SNEEUWWITJE [Chap. 5]

swee-2

A storyline by. Cho Hana

Sandara Park || Kwon Jiyong

Park Sojin || Kim Jongin || Jung Soojung || Park Jiyeon || Park Hayeon

Kang Seulgi || Jung Taekwoon || Lee Seungri || Im Yoona

Romance || Drama || Marriage-Life

PG-15

.

She is a Snow White, not a Cinderella

.

Buat yang baru baca di chapter ini diharapkan baca prolog/chapter sebelumnya:

[Introduction+Prolog] [1] [2] [3] [4]

 

Dara masih duduk dengan tenang di kursinya. Berbanding terbalik dengan Pengacara Han yang nampak gugup setengah mati duduk di sebelah Dara. Kini mereka sudah tak lagi berada di dalam restoran. Pertemuan resmi dibubarkan setengah jam yang lalu dan Dara sedang berbicara empat mata dengan lelaki itu.

“Kerja yang bagus, Pegacara Han. Kau jadi lebih cepat tanggap sekarang,” Dara membuka suara lebih dulu. “Masalah semacam ini memang harus diselesaikan secepatnya. Ah, apa aku harus benar-benar secepatnya menikah juga?”

Pengacara Han menelan salivanya dengan susah payah. Kerongkongannya mendadak jadi kering. Ia jelas tahu jika sekarang Dara tidak tengah memujinya dengan tulus.

“Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padamu, tapi aku hanya ingin bilang—“ Seulas senyum dingin tercipta di wajah Dara. “—Kau telah memutuskan berada di pihak yang benar, Pengacara Han.”

Lelaki itu tersentak. Kini rasa gugupnya menjadi dua kali lipat lebih besar.

“Tak ada alasan untuk kau tetap berada di pihakku, kendati di masa lalu ayahku telah banyak menolongmu. Oh, sepertinya aku salah berpikir. Yang banyak menolongmu selama ini adalah ayahku, sementara aku… sekalipun aku tak pernah berbuat apa-apa untukmu. Maafkan aku.”

“Nona, Saya—“

“Tidak apa-apa. Ikuti saja kata hatimu, Pengacara Han. Karena ketika kau mengikuti hatimu, meskipun itu sulit dilalui, kau pasti akan menjadi kuat,” Dara buru-buru menyela. “Sampaikan salamku untuk keluargamu dan terimakasih sudah membantuku selama ini. Kau boleh pergi.”

Setelah mengucapkan semua itu, Pengacara Han buru-buru keluar dari mobil. Perasaan gugupnya telah berubah menjadi perasaan lega, namun perasaan tak enak lain justru berganti menghinggapinya. Ada perasaan bersalah dalam hatinya.

Jongin langsung masuk ke dalam mobil kala dilihatnya Pengacara Han telah pergi.

“Samunim, aku mengenal pemuda yang dipilih Ny. Park sebagai calon suami anda. Aku baru ingat jika dia adalah salah satu dari tiga pemuda yang tempo hari bertemu dengan Sojin,” Jongin langsung mencecar Dara begitu memasuki mobil.

“Sudah kuduga,” Dara berkomentar pendek. “Sekarang kau boleh menyuruh orang untuk mulai mematai-matainya karena Park Sojin sudah menunjukkan dengan jelas siapa prajurit terkuatnya.”

~~~

Dara, Jongin dan Pengacara Han sudah lebih dulu meninggalkan restoran, menyisakan Ny. Park beserta anak-anaknya dan Jiyong yang masih bertahan di sana.

“Senang bertemu denganmu,” Ny. Park menatap Jiyong dengan lekat, memperhatikan penampilan pemuda itu dengan sangat teliti.

“Ah, saya juga senang bertemu dengan anda,” Jiyong menundukkan kepalanya sebentar, memberi tanda hormat kepada wanita itu.

“Woah, kau sangat tampan. Berapa usiamu? Apa kau sebaya dengan Sandara? Woah, tak dapat dipercaya. Wajahmu nampak dua kali lebih muda daripada usiamu,” Jiyeon menatap Jiyong tanpa berkedip.

“Aku sudah berumur 27 tahun. 3 tahun lagi aku akan menginjak usia kepala tiga. Aku akan jadi semakin tua,” Jiyong terkekeh sambil menatap balik Jiyeon.

“Ah, itu bukan masalah. Kau punya wajah yang seperti bayi, oppa—upss apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan oppa? Aku tidak punya kakak laki-laki, jadi aku sangat ingin memanggilmu oppa,” Jiyeon mulai merubah suaranya menjadi suara manja.

“Ah tidak apa-apa. Panggil saja aku, oppa.”

“Yes! Gummawo, oppa. Namaku Park Jiyeon. Aku adiknya Park Sojin,” Jiyeon mengulurkan tangan lebih dulu yang langsung disambut oleh Jiyong.

“Jiyong. Kwon Jiyong. Siapa tadi namamu? Park Jiyeon ya? Woah, namamu sangat cantik. Tak kalah cantik dari wajahmu.”

Semu merah tercipta di kedua pipi Jiyeon kala pemuda itu tengah memujinya, “Ah, oppa bisa saja.”

“Sojin-ah, Jiyeon-ah, bukankah sebaiknya kalian menunggu di mobil,” Ny. Park menyudahi aksi gombal-gombalan antara Jiyong-Jiyeon. Wajah Jiyeon langsung berubah ditekuk, sementara Sojin justru kesulitan menyembunyikan senyumnya.

“Eomma!” Jiyeon memekik protes. Ia tak rela jika harus cepat berpisah dengan pria menyenangkan seperti Jiyong malam itu.

“Eomma benar. Ayo, Jiyeon, kita tunggu di mobil,” Sojin buru-buru menyeret adiknya ke mobil sebelum gadis itu benar-benar mengamuk disana.

Seulas senyum Sojin lemparkan pada Jiyong sebelum pergi, sementara Jiyong hanya membalasnya dengan mengedipkan sebelah mata.

“Sepertinya kedua putriku tertarik padamu,” Suara Ny. Park membuat Jiyong kembali menaruh atensi padanya. “Kau punya pesona yang kuat untuk memikat semua gadis.”

Jiyong tertawa kecil, “Ah tidak juga, Nyonya. Saya dan Sojin memang sudah berteman sejak SMA, makanya kami terlihat cukup dekat. Dan putri bungsu anda adalah gadis yang menyenangkan. Saya mudah akrab dengan tipe gadis yang demikian.”

Ny. Park menganggukkan kepalanya pelan, “Aku yakin Sojin pasti telah menceritakan semuanya padamu. Kau pasti sudah paham tugasmu ‘kan?”

“Ya, Nyonya.”

“Kau bisa lihat sendiri betapa dinginnya putri tiriku. Dia bahkan pergi tanpa memberi komentar apa-apa tentang dirimu. Kau pasti sedikit kecewa,” Ny. Park merogoh tasnya lalu mengeluarkan selembar kertas. “Kau telah membuat perjanjian dengan putriku. Meskipun ini pertama kalinya kita bertemu, kurasa kau orang yang cukup bisa dipercaya. Seperti yang kita tahu, kawin kontrak adalah perjanjian hitam di atas putih. Itu surat kontraknya. Kau harus tanda tangan di sana.”

Jiyong mengambil kertas itu lalu membaca isinya sebentar, “Satu tahun? Masa pernikahan kami hanya satu tahun?” Jiyong kembali menatap wajah Ny. Park.

“Kenapa? Kau tidak sanggup?”

“Ah bukan begitu. Maksudku ini terlalu singkat. Kupikir kami akan menikah selama beberapa tahun.”

Seulas senyum tercipta di wajah Ny. Park, “Kwon Jiyong-ssi, apa kau punya perasaan pada putri tiriku?”

“Nde?” Jiyong memasang tampang heran.

“Kau bekerja pada kami. Kami yang membayarmu. Bukankah kau seharusnya menuruti semua keinginan kami?”

“Oh, ya. Maafkan saya,” Jiyong buru-buru menundukkan kepalanya. Jauh dari perkiraannya, Ny. Park ternyata memiliki sikap yang cukup keras.

“Segera tanda tangani surat itu dan lakukan tugasmu,” Ny. Park menyodorkan bolpoin pada Jiyong.

Jiyong terdiam sebentar. Di dalam kontrak ia memiliki jangka waktu bekerja setahun –dimulai dari tanggal yang belum diketahui. Yang jelas ia harus melakukan kawin kontrak dan membuat Dara jatuh cinta padanya dalam jangka waktu setahun. Waktu yang cukup singkat dan Jiyong rasa takkan mudah untuk meluluhkan hati gadis sedingin Dara. Ia mengembuskan napas perlahan. Ini sudah setengah jalan dan ia tidak bisa mundur. Tak ada pilihan lain, selain maju ke medan peperangan. Pelan-pelan tangan Jiyong meraih bolpoin yang disodorkan Ny. Park. Tanpa ragu, ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas kontrak lalu menyodorkannya kembali pada wanita itu.

“Keputusan yang bagus,” Ny. Park menyalami Jiyong dengan senyum yang begitu lebar. “Selamat datang di kubu peperangan kami, Kwon Jiyong-ssi.”

~~~

Jiyong langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur kala tungkainya menjejaki kamar. Ia menatap langit-langit kamarnya sejemang. Pikirannya jadi gundah sekarang. Ia merasa ragu dengan keputusan yang baru saja ia buat. Melihat sikap dingin Dara juga sikap ambisius Ny. Park membuatnya merasa tengah di gantung dengan seutas tali dan di bawah sana sebuah jurang tengah menunggu untuk menelan dirinya. Di sisi hulu ada Ny. Park dan di sisi hilir ada Dara. Kedua orang itu memegang gunting yang  sama-sama tajam. Tinggal menunggu waktu saja, mana yang akan memotong tali yang mengikat Jiyong. Apakah Dara atau Ny. Park.

“Ah, kenapa aku jadi pusing begini?” Jiyong bangkit dari posisi berbaringnya. “Pekerjaanku ‘kan hanya mendekati gadis itu. Aku ini punya wajah yang tampan dan pesona yng kuat, apa susahnya hanya menjebak gadis buta seperti itu? Ah, benar. Aku pasti bisa. Ini pekerjaan mudah. Kau bahkan sudah mengencani banyak gadis, Kwon Jiyong. Sadarlah!” Jiyong menepuk-nepuk wajahnya sendiri.

“Kau pasti bisa, Kwon Jiyong. Fighting!” Jiyong menyemangati dirinya sendiri.

~~~

Hari yang baru kembali dimulai. Pagi-pagi Jiyong telah siap dengan pakaian casualnya yang santai.

“Hyung, kau mau kemana?” Seungri bertanya dengan rambut acak-acakan khas baru bangun tidur.

“Aku mulai bekerja hari ini. Aku harus ke kediaman keluarga Park,” Sahut Jiyong sambil mengikat tali sepatunya.

“Oh, hyung bawa mobil?”

Pertanyaan Seungri itu langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Jiyong, “Kenapa? Kau mau mencuri mobilku lagi? Cih, jangan harap kau bisa melakukannya lagi. Aku tidak akan tertipu kali ini.”

“Aish, aku tidak berniat mencurinya, hyung. Kali ini aku mau pinjam baik-baik,” Seungri mengucek-ngucek matanya sambil melangkah gontai menuju sofa.

“Aku juga mau memakainya hari ini. Kau naik taksi saja,” Jiyong kembali fokus pada sepatunya.

“Hyung, kau gila? Tengsin dong. Masa jalan-jalan sama pacar pakai taksi. Mau taruh dimana mukaku nanti?”

“Lebih gila mana dengan aku kemarin? Aku bahkan sampai kehujanan karena pulang jalan kaki,” Jiyong meneriaki Seungri dengan kesal. “Sudahlah. Aku berangkat dulu. Urus saja urusan sendiri. Kalau pacaran, modal sendiri. Jangan pakai punya orang.”

Setelah mengatakan hal yang menohok hati itu, Jiyong buru-buru menghilang di balik pintu keluar, menyisakan Seungri yang hanya dapat meratapi nasib sialnya.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Seungri bermonolog sendirian.

~~~

Dara melakukan aktivitas seperti biasanya. Seulgi menemaninya bersiap-siap lalu ia sarapan.

“Nona, ada yang ingin bertemu dengan anda,” Seorang pelayan tiba-tiba muncul di sela-sela aktivitas sarapannya.

“Siapa?” Seulgi yang berdiri di belakang Dara menanggapi lebih dulu.

“Dia bilang namanya Kwon Jiyong.”

Ucapan Pelayan itu membuat Dara berhenti mengunyah rotinya sejenak.

“Kwon Jiyong?” Seulgi menautkan kedua alisnya. “Apa nona mengenalnya? Nona ingin menemuinya?”

“Usir orang itu sekarang juga,” Titah Dara dengan cepat.

“Nde?”

“Kubilang usir orang itu. Aku tidak mengenalnya,” Dara kembali melanjutkan sarapannya.

“Oh ya. Baiklah, Nona.”

Pelayan itu langsung pergi dan melakukan semua yang Dara perintahkan.

“Seulgi, aku sudah selesai makan. Bawa aku ke mobil,” Titah Dara lagi yang langsung dituruti Seulgi.

Seulgi menuntun Dara memasuki mobil yang telah terparkir di halaman depan. Nampaknya Dara ingin buru-buru ke kantor pagi itu.

~~~

Jiyong berdecak kesal. Langkahnya memasuki kediaman keluarga Park terhalang oleh beberapa satpam yang berjaga di depan.

“Bisakah kalian mengizinkanku masuk? Aku hanya ingin bertemu dengan majikan kalian,” Jiyong memasang wajah super masam, menatap satu persatu pria berbadan kekar yang menjaga gerbang depan.

“Maaf tuan, tapi kami harus menunggu konfirmasi dari dalam,” Salah satu dari mereka menyahut.

Jiyong menghela napas panjang. Lagi-lagi jawaban yang sama terlontar dari mulut mereka. Ia tak habis pikir. Apa semua orang kaya punya sistem keamanan rumah yang seperti ini? Sistem pengamanan semacam ini serata dengan sistem pengamanan rumah presiden. Terlalu berlebihan menurutnya.

“Nde?” Salah satu dari satpam itu berbicara melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya. “Buka pagar. Ada mobil yang mau keluar.” Ia lalu menyuruh salah satu temannya untuk berlari ke pos dan membukakan gerbang. Mereka agak menepi saat sebuah mobil sedan keluar dari dalam gerbang.

“Itu siapa? Jangan bilang jika yang pergi itu Sandara Park,” Jiyong bertanya lagi pada mereka.

“Maaf tuan, tapi Nona Sandara tidak ingin bertemu dengan anda.”

“Apa?” Jiyong menatap satpam itu dengan tajam. “Apa kau bercanda? Yak, aku ini calon suaminya. Mana bisa ia bersikap seperti itu. Biarkan aku menemuinya.”

“Maaf tuan, tapi Nona Dara baru saja pergi tadi.”

Jiyong mengembuskan napas panjang, “Ah dugaanku benar. Mobil tadi pasti membawanya ‘kan. Aish, kalian benar-benar. Bagaimana bisa kalian membiarkan gadis itu pergi sementara disini ada tamunya yang menunggu? Kalian pernah belajar etika tidak?”

“Buka kembali gerbangnya. Ada mobil yang mau keluar lagi,” Satpam itu mengabaikan omelan Jiyong dan kembali memerintahkan rekannya yang lain.

Mereka kembali menepi saat sebuah mobil sport berwarna silver keluar dari dalam gerbang. Mobil itu tidak langsung pergi, melainkan berhenti di depan mereka.

“Selamat pagi, Nona,” Semua satpam langsung menunduk saat melihat sosok yang keluar dari dalam mobil itu.

“Sojin-ah,” Jiyong menatap orang itu dengan lekat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Ji?” Sojin menatap Jiyong dengan kaget.

“Aku datang ingin menemui Dara, tapi mereka menghalangiku.”

“Maafkan mereka, Ji. Mereka pasti belum tahu tentang dirimu.” Sojin beralih melirik satuan keamanan yang bekerja di rumahnya itu. “Semuanya, tolong dengarkan aku. Mulai sekarang izinkan pemuda ini masuk ke dalam rumah, juga kantor Jaeguk Group. Dia adalah Kwon Jiyong, calon suami kakak tiriku.”

Ucapan Sojin itu langsung disambut oleh beberapa suara minor dari para satpam itu.

“Ingat wajahnya baik-baik. Jika kalian membuat ia kesulitan lagi, aku akan menindak kalian dengan tegas. Katakan juga hal ini pada semua pelayan yang ada di rumah. Kalian mengerti?”

“Kami mengerti, Nona.”

“Bagus,” Sojin kembali menatap Jiyong yang kini sudah tersenyum puas. “Dara sudah pergi ke kantor sekarang. Susul saja dia ke sana. Aku akan kirimkan alamatnya padamu.”

~~~

Soojung baru saja sampai di lobi kantor saat dilihatnya beberapa pegawai tengah mengerumuni sesuatu.

“Apa yang kalian lakukan?”

Kedatangan Soojung membuat beberapa kerumunan itu nyaris bubar. Mereka langsung menundukkan badan secara bergantian, memberi hormat pada atasan mereka. Soojung masih penasaran. Ia melirik salah satu karyawan yang berdiri di paling tengah. Di tangannya bertengger sebuah ponsel –yang Soojung yakini sebagai barang yang tadi dikerumuni oleh para karyawan itu.

“Boleh aku melihat ponselmu?” Soojung menatap karyawan itu dengan tajam.

“Oh nde?” Karyawan itu nampak tak rela memberikan ponselnya pada Soojung, namun mau tak mau ia harus menuruti keingan atasannya itu.

Soojung mengamati layar ponsel itu dengan seksama. Nampak sebuah potret seorang pemuda tampan dengan surai kemerahan terpampang di sana.

“Siapa dia? Apa dia idol baru?” Soojung melempar tatapan heran.

“Manager tidak tahu dia siapa?” Salah satu karyawan bersuara.

“Apakah penting aku tahu dia siapa?” Soojung mendelik pada karyawan itu.

“Oh, dia adalah calon suami Samunim.”

“Apa?” Soojung kaget.

“Tidak perlu sekaget itu, Manager Jung. Kau berlebihan sekali,” Suara baritone itu membuat Soojung menoleh.

Didapatinya Jongin sedang berdiri di belakangnya. Semua karyawan satu per satu mulai membubarkan diri, menyisakan Jongin dan Soojung di sana.

“Semalam Samunim telah bertemu dengan calon suaminya. Apa kau tidak tahu?” Jongin bertanya sambil mengulum senyumnya.

Soojung menatap Jongin dengan tajam, seperti biasanya. “Aku belum bertemu dengannya. Wajar jika aku tak tahu. Menyingkirlah. Aku mau pergi ke ruanganku.” Soojung hendak beranjak dari sana, namun Jongin menarik lengannya lebih dulu.

“Yak—“ Soojung hampir saja berteriak jika saja ia tak segera sadar posisi mereka sekarang sedang berada di kantor.

“Bisakah kau meluangkan waktu sebentar? Aku—“ Manik tiba-tiba Jongin berubah sendu. “—Aku merindukanmu.”

Soojung terdiam sejenak. Sudah lama ia tak melihat Jongin seperti ini. Jongin dengan tatapan matanya yang begitu tulus. Soojung merindukan sosok Jongin yang seperti ini.

“Sunbaenim~” Suara manja itu menyadarkan Soojung. Mereka sama-sama menoleh dan mendapati seorang gadis baru saja memasuki lobi kantor. Soojung buru-buru menarik tangannya dari genggaman Jongin

“Ah, Hyemi-ssi,” Jongin menyapa gadis itu dengan wajah sumringah. Kini tatapan matanya telah berubah kembali.

“Sunbae, tadi aku singgah di kedai depan dan aku membawakanmu kopi. Semoga pagimu menyenangkan,” Gadis itu menyodorkan segelas kopi instan pada Jongin.

“Ah, terima kasih. Kau tak perlu repot-repot seperti ini,” Jongin menyambut kopi itu lalu mengelus surai panjang si gadis.

Soojung bak seorang figuran di sana. Ia hanya membisu. Diam-diam dilangkahkannya kakinya meninggalkan dua orang yang tengah bermesraan itu.

“Kau memang tidak pernah berubah, Kim Jongin. Dasar brengsek,” Seulas senyum sinis tercipta di wajah Soojung.

~~~

Seluruh pasang mata langsung tertuju pada Jiyong kala pemuda itu memasuki area kantor Jaeguk Group. Entah apa yang salah padanya, ia sendiri merasa agak risih mendapat sambutan seperti itu.

“Apa ada yang salah denganku? Apa ada sesuatu di wajahku? Atau pakaian ini terlalu santai untuk dipakai ke kantor? Ah seharusnya aku pakai jas tadi,” Jiyong meruntuk seorang diri. Ia melangkahkan kakinya memasuki lift. Sojin bilang ruangan Dara ada di lantai tiga. Itu artinya ia harus naik lift menuju lantai tiga.

Jiyong baru saja akan menekan kembali tombol lift, saat tiba-tiba seorang pria paruh baya ikut masuk bersamanya.

“Annyeonghasseo, Bugunim,” Lelaki itu menyapa Jiyong dengan ramah.

“Bugunim?” Jiyong menatap lelaki itu dengan heran. Kenapa juga lelaki itu harus memanggilnya dengan sebutan seperti itu?

“Oh, kenapa? Apa saya salah? Bukankah anda Kwon Jiyong?”  Lelaki itu balik bertanya pada Jiyong.

“Ya, saya memang Kwon Jiyong, tapi kenapa anda harus memanggil saya dengan sebutan Bugunim dan—hey, anda  juga tahu nama saya darimana?” Jiyong jadi semakin bingung sekarang.

Lelaki berkacamata itu terkikik pelan, “Tentu saja saya tahu dan semua orang di tempat ini pasti mengenal anda. Bukankah anda calon suami Samunim?”

“Sa…munim?” Jiyong menautkan kedua alisnya. Otaknya dipaksa berpikir untuk beberapa saat. Hingga akhirnya ia mulai mengerti dengan situasi yang ia hadapi sekarang. “Ah, maksud anda Sandara Park? Ah ya ya, saya memang calon suaminya. Senang bertemu dengan anda.” Jiyong langsung menundukkan badannya, memberi hormat pada lelaki itu.

“Ah, Bugunim. Jangan menunduk seperti itu. Saya disini hanya Direktur biasa. Jabatan saya bahkan jauh lebih rendah daripada jabatan Samunim,” Lelaki itu langsung memaksa Jiyong untuk menegakkan tubuhnya kembali. “Nama saya Boo Kangwoo. Saya sudah bekerja selama hampir 3 tahun di sini. Saya senang bisa bertemu dengan anda, Bugunim.”

Jiyong tersenyum tipis. Ada sedikit perasaan geli ketika ia melihat lelaki itu memanggilnya dengan sebutan Bugunim. Agak berlebihan memang, namun nyatanya Jiyong senang diperlakukan seperti itu. Bukankah itu artinya ia begitu dihormati dan disegani di sini?

“Bugunim, anda mau ke lantai tiga?” Lelaki itu kembali bersuara. Jiyong menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Ah, anda pasti mau bertemu dengan Samunim. Saya akan mengantar anda.”

“Ah, terimakasih. Anda tak perlu repot-repot.”

“Ah, sama sekali tidak repot. Saya akan membawa tuan dengan sampai dengan selamat di ruangan Samunim.”

Tawa mereka meledak seketika. Tak lama pintu lift terbuka dengan mereka telah sampai di lantai tiga. Jiyong berjalan mengikuti langkah Direktur Boo. Mereka memasuki area kerja karyawan. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Jiyong. Bahkan ada yang sampai berbisik-bisik.

“Bukankah dia calon suami samunim?”

 

 

“Ya, kau benar. Woah dia jauh lebih tampan daripada yang di foto.”

 

 

“Menyenangkan jika kita punya atasan sepertinya.”

Bisik-bisik itu pun sampai di telinga Soojung yang tengah berdiri di depan mesin Fotocopy.

“Ah, jadi dia calon suami Dara-eonnie. Lumayan juga,” Soojung bermonolog sendiri.

Tanpa basa-basi Direktur Boo langsung membawa Jiyong menuju ruangan Dara.

“Selamat pagi, Samunim,” Direktur Boo langsung memberi hormat pada Dara sesampainya mereka di ruangan gadis itu.

“Kau siapa?” Dara bersuara dingin. “Kau tahu ‘kan tidak sembarangan orang bisa masuk kemari. Kalau ingin minta tanda tangan, serahkan saja dokumennya pada sekretaris Kim dan lekas keluar sekarang juga.”

“Ah, maaf atas kelancangan saya, Samunim, tapi saya kemari karena ada hal penting,” Sahut Direktur Boo.

“Hal penting apa?” Tanya Dara.

“Saya membawa tuan Kwon Jiyong kemari,” Direktur Boo mengembangkan senyum selebar-lebarnya, berharap jika Dara dapat melihat senyumnya itu.

“Apa?” Dara nampak sedikit kaget.

“Chagi, aku sudah datang. Yak, aku sangat merindukanmu,” Jiyong berbicara dengan nada yang manja.

“Chagi?” Dara tersenyum sinis.

“Ah, sepertinya tugas saya sudah selesai di sini. Saya harus pamit. Saya benar-benar tidak mau mengganggu di sini. Saya permisi dulu.” Direktur Boo kembali menundukkan badannya lalu bergegas keluar dari ruangan Dara.

Kini yang tersisa hanya Dara dan Jiyong saja. Untuk beberapa saat tak ada yang bersuara. Dara sibuk menarik ulur napasnya sementara Jiyong sibuk memandang wajah Dara. Ah, Dara sangat cantik sekali di mata Jiyong pagi itu.

“Aku tak mengira kau akan diberi akses masuk dengan  mudah kemari,” Dara akhirnya mengeluarkan suara.

“Aku juga mengira begitu,” Jiyong mengempaskan tubuhnya di sofa yang ada di pojok ruangan. “Aku hanya datang kemari dan malah jadi pusat perhatian. Ah, rasanya seperti aku berubah menjadi seorang idol.”

“Kau senang?” Nada bicara Dara mulai terdengar sinis.

“Biasa saja. Aku sudah terbiasa jadi pusat perhatian—“ Jiyong menyahut dengan santai. “—karena ketampananku selalu menarik perhatian semua orang.”

“Haruskah aku tertawa sekarang?” Dara mengudarakan tawa di sela-sela ucapan meremehkannya itu. “Pergilah! Ini bukan tempat untuk bermain-main.” Tawa remeh itu memudar kembali berganti dengan mimik wajah yang begitu datar.

Seulas senyum tercipta di wajah tampan Jiyong, “Aku sudah jauh-jauh datang kemari. Kau benar-benar tidak menghargaiku. Aku merasa kecewa.”

“Berhentilah menggangguku. Aku tak punya waktu mengurusmu.”

“Yak, memangnya salah jika aku menemui calon istriku?”

“Calon istri?” Dara menatap Jiyong tepat di wajahnya –seolah ia bisa melihat Jiyong langsung dengan kedua maniknya. “Apa kau sedang bercanda? Berhenti menggangguku dan pergilah!”

Jiyong mengembuskan napasnya dengan kesal, “Apa kau benar-benar tak mengerti tujuan kedatanganku kemari?”

“Tak ada yang perlu kumengerti jadi pergilah.”

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”

Ucapan Jiyong itu membuat Dara membeku beberapa saat.

“Kita menjadi sepasang calon suami istri hanya dalam waktu semalam. Sebelumnya kita pernah bertemu dalam situasi tak saling mengenal. Hei, apa kau pikir itu masuk akal? Dua orang yang sama sekali tak saling mengenal akan hidup bersama untuk membangun bahtera rumah tangga. Aish, itu hal paling gila yang pernah kudengar. Jadi, mari kita berkencan sekarang.” Jiyong berucap panjang lebar dengan semangat yang begitu membara.

“Aku tidak mau,” Dara menolak dengan tegas.

“Apa? Yak, apa kau baru saja menolak ajakan kencanku? Woah, kau wanita pertama yang menolak ajakan kencanku. Kau tahu, biasanya wanita-wanita di luar sana mengantri untuk bisa sekedar berkenalan denganku, tapi kau malah menyia-nyiakan kesempatan ini. Woah, kau benar-benar hebat, Nona Park.”

“Benarkah yang kau katakan itu? Kalau begitu, berkencan saja dengan salah satu dari mereka. Aku tidak mau membuang waktuku untuk melakukan hal yang tak berguna.”

Jiyong menghela napas panjang. Ia tak tahu akan jadi sesusah ini untuk mengajak Dara sekedar berkencan. Ia memutar keras otaknya, mencari cara agar bisa menyeret gadis itu keluar dari kantornya.

“Hei, bukankah kau berhutang sesuatu padaku?” Pekik Jiyong setelah cukup lama berdiam diri.

“Hutang?” Dara menautkan kedua alisnya.

“Ya. Hutang. Kau lupa? Tempo hari aku menolongmu mencari kalung. Kau masih ingat bukan?”

Dara mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya, “Ternyata kau orang yang cukup pamrih ya. Lupakan saja. Itu bukan hutang. Hutang adalah sesuatu yang kau minta pada orang lain,” Dara berucap dengan santai. “Bukankah aku tidak memintamu untuk membantuku saat itu? Jadi bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai hutang?”

“Yak, meskipun kau tidak memintanya, tapi tetap saja aku yang menemukan kalungmu. Bayangkan jika tidak ada aku. Kau pikir akan jadi apa dirimu di sana?” Jiyong memekik kesal. ”Hujan-hujanan hanya untuk mencari sebuah kalung. Kau pikir orang waras mana yang mau melakukan hal itu. Kau tahu jika kau tidak akan mampu mencarinya sendiri. Apa susahnya meminta bantuan orang lain? Kau gengsi atau apa? atau kau mau keliatan sok kuat di depan orang lain?”

Tiba-tiba Dara melempar pajangan di mejanya yang terbuat dari kaca. Pajangan itu hampir saja mengenai wajah Jiyong jika saja ia tak sigap untuk menghindar. Jiyong membeku untuk beberapa saat. Ditatapnya kepingan pajangan yang telah pecah itu. Ia sama sekali tak percaya jika gadis itu bisa melempar hampir tepat pada sasarannya.

“Kau lihat benda itu?” Dara melempar tatapan yang sangat tajam pada Jiyong. “Jika kau tidak segera menutup mulutmu, maka nasibmu akan jadi sama seperti benda itu. Pergilah sekarang sebelum aku benar-benar menghancurkanmu.”

~~~

Taekwoon masih terus memacu mobilnya di jalanan. Hari ini cuaca sangat cerah dan ia berencana untuk hunting foto. Pameran fotonya akan segera dilaksanakan dalam hitungan minggu. Ia dan rekan kerjanya harus bekerja lebih keras. Sebagai seorang fotografer tentunya Taekwoon sudah memimpikan hal ini sejak dulu.

Taekwoon membelokkan mobilnya di depan sebuah toko bunga. Sebelum pergi ke lokasi hunting, ada satu hal yang ia ingin lakukan lebih dulu.

“Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pelayan menyambut kedatangan Taekwoon.

“Saya ingin membeli sebucket bunga,” Sahut Taekwoon.

“Ah, saya akan membantu anda memilih. Kalau boleh tahu, bunga seperti apa yang anda cari?”

Taekwoon terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menyahut dengan seulas senyum yang begitu manis, “Bunga yang bisa kita berikan pada orang yang telah lama kita rindukan.”

~~~

Jiyong masih merinding, bahkan hingga dirinya telah meninggalkan lobi hotel. Ia masih saja berusaha mengembalikan kesadarannya. Dara adalah gadis yang buta, tapi kejadian barusan menyadarkannya bahwa Dara bukanlah gadis biasa. Ia takkan mudah untuk ditaklukkan.

“Dia menyeramkan sekali. Ah, dia bahkan hampir melukai wajah tampanku,” Jiyong bergumam sendirian sambil masuk ke dalam mobilnya. “Kwon Jiyong, apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Bahkan langkah awal saja kau sudah gagal.” Jiyong mengacak-acak rambutnya frustasi.

Tok tok tok

Jiyong hampir saja melompat dari kursinya saat seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya.

“Oh aku kaget,” Jiyong mengelus-elus dadanya lalu menatap si pelaku dengan seksama. “Direktur Boo?”

Jiyong buru-buru keluar dari mobilnya, menemui Direktur Boo yang telah menunggunya dengan senyum yang sumringah.

“Bugunim, anda tidak apa-apa? Ah, kudengar ada sedikit keributan di ruangan Samunim,” Tanya Direktur Boo.

“Aku tidak apa-apa. Wajar jika ada pertengkaran dalam sebuah hubungan. Kami hanya ribut biasa,” Sahut Jiyong.

“Sepertinya Samunim juga bersikap dingin pada kekasihnya. Woah, Samunim memang gadis yang luar biasa. Anda pasti kesusahan untuk mendekatinya,” Direktur Boo berucap lagi sambil mengumbar tawanya yang khas. “Bugunim, apa anda butuh bantuan saya?”

“Nde?” Jiyong menatap Diretur Boo dengan heran.

“Maksud saya, jika anda butuh bantuan, jangan sungkan untuk memintanya kepada saya. Saya pasti akan membantu anda,” Sahut Direktur Boo.

“Benarkah kau akan membantuku?”

“Saya pasti akan membantu anda, Bugunim.” Sahut Direktur Boo dengan suara tegas.

Seulas senyum tercipta di wajah Jiyong, “Kalau begitu, bisakah anda membantu saya untuk kencan dengannya?”

~~~

“Byulra-ya, maafkan aku.”

Suara Seungri mengudara dengan pelan. Saat ini ia sedang duduk bersebelahan dengan kekasihnya di dalam taksi. Yeah, setelah Jiyong tidak meminjamkannya mobil, terpaksa ia pergi berkencan dengan Byulra menggunakan taksi.

“Tidak apa-apa, oppa. Aku mengerti. Mobil mahal seperti milikmu memang harus diservis secara rutin.” Byulra menyandarkan kepalanya ke pundak tegap Seungri.

Yeah, sebuah kebohongan kembali Seungri ciptakan. Alih-alih jujur, ia justru memilih berbohong pada Byulra dengan mengatakan mobilnya sedang diservis. Tentu saja ia malu jika ketahuan mobil mahal yang semalam ia bawa bukan miliknya.

“Ngomong-ngomong, kita mau kemana sekarang? Kita mau makan atau jalan-jalan saja?” Tanya Seungri di sela-sela aktivitasnya menghirup wangi rambut sang gadis.

“Ummm—sebenarnya aku ingin mengajak oppa ke suatu tempat hari ini. Reuni SMA.”

“Reuni SMA?” Seungri menautkan kedua alisnya.

“Ne. Maafkan aku karena tidak membicarakannya lebih dulu. Tapi, aku benar-benar ingin memperkenalkan oppa pada teman-temanku. Oppa tidak keberatan ‘kan?”

“Ah, tentu saja tidak. Reuni SMA terdengar menyenangkan. Oppa akan menemanimu.”

Seungri mencubit pipi Byulra dengan gemas. Tak lama mereka tiba di sebuah café, tempat acara reuni SMA Byulra berlangsung. Beberapa orang nampak telah menunggu dan menyambut kedatangan mereka dengan hangat.

“Semuanya perkenalkan. Ini pacarku, namanya Lee Seungri,” Byulra memperkenalkan Seungri di depan teman-temannya.

“Ah, annyeonghasseo. Namaku Lee Seungri,” Seungri menundukkan badannya, memberi hormat pada setiap orang yang ada di sana.

Mereka memberi sambutan yang hangat pada Seungri. Acara Reuni itu cukup sederhana. Ada sekitar tiga puluh orang yang datang. Mereka memesan beberapa meja dan menikmati makan siang bersama.

“Dari tadi aku tidak melihat Yoona. Apa dia tidak datang?” Salah satu gadis dengan surai diombre ungu bersuara.

Seungri berhenti mengunyah pizza yang ada di mulutnya ketika nama Yoona di sebut.

“Yoona?” Byulra menautkan kedua alisnya. “Maksudmu Im Yoona?”

“Tentu saja. Memangnya di sekolah kita ada berapa murid yang namanya Im Yoona?” Gadis bersurai pirang menyahut dengan suara cempreng.

Tidak salah lagi. Itu pasti Im Yoona, gadis yang belum resmi diputuskan oleh Seungri. Seungri kembali mengunyah pizza, berusaha agar terlihat tenang.

“Ah, kita sedang bersenang-senang sekarang, kenapa kita harus membicarakan si centil itu sih?” Nada bicara Byulra mendadak jadi sinis.

“Si centil?” Gadis bersurai pirang itu tertawa. “Yak, Cheon Byulra, kau masih kesal padanya? Kau masih tidak terima ya karena dia merebut Seunggi darimu?”

“Yak, tutup mulutmu! Kau mau kusiram dengan jus ya,” Geram Byulra kesal.

Kedua temannya itu hanya menanggapi dengan tawa.

“Yak, Cheon Byulra, dia tidak merebut Seunggi darimu. Bukankah kalian memang sudah putus saat Seunggi menyatakan perasaan pada Yoona?” Gadis dengan rambut berombre ungu itu masih terus berusaha menggoda Byulra.

“Aish, sudah kubilang, tutup mulut kalian! Kejadian itu sudah lama berlalu. Lagipula sekarang aku sudah memiliki Seungri-oppa. Iya ‘kan oppa?” Byulra mulai bergelayut manja di lengan Seungri.

“Ah iya. Tentu saja,” Seungri menyahut dengan senyumnya. Ia mengembuskan napas lega. Bersyukur Yoona tak datang dalam acara reuni itu. Jika tidak, maka tamatlah riwayatnya hari itu.

~~~

Siang itu Dara, Soojung dan Jongin akan melakukan kunjungan ke salah satu rumah singgah milik yayasan Jaeguk Group di Busan. Mereka akan melakukan kunjungan singkat dan menjenguk anak-anak yang tinggal di sana.

“Hari ini kita akan naik mobil kantor.”

“Apa?” Ucapan Jongin itu direspon Dara dengan nada kaget.

“Hari ini kebetulan kantor menyediakan jasa transportasi bagi kita, jadi Samunim harus berangkat dengan kami menaiki mobil itu.” Sahut Jongin lagi.

“Kau gila? Kalian bedua saja yang naik mobil itu. Aku akan tetap diantar oleh supir pribadi,” Dara menolak mentah-mentah.

“Ummm—eonnie, sepertinya kali ini kau harus ikut bersama kami. Bukankah kebijakan jasa transportasi itu adalah ide eonnie? Kalau karyawan melihat eonnie melakukan perjalanan bisnis dengan kendaraan pribadi, bukan tidak mungkin juga ada karyawan yang protes nanti,” Soojung berusaha membujuk Dara juga.

Dara mengembuskan napas panjang. Bukan karena ia sombong atau apa, tapi Dara memang lebih aman dan nyaman berkendara dengan kendaraan pribadinya. Benar juga apa yang dikatakan Soojung. Kebijakan tentang jasa transportasi adalah salah satu program kerja yang diusulkan Dara. Jadi sudah seharusnya Dara juga mengikuti program kerja yang telah ia buat bukan?

“Baiklah terserah kalian saja.”

Akhirnya Dara menyerah. Soojung langsung menuntun Dara menuju keluar kantor, sementara Jongin segera mempersiapkan berbagai dokumen yang akan dibawa dalam perjalanan bisnis mereka siang itu. Soojung membawa Dara memasuki sebuah mini van berwarna silver dengan logo perusahaan Jaeguk Group yang tertera jelas di body samping mobil mereka.

“Soojung-ah, tolong nyalakan AC-nya,” Suruh Dara setelah ia duduk di kursi belakang.

“Ne, eonnie,” Soojung baru saja akan menyalakan AC untuk Dara saat sebuah suara dari luar mobil terdengar memanggilnya.

“Manager Jung!”

Soojung menoleh dan mendapati seorang lelaki paruh baya di luar sana, “Direktur Boo? Ada apa?”

“Bisa kau bantu aku sebentar?” Tanya lelaki itu dengan wajah panik.

“Bantu apa?” Soojung balik bertanya.

“Ada satu dokumen yang harus dibawa Samunim dalam perjalanan bisnisnya hari ini, tapi aku lupa mencetaknya semalam. Bisakah kau pergi ke ruanganku untuk mencetaknya sebentar?”

“Nde?” Soojung memasang polos.

“Kumohon. Bantulah aku. Aku sudah cukup tua untuk turun naik lift.”

“Eonnie, tunggu sebentar ya. Aku akan segera kembali,” Soojung melirik Dara sebentar.

Soojung berdecak sebal. Kenapa ia mesti jadi ikutan repot sekarang? Ia keluar dari mobil lalu segera menuruti perintah atasannya. Tepat saat Soojung menghilang di balik pintu lift, Direktur Boo memberi isyarat pada seseorang. Seorang pemuda dengan topi hitam yang menutupi kepalanya keluar dari balik tembok. Mereka sempat ber-high-five sebelum akhirnya pemuda itu masuk ke dalam mobil.

“Bugunim, semoga kencanmu sukses. Fighting~” Direktur Boo memberi semangat lewat gestur tubuhnya.

Pemuda itu –Jiyong- hanya membalasnya dengan senyum lebar lalu segera menyalakan mesin dan membawa mobil itu pergi.

“Terimakasih atas bantuanmu, Direktur Boo,” Gumam Jiyong dalam hati.

~~~

Taekwoon memarkir mobilnya tepat di halaman depan kediaman keluarga Park. Ia segera turun sambil membawa seikat bunga merah. Dengan senyum yang merekah ia melangkahkan kakinya masuk. Seorang pelayan nampak menyambutnya dengan senyum ramah.

“Selamat siang, tuan. Anda ingin menemui siapa?” Tanya pelayan itu dengan ramah.

“Saya Jung Taekwoon. Saya sepupu dari Sandara. Ada seseorang yang harus kutemui di sini,” Sahut Taekwoon.

“Apa tuan ingin menemui Nona Dara?” Tanya pelayan itu lagi. “Sayang sekali, Nona Dara pergi ke kantor hari ini. Beliau baru akan kembali saat malam hari.”

Seulas senyum tercipta di wajah tampan Taekwoon, “Tidak. Aku bukan ingin menemui sepupuku. Aku ingin menemui Seulgi.”

“Seulgi?” Pelayan itu nampak sedikit kaget. “Maksud anda Kang Seulgi?”

“Ya. Kang Seulgi. Dia masih bekerja di sini ‘kan?”

“Oh iya. Dia adalah pelayan pribadi Nona Dara.”

“Baguslah. Bisa kau panggilkan dia untukku. Katakan padanya aku menunggu di halaman belakang.”

“Ah, baiklah, tuan.”

Pelayan itu baru saja akan melangkahkan kakinya pergi, namun suara Taekwoon kembali menahannya.

“Tunggu dulu!”

Pelayan itu berpaling dan menatap Taekwoon lagi.

“Tolong jangan katakan namaku padanya. Oke?”

Seulgi sedang sibuk merangkai bunga di kamar Dara saat salah satu pelayan menghampirinya dan mengatakan ada seorang tamu yang menunggunya di taman belakang. Seulgi heran. Selama ini ia tak pernah punya teman dekat. Bagaimana mungkin ada seseorang yang datang bertamu padanya? Meski ragu, Seulgi tetap pergi ke halaman belakang. Dengan tenang dilangkahkannya kaki mungilnya menuju halaman belakang. Namun, langkahnya terhenti kala di dapatinya sosok Taekwoon di sana.

“Seulgi-ya~”

Taekwoon menyambut Seulgi dengan wajah sumringah. Wajah itu… Suara itu… Bahkan senyum itu… Tak ada satupun yang berubah dari dirinya. Taekwoon masih sama persis seperti yang Seulgi ingat dulu.

“Taekwoon-oppa,” Tak ada yang dapat Seulgi katakan selain menyebut nama itu. Bahkan untuk sekedar kaget saja mungkin sudah terlambat sekarang.

“Apa yang kau lakukan? Kau tidak mau menghampiriku?”

Suara Taekwoon menyadarkan Seulgi jika jarak mereka kini sudah tak jauh lagi. Seulgi memangkas jarak di antara mereka. Dihampirinya pemuda yang sedang duduk dengan santai di pondokkan itu.

“Untukmu,” Taekwoon menyodorkan seikat bunga yang ia beli tadi.

Seulgi menyambut bunga itu dengan seulas senyum tipis, “Terimakasih, oppa. Omong-omong, kapan oppa sampai di sini?”

“Sekitar beberapa hari yang lalu. Aku kembali untuk mengadakan pameran di sini. Kau harus datang ya,” Jawab Taekwoon masih dengan senyumnya yang tak terus diumbar.

“Aku sibuk bekerja. Nona Dara mungkin akan marah jika aku pergi.”

“Ah, aku akan bicara pada Noona. Akan kuminta dia untuk memberimu izin.”

Seulgi tertawa kecil, “Kau tak perlu serepot itu, oppa.”

Dan percakapan singkat itu terjadi begitu saja. Mengalir seperti air, tanpa ada yang bisa menghambatnya. Beberapa menit mereka larut dalam obrolan ringan mereka. Sesekali tawa mereka mengudara dan mereka sadar betapa tahun-tahun sebelumnya terlewati dengan sangat sepi. Mereka seolah menemukan jiwa mereka yang hilang saat berpisah.

“Kau tahu bunga apa yang kuberikan padamu itu?” Taekwoon menunjuk bunga yang tadi ia berikan pada Seulgi.

“Aku sering merangkai bunga di kamar Nona Dara, tapi aku tak pernah menemukan bunga seperti ini. Aku tidak tahu, oppa,” Sahut Seulgi.

“Itu adalah bunga Ambrosia,” Pandangan Taekwoon masih terus tertuju pada bunga cantik berwarna kemerahan itu. “Penjaga toko bunga itu bilang jika Ambrosia adalah lambang cinta lama yang dimulai kembali. Ambrosia menggambarkan cinta yang terbalaskan, bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.”

Seulgi terdiam sebentar, terpaku mendengar penuturan Taekwoon. Tak dapat ia pungkiri jika kini hatinya berdesir, “Ini bagus. Selain cantik, bunga ini juga punya makna yang baik. Aku suka. Sekali lagi terimakasih, oppa.”

“Seulgi-ah,” Taekwoon kini mengalihkan maniknya pada Seulgi. “Bisakah kita memulai semuanya sekarang?”

Seulgi kembali terdiam. Ia tak dapat berkata apa-apa. Tatapan mata Taekwoon mengingatnya pada kejadian bertahun-tahun sebelumnya. Saat mereka belum sempat terpisahkan dalam jangka waktu yang lama.

“Sebenarnya aku tidak ingin mengulang kalimat yang sama karena aku sudah mengatakan kalimat ini dulu padamu,” Taekwoon kembali bersuara. “Lima tahun sudah berlalu. Kau dan aku sama-sama sudah berpisah dalam rentan waktu itu. Tidakkah kau rasa ini waktu yang tepat untuk memulai semuanya?”

Seulgi menundukkan kepalanya, menyembunyikan maniknya yang mungkin kini sudah berair. Ya, tentu saja ia masih mengingat semua yang Taekwoon katakan lima tahun yang lalu. Semua kata-kata manis Taekwoon tentang perasaan cintanya pada Seulgi. Ia masih mengingatnya, namun perasaan itu masih tetap sama. Seulgi masih bimbang untuk memutuskan semuanya.

“Kurasa belum waktunya bagi kita untuk memulai semuanya,” Ucap Seulgi dengan suara yang bergetar. “Kita masih belum siap untuk memulai semuanya. Masih banyak yang harus kulakukan. Oppa juga harus terus berjuang agar menjadi photographer hebat. Apa oppa  lupa tentang impian oppa?”

Taekwoon menundukkan kepalanya untuk beberapa saat. Jelas ia terlihat kecewa dengan jawaban Seulgi. Bertahun-tahun ia menunggu, namun jawaban Seulgi tak ada bedanya dengan jawabannya yang dulu. Taekwoon mengangkat kepalanya perlahan. Dikembangkannya seulas senyum, berusaha agar tak terlihat kecewa di depan Seulgi.

“Baiklah. Itu bukan masalah. Ini hanya masalah waktu bukan?” Taekwoon mengelus surai panjang Seulgi, membuat gadis itu tersenyum tipis membalas perlakuannya.

~~~

Soojung dan Jongin sama-sama kaget ketika mendapati mobil kantor yang akan mereka pakai justru pergi meninggalkan mereka.

“Apa yang terjadi? Kenapa mereka meninggalkan kita?” Jongin sama sekali tak percaya jika mereka ditinggalkan.

“Siapa supir itu? Yak, cepat hubungi mereka. Di sana ada Dara-eonnie. Bagaimana jika yang membawa mobilnya adalah orang jahat?” Soojung menatap Jongin dengan tatapan khawatir.

 “Benarkah? Aku akan segera menghubungi mereka.” Jongin baru saja akan mengeluarkan ponselnya dari saku, namun suara Direktur Boo menginterupsi kegiatannya.

“Tidak perlu seheboh itu, Sekretaris Kim, Manager Jung.”

“Diretktur Boo?”

Mereka berdua sama-sama menatap sosok itu dengan heran.

“Ini adalah rencanaku. Kalian tidak perlu khawatir karena yang membawa Samunim bukanlah orang jahat, melainkan calon suaminya,” Ucap Direktur Boo dengan senyum yang merekah di wajahnya.

“Apa? Calon suaminya?” Jongin memasang wajah kaget.

“Yak, apa-apaan ekspresimu itu? Kau tidak senang jika melihat sepasang kekasih pergi bersama?” Direktur Boo menunjuk wajah Jongin dengan jarinya. “Mereka itu adalah sepasang kekasih yang butuh waktu berdua. Berikan saja mereka waktu. Tidak mungkin jika bugunim berbuat jahat pada Samunim. Kalian tidak perlu cemas.”

Soojung dan Jongin sama-sama menghela napas panjang.

“Kalau Samunim pergi bersama calon suaminya, lalu siapa yang akan menggantikannya bertugas?” Jongin menatap Direktur Boo, menuntut pertanggungjawaban atas ulah lelaki itu.

“Kalian pikir siapa lagi yang bisa menggantikannya? Tentu saja kalian berdua. Pergilah ke Busan sekarang,” Direktur Boo menyahut dengan santai.

“Mwo?!” Soojung dan Jongin kompak bersuara.

~~~

“Siapa kau? Yak, katakan padaku siapa kau sebenarnya atau aku akan menghubungi polisi sekarang juga,” Dara memekik saat ia sadar jika mobil yang ia tumpangi bergerak sendiri. Padahal Soojung dan Jongin belum ikut bersamanya.

“Hei, tidak usah sepanik itu,” Jiyong melepas topi hitam yang sejak tadi menutupi kepalanya. “Ini aku. Kwon Jiyong. Calon suamimu.”

“Apa?” Dara memekik tak percaya.

“Aku tidak akan berbuat jahat padamu. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan. Karena susah sekali membawamu kencan, aku terpaksa melakukan ini,” Jiyong masih terus fokus pada jalanan di depannya.

“Apa kau sedang bercanda? Sudah kubilang ‘kan aku tidak mau pergi denganmu.”

“Aish, tidak usah teriak seperti itu. Santai saja,” Jiyong mengusap-usap telinganya yang panas karena teriakan Dara. “Sudah kubilang ‘kan aku tidak akan macam-macam padamu. Aku hanya ingin mengajakmu kencan. Mungkin kita akan makan atau jalan-jalan.”

“Jangan bercanda. Turunkan aku sekarang atau—“

“Atau apa? Kau melempariku lagi?” Jiyong buru-buru menyela ucapan Dara. “Coba saja jika kau berani. Sekali kau melemparku, maka kita akan kecelakaan. Asal kau tahu saja ya sekarang aku sedang menyetir. Jika kau mengganggu konsentrasiku, maka bukanlah tak mungkin kita akan celaka.”

Dara mengembuskan napas panjang sembari menahan kesal. Sialan! Bahkan sekarang Jiyong sudah berani mengancamnya.

“Tolong luangkan waktumu sebentar saja. Aku akan mengajakmu bersenang-senang hari ini. Jadi, duduk dengan manis ya, Nona Dara.” Jiyong tertawa penuh kemenangan bersama dengan mobilnya yang melaju di jalanan.

Sepertinya hari itu akan jadi hari yang panjang bagi Dara. Untuk pertama kalinya ia akan kencan bersama seorang pria, sementara Jiyong sudah menyiapkan seribu satu macam jurus untuk meluluhkan hati calon istrinya itu.

~~~

 Pengacara Han masih sibuk dengan setumpuk dokumen yang di atas mejanya. Beberapa hari ini pikirannya tengah terganggu dengan beberapa masalah, mulai dari masalah keluarga Park hingga masalah Perdana Menteri. Tentu saja hal itu membuat Pengacara Han merasa stress beberapa hari belakangan.

“Ada surat untuk anda, Tuan,” Sekretaris Pengacara Han tiba-tiba masuk dengan sebuah amplop berwarna putih yang langsung ia sodorkan pada lelaki itu.

“Ah, terimakasih.”

Pengacara Han menyambut amplop tersebut. Diamatinya sebentar surat yang ditujukan padanya itu. Tak ada nama pengirim yang tertera di sana. Dengan sedikit curiga, dibukanya surat tersebut dan dibacanya. Mata Pengacara Han menelusuri tiap huruf yang tertera di sana dengan seksama. Beberapa sekon berikutnya, maniknya membulat sempurna. Ia membeku dan kertas surat itu terlepas dari tangannya.

Wajah pengacara Han memucat dan keringat dingin mendadak mengalir dari keningnya. Ia meraih ponselnya lalu segera menghubungi seseorang.

“Ny. Park, ada yang mengirimiku surat terror,” Ucapnya dengan suara yang bergetar menahan takut.

‘Pengacara Han,

Pilihanmu saat ini memang telah tepat.

Selamat datang di kubu yang baru.

Selamat datang juga di neraka yang baru.

Kau pikir, apa aku akan membiarkanmu tetap hidup setelah ini?

Nikmati hidupmu sekarang sebelum aku benar-benar akan membunuhmu.’

 

 

=Chapter 5 : END=

 

 

Aloha reader-nim~

Huah akhirnya chapter 5-nya selesai dan bisa diposting /lap-lap keringet

Gak nyangka sih bisa selesai secepat ini, padahal tugas lagi banyak /ketahuan banget ini authornya suka ngulur-ngulur waktu buat ngerjain tugas

Sebenarnya nulis FF adalah selingan aktivitasku selain ngampus tentunya, tapi kadang aku susah juga untuk memprioritaskan salah satu. Kadang lebih banyakan waktu mantengin laptop buat ngetik FF daripada ngerjain tugas :”) Lha, maklum aja kalo kelamaan gak nulis, author takut semua ide yang ada di otak ini cepat menguap

Buat para readers yang kemaren-kemaren sebel banget gegara ngeliat Sojin mulu di FF ini, tuh udah author kurangin jatahnya Sojin di sini 🙂

 

 

Yeay, akhirnya di chapter ini Jiyong dan Dara udah resmi kencan /emoticon terompet /emoticon kembang api

Sedikit spoiler nih, di next chapter bakal diceritain gimana serunya acara kencan Jiyong ama Dara. Sebenarnya mau diceritain di chapter ini, tapi karena udah panjang banget akhirnya terpaksa author cut dan dimasukin ke chapter selanjutnya aja. So, siapkan hati kalian buat baca momen-nya Daragon waktu dating mueheheehe

 

 

 

-Hana

Advertisements

38 thoughts on “SNEEUWWITJE [Chap. 5]

  1. Wow dara ‘mengerikan’, keren banget dia disini, thor. Walaupun buta tapi dia ngga bener-bener buta (yang ngga ngerti apa-apa) awesome! Hmm by the way agak aneh yah kalo jiyong yang notabene selalu ‘memberikan perintah’ sekarang dia disini harus ‘mengikuti perintah’ nyonya park, hahaha but overall keren seperti biasa thor! fighting fighting~ 🙂

  2. Aku suka kepribadian dara yang nggak mudah diambil hatinya dan justru itulah pesona dara unnie yg sebenarnya. Semoga jiyong cepet cepet jatuh cinta beneran ke dara nya. Untuk authornya, semangat buat ngejalanin aktivitasnya. Fighting!!😁😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s