Bad Boy For Bad Girl [Chap. 8]

BFB Cover

Author: ElsaJung | Cast: Sandara Park/Dara – 2NE1, Kwon Jiyong/G-Dragon – BigBang, Jung Sooyeon/Jessica | Support Cast: Choi Seunghyun – BigBang, Park Bom – 2NE1, Dong Youngbae – BigBang, Kang Daesung – BigBang, Lee Seunghyun/Seungri – BigBang | Genre: Comedy, Romance, a little bit sad | Rating: Teen | Lenght: Chaptered/Series

.

.

.

.

Bab 8

BYURR!!

Sesaat setelah mendengar kalimat dari orang asing itu, Dara terdorong. Gadis itu kehilangan keseimbangan sampai terjatuh ke dalam kolam renang.

Bunyi kecipakan air menggema.

“Selamatkan dirimu.” Ujar seseorang yang berjalan mundur sembari mengencangkan mantelnya. “Berteriaklah, nona. Tidak ada yang bisa mendengarmu.”

“To-long-” Ucap Dara tertahan karena air memasuki mulutnya.

“Selamat tinggal.” Orang itu menutup pintu ruang kolam renang bawah tanah, lalu menguncinya dari luar.

Batin Dara berteriak. Ketakutan menyelimuti tubuhnya. Ia benci kolam renang. Ia tidak suka!

Seseorang, tolong aku.

***

“Ada orang di sana?” tanya seorang laki-laki berjalan mengendap-endap di jalanan petang yang mengarah menuju kolam renang bawah tanah.

Laki-laki itu sudah berkeliling kesana-kemari untuk mencari seseorang yang sangat ingin dilihatnya tiga belas tahun belakangan ini. Tiga belas tahun? Ya, selama itu ia mencari-cari gadis yang telah bersemayam di hatinya dalam waktu lama. Ia datang dari Swiss kurang lebih seminggu lalu. Selama seminggu itu pula ia mengalami jet lag. Tapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena semuanya sudah tertata rapi, baik itu masalah sekolah, tempat tinggal dan lainnya.

Syukurlah ketika laki-laki itu berjalan seperti orang linglung di koridor sekolah, ada seorang laki-laki lain yang mengatakan bahwa orang yang dicarinya berlari menuju kolam renang bawah tanah dengan tergesa-gesa beberapa menit lalu. Karena tidak sanggup menahan rindu yang amat dalam, ia segera berlari secepat kilat menuju tempat itu – kolam renang bawah tanah.

Sesuatu mengejutkannya. Ia tidak menemukan siapa pun di sekitar kolam renang bawah tanah. Tidak selain suara kecipakan air yang terdengar begitu jelas merambat melalui udara hingga sampai ke telinganya. Alih-alih penasaran, laki-laki itu semakin mempercepat langkahnya.

Anehnya, saat ia hendak membuka pintu ruangan itu, pintu tersebut terkunci dari luar.

Tenggelam!

Seseorang tenggelam di sana!

Ya Tuhan, apa yang harus dilakukannya?!

Laki-laki itu memutar kunci yang tertancap di dalam lubangnya. Tidak ada yang ada di pikirannya selain menyelamatkan seseorang yang tengah berusaha merah pinggiran kolam demi mempertahankan nyawanya. Ia segera melucuti almamater yang dikenakannya, membuangnya asal ke lantai, lalu menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Tidak terlalu dalam, tapi cukup membuat seseorang yang ketakutan tenggelam.

Yap! Ia berhasil meraih tangan orang itu. Cukup sulit menuntunnya ke tepian karena orang itu tak berhenti memberontak. Bukan memberontak karena tidak mau diselamatkan, tapi memberontak karena terlalu takut sesuatu yang lebih buruk akan menimpanya. Langkah selanjutnya, laki-laki itu menarik paksa tangan seseorang yang sedang digenggamnya. Ia berenang perlahan ke tepian, kemudian menggendong tubuh orang itu sampai keduanya berada di daratan.

Seorang gadis?

“Nona, kau baik-baik saja?” tanyanya menepuk-nepuk pipi gadis yang terbaring di pangkuannya.

Gadis itu terbatuk-batuk. Ah, Tuhan masih menghendakinya menghirup udara segar. Ya, gadis itu selamat meski wajahnya menunjukkan raut ketakutan.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit.”

“Ti-dak. Jangan.”

“Kau sudah sadar? Apa kau terluka?” laki-laki itu menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah seseorang yang baru saja diselamatkannya. “Da-Dara? Sandara Park?”

Huh?” Dara mengerutkan keningnya dengan mata yang masih terpejam.

“Aku Chanyeol. Chan-yeol” Seru laki-laki itu mengguncang tubuh Dara.

“Chan-” Mata Dara terbuka perlahan. “Chanyeol?” tambahnya mencoba meyakinkan diri dengan menelusuri setiap bagian wajah laki-laki yang menatap prihatin ke arahnya. “Chanyeol!!” Dara bangkit dari posisi terlentangnya. Kini, ia memeluk erat Chanyeol.

Chanyeol mengusap rambut Dara lembut – tak peduli pada seragamnya yang basah. “Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana bisa kau tenggelam dan terkunci di sini? Dara-ah, apakah seseorang mengganggumu? Jelaskan padaku!”

“Aku takut, Chan-ah.” Tangis Dara pecah dalam pelukan Chanyeol. Ia mencengkram kuat bahu laki-laki itu. Percayalah, Dara sangat takut. Dara takut ia mati karena insiden mengerikan itu.

“Tidak perlu takut. Kau selamat, Dara. Kau aman bersamaku.”

Sungguh. Dara tidak habis pikir. Bagaimana bisa ia tidak takut sementara orang gila itu berada di segala tempat, menerornya, bahkan tak segan-segan hampir membunuhnya. Mungkin Dara merasa aman jika ada seseorang di dekatnya, terlebih orang itu bisa melindunginya. Tapi, apa yang akan terjadi jika ia sendirian? Apa yang harus dilakukannya? Kenapa ini menimpanya? Apa salahnya?

Sumpah demi apa pun, Dara sangat takut.

***

“Perlukah kami menyelidikinya?” tanya Daesung terus mengetuk layar menderita benda persegi di genggamannya. “Maksudku, aku dan Seungri. Kami adalah detektif terbaik di Korea.”

“Benar. Kami sangat hebat.” Seungri membanggakan diri—sok keren.

“Terlalu hebat dan kurang kerjaan sampai kalian menyelidiki remot televisi Jiyong, bukan begitu?” Puji Youngbae yang terkesan seperti kalimat cibiran.

Seungri meringis lebar. “Mencari remot televisi di rumah sebesar ini adalah hal yang sulit. Kau tidak bisa meremehkan pekerjaan kami.” Ujarnya mengibaskan tangan seolah-olah berkata-setidaknya-aku-lebih-baik-dari-kau-yang-hanya-bisa-mengerjakan-soal-matematika.

“Ya, terserahlah.” Balas Youngbae dengan ekspresi wajah yang seolah-olah berkata-aku-tidak-peduli-pada-pekerjaanmu-atau-pun-remot-televisi-Jiyong—kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Jiyong yang tengah mondar-mandir gusar di hadapannya. “Memangnya apa yang terjadi pada kalian berdua? Kalian bertengkar? Ah, sudah kutebak.” Youngbae asal mengambil kesimpulan seperti biasa. Bedanya kali ini tidak menggunakan rumus matematika.

“Bukan.” Jawabnya yang kini beralih menggigiti kuku jarinya. Jiyong tahu Youngbae sedang bercanda. Sayangnya Jiyong tidak memiliki sedikit pun mood baik untuk tertawa.

Daesung yang sejak awal menawarkan jasanya tanpa tahu masalah Jiyong pun mulai ikut penasaran. “Kalau begitu apa? Jangan buat kami menebaknya, Jiyong.”

Jiyong mendaratkan tubuhnya di sofa di dekat Youngbae. “Seorang junior berkata kepada Dara bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya di kolam renang bawah tanah. Tadinya aku ingin ikut dan memastikan kalau dia tidak dijebak. Ya, meski aku tahu fantasiku terlalu berlebihan, tapi kalian tentu mengerti banyak siswa yang tidak menyukainya.”

“Jadi, kau khawatir, begitu?” Sela Daesung.

“Hah?” Jiyong tercengang. Dia memang khawatir—sangat khawatir. Tapi, mengakui hal itu sama saja dengan menginjak-injak harga dirinya. “Ti-tidak. Justru aku mengkhawatirkan orang yang menjebaknya. Dia mungkin mati babak belur karena dihajar oleh Dara yang membabi buta.”

“Kalau begitu, dia baik-baik saja. Dara lebih mengerikan dari monster, raksasa, tyrex dan Pemimpin Yakuza dijadikan satu. Sungguh, dia idolaku.” Seungri berdecak penuh rasa kagum.

Semua kalimat penuh kekaguman yang baru diucapkan Seungri tidak membuat Jiyong tenang. Meskipun Jiyong mengakui kekuatan Dara yang luar biasa dan jauh dari kata normal, tapi sebenarnya Dara tidak sehebat itu mengingat Jiyong pernah melihatnya menangis hanya karena hal kecil. Okay, Jiyong benar-benar takut apa yang tidak diinginkannya terjadi. Suasana hati Dara tampak tidak baik sejak sepulang dari liburan. Meski menebak bukan hal yang baik, tapi Jiyong yakin bahwa Dara tengah mengalami kesulitan.

Mungkinkah dia dijebak? Mungkinkah seseorang yang menunggunya di kolam renang adalah orang jahat? Mungkinkah Dara sengaja menyembunyikan semua itu dari Jiyong? Tapi, kenapa?

Astaga, ini terlalu berlebihan! Jiyong tak bisa berpikir jernih. Ia ingin menghubungi Dara, namun ia tidak bisa melakukannya. Dara beberapa saat lalu berkata bahwa sebelum ia menghubungi Jiyong, Jiyong tidak diperkenankan menghubunginya terlebih dahulu.

Ah! Masa bodoh! Lupakan tentang perkataan Dara!

Baru saja hendak meraih coat-nya, Seunghyun tiba-tiba menerobos memasuki ruangan—membabi buta berlarian menuju meja bar, kemudian menenggak segelas air dingin yang terletak di atasnya.

“Choi Seunghyun, apa yang terjadi padamu?” tanya Youngbae berjalan mendekati Seunghyun.

Seunghyun menunjuk ke arah Jiyong dengan tubuh gemetar dan napas tersengal-sengal. Tubuhnya naik turun, sementara butiran keringat mengalir di pelipisnya. Jiyong menyipitkan sebelah matanya, menajamkan pendengarannya, bersiap mendengarkan kemungkinan terburuk yang akan diucapkan Seunghyun. Tidak perlu bertanya bagaimana cara Jiyong mengetahui bahwa Seunghyun hendak menyampainkan sesuatu padanya. Hal itu sudah tampak jelas dari mimik wajah Seunghyun yang kacau balau seperti baru saja dikejar setan.

 “Aku-melihat-Dara,” Ujarnya terpotong masih dengan napas tersengal.

Mata Jiyong mendelik tajam. “Dara? Apa yang terjadi padanya? Di mana dia?” Jiyong mengguncang tubuh jangkung Seunghyun.

“Jiyong-ah, biarkan dia bernapas! Kau membuatku kesal, sungguh. Aku juga ingin mendengar penjelasannya. Aku sangat penasaran.” Pekik Daesung yang sedang duduk manis di sebuah kursi bersama Seungri. Cih, penasaran apanya? Pandangannya hanya tertuju pada ponsel dan dia berkata dia penasaran? Penasaran pantatku!

“Diam, Byun Daesung.” Gumam Jiyong menggeram.

Seunghyun kembali membuka mulutnya setelah mendapat pasokan oksigen lebih dari cukup. “Sepulang sekolah tadi Pak Kim mencari Youngbae untuk membantunya merapikan beberapa arsip miliknya. Karena kalian berempat beserta tiga gadis lainnya sudah pulang, sebagai gantinya dia menyerahkan tugas itu kepadaku.” Seunghyun terdiam beberapa saat. Ia dapat melihat ekspresi panik Jiyong. “Singkat kata, aku pulang setelah arsip itu sudah kurapikan. Anehnya, dipersimpangan koridor, aku melihat gadis yang kuyakini Dara tengah berjalan dirangkul oleh seorang laki-laki. Aku juga yakin seratus persen bahwa Dara tidak bisa berjalan, dilihat dari tubuhnya yang tampak lemas. Laki-laki itu sepertinya hanya membantunya berjalan. Mereka berdua basah kuyup.”

“Basah kuyup?” Seungri tercengang.

“Ya. Mereka berjalan dari arah kolam renang bawah tanah.” Seunghyun menjawab singkat.

Apa? Dara dibantu oleh seorang laki-laki? Mereka berdua basah? Tidak bisa berjalan?

Shit! Apa yang dikhawatirkan Jiyong terjadi. Pasti hal buruk telah menimpa Dara.

Tanpa banyak pikir Jiyong segera mengenakan coat-nya. Keempat temannya hanya terdiam melihat peristiwa langka itu. Tidak biasanya seorang Kwon Jiyong tergesa-gesa. Dia identik dengan orang yang tenang dan acuh. Tapi, semua berubah saat permasalahan yang dihadapinya ada sangkut pautnya dengan Dara.

Derap langkah Jiyong yang berlarian kalang kabut menuruni tangga dari bangunan yang hanya terdiri dari dua tingkat itu terdengar begitu jelas. Sesampainya di lahan parkir, Jiyong membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya, lalu menyalakan mesin secepat mungkin. Tidak ada hal lain yang mendiami isi kepalanya selain Dara. Hanya Dara dan Dara. Sungguh, Jiyong merasa khawatir. Bahkan, jika keempat temannya saat ini bertanya apa dia khawatir pada Dara atau tidak, dia pasti akan menjawab dengan lantang kalau ia benar-benar khawatir.

Ya! Tentu! Bagaimana tidak? Jiyong jelas-jelas tahu bahwa seseorang tengah menunggu Dara di ruang bawah tanah. Dan Jiyong tak mengelak lebih keras saat Dara memintanya untuk segera pulang. Baik, Jiyong tahu, ia bukan orang pintar. Meskipun begitu, ia tidak terlalu bodoh untuk mengetahui kalau Dara sedang memiliki masalah sekarang. Jiyong bukan tipe laki-laki yang akan diam tak berkutik saat orang yang disukainya bergelut dengan masalah. Jiyong menyukai Dara? Yap! Jiyong tak akan menyangkal apa pun kali ini.

 ‘Mereka berdua basah kuyup.’

Satu kalimat yang diucapkan Seunghyun berputar-putar di benaknya. Apakah seseorang mendorong Dara? Coba pikirkan! Dara berada di kolam renang bawah tanah dan dia keluar dalam keadaan basah. Tidak mungkin dia menceburkan diri ke dalam kolam. Tidak mungkin juga dia bermain air di sana, apalagi Seunghyun sempat menjelaskan bahwa Dara tampak lemas. Hanya ada satu kemungkinan, yaitu tenggelam. Persetan dengan siapa laki-laki yang menolong Dara!

Lima belas menit kemudian, akhirnya Jiyong sampai di pekarangan rumah Dara. Beruntunglah ia sampai dengan keadaan selamat padahal ia membagi otaknya menjadi dua bagian—sebagian untuk konsentrasi dalam mengemudi, sebagian lagi untuk memikirkan keadaan Dara. Setidaknya tidak ada hal buruk yang terjadi.

Aneh. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah Dara. Semuanya diam, termasuk pepohonan yang mengelilingi rumah itu—ya, itu pengecualian karena sudah kodratnya bahwa pohon tidak bisa berbicara. Jiyong mengedarkan pandangannya, mencoba mencari-cari sesuatu yang mungkin dapat memberi informasi mengenai di mana keberadaan penghuni rumah sederhana di hadapannya.

Jiyong memutuskan untuk memasuki rumah itu. Syukurlah pintunya tidak dikunci, jadi Jiyong bisa masuk tanpa menunggu seseorang membukakan pintu untuknya. Bukan bermaksud tidak sopan, Jiyong hanya terlalu khawatir sampai tak lagi peduli pada sesuatu yang dinamakan sopan santun.

Sampai di dalam, pandangannya tertuju pada seluruh penjuru rumah Dara. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi tampak rapi dan nyaman. Berbentuk persegi panjang dengan empat pintu—pertanda masih ada beberapa ruangan lain di dalamnya. Ruangan pertama adalah ruang tamu dengan satu set sofa yang tampak kotor dan usang. Ruangan itu besar itu dibagi menjadi dua ruangan menggunakan almari berukuran sedang sebagai sekatnya. Di balik almari itu terdapat sofa panjang berwarna oranye lengkap dengan TV di depannya.

Tunggu. Ada seseorang yang terbaring di sofa itu.

“Dara?” panggil Jiyong dengan suara lirih.

Tak ada jawaban.

“Sandara Park!” ulangnya, kali ini dengan volume suara yang lebih keras dan lantang.

Dara terlonjak kaget dengan posisi terduduk.

“Jiyong?” Dara kembali merebahkan tubuhnya, acuh.

Jiyong segera meletakkan telapak tangannya di dahi Dara. “Kau demam?”

Dara menampik tengan Jiyong kasar. “Hei! Siapa yang memintamu datang?! Sudah kukatakan sebelumnya, kau boleh datang setelah aku menghubungimu!” bentaknya.

Sudah sakit, masih saja marah-marah. Jiyong mengumpat.

“Seunghyun memberitahuku, dia melihatmu basah kuyup. Kau juga tampak lelah. Kau sakit, huh?” Belum sempat menjawab, Jiyong menyela. “Aku sudah memeringatkanmu sebelumnya, kenapa kau tidak mau mendengarku? Seharusnya aku ikut, kenapa kau melarang? Kau tenggelam, ‘kan? Di era sekarang ini, siapa orang yang sengaja bermain air di kolam renang bawah tanah, huh?” cerocos Jiyong layaknya nenek tua yang kehilangan uang. “Kalau seperti ini, siapa yang dirugikan? Kau? Tentu saja aku! Aku hampir kehabisan napas karena memikirkanmu, kau tahu?! Aku mengkhawatirkanmu, Sandara Park!”

Dara tertegun. Ia terdiam sesaat. Apa maksud dari ucapan Jiyong? Laki-laki itu memikikirkannya? Mengkhawatirkannya? Kenapa Kwon Jiyong yang sengak, bengis dan kurang ajar berubah menjadi laki-laki dewasa yang penuh perhatian? Bahkan Dara dapat melihat jelas wajah pucat pasi Jiyong.

“Kwon Jiyong, aku baik-baik saja.” Dara tersenyum lembut.

Apa? Apa yang salah dengan mereka berdua?

“Baik-baik saja? Lalu, apa penjelasanmu tentang seragammu yang basah itu?” tuntut Jiyong sembari menunjuk seonggok pakaian di dekat almari. “Ah! Dan jangan lupakan tentang laki-laki itu! Aku tahu semuanya, kau mengerti? Sejak kapan aku memberimu izin untuk berjalan bersama laki-laki lain? Bagaimana kalau ibu tahu? Bagaimana kalau dia orang jahat?”

Dara mengecup bibir Jiyong singkat, membuat laki-laki itu terdiam. Sungguh, dia bukan Sandara Park-si-gadis-gila. Sepertinya terjadi kerusakan pada syarafnya. Otaknya benar-benar terisi air.

“Kau selalu melakukannya saat aku berbicara. Sekarang, diam sebentar, okay?” tukas Dara. Ia lebih memilih untuk membungkam mulut Jiyong daripada berteriak lantang. Itu hanya akan menghabiskan tenaganya yang tersisa secara percuma.

“Kalau begitu, jelaskan!” ujar Jiyong dengan senyum gusarnya.

“Tidak ada orang di kolam renang itu. Sepertinya ada yang bermain-main denganku. Aku hanya terpeleset, itu saja.” Bukan seperti itu kisahnya. Dara berbohong. “Laki-laki itu adalah teman masa kecilku saat aku masih tinggal di Swiss—namanya Chanyeol. Dia sengaja pindah ke Seoul untuk menemuiku. Kami cukup dekat. Syukurlah dia datang. Kalau tidak, kau pasti akan melihat tubuhku mengambang di kolam renang itu keesokan harinya.”

Jiyong bergidik ngeri. Sesaat, ia menoyor kepala Dara. “Maka dari itu, jangan banyak tingkah! Sepertinya seseorang telah menjadi haters-mu sekarang.”

Semua keromantisan itu hilang dalam sekejap.

“Apa? Apa kau bilang? Hei, hei! Cari mati kau, huh?” Dara memukul tubuh Jiyong dengan bantal kursi yang sebelumnya tergeletak di dekatnya. “Kalau seseorang menjadi haters-ku, maka aku akan menjadi haters-mu!”

“Jangan harap kau bisa menyentuh seorang Kwon Jiyong! Kau yang cari mati.”

“Rupanya kau berniat mencari masalah denganku? Baik, aku akan membuat hidupmu serasa di neraka, Tuan Kwon. Rasakan!” Dara kembali memukul Jiyong dengan kekuatan ganda.

Jiyong mencoba menghindari pukulan gesit Dara dengan menggunakan kedua tangannya sebagai perisai pelindung. Tidak disangka, Sandara Park yang sempat bertingkah manis dapat berubah menjadi harimau ganas dalam hitungan detik.

“Tunggu sebentar!” Jiyong menyodorkan tangannya tepat di hadapan wajah Dara.

“Apa?” sebelah alis Dara terangkat.

“Di mana Nenek Park?” tanyanya mengedarkan pandangan.

Dara mengangguk-angguk. “Ah, nenek? Dia sedang pergi ke toko untuk membeli obat untukku.”

Jiyong mendelik. “Jadi, kau bohong?”

Desahan mencelos dari bibir Dara. “Apanya?”

“Kau berkata, kau baik-baik saja. Lantas kenapa nenek membeli obat untukmu?”

Dara menepuk keningnya. “Baik, baik. Aku demam, okay? Hanya demam.”

“Kukira kepalamu terbentur atau bagaimana. Kuulangi sekali lagi, aku khawatir.”

“Meskipun begitu, daripada khawatir, terdengar jelas dari ucapanmu bahwa kau berharap kepalaku benar-benar terbentur. Sungguh laki-laki yang romantis!” cibir Dara.

“Aku tidak akan marah kali ini. Aku akan memarahimu setelah kondisimu lebih baik. Aku juga tidak akan mengungkit masalah laki-laki itu saat ini. Sekarang, berbaringlah. Aku akan menemanimu sampai nenek datang.”

Kondisi kembali stabil. Tak ada lagi teriakan atau bentakan. Dara pun merebahkan tubuhnya tanpa ba-bi-bu. Ia menatap Jiyong yang duduk diam sembari memejamkan kepalanya. Laki-laki tampak sedang merenggangkan syaraf-syarafnya. Jadi, Jiyong benar-benar mengkhawatirkannya? Bahkan ia tak berniat melanjutkan pertengkaran sengit itu setelah tahu bahwa Dara demam.

Sekali lagi, Dara menatap Jiyong. Bukan Dara yang ditemani oleh Jiyong, melainkan Dara yang menemani Jiyong. Laki-laki jangkung itu terlelat dengan wajah tenangnya. Garis tegas wajahnya berubah menjadi lembut setelah ototnya berelaksasi. Dara mengucapkan kalimat permintaan maaf kepada Jiyong dalam hati. Ia meminta maaf karena menurutnya membohongi Jiyong bukan sesuatu yang pantas dilakukannya. Dara tahu, Jiyong peduli padanya. Tapi, kata ‘peduli’ itulah yang membuatnya tak ingin melibatkan Jiyong dalam permasalahannya. Cukup Dara yang tahu. Tidak ada campur tangan orang lain dalam masalah ini.

Beep!

Sesuatu bergetar dari balik selimut yang digunakan Dara untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Ah, ternyata ponselnya dalam keadaan baik.

Satu pesan dari si gadis menyebalkan keparat yang membuat Dara hampir kehilangan nyawa. Dara menekan layar ponselnya dengan jemari yang bergetar hebat.

‘Selamat, Dara, kau berhasil lolos dari kematian. Wah, kau memiliki pahlawan baru rupanya. Kuperingatkan, jangan berani menyentuh Jiyong atau apa pun itu kalau kau tak mau kejadian yang lebih buruk menimpamu. Asal kau tahu, Jiyong terlalu sempurna untuk gadis miskin dan menjijikkan sepertimu.’

Sial! Apa-apaan ini? Ancaman lagi? Dara cukup lelah dengan hidupnya, lalu sekarang ia mendapat teror? Lengkap sudah.

Dara mengedarkan pandangannya dengan perasaan getir. Ini membuatnya takut, sungguh.

Ia menoleh dan mendapati Jiyong di dekatnya. Ya, setidaknya ia akan baik-baik saja.

***

“Seseorang mengganggumu?” tanya Chanyeol sembari menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

“Bukan. Mungkin ada seorang haters yang menggangguku.” Dara menjawab dengan nada enteng.

Chanyeol menyipitkan matanya. “Haters? Sejak kapan kau memiliki haters?

“Sejak aku sekolah di tempat orang kaya ini dan berurusan dengan seseorang bernama Kwon Jiyong. Dia gila, menyebalkan, tapi cukup baik. Entahlah, dia sangat populer. Orang-orang membenciku karena mereka pikir aku dekat dengannya.” Padahal memang begitu kenyataannya. “Sudahlah, makan makananmu! Aku tidak mau terlambat masuk kelas. Pak Kim pasti menceramahiku. Telingaku ini sensitif.”

“Kau benar-benar dekat dengannya? Ceritakan padaku! Bukankah kita sahabat?”

“Ya, kita sahabat dan aku tidak memiliki satu hal pun untuk diceritakan.” Tukas Dara singkat.

Chanyeol mengacak rambut Dara gemas. “Aigo, kau tidak berubah rupanya.”

“Siapa bilang aku berubah?”

“Sudah tiga belas tahun lamanya sejak terakhir kali aku melihatmu makan.” Chanyeol menatap Dara tanpa berkedip.

Chanyeol adalah sahabat Dara semasa kecil. Sama seperti Dara, Chanyeol bukan warga asli Swiss. Dia berasal dari Korea. Kedua orangtuanya ditugaskan bekerja di Swiss selama beberapa tahun. Tiga belas tahun lalu mereka tinggal di rumah yang bersebelahan. Maka dari itu, tak aneh jika Chanyeol dan Dara bisa dekat—bahkan memiliki hubungan yang baik sampai sekarang meski sempat berpisah beberapa tahun.

Kedatangan Chanyeol bukan tanpa alasan. Ya, kalau pun ada, alasan itu sangat sederhana. Alasannya adalah karena ia ingin bertemu Dara. Chanyeol telah mencari Dara sampai ke berbagai penjuru Swiss, tapi tak ada satu pun kabar yang didengarnya bahwa Dara bersembunyi di daerah terpencil di negara itu. Setelah mencari informasi cukup lama, akhirnya ia menemukan keberadaan Dara. Tak ada hal yang dikhawatirkan selama seminggu ini.

“Tidak ada seseorang yang mengikutimu, ‘kan?” tanya Chanyeol yang masih memerhatikan Dara. “Kalau ada yang menyakitimu, kau harus mengadukannya padaku, okay? Aku akan memberinya tinju dari jurus yang kau ajarkan padaku tiga belas tahun lalu.”

Dara tersenyum mendengar perkataan Chanyeol yang berhasil menghiburnya. Awalnya Dara tidak percaya, tapi ia memang sudah menjadi berandalan sejak kecil. Tidak terlalu mengerikan. Meskipun begitu tetap saja mentalnya terlatih menjadi seseorang yang tahan banting. Apa yang dikatakan Chanyeol, Dara membenarkannya. Ia pernah mengajari beberapa tangkisan dan pukulan pada Chanyeol karena dulu laki-laki berkulit putih bersinar itu mudah menangis.

“Kau tumbuh menjad laki-laki yang kuat. Tapi, jangan bangga dulu, Chan-ah. Kekuatan pukulanmu hanya sebesar ujung jari kelingkingku.” Dara menunjukkan jari kelingkingnya dengan raut wajah meremehkan. “Lagi pula, mana ada orang yang berani mengusikku, huh? Aku pasti akan membunuhnya lebih dahulu.”

“Tentu saja. Tak ada yang bisa mengusik Dara.” Seorang laki-laki jangkung berdiri di samping bangku kantin yang tengah diduduki oleh Dara dan Chanyeol. “Karena mereka harus menghadapiku lebih dulu sebelum menyentuh Dara. Mereka semua, termasuk kau!”

Dara mendelik tajam, mengarahkan pandangannya. “Kwon Jiyong,” gumamnya mengerang.

“Apa? Kau tidak suka aku datang?” Jiyong membenarkan letak kacamata hitamnya dengan gaya sok keren.

“Kenapa kau bertanya kalau kau sudah tahu jawabannya, huh?” Ujar Dara dengan nada datar.

“Kau harus senang karena aku memiliki kejutan untukmu.”

Baik. Julukan Jiyong tak lagi si-brengsek-yang-menyebalkan, tapi berubah menjadi si-brengsek-yang-menyebalkan-dan-penuh-kejutan-membuat-Dara-pusing-tujuh-keliling.

Jiyong meraih pergelangan tangan Dara. Belum sempat Jiyong menariknya, Chanyeol lebih dulu melepaskan lilitan jemari itu.

Dude, what are you fucking doing, huh?” pekiknya dengan wajah bengis, membuat seluruh pandangan menuju padanya—pada tiga orang yang tengah saling berhadapan.

Siaga satu! Chanyeol memang tampak manis, tapi dia berubah menjadi garang saat ada suatu permasalahan yang menyangkut-pautkan Dara di dalamnya.

“Jadi kau—si penyelamat itu?” Jiyong melirik tag nama Chanyeol. “Chanyeol. Asal dari Korea, tinggal di Swiss sejak kecil. Kedua orang tuamu memiliki bisnis penting di Swiss. Teman masa kecil Dara. Satu tingkat di bawah Kelas VIP. Okay, kau lebih rendah dariku, maka dari itu aku melarangmu untuk mendekatiku, memiliki masalah denganku maupun berurusan dengan orang terdekatku, mengerti?”

“Dan, kau pikir aku takut?” Lawan Chanyeol menyeringai. “Aku bahkan bisa menyandingi kastamu, Kwon Jiyong. Itu hal mudah untukku.”

Jiyong balas menyeringai. “Mungkin. Selama kau tidak bersekolah di sekolahku. Ah, tidak. Selama kau tidak tinggal di Korea. Di sini, aku yang berkuasa.”

Dara menepuk keningnya sembari mendesah. Tamatlah!

Seluruh siswa yang sebelumnya duduk tenang di kantin tampak menghentikan aktivitasnya. Mereka terdiam, memfokuskan pandangannya pada dua orang yang tengah berselilih paham dengan seorang gadis duduk tanpa suara di dekatnya.

Tanpa aba-aba, Jiyong segera menarik Dara untuk berdiri tepat di sisi kanannya. Ia tertawa dengan wajah sengak dan penuh kesombongan. Ya. Jiwa Kwon Jiyong yang sebenarnya telah kembali. Dia kembali menjadi orang kaya sombong yang memuakkan. Dara tak bisa melakukan apa pun selain berdiri dengan wajah tegang. Chanyeol pun menatap Jiyong dengan kerutan tipis menghiasi kening datarnya.

Jiyong mengetuk-ketuk meja dengan jemarinya, kemudian berdehem kecil. Tidak ada satu pun yang memalingkan pandangan darinya. “Mulai sekarang, siapa pun yang memiliki urusan atau masalah dengan Sandara Park harus berhadapan denganku. Mulai menit ini, detik ini, Dara menjadi kekasihku. Jangan protes maupun mengusiknya atau aku akan menghancurkan hidup kalian, mengerti?”

Kerutan di kening Chanyeol terlihat semakin jelas, sementara Dara dan semua siswa yang ada di sana menjatuhkan rahang lebar-lebar.

“Kwon Jiyong,” Panggil Dara lirih. “Kau gila?!”

“Kuulangi sekali lagi, Sandara Park resmi menjadi kekasihku.” Jiyong tersenyum lebar.

Tanpa disadari oleh siapa pun, seseorang tengah memerhatikan mereka dari kejauhan. Orang itu mengepalkan tangan kanannya dengan tangan lain yang meremas ponsel silver dalam genggamannya. Dia memicingkan mata. Sesaat, guratan senyum penuh kelicikan terpahat di bibirnya.

Permainan baru dimulai, Sandara Park.

***

Next>>

Note:

Haiiii.. ga kerasa ya hiatus lama :” Semoga kalian ga lupa sama ff-ku ini. Maaf banget gabisa ngepost lebih cepat sesuai janji. Beberapa hari lalu ada kessalahan teknis. Hope you like it. I love you so much, guys. Thankssss… Pyoonggg^^

 

Advertisements

28 thoughts on “Bad Boy For Bad Girl [Chap. 8]

  1. Kyaaaa dara direbutin dua cowoooo, ngerasa cocok aja gitu chanyeol jadi sahabat lamanya dara karena dia imut2 tapi garang
    Ini bener jessica yg neror dara? Aku mikir ko kayana ada karakter baru ya hehe
    Mending dara sakit aja terus biar ga marah2 biar ga ganassssss hahaha
    Semangaatttt thor! 🙂

  2. Aduhh sbnernya siapa neror dara sih?jessica?baru juga chanyeol dateng buat bisa ktmu dara eh jiyong udh ngerebut dara aja mana ngakuin dara sbg pacar lagi hmmm sneng sih tapi kan kasian daranya:( pasti bakal di teroro lagi dia
    next chapnya di tggu ya thor hwaiting buat lnjutin ffnya^^

  3. Sama kayak katanya nanda fahma, aku juga ngerasa itu bukan sica dehh pasti ada karakter lainn, atau mungkin sica cuma disuruh jadi mata mata di orang ini. Lanjutin thorr kepo bangett pengen tau endingnyaa :’D

  4. Jahat banget sih sicca unnie udah nyelakain dara unnie. Untung ada chanyeol oppa yang nyelamatin dara unnie. Jiyong oppa cepet amat yah bertransformasi, dari baik ke jahatnya itu😄

  5. woow chanyeol super herooo kekeke… aku pikir ji yg bakal nyeoametin dara,, ternyata si chan,,
    lagian tuh orang jahat bener sih sama dara,, kenapa juga dara nggak mau cerita ke siapa gitu,, bom mungkin,, ngomong2 bom di mana?
    aku suka pas mereka akur kekke sweet…
    boleh nebak? apa orang itu si jelangkung (jesica) #maaf 😀
    nextnya di tunggu authoor… fightiiing ^^

  6. Gzzz~~
    Itu siapa sih yang neror dara, kok sampe sebegitunya. Tega banget.
    Kenapa dara ga dibuat sakit tiap hari aja ya? Biar moment daragon nya makin banyak. Hehehe

    Semangat terus buat author!!

  7. Dara diperebutin sama 2cwo
    Cye..jiyong yang menyatakan cinta sama dara didepan semua orang
    Pasti itu jesica
    Pasti itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s