DESTINY FOR THE KING [Part. 5]

destiny for the king 5

Author : Defta

Cast     : Sandara Park, Kwon Jiyong, Jung il Woo

Genre   : Drama, action (maybe), Kolosal

***

Aaauu.. tengkiyu ya doanya, sekarang defta udah bisa ngetik lebih cepet, tapi sayangnya defta cuma punya jatah beberapa jam aja untuk megang laptop,makanya part ini agak lama, tapi defta usahain buat cepet lagi updatenya.

For Zhie Eonnie, Aku Cinta Kamu….kekekeke

Happy reading, #WARNING part ini bikin bingung, penejelasannya bakal ada di part selanjutnya. OK… love You All….sorry for typo

^^

Dara berjalan perlahan dengan beberapa dayang dari dapur istana di belakangnya membawa berbagai macam jenis makanan.Lady Gong masih ada diistana, dia akan meninggalkan istana ketika perutnya tak dapat lagi disembunyikan atau jika ada hal genting lainnya.

Ia memasuki kamar Jiyong tanpa ragu, walau jiyong sudah menatapnya dengan tatapan sangat tajam.

“Kalian boleh keluar” Perintah Dara kepada para dayang itu setelah meletakkan meja penuh makanan dihadapan jiyong. “Anda harus makan Jeonha” Ucap Dara kini pada Jiyong.

“Sudah kubilang aku merasa mual setiap mencium semua makanan itu” Jiyong menunjuk makanan di hadapannya dengan jarinya dan menatap dengan jijik.

Dara mendesah. “Baiklah, akan hamba suapi”.

Yeoja itupun mengambil mangkuk nasi dan beberapa lauk, menyendoknya lalu menyodorkannya kedepan mulut Jiyong.

“Percuma a…” Jiyong tak bisa berkata lagi karna sesendok penuh makanan telah masuk kedalam mulutnya dan dengan terpaksa namja itu menelan makanan yang terlanjut masuk dalam mulutnya.

“HOEK….” Jiyong memutahkan makanan yang baru saja ia telan.

“Jeonha anda baik-baik saja ???” Dara meringsek memeluk Jiyong dan melihat wajah jiyong yang terliahat sangat pucat. “SESEORANG DILUAR CEPAT PANGGIL TABIB”

*

*

Jiyong dalam kondisi duduk ketika beberapa tabib memeriksa kondisinya, namja itu menolak untuk tiduran walau dara sudah menyuruhnya beruang kali dengan alasan dia akan semakin pusing ketika tidur.

“Jadi bagaimana kondisinya ?” Tanya Dara ketika melihat tabib menggelengkan kepalanya.

“Semuanya normal seperti biasa Mama, saya juga bingung bagaimana hal ini bisa terjadi” Kata tabib itu menjawab pertanyaan Dara. “Tapi Mama, bolehkan saya melihat keadaan anda juga ?”

Dara hanya mengerjabkan matanya beberapa kali, lalu melirik Jiyong namja itu hanya tersenyum lemah kepadanya, dan darapun menyetujui pemeriksaan akan dirinya.

“Sudah saya duga” Seru tabib itu dengan wajah yang berbinar bahagia.

“Apa maksudmu ?” Tanya jiyong penasaran.

“Selamat Jeonha, Wangja akan segera lahir di joseon ini”

Sunyi sesaat menghampiri pasangan nomor wahid di joseon itu, hingga Jiyong yang pertama kali membuka suara “Benarkah itu ?”

“Yeh Jeonha, Wangbi sedang mengandung”

“Benarkah itu ? Be..benarkah Dara sedang hamil…?” Jiyong terus bertanya seakan tidak percaya.

“Yeh Jeonha” dan tabibpun tak bosan untuk menjawab, karna ia tau rajanya pasti sangat bahagia.

“Dara-ah…” Jiyong beralih kepada Dara dan langsung  memeluk yeoja itu dengan erat. “Aku bahagia Dara-ah, sangat bahgia.”

“Saya juga Jeonha”  Dara membalas pelukan Jiyong.

“Eunuch kang kau dengarkan… waktumu tinggal 10 tahun lagi untuk berada disinni” Kini jiong berbicara kepada Daesung yang juga berada dalam ruangan itu.

“Yeh Jeonha, Saya akan memanfaatkan waktu saya disini sebaik mungkin” Balas Daesung dengan berderai air mata bahagia begitu juga dengan Minji.

 “Tapi mohon untuk merahasiakan hal ini Jeonha” Ungkap Daratiba-tiba

Jiyong yang kaget dengan permintaan Dara lantas melepaskan pelukanya. “Apa maksudmu ?” ia menatap Dara dengan tatapan marah dan kecewa.

“Hanya saja ini masih terlalu dini untuk mengatakannya kepada seluruh joseon, hanya menunggu beberapa minggu lagi. Saya mohon” Dara berkata dengan nada memelas.

Namja itu berpikir sejenak tentang semua yang permintaan Dara. “Baiklah, lagi pula tak ada bedanya mengumumkannya sekarang atau besok” Yeoja itu tersenyum kepadanya. “Tapi aku akan tetap mengatakannya pada Eomma Mama” Jiyong berkata dengan berbisik di telinga Dara.

“Jadi aku perintahkan untuk tidak menyebarkan kabar gembira ini sampai aku sendiri yang memberitahukannya” titah Jiyong akhirnya keluar.

*

*

1 minggu setelahnya

Seluruh istana mulai curiga dengan kelakuan Jiyong yang semakin aneh saja, selalu mutah ketika menelan makanan, sering kelelahan walau tidak melakukan hal berat, dan yeng paling aneh namja itu sering sekali  menyuruh Eunuch Kang dan Pengawal Dong untuk memanjat pohon.

Sepertinya kalian asing dengan nama itu ? sesaat setelah jiyong mengetahui kehamilan Dara, dia mengutus Pengawal Dong untuk menjaga dara. Namja itu bernama lengkap Dong Yong Bae, yang notabennya adalah teman sejak kecil jiyong. Dia dari kaum Yangban yang sering membangkang, hampir seperti Jiyong.

Ketika pertama kali keluar dari istana melalui terowongan, Yongbae adalah orang pertama yang melihatnya, Jiyong mengatakan hal yang sesungguhnya bahwa dia adalah seorang Wangja dan meminta Yongbae untuk tidak melaporkannya pada siapapun. Semenjak itu mereka berdua berteman, walau jarang bertemu karna keduanya sama-sama dikekang dalam lingkungan masing-masing.

“Jeonha apa hamba benar-benar harus melakukannya ?” Tanya Yongbae ketika jiyong memintanya untuk melepaskan seragam pengawalnya.

“Harus, Lepaskan seragammu dan panjat pohon itu”

“Jeonha anda terlalu kejam” Dara menegur Jiyong sambil menyenggol lengannya, tapi namja itu tak bergeming sama sekali.

“Eunuch Kang kau juga”

“SAYA JUGA ?” Refleks Daesung menjerit dan berteriak.

“Jangan berteriak padaku, dan cepat lakukan” Jiyong menggeram.

“Tapi Jeonha…” Daesung melirik Minji yang wajahnya sudah merah padam. “Lady Dong ada disini” Lanjutnya tanpa ada suara.

“Cepat lakukan, kalian berdua harus bergelantungan di dahan pohon itu” Ucap Jiyong sambil menunjuk sebatang dahan yang besar. Lalu ia memeluk Dara dari belakang.

“Anda benar-benar keterlaluan” Desis Dara sambil melirik Jiyong dari ujung matanya.

Bukannya merasa terintimidasi namja itu justru merapatkan pelukannya. “Ini karna dia juga” dielusnya pelan perut Dara yang masih rata.

“Tapi sepertinya anda hanya mencari alasan”

“Sepertinya juga begitu”

—-

“Mama Buwongun Datang”

“Biarkan dia masuk” Dara masih fokus pada bukunya ketika suara Minji tertangkap telinganya.

Pintu kayu pun terbuka dan seorang pria paruh baya masuk melalui celah yang dibuat oleh pintu itu.

“Hamba datang menghadap Mama” Hormatnya yang sama sekali tidak dipedulikan Dara, tanpa disuruh ia mengistirahatkan kakinya dengan duduk. “Jadi anda benar-benar sedang mengandung Mama ?” Satu pertanyaan cukup membuat Dara berpaling dari kefokusannya pada buku.

Tanpa suara. Ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan kebencian.

“Jadi hal itu memang benar”

“Bukankah itu yang anda inginkan ? menjadi Buwongun Joseon dan menjadi Kakek dari seorang Wangja” Ucap Dara dengan nada sinisnya.

“Memang, tapi bukan dari raja yang tak bisa dihandalkan seperti Jiyong”

Dara melotot tajam. “Apa anda tau apa yang baru saja anda katakan BUWONGUN ?”

“3hari, jika anda bertahan 3 hari  lagi, semuanya akan seperti yang saya dan anda inginkan Mama” senyum sinis menghiasi wajah pria paruh baya yang bergelar mertua dari seorang raja itu, ia memang terlihat tua, tapi ia masih sanggup untuk memporakporandakan sebuah negara.

*

*

Malam yang dingin mulai mencekam, Bulan enggan muncul hari ni, diganti dengan kabut-kabut hitam yang menutupi langit joseon.

Api dari obor-obor di sekeliling tembok istana mulai bergoyang, beberapa kehilagan cahayanya,  pasir-pasir berterbangan karna injakan dari ratusan orang bersenjata.

“SERANG!!!” Seruan seruan itu terus diggumamkan oleh ratusan pria itu.

“LINDUNGI JEONHA” perintah perintah untuk menghalau ratuan orang itu mulai bersahut-sahutan juga.

Bunyi gesekan pedang satu dengan yang lain tak bisa dielakkan, suara sayatan terdengar mengiringi setelahnya, ranah istana mulai berubah menjadi merah. Lautan darah mengombak diatas tanah kecoklatan. Puluhan nyawa tak berdosa melayang bagaikan bulu ayam yang ditiup.Jeritan dari para dayang yang terkejut menjadi alunan yang biasa,  suara kesakitan tak urung menjadi nada mengharukan disana.

Semua orang berada dalam  kekalangkabutan, kecuali satu namja yang berasil menerobos masuk puluhan prajurit bodoh yang menebut dirinya pengawal raja. Namja itu tanpa kesabaran mendobrak pintu demi pintu yang menghalangi jalannya.

Dia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan mengacungkannya kedepan, bersiap menyerang.

Sebuah lilin kecil berwarna mereah menyela dengan indahnya, menerangi ruangan gelap gulita itu. Namja berpedang itu mengedarkan pandangannya mencari sosok hidup disana tapi gagal.

“KWON JIYONG !!!”

“ILWOO GUN APA YANG KAU LAKUKAN ??” Dara menjerit di depan kediaman Raja.

Dengan senyuman liciknya Namja yang bernama ilWoo itupun berjalan mendekati Dara. “Sepertinya kau salah memanggil gelarku WANGBI”

Dara tanpa takut menadang mata IlWoo.

“Kau pasti tau Raja bodoh itu dimana sekarng. Iyakan” IlWoo mengguncangkan tubuh Dara dengan keras. “KATAKAN DIMANA DIA BERADA”

“ILWOO GUN !!!” Suara lain menghentikan aktivitas Ilwoo menginterogasi Dara. Ya itu ibunya.

“Kenapa kalian sema salah menyebut namaku ? Panggil Aku Jeonha…. AKU SEORANG RAJA SEKARANG” Ucapnya dengan percaya diri.

“Hentikan sekarang, takirmu bukan untuk menjadi seorang raja Nak” Wanita yang penuh dengan kasih sayang itu meraih tangan Ilwoo dan meggenggamnya.

“Aniya Daebi Mama, anda salah. Inilah takdir saya, menjadi seorang raja” Ilwoo masih kokoh dengan pendiriannya membuat orang yang melahirkannya didunia ini menitikan air mata.

“APA YANG KALIAN TUNGGU ? SIAPKAN PENOBATNNYA SEGERA” Teriak Ilwoo pada beberapa mentri yang menyaksikan pertempuran singkat yang dimenangkan oleh Ilwoo itu.

“Tapi….” Saalah soeag mentri akan membantah.

“Kwon Jiyong itu seorang pecudang, dan dia sudah mealrikan diri sekarang, menurut silsilah akulah yang menjadi raja selanjutnya ketika dia tidak ada”

*

*

“Jeonha anda baik-baik saja ?”

“Tentu aku baik, justru aku mengkhawatirkan kandunganmu minji-ah kau sempat berlari tadi”

“Aniya Gwenchana Jeonha”

“Hyung, bawa Minji Istirahat”

“Baiklah Jiyong-ssi”

Jiyong tersenyum, ia sangat rindu seseorang memanggil namanya.

“Kau benar-benar baik-baik saja Jiyong-ah” Kini Yongbae menepuk pundaknya, sambil duduk di samping Jiyong.

Mereka berada di rumah keluarga Gong sekarang, tempat persembunyian mereka sampai beberapa waktu kedepan.

“Aku mengkhawatirkannya”

#FLASHBACK#

“Anda harus pergi Jeonha” Dara berkata dengan air mata yang terus menganak sungai di pipinya.

Jiyong menatap dara dengan perasaan khawatir “Kenapa ? Apa yang terjadi”

“Malam ini istana akan diserang, dan sebaiknya anda pergi sekarang, hamba sudah mempersiapkan semuanya, Anda bisa tinggal di rumah Minji selama yang anda inginkan yang penting malam ini anda harus keluar dari istana”

Namja itu meraih tubuh Dara dan memeluknya.

“Hamba benar-benar minta maaf atas nama Buwongun, hamba benar-benar minta  maaf” Ucap Dara dengan sesekali sesegukkan.

“Aku akan melakukannya” Jiyong mengamati wajah dara dengan seksama, lalu mencium bibir mungil Dara. “Kita akan pergi bersama”

“Aniya, Lady Gong, Eunuch Kang dan Pengawal Dong akan pergi bersama anda, hamba akan tinggal”

“Apa maksudmu ? Kau menyuruhku meninggalkanmu disini sendiri ? Aku tidak mau” Amarah kembali mencapai ubun-ubun Jiyong.

Dara mencoba menangkan dengan meraih rahang Jiyong dengan telapak tangannya. “Jika hamba pergi maka mereka akan semakin curiga dan anda bisa tertangkap dengan mudah jika kita pergi bersama, hamba akan tinggal untuk memata-matai keadaan disini selama anda pergi”

“Tapi ini terlalu berbahaya Dara-ah terlebih kau sedang…” Jiyong tak dapat lagi meneruskan ucapannya, dia mengamati perut Dara dimana darah dagingnya bersarang.

Dara tersenyum hangat “Kami akan baik-baik saja, tak akan ada satupun orang yang berani melukai kami, karna kami adalah Takdir Kwon Jiyong, Raja Joseon yang paling hebat”

#FLASHBACK END#

“Seharusnya aku menolaknya, benarkan Yongbae-ah” Jiyong mendesah dengan panjang.

“Mama sudah melakukan banyak hal untukmu, kau bajingan beruntung Jiyong-ah”

Jiyong hanya tersenyum lemah, memang seperti inilah mereka berbincang ketika di luar tembok istana. “Aku memang bajingan beruntung”

*

*

Sore yang tenang, setenang air yang ada di dalam kolam teratai, dengan remahan roti Dari berdiri diatas jembatan teratai dan memberi makan ikan-ikan di bawahnya.

“Kenapa anda disini Mama” Sebuah suara dari Daebi Mama mengejutkan Dara.

Dara tersenyum tipis “Hanya memberi makan pada ikan-ikan ini”

Bukannya terlalu bodoh untuk mengetahui bahwa saat ini Dara tengah bersedih, yeoja itu hanya selalu bersikap seakan dirinya terbuat dari baja yang sangat kuat. “Maafkanlah Ilwoo Gun, dia bukan orang seperti itu biasanya”

“Aku tau Daebi Mama, kami sudah bersama sejak aku kecil”

“Anda mengenalnya Mama ?”

Yeoja itu menunduk. “Neh, kami pertama kali bertemu saat saya tersesat dihutan, dia menolong saya dan menggendong saya kerna lutut saya yang terluka karena terjatuh”

“Kalian menjalin sebuah hubungan” Daebi mama mulai tertarik dengan topik itu. Biar bagaimanapun Ilwoo juga putranya.

“yah anda bisa mengatakannya seperti itu” Kini dara menerawang ke langit. “Tapi sepertinya langit berkehendak lain sekarang” ia mengelus perutnya. “Ada nyawa lain yang aku cintai”

“Apa kau sedang mengandung ?” suara namja yang sama sekali tidak asing itu terdengar tersedak di tenggorokkannya sendiri.

“Jeonha…” Desis Daebi Mama melihat putra kandungnya berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Aku tanya apa kau sedang mengandung Dara-ah” Ilwoo berjalan mendekat dan berdiri dihadapan Dara yang tengah menunduk. “JAWAB  AKU !!!”

“NEH” Dara membalas dengan teriakan juga. “Jangan berteriak padaku seperti itu” suara dara melemah seiring airmatanya yang jatuh.

“Berapa usianya ?”

“1 Bulan”

“Gugurkan dia” Ilwoo berkata dengan dingin.

“Jeonha… anda tidak boleh melakukan itu” Daebi Mama menegur, tapi namja itu bersikap tuli.

“Panggil tabib atau siapapun yang bisa melakukannya”

*

*

Langit malam itu benar-benar gelap, hanya beberapa cercah cahaya dari para bintang yang dapat muncul. Sesuatu mengganjal jiyong hingga matanya sulit untuk terpejam. Ia keluar dari kamarnya mencari udara segar.

Disanalah ia melihat yeoja yang sangat ia khawatirkan, berdiri diantara gerbang rumah yang ia tinggali, perasaan campur aduk memnuhi hatinya, yeojanya terlihat sangat lemah, terlebih dengan rambut kepang yang terurai panjang, menyisakan anak rambut di sisi wajahnya menimbulkan kesan berantakan.

Yeojanya berjalan mendekat dengan terseok-seok. Dengan cahaya yang sangat minim Jiyong melihat air mata kering menghiasi pipi cantiknya.

“Dara-ah…” Panggilnya peuh dengan kerinduan, ia hanya takut bahwa ini semua adalah ilusi matanya, ia takut semua ini adalah mimpinya malam ini.

Dara terus berjalan hingga dihadapan Jiyong, membuat namja itu melihat air mata yang baru saja turun. Dara tak lagi mampu menahan berat badannya, dia jatuh dalam pelukan Jiyong.

“DARA-AH…” Kini Jiyong menjerit, berusaha duduk dan menegakkan tubuh Dara dalam pelukannya.

“Hamba tak bisa menjaganya” 4 kata uang selalu Dara gumamkan.

Jiyong benar-benar tak tega melihat Dara seperti ini. “Apa yang tak bisa kau jaga ?”

“Uri aegy… Dia…” Jiyong masih memiliki otak untuk mengerti bahasa Dara, terlebih dijelaskan dengan bercak darah yang masih tersisa di kaki dara.

“Gwenchana” Jiyong memeluk Dara yang mulai menangis dengan keras dan sesegukkan. “Aku disini” lanjutnya mencoba menguatkan dirinya sendiri. “Gwenchana Dara-ah”

“Apa yang baru saja kau lakukan JEONHA ?” Pria paruh baya itu merapatkan gigi-giginya menahan amarah yang membuncah.

“Apa maksudmu ?” pria lawan bicaranya hanya bertanya acuh

“Anda menggugurkan bayi dalam kandungan Dara ?”

“Oh itu… tentu saja dia bukan anakku, untuk apa aku mempertahankannya di dalam istanaku ini” Ia berkata dengan sangat santai, seolah dia tidak melakukan apapun.

Pria paruh baya itu benar-benar terusut emosi sekarang “APA KAU TIDAK MEMIKIRKAN DARA ?”

“PERDANA MENTRI” Ilwoo balas berteriak padanya. “kau sudah tau semuanya, dan kau tidak memberitahuku, ini semua juga salahmu”

“Hamba akan bilang malam ini, dengan adanya bayi dalam kandungan Dara, maka posisi anda akan sangat kuat karna lahirnya seorang Pewaris tahta”

“Tapi itu bukan anakku”

“Apa itu penting sekarang”  perdana mentri Park mendengus kesal. “Apa yang akan terjadi pada Dara sekarang apa anda sama sekali tidak memikirkannya, dia kehilangan bayinya” tanpa permisi deraian air mata turun dari kedua mata pria bengis itu. “Dara putriku yang malang”

*

*

Tetes-tetes air turun dari langit yang gelap, membuat basah semua tanah, daun dan ranting. (kayak lagu aja)

Dara masih tertidur dalam dekapan Jiyong, ia terlalu lelah menangis semalam, bahkan kelopak matanya masih memerah hingga saat ini. Dengan perlaha jiyong menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi panangannya dari wajah cantik Dara, hingga membuat Dara terbangun dari tidurnya.

“Apa aku mengganggu tidurmu” Tanya Jiyong pelan sambil mendekap tubuh Dara.

Dara hanya menggeleng pelan sebagai balasan, dan dia balas memeluk Jiyong. “Apa anda tidak tidur ?”

“Aku tak bisa tidur” Pandangan Jiyong mulai kosong. “Aku tak bisa melindungi 2 orang yang paling aku cintai, aku terlalu lemah melakukan itu semua…”

Yeoja it menarik diri dan menatap Jiyong yang masih bergumam menyalahkan dirinya sendiri. Ia menarik wajah jiyong, mencari perhatian dari namja itu. “berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ini juga salahku”

Tanpa ragu sedikitpun, jiyong meraup bibir dara dan melumatnya. Dan tanpa berfikir lama juga dara ikut terhanyut dalam ciuman yang sarat akan kerinduan itu.

Mereka terengah bersama saat melepaskan ciuman itu, dahi keduanya masih menyatu. “Kau harus bangun dan bersiap, ketika hujan reda kau harus kembali ke Ibu Kota”

Dara terkejut setengah mati. “Aku tidak mau kembali kesana, aku ingin disini bersama mu Oraboni”

“Kau tak bisa tinggal disini, bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau berada disini maka aku akan tertangkap dengan mudah bukan”

“Kenapa kau jadi sangat egois sekarang ?” Dara menatap Jiyong tak percaya.

“wajahku sudah terpampang disetiap desa sebagai Pemberontak, jika aku tertangkap maka masa depan Joseon akan benar-benar hancur” jiyong mengalihkan pandangnnya, menghindari tatapan intimidasi Dara.

“Aku baru kehilangan bayiku, dan aku harus kehilanganmu juga ? Baiklah jika itu yang anda inginkan JUSANG JEONHA” Hati Jiyong seakan tertohok ketika nada bicara Dara kembali seperti saat pertama mereka bertemu.

Tanah yang masih basah membuktikan bahwa hujan baru saja turun. Semilir angin berlarian dimana-mana membuat suasana dingin tak dapat terlekakan.

Dara bersiap dengan jangot yang menurupi kepalanya.

“Apa anda benar-benar harus pergi Agassi” Minji bertanya dengan sangat khawatir.

“Seseorang tak menghendaki kehadiranku disni” Dara melirik Jiyong yang tengah mengikat tanannya di balik punggungnya sendiri.

“Anda masih belum sehat” Kini Daesung menimpali.

“Aku baik-baik saja, kalian harus baik-baik disini, jangan sampai terluka terutama kau minji-ah jaga kandunganmu dengan baik kalau kau tak ingin kehilangannya seperti aku”

“Agassi…” minji memeluk Dara dengan sangat erat.

“Padahal aku ingin bermain bersama Junhoe, tapi dia masih tidur” Dara melepaskan tangan Minji dari pinggangnya. “Aku harus pergi”

Dara menuruni anak tangga dengan hati-hati, melambaikan tangan sebentar sebelum kemudian menghilang di balik tingginya tembok gerbang.

“Apa kau benar-benar harus melakukan ini Jiyong-ah” Kini Yongbae bertanya pada Jiyong yang sedang melamun.

“Aku harus melakukannya, aku tak ingin ia terluka lagi karna aku” Jiyong mendesah panjang. “Kembalilah ke istana, jaga Dara dan lihat apa yang Ilwoo Hyung lakukan”

“Tapi liburanku belum selesai” Yongbae mengerucutkan bibirnya berusaha memberi candaan pada Jiyong yang sudah terlihat seperi mayat hidup.

“Jangan bercanda padaku, ini perintah” Jiyong meringis.

Yongbae mencibir “Memangnya kau masih memiliki kuasa untuk memerintahku eoh ?”

“Tentu aku masih punya, stempel kerajaan masih ada dalam tanganku, mereka tak akan bisa melakukan apapun tanpa stempel itu”

“Mereka bisa membuatnya lagi” Ucapnya enteng.

“Butuh waktu 1 bulan untuk membuat stempel kerajaan, karna bukan sembarang orang yang bisa membuatnya. Oleh karena itu siapkan kudeta, waktu kita hanya 1 bulan saja”

==TBC==

Next>>

Advertisements

27 thoughts on “DESTINY FOR THE KING [Part. 5]

  1. author pinter banget abis bikin seneng trus di jatohin langsung ngedrop readers, huaaaaaaa itu kenapa Ilwoo jahat banget yak -.- ibunya baek loh padahal. Kasian Daranya, dia pengen dideket Jiyong, eh malah disuruh balik lagi. boleh gak sih nyukurin bapaknya Dara? coba kalo dia gak rakus, Dara gak bakal menderita kayak gitu kan. Fighting Jiyong buat kudetanya, berharap berhasil. Thor, bisa nggak si Jiyong dibikin agak tegar dikit lagi, aku ngerasanya di lemer banget, masak dikit2 dia gak pede. seharusnya pas dara lagi lemah2nya dia harus kuat dong, bukannya Dara yang nguatin dia hehehe tapi good job lah thor buat chapter ini ^^ ditunggu chap selanjutnya yaaa XOXO

  2. 😭ilwoo oppa jahat dah udah ngambil kedudukannya jiyong oppa masih aja nggugurin anaknya dara unnie😭 next deh penasaran kelanjutannya, fighting authornim😁

  3. baca chapter ini campur aduk unn .. dari seneng” dapet baby .. eh akhir chapter dibikin mewek
    dara unnie yang sabar ya .. ji oppa harus kuat
    ayo rebut kembali tahta mu sama dra unnie

  4. Aduhhh benci bgt sama ill woo bner nih,knpa sih dia harus gugurin bayi jiyong sama dara:( smga dara gak benci sama jiyong krna dsruh balik lagi ke istana:(

  5. Sebenarnya aku penggemarnnya jung ill woo. Tapi disisi jadi jahat 😂😂😂 apa jiyong akan melepskan dara begitu saja?? Apa yg akan di lakukan dara?? Sepertinnya kudeta jiyong akan dimulai..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s