The King’s Assassin [47] : The First Snowfall

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

 

“Kalian mau pergi ke mana?” tanya Chaerin saat dia keluar dari rumah dan melihat Sanghyun dan Seungri sudah di berada di depan berpakaian serba hitam. “Dan kenapa… oh Tuhan, apakah kalian akan bertarung? Kalian akan bertempur?”

“Tenanglah, Chaerin. Kami hanya akan pergi ke Lotus House untuk mengambil gulungan dari Lady Hyori, itu saja.” jelas Seungri sambil mengikat tali sepatunya.

“Tapi… Seungri… kau tidak biasa dengan hal seperti ini…”

“Apa kau meremehkanku, Chaerin-ssi?” Seungri memberengut.

“Jangan cemas, Chaerin. Aku bersamanya. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi. Kami akan sangat berhati-hati,” Sanghyun tersenyum padanya. “Tadi aku mencoba menemui Ilwoo hyung, tapi aku tidak menemukannya di gubuk itu. Aku menyadari di tempat itu terdapat banyak jejak kaki. Aku cemas padanya.”

“Oh Tuhan,”

“Itulah kenapa kau harus tetap di sini dan jaga dirimu baik-baik. Kami juga akan berhati-hati. Tinggal sehari lagi dan Pangeran akan memenuhi janjinya,” tambah Seungri.

“Dia benar Chaerin,” Master Wu kaluar dari rumah dan menepuk bahu gadis itu. “Dan jika kau mencemaskan Lotus House, tidak perlu. Tidak ada orang mencurigakan yang datang ke sana, seperti yang diceritakan oleh Lady Hyori melalui suratnya. Dia mengirimkan salam untukmu. Tolong, percayalah kepada kedua orang pria ini.”

“Maafkan aku Master. Aku hanya merasa sangat cemas,”

“Cemas… aku juga merasakan hal itu, kukatakan jujur padamu. Tapi kita tidak bisa membiarkan kecemasan menghentikan kita. Kita sudah bergerak sejauh ini. Kita hanya perlu saling percaya satu sama lain,” kata kakek tua itu dan Chaerin mengangguk. “Aigoo… malam ini sangat dingin. Bulan tidak akan muncul… gelap. Malam yang sangat gelap,” lanjutnya sambil berjalan menuruni undakan rumah dan menatap ke langit gelap di malam yang dingin ini.

“Master… apakah ada peringatan?” tanya Sanghyun.

“Hanya… jaga diri… dan awasi terus Sandara dan Raja. Kumohon padamu,”

“Tentu saja, Master,”

“Semuanya sudah dipastikan, aku hanya perlu menunggu sampai acara penobatan besok. Menteri Kim, aku percaya, masih sibuk berdiskusi dengan kedua profesor itu. tapi mereka bilang, mereka akan menemui kalian di Istana,”

**

Di dalam kantor Menteri Kim, Profesor Yongbae dan Seunghyun duduk dan menunggu waktu yang tepat untuk pergi dan membawa buku catatan pernyataan ke Istana.

“Menteri… bagaimana jika… bagaimana jika Menteri Keadilan menggunakan kekuatannya untuk melindungi Penasehat?” tanya Yongbae.

“Kurasa tidak begitu. Aku tidak ingat pernah melihat Menteri Lee mengikuti rapat persekutuan dengan Penasehat,”

“Kalau begitu…”

“Mungkin dia mulai menyadari kesalahannya. Aku hanya tidak bisa mengambil resiko untuk berkata jujur padanya. Tidak, itu sangat berbahaya. Kita tunggu saja apakan dia akan mendatangi kita dalam waktu dekat,” jawab Menteri Kim, lalu dia menyadari Seunghyun hanya diam.

“Seunghyun…”

“Hyung,” Yongbae menyenggol Seunghyun keras, membuatnya terbangun dari lamunannya.

“N-n-eh?”

“Seunghyun…” Menteri Kim berdiri dan berjalan memutari mejanya, lalu menepuk punggung pria muda itu dengan penuh pengertian.

“Aku tahu… banyak yang kau pikirkan. Dan memang sangat berat untuk berada di posisimu. Tapi tolong, kesampingkan itu untuk sementara waktu. Bisakah kau melakukannya? Atau sebaiknya aku mengelurkanmu dari rencana ini dan kami berdua saja yang pergi ke Istana untuk menemui Raja.”

“M-m-enteri… tidak adakah pilihan hukuman lain selain eksekusi? Bisakah… bisakah jika kita tidak melakukan apapun tentang itu?”

Menteri Kim memegangi bahu Seunghyun dan meremasnya, memejamkan mata dan ikut merasakan rasa sakit yang ditanggung pria itu.

“Kita berdua sama-sama tahu jawabannya, Seunghyun. Ayahmu melakukan banyak kejahatan dan jika hanya mengerucutkan pada pembunuhan dan pemberontakan, dia masih akan mendapatkan hukuman mati.”

Seunghyun tiba-tiba berdiri, mengangguk lemah dan Yongbae hanya bisa melakukan hal yang sama. “Hyung… apakah kau benar-benar yakin tentang hal ini?” tanyanya dan hyung-nya itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Kita semua sudah bekerja keras untuk ini. Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehidupan Keluarga Park, Keluarga Lee, dan Keluarga Jung yang terenggut karena keserakahan ayahku. Tidak perlu mencemaskan aku.” Seunghyun tersenyum pahit.

**

[Now playing: Nam Taehyun – Snow Flower]

“Yah… Seunghwan. Bagaimana penampilanku?” sang Pangeran terus menggosok-gosokkan karena udara dingin, melihat ke arah gerbang penghubung, menanti Dara dengan penuh harap. Dia memerintahkan Harang dan Lady Gong untuk menjemput kekasihnya itu, sementara dia dan para pelayannya memutuskan untuk menunggu di tempat yang dia yakin wanita itu sangat tahu.

“Tampan seperti biasanya, Jeoha,” Seunghwan membungkukkan badannya, membuat Putra Mahkota mendengus.

“Kau selalu berkata seperti itu! Aku tidak tahu lagi aku masih bisa percaya padamu atau tidak. Rapikan topiku. Aisht. Udara semakin dingin saja. Aku jadi cemas, apakah dia baik-baik saja.” sang Eunuch segere merapikan topi Putra Mahkota dan berjalan memutari sang Pangeran sebelum menutup mulutnya sambil tersenyum.

“Yah. Apanya yang lucu?”

“Tidak ada, Jeoha. Maafkan saya,”

“Kau bersikap aneh.”

“Aiyoo… saya hanya merasa bahagia untuk Anda. Anda tumbuh besar sangat cepat, Jeoha. Saya tidak bisa percaya Anda tumbuh menjadi pria yang sangat baik seperti ini. Dan besok… anak yang sudah saya layani dan yang kepadanya saya sudah mengabdikan seluruh hidup saya, akan menjadi Raja yang baru. Dan kemudian, Anda akan menikah dengan wanita impian Anda… aigoo. Waktu begitu cepat berlalu. Kali ini, saya tidak akan sakit hati jika Anda mengatakan saya sudah tua,” Seunghwan mencoba tertawa, tapi kemudian air matanya mengalir turun dari kedua sudut matanya.

Pangeran mengerutkan alisnya melihat Eunuch-nya begitu emosional seperti ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak meraih kedua tangan pria yang lebih tua darinya itu dan menggenggamnya.

“H-h-yung…” Putra Mahkota ragu sejenak namun akhirnya tetap mengucapkan kata-kata itu, membuat Seunghwan mengangkat kepalanya.

“Aigoo, aigoo, Jeoha. Kenapa Anda memanggil saya seperti itu?”

“Kau bukan hanya Eunuch-ku. Kau bukan hanya pelayan bagiku. Aku tidak akan mungkin bisa berada sejauh ini tanpa bimbinganmu. Percaya atau tidak, aku tidak melihatmu sebagai seorang adik yang melihat kakaknya,”

“Jeoha,” bibir Seunghwan melengkung ke bawah dan kemudian pria itu mulai merajuk seperti anak kecil.

“Jeoha!!! Saya sudah… saya sudah merasa sangat beruntung sepanjang hidup saya. Saya tidak merasa diri saya penting, tapi Anda Jeoha, memanggil saya ‘hyung’ dan memperlakukan saya seperti ini, saya akan menyimpan kehormati ini bahkan sampai di kehidupan saya yang selanjutnya,” pria itu sudah berlutut. “Jeoha!!! Wangseja kecil saya sudah tumbuh besar! aiyoo!!!” Eunuch Seunghwan terus saja menangis keras.

“Yah, bangunlah! Aisht… yah! Apa yang sedang kau lakukan?!”

“Saya mencintai Anda dengan sepenuh hati dan jiwa saya, Jeoha!”

“Yah! Aisht! Itu sangat menjijikkan! Berhenti melakukan hal itu!”

Keduanya terus saja berdebat sampai akhirnya salah seorang pelayan berdeham.

“Jeoha,”

Sang Eunuch segera berhenti berdiri sementara Jiyong segera menoleh kepada pelayannya.

“S-s-andara-ssi sudah tiba, Jeoha,”

Jiyong menegakkan tubuhnya dan sang Eunuch segera merapikan pakaian dan topi tuannya, bahkan membantu sang Putra Mahkota untuk terlihat semakin rupawan dengan mengangkat dagunya, dan setelah melihat sang Pangeran telah siap, dia segera muncur dan mengangguk kepada si pelayan, sesat setelahnya seorang wanita dalam balutan dangui hijau muda dan chima pink berjalan malu-malu ke arah mereka.

Rambutnya dikepang rapi, dan diatas kepalanya dibari hiasan sepasang hiasan rambut dari emas dengan desain hiasan seekor naga – sang Pangeran tentu saja mengangguk penuh persetujuan. Sayang sekali, pikirnya. Karena saat ini musuh masih menghantui mereka, dia tidak bisa memperkenalkan wanita ini sebagai Putri Mahkota-nya dalam sebuah upacara penghormatan, namun tetap saja dirinya tetap di terima meskipun mereka akan menikah tanpa adanya upacara pertunangan dan kenyataan mereka akan meminta restu dari ayahnya mala mini membuat hatinya membuncah dengan perasaan senang dan berdebar-debar.

Dara berhenti beberapa langkah dari Jiyong. Dia tersenyum. Dan meskipun di matanya dipenuhi dengan rasa takut dan cemas yang tak terucap, wanita ini masih tetaplah sangat cantik dan Jiyong tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak terpesona.

“Bagus sekali, Lady Gong… Harang… terima kasih sudah membawa kekasihku ke mari,” kata Jiyong pada keduanya yang terkikik dan mengangguk mengerti. Mereka membungkukkan badan dan berbalik meninggalkan keduanya, sementara Seunghwan juga mulai melangkah menjauh, memberikan sinyal kepada yang lain untuk melakukan hal yang sama, memberi keduanya sedikit privasi.

Dara mulai menangkupkan kedua tangannya penuh keanggunan dan memberikan penghormatan kepada Putra Mahkota, namun keningnya berkerut saat dia justru mendengar suara tawa. Segera dia menatap pria itu, heran dan bertanya-tanya.

“Ada apa dengan semua formalitas ini?” Jiyong menutupi mulutnya, masih menertawakan wanita itu.

“W-well…” Dara terlihat tidak mengerti dan menggigit bibirnya yang pucat oleh cuaca dingin. Desahannya terlihat jelas, uap terbentuk di malam yang gelap. “Kita akan menemui ayah Anda. Kita harus—,”

“Ayahku, ya. Tapi tidak saat hanya ada aku,” Jiyong mengulurkan tangannya, menantikan Dara menerimanya, namun wanita itu terlihat ragu untuk sesaat.

“Kenapa… dari semua tempat, harus tempat ini? Kami mengalami kesulitan untuk menghindari Penjaga Istana hanya untuk melewati gerbang penghubung,” Dara cemberut.

“Aigoo… padahal kupikir kau akan ingat.” Sang Pangeran berdecak lidah. “Aku sangat kecewa, Sandara-ssi,” Jiyong menarik kembali tangannya dan menggelengkan kepala, namun Dara meringis dan melangkah mendekat, meraih tangan Jiyong dalam genggamannya – merasakan kehangatan pria itu di pipinya.

“Anda terlalu cepat menilai, saya mohon jangan seperti ini,” Dara tersenyum pada Jiyong. “Bagaimana mungkin saya bisa melupakan tempat ini, begitu saat saya menginjakkan kaki di taman ini, saya langsung teringat dengan wajah Anda ketika Anda terjatuh di tanah dengan keras dan Anda meringis kesakitan tapi berusaha menahannya karena harga diri Anda. Anda dulu benar-benar arogan dan anak yang sulit diatur, Jeoha,”

Wajah Jiyong memerah dan Dara menertawakannya.

“Bukan itu alasannya aku memintamu datang ke mari. Yah,”

“Kenapa? Anda tidak ingin diingatkan betapa buruk kelakuan Anda dulu?”

“Hentikan,” Jiyong menggelengkan kepalanya. “Aisht, kenapa kau terus—,”

“Karena saya dulu membenci Anda…” kata Dara membuat Jiyong langsung menatapnya. “… dan saya sadar, tidak peduli berapa kali saya mencoba membenci Anda, tidak peduli berapa kali saya marah kepada Anda, pada akhirnya… selalu saja seperti ini. Semuanya berakhir dengan wanita tidak berharga ini, mencintai Pangeran yang sangat berharga,”

“Dara…” Jiyong tidak bisa berkata-kata. Ucapan Dara tadi seolah menenangkan hati dan pikirannya, dari segala kecemasan akan kemungkinan hari esok. Dia menangkup wajah Dara dan wanita itu merinding karena sentuhannya, menyukai kehangatan telapak tangan Jiyong pada pipinya.

“Dingin. Kemarilah,” katanya sambil menarik Dara mendekat dan memeluknya erat. “Aaah… lihat bagaimana caramu menghangatkan hatiku. Aku benar-benar menjadi pria yang paling beruntung di dunia. Aku tidak ingin kau berpikir dirimu tidak berharga. Kau sangatlah berharga, tentu saja. Sangat-sangat berharga…”

“Benarkah?” Dara menempelkan hidung mereka dan mengalungkan lengannya di leher Jiyong. “Saya menyukai tempat ini. Meskipun sudah tidak sesempurna dulu dan musim gugur telah sampai pada ujungnya, kenangan saat melihat Anda untuk pertama kalinya tetap tersimpan di sini,”

Putra Mahkota mengecup bibir Dara dan mempererat pelukannya, menikmati waktu kebersamaan mereka sebelum makan malam dengan Raja. “Aku menyukai tempat ini… aku mungkan tidak menyadarinya dulu, tapi di sinilah tempat aku pertama kalinya menyukaimu. Mencintaimu… dan meskipu Istana membatasi semua gerakan dan tindakanku, aku tidak akan pernah bisa lebih bahagia lagi dari sekarang karena aku ditakdirkan untuk lahir di tempat ini setelah tahu kau bersedia menghabiskan sisa hidup denganku. Aku benar-benar pria yang beruntung. Katakan padaku, kau tidak akan berubaha pikiran, kan?”

“Demi surga, Jeoha. Saya sudah memberikan seluruh diri saya kepada Anda. Hati saya. Tubuh saya… jiwa saya. Anda memiliki saya. Dan siapa saya berani membalikkan badan dari suami yang paling diinginkan di seluruh negeri?” katanya jujur, membuat Jiyong tertawa.

“Kenapa, kau dulunya juga istri yang paling diinginkan,”

“Dulu saat saya masih remaja dan ayah saya adalah pejabat tertinggi,”

“Kita masih sangat muda dulu,” Putra Mahkota mengerucutkan bibirnya. “Aisht, aku pikir aku akan membuat undang-undang baru tentang pernikahan. Sungguh. Bagaimana bisa mereka menikahkan anak yang baru berumur lima belas tahun atau bahkan lebih muda, padahal di sini calon Raja mereka masih menanti kesempatan untuk bisa menikahi calon Ratunya? Aigoo.”

“Anda tidak melakukan hal itu karena iri, bukan?” Dara menggigit bibirnya untuk menahan tawa melihat sang Pangeran bersikap kekanakan setiap kali perasaannya merasa buruk.

“Dan kalau aku memang iri, kurasa tidak ada salahnya,”

“Aisht, Anda dan penyalahgunaan kekuasaan yang Anda miliki,”

“Ani! Aku menggunakan kekuasaanku dengan sangat baik… khususnya padamu saat kita ada di tempat tidur,” bibir Jiyong mengerucut, tapi matanya bersinar nakal, membuatnya mendapatkan pukulan dari Dara di dadanya.

“Y-y-ah!”

“Oh untunglah ada lentera, karena aku bisa melihatmu tersipu. Kau terlihat sangat manis,”

“Jeoha, hentikan. Mari kita pergi menemui ayah Anda,” Dara mencoba menarik dirinya, namun sang Pangeran memeganginya lebih erat.

“Tidak, belum saatnya.” Dia menarik Dara semakin dekat. “Mari kita nikmati waktu kebersamaan kita ini.”

“Kita masih bisa mengunjungi tempat ini kapan pun kita mau,”

“Tidak… diamlah. Peluk aku dan tetap seperti ini sebentar saja, neh? Aku takut aku mungkin akan kehilanganmu,”

“Jeoha, apa yang Anda katakan?”

“Aku bercanda! Bagaimana mungkin aku akan kehilanganmu? Kau selalu berubah-ubah sikap, kadang panas kadang dingin, aku jadi bingung karenanya,” Jiyong cemberut dan Dara kemudian mengistirahatkan kepalanya di dada Jiyong sementara mereka masih saling berpelukan di malam yang dingin.

“Maafkan saya…”

“Apa kau masih memikirkannya?”

“Hmm?”

“Ilwoo…” rahang Jiyong mengeras saat mengatakan namanya.

“Saya hanya merasa cemas,”

“Hong tidak bisa menemukannya. Tapi aku sudah memerintahkan mereka untuk berpatroli di area itu. Aku yakin dia akan kembali ke sana,”

“Bagaimana jika tidak?”

“Maka aku jadi percaya kau akan tetap bertemu dengannya…” Jiyong memejamkan matanya dan mempererat pelukannya saat sebuah suara kembali terngiang di kepalanya. Dia menginginkan Dara… antara Dara atau ayahnya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan tentang malam itu?

“Tapi kau tidak akan meninggalkanku, kan?”

“Jeoha, kenapa Anda terus menanyakan hal itu kepada saya? Anda memiliki hati saya. Saya mencintai Anda dan saya mohon percayalah pada saya, saya tidak akan meninggalkan Anda. Bahkan jika kematian menghampiri kita, hati saya telah menjadi milik Anda,”

“Aku sangat mencintaimu… terima kasih,”

“Jeoha?”

“Hmm?”

“S-s-alju…” Jiyong perlahan menjauhkan diri dan mengelus wajah kekasihnya sebelum mendongakkan kepala dan melihat titik-titik lembut berbentuk seperti bunga turun dari langit menghujani mereka.

“Sekarang masih musim gugur… kenapa salju pertama turun lebih awal…” Jiyong bertanya-tanya.

“Mungkin ini adalah berkat dari surga. Para dewa memberkati kita, bukankah begitu? Kata orang itu adalah pertanda baik jika sepasang kekasih melihat salju pertama turun bersama-sama,” kata Dara juga mendongakkan kepalanya penuh rasa takjub.

“Kudengar juga begitu…” Jiyong menganggukkan kepalanya, mencoba mengendalikan seringaiannya.

“Apa? Bukankah itu romantis, benar bukan?”

“Aku tidak tahu jika komandan pasukanku masih memiliki jiwa romantis.” Jiyong menyipitkan matanya membuat Dara cemberut.

“Saya mendengarnya dari ibu saya. Dia bilang dia bertemu dengan abeoji saat salju pertama turun. Jadi itu pasti benar,”

“Mungkin sekali,” Pangeran tersenyum manis padanya dan mengulurkan tangannya, seolah memberi tanda agar Dara menyerahkan tangannya. Wanita itu memiringkan kepalanya.

“Apa?” kedua alisnya terangkat.

“Aisht… tanganmu, my lady,” Jiyong membawa tangan Dara ke bibirnya begitu wanita itu menerima uluran tangan Jiyong, pria itu segera mengeluarkan sepasang cincin dan memakaikannya ke jari Dara.

“G-g-arakji? Tapi—,”

“Ya. Ini adalah cincin ganda yang artinya kau sudah ada yang punya. Aku tidak ingin ada pria lain yang melirikmu. Aku meminta mereka membuatkan ini seminggu yang lalu. Dan jangan berani-beraninya kau melepaskan cincin ini dari jarimu.” Katanya, yang ditelinga Dara terdengar seperti sebuah perintah. Dara memutar matanya. “Sangat cantik… aku suka melihat cincin ini berada di jarimu,” Jiyong mencium tangan Dara sebelum meletakkan sepasang lain di telapak tangan Dara. Dia pura-pura batuk dan menelan ludah berat sambil menunjukkan tangannya pada wanita itu.

“Apa?” Dara tertawa, menyukai rasa canggung pria itu, tapi tidak ada jawaban. Jiyong mendelik pada Dara dan menatap cincin di tangan wanita itu sebelum beralih menatap jemari panjangnya.

“Oh, maafkan saya, Jeoha.” Dara menggeleng-gelengkan kepalanya dan perlahan meraih tangan dingin Jiyong dan dengan hati-hati memakaikannya di jari Jiyong. Dara mencium cincin yang telah terpasang di jari Jiyong kemudian mengelusnya dengan ibu jarinya.

“Sudah, Tuanku…”

“Bagus. Jadi sekarang… ini sudah resmi, arasso? Pada saat salju pertama turun tahun ini… Kita. Bertunangan.”

“H-h-anya begitu saja?”

“Oh, aku akan membuatkanmu perayaan setahun penuh saat kita menikah! Aku ingin merayakan hari ini, tapi aku tidak mau mengambil resiko untuk memberitahukan keberadaanmu kepada orang lain.”

“Saya tahu, tapi…”

“Kita tidak membutuhkan siapa pun, Dara. Kita sendirilah yang memutuskan hidup kita, masa depan kita. Ini tentang kita. Hanya mengenai kita, tidak ada yang lain lagi,”

“Saya mengerti. Saya tidak membutuhkan eprayaa. Hanya saja, apakah ini tidak terlalu cepat?”

“Kenapa? Apa kau pikir aku akan memintamu menikah denganku tanpa adanya cincin? Lagi-lagi kau meragukan kemampuanku, Dara. Ijinkan aku sedikit menyisakan harga diriku,” Jiyong menatapnya tajam membuat Dara kembali tertawa keras.

“Anda terlihat sangat menggemaskan saat sedang merajuk begini,”

“Memangnya aku ini apa? Anak-anak? Aisht, ayo kita menemui Appa Mama,” Jiyong mengelurkan lengannya pada Dara, dan tanpa ragu wanita itu mengaitkan lengannya pada lengan Jiyong.

“Seunghwan, Lady Gong, Harang, ayo ikuti kami. Yang lainnya, kembalilah ke Istana Selatan dan katakan kepada pelayan untuk memastikan semuanya sudah siap begitu kami kembali, apa sudah jelas?”

“YEH, JEOHA!”

“Bisakah kita pergi sekarang, Tuan Putri?” tanya Putra Mahkota penuh rasa percaya diri dan Dara hanya menjawab dengan anggukan pasti, segera mereka berjalan menuju ke kamar Raja di bawah salju pertama – sementara itu Eunuch Seunghwan, Harang, dan Lady Gong diam-diam mengagumi calon Raja dan Ratu mereka.

**

“Jeoha, Putra Mahkota telah tiba,”

“Biarkan dia masuk,”

Pintu kamar Raja terbuka dan Jiyong segera mengaitkan jemarinya dengan Dara, telapak tangan mereka saling menempel satu sama lain dan Jiyong langsung bisa menyadari raut kecemasan dari tunangannya.

“Jangan,” dia mengelus pipi Dara dengan punggung tangannya yang satunya lagi. “Kumohon, jangan takut,”

Dara menggelengkan kepalanya kepada Jiyong. “Saya tidak merasa takut… tapi saya perasaan saya ini normal. Saya akan bertemu dengan mertua saya,” katanya membuat Jiyong menariknya mendekat untuk mendaratkan sebuah ciuman di kening wanita itu.

“Appa Mama pasti akan senang. Ayo,”

“Bagaimana dengan Sanghyun dan rekan-rekan Anda?”

“Harang, Seunghwan, dan Lady Gong akan menjaga pintu dan akan segera melaporkan kepada kita jika terjadi hal-hal yang tdiak diinginkan, tapi jangan mencemaskan apa pun. Mereka akan memberitahukan jika tamu kita sudah tiba. Tidak ada yang perlu dicamaskan, cintaku. Sekarang, ayo kita masuk. Tanganmu sudah dingin,”

Dara mengangguk dan mengatupkan bibirnya. Malam ini memang dingin, tapi apa yang membuatnya serasa membeku adalah kenyataan bahwa dia akan menghadap Raja. Bagaimana jika dirinya tidak disukai? Bagaimana jika Raja menentang hubungan mereka dan menghukumnya atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya? Dara mencoba mengenyahkan pikiran-pikirannya itu saat merasakan Jiyong meremas tangannya, seolah menyalurkan rasa aman, dan tak lama kemudian pintu menuju ke kamar utama Raja terbuka. Dara baru akan melepaskan tangan Jiyong, namun pria itu menggenggam tangannya erat-erat.

“Jangan,” kata Jiyong tanpa menatapnya, matanya tertuju pada pria tua yang meskipun sedang sakit, menatap mereka dengan semangat dan seolah-oleh telah menunggu-nunggu kedatangan mereka. “Jangan kau lepaskan. Kita menghadapi ini bersama-sama,”

Dara hanya bisa mengangguk dan tetap menundukkan kepalanya, mengikuti JIyong yang membimbingnya masuk – genggaman tangannya kian kuat saat Dara menyadari pintu di belakang mereka sudah tertutup. Dia menelan ludah berat.

“Akhirnya,” sang Raja memecah kebisuan dan mencondongkan tubuhnya, meletakkan kedua lengannya di meja.

“Appa Mama,” Pangeran melepaskan tangan Dara untuk memberikan penghormatan kepada ayahnya dan Dara hanya bisa melangkah mundur, meremas rok lebarnya sambil berusaha mengingat pelajaran dari ibunya tentang bagaimana cara memberikan penghormatan kepada Raja.

Dara memejamkan matanya erat saat merasakan pandangan kedua pria yang berada di dalam ruangan itu mengarah padanya dan kemudian dia melangkah maju, meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Perlahan dia mengangkat tangannya, melipat lengannya dengan anggun dan menundukkan kepala sembari merendahkan dirinya, memberikan hormat. Dia merasa panik. Kapan terakhir kali memberikan penghormatan formal seperti ini? Dara kemudian berdiri, perlahan-lahan dengan tetap mempertahankan keanggunan – melakukannya dua kali lagi hingga selesai. Dengan berhati-hati dia lalu meletakkan kedua tangannya di perut bagian atas dan menunggu sang Raja untuk berbicara.

“Aku tidak pernah tahu seorang wanita, belum lagi, seorang budak, yang berani memasuki Istana dengan menyamar bisa gugup dan gemetaran hanya karena bertemu dengan seorang pria tua sepertiku,” ucap sang Raja dan Jiyong segera menjawab.

“Appa Mama…”

“Duduklah,” perintah Raja kepada Jiyong yang hanya bisa menurut. Dia duduk di sisi kanan Raja, namun matanya tidak pernah meninggalkan Dara yang masih berdiri kaku dengan kepala tertunduk.

“Duduklah, nak, dan tunjukkan wajahmu padaku,”

Dara segera melangkah maju dan duduk di hadapan Raja, di sisi kanan dari Pangeran, dan kemudian dia perlahan mengangkat kepalanya, namun mencegah matanya untuk tidak menatap mata sang Raja. Bagaimana mungkin dia berani? Ketika ingatan akan rencana-rencana balas dendamnya kembali muncul di kepalanya – dan kini dia merasa bersalah. Karena yang ada di hadapannya sekarang hanyalah seorang pria tua. Dan meskipun terlihat pucat dan sakit, dia masih berusaha untuk tetap bersemangat dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.

“Aku bisa melihat kenapa putraku jatuh cinta padamu. Tapi aku percaya, ada lebih banyak hal yang tak terlihat,” sang Raja tertawa. “Kau adalah seorang wanita yang berani, Park Sandara,”

Jiyong mengerutkan alisnya menduga-duga bagaimana ayahnya bisa dengan cepat mengenali Dara, bahkan mengetahui fakta tentang penyamaran wanita itu. Jiyong menutupi mulutnya begitu sadar. Siapa yang telah memberitahu ayahnya?

“Appa Mama… bagaimana Anda bisa—,”

“Kenapa kau menyembunyikan hal ini dariku, nak?” Jiyong terdiam saat ayahnya menatapnya tajam.

“Saya… saya…—,”

“Seandainya kau memberitahuku lebih awal, aku mungkin bisa menemukan cara untuk membantumu. Tapi tetap saja, aku merasa lega kau sudah bisa sampai sejauh ini. Aku tidak membutuhkan alasan-alasanmu Jiyong. Aku masih merasa kecewa karena kau menyembunyikan hal ini dariku,”

“Maafkan saya, Appa Mama…” Jiyong menundukkan kepalanya.

“J-j-eonha…” Dara mengangkat kepalanya dan memaksakan sebuah senyuman. “Hamba mohon, maafkan kami,”

“Oh tidak… jangan merasa takut padaku. Kau tahu sejak awal aku memang sudah menghendaki kau menjadi Putri Mahkota. Kau adalah wanita yang sangat bijak. Dan sekarang, kau telah menunjukkan padaku seberapa kuatnya kau. Putraku membutuhkanmu. Dan diantara kita berdua…” Raja berhenti sejenak dan menggelengkan kepalanya lemah. “…sebenarnya akulah yang seharusnya meminta maaf,”

“Jeonha…”

“Aku tidak berada di sana saat kalian membutuhkanku. Aku adalah alasan kenapa keluargamu terbunuh. Akulah alasan mengapa empat orang anak harus hidup menderita. Aku ini adalah seorang Raja yang gagal dan tidak berharga. Maafkan aku,”

“Jeonha…”

“Jangan katakan itu tidak apa-apa. Karena tidak. Nasehat-nasehat bijak ayahmu, masih kusimpan dalam hati. Kesetiaan Menteri Jung, keberanian Profesor Lee… rekan-rekanku. Kerja keras teman-temanku… setelah semua yang kami lakukan bersama, pengabdian bertahun-tahun mereka, justru kematianlah yang kupersembahkan kepada mereka. Dan percayalah padaku, aku bukanlah orang gila. Tapi aku terkadang memang mendengar suara-suara dalam kepalaku. Oh, suara istriku juga masih menghantuiku. Dan suara ayahmu… betapa aku merindukan mereka,” mata sang Raja mulai berkaca-kaca meskipun sebuah senyuman masih terlukis di wajahnya.

Dara menutup mulutnya dengan tangan, sementara Putra Mahkota hanya bisa menatap ayahnya cemas. “Appa Mama… saya mohon tenanglah,” Jiyong berlutut dan menggenggam tangan ayahnya. “Saya mohon…”

“Aku hanya mengatakan semua hal yang mengganjal dalam hatiku. Kumohon, biarkan aku… jangan hentikan aku. Nak… besok adalah hari penobatanmu, aku akan menjadi ayah yang paling bahagia di bumi. Kau akan menjadi Raja yang lebih baik dariku. Dan Raja yang lebih baik akan menikahi Ratu yang dibutuhkan oleh Joseon. Setidaknya aku memastikan sesuatu yang baik terjadi padamu. Aku sangat merestui wanita di hadapan kita untukmu.”

“Terima kasih, Appa Mama, atas restu yang Anda berikan,” kata Jiyong, dia tidak mungkin bisa merasa lebih bahagia dari ini. Dia meraih tangan Dara dan wanita itu pun meraih tangannya.

“Hanya satu harapanku yang kuharap bisa kalian wujudkan,” Raja kembali berwajah murung sekali lagi. “Berikan aku banyak cucu,”

“Oh,” Jiyong langsung menolehkan kepalanya kepada Dara, sangat tahu bagaimana wanita itu akan bereaksi dan senyumnya tak bisa ditahan begitu melihat tunangannya itu wajahnya memerah mendengar harapan dari Raja. Dia semakin meringis lebar sambil meremas tangan Dara.

“J-jangan melihat saya seperti itu, Jeoha…”

“Maaf jika aku membuatmu malu, Dara. Tapi aku serius dengan permintaanku itu. Begitu kalian menikah, kalian harus segera memberikanku cucu,”

Tawa Jiyong semakin keras mengingat akan kenangan malam-malam mereka bersama. Dia mengangguk kepada ayahnya. Oh, kemungkinan akan hadirnya cucu yang diminta ayahnya mungkin malah sudah terkabul sekarang.

“Y-y-eh, Appa Mama. Saya berjanji padamu,”

“Bagus. Sekarang bisakah kita mulai makan malamnya?”

Pintu segera terbuka, dan aliran hidangan-hidangan menggugah selera yang telah dipersiapkan oleh Lady Han diijinkan masuk ke dalam Kamar Raja.

Makan malam mereka lalui dengan bincang-bincang ringan, kedua ayah dan anak itu membicarakan mengenai kegiatan mereka dan bagaimana perbedaan rekanan masing-masing dan kemudian keduanya beralih membicarakan tentang pernikahan.

Dara hanya bisa menatap percakapan Raja dengan Putra Mahkota dan hatinya merasa begitu gembira. Sebentar lagi, mereka akan menjadi keluarganya. Dan kemudian, dia akan memulai lembaran baru bersama sang Pangeran. Chaerin akan bebas. Juga Sanghyun. Namun mimpinya seolah hancur saat dia mengingat Ilwoo. Di manakah pria itu sekarang berada? Pegangannya pada peralatannya terlepas begitu saja.

“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Jiyong cemas, Dara menganggukkan kepala dan menundukkan kepala meminta maaf.

“Mianhe, Jeonha… Jeoha…” dia semakin menundukkan kepala dan meraih poci untuk menuangkan anggur bagi kedua pria itu

Dara menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya jauh-jauh lalu kembali pada makanan yang masih tersisa di mangkuknya.

Dia pasti akan menemukan jalan. Dia dan Pangeran akan menemukan jalan untuk menyelamatkan Ilwoo. Besok, Putra Mahkota akan menjadi orang yang paling berkuasa di Joseon. Setelah penobatan, Penasehat Choi akan ditangkap.

Dara mencoba menghapus rasa terancam dan pikiran-pikiran negatif dari kepalanya. Tidak, Pangeran… rekan-rekannya… Master Wu dan Menteri Kim bersama dengan Lady Hyori… mereka semua sudah bekerja keras. Mereka memiliki kemungkinan untuk melawan Penasehat Choi. Bahkan juga Ibu Suri jika ibunda Raja itu menghalangi jalan mereka.

Mereka akan menghancurkan orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Yang berkali-kali membunuh dan menyebabkan rasa sakit dan penderitaan. Dan setelah itu, segera… saat semuanya sudah baik-baik saja, dia akan menikah dengan pria yang dicintai oleh hatinya.

“Kudengar salju pertama telah turun,” ucap sang Raja, membangunkan Dara dari pikirannya. Dia mengangguk.

“Yeh, Jeonha. Kami… jami telah melihatnya,”

“Bagus. Apa kaliat tahu ada legenda tentang hal itu? Alkisah, jika ada sepasang kekasih yang bisa melihat salju pertama turun di tahun itu, maka kehidupan mereka akan dipenuhi keberuntungan. Mereka akan tetap bahagia dan bersama selamanya,”

“Anda juga mempercayai hal itu, Appa Mama?” Jiyong menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kenapa, apa kau tidak percaya? Ibumu yang mengatakannya kepadaku. Dan aku dulu tidak mempercayainya,” kata sang Raja.

“Tapi sekarang Anda percaya?” tanya Jiyong dan Dara hanya bisa menatap keduanya yang berbicara dengan penuh semangat.

“Ya. Karena kau juga terlahir saat salju pertama turun di tahun kelahiranmu. Dan hal itu membuatku berpikir, bahwa itu adalah sebuah keberuntungan.”

Jiyong menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak bisa percaya meskipun ayahnya yang mengatakan hal itu. “Lalu… apakah Anda juga melihat salju pertama turun bersama dengan Omma Mama?”

“Tentu saja!”

“Kalau begitu, kenapa dia meninggalkan kita semua terlalu cepat?”

Raja terdiam sejenak mencerna pertanyaan JIyong. Dara mulai merasa cemas melihat wajah pria itu itu menyiratkan rasa sakit yang coba ditahannya.

“Mungkin, aku masih harus memenuhi tujuanku hidup di dunia ini.” kata Raja. “Tapi… aku sering mendengar suaranya akhir-akhir ini. Dan dia terus saja memanggil-manggil namaku… kurasa dia merasa kesepian. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja. Jangan mencemaskan tentang omma, Jiyong. Aku tidak akan pernah meninggalkannya kesepian. Aku akan mencoba menghapus kesedihannya, segera,”

**

<< Previous Next >>

Advertisements

23 thoughts on “The King’s Assassin [47] : The First Snowfall

  1. Khawatir sm kata” raja yg t’akhr,
    Takut t’jadi apa” saat penobatan putra mahkota m’jadi raja,
    Takut k’jadian mlm 7thn lalu t’jd lg,
    Kan mlm itu t’jadi saat mlm s’blm pengesahan undang” baru kan ???
    Smga z gak t’jadi apa” mlm stlah raja nd pangeran makan mlm b’sama dara,

  2. Salju pertama, wow pingin ngeliat jadinya😝 aduh manis banget ya daragon momennya, bisa bikin para readers seneng😄 raja nyetujui hubungan jiyong oppa sama dara unnie, yeyy

  3. Daragon momentnya sweet banget,kata2 raja bikin khawatir.semoga nggak jatuh banyak korban lagi ampe putra mahkota naik tahta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s