan cinta yang sejak awal sudah dideklarasikan oleh sang pria, untuk cinta yang selalu ditolak oleh sang wanita karena berpikir dirinya tidak layak menerimanya.

 

 

 

Jiyong tidak menyelesaikan kalimatnya dibawah tatapan tajam sang istri. Dia berdiri tegap dan memberi hormat. Dara tertawa keras sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Jiyong baru akan berjalan menuju ke kamar mandi saat tiba-tiba Dara berlari menuju ke bak pencucian piring di dapur dan mulai muntah. Jiyong yang cemas langsung menghampiri Dara dan mengusap punggung istrinya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya. “Kurasa kamu sakit,” tambahnya, Dara masih terus muntah.

Dara langsung berkumur dengan air dan perlahan bersandar pada bak pencucian. Dia lalu mengacak rambutnya dan menatap kosong kedepan. “Ada apa, apa ada yang sakit?” tanya Jiyong mulai histeris. “Dara jawab aku, aku hampir gila disini!” katanya, Dara hanya diam dan mulai menghitung dengan jarinya. Jiyong masih menatap istrinya.

Pria itu adalah Kwon Jiyong. Dan wanita itu adalah Park Sandara.

 

 

 

“Baiklah! Aku akan menelepon ambulance!” kata Jiyong, dan baru akan berjalan mengambil telepon, namun tangan Dara memegangi kaos putihnya, membuat pria itu berbalik. “Ji,” panggil Dara menatap langsung ke mata Jiyong. “Apa?!” tanya Jiyong hampir panik, “Kurasa…” Dara tidak menyelesaikan kalimatnya, Jiyong menatap Dara – memperhatikan setiap kata yang keluar. “Kamu rasa apa?”

“Aku hamil,” kata Dara, Jiyong menatapnya dengan mulut terbuka. “Kamu kenapa?” tanya Jiyong, dia seolah tidak mendengar apa yang istrinya katakan. “Aku hamil,” ulang Dara. “Hamil?” tanya Jiyong, Dara mengangguk. “Maksudmu ada anak didalam perutmu?” tanya Jiyong, Dara memutar bola matanya. “Terserahlah,” desis Dara mendorong Jiyong kesamping lalu meninggalkan suaminya menuju ruang tamu, Jiyong mengikuti Dara dengan mulut masih terbuka dan pandangan mata terbata-bata.

Ini adalah kisah mereka. Ini adalah kisah cinta mereka.

 

 

 

“Ada bayi didalam perutmu, itu artinya kamu sedang hamil…” kata Jiyong, Dara memutar bola matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Dan jika kamu hamil… itu artinya…” Jiyong tidak melanjutkan kalimatnya, Dara menatap kearah suaminya. Bibir Jiyong melengkung membentuk senyuman lebar. “Aku adalah seorang ayah!!” teriaknya sambil melompat-lompat, Dara hanya bisa menepuk keningnya dengan telapak tangan, menatap suaminya yang sibuk melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja menerima sekaleng biskuit dari Santa.

Tapi yang Jiyong menerima lebih dari itu. Yang mereka lebih dari itu.

Dan mungkin lebih dari itu. Ini adalah kisah tentang seorang pria yang bersumpah tidak akan pernah mencintai siapapun justru jatuh cinta kepada seseorang yang dihancurkan oleh cinta itu sendiri. Kisah bagamana sang pria mencintai wanitanya dan membuat sang wanita merasa memiliki alasan lain untuk tetap hidup.

Ini adalah kisah tentang sang pria yang menyelamatkan wanitanya.

 

 

 

“Ingatkan aku, kenapa aku menikah dengan anak kecil,” kata Dara membuat Jiyong menghentikan selebrasinya, mendelik kearah Dara. “Aku bukan anak kecil!!” serunya berkacak pingga. “Karena mulai sekarang aku adalah daddy Jiyong!!” tambahnya diiringi oleh suara tawa keras. Dara memutar bola matanya namun setelah itu terkekeh menata suaminya, sahabatnya, cintanya.

Dan seorang penyelamat hidupnya.

Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang bisa memberikan hidupnya untuk orang yang dia cintai. Ini adalah kisah tentang bagaimana cinta seseorang bisa menyelamatkan hidup seseorang yang sudah hancur.

Ini adalah sebuah kisah tentang bagaimana menyelamatkan sebuah hidup.

  

~ End ~

Siapa yang kaget dengan bagian awal epilog? Sempet mikir, apa Jiyong mimpi? Apa mereka Daragon nggak jadi bersatu? LOL *itu pikiran saya dulu, saya sampai harus membacanya tiga kali dengan rute balik ke prolog dan chapter pertama >.<*

Dan sebelum pertanyaan2 muncul, saya jelaskan dulu:
1.  Dara sudah bisa nyetir mobil sendiri kan (Chapter 23), dan dia terlibat dalam kecelakaan (tunggal/ganda/beruntun, saya nggak tahu, beritanya nggak sampai ke MetroNews >.<)
2. Orang2 masih mengenal Park Sandara sebagai tunangan Choi Seunghyun
3. Dara dan Jiyong sudah menikah, tapi mungkin saja pernikahan mereka dirahasiakan

Prolog 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Epilog FN

Advertisements

78 thoughts on “How to Save a Life : Epilog

  1. Sampe kaget,,
    Tau-tau udah nikah aja,,
    Hahaha
    Selamat atas pernikahan daragon dan hamilnya dara,
    Ckckck
    Calon daddy yang kekanak-kanakan
    Hahaha
    Happy ending #^_^#

  2. Daan ternyta mrk sdhh menikah?Diberita kok dara msh dianggap tnangnnya seunghyun? Mungkin pernkahnnya dg jiyong itu tersembunyi, mungkin alsnnya krn jiyong msih kuliyah… yey mrka mau punya kwon kecil ^^
    Happy end ^,^

  3. Asli bingung pas baca awal chapter ini, kirain jiyong ditinggalin dara lagi, abisnya ji tiduran di lantai, taunya sama dara juga kkkk. Kaget juga mereka tiba2 udah nikah
    Finally daragon happy ending
    Sekali lagi makasih udah dikasih PWnya

  4. Yee👏👏👏selamat ya,,kalian akan jd orang tua …happy…ending yg tak terduga…woow …keren…the best…”kesempurnaan cinta”

  5. aqu juga kaget pas bca d.awal ..hhhaa…
    tp slamt daragon dah nikah trus mau pnya little kwon ..
    cerita.a bgus uniee …
    daebakk…….

  6. Awalnya kaget,mikir jiyong mimpi?..kasian amat mimpinya mpe serrumit itu,untung aja nggak hahaha
    Liat kelakuan appanya kaya itu bakalann rame banget kalo udah lahir yeyeyeee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s