The King’s Assassin [42] : Unravel

TKA

Author :: silentapathy
Link :: asianfanfiction
Indotrans :: dillatiffa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~  

Dara melenguh pelan saat merasakan udara panas berhembus di tengkuknya. Dia mencoba untuk bergerak, namun sepasang lengan kekar menariknya sampai punggungnya menyentuh sesuatu yang hangat dan nyaman. Dia menghembuskan nafas mengerti, sebentuk senyuman muncul di wajahnya. Tangannya perlahan bergerak untuk mengelus rambut panjang sehalus sutra milik prianya, terus turun hingga akhirnya tangannya bersentuhan dengan sebuah wajah.

“Hmmm…” sebuah suara dalam, serak dan Dara harus sedikit memutar kepalanya untuk melihat wajah pria itu.

“Selamat pagi, cinta…” perlahan Jiyong membuka matanya dan menatap Dara. “Ini masih dini. Kembalilah tidur,” katanya dan Dara sepenuhnya berbalik agar bisa menatap dirinya sepenuhnya.

“Selamat pagi.” Dara mengerjapkan matanya perlahan pada Jiyong. Pria itu tersenyum.

“Kau tidak pernah gagal untuk membuatku menahan nafas, Lady. Sungguh pagi yang sangat menyenangkan bisa terbangun di sisimu,” sang Putra mahkota mencium ujung hidungnya.

“Dan Anda tidak pernah gagal untuk membuat pujian terbaik, Jeoha. Saya benar-benar bangga dengan mulut manis Anda,”

“Oh, benarkah?” Jiyong menaikkan alisnya, sebentuh seringaian terpasang di wajahnya. “Well, ada banyak hal yang bisa mulut ini lakukan. Dan sekarang ini aku sedang menginginkan sesuatu yang lebih manis,” seringaiannya kian lebar membuat Dara menelan ludah.

“Takut sekarang, Tuan Putri?”

“Anda dan pikiran kotor Anda,” Dara menyipitkan matanya pada Jiyong.

“Oh, kenapa… kurasa kaulah yang berpikiran kotor,” Putra Mahkota mengecup bibir Dara ringan. “Tapi kurasa kita bisa memecahkan masalah ini,”

– censored for underage because of mature scene, for the complete chapter click here – 

“Jangan mabuk Dara. Jangan lakukan itu lagi. Dan kumohon…” suaranya mulai pecah. “Jangan bandingkan dirimu dengan para selir kerajaan itu, karena aku tidak akan pernah memiliki wanita lain selain dirimu – baik dalam pikiranku maupun hatiku. Tidak ada yang lain lagi, tidak akan pernah ada yang lain,” katanya sambil mengelus rambut Dara.

“Maafkan saya… saya hanya berpikir—,”

“Jangan berpikir berlebihan. Sudah kubilang padamu untuk mempercayaiku. Hanya kaulah satu-satunya yang bisa memanggil namaku. Kumohon, lakukan itu jika kita bersama.”

“Itu terlalu berlebihan, Jeoha… maafkan saya,”

“Kau bahkan sudah mengijinkan Hong untuk menyentuhmu,” nadanya terdengar seperti anak kecil yang merajuk meminta permen.

“Benarkah? Kapan?”

“Aisht, kau terlalu mabuk semalam,”

“Oh… itu… maafkan saya,”

“Memang harus.”

“Dengar, saya benar-benar meminta maaf,”

Jiyong menarik nafas dalam. “Kurasa kau baru saja memberiku satu alasan bagus untuk memaafkanmu karena sudah menjadikan pagi ini sebagai pagi terbaik sepanjang hidupku,” Jiyong tersenyum, namun senyumnya langsung berubah kecut mengingat pria yang datang semalam. Dia mencoba mengenyahkan pikiran itu, namun Dara menyadari perubahannya yang tiba-tiba.

“Ada apa?” wanita itu mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Jiyong.

“Kenakan pakaianmu, cinta… aku harus segera pergi. Aku harus menemui bawahanku pagi ini,”

“Apa saya tidak dilibatkan?”

“Tentu saja, aku akan memanggilmu jika sudah akan mulai. Kumohon, tidak perlu terburu-buru.” Jiyong duduk, membuat Dara ikut duduk di pangkuannya. Dia mencium bibir kekasihnya itu sebelum meraih pakaiannya dan segera berpakaian. Dara hanya bisa menatap dengan penuh kekaguman.

“Berhenti memberiku tatapan seperti itu, Dara. Aku mungkin akan mengabaikan kegiatan hari ini.” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar pengalihan yang manis, pikirnya.

“M-m-aaf,”

“Aku akan meminta Lady Gong untuk menemuimu. Lalu Seunghwan akan memanggilmu jika rapatnya akan dimulai,”

“Terima kasih,” dia tersenyum dan sang Pangeran menundukkan badan untuk mencium bibirnya mesra.

“Tidak. Justru aku yang harus berterima kasih karena sudah membuatku gembira. Aku akan menemuimu nanti. Aku mencintaimu,” dia tersenyum pada Dara.

“Saya juga,” jawab Dara dan kemudian Jiyong kembali dengan ekspresi kakunya sebelum dia keluar dari kamar Dara.

**

“Hong,” panggil Jiyong saat melihat pria itu sudah memimpin pasukan untuk pemanasan.

“Jeoha,” pria itu membungkukkan badan padanya. Menatap sang Pangeran dengan tatapan aneh sebelum membuang jauh-jauh pikiran liar yang muncul di kepalanya.

“Apa?”

“Tidak ada apa-apa, Jeoha,”

“Ada laporan tentang penyusup semalam?”

“Kami tidak menemukan jejak apapun, Jeoha,” mendengarnya JIyong menyipitkan mata.

“Apa kau sudah berkoordinasi dengan Tentara Kerajaan?”

“Ya, kami sudah melakukannya. Namun mereka bilang, mereka tidak menyadari sesuatu yang tidak tidak biasa.”

“Terus perketat penjagaan.” Kata Jiyong kemudian berjalan pergi, namun Hong segera berlari menghampirinya, hingga akhirnya mereka berdua sedikit berjarak dari para pasukan.

“Apa yang kau lakukan???”

“Maafkan saya, Jeoha, saya tidak bermaksud,” Hong berlutut, tangannya diletakkan di tanah kemudian keningnya ditelakkan di atas tangannya. “Maafkan saya, Jeoha!”

“Apa—,”

“Saya… pada awalnya saya tidak mengerti kenapa Anda sangat protektif terhadap Komandan padahal beliau sangat pandai dalam bela diri. Mulanya saya kira Anda adalah homoseksual. Namun selamam… semalam saya mengerti. Oh, maafkan saya, Jeoha. Anda sangat baik pada kami dan saya tidak mungkin merahasiakannya.”

Mata Jiyong melebar dan tangannya terkepal kuat.

“Komandan adalah seorang wanita, benar begitu bukan? Maafkan saya. Saat saya membantunya… maksud saya saat saya membantunya berdiri… tanpa sengaja saya—,”

“KAU APA???” dengan marah Jiyong menarik pria itu berdiri dengan mencengkeram kerah pakaiannya. Hong hanya bisa mengerutkan wajah dan mengangguk.

“Tanpa sengaja saya merasakan—,”

“DASAR BAJINGAN!” Jiyong mendaratkan sebuah pukulan pada Hong.

“JEOHA!!!” para pasukan yang lain segera mendekat, namun Jiyong langsung membentak mereka.

“JANGAN IKUT CAMPUR DALAM MASALAH iNI!!! TINGGALKAN KAMI BERDUA!!!” perintahnya dan mereka segera mundur menjauh.

“Jeoha, saya tidak tahu! Saya minta maaf!”

“Siapa lagi yang tahu? Siapa lagi???”

“Saya tidak berani memberitahukannya pada yang lain,” pria itu mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. “Itulah sebabnya saya memberi tahu Anda, Jeoha. Saya mengerti sekarang. Saya minta maaf. Harusnya Anda memberitahukannya kepada saya… kepada kami sebelumnya, mungkin kami akan mengerti.”

Jiyong menggertakkan giginya. Dia tahu Hong. Pria itu adalah salah satu orang kepercayaannya. Namun dia tidak bisa mencegah perasaan kesal tahu bahwa Hong sudah menyentuh Dara. sengaja atau tidak, itu membuatnya marah. Sangat marah.

“URUSAN KITA MASIH BELUM SELESAI,” dia menunjuk pria itu. “Kita akan membicarakan masalah ini. Kurasa aku bisa mempercayaimu mulai dari sekarang. TAPI KUBERI KAU PERINGATAN… JANGAN MENDEKATINYA KURANG DARI LIMA KAKI. APA KAU MENGERTI???”

“Yeh, Jeoha,”

“Aku akan terus mengawasimu, Hong. Kau tahu apa yang bisa kulakukan. Jadi jika aku jadi kau, aku akan menutup mulut. Dan jangan lupa tentang apa yang kukatakan,”

“Y-y-eh, Jeoha,”

“Kembali kepada pasukanmu,” Jiyong mendelik pada Hong sebelum berbalik dan berjalan pergi menuju kamarnya dengan marah.

**

“Betapa menyenangkannya melihat kalian berempat pagi ini,” Penasehat Choi bersama dengan para Menteri menyapa Seunghyun, Yongbae, Seungri, dan Daesung yang akan menuju ke Istana Selatan.

“Selamat pagi, abeoji,” sapa Seunghyun dan ketiga temannya membungkukkan badan.

“Bagaimana kabar istrimu, nak?” pria tua itu bertanya pada Seunghyun.

“Lebih baik… setelah sekarang kami bisa hidup bebas.” Jawabnya membuat ayahnya menyipitkan mata padanya.

“Bagus kalau begitu. Sampaikan salamku padanya,” kata sang Penasehat, kemudian beralih menatap Seungri.

“Oh, Menteri Lee pasti merasa sangat bangga. Putranya berada di sini.” Dia menyeringai. “Oh well, kami harus segera pergi. Hari ini akan jadi hari yang sibuk. Berhati-hatilah, tuan-tuan. Kudengar, Putra Mahkota melihat si pembunuh gelap semalam. Tolong biasakan diri dengan penjagaan yang semakin ketat.”

“Oh, kami bisa mengatasinya, Penasehat,” sela Profesor Dong. “Kami sudah terbiasa dengan hal itu. Lagipula tidak ada yang perlu kami sembunyikan, bukankah begitu? Kami selalu mengikuti peraturan Istana dengan senang hati,”

Pria tua itu menyeringai dan mengangguk setuju.

“Well, sebaiknya kami segera pergi. Pangeran akan naik tahta besok lusa. Kalian semua pasti sudah tidak sabar untuk menempati jabatan baru kalian,”

“Tidak sebesar Anda yang ingin mempertahankan posisi Anda, Penasehat,” balas Seungri.

“Wah, kau benar-benar memiliki lidah yang tajam, Lee Seungri.”

“Benar. Aku tidak akan herah jika ada orang yang ingin memotongnya,” Seungri melirik dengan seksama, membuat pria tua itu berdeham tidak nyaman.

Kedua kelompok itu berpisah jalan dan Seunghyun tidak bisa menahan rasa tidak enaknya pada Seungri. Saat mereka mengetahui apa yang terjadi, dia ingin sekali mengundurkan diri dari posisinya. Dia merasa tidak sepantasnya dirinya menjadi bagian dari mereka padahal ayahnyalah yang mengancam hidup semua orang.

“Hying, kumohon… jangan.” Seungri menepuk bahu Seunghyun saat menyadari rasa bersalah hyung-nya itu.

“Aku tidak bisa mencegahnya,”

“Itu bukan kesalahanmu,”

Seunghyun mendesah dan menganggukkan kepalanya kepada Seunghwan yang sudah menunggu mereka di luar ruang kerja Pangeran. Sang pelayan setia itu segera membimbing mereka masuk, menampakkan Jiyong yang tengah memijat pelipisnya.

“Jeoha,” mereka membungkukkan badan yang dibalas dengan anggukan kepala.

“Silakan duduk,”

“Seunghyun hyung berkata ada serangan semalam,” Seungri memulai.

“Itu bukan serangan. Itu adalah sebuah peringatan. Dia ingin aku memilih antara ayahku… dan Dara,”

“Apa?”

“Dia berpakaian serba hitam, dengan penutup wajah hitam. Badannya tinggi tegap… aku tidak mengenali suaranya,” kata Jiyong.

“Dia tidak melukai Anda?” tanya Daesung.

“Tidak,”

Daesung menoleh pada Seungri, memberi tanda untuk menceritakan kejadian yang menimpanya. Mungkin itu adalah orang yang sama.

“Saya diserang oleh tiga orang kemarin malam. Dan saya tahu… dari cara mereka berbicara, Penasehat Choi— maaf hyung,” Seungri menoleh pada Seunghyun yang hanya mengangguk kepada mereka. “Penasehat Choi ada di balik hal itu. Xin… ketua siswa, adalah putra dari Menteri Negara Urusan Kiri. Saya menerima perlakukan buruk darinya dan para anggotanya, akhir-akhir ini.”

“Lanjutkan,” Jiyong mendengarkan dengan seksama.

“Saya pikir saat itu saya sudah akan menemui ajal, namun seorang pria berpakaian serba hitam muncul. Dia sangat berbakat, dia berhasil membunuh ketiga orang itu hanya dalam sekejap mata.”

Tubuh Jiyong hampir gemetaran. Dia memejamkan matanya dan mengingat bagaimana cara pria semalam memegang pedangnya. Dan oh, bagaimana mungkin dia melupakan bagaimana cara pria itu mendekat untuk menyentuh Dara. Dia mengepalkan tangannya kuat.

Mereka melanjutkan diskusi mereka sampai mereka mendengar suara Seunghwan mengumumkan kedatangan orang lain.

“Profesor Choi, Profesor Dong, Menteri Kim telah datang,”

Putra Mahkota mengerutkan alis dan menoleh pada Seunghyun dan Yongbae.

“Ada banyak hal yang perlu Anda ketahui, Jeoha. Tapi tolong, tenanglah. Kita perlu bekerja sama,” kata Yongbae.

“Kami yang mengundangnya. Kami mencoba menemui Anda semalam untuk melaporkan kajadian-kejadian yang terjadi saat Anda pergi, tapi Seunghwan berkata Anda tidak berkenan menemui siapa pun semalam. Jadi saya akhirnya memutuskan untuk keluar Istana dan menemui Menteri Kim,” sahut Seunghyun.

“Apa maksudmu?”

“Ada gerakan rahasia, Jeoha. Anda memiliki orang-orang yang secara rahasia mendukung Anda. Mereka memiliki harapan besar, menanti Anda naik tahta.” Daesung ikut bersuara. “Lady Hyori, Chaerin-ssi, dan rumah gisaeng semacam Lotus House contohnya.”

“Dan Menteri Kim, Master Wu…”

“Dia bersama dengan kakek tua itu?” Jiyong terkejut. Sudah lama sejak terakhir kali dia mendengar kabar mengenai pria itu. Pantas saja Harang berada disini, pikirnya.

“Yeh, Jeoha.” Daesung menganggukkan kepalanya.

“Dan… Sanghyun juga ada bersama mereka. Sanghyun masih hidup,”

Mata Jiyong melebar. “Tapi dulu Dara yang menyerangku. Aku hanya salah mengenali—,”

“Ya, itu adalah Dara-ssi… tapi Sanghyun benar-benar masih hidup. Dia membawa Chaerin-ssi malam sebelumnya dan membawanya kembali malam berikutnya dan Dara-ssi berkesempatan bertemu dengan mereka,” lanjut Daesung.

“Tunggu sebentar, Daesung, kau tidak memberitahuku tentang Chaerin dibawa pergi oleh Sanghyun,” Seungri mendelik menatap pelayannya. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kapan itu terjadi?”

“Mereka tidak ingin Anda khawatir, Tuan. Itu terjadi beberapa hari yang lalu. Saksi yang mereka miliki ingin mengakui perbuatannya di hadapan Chaerin-ssi. Dia adalah pemimpin pasukan yang membunuh ayahnya, Profesor Lee.” Balas Daesung, namun Seungri menatapnya tajam seolah berkata dia akan berurusan dengan Daesung nanti.

Namun sang Pangeran tetap diam. Dara tahu? Tapi wanita itu tidak mengatakan apa pun padanya. Bagaimana caranya Dara tahu? Daesung bilang itu terjadi beberapa hari yang lalu. Berbagai macam pertanyaan mulai membanjiri pikirannya. Kenapa Dara berbohong padanya?

Rahang Jiyong mengeras, tapi dia berusaha untuk menenangkan diri.

“Jeoha, Menteri Kim menunggu,” kata Seunghwan dan Jiyong mengangguk.

“Biarkan dia masuk,”

Pikirannya berkelana. Jiyong ingin tahu semuanya. Dia akan berurusan dengan Dara dan masalah kepercayaan wanita itu nanti. Untuk sekarang, dia perlu mengetahui semua berita yang dilewatkannya karena kepergiannya ke Utara.

**

Dara berjalan mondar-mandir, sepatunya berdebam keras di tanah, sembari menatap tanda nama di tangannya.

Sanghyun bilang dia hanya membawa orang-orang yang memang diperintahkan oleh Menteri Kim dan Master Wu padanya. Dan mereka rencananya akan diinterogasi. Sanghyun mengakui, memang pernah membunuh beberapa orang sebelumnya, namun tidak akhir-akhir ini, sejak Master Wu tinggal dengannya.

Dara menggigit bibirnya. Gu Dongshin, dia membawa nama yang tertera. Dia ditemukan tewas. Kenapa? Sanghyun bilang beberapa orang yang coba ditemuinya sudah terlanjur tidak bernyawa ketika dia tiba. Bahkan Komandan So, orang yang sedang dicarinya, sepertinya juga sudah tewas.

Dan Sanghyun berkata bukan dia yang mengganggu pesta di kediaman Keluarga Choi. Kejadian itu mulai berputar kembali di mata Dara. Dia tidak ingat dia melihat Ilwoo saat kekacauan itu terjadi.

Jantungnya berdebar keras dalam dadanya.

Malam itu ketika dia mengunjungi Ilwoo, pria itu tengah pergi keluar. Dia bilang ada orang yang megejarnya.

Pemahaman muncul di kepalanya. Dara menatap noda darah yang menodai tanda nama dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak… itu tidak mungkin. Tidak mungkin dia,” dia tidak akan pernah mempercayai pikirannya. Memang ada kemungkinan, ya. Tapi dia tidak akan bisa menerima kenyataan itu.

“Tidak mungkin dia orangnya,” Dara menggenggam kuat tanda nama itu, membayangkan Ilwoo keluar pada malam yang dingin, bekerja sendirian karena dia telah meninggalkan pria itu padahal dirinyalah yang memaksa agar mereka kembali ke Hanyang. Dara merasa luapan rasa bersalah.

Master Wu pergi. Dirinya meninggalkanya. Dan kemudian Harang juga melakukan hal yang sama.

Pria itu sendirian. Apakah benar dia?

Dara masih sibuk dengan pikirannya saat mendengar seseorang berbicara di belakangnya.

“Masuklah. Kita perlu bicara,”

Dia menoleh dan melihat JIyong dengan eksresi yang tak terbaca. Dada pria itu yang naik turun dengan cepat dan tatapannya mengancam. Dara menelan ludah berat.

Apakah ada masalah?

“Jangan membuatku menyeretmu masuk ke dalam kamarmu, Dara. Aku tidak ingin menyakitimu,”

“Apa lagi yang saya lakukan kali ini?” tanya Dara pada Jiyong.

“Oh kau akan tahu apa yang kau lakukan. Aku ragu kalau kau sudah melupakannya. Sekarang masuk!”

Dara membuang pandangan, jantungnya berdebar keras dalam dadanya. Apakah Jiyong sudah mengetahui bahwa dirinya sudah melihat dokumen-dokumennya? Atau lebih buruk lagi, apakah pria itu sudah mengetahui perihal dirinya yang keluar dari istana? Dia menoleh pada sang Pangeran yang masih memasang wajah muram. Dalam hati dia merutuk.

“Apa kau kesulitan mengingat kesalahan-kesalahan yang kau lakukan, Komandan? Apakah aku harus mengingatkanmu? Masuk ke dalam kamarmu sekarang!” Jiyong menunjuk pintu kamar Dara dan wanita itu hanya bisa berderap masuk, tanpa peduli untuk melepas sepatunya. Jiyong terlihat menakutkan. Dia telihat tidak akan memaafkannya. Dan hanya dengan melihatnya, Dara yakin.

Dirinya dalam masalah besar.

**

<< Previous Next >>

Advertisements

36 thoughts on “The King’s Assassin [42] : Unravel

  1. Kaya’a bnr deh klo itu il woo,
    Kasian sih,,tp salah’a sndri gak mau bkrja sama dgn pangeran yg jlas” udh b’juang bwd mrk,
    Emng si smua t’jd krn kluarga krjaan tp gak s’hrs’a k’salahan d’tujuin k’pangeran,
    Maaf il woo oppa,tp kli ini q gak bsa mndukungmu,, 😥
    Thor mnta PW’a dong ,,
    Email q : atCunajah@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s