BE MINE [Chap. 9]

25335697-176-k89752

Story by : mbie07

Link : Meet her on Wattpat & Aff

Indo Trans : DANG

Karakter:

Kwon Jiyong, Sandara Park, Lee Chaerin, Lee Sung Ri, Choi Seung Hyun, Park Bom

—ooo—

Here you go, Chapter 9!

 

Bel baru saja berbunyi diikuti guru mereka yang berjalan keluar kelas. Dara berdiri dan melakukan beberapa peregangan. Dia kemudian menggeser tubuhnya menghadap Jiyong yang sekarang memasukkan buku yang ia gunakan sebagai bantal ke dalam tasnya. Dara tersenyum saat ia berbalik dan dia kemudian mengumumkan bahwa murid yang piket hari ini harus mulai membersihkan kelas dengan Dara dan Jiyong duduk di meja guru menunggu mereka untuk menyelesaikan tugas mereka lalu Dara dan Jiyong hanya saling mengikatkan diri dan masuk ke dunia mereka senidiri. Mereka hanya akan berbicara satu sama lainnya, menatap satu sama lain lalu mereka akan mendengar Dara tertawa saat ia bermain dengan mainan kuning yang Jiyong berikan.

Kami akan pergi sekarang, Ketua Kelas!” Heechul salah satu teman sekelas mereka berkata sambil memberi hormat padanya. Dara tertawa karena dia selalu seperti itu. Dia menolak memanggilnya Dara tapi ia bersikeras memanggilnya dengan Ketua Kelas. Dara melambaikan tangan kepada mereka lalu berdiri dari  meja guru dan menyambar tasnya dengan Jiyong mengekor di belakangnya.

Kau tidak membawa sepedamu kan?” Dara bertanya sambil menatap Jiyong. Jiyong menggelengkan kepala. Dia tidak bisa membawa sepedanya, dia hanya jogging sambil berangkat sekolah, ingin menjernihkan pikirannya. “Kalau begitu, lebih baik kita mulai berjalan.” Dara tertawa lalu mereka berdua berjalan keluar dari kelas dan berjalan menuju rumah Dara untuk bertemu ibunya.

Jiyong menatap rumah Dara, itu tidak asing baginya tapi ada perasaan aneh di dadanya. Dia merasa gugup melampaui kata-kata dan ia bahkan bisa merasakan sangat tegang saat ini. Dia mati rasa. Dia adalah seorang pembalap ilegal, dia adalah pengemudi ugal-ugalan, dia mengemudi dengan kecepatan, ia mempercepat dirinya dan kehidupan nya mungkin satu inch dekat dengan kematian dan jika dia membuat gerakan yang salah, dia bisa saja mati. Dan dia tidak perna merasa gugup saat itu, tapi sekarang dia berdiri di rumahnya, mengetahui ibunya sedang menunggu di dalam, ia tidak bisa membantu untuk tidak menyerah dalam seluruh ketegangannya dan kegelisahannya.

Dara kemudian memegang tangannya dan meremasnya erat membuyarkan lamunannya lalu JIyong menoleh padanya. Ayo, Ibu sudah menunggu,” Ia tersenyum sambil menariknya dan membuka pintu gerbang. Jiyong merasa jantungnya dipompa sampai tenggorokannya dan dia hanya ingin membelahnya dan mengambilnya lalu membuangnya ke suatu tempat yang jauh darinya.

Ketika pintu dibuka, mereka disambut oleh bau makanan dan senyum hangat dari ibunya. Dia membungkuk hormat. Dia bahkan terkejut bahwa melakukannya, dia tidak pernah melakukan itu kepada siapa pun, bahkan orang tuanya. Dia cantik seperti Dara. Dia tampak muda untuk usianya dan ia memiliki rambut yang dikepang hitam panjang, yang tergantung di bahu kirinya. Dia mengenakan perhiasan sederhana dan dress berwarna krem yang sesuai warna kulit nya. Dia juga memiliki senyum yang sama seperti Dara.

Wanita itu tersenyum manis padanya lalu ia menarik lengan Jiyong. Selamat datang, sayang.” Katanya tersenyum. Dan tiba-tiba kegelisahannya hilang, seperti itu memang tidak pernah terjadi. Aku bilangkan dia akan menyukaimu,” Dara berbisik kepadanya sambil mereka terus berjalan masuk ke rumah dengan Ibu Dara yang berbicara banyak. Jiyong menggigit bibirnya saat ia menatap ibunya yang menyambut dia seperti dia adalah anaknya sendiri, seseorang yang mencintainya untuk waktu yang lama bahkan meskipun ia tampak seseorang yang akan merusak dan memberantaki seluruh rumah.

Setelah meninggalkan hal-hal mereka di ruang tamu mereka melanjutkan ke ruang makan yang Ibunya telah siapkan dengan keras. Jiyong menatap meja, tenggelam dalam pikirannya lagi. Itu bukan waktu pertama kali ia makan makanan buatan sendiri, seperti  yang dia makan ketika ia masih tinggal di rumah mereka yang sangat besar. Kalian bahkan bisa mengatakan bahwa itu seperti makanan yang disajikan di restoran hotel bintang lima namun itu tidak pernah menarik baginya, rasanya hambar, itu tidak memiliki rasa sama sekali. Makan dengan baik, Jiyong,” Nyonya Park tersenyum padanya saat ia dipaksa dirinya mengangguk. Dia kemudian meraih sumpit dan mulai makan. Dia makan diam-diam, mengunyah makanan dengan hati-hati.

Dia tiba-tiba berhenti makan lalu Dara menatapnya, ia memegang tangannya sambil menoleh padanya. Apa ada yang salah?” Tanyanya, khawatir. Jiyong menggelengkan kepalanya saat ia mulai mengunyah makanannya lagi lalu ia mengambil lebih banyak nasi, lebih banyak sup, daging babi lagi, dan sayur-mayur lagi. Dia mulai makan seperti dia tidak pernah makan sebelumnya, tidak merasa malu, tidak peduli, dia hanya ingin memuaskan rasa laparnya.

Saat ia mencicipi makanan, dia menunggu rasa hambar yang akan datang, rasa hambar yang ia pernah rasakan saat makan di rumahnya dulu. Dia kadang-kadang berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan lidahnya, karena ia tidak bisa merasakan apa-apa walaupun itu disajikan di meja besar dengan semua makanan yang lezat di dunia. Dia hanya tidak bisa merasakan apa-apa dan ia hanya makan karena dia perlu, bukan karena ia ingin. Tapi setelah mencicipi makanan yang dimasak di rumah Ibu Dara, dia terkejut bahwa itu tidak hambar. Ini benar-benar memiliki rasa dan bahkan lezat.

Dara dan ibunya saling melirik satu sama lain lalu bibir mereka membentuk senyuman. Dara berhenti makan dan hanya menatap Jiyong dengan senyum pada dirinya bibir. Apa pun yang akan Jiyong lakukan menurutnya sangat menarik dimatanya. Jiyong menoleh pada Dara yang menatapnya, tersenyum seperti orang idiot. Jiyong kemudian menyuapinya. “Makanlah,” ujarnya lalu Dara mengunyahnya dan mengangguk sambil mulai makan lagi. Ibunya tertawa melihat bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain. “Jiyong, aku ingin meminta sedikit bantuanmu,” Katanya lalu Jiyong dan Dara berhenti makan dan menatap Ibunya menunggunya untuk melanjutkan. Apakah tidak apa-apa?” Tanya ibunya. Jiyong menyeka mulut dengan serbet makannya dan mengangguk padanya.

Bisakah kau selalu makan malam dengan kami?” Ia tersenyum. Membuat bibir Dara melengkung tersenyum menyukai ide itu lalu ia perlahan menatap Jiyong. Jiyong merenungkan. Dia ingin selalu makan dengan mereka, tetapi disaat yang sama dia tidak ingin. Dia tidak ingin menumbuhkan ikatan yang semakin dalam tapi dia tidak bisa mengelak dia sudah terlalu terikat dengan gadis yang sedang duduk di sampingnya. Dia kemudian menoleh pada Dara yang sedang menunggunya menjawab. “Jika itu tidak apa-apa denganmu.” Katanya sambil melayangkan pandangannya kembali Nyonya Park.

Nyonya Park menggenggam tangannya bersama-sama. Itu akan hebat, tapi aku butuh kata-kata seorang lelaki,” kata Mrs. Park sebagai matanya berubah menjadi celah. “Aku berjanji,” kata Jiyong sambil melihat Nyonya Park dengan kejujuran di matanya. Baik,” Nyonya Park tersenyum sambil menaruh sepotong kecil daging babi di mulutnya dan mulai mengunyah yang membuat Dara dan Jiyong kembali pada makan.

Satu hal lagi,” Katanya memberhentikan mereka berdua dari makanan mereka sekali lagi. “Tolong jaga Dara selalu,” Katanya dengan senyum hangat sebagai Dara berubah sedikit merah. Jiyong mengangguk. Tidak perlu memberitahuku,  Nyonya Park,” ujarnya seperti Dara menatapnya, terkejut. Jiyong hanya kembali ke makan. Dara mengeluarkan tawa hangat lalu ia kembali makan. Mengapa dia merasa seperti entah bagaimana dia tahu itu, tahu pasti itu akan menjadi jawaban Jiyong.

Itu hampir jam 10 malam ketika Jiyong akhirnya memutuskan untuk pulang. Dara kemudian mengantarnya ke luar rumah mereka. Dia membuka pintu gerbang sebagai Jiyong keluar. Dia melirik langit. Langit malam ini indah, bukankah begitu?” Tanyanya, Jiyong mendongak dan menatap langit yang dipenuhi dengan bintang. Dia kemudian mengangguk, Dara tertawa saat ia terus melihat langit dengan Jiyong melihat sesuatu yang lebih menarik dari pada langit malam penuh dengan bintang-bintang bersinar. Jiyong menatap Dara, ia menatapnya seperti sedang menghafal setiap garis wajahnya, setiap lengkungan wajahnya dengan hati-hati ia menghafal dan memasukkan dalam pikirannya.

Terima kasih sudah datang,” katanya sambil menunduk padanya, dia mengangguk. Tidak, aku harusnya yang berkata seperti itu,” katanya. Terima kasih,” Kata Jiyong. Dara tidak bisa berkata-kata. Itu bukan sesuatu yang mungkin membuat  orang lain tersentuh, tapi untuknya saat Jiyong berterima kasih padanya ia merasa sesuatu yang begitu indah dan menakjubkan. Bibirnya melengkung membentuk senyuman lalu Dara perlahan mendekatinya dan memeluknya. Dia memejamkan matanya untuk merasakan kehangatan lalu Jiyong dengan lembut membungkus lengannya di pinggangnya, menariknya dan sedikit mengangkatnya. Tidak ada kata apapun selain keheningan diantara mereka. Mereka hanya ingin merasakan kehangatan satu sama lain, mereka hanya ingin merasakan bahwa tidak peduli apapun yang terjadi mereka masih memiliki satu sama lain. Dan bagi mereka itu lebih dari cukup.

Sampai bertemu besok,” bisik Dara masih dengan memeluknya dan dengan mata tertutup. Ya, sampai bertemu besok,” jawabnya. Jiyong merasa takut akan melepaskan pelukannya, takut bahwa mungkin esok tidak pernah datang. Dia merasa seperti besok begitu lama, bahwa itu seperti setahun dan dia hanya ingin tinggal bersamanya. Dia ingin bersamanya, ia ingin melihatnya, mendengarnya, merasakannya. Dara perlahan menjauhkan diri saat Jiyong dengan lembut menurunkannya. Dia tersenyum. Telepon aku kalau kau sudah sampai rumah, arasso?” Katanya masih tersenyum, Jiyong mengangguk. Dia kemudian mulai berjalan sambil melambaikan tangan padanya. Jiyong akan sesekali mencuri lirikan kecil dari dirinya. Jiyong berhenti berjalan saat melihat Dara sudah berada di dalam rumah mereka. Dia menghela napas dengan menempatkan kedua tangannya di dalam sakunya. Dia berjalan tidak memikirkan apa-apa tapi betapa senang dia hari ini. Dia merasa seperti hidupnya baru dimulai dan dia merasa seperti dia akan segera belajar banyak hal dan mengalami banyak hal yang ia tidak pernah sangka akan datang kepadanya. Dia berhenti pada salah satu toko yang sudah tutup dan menatap pantulan dirinya. Dia melihat beanie merah muda konyol yang Dara berikan, dia tidak akan pernah melepasnya. Dia kemudian beranjak dari tempat itu dan terus berjalan. Dia hanya beberapa meter dari rumah Dara, ponsel tiba-tiba berdering.

Dia meraihnya dan menjawab panggilan. Itu adalah Dara. Dia menekan telepon di telinganya tapi tidak mengatakan apa-apa. “Aku berpikir ingin menemanimu saat berjalan pulang.” Katanya cekikikan. Jiyong memandang sekilas langit malam. Bahkan di telepon, suaranya terdengar begitu manis, begitu hangat, begitu peduli. Lalu ia mulai bercerita, tentang mimpinya, tentang keluarganya dan semua hal yang ia rencanakan untuk masa depan. Lalu Jiyong hanya akan mendengarkan, seperti suara Dara adalah simfoni indah yang dimainkan bagi jantungnya . Kemudian ia tersenyum mendengarkan cerita dan mimpi-mimpi Dara, ada banyak dan berbdea satu sama lain tetapi ada 1 kesamaan diantara mimpi-mimpi dan rencananya. Jiyong, Jiyong hadir di semua mimpi-mimpinya, ia termasuk, ia ada di dalamnya. Yang membuatnya tersenyum untuk pertama kalinya. Itu membuatnya merasakan bahwa hidup adalah sesuatu yang penting dan berharga. Hal itu membuatnya berpikir untuk masa depan dan ia berpikir untuk mulai menyusun mimpinya sendiri, memikirkan apa yang dia ingin. Dan dari semua mimpi-mimpinya, Dara ada di sana, Dara adalah pusat dari semua mimpi-mimpinya. Itu untuk dirinya sendiri tetapi lebih untuk Dara juga. Pada awalnya ia merasa sulit karena hidupnya terbiasa tanpa tujuan, dan tanpa arah. Dia akan menerima takdir apa yang diberikan kepadanya tapi sekarang ia hanya merasa begitu berbeda, seperti dia hanya terlahir kembali menjadi orang yang baru. Seperti hidupnya ditata ulang sehingga ia bisa memulai yang baru, dengan Dara di sisinya.

Jiyong begitu asyik mendengarkan suara Dara dan bahkan tidak menyadari bahwa ia adalah sudah di dalam rumahnya, berbaring di tempat tidur yang berantakan. Ketika ia melihat jam hendak mencapai dua belas ia duduk dan menggaruk rambutnya, dia tidak ingin mengakhiri pembicaraan dengannya atau menekan tombol end call tetapi ia juga tidak menyukai gagasan bahwa Dara akan kurang tidur dan mereka punya kelas besok. Ini hampir tengah malam, mari kita tidur,” Jiyong berkata menunggu jawabannya. “Oke,” Jawabnya. Selamat malam Jiyong,” tambahnya. Kemudian Jiyong memperketat pegangan pada teleponya mengetahui dia akan mengakhiri panggilan. Jangan menekan tombol end call,” katanya. Lalu diam sejenak. “Mengapa?” dia bertanya. Mari kita tidur dengan ponsel menyala,” katanya sambil berbohong kembali ke tempat tidurnya dan mengatur telepon ke pengeras suara. “Sekarang tidurlah ……. selamat malam,” katanya sambil meletakkan telepon di sampingnya. Selamat malam Jiyong,” Jawab Dara sambil menguap. Dan itu adalah hal terakhir yang mereka berdua bisa ingat saat mereka memasuki alam mimpi.

Dara dan teman-temannya tertawa gembira saat CL dan Seung Ri bercekcok satu sama lain. Mereka semua di depan gerbang sekolah menunggu teman sekelas mereka yang lain dan bus yang akan membawa mereka ke kamp di mana mereka akan tinggal untuk tiga hari dan dua malam. Dara terus memutar kepalanya ke kiri dan kanan mencari Jiyong tapi ia  gagal menemukannya. “Lupakan saja, ia tidak pernah ikut ke kamp perjalanan bahkan sebelum,” CL tersenyum menggoda padanya sebagai bibir Dara melengkung membentuk cemberut lucu. Youngbae menertawakan kelucuannya sambil dengan ringan mencubit kedua pipi Dara. Lihatlah bagaimana menggemaskannya kau,” Kata Yongbae membuat Dara cemberut lagi.

Dara tersentak dan menoleh ke kanan saat ia melihat Jiyong yang memeluk pinggangnya, tidak benar-benar senang dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Minzy sedikit berbatuk. Oh Youngbae, hanya membantuku dengan hal-hal ini,” Kata Minzy sambil menarik Youngbae keluar dari tempat kejadian sebelum ia jatuh berdarah karena  death glare yang dia terima dari sang naga. Dara tertawa memecahkan tatapan melotot Jiyong pada Yongbae. CL bilang kau tidak pergi ke kamp,” Katanya sambil melirik CL sekilas yang menyeringai kepadanya. Jiyong memutar matanya. “Itu sebelum,” Katanya masih menatap CL yang hanya menertawakannya sambil dia cepat pergi ke Seung Ri dan membuat Seung Ri merengek lalu pertengkaran lain diantara mereka pun mulai.

Dara menatap Jiyong lalu melirik CL, kepalanya miring dalam kebingungan dan rasa ingin tahu. Jiyong dan CL tampaknya dekat tapi mengapa dia tidak menyadari sebelumnya. Dara menatapnya, mencoba untuk mencari tau, mencoba untuk mencari tau hubungannya dengan CL. Jiyong akhirnya melihat Dara meneliti tatapannya, ia kemudian memutar matanya, dia bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Jiyong kemudian mengacak-acak rambutnya dengan lembut sambil meraih tas Dara yang bahkan hanya dengan ia lihat Dara merasakan tasnya terlalu berat. “Tidak ada apa-apa. Jangan berpikir terlalu banyak,” Kata Jiyong sambil membungkus lengannya di bahu Dara, lalu mereka menatap ke depan. “Oke,” Dara tersenyum lemah padanya.

Dan hanya dalam hitungan menit bus tiba.

—000—

Di Chapter selanjutnya masih banyak hal-hal manis antara Daljiyong,

Karena Mbie07 ngebuat cerita ini bener-bener manis dan gak “sinetron” banget.

Dan kalo kalian Tanya tentang konflik,

konflik belum di mulai sama sekali.

Kira-kira konflik apa yang bakal terjadi?

See you next week,

 

DANG

Advertisements

35 thoughts on “BE MINE [Chap. 9]

  1. Seneng ommanya dara suka sm jiyong…. jiyong semakin hari semakin sweet aja sm dara dan sudah mulai cemburu gitu deh…. sebenarnya jiyong ada hubungan apa ya sama cl…mudah mudahan nggak ngancurin hubungan jiyong dara ya….knp harus ada konflik sih…..
    next chap ya dang makin penasaran fighting buat nerjamahin ffnya ya……

  2. Gak sabar nunggu konfilnya…
    Sumpah defta serasa jomblo yang punya pacar berkat ff yg super so sweet ini…
    Tengkiyu dang udah translate ff ini… semangat
    😍😍😍😘😘😘😘

  3. jiyong diterima dengan baik sama ibunya dara…kkk
    duhh deg degan konflik nya bakalan gimana..soalnya udah pas bgt mrekaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s