[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 11.

ano-another-copy

SCENE 11 <THIS RIGHT MOMENT>


“Bommie… apakah aku ini orang yang egois?”

Bom menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Sandara yang akhirnya ikut berhenti. Keduanya tengah berjalan-jalan di Hangang Park, sengaja bertemu saat keduanya memiliki waktu senggang.

“Apa maksudmu?” Bom sedikit kaget dengan pertanyaan Sandara.

“Apakah aku orang yang egois? Apakah aku orang yang selalu mementingkan diri sendiri?” dia kembali teringat perkataan Junki waktu itu.

Bom mengangkat bahu. “Entahlah, tapi kurasa semua orang memiliki insting untuk menjadi egois. Dalam segala kesempatan, mayoritas orang ingin dirinya diprioritaskan. Mungkin aku juga termasuk ke dalam kelompok orang yang egois. Yang berbeda hanyalah kadarnya,”

Sandara tersenyum mendengar jawaban Sandara.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?” selidik Bom.

Keduanya melanjutkan langkah. Berjalan perlahan menyusuri taman. Sandara menceritakan apa yang mengganjal dalam hatinya. Tentang Junki dan semua yang dikatakannya.

“Kau sudah banyak berubah, Sandara,” komentar Bom.

“Berubah?” Sandara tak paham.

Bom mengangguk, lalu menjelaskan, “Sandara yang kukenal dulu tidak akan mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Sandara yang kukenal dulu tidak akan pernah mengutarakan perasaannya kepada orang lain terlebih dahulu. Sandara yang kukenal dulu sangat berbeda dengan Sandara yang kukenal sekarang,”

Senyuman Sandara mengembang mendengar penuturan Bom.

“Terima kasih, Bommie…”

**

Lama Sandara tidak berjalan seorang diri di mall tanpa tujuan yang pasti. Rindu akan aktivitas itu, hari ini dia sengaja mengabaikan tugas kuliah yang menantinya dan memutuskan untuk pergi. Dia sedang ingin memanjakan mata dan hasratnya untuk berbelanja. Meski akhirnya dia memutuskan pulang tanpa ada tambahan barang bawaan apa pun, karena tidak ada yang menarik perhatiannya.

“Sandara,” suara yang begitu dia kenal. Apa sekarang dirinya sedang berhalusinasi lagi? Mungkinsebaiknya dia menemui psikiater.

“Sandara,” lagi-lagi suara itu berkatar. Tapi kedengarannya seperti nyata, bukan halusinasinya semata.

Dan benar saja, matanya mendapati sosok itu, berdiri beberapa langkah di depannya. Memandangnya dengan tatapan yang sama. membuatnya mengingat betapa dulu dia menyukai mata itu.

Rasanya Sandara ingin pergi saja, kabur, dia belum merasa siap.

Dia mulai melangkah mendekati Sandara yang masih diam tak tahu harus berbuat apa.

Tapi Sandara sudah lelah untuk terus menghindar. Energinya telah habis untuk terus berlari dan bersembunyi.

“Jiyong,” akhirnya nama itu keluar dairi bibirnya. Ada getar dalam suaranya. Lama sekali dia tidak menyebut nama itu.

Jiyong berjalan mendekat, hingga sampai di hadapan Sandara. Jiyong sendirian.

Jiyong tersenyum. Senyumannya masih sama. Sebuah senyum yang sanggup membuat hati Sandara berbunga-bunga. Dulu.

Sandara membalas senyumnya, setulus yang disanggupinya. Sedikit ke dalam, masih perih. Tapi dia ingat perkataan Bom kemarin dulu, bahwa dirinya telah berubah, bahwa dia adalah Sandara yang baru. Dia berusaha untuk menjadikan perkataan Bom tentangnya sebagai mantra untuk menguatkan hati.

“Sendirian?” Jiyong bertanya basa-basi.

Sandara mengangguk. “Apakah kau punya waktu? Bagaimana kalau kita makan siang di restoran depan?” entah setan mana yang merasukinya hingga dia berani bertanya demikian.

Jiyong menyanggupi karena memang dia sedang luang. Lagipula sudah lama dia menunggu untuk bisa berbicara dengan Sandara.

Meski merasa canggung, Sandara memaksakan diri untuk banyak bicara. Karena ini adalah kesempatan langka. Lain kali, belum tentu dirinya akan seberani ini.

“Sandara,” panggil Jiyong setelah Sandara diam cukup lama, karena tidak tahu apa yang akan dikatakannya lagi.

Sandara memandangnya dengan mata membulat lebar, membuat Jiyong ingat bagaimana dulu mereka pernah begitu dekat.

“Aku ingin minta maaf,” akhirnya perkataan itu keluar juga, sudah lama sekali permohonan maat itu tidak tersampaikan, mengonggok begitu saja dalam dirinya.

Sandara menarik nafas panjang. Dadanya sesak. Sebenarnya sudah menduga Jiyong akan mengatakan hal itu sejak ajakannya untuk makan tersampaikan keluar. Bahkan sudah sejak bertahun lalu. Dulu dipikirnya, akan sangat menyakitkan bila mendengar Jiyong mengatakan hal itu, tapi sekarang… biasa saja. Tidak ada yang yang pecah.

“Untuk apa?” nada bicara Sandara seperti sedang berhadapan dengan anak kecil.

“Sandara…”

“Sandara…”

Bukan itu jawaban yang Sandara inginkan. Bukan pula Jiyong yang menyebut namanya.

“Jiyong…”

Sandara sadar, ada orang lain lagi sekarang.

“Junki Oppa… Youngie…”

Dua orang yang Sandara panggil namanya tidak sedang menatapnya, melainkan menatap ke arah Jiyong. Tajam.

“Bagaimana kalian bisa berada di sini?” Sandara berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa aneh. Tanpa menyadari bahwa pilihan pertanyaannya salah.

“Aku juga bisa menanyakan pertanyaan yang sama kepadamu, kenapa kalian bisa berada di sini?” balas Junki, mengalihkan tatapan tajamnya kepada Sandara sekarang.

Sandara berkedip membalas tatapan Junki dan menjawab dengan polos, “Aku sedang makan dengan Jiyong,” lalu menunjuk kursi kosong di meja mereka, “Kalian mau bergabung dengan kami?” Sandara menawarkan.

Suasana semakin menjadi tak nyaman. Keempatnya duduk di satu sisi meja persegi. Junki di sebelah kanannya dengan tatapan terus tertuju kepadanya. Joonyoung berada di sebelah kirinya terang-terangan melirik ke arah Jiyong. Jiyong yang duduk di hadapannya bergantian memandang antara Junki, Sandara, dan Joonyoung.

“Jadi kalian sudah berbaikan?” pertanyaan ini keluar dari Joonyoung.

Sandara dan Jiyong saling pandang.

“Sudah,”

“Sudah,”

Mereka berdua menjawab hampir bersamaan. Rahang Joonyoung mengeras, namun dia tidak berkomentar apa pun.

Sandara benar-benar merasa sangat tidak nyaman. Bukan suasana seperti ini yang diinginkannya saat mengajak Jiyong makan tadi.

Bahkan hingga semua makanan telah selesai mereka makan, suasana tak kunjung berubah.

“Setelah ini, kau mau pergi ke mana lagi?” tanya Junki kepada Sandara.

“Pulang, tapi aku harus menunggu jemputan. Supirku sedang mengantar berkas Eommoni yang tertinggal di rumah tadi,” jawabnya sedikit kaku. Masih teringat akan penolakan Junki tempo hari.

“Kuantar saja,” Joonyoung menawarkan.

“Biar kuantar pulang,” Jiyong menawarkan.

“Kau pulang bersamaku saja,” Junki menawarkan.

Mata Sandara berkedip cepat. Ketiganya berkata dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Eh, tidak perlu. Jemputanku sebentar lagi datang,” dia menolak setelah tersadar dari keterkejutannya.

“Ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan. Terima kasih untuk semuanya,” akhirnya Jiyong berpamitan terlebih dahulu.

Kemudian Joonyoung dan Junki menyusul.

Belum hilang rasa kagetnya dengan apa yang baru saja terjadi, ada tiga pesan masuk, berurutas.

Kapan kau ada waktu? Masih ada hal yang perlu kita bicarakan. Dari Jiyong

Kau ada waktu? Aku perlu bicara denganmu. Dari Joonyoung.

Aku perlu bicara denganmu, kapan kau ada waktu? Dari Junki.

**

Sandara masih setengah tak percaya membaca ulang tulisan yang tertera di layar komputernya. Proposalnya untuk program pertukaran mahasiswa ke Stanford diterima. Tapi dia belum bercerita apa pun kepada Bom. Dia tidak ingin Bom terlanjur berharap dan akan merasa lebih kecewa dari dirinya jika proposalnya tidak lolos.

“Agassi, ada tamu,” Ahjumma Oh memberitahu dengan sedikit ragu. “Jiyong-ssi. Aku sudah mengatakan Agassi tidak ingin bertemu, tapi dia benar-benar memaksa kali ini,” Sandara merasa bersalah karena lupa mengatakan kepada Ahjumma Oh bahwa larangan untuk Jiyong sudah dicabut.

“Arasso, Ahjumma Oh. Tidak apa-apa,” katanya.

Rupanya Ahjumma Oh mempersilakan Jiyong masuk dan membiarkannya menunggu di ruang tengah. Sudah lama sekali Sandara tidak melihat Jiyong berada di rumahnya.

“Annyeong,” sapa Sandara riang.

Jiyong tersenyum menyambutnya. Dulu sekali, Sandara menganggap bahwa apa yang ada pada diri Jiyong adalah suatu kesempurnaan. Senyumnya, tutur katanya, sikapnya… tapi sekarang, akhirnya dia menyadari bahwa Jiyong tak ubahnya seperti dirinya. Hanya manusia biasa.

“Aku ke sini untuk melanjutkan obrolan kita kemarin,” katanya tanpa berbasa-basi. Rupanya setelah waktu berlalu, Jiyong masih belum berubah.

Sandara memberikan isyarat dengan matanya agar Jiyong melanjutkan perkataannya.

“Aku ingin minta maaf untuk semua kesalahan yang dulu sudah kulakukan padamu, kesalahan yang tanpa kusadari terus saja kuulangi dan berujung menyakitimu,”

Akhirnya Sandara mendengar permintaan maafnya. Bukannya Sandara tak menyangka akan mendapat permintaan maaf dari Jiyong, tapi dia takjub karena dirinya akhirnya sanggup mendengar permintaan maaf Jiyong.

“…”

“Apa aku ini adalah orang yang egois? Terlalu mementingkan diriku sendiri?” pertanyaan itu meluncur begitu saja.

“Sandara…” Jiyong menegur, karena bukan itu yang diharapkannya akan dia dengar setelah mengucapkan permohonan maafnya.

“Kumohon, jawab saja pertanyaanku itu,” rajuk Sandara.

Jiyong diam. Berfikir.

“Bukankah semua orang pasti akan memiliki naluri untuk bersikap egois?” Jiyong menjawab dalam bentuk pertanyaan. Sandara merasa pernah mendengar hal yang sama terucap. “Semua orang, tak terkecuali aku juga memiliki kecenderungan untuk mementingkan diriku sendiri,” tambahnya melihat Sandara akan membantah.

“Sebenarnya, aku sudah memaafkanmu dari dulu,” ujar Sandara pada akhirnya. “Mungkin, aku hanya tidak siap untuk mengakuinya,” tambahnya sedikit ragu.

Diam.

“Gomawo,” ucap Jiyong diiringis sebuah senyuman.

Sandara mengangguk, membalas senyumannya. Semua bebannya serasa lenyap begitu saja. Mungkin saja senyuman Jiyong memang memiliki efek magis.


SCENE END

<< back next >>

Advertisements

16 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] ONE ANOTHER >> 11.

  1. Setelah baikan sama jiyong apakah mereka bisa balik lagi kaya dulu? belum. Karna masih ada 2 lelaki yg minta pertanggung jawaban dara yg udah ngebaperin mereka. Eaaaa~~

  2. hmm giliran sandara udah bisa mengatasi masalah hatinya, eh malah ketiga-tiganya muncul secara bersamaan, canggung banget pasti tuh hahaha keren keren, lucuu~ sandara bakal pilih siapa ya, penasaran bangeeet….by the way, semangat ya thor untuk chapter selanjutnyaaa! 🙂

  3. Hemmm kayaknya Joonyoung, Jiyong, Junki (wahh Trio J) udh terpesona sama Dara. Kalo emang beneran ketiganya suka sama Dara, kayaknya Dara harus siap siap milih yang terbaik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s