[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #8

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 8-

.

Seoul, May 2015

Pandangannya kini menatap lurus dengan nyalang ke arah wanita yang sedang berdiri dengan jarak beberapa meter dari hadapannya. Ia bisa melihat punggung wanita itu yang kini tengah mengamati lukisan abstrak dengan ukuran super besar yang membentang di ruang tamunya. Ji Yong berdiri membeku. Tak mengeluarkan sepatah katapun untuk menegur atau menyapa wanita itu. Melihat tubuh wanita itu lagi di hadapannya membuat ia seperti berada di dunia halusinasi. Halusinasi kelam yang tak pernah ingin ia kunjungi.

Wanita itu berbalik, seperti menyadari bahwa ia sedang menjadi objek perhatian seseorang di belakangnya, “Yong-ah?”

Panggilan itu. Panggilan sialan yang tak ingin ia dengar lagi. Terutama panggilan itu harus terlontar dari mulutnya. Mulut wanita yang amat ia dibenci. Eomma. Atau haruskah ia panggil Han Hye Mi?

“Yong-ah, bagaimana kabarmu?”

Ji Yong masih berdiri mematung, tak berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan yang sudah jelas-jelas ditujukkan padanya. Wanita itu menghampirinya dengan langkah terseok-seok dan ekspresi haru. Menjijikkan. Hanya kata itulah yang terlintas dalam benak Ji Yong saat melihatnya. Wajah Hye Mi tak jauh berubah, tetap putih dan tenang seperti dulu. Hanya saja karena usia, kerutan di wajahnya tak bisa membohongi serta helaian rambut putih yang mulai muncul.

“Ku dengar kau telah kembali ke kantor setelah berhenti selama dua tahun lamanya? Syukurlah, ku rasa kau baik-baik saja sekarang.”

Keheningan menyelimuti mereka dengan Ji Yong yang tak bergerak atau bereaksi sedikitpun.

“Maaf baru bisa mengunjungimu, Yong-ah. Aku baru merasa ini waktu yang tepat setelah sekian lama,” Hye Mi mencoba untuk mencairkan suasana yang luar biasa canggung ini. Ia bahkan dengan lancang menggenggam tangan Ji Yong.

Kali ini Ji Yong bereaksi dengan melengkungkan seringaian iblisnya, “Lepaskan tangan kotormu dariku.”

Ji Yong menghempaskan tangan Hye Mi dengan sekali hentak, “Ku bilang lepaskan tanganmu dariku, jalang!”

Hye Mi menjauh segera. Mulutnya menganga menandakan ia kaget setengah mati. Cacian macam apa yang dikatakan putranya barusan? Apakah ini sambutan hangat yang ia berikan setelah belasan tahun tidak bertemu?

“Pergilah.”

Kata itu yang mampu Ji Yong ucapkan dengan wajah masam penuh frustasi. Ia segera melangkah ke dalam kamarnya, meninggalkan wanita itu. Bisa-bisa ia akan melakukan hal yang lebih nekat lainnya jika harus berlama-lama berhadapan dengan Hye Mi.

“Kau mengusir ibu kandungmu setelah kau maki dengan begitu kasarnya? Keterlaluan sekali kau!” Hye Mi dengan berani mengucapkan kata-kata itu dengan lantang. Kali ini ia telah berbalik menatap punggung Ji Yong yang mulai menjauhinya dan hendak melangkah ke arah tangga.

Ji Yong yang masih membelakangi Hye Mi menahan langkahnya, “Apa masih pantas kau mengakui dirimu sebagai seorang ibu? Kau mengharapkan sapaan hangat dariku, huh? Haruskah aku berlutut padamu untuk menyambut wanita yang telah dengan laknatnya meninggalkan keluarga di tengah keterpurukan? Cih!” Ji Yong meludah, membalikkan badannya untuk berhadapan dengan Hye Mi langsung, seringaian itu muncul lagi, “Kau? Eomma? Omong kosong! Tak ada seorang ibu yang akan menghancurkan masa depan anaknya dan lebih mementingkan keegoisannya sendiri!”

Pria itu melangkah maju untuk lebih dekat dengan lawan bicaranya, “Untuk apa kau kemari, huh? Kau jatuh miskin? Beraninya kau berdiri di hadapanku seperti pengemis hina untuk memohon belas kasih pada anak yang telah kau telantarkan!”

Hye Mi menangis, air mata tak terbendung lagi mendengar anaknya sendiri mencaci maki dirinya, “Aku… telah dicerai oleh suamiku,” aku wanita itu jujur dengan air mata berlinang. Malu merayapi, namun apalah daya? Dengan memutuskan untuk menginjakkan kakinya lagi ke tempat ini pun, Hye Mi telah membuang jauh seluruh rasa malu yang dimilikinya.

“Hentikan tangis menjijikkan itu! Aku tak sudi melihatnya.” Ji Yong mendengus, “Tak sadarkah kau? Kau telah sengaja membuang keluargamu dan kini kau rasakan sendiri betapa pedihnya dibuang dan ditinggalkan. Kini dengan jelas bisa ku lihat sendiri karma itu memang ada.”

“Yong-ah, ampuni aku. Biarkanlah aku kembali, aku sungguh tak memiliki siapapun lagi,” Hye Mi hampir berlutut di hadapan Ji Yong, menunjukkan kesungguhan permohonan maafnya.

“Lalu bagaimana denganku dulu? Kau pikir aku memiliki siapa untuk bertahan hidup?” suara pria itu hampir tersendat karena desakan air mata sialan yang mulai menggenang di pelupuk matanya, “Setelah kau pergi, perlahan-lahan semuanya juga meninggalkanku. Mulai dari ayah yang sakit-sakitan hingga meninggal, bahkan hidup noona berakhir dengan gantung diri karena frustasi. Kau pikir aku memiliki siapa lagi selain kalian?”

“Kau!” telunjuk Ji Yong mengarah sempurna pada wajah Hye Mi, “Dengan teganya meninggalkan keluargamu, mengakibatkan semua kekacauan, serta hampir merampas masa depanku dengan hidup yang terlantar dan penuh luka. Kini kau datang untuk meminta maaf dengan segala luka yang telah kau torehkan untukku seumur hidup? Jangan harap itu akan terjadi!”

“Yong-ah…”

Hye Mi mencoba menahan laju langkah kaki Ji Yong yang mulai menjejak tangga dan terus naik ke lantai dua. Tangannya terulur menggenggam lengan kiri pria itu dengan air mata membasahi pipinya. Suaranya bergetar, memanggil nama Ji Yong dengan nada lemah. Sungguh, ia telah putus asa.  Keadaan telah terbalik, kini wanita itu yang menahan Ji Yong pergi. Seperti yang pria itu katakan, hukum karma telah berlaku bagi Hye Mi. Dahulu ia yang ditinggalkan oleh Hye Mi tanpa perasaan, kini ia yang akan meninggalkan wanita itu.

Jika kau tanya lubuk hati terdalamnya, sejujurnya ia pun tersakiti jika harus mengusir ibu kandungnya dengan cara ini. Tak peduli bagaimanapun ia membenci dan menghindari Hye Mi, pria itu masih berstatus sebagai anaknya yang sampai matipun dalam tubuhnya akan terus mengalir darah dari wanita yang telah melahirkannya. Ji Yong menyadari itu. Sangat. Namun ia membiarkan rasa benci dan egonya menghambat. Ji Yong biarkan dendam itu tumbuh menggerogoti sehingga menutupi seluruh niat baik hatinya untuk memaafkan dan menerima Hye Mi kembali.

Mereka kini tiba di tepi tangga atas dengan tangan Hye Mi yang masih menggenggam Ji Yong. Ia enggan melepasnya. Manik cokelat itu tertutup, mencoba mengusir rasa jengah yang kini merayapi hati dan pikirannya. Tak bisa dipungkiri sisa air mata masih basah di pipinya. Ji Yong memunggungi Hye Mi, enggan untuk berbalik. Menandakan penolakan yang teramat jelas bagi orang tolol sekalipun.

“Maafkan aku. Pergilah.”

Setelah kata lemah namun tajam itu terucap, di detik berikutnya pria itu menghentakkan lengannya sehingga tangan Hye Mi terlepas dengan paksa. Ji Yong hanya fokus untuk menjauh dari Hye Mi, sehingga tak menyadari bahwa wanita itu kehilangan keseimbangan setelah terlepas genggaman dari tangannya. Ia baru menyadari ketika mendengar suara rintihan bersamaan suara gaduh yang muncul dari arah tangga. Hye Mi terjatuh. Kejadian itu terjadi dengan cepat, hingga Ji Yong yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa mematung. Membeku layaknya es tanpa bergerak sedikitpun.

Pria itu seperti baru tersadar ketika Hye Mi telah berada di bawah tangga dengan kondisi luar biasa mengenaskan. Ji Yong segera berlari terburu layaknya orang kesetanan, menghampiri Hye Mi dengan jantung yang hampir berhenti berdetak saking terkejutnya. Wanita itu kini ada di hadapannya dengan tubuh tergeletak dan darah segar mulai mengalir deras dari kepalanya. Ji Yong berlutut. Dengan kesadaran yang masih dimiliki, ia meraih tangan Hye Mi yang tadi telah ia lepas dengan paksa. Mata wanita itu telah tertutup.

Eomma…?”

*****

Seoul, June 2015

Aku menjejakkan kaki di pekarangan rumah mewah ini beberapa saat lalu. Kini aku masih terhanyut, betah memandangi rumah berwarna dominan abu tersebut dengan pandangan takjub dan juga… rindu? Entahlah. Aku memang telah lama tak menginjakkan kaki di tempat ini lagi semenjak dua tahun lalu. Baru beberapa hari yang lalu aku mempunyai keberanian hingga hari ini aku memberanikan diri untuk mendatangi rumah pria itu. Rumah yang memang telah dua bulan lalu aku ingin datangi untuk bertemu dengan pemiliknya. Ya, kali ini aku akan menemui pria yang amat aku hindari. Ji Yong.

Sesuai janjiku pada Il Woo, ini akan menjadi pertemuan terakhirku dengannya. Aku akan memantapkan hati untuk segera berdamai dengan pria itu dan akan memulai hidup yang baru dengan Il Woo. Sebenarnya aku dilarang untuk pergi sendirian, terlebih setelah kejadian di kantor. Namun pikiranku bersikukuh untuk datang sendiri tanpa perlu ditemani siapapun. Menurutku, masalahku adalah masalah pribadi dengan pria itu, tak perlu ada campur tangan dari pihak manapun. Terlebih dari Il Woo, pria itu sudah cukup terlalu jauh mencampuri urusan yang berhubungan dengan masa lalu kelamku dan Ji Yong. Sudah cukup, aku tak ingin lebih menyakiti hatinya.

Berdiri mematung di depan pintu besar rumah adalah hal yang aku lakukan kini. Setelah dibukakan pintu gerbang oleh Seo ahjumma, aku dipersilakan untuk memasuki rumah itu sendirian. Dengan tangan yang lemah aku mengetuk pintu, berharap pria itu sudi membukakan dan mempersilakanku untuk masuk ke dalam. Beberapa kali ku ketuk, namun tak ada jawaban yang didapat. Tanganku meraih gagang pintu. Tak disangka dengan hanya sekali dorongan lemah pintu itu terbuka, tak terkunci. Dengan keraguan yang teramat kental di hati, aku memasuki rumah itu. Aku tahu ini tindakan tidak sopan, namun aku ingin segera menuntaskan tujuan kedatanganku kemari.

Bisa ku lihat bahwa ruangan ini masih sama seperti terakhir kali ku datangi. Hanya saja aku merasakan hal ganjil di sini. Hawanya mencekam, bisa ku rasakan kosong adalah kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana suasana dinginnya rumah ini meskipun telah dihiasi dengan beberapa peralatan mewan nan antik yang berjejer rapi. Kakiku melangkah lebih jauh, memberanikan diri menjejak tangga untuk sampai ke lantai dua. Perasaanku mengatakan pria itu berada di kamarnya.

Dan benar saja, setelah dengan lancangnya aku membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk terlebih dulu, kini aku bisa melihat Ji Yong. Ia sedang duduk di sofa berwarna merah yang terletak di salah satu sudut kamar seraya menelungkupkan badannya di meja. Aroma alkohol serta rokok segera memenuhi indera penciumanku setibanya aku di kamar ini. Dimana-mana berserakan botol-botol minuman keras beraneka warna serta puntung rokok yang dibuang asal.

“Ji Yong?”

Aku memanggilnya. Ragu. Setelah beberapa detik menunggu, pria itu bereaksi dengan mengangkat kepalanya lalu menatap ke arahku yang saat ini tengah berdiri tak jauh dari pintu kamar. Dengan mata sayu berwarna merah menandakan lelah, ia menatapku dengan pandangan terkejut dan juga… rindu? Aku juga bisa merasakan pancaran kesedihan yang teramat dalam di matanya. Hatiku berdenyut ngilu, mengapa pria yang dulunya selalu diliputi kebahagiaan kini terlihat rapuh? Oh Tuhan, kutuklah aku yang telah meninggalkannya.

Entah mendapat keberanian darimana, tiba-tiba kakiku melangkah dengan pasti untuk menghampirinya. Aku kini duduk di sampingnya dengan pandangan kabur. Air mata sialan menggenang di pelupuk, entah mengapa rasa takut dan ragu kini tergantikan haru yang tiba-tiba menyeruak setelah melihat penampilannya secara dekat. Ia bukan Ji Yong dengan segala kesombongannya yang ku kenal dulu, pria ini sekarang terlihat berpuluh kali lipat tak berdaya. Pandangannya memelas, seperti mencoba mencari perlindungan yang telah lama tak ia temukan dari siapapun.

Tiba-tiba aku memeluknya, merengkuh kepalanya di bahuku. Aku menangis, tak dapat ku bendung lagi air mata ini turun dengan lancangnya. Aku mengelus rambutnya, terasa kasar saat bersentuhan dengan tanganku. Pria ini telah lama tak mengurus dirinya layaknya dulu ia yang selalu bersikap perfeksionis. Bisa ku rasakan kini bahu pria ini juga terguncang pelan, isakan tangisnya teredam di bahuku. Ia menangis hebat. Menumpahkan segala emosinya yang mungkin tak dapat ia bendung lagi.

Kemana Ji Yong yang dulunya kuat? Kemana sifat arogan sombongnya yang menyebalkan itu? Oh Tuhan, bisakah kau putarkan waktu saat aku masih bersamanya dulu? Kini aku menyesali egoku untuk meninggalkannya. Tak peduli seberapa besar dosa yang telah ia perbuat padaku, nyatanya hatiku tetap akan selalu memaafkannya. Aku sadar betul, bukan hanya aku yang menderita selama ini. Pria ini mungkin jauh lebih terpuruk dibanding aku, terlebih dengan dirinya yang hidup sebatang kara, “Mianhae, Ji Yong-ah.”

Pria itu kembali ke posisi duduk setelah melepaskan pelukannya padaku. Air mata masih terlihat jelas mengalir di pipinya. Tak pernah ku sangka akan mendapati Ji Yong dengan kondisi menyedihkan seperti ini di hidupnya.

“Tinggallah di sisiku kembali, Dara-ya…”

Satu baris kalimat lemah yang mampu menghanyutkanku. Entah darimana, kini aku bisa melihat kotak yang berisikan cincin emas putih dengan hiasan berlian kecil di tengahnya yang sangat manis tersaji di hadapanku. Tangannya dengan terampil meraih tangan kiriku, melepas cincin pemberian Il Woo lalu menyematkan cincin pemberiannya di jari manis. Kini sempurna cincin pemberian Ji Yong telah menggantikan milik Il Woo.

Seakan terhipnotis, aku hanya bisa terdiam. Ji Yong membawaku tenggelam dalam bola mata cokelatnya yang sayu itu. Aku terbuai dengan suasana yang tercipta di antara kami, membiarkan Ji Yong mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Ciuman pertama kami. Ciuman yang seharusnya aku lakukan dengan calon pendampingku kelak. Ia melakukannya lambat-lambat hingga membuat bulu kudukku meremang.

Bau alkohol serta rokok mendominasi, namun aku tak peduli. Yang bisa aku lakukan kini hanyalah menutup mata, menikmatinya bak melayang ke langit ke tujuh dengan bibirnya yang seksi itu. Oh Tuhan, mengapa aku menikmatinya? Dan tunggu, hal nista apa yang ku lakukan saat ini? Seakan baru tersadar, aku menghentakkan tubuhnya agar menjauh dariku. Astaga, mengapa dengan mudahnya aku terbuai hingga melupakan tujuan utamaku datang ke tempat ini?

Wae?” Ji Yong bertanya dengan raut wajah bingung.

“Hal ini tidak benar, Ji Yong-ah. Aku telah bertunangan.”

Ji Yong menyeringai, seketika kesedihan lenyap tak berbekas dari dirinya. Tergantikan dengan aura menyeramkan yang mengancam.

“Bertunangan? Hal bodoh apa yang telah kau lakukan, huh?” Ji Yong tertawa, “Jangan munafik, Dara-ya. Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri bahwa kau masih mencintaiku. Kembalilah padaku dan batalkan semua hal konyol tentang pertunanganmu itu. Tubuhmu bahkan tak menampik untuk bersentuhan denganku.”

Damn! Tubuhku memang mengkhianatiku. Otakku berpikir untuk menghindarinya, namun tubuh sialan ini memberikan reaksi sebaliknya. Tapi walau bagaimanapun, aku harus tetap pada tujuan awal. Aku tak bisa lagi mengubahnya, tidak setelah aku memiliki janji pada Il Woo. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya demi pria yang memang jelas-jelas masih ku cintai hingga kini. Tidak, kami tak bisa bersama seperti dulu. Keadaannya telah berubah, aku memiliki Il Woo sekarang.

“Aku tak bisa meninggalkannya, Ji Yong-ah. Aku telah berjanji padanya. Aku… telah memilihnya.”

“Persetan dengan semua janjimu padanya!” Ji Yong menghela napas, mencoba meredakan emosi yang hampir memuncak, “Tak bisakah kau hanya melihatku? Jujurlah pada dirimu sendiri bahwa kau hanya menginginkanku. Kau menginginkan kita untuk bersama kembali.”

“Lalu untuk apa kau kesini jika kau tidak ingin kembali padaku? Dengarkan aku, Dara-ya, kau dan aku bisa merajut kembali kisah kita yang sempat kandas. Aku minta maaf untuk segala kesalahanku padamu di masa lalu. Tentang diriku yang egois, tentang dusta yang pernah ku ucap padamu sehingga menimbulkan kesalahpahaman, tentang diriku yang selalu berbuat sesuka hati padamu. Bahkan hingga amarahku yang hampir berbuat biadab padamu terakhir kali. Aku salah, namun sungguh aku tak bermaksud untuk menyakiti hatimu.”

Ia melanjutkan, “Kau pun tahu aku tak pernah mempunyai niat sedikitpun untuk mengkhianati cinta kita. Kau tahu dari dulu hingga detik ini pun hanya kau lah gadisku. Milikku yang tak akan pernah terganti oleh siapapun,” Ji Yong melanjutkan ucapannya demi meyakinkanku, “Aku telah menunggumu untuk kembali. Dan inilah saat yang tepat untuk membangun lagi kisah di antara kita. Aku berjanji akan menjagamu dengan lebih baik, Dara-ya. Kita akan memiliki kisah indah, jauh lebih indah dari pasangan manapun di dunia ini. Kembalilah padaku, gadisku.”

Ji Yong menarik kedua tanganku untuk digenggamnya. Bisa ku lihat pancaran mata harap yang sungguh-sungguh dari manik cokelatnya. Aku menunduk, menetralkan denyut jantungku yang dengan semangatnya terpompa setelah mendengar kesungguhan Ji Yong. Aku tahu ia tak akan membohongiku lagi, entah mengapa aku yakin pada hal itu, namun aku bergeming.

Aku akan tetap pada pendirianku. Keputusanku telah bulat. Aku menggelengkan kepala tegas sebagai jawaban seraya masih menunduk. Ji Yong yang mulanya menggenggam tanganku dengan lembut, kini telah meremasnya dengan kuat. Aku menatapnya lagi, melihat kilatan amarah di matanya. Aku tahu telah memancing emosinya hingga ke puncak.

“Aku masih menyayangimu, Ji Yong-ah. Sungguh. Namun kini aku telah memantapkan hatiku pada Il Woo. Seberapa keras hatiku ingin kembali padamu, aku tahu semuanya telah berubah. Semuanya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Sekarang aku sadar, tak hanya kau yang salah dengan kejadian dua tahun lalu yang menyebabkan perpisahan di antara kita. Aku pun salah karena dengan egoisnya tak memikirkan perasaanmu. Aku hanya memikirkan rasa sakitku tanpa mengetahui bagaimana kau pun hancur saat itu, bahkan mungkin hingga sekarang.”

Aku menjeda sebelum melanjutkan, “Kini semua telah berubah. Kau dan aku menjadi manusia berbeda seiring berjalannya waktu dan penderitaan yang sama-sama telah kita lalui. Hiduplah dengan baik, Ji Yong-ah. Kau tahu? Seperti katamu dulu, kau muda, tampan, dan kaya. Kau sempurna melebihi siapapun yang ada di dunia ini. Kembalilah menjadi Ji Yong yang menyebalkan dengan sikap arogannya. Maaf telah banyak memberi beban padamu dengan segala keegoisanku. Kini aku akan pergi, menjauh darimu dan melanjutkan hidup normal seperti sedia kala.”

Aku tersenyum tulus padanya untuk terakhir kali seraya menitikkan air mata haru. Seiring dengan terlepasnya genggaman tanganku padanya, maka terlepas pulalah segala beban-beban yang menghantuiku tentangnya. Aku telah memilih jalan ini. Keputusanku untuk berdamai dengannya adalah keputusan yang tepat. Dengan ini, ku harap kami akan memiliki kisah masing-masing yang jauh lebih baik. Walau goyah kaki ini untuk menopang, aku akhirnya berdiri untuk kemudian berbalik ke arah pintu. Urusanku di sini telah usai, kini aku bisa menjalani lembaran hidup yang baru dengan Il Woo. Aku telah berdamai dengan masa laluku. Ji Yong.

Baru saja tanganku hendak menyentuh gagang pintu, tangan pria itu menarikku. Ji Yong menarikku dengan kasar. Menyeret tubuhku dan ia bantingkan di ranjang besarnya. Kejadian itu berlangsung begitu cepatnya hingga tak kusadari kini ia telah menindih serta mengurungku. Meletakkan masing-masing tangannya di samping kepalaku. Aku hanya bisa memberontak sebisaku, memukul dadanya bahkan menampar pipinya. Ia telah gila. Bisa ku lihat seringaian iblis menghiasi bibirnya. Emosi telah menyelimutinya hingga ia kehilangan akal sehatnya.

“Kau kemari hanya untuk mengucapkan salam perpisahan padaku, huh? Kau ingin memamerkan kisah cinta murahanmu dengannya? Kau akan meninggalkanku lagi demi pria sialan itu? Tidak, Sandara! Jangan pernah mengharapkan hal itu terjadi, bahkan dalam mimpimu sekalipun!” Ji Yong mengucapkan kata-kata bernada tinggi itu tepat di hadapan wajahku, “Semuanya telah pergi dariku. Bahkan ibu kandungku sendiri dengan teganya membuangku dan hanya kembali untuk mengincar hartaku. Semuanya boleh pergi dariku, tapi tidak denganmu!”

Aku yang kini berada di bawah kuasanya hanya dapat terdiam membeku dengan beberapa pertanyaan berseliweran dalam benakku. Ibu kandungnya? Bukankah ia pernah mengatakan bahwa ibu kandungnya telah meninggal semenjak ia kecil? Lalu mengapa ia mengatakan ibunya menelantarkan dan kembali untuk mengincar hartanya? Mungkinkah…

“Kau harus menjadi milikku, Dara-ya!” seringai menyeramkan itu muncul lagi, “Tak akan ada lagi yang dapat merebutmu dari sisiku. Tak akan pernah ada!”

Hatiku mencelos. Kalimat selanjutnya dari Ji Yong seakan menjadi hukum mutlak yang tak terbantahkan.

“Aku akan membuatmu menjadi milikku, Dara-ya. Seutuhnya.”

*****

Jun Hyung menatap ibunya yang sedang berdiri memandangi pintu kamar Dara. Sudah beberapa hari ini gadis itu mengurung diri di kamarnya, tanpa makan atau minum sedikitpun. Ia menghela napas, melihat ibunya yang sedari tadi terus memanggil Dara dan membujuk gadis itu untuk makan walau hanya sesuap nasi. Tepatnya tiga hari yang lalu, gadis itu pulang dengan keadaan yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Bahkan saat menginjakkan kaki di pekarangan, air mata gadis itu terus berlinang lalu ia tergesa untuk mengunci diri di kamar dan menangis histeris setelahnya.

Apa penyebab semua itu? Jun Hyung pun sama sekali tak mengetahuinya. Dara tak bisa ia ajak bicara. Segala akses seperti ditutup adiknya itu dari dunia sekitar. Bahkan tirai kamar pun ia tutupi sepanjang hari. Jun Hyung jengah, ia telah menghubungi Il Woo yang rencananya baru akan tiba di Seoul siang ini setelah ada pertemuan bisnis di Hong Kong selama satu minggu. Ia rasa Il Woo tahu sesuatu tentang Dara. Tunangan adiknya itu seakan menyembunyikan rahasia darinya.

Jun Hyung mendekati ibunya lalu memegang bahu wanita paruh baya itu, “Eomma, tenanglah. Mungkin sebentar lagi Il Woo akan datang dan akan membujuk Dara untuk keluar kamar. Ia berjanji akan langsung datang kemari setibanya di bandara.”

Dengan wajah yang letih ibunya pun mengangguk lemah dan membiarkan Jun Hyung menuntunnya ke kamar untuk beristirahat. Baru saja beberapa detik ia membaringkan ibunya di kasur, tiba-tiba terdengar suara barang pecah. Arahnya bersumber dari kamar Dara. Jun Hyung meminta sang ibu untuk tetap diam di kamar, membiarkan ia yang akan mengatasi segala kekacauan yang mungkin ditimbulkan oleh Dara. Dengan setengah berlari pria itu menghampiri. Ia mencoba menggedor pintu kamar dengan sekuat tenaga serta memanggil-manggil nama adiknya itu. Namun yang ia dengar hanya suara teriakan frustasi dari Dara seiring dengan suara pecahan barang-barang yang terus berjatuhan.

Sudah cukup! Ia tak bisa membiarkan Dara dalam kondisi seperti ini lagi. Setelah beberapa hari ini ia bersabar dengan bujukan ibunya yang menyuruhnya untuk tetap membiarkan Dara karena mungkin ia hanya butuh waktu untuk melampiaskan masalahnya sendirian, hari ini ia tak bisa lagi tinggal diam. Dengan sekuat tenaga, Jun Hyung mendobrak pintu itu. Segala emosi ia curahkan saat mendorong tubuhnya ke arah pintu, hingga akhirnya ia berhasil membukanya.

Kini bisa dengan jelas ia melihat tubuh Dara sedang membelakanginya, berdiri menghadap jendela kamar. Barang-barang berserakan, tak ada ruang yang bisa disebut bersih dan rapi lagi di kamar ini. Pecahan kaca dari bingkai foto serta botol parfum dimana-mana, membuatnya melangkah hati-hati saat akan menghampiri adiknya itu. Dengan gerakan super cepat, Jun Hyung mampu menahan lengan Dara yang akan membanting lampu tidur lalu mendudukan gadis itu ke tepi ranjang.

“Kau sudah gila, huh? Bagaimana bisa kau melakukan hal ini? Kau mengurung dirimu di kamar lalu memecahkan segala barang di sekitarmu?” Jun Hyung berteriak frustasi, “Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Tak bisakah kau menceritakan semua masalahmu padaku dan berhenti membuat kekhawatiran?”

Dara menangis kini, tangis yang sesenggukan dengan kedua jari saling tertaut seraya menunduk dalam-dalam. Ia berada dalam kondisi yang amat memprihatinkan. Tubuhnya bahkan terlihat mulai menyusut. Jun Hyung bisa melihat beberapa bagian tubuhnya tergores dan menimbulkan noda darah karena ulahnya memecahkan barang-barang. Ia menutup matanya seraya menghela napas beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Ia tahu tak seharusnya ia di luar kendali terutama dengan Dara dalam kondisi buruk seperti ini. Jun Hyung akhirnya berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Dara yang masih terus menunduk dengan rambut tak karuan menutupi sebagian wajahnya.

“Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Dara-ya. Dengan begitu mungkin aku dapat membantumu untuk menyelesaikan semua masalahmu.”

Dara masih menangis, tak kunjung merespon perkataan Jun Hyung. Tangan Jun Hyung hanya bisa terulur merapikan rambut adiknya yang menutupi wajahnya seraya mengelus wajahnya dengan lembut. Oh Tuhan, bahkan Jun Hyung tak pernah melihat Dara berada pada kondisi seburuk ini sebelumnya. Matanya sembab serta merah karena terus-terusan menangis. Bahkan dengan jelas ia bisa melihat kantung mata hitam besar di sekelilingnya. Bibir kering gadis itu terus menerus bergetar. Apa mungkin ia ketakutan?

“Jangan takut, Dara-ya. Bicaralah padaku. Kau tahu? Aku akan selalu menemanimu dalam kondisi mengerikan sekalipun.”

Dengan bibir gemetaran serta suara serak yang tersendat, Dara memberitahukan sesuatu pada kakaknya itu. Satu kalimat pengakuan yang membuat Jun Hyung hanya bisa menganga tak percaya saking kagetnya mendapati kejujuran Dara. Setelahnya, gadis itu hanya bisa semakin terisak seraya makin dalam menunduk, mengguncangkan bahunya semakin kuat dengan air mata yang terus berlinang.

Jun Hyung dengan segera merengkuh tubuh lemah adiknya itu pada pelukannya tanpa merespon sepatah katapun saking tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tak sadar, ada sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraan antara saudara itu semenjak beberapa saat  yang lalu. Tangannya tiba-tiba terkepal, menampilkan buku-buku jarinya yang memutih. Rahangnya mengeras menandakan kemurkaan. Il Woo.

*****

Bugh! Suara tinju tak terelakkan saat Il Woo bertemu Ji Yong di pekarangan rumahnya. Beberapa jam lalu Il Woo mendatangi rumah Ji Yong dan dengan terpaksa menunggui pria itu pulang dari kantornya. Hari telah berganti malam kini, Seo ahjumma telah pamit pulang pada Il Woo dan membiarkan pria itu menunggu sendirian di depan pintu rumah Ji Yong. Baru saja mobil Lamborghini hitam itu masuk dari gerbang, Il Woo dengan sigap berdiri dan langsung menghampiri Ji Yong dengan tinjunya.

“Apa yang kau lakukan?”

Il Woo melayangkan tinjunya lagi tepat di pelipis kiri Ji Yong, “Aku? Seharusnya aku yang bertanya padamu, brengsek! Apa yang kau lakukan terhadap tunanganku?”

Tawa mengejek tertuju pada Il Woo dari mulut Ji Yong membuat pria yang telah kalap itu semakin terpancing emosinya. Secara kasar, Il Woo menarik kerah kemeja Ji Yong hingga kini mereka berhadapan dengan jarak yang amat dekat, “Kau tertawa? Kau tertawa setelah kau merusak masa depan tunanganku dengan kelakuan busukmu itu? Dimana otak warasmu? Bajingan!”

Tinju melayang lagi dan mendarat pada pipi mulus Ji Yong, membuat pria yang sedari tadi diam itu terhempas ke tanah. Konyolnya, dengan lebam dan noda darah di sudut bibirnya Ji Yong malah menyeringai iblis tanpa mengucapkan sepatah katapun, membuat Il Woo tambah kehilangan kendali. Il Woo akhirnya memukuli pria itu dengan sekuat tenaga, wajahnya, dadanya, dan segala bagian tubuhnya yang dapat ia pukuli. Bahkan kakinya tak tinggal diam menjejak perut Ji Yong, membuat pria itu memuntahkan darah dari mulutnya.

Il Woo melakukan itu sambil menangis frustasi, mengingat penuturan Dara yang menyebutkan bahwa mahkotanya sudah direnggut oleh Ji Yong. Ya Tuhan, tak bisakah kau bayangkan perasaannya saat mengetahui hal itu terlontar dari bibir lemah Dara? Hatinya terbakar oleh amarah, tercabik-cabik hingga dalam bentuk mengenaskan yang tak dapat utuh kembali. Tunangannya telah ternodai. Sempurna ternoda berkat kelakuan busuk Ji Yong, pria masa lalunya.

Hatinya semakin berdenyut nyeri karena kenyataan bahwa ia tak dapat menjaga dengan baik tunangannya. Terlebih dari ancaman pria brengsek yang kini tengah terbatuk-batuk setelah ia lampiaskan amarahnya. Il Woo telah menghentikan aksinya, ia hanya bisa berdiri seraya mengusap wajah dan mengacak-acak rambutnya frustasi. Dengan kekuatan yang masih tersisa, Ji Yong kini mencoba berdiri seraya memegangi perutnya yang luar biasa nyeri itu. Lebam dan darah tercipta jelas di wajah dan sekujur tubuhnya.

“Kau sudah puas sekarang?”

Kerutan bingung terlihat jelas di dahi Il Woo setelah mendapatkan respon setenang itu dari Ji Yong.

“Siksalah aku sepuas yang kau mau. Atau bahkan, kau masih belum puas juga?” Ji Yong meregangkan tangannya, ia berdiri menantang Il Woo untuk menghabisi dirinya saat ini juga, “Ayo! Pukul aku sepuas hatimu! Buatlah luka sebanyak yang kau mau, tapi berjanjilah untuk tak akan pernah merenggut Dara dari sisiku lagi.”

Mata Il Woo membelalak, “Kau!”

“Tak sadarkah kau jika dia selama ini hanya bisa mencintai aku? Dia memilihmu hanya merasa iba padamu. Merasa harus membalas budi atas segala kebaikan yang pernah kau lakukan padanya. Di hatinya, tak pernah tersimpan namamu, yang ada hanya aku. Pria bajingan yang dengan lancangnya telah merenggut kesuciannya.”

Ji Yong melanjutkan, “Kau boleh membenciku, tapi ini adalah faktanya. Fakta bahwa Dara tak pernah bersungguh-sungguh padamu sekeras apapun ia ingin melakukannya!”

“Tutup mulutmu!” Il Woo mencengkeram lagi kerah Ji Yong dan menariknya dengan kasar.

“Kau marah? Merasa tersinggung dengan kata-kataku yang memang telah dengan jelas kau ketahui kebenarannya?” Ji Yong masih mengoceh dengan Il Woo di hadapannya yang kini tengah mengeraskan rahangnya, membuat giginya bergemeletuk, “Sadarlah, Il Woo! Kau mungkin bisa memiliki raganya, tapi tidak dengan hatinya!”

“Tapi tunggu, bahkan raganya telah aku miliki sepenuhnya. Akulah pria pertama yang bisa menguasai tubuh indah itu. Sekarang aku telah memiliki Dara seutuhnya, tak akan ada lagi celah untuk dirimu dapat merenggut gadisku,” Ji Yong mengeluarkan seringaian itu lagi, “Dan kau tahu? Dara bahkan menikmati itu semua sekeras apapun ia menyangkal.”

“Bajingan!”

Ji Yong tersungkur lagi di tanah, ia menerima pukulan-pukulan mengenaskan yang lebih dahsyat dari Il Woo. Pria yang biasanya tak mudah terpancing emosi itu pun kini sudah tak bisa lagi menahan seluruh luapan amarahnya. Perkataan dari Ji Yong sukses membuat darahnya naik sampai ke ubun-ubun. Ia telah hilang kendali, hilang segala akal yang membuat bisikan setan telah merasukinya kini. Dengan tubuh Ji Yong yang tergolek lemah, Il Woo mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Benda kecil namun tajam itu telah ia persiapkan untuk berjaga-jaga jikalau Ji Yong berbuat sesuatu yang nekat terhadapnya.

Il Woo tak peduli lagi dengan kenyataan bahwa ini adalah tindakan yang salah. Ia tak bisa lagi menahan ledakan emosi tak tertahan dari jiwanya. Yang ia hanya inginkan adalah melenyapkan pria di hadapannya sesegera mungkin dari dunia ini. Il Woo tak akan pernah rela jika Dara yang telah ia perjuangkan selama bertahun-tahun jatuh ke pelukan Ji Yong kembali. Tidak! Itu semua tidak boleh terjadi! Dara hanya boleh menjadi miliknya. Kini obsesi memiliki Dara menjadi prioritasnya di atas apapun. Dan satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah melenyapkan Ji Yong terlebih dahulu.

Dengan gemetar, tangan itu memegang pisau lipat yang kini telah terbuka. Ji Yong masih tergeletak di tanah dengan kondisi mengenaskan. Matanya kini nyalang menatap Ji Yong, bersiap-siap menancapkan benda yang tengah digenggamnya tepat di jantungnya. Ia telah gelap mata. Persetan dengan label pembunuh yang mungkin akan disandangnya kelak! Tanpa membuang-buang waktu lebih lama, Il Woo menarik tangannya untuk kemudian menghunuskan pisau itu pada sasarannya.

Tak disangka, Ji Yong yang masih memiliki kesadaran tipis menyadari bahaya mengancam nyawanya hingga mampu menahan pergelangan tangan Il Woo tepat beberapa senti lagi sebelum ujung pisau itu menggores kulitnya. Il Woo dengan kekuatan ekstra terus mengarahkan pisau mengkilatnya, ia ingin segera merobek kulit Ji Yong tanpa ampun. Namun Ji Yong masih berusaha menahan dengan mengerahkan segala kekuatan yang masih dimilikinya. Akhirnya Ji Yong membalikkan posisi, kini ia berada di atas tubuh Il Woo. Luar biasa, pria itu sangat kuat.

Pertempuran ini harus diakhiri sesegera mungkin. Jika tidak, mungkin nyawanya akan dihabisi di tangan Il Woo. Kini Ji Yong yang lebih kuat, ia berusaha menjauhkan pisau itu dari tubuhnya dengan mengarahkan tangan Il Woo menjauhi tubuhnya. Ji Yong berniat melepaskan pisau itu dari cengkeraman kuat Il Woo dan dengan sekuat tenaga mencoba mengambilnya.

Namun sesuatu yang fatal terjadi. Saat Ji Yong mencoba fokus untuk mengambil alih, tak sadar pisau itu didorong oleh Il Woo hingga hampir mengenai bahunya. Dengan spontan, Ji Yong membalik arah mata pisau itu hingga tak sadar jika ia telah sempurna melukai lawannya dengan sekali gerakan. Pisau itu tepat mengarah pada leher kanan Il Woo. Menancap sempurna dengan dalam di urat nadi lehernya. Cairan berwarna merah segar mulai mengalir deras setelahnya.

*****

 

To be continued…

Advertisements

24 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #8

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s