[Series] My Everlasting Winter – Part 8

image

Script writer by : ElsaJung

Tittle : My Everlasting Winter

Duration : Series/Chaptered

Rating : PG-13+ (Teen)

Genre : Slice of Life, AU, Drama, Angst, Fantasy

 

 

Bab 8

“Isn’t Me”

“Bibi Kim, jauhkan dia dariku!” Seru Bom bersembunyi dibalik tubuh Bibi Kim.

Akhir-akhir ini Bom memang bertingkah aneh. Dia tidak berhenti menghindari Dara semenjak pe-ristiwa yang mengerikan baginya itu terjadi. Tepatnya setelah ia tahu bahwa ada hal yang tidak beres tersembunyi di dalam diri Dara. Bom sangat jarang keluar dari kamarnya, bahkan nyaris tidak pernah. Gadis itu pun sering mengabaikan perkataan orang-orang disekitarnya yang bertanya-tanya mengenai kejadian beberapa hari lalu. Sebenarnya tak banyak hal yang dikhawatirkan dan ditakuti Bom dalam masalah kembalinya saudara kembarnya. Ia hanya takut Dara datang untuk mengambil nyawanya.

Seperti itulah Bom yang sekarang. Dia berubah drastis. Kehidupannya terus berubah dan berubah semakin menurun setelah Dara meninggal. Mungkin ia dapat merasakan manisnya hidup di saat awal sandiwaranya dimulai. Tapi ketika waktu berjalan, semua mulai hilang meninggalkannya satu per satu. Kini hanya ada kesengsaraan yang kembali menemani hari-harinya. Karena hanya Tuhan yang dapat mengubah takdir. Seberapa banyak pun cara yang dilakukan Bom, jika Tuhan memang belum meng-hendaki untuk merubah takdirnya, maka semua akan tetap sama. Sayangnya, Bom memilih cara yang sangat berbaya, yaitu menghilangkan nyawa seseorang. Sekali lagi, takdir tetaplah takdir.

Dara berjalan mendekat, namun Bom tetap saja menghindarinya dengan cara bersembunyi dibalik tubuh Bibi Kim. Tujuan Dara terus mengejar-ngejar saudaranya karena ingin bertanya, apa yang telah terjadi sebenarnya. Dara sendiri tidak mengerti. Ia serasa tertidur ketika semua itu berlangsung. Sementara Mino, bukannya Dara tidak berani bertanya, hanya saja malaikat maut itu sedang pergi bersama Baekhyun dan Taeyeon. Dara tahu dan mengerti, Mino sengaja melakukan hal itu agar bisa menghindar dari pertanyaan tanpa harus berbohong.

“Biarkan aku berbicara dengan Dara. Kumohon, Bibi Kim.” Pinta Dara mengerutkan kening.

Bibi Kim tergagap sejenak. “Tapi,”

“Jangan! Aku takut padanya!” Pekik Bom menampik tangan Dara kasar.

“Aku akan menjaganya.” Sahutnya menundukkan kepala mantap.

Akhirnya, Bibi Kim melepaskan genggaman Bom yang mencengkram kuat pakaiannya secara perlahan sampai benar-benar terlepas. Sebelumnya Bom kembali memberontak. Namun, karena Dara telah mendekap dan menuntunnya pergi, ia tidak berani melakukan hal apa pun lagi. Bom hanya akan menurut agar nyawanya selamat. Ia berpikir bahwa Dara sewaktu-waktu dapat kembali berubah men-jadi sosok mengerikan seperti yang terjadi beberapa hari lalu. Entah kapan segala pemikirannya benar terjadi, Bom tidak tahu. Tapi, tetap satu hal, ia akan selalu berhati-hati.

Meski dalam keadaan duduk pun Bom tetap menjaga jarak dengan Dara. Dia tidak mengeluarkan kata atau kalimat sekali, tak seperti biasanya. Dihari-hari sebelumnya, disaat sedang berdua seperti ini tanpa ada orang lain adalah saat yang tepat bagi Bom untuk mengintrogasi Dara. Namun, tampaknya mulai sekarang keadaan akan jauh berbeda. Dara yang mulai bertanya-tanya lebih dulu. Beberapa ka-limat pertanyaan telah diajukan Dara. Tapi, Bom tetap membungkam mulutnya.

Kini semua seakan sirna. Orang-orang yang tadinya percaya bahwa Bom telah tiada-tiba-tiba melenyapkan rasa percayanya. Bom tampak seperti seorang pembohong besar. Mereka memang tidak tahu jika selama ini Bom berpura-pura menjadi Dara. Hanya saja, karena peristiwa itu, mereka berpikir bahwa Bom telah berubah. Ia dijauhi karena melakukan hal yang tak sepantasnya kulakukan. Bagaimana lagi? Hye Ji membuat emosi Bom menaik setiap aku menatapnya.

Tiba-tiba, Dara menangkap pipi Bom dengan kedua tangannya agar kepala gadis itu menghadap-nya. Dan, benar, Bom dan Dara benar-benar bertatap muka sekarang. Dara pun telah siap dengan be-berapa pertanyaan yang ingin diajukannya dihari-hari lalu. Gadis itu menganggukkan kepalanya tepat satu detik sebelum Bom menghindarinya. Dara hanya tersenyum ketika angin menyibakkan rambut panjangnya. Ia bukan menujukan senyum itu pada angin, tapi pada Bom. Dara ingin Bom menatap-nya sebagai gadis biasa, sama seperti pertama kali melihat sosok Hye Ji dulu.

“Kumohon, jangan mendekat! Kalian membuatku gila!”

“Hentikan, Jung Hye Ji! Biarkan dia!” Perintah Jiyong yang muncul begitu saja.

Oke. Baik. Jiyong sungguh tak mengerti, hal apa yang mendasari segala keanehan ini. Segalanya terasa janggal baginya. Kedatangan Mino yang tiba-tiba dan tampak mencurigakan. Bom menjadi penakut dengan tingkah anehnya. Baekhyun dan Taeyeon yang tidak lagi memihak saudara tersayang. Gadis bernama Hye Ji yang semakin menyerupai Dara dua tahun lalu. Semua yang ada di rumah itu tidak sama seperti dulu. Dan, sekarang, Jiyong melihat Bom layaknya bertemu hantu ketika berada di dekat Dara. Padahal, menurut Jiyong, gadis itu biasa saja. Dara tidak memperlihatkan perilaku aneh.

Jiyong duduk di dekat Bom. Gadis itu tampak begitu gugup. Tak lama setelahnya, ia memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Dara dan Jiyong akhirnya saling menatap dalam jangka waktu yang cukup lama karena mereka berdua saling tertegun. Selain karena bingung dengan sikap Bom, ini pertama kalinya Dara menatap Jiyong langsung setelah peristiwa aneh itu terjadi. Dara sama sekali tidak berani mendekati Jiyong yang sebenarnya terus mengejarnya dari hari ke hari.

Perasaan yang begitu kaku, dilengkapi keheningan mencekam membuat keduanya termenung. Jiyong duduk membisu di tempatnya, begitu juga dengan Dara. Semilir angin dingin perlahan membelai rambut Dara dan mengayunkannya ke belakang. Gadis itu memejamkan matanya merasa-kan dinginnya angin yang merasuk hingga ke tulangnya. Ia menghembuskan nafasnya berat kemudian menatap ke arah Jiyong yang sebenarnya telah menatapnya sejak tadi. Dara hanya tersenyum tak seperti biasanya, senyuman kaku yang tampak dipaksakan oleh sang pemiliknya.

Mata Jiyong mengarah pada lengan Dara. Ia mengernyitkan kening ketika tak ada sedikit pun bekas luka yang terlihat dari kulit Dara. Gadis itu selalu tampak sama, seakan-akan tak ada hal yang terjadi. Ingin rasanya Jiyong bertanya, bagaimana hal itu bisa terjadi. Namun, nyalinya tidak begitu besar untuk melontarkan beberapa pertanyaan. Mulutnya serasa kaku. Bahkan, untuk membuat sedikit celah saja Jiyong tak mampu melakukannya. Jiyong bersikap seakan-akan Dara adalah sebuah medan magnet yang menariknya untuk mendekat. Namun ketika telah berada di sana ia membisu. Entah apa yang membuat semua begitu aneh, tetapi tampak nyata. Jiyong sendiri tidak mengerti.

Berbicara tentang lengan Dara, sebenarnya luka itu benar-benar ada. Hanya saja, beberapa waktu setelah peristiwa itu terjadi, Mino segera mengobati luka Dara menggunakan keistimewaan Tuhan yang telah diberikan kepadanya. Cukup hanya dengan beberapa sentuhan saja luka itu menghilang. Ya, Mino melakukan hal ini karena ia merasa bertanggung jawab atas segala hal yang dirasakan dan di-terima Dara. Itu merupakan kesepakatannya dengan Seunghyun, bahwa mereka berdua akan melindu-ngi Dara kapan pun ancaman dan bahaya datang. Mino tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya.

Tak lama setelah itu, tangan Dara bergerak menutupi sebagian lengan kanannya yang sebelumnya dihiasi oleh luka. Seperti robot yang terkena rangsangan pada bagian sensornya, Dara pun menggeser tubuhnya untuk duduk beberapa senti lebih jauh dari Jiyong. Jiyong tak berhenti mengernyitkan dahi karena merasa canggung dengan cara Dara menjauh yang tampak ingin menghindarinya. Ia tahu, ada perasaan tak enak dalam hati Dara sebab kejadian beberapa hari lalu. Jiyong merasakan hal itu.

Jiyong berusaha berbicara. “Apakah keluargamu akan baik-baik saja jika kau tinggal dirumahku?”

Dara tertegun beberapa saat ketika Jiyong memberanikan dirinya untuk mulai membuka mulutnya. Ia menatap laki-laki itu-tanpa senyuman-kemudian mengusap lehernya. “Keluarga?” Dara melukiskan raut wajah muramnya setelah menyadari kalimat itu meluncur dari bibir tipisnya. “Kurasa aku pernah memilikinya. Dulu, satu setengah bulan yang lalu. Sampai sekarang kami masih saling mengenal. Um, hanya saja, ada suatu hal yang memisahkan kami. Sangat sulit bagiku untuk menjelaskannya. Aku pun memiliki saudara kembar. Dia tinggal dengan begitu tenang bersama orang tuaku.” Dia mengangguk untuk beberapa saat. “Sepertinya mereka tak menanggapi segala yang kulakukan. Mendengar kalimat pertanyaanmu, apakah kau keberatan jika aku tinggal disini?”

Sebenarnya, Dara membuat semua terlihat begitu ketara. Ia mengatakan kebenaran kisahnya tanpa mengungkap siapa dirinya. Keluarga yang menghilang satu setengah bulan lalu, saling mengenal, tapi ada sesuatu membuat mereka terpisah, dan terakhir saudara kembar. Saudara kembar yang tinggal de-ngan begitu tenang bersama orang tuanya. Semua itu adalah kisah yang sedang dijalani Dara. Sayang, Jiyong tidak terlalu menyadarinya. Pikirannya tidak dapat mencerna sesuatu lebih dalam lagi karena ada beberapa hal yang menyumbat di sana. Ia pun tak tahu, kenapa ia bertanya tentang keluarga Dara.

Jiyong menoleh ketika Dara mengusap keningnya sendiri dengan suara desahan yang cukup keras. Ia mengingat, dulu Dara sering melakukan hal yang sama ketika merasa gelisah atau bersedih. Gadis itu tidak akan pernah kehilangan satu sifatnya yang begitu menunjukkan, bahwa ialah Dara. Setiap orang memiliki karakteristiknya masing-masing bukan? Maka begitu juga dengan Dara. Dan, Jiyong tidak melupakan hal itu. Jiyong akan selalu mengingatnya. Ia boleh saja mengambil keputusan bahwa orang yang selama ini dikenalnya sebagai Hye Ji benar-benar menyerupai Dara-nya. Tapi, keputusan itu sangatlah lemah jika ia tidak bisa memiliki sebuah bukti yang menguatkan. Seseorang mungkin bisa mengubah sifat mereka sesuka hati. Pasti ada sesuatu yang dapat memberinya petunjuk lain.

Jiyong menggeser tubuhnya menjadi duduk lebih dekat dengan Dara. “Maaf, pertanyaanku sangat tidak sopan. Aku tak mengetahui hal itu sebelumnya. Aku menanyakan perihal keluargamu tentu saja bukan karena aku merasa keberatan. Bahkan, aku sangat senang kau berada disini bersama kami. Jadi, kumohon, jangan memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.” Ujarnya tersenyum.

“Baiklah.” Balas Dara mendesah perlahan sembari menautkan jemarinya menjadi satu.

“Hye Jiah, salahkah jika perasaanku pada Dara mulai berubah? Kurasa aku mencintai gadis lain.”

Dara segera menoleh ketika mendengar kalimat singkat dan padat itu, “Berubah, maksudmu?”

***

Nyonya Kwon tampak menekan-nekan meja kayu berwarna coklat tua itu dengan tangannya. Ada suatu hal yang tengah mengganggunya akhir-akhir ini. Mengenai pernikahan Jiyong dan Bom, ia benar-benar tidak bisa berbuat apa pun setelah mendengar keputusan putra satu-satunya tersebut. Nol koma sekian detik yang lalu ia mendengar kabar dari Tuan Kwon bahwa Jiyong baru saja menelfon dan telah berkata ingin mengundur pernikahan, bahkan membatalkannya. Tentu saja Nyonya Kwon kebingun-an, apa maksud Jiyong melakukan hal itu. Semua tahu, Jiyong sangat mencintai Dara. Sebelumnya, jika tak terlalu sibuk, Jiyong hendak melaksanakan pernikahannya tahun lalu.

Sementara itu, Nyonya Park selaku orang tua dari pasangan kembar Dara dan Bom tersebut telihat tak kalah terkejut. Nyonya Para tak tahu, kenapa segalanya serba tiba-tiba. Mungkin ia akan mencoba untuk memahaminya jika Jiyong ingin mengundur pernikahan sebelum pembuatan undangan selesai. Ini sungguh membuatnya terheran-heran. Beberapa undangan telah tersebar ke orang-orang terdekan. Ya, seperti rekan kerja orang tua Dara yang berada di luar negeri dan beberapa orang penting lainnya. Sekarang, apa yang harus Nyonya Park lakukan? Membatalkannya begitu saja? Tidakkah ia malu?

Kerutan wajah cemas tampak menghiasi paras cantik Nyonya Kwon. Ia merasa tak enak hati pada calon besannya yang telah dikenalnya sejak dulu. Yang Nyonya Kwon tahu, Dara adalah gadis baik, sopan, cantik, menyenangkan dan hal-hal baik lainnya. Sering ia mendengar Jiyong memuji-muji Dara. Tapi sekarang, Nyonya Kwon memang tidak pernah mendengar kata-kata tersebut terucap dari mulut putranya. Semakin lama semua terasa semakin janggal dan membingungkan.

“Kita harus menarik kembali undangan itu.” Ujar Nyonya Park dengan suara beratnya.

Hentakkan tangan Nyonya Kwon kembali terdengar. Wanita baruh baya itu mendecak, keberatan dengan keputusan Nyonya Park. Sebenarnya bukan keberatan-lebih tepatnya ia tak mau mempermalu-kan Nyonya Park di depan umum hanya dengan sepucuk surat undangan. Bukan masalah berapa ratus atau ribu kertas yang terbuang. Ini masalah harga diri. Sekali lagi, ini masalah harga diri. Dan, betapa mahalnya harga diri tersebut. Mahal karena tak ada satu pun yang dapat membelinya.

Nyonya Park tersenyum tipis. “Biarkan saja. Semua akan seperti biasanya. Biarkan orang berbicara sesuka hati mereka. Karena kita berada dikalangan keluarga ternama, tentu tak jarang mendengar caci maki orang-orang yang tidak mengetahui apa pun, bukan?” dapat diketahui, jika perilaku Dara begitu sama persis dengan ibunya. Sangat rendah hati. “Namun, apa alasan Jiyong melakukannya?”

“Suami saya berkata jika Jiyong tiba-tiba mengomel dan membicarakan hal tak jelas juga mustahil. Menurut informasi yang saya dengar, entah bagaimana caranya Dara menyayat tangan gadis bernama Hye Ji itu menggunakan pisau. Kuharap anda masih mengingatnya. Dia tinggal bersama Jiyong dan Dara. Sampai saat ini saya belum bisa percaya mengenai pernyataan Jiyong. Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah anda menganggap putri anda yang begitu baik dapat melakukan hal itu?”

Kepala Nyonya Park tertunduk. Ia tak mempercayai hal ini. Tapi, disisi lain ia yakin Jiyong tidak berbohong. Mana mungkin Jiyong berbohong dengan menjelek-jelekkan Dara. Nyonya Park merasa aneh. Ia memang berbeda dengan yang lain. Ia bisa menyadari roh Dara ada dalam tubuh seorang gadis bernama Hye Ji. Bahkan ketika bertemu pun Nyonya Dara menganggap Hye Ji adalah Dara sebenarnya. Itulah yang membuat Nyonya Park bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.

“Saya rasa kita harus pergi kesana. Tolong hubungi Tuan Kwon agar segera datang kemari. Dan saya juga akan menghubungi ayah Dara secepat mungkin” Jawab Nyonya Park tampak tergesa-gesa.

Bagaimana pun juga, bukan hanya Nyonya Kwon yang merasa tak enak hati tapi Nyonya Park juga. Mana ada asap jika tak ada api. Pasti ada suatu hal besar yang terjadi hingga Jiyong berkata dengan jujur ingin pernikahan diundur. Nyonya Park bertanya-tanya. Ia telah mengajarkan kepada Dara, cara bersikap baik, sopan, menghormati semua orang tak peduli siapa pun orang itu, dermawan, sederhana serta kebaikan lainnya. Nyonya Park juga merasa bahwa beberapa sikap itu telah tertanam di diri Dara dalam jangka waktu yang sangat lama. Ini sungguh membingungkan.

***

Pernikahan Jiyong dan Bom diundur–atau mungkin malah dibatalkan, Dara tahu, ini salahnya. Bom tidak mungkin melakukan hal aneh jika ia tak mencari masalah. Tapi, sosok Hye Ji pun tak akan ada jika Bom tidak memulai semuanya diawal cerita. Lalu, jika seperti ini, siapa sebenarnya yang besalah? Lebih dari yang dipikirkan Dara–hidup kembali menjadi orang asing tanpa identitas, tanpa asal-usul, tanpa keluarga begitu melelahkan. Terlebih ketika ia harus menjadi sasaran dari kesalahan besar Bom padahal jelas-jelas dialah korbannya.

Dunia ini memang sangat kejam. Seseorang yang seharusnya tersangka pun bisa menjadi korban, dan begitu pula kebalikannya–jika orang tersebut memiliki cukup akal untuk mengendalikan suatu hal. Siapa lagi jika bukan Bom. Kenapa? Kenapa Bom selalu menjadi pemenang dan dibela semua orang padahal ia bersalah? Hal itu terjadi karena sekarang Bom adalah Dara. Dan, berulang kali kalimat ini terdengar, semua orang menyayangi Dara. Tak ayal jika Bom selalu dibela dan terselamatkan. Lalu, bagaimana Dara asli atau Hye Ji? Siapa dia? Adakah yang mengenalnya sebagai Dara? Tidak ada.

Namun, semua berubah sekarang. Beberapa orang kini tidak memiliki keyakinan lebih untuk mem-percayai Bom lagi. Mereka tak ingin tertipu untuk yang kesekian kali. Begitu pula dengan Jiyong. Untuk saat ini, pertama kalinya Jiyong menyadari bahwa kejanggalan yang mengganggu pikirannya sejak dulu memang benar. Meskipun Jiyong tidak tahu selebihnya, bagaimana bisa kekasihnya berubah sangat drastis. Hal itu menjadi alasan terkuat kenapa ia mengundur pernikahan. Ini sesuatu yang begitu besar pengaruhnya bagi Jiyong. Ia menginginkan seseorang seperti Dara dua tahun lalu.

Dan semua orang tak akan berhenti bertanya-tanya jika Jiyong mau menjelaskannya. Laki-laki itu selalu membungkam mulutnya ketika pertanyaan mengenai pernikahannya melintas. Ini berlaku untuk semua orang. Kabar itu baru beredar beberapa jam lalu. Dan Dara pun hanya mendapatkan senyuman tipis ketika menanyakan hal yang sama. Sepertinya Jiyong benar-benar sedang dalam mood yang buruk. Mungkin ia harus mencoba untuk jujur agar Dara tak terlalu merasa bersalah.

Lagi-lagi Dara mengulang pertanyaannya. “Ji, apa yang terjadi padamu? Pernikahan itu?”

“Lupakan. Lagipula acara itu masih lama. Ini bukanlah sesuatu yang serius karena aku belum siap untuk memulainya.” Jiyong kembali mengulang senyumnya untuk kesekian kali. Ia mengerjapkan mata sejenak secara perlahan. “Kurasa aku harus mampu mengenali kekasihku lebih dalam sebelum pernikahan itu benar-benar terjadi. Dua tahun lalu, semuanya berbeda. Dia tak lagi sama.”

‘Dia tak lagi sama’ adalah kalimat yang sangat sering diucapkan oleh Jiyong.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu. Pernikahan bukanlah suatu permainan. Kau mencintainya atau tidak, itu keputusanmu sebelum hendak menikahi Dara. Bertingkahlah dewasa.” Sahut Dara dengan nada suara yang kian meninggi. Gadis itu mengerutkan keningnya, kemudian mendesah. “Setelah kau menyukai gadis lain, kau membuang Dara begitu saja? Tak bisakah kau menghargainya. Siapa gadis yang kau sukai, GD? Katakan padaku.” Tambahnya dengan volume yang lebih keras.

“Mengapa nada bicaramu meninggi? Dan, jika memang tersinggung, seharusnya Dara bukan kau.” Tanya Jiyong terheran-heran membuat Dara menutup mulutnya rapat-rapat. Dia memang sering menjadi tak terkendali ketika pikirannya sedang terganggu. “Kenapa kau sebegitu menuntutku untuk menikahi Dara. Apakah ia membujukmu untuk mengatakan ini padaku?” Dara segera menggeleng cepat. Jiyong menyelidik. “Dan kenapa kau menanyakan hal itu, tentang siapa gadis yang kusukai?”

“Maaf, aku hanya tidak tega memikirkan bagaimana ekspresi Dara ketika ia mendengar hal ini.”

Omona!

Jantung Dara serasa berhenti berdetak ketika ia melihat Bibi Kim berlarian panik ke arahnya. Wanita paruh baya itu berteriak cukup keras di sepanjang jalan, cukup untuk menghabiskan nafasnya. Jiyong segera menetralisir keadaan dan mulai bertanya-tanya. Belum puas terkejut oleh teriakan tadi, Dara kembali dikagetkan dengan sebuah kabar bahwa Nyonya Park, ibunya sendiri, datang. Mungkin jika hanya kata ‘datang’ yang didengarnya, Dara akan sangat senang. Namun, ini berbeda. Masih ada lanjutan dari kalimat tersebut, Nyonya Park datang dengan air muka yang berbeda. Ia tampak menahan amarah. Itu yang Dara dengar. Entah mengapa ia berpikir pernikahan itu penyebabnya.

Tak lama setelahnya, Dara mendengar sebuah suara menyerupai suara Mino. Tapi Mino tidak ada di sana. Sebelumnya Dara berpikir bahwa itu hanya halusinasinya karena ia gugup. Dara kembali menajamkan indra penglihat dan pendengarannya. Ia mendengar suara itu dan sosok Mino yang saat ini berdiri di sudut taman. Dari mana dan sejak kapan Mino berdiri bukanlah hal yang penting bagi Dara. Jika malaikat maut itu datang secara tiba-tiba, sebuah peristiwa akan terjadi.

Dara menatap Mino yang menutup mulutnya rapat-rapat. Anehnya, suara bisikan itu masih ter-dengar begitu jelas. Dara menerima informasi sama seperti yang didengarnya dari Bibi Kim. Ibu dan ayahnya beserta Nyonya Kwon juga Tuan Kwon datang. Mereka semua tampak dalam aura yang tak terlalu baik. Mino berkata bahwa pengunduran pernikahan yang disetujui oleh Jiyong sepihak-lah penyebabnya. Dan, seharusnya Dara dapat mengerti–dimata Nyonya Park, ia tampak seperti Dara asli, bukan Hye Ji. Inilah yang disebut kekuatan seorang ibu. Maka dari itu Mino memberitahunya. Jika memang Nyonya Park marah, sasaran kemarahannya adalah Dara bukan Bom.

“Hye Ji, kurasa aku harus menangani hal ini. Tunggu aku, kau mengerti? Aku akan kembali.”

Baru saja Jiyong memalingkan pandangannya dari Dara dan hendak menjangkahkan kakinya. Ia melihat sepasang kaki ramping nan jenjang dengan sepatu pantofel berdiri tegak di hadapannya. Nyonya Park! Jiyong dan Dara tersentak tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya mata mereka saja yang terlihat terbelalak lebar bak ikan. Dara tak tahu hal apa yang akan dilakukannya. Setahu Dara, Nyonya Park memiliki pandangan yang berbeda akan dirinya.

“Dapatkah kita berbicara sejenak?” Ujar Nyonya Park dengan tegasnya.

***

Hidup ini seakan neraka untuk Bom. Ia merasa sedang berada di neraka lapisan paling bawah. Dia sangat menderita. Ingin rasanya untuk mundur dan mengakui semuanya, mengakui bahwa Dara telah meninggal dan kembali hidup menjadi seorang Park Bom. Meskipun menderita, setidaknya semua hal yang selama ini menghantuinya hilang. Disisi lain, ia mengkhawatirkan satu hal. Beberapa orang yang tidak bisa menerima kematian Dara pasti akan menekannya, menuntutnya. Bom benar-benar depresi. Ia ingin melarikan diri. Tapi, kemana? Dengan keadaannya yang seperti ini sungguh berbahaya.

Lalu, bagaimana dengan Dara? Bom tidak memiliki keberanian yang lebih untuk mendekati gadis itu. Ia mewanti-wanti akan terjadi hal yang tak diinginkannya. Dara mungkin akan kembali berubah menjadi dirinya yang asli, seperti kejadian di beberapa hari kebelakang. Sekuat apa pun Bom hendak membuat Dara tampak rendah dan bersalah, tetapi kebenaran akan selalu terkuak setelahnya. Hal itu menyebabkan dampak yang begitu besar bagi Bom. Ia dikucilkan dan diasingkan.

Bukan hanya Jiyong, Bom pun berpikir untuk menunda pernikahannya. Percuma, percuma menikah dengan Jiyong jika semua tak akan berakhir bahagia. Bom berusaha menghilangkan pemikiran tentang bagaimana ia menyingkirkan Dara. Itu tak lagi penting untuknya karena Dara sudah pasti tidak akan pernah pergi selama Jiyong masih ada di sana. Jiyong adalah kekuatan terbesar Dara, dan Bom mengetahui hal tersebut. Kali ini, Bom sadar bahwa pernikahan itu tidak layak untuknya. Dara, seharusnya Dara-lah yang mendampingi kehidupan Jiyong, menjadi pengantinnya.

Lamunan Bom terpecahkan ketika ia mendengar suara kegaduhan tak jauh dari kamarnya. Ruang tamu yang terletak di tengah-tengah lantai dua itu terdengar begitu ramai. Beberapa orang mulai ber-bicara, kemudian saling membalas dan bersautan. Semenjak Dara meninggal, jarang rumah Keluarga Park bernuansa ramai seperti hari ini. Sebenarnya, ramai tersebut lebih mengarah ke percekcokan. Se-sekali, suara lembut Dara masuk secara tidak sengaja ke dalam rongga telinganya. Pembicaraan yang melibatkan Dara? Mau tak mau, Bom tidak boleh tinggal diam.

Beberapa saat kemudian, ia dikejutkan oleh suatu pemandangan yang dapat dibilang tidak biasa. Ia seakan terpaku ketika melihat Dara berdiri di hadapan Nyonya Park dengan kepala menunduk. Wanita paruh baya itu tampak geram dan gemas sehingga nada bicaranya terkadang meninggi. Bom berusaha untuk mendekat perlahan demi perlahan, selangkah demi selangkah. Tanpa disangka-sangka, rasa penasaran Bom semakin besar. Ia mempercepat langkahnya.

Nyonya Park mendengar suara asing yang menggelitik telinganya. “Jung Hye Ji?” Ujarnya dengan senyuman ramah membuat seseorang yang disapa tersebut menaikkan sebelah alisnya. Semua orang yang berada di ruangan itu pun secara serempak mengerutkan kening seakan-akan ada peristiwa besar terjadi. “Benarkah kau Hye Ji? Bisakah kau bergabung bersama kami, sayang?”

“Ya?” Bom semakin tidak mengerti. “Ibu, aku Dara.”

Bibir Nyonya Dara terkatup. Bagaimana bisa ada dua Dara di dalam rumah yang sama. Lagipula di dalam pandangannya, wajah Bom tampak seperti wajah Dara saat ini. Sedangkan Dara, dia menjadi Dara yang sesungguhnya. Satu tatapan aneh yang sama sejak terakhir kali Keluarga Park dan Keluarga Kwon berkumpul beberapa waktu lalu kembali didapat Nyonya Park. Semua orang menatapnya heran, semua kecuali Dara yang duduk di hadapannya.

“Aku tahu, kau adalah ibu Dara, tapi kali ini biarkan Nyonya Kwon yang berbicara.” Timpal Tuan Park mengisi keheningan yang telah menyembunyikan suara mereka semua. “Kurasa sejak Bom meninggal, kau tampak linglung setiap berkunjung kesini. Pikiranmu pun tak karuan.”

“Benar, Nyonya Park. Persilahkan ibu Jiyong untuk berbicara kali ini.” Tambah Tuan Kwon.

Akhirnya, Nyonya Park setuju dan membiarkan Nyonya Kwon untuk mengalih andil pembicaraan. Ia berjalan mendekati Dara dan mengangkat dagu gadis yang sedang menunduk lunglai. Menurut apa yang didengarnya dari Jiyong-Bom melukai Dara tepat di lengan kanannya. Maka dari itu, dengan cepat, Nyonya Kwon segera mengalihkan pandangannya menuju lengan kanan Dara. Anehnya, setelah tadi pagi luka itu telah menghilang, kali ini luka yang sama tampak begitu jelas. Ini tipuan.

Jiyong berdiri dari tempat duduknya. Meski ia berada dipihak Dara, tapi pertanyaan ini cukup mengganggunya. Bagaimana bisa luka itu timbul dan menghilang sesuka hati? Bagaimana luka yang telah menghilang dapat timbul kembali begitu saja? Seperti apa pun jenis pertanyaannya, sebanyak apa pun jumlah pertanyaan itu, segala jawaban itu ada pada Mino. Dia memang tak bisa membuat Nyonya Park melihat Dara sebagai Hye Ji. Tapi, ia bisa membuat semua orang melihat luka itu. Sekali lagi, ini adalah tanggung jawabnya. Meski ia melakukan semuanya karena ingin melindungi Dara, bukan berarti Mino hendak menjatuhkan Bom. Ia juga akan berusaha membuat gadis itu tertolong. Tak ada cara lain selain menyadarkan bahwa segala yang telah dilakukannya adalah suatu kesalahan.

“Hye Ji, benarkah kau mendapatkan luka ini karena Dara?” tanya Nyonya Kwon lembut.

“Ya? Luka itu, tidak-” Dara merasakan adanya keanehan karena ia tahu, luka itu telah menghilang.

“Bagaimana luka itu kembali terlihat, Hye Ji. Tidak, maksudku, bukankah tadi pagi ketika kita berbincang-bincang, kurasa lenganmu baik-baik saja.” Jiyong berjalan mendekati Dara, kemudian men-daratkan tubuhnya di dekat gadis itu. Ia meneliti lengan gadis berambut coklat tersebut dengan mata tajamnya yang memiliki sedikit lingkaran hitam bak panda. “Apakah hanya perasaanku saja?”

Nyonya Kwon mengerutkan kening. “Jiyong, berhentilah berimajinasi. Mungkin kau hanya ber-khayal atau bisa saja yang kau lihat tangan kiri Hye Ji. Tangan kanannya yang terluka, ‘kan?” Jiyong berdecak sembari mengerjapkan mata, menganggap bahwa ia benar-benar berkhayal. Nyonya Kwon pun kini beralih menatap kedua calon besannya, Nyonya dan Tuan Park. “Aku tak bermaksud menya-lahkan Dara, Nyonya Park. Tapi, tidakkah anda melihat luka ini? Sudah jelas, bukan? Maka, tak aneh juga jika Jiyong ingin mengundur pernikahannya.”

Giliran Nyonya Park yang mengerutkan keningnya dengan mata menyipit. Ia merasa aneh. Kenapa luka itu ada pada Dara? Bukankah semua orang berkata Hye Ji terluka karena Dara? Tanyanya pada diri sendiri. Cukup sudah. Nyonya Park benar-benar bingung. Sebelumnya, orang-orang berkata bahwa gadis yang dilihatnya sebagai Dara adalah Hye Ji. Itu cukup membuatnya bertanya-tanya. Lalu, tidak lama setelahnya, ia melihat gadis itu terluka. Kemudian, orang-orang berkata Hye Ji-lah yang terluka. Lalu, mengapa dimatanya gadis itu adalah Dara. Kebingungan ini telah melampaui batas.

Nyonya Park terdiam, tidak menjawab. Ia melihat ke arah Bom yang berdiri terpaku layaknya baru tersambar petir. Bom tak tahu jika Jiyong telah mengambil keputusan hendak mengundur pernikahan, meski sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama. Bom pun tidak tahu, peristiwa yang terjadi be-berapa hari lalu adalah penyebab Jiyong melakukan hal ini. Ia terlalu cukup umur untuk berpikir matang mengenai pernikahannya. Dan Jiyong juga dapat membedakan, mana yang benar dan salah.

“Nyonya Park?” panggil Nyonya Kwon dengan volume suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Aku tidak mengerti, hal apa yang mengisi kepalaku. Bagaimana bisa tangan kanan Dara terluka, dan kalian berkata dia Hye Ji? Gadis yang duduk di dekat Jiyong adalah putriku, dia Dara.” Nyonya Park berusaha menjelaskan segala hal yang dipikirkannya dengan butiran bening mulai menetes dari mata-nya. “Dan dia,” Sebelah tangannya menunjuk ke arah Bom. “Dialah Hye Ji. Apa yang salah?”

“Ibu,” Bom memanggil ibunya dengan perlahan. “Aku Dara, ibu.

Tiba-tiba Tuan Park berdiri, menarik istrinya dengan desahan. “Sebaiknya, kita pergi. Biarkan Jiyong dan Dara membicarakan masalah mereka.” Nyonya Park memandangnya aneh. Disampingnya, Tuan Kwon tampak mengangguk, setuju dengan pendapat calon besannya. “Untuk sementara ini, paman tidak keberatan jika kau hendak tinggal bersama Hye Ji, Jiyong.”

Segala jenis amarah pecah di ruangan itu. Bahkan, Tuan Park tidak sanggup lagi berbicara atau pun memberi salam perpisahan kepada putrinya sendiri. Entah mengapa tingkah Nyonya Park yang sangat aneh tersebut membuatnya sedikit canggung untuk menerima kenyataan bahwa Bom adalah Dara. Ia mulai mendapatkan kesadarannya. Dara yang sekarang memang tidak sama seperti putrinya dulu. Ia begitu mengingat, sapaan hangat yang selalu diberikan Dara padanya. Kini, segalanya serasa meng-hilang. Sepertinya Bom memang tidak mampu memahami siapa Dara sepenuhnya.

Sedangkan Tuan dan Nyonya Kwon, mereka sedang membicarakan tingkah laku Bom yang jauh berbeda. Gadis itu tidak memahami perannya dengan baik. Sepasang suami-istri itu sempat bertanya-tanya, apakah Dara palsu ini mengalami sedikit gangguan pada jiwanya karena kehilangan kembaran-nya? Alasan tersebut dapat dipakai jika Bom memang berakting menjadi aneh sejak awal. Tapi, yang semua orang tahu, sebelumnya gadis itu cukup ceria layaknya Dara pada umumnya. Entahlah, hal ini menjadi misteri bagi mereka.

Berbeda di luar, berbeda di dalam pula. Dara dan Bom tampak terdiam, lain dengan Jiyong yang saat ini sedang menatap kedua gadis itu secara bergantian sembari sesekali bertanya. Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan Jiyong. Sebenarnya, pertanyaan Jiyong sangat sederhana. Mengapa Tuan dan Nyonya Park serta kedua orang tuanya tampak sangat aneh. Bom tidak menjawab karena memang tak mengetahui jawabannya. Sedangkan Dara tidak menjawab karena lebih memilih untuk diam. Ini rahasianya bersama Seunghyun dan Mino.

Bom yang tidak duduk sama sekali sejak tadi terdiam pun segera membalikkan badan dan mulai melangkahkan kakinya kembali berjalan menuju tempatnya termenung setiap waktu. Bom membuka pintu kamarnya dengan lunglai sembari menengok beberapa detik kebelakang melihat Dara yang juga memandang ke arahnya. Tak seperti biasanya, Bom tersenyum tipis. Tidak! Senyuman itu tak terlihat seperti dipaksakan. Apakah rasa takut Bom menghilang? Tentu saja tidak. Senyuman tersebut terjadi secara refleks. Wajah Bom pun kembali menjadi muram ketika ia telah berada di dalam kamarnya.

Gadis itu tampak tak lagi memiliki kekuatan untuk menyangga tubuhnya sendiri. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. Ia masih berdiri disana. Tanpa disadari, Bom menangis. Bom mengigat raut wajah Nyonya Park. Sekeras apa pun Bom berusaha berubah menjadi Dara, tetap saja tidak ada yang berubah. Kedua orang tuanya tidak memperhatikannya dan menyalahkannya. Ya, Bom memang telah bersalah sebelumnya. Tapi, apakah semua akan tetap sama jika ia menjadi Dara. Bom berpikir bahwa hal itu tak akan terjadi. Untuk Jiyong? Tidak perlu berbicara tentang laki-laki itu. Sepertinya Jiyong benar-benar menghapus nama Dara dari benaknya sehingga Bom tercampakkan. Memang, dia merasakan hal yang disebut dengan kebahagiaan. Namun, hanya sesaat.

Anehnya, kenapa selalu gadis yang bernama Hye Ji? Salahkah jika Bom membencinya? Salahkah jika Bom melakukan hal yang kejam padanya? Salahkah jika Bom memperlakukannya dengan tidak baik? Bom seperti ini karena takut. Ia takut Dara-atau Hye Ji-mengambil semua hal milik Dara dulu yang seharusnya menjadi miliknya setelah saudara jahanam itu meninggal. Lagi-lagi Bom bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah ia memang ditakdirkan untuk tidak pernah merasakan kebahagiaan?

“Dara, dapatkah kau membukakan pintu kamarmu untukku?” sebuah suara laki-laki terdengar dari balik pintu kamar Bom. Dengan gerakan mengetuk yang pelan, laki-laki itu kembali mengucapkan kalimat yang sama, kemudian disusul kalimat lainnya. “Kurasa saat ini ada sedikit masalah yang mengganggumu. Bolehkah aku memberi beberapa nasihat? Kumohon, biarkan aku masuk.”

Sebenarnya saat ini Dara sedang tidak memiliki mood yang baik untuk berbicara dengan siapa pun. Tapi, bagaimana lagi. “Masalahku tidak sedikit. Aku tak bisa. Maaf, Mino.”

Malaikat maut bernama Song Mino itu pun tak menyerah sampai disana saja. Ia terus membujuk Bom dengan segala cara. Memang, Mino belum pernah berbincang-bincang mengenai privasi atau hal-hal pribadi milik Bom. Mereka sangat jarang berbicara, mungkin hanya sekali dua kali. Hal yang mendorong Mino untuk mendekati Bom adalah, ia berpikir melakukan kesalahan. Menurutnya, bukan hanya Dara yang membutuhkan bantuan, begitu pula dengan Bom. Bom membutuhkan orang yang mampu membantunya untuk terbangun dari alam bawah sadarnya. Gadis itu harus tahu bahwa ia melakukan perbuatan yang diluar akal sehat. Mencelakakan saudaranya hingga kehilangan nyawa? Itu adalah perbuatan keji. Hanya orang gila yang akan melakukannya. Dan benar, Bom gila saat itu.

Mino teringat, inilah mengapa Seunghyun memintanya untuk turun ke bumi dengan tujuan mem-bantu Dara hidup kembali. Ia merasa aneh. Membantu seseorang hidup kembali? Itu hal yang tidak mungkin terjadi atau dapat dikatakan mustahil. Tetapi, Mino berpikir, kematian Dara sangatlah tak wajar. Pasti Yang Maha Kuasa memiliki maksud tertentu mengapa memberi kesempatan kepada gadis malang itu. Maka, jika ini berhasil, mungkin disaat Dara menjadi manusia seutuhnya, Bom tersadar dan berubah menjadi seseorang yang berbeda jauh dari sebelumnya. Maksudnya, ia menjadi baik.

Entahlah, semua ini rencana Tuhan. Tidak ada yang mengetahuinya.

“Kau bukan Dara dan Bom belum meninggal. Kau adalah Park Bom.” Mino berbicara lirih.

Bom tersentak. Gadis itu terdiam, tak bergerak. Bagaimana orang asing seperti Mino bisa tahu?

***

Note : Okay, maaf sebelumnya kalo di ff ini Jiyong keliatan agak engga pinter (bahasa halusnya bodoh) karena ga menyadari keberadaan Dara. Mian, banget. Ini demi adegan-adegan yang udah dirancang :v Oh iya, aku juga sering up date karena nanti takutnya jadwal nulis ff bakal bentrok sama tugas-tugas dan ulangan. Sekali lagi, komen kalian sangat ditunggu. Setelah ff ini done, aku punya kejutan buat kalian 😀 Tetap stay di DaraGonIndonesia, readers..

TBC

next >>

Advertisements

12 thoughts on “[Series] My Everlasting Winter – Part 8

  1. bom jadi takut sama dara.. padahal dara cuma pengen tau alasan kenapa bom bersikap kaya gitu ke dara.. ini semua salah mino.. jiyong suka sama dara ya?? iyalah dara yang ngambek orang yang lagi ngomong sama jiyong itu dara bukan hye ji.. nyonya park bingung sendiri.. disini yang bego itu bukan cuma jiyong tapi semua.. mereka gak mikir jauh kenapa nyonya park bisa ngomong kalau hye ji itu dara.. cie mino bikin bom speechless. ayolah bom ngaku aja kenapa harus bohong terus? mino kasih tau bom gimana cara dia buat bongkar kedoknya.. hwaiting all\(^^)/
    laanjutan tetap di tungguu yang cepet yaaaaaaa\(^^)/ ^_^

  2. Hmmmm…. Akhrny satu” kbnaran trungkap jg. Sadar lha bom , kmballi kan khudpan dara yg seharusnny. Hmmm… Hahahaha…. Happy ending kan ya. Hehe 😀 ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s