SUMMER BREEZE CHAPTER 4

Summer Breeze Part 4

Author : Mhelyndz @MhelyndzVIP

Editing : @ssintokkiYasinta ana

summer breeze daragon

Cast:

Sandara Park Dara

Kwon Jiyong

Lee Donghae

Kim Jaejong

Park Bom

Dara POV

“Jiyong ah !” aku memekik keras ke arah Jiyong

berusaha melepaskan genggaman tanganku. Tapi Jiyong

malah menggenggam tanganku lebih erat membuat aku meringis karena kesakitan. Tanpa mengatakan apapun Jiyong

menarik tanganku mengikutinya. Aku berusaha melepaskannya tapi percuma tenaga Jiyong lebih kuat.

“hyung ah” ucap Donghae

tiba –tiba membuka suaranya, tangan kiriku di genggam oleh Donghae. Tapi kenapa Donghae memanggil Jiyongdengan sebutan hyung??apa Donghae kenal dengan Jiyong? ku lihat Jiyong berbalik menatap Donghae dengan tajam, kemudian melepaskan genggaman tangan Donghae di tangan kiriku. Jiyong lalu menarikku dengan cepat untuk mengikutinya. Aku melirik sekilas ke arah Donghae yang hanya terdiam menatapku pergi, wajahnya terlihat memikirkan sesuatu.

“Jiyong ah” ujarku keras. Aku berjalan terseok-seok karena Jiyong terus saja menarikku dengan cepat membuatku susah mengikutinya.

“ya ! Jiyong ah!” pekikku lagi, tapi Jiyong sama sekali tak menggubrisku. Aku memang merindukannya tapi aku tak bisa menerima Jiyong bersikap seenaknya kepadaku. Namja itu pergi dengan tiba-tiba, menyuruhku melupakannya dan setelah perasaanku sedikit membaik karena kehilangannya, tiba-tiba dia datang dan menarikku kasar tanpa mengatakan apa-apa. Sebenarnya apa mau Jiyong memperlakukanku seperti ini, dan kenapa wajahnya sangat marah seperti ini.

“Jiyong ah, waeyo?? Aku sudah lelah” ujarku pelan tanpa bisa ku kontrol.

Langkah Jiyong berhenti, dia melepaskan tanganku pelan lalu berbalik menatapku. Kini tatapannya tak lagi marah seperti tadi, tatapannya sangat lembut, seperti tatapannya saat meninggalkanku dulu. Dadaku kembali sesak, pertahanan yang ku bangun untuk bisa melupakan Jiyong kini hancur, rasa untuk Jiyongi kini justru malah semakin tak bisa ku tahan. Kenapa Jiyong harus muncul lagi di hadapanku??

“apa maksudmu kau lelah??” tanyanya pelan.

“aku lelah dipermainkan olehmu Jiyong, kau datang tiba-tiba bersikap sangat baik kepadaku, tapi kau juga pergi tiba-tiba menyuruhku melupakanmu tanpa alasan yang jelas, dan sekarang kau malah muncul dihadapanku, apa kau memikirkan perasaanku saat ini??” ujarku gamang, pertanyaan-pertanyaan yang selalu bergumul dikepalaku sejak Jiyong meninggalkanku, aku lontarkan kepadanya. Mungkin dengan mendengarkan penjelasannya aku bisa lebih mudah untuk melupakannya. Aku menatap Jiyong yang masih terdiam tanpa mengucapkan apa-apa.

“apa sebegitu sulitnya untukmu menjawabnya??” tanyaku pelan, tapi Jiyong masih terdiam. Matanya hanya menatapku tajam, dahinya mengerut seperti tidak menyukai sesuatu yang ada di pikirannya saat ini. Aku tak mengerti dan tak akan mencoba untuk mengerti Jiyongi lagi, aku sudah lelah ditinggalkan oleh namja yang kusukai tanpa alasan yang jelas.

“katakan saja kalau kau tidak menyukaiku karena kau hanya menganggapku chingumu, atau katakan saja kalau kau membenciku, setidaknya kalau kau…”

“ya ! apa maksudmu!” Jiyong memotong perkataanku, wajahnya kini kembali terlihat penuh emosi. Dia menatapku lebih tajam seperti tidak menyukai perkataanku.

“bagaimana mungkin kau berpikir kalau aku hanya menganggapmu chinguku dan bahkan berpikir kalau aku membencimu” Jiyong terlihat sangat emosi mengucapkan kata-katanya.

Apa maksudnya di matanya aku lebih dari sekedar chingu??apa dia juga menyukaiku?? Tapi Jiyong lagi-lagi terdiam membuatku kembali bertanya-tanya maksud semua perkataannya.

“Jiyong ah, aku sudah benar-benar lelah dipermainkan olehmu. Kau meninggalkanku dan sekarang berkata kalau aku lebih dari sekedar chingu untukmu?apa kau pikir ini semua tidak akan membuatku lebih sulit untuk melupakanmu??” ujarku pelan. Jiyong kembali terdiam, tatapannya sendu. Apa memang Jiyong tak ingin mengatakan apa-apa kepadaku?

“Jiyong ah, aku memang menyukaimu, tapi kalau kau tak menyukaiku aku bisa menerimanya. aku akan berusaha melupakanmu” ujarku akhirnya, hatiku sangat sakit mengucapkannya. Tapi aku tak akan menyulitkan Jiyong dengan perasaanku. Jiyong masih terdiam.

“baiklah, kalau tak ada yang ingin kau katakan lagi lebih baik aku pergi” ucapku akhirnya bersiap berbalik untuk pergi. tapi aku merasakan tangan kananku di genggam oleh Jiyong. aku tak mau menoleh melihat wajahnya. Melihat Jiyong membuat hatiku sakit karena ternyata orang yang ku suka tak menyukaiku. Lagipula aku tak mau Jiyong melihat mataku yang memerah karena menahan tangisku, aku tak mau terlihat lemah di hadapannya.

“Dara ah” ujarnya pelan. Aku menunggu beberapa saat, tapi Jiyong tak kunjung berbicara. Meski sakit tapi aku tau ini saatnya aku benar-benar melepaskan Jiyong. namja itu bahkan tak berniat menahan kepergianku, bukankah kalau dia juga mencintaiku dia akan berusaha mempertahankan orang yang disayanginya itu?

Aku menguatkan langkahku berjalan menjauhinya, kenapa Jiyong harus muncul lagi?bukankah tanpa dia harus muncul lagi sudah sulit usahaku untuk melupakannya, melihat wajahnya di tv saja membuatku hampir gila saking merindukannya. Atau bahkan melihat wajahnya di poster sebuah toko cd membuat jantungku berdegup kencang. Tapi dia malah muncul lagi setelah lama tak bertemu, membuatku harus memulai usahaku dari awal untuk melupakannya. Aku menyetop sebuah taksi dengan cepat, lalu masuk ke dalam dengan terburu-buru. Saat pintu di tutup itulah air mata yang berusaha ku tahan sejak tadi keluar. Aku mengatakan tujuanku kepada supir taksi, berusaha terdengar jelas di tengah isakan tangisku. Aku benar-benar tak mengerti dengan Jiyong, sekarang namja itu bukan seperti Jiyong yang ku kenal. Sifatnya kini berbeda seperti menutupi sesuatu dariku. Tapi tak bisa ku pungkiri kalau aku masih mencintainya. Aku memang tak mudah jatuh cinta, tapi kenapa sekalinya aku jatuh cinta, semuanya justru tak pernah berjalan mulus?apa aku memang tak boleh merasakan perasaan bahagia karena cinta lebih lama??

***

aku membayar ongkos taksiku kepada si supir taksi, aku menggeleng pelan saat ahjussi itu ingin mengembalikan uangku yang masih tersisa cukup banyak itu. anggap saja uang itu adalah hadiah karena menemaniku sore tadi keliling seoul dengan taksinya. Sore tadi air mataku terus keluar sampai-sampai aku tak mau pulang dan membuat orang tuaku khawatir karenanya. Hari sudah hampir malam saat aku melihat Donghae

ada di hadapanku, bersandar di mobilnya. Wajahnya terangkat saat melihatku. Apa dia sudah lama disana? Aku menghampirinya pelan.

“apa sedari tadi kau menungguku??” tanyaku pada Donghae

,padahal cuaca sore ini sedikit mendung membuat udara sedikit mendingin. Ku lirik sekilas wajahnya yang memucat, Donghae

terlihat kedinginan.

“Donghae ah, wajahmu pucat, kenapa kau tak menungguku di dalam??” tanyaku mengkhawatirkannya, tapi Donghae

tak menggubrisku, dia justru memelukku erat. Membuatku sangat bingung dengan kelakuannya yang tiba-tiba ini.

“Donghae ah, waeyo??” tanyaku pelan, apa dia sedang ada masalah sampai terlihat kacau seperti itu?

“Dara ah, apa kau menyukai Jiyong??” tanya Donghae

pelan di telingaku tanpa melepaskan pelukannya.

“ne” ujarku pelan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa ku kontrol. Entah kenapa aku merasa sangat bersalah saat mengatakan itu di depan Donghae, kata-kata hani yang mengatakan kalau Donghae masih mencintaiku terlintas di kepalaku, membuat perasaanku semakin bersalah kepada Donghae karena telah jujur. Donghae melepaskan pelukannya padaku.

“ternyata memang tak ada lagi kesempatan untukku” gumamnya pelan yang samar-samar masih bisa ku dengar.

“Donghae ah, wae kau menanyakan ini semua padaku??apa kau mengenal Jiyong??” aku menatapnya lekat-lekat teringat tadi saat Donghae memanggil Jiyong dengan sebutan hyung.

“anii, lebih baik kau masuklah” ujarnya tersenyum lalu membelai rambutku lembut. Aku baru akan bertanya lagi, tapi Donghae sudah mendorongku masuk ke dalam pagar. Dia mengusap kepalaku sekali lagi kemudian tersenyum lembut. Senyumnya terlihat sangat sedih. Donghae lalu masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan cepat. Aku terduduk di depan pintu rumahku lemas. Nafasku memburu pelan. Apa aku menyakiti Donghae??kenapa aku terlalu jujur mengatakan kalau aku masih menyukai Jiyong?tapi wajah Donghae tadi sangat sedih, apa itu karenaku?apa semua yang dikatakan hani benar, kalau Donghae masih mencintaiku?aku memang yeoja ppabo, hanya sibuk memikirkan perasaanku pada Jiyong sampai tidak terlalu mempedulikan perasaan Donghae . aku benar-benar tak menyukai saat melihat wajah sedih Donghae tadi. Tapi aku juga masih terbayang-bayangi kejadian saat bersama Jiyong tadi. Semuanya benar-benar membuatku lelah. Tapi apa Jiyong dan Donghae saling mengenal?aku benar-benar tak mengerti.

***

Aku melirik sekali lagi ke arah handphoneku, tak ada tanda-tanda Donghae membalas smsku. Kemana namja itu?sejak semalam aku tak bisa menemuinya. Padahal hari ini aku dan dia sudah berencana akan mengunjungi makam Jaejong. Hari ini adalah hari peringatan 2tahun kematian Jaejong. Aku saja hampir melupakannya andai saja tadi pagi jam pengingat di handphoneku tidak berbunyi mengingatkanku. Hanya sebuah sms singkat dari Donghae yang menyuruhku untuk menunggunya di kampus.

“Bom ah!” panggilku ke arah Bom sahabatku yang sedang terduduk di sebuah bangku di sudut tangga. Wajahnya terlihat serius melihat ke layar handphonenya. Dia mengangkat wajahnya lalu tersenyum sekilas kepadaku dan melanjutkan kembali aktifitasnya.

“ya Bom ah, apa yang kau lakukan sampai kau mengacuhkanku” ujarku dengan nada sinis yang sedikit ku buat-buat. Aku tak mau membuat sahabatku ini khawatir lagi karena melihatku yang bersedih memikirkan Jiyong.

“hmm aku sedang mendownload lagu, tadi pagi beberapa lagu ciptaan Jiyong sudah launching dan bisa di download” ujarnya bersemangat, tapi wajah Bom sedikit berubah setelah mengucapkan nama Jiyong dihadapanku. Aku tersenyum manis kepadanya, menandakan kalau aku sudah berusaha melupakan namja itu. aku duduk di samping Bom dan membuka handphoneku, sekali lagi mengecek apakah ada sms masuk.

*Seungri- Next Day-korean version

Penyanyi : Lee Seungri

Composer : Kwon Jiyong

Anggap aja ini lagu GD yag nyiptain ya,, hhe,, soal

Hey girl, how’s it been?

Ch.. I need you, come back

HOH~ YE~ YEAH

HOH~ YE~ YEAH

maji mothe nunur to monjo morimath jonhwa girur hwagin hago

gin hansum shwigo to han chamur

giogi jogag nan ne ojebam irur to ollyo bodaga

to hansum shwigo

Aku mengangkat wajahku menatap Bom setelah mendengar beberapa bait lagu yang sangat ku kenal terdengar dari handphonenya.

“mwo??da eum nal??kau juga suka lagu itu??” tanyaku padanya. Bom menatapku bingung.

“da eum nal??apa maksudmu??lagu yang ku download ini berjudul next day, akhirnya aku bisa juga mendengarkan lagu ini. Kau tau, aku sangat penasaran dengan lagu ini setelah Jiyong menyanyikannya beberapa bait di sebuah radio, untuk mempromosikan lagu ciptaannya” ujar Bom bersemangat lagi.

“ya ! Bom ah, bagaimana mungkin kau penasaran, lagu ini kan sudah lama, memang kau belum pernah mendengarkannya??ini lagu favoriteku dan Jaejong” ujarku padanya, sedikit tertawa karena memang itu lagu lama, mungkin sahabatku sedikit kuper karena tak mengetahui lagu ini. Bom terlihat kaget.

“kau mungkin salah dengar Dara ah, lagu ini baru saja di rilis hari ini. Aku saja belum mendengarkan full lagunya.” terang Bom lagi. Aku menautkan alisku bingung, bagaimana mungkin lagu lama itu Bom bilang baru di rilis?belum sempat aku menanyakan kebingunganku, Bom mengangkat wajahnya penasaran.

“Dara ah, apa kau tau Jiyong mempunyai adik??” tanya Bom lagi, wajahnya berubah serius. Aku menggeleng pelan. Adik??

“Jiyong tak pernah bilang, wae kau bertanya seperti itu??” tanyaku lagi.

“anii, aku hanya sedikit sedih saat mendengar sebuah gosip, entah itu benar atau tidak” Bom mendesah pelan, aku menunggunya melanjutkan kalimatnya.

“ku dengar adik Jiyong sudah meninggal, dan tanggal perilisan lagu itu hari ini bertepatan dengan peringatan kematian adiknya. Aku hanya sedikit bersedih kalau gosip itu benar” ucap Bom pelan tapi berhasil membuatku tercekat. Entah kenapa semua bayangan Jiyong dan Jaejong tiba-tiba terasa saling berhubungan dikepalaku. Semua perlakuan Jiyong seperti Jiyong sangat mengenalku dan lagi sifat Jiyong juga sangat mengingatkanku pada Jaejong.tapi apa semua yang ku pikirkan itu mungkin??

“Bom ah” desisku hampir tak bersuara. Bom menoleh ke arahku, dia seperti kaget saat melihat wajahku yang terlihat shock.

“hari ini adalah hari peringatan kematian Jaejong” ucapku seperti bisikan. Mata Bom melotot kaget, wajahnya berkerut seperti masih berusaha menghubungkan semua perkataanku padanya tadi. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan memegang bahuku lembut. Aku mengangkat wajahku dan melihat Donghae disana. Wajah teduhnya menatapku sendu. Sekilas bayangan saat Donghae memanggil Jiyong dengan sebutan hyung melintas di kepalaku. Apa Donghae tau semuanya??

“Donghae ah, aku tak mengerti, benar-benar tak mengerti” gumamku pelan.

***

Jiyong POV

*seungri-next day-english translation

Inevitably I wake up and check the phone next to my head

I take a deep breath and for awhile try to recall what happened the night before

Then I take another deep breath

About what I had said

And if I made you uncomfortable

You, I held onto you, even though you said you hated me

I can only remember saying i miss you, and calling out the name that caused me pain

If only I could clean out my heart

Including every dust of memories with you

You’re like a severe addiction

Is my head broken?

Is my heart drunk?

Unsteadily I search and all I can find

Is my world where you used to live

I keep dialing your number to apologize about last night

But I keep hanging up out of fear that you will actually answer

I hesitate, but then I get the courage and wait, only a minute passes

But it feels like a year

Just want to say I’m sorry

To say I won’t ever do that again

You, on the other side of the phone

Whether you’re busy, or just ignoring me

You seem so far away

If only I could clean out my heart

Including every dust of memories with you

You’re like a severe addiction

Is my head broken?

Is my heart drunk?

Unsteadily I search and all I can find

Is my world where you used to live

Those sweet memories brutally

Spread through my body like poison, driving me crazy

If only I couldn’t remember

The day we met and I fell in love

Being like this again by myself is tiresome

My head only memorizes you

My chest only wants to hold you

My body won’t leave you for one second

What can I do… what can i do… what can i do…

What can I do?

aku membuka mataku yang sedari tadi terpejam menikmati alunan lembut lagu yang ku nyanyikan yang terdengar dari speaker di kamarku. Lagu yang kuciptakan bersama Jaejong, ketika kami sama-sama membayangkan seorang yeoja. Aku mengambil sebuah bingkai foto yang tertutup di atas meja di sampingku. Ku tatap foto itu, ada aku disana dan seorang namja tampan yang sedang ku rangkul.

Dia adalah Jaejong, adikku. Sampai sekarang hati ini masih sulit untuk menerima kalau Jaejong sudah tiada. Aku sangat dekat dengan adikku sedari kecil, kami sangat kompak dalam berbagai hal. Aku memang tau kalau sejak kecil kondisi Jaejong memang sangat lemah, hampir setiap minggu Jaejong harus mengecek kondisi tubuhnya ke rumah sakit. Itulah yang membuat kedua orang tuaku sedikit lebih memperhatikan Jaejong. Tapi aku tak mempermasalahkan itu karena Jaejong memang adik yang baik dan ceria. Tapi aku tau dibalik keceriannya itu Jaejong menyimpan kegundahan tentang penyakitnya, sama sekali tak mau membaginya denganku.

Sampai akhirnya kedua orang tuaku bercerai, aku tau Jaejong yang paling terpukul karena hal itu, tapi sekali lagi Jaejong menutupi perasaannya rapat-rapat. Dia hanya tersenyum kepadaku saat appa mengemasi barang-barangku dan mengajakku ke amerika. Hatiku sakit setiap mengingat senyum Jaejong hari itu, senyumnya cerah tapi matanya sangat sedih.

Sejak saat itu aku dan Jaejong tak bertemu, hanya saling bercerita melalui dunia maya. Hanya dua kali dalam setahun aku mengunjunginya ke korea. pembicaraan kami biasa saja tak jauh dari membicarakan hobi laki-laki, sampai suatu hari muncul nama Dara yang disebut oleh Jaejong saat aku mengunjunginya ke korea. Jaejong sangat memuji yeoja itu, teman satu sekolahnya sekaligus sahabatnya.

Mendengarkan cerita Jaejong sangat membuatku penasaran dengan rupa yeoja itu. entah Jaejong yang terlalu berlebihan menceritakannya atau memang yeoja itu seperti yang Jaejong ceritakan, aku tak tau. Yang aku tau, dongsaengku itu sangat menyukai Dara. Entah kenapa cara Jaejong bercerita tentangnya perlahan membuatku juga menyukai yeoja itu meskipun aku tak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Membuatku semakin ingin bertemu dengannya.

Tapi belum sempat Jaejong mengenalkannya padaku aku sudah lebih dulu kembali ke amerika. Sampai suatu hari Jaejong mengirimkanku sebuah foto seorang yeoja, yeoja yang ternyata pernah aku temui. Aku sedikit kaget saat Jaejong bilang kalau yeoja itu adalah Dara.

Aku mengenal yeoja itu meskipun Dara sepertinya tak mengingatku. Waktu itu saat hujan aku melihatnya sedang berjongkok sambil memegang payung disudut sebuah tiang listrik. Dia terlihat seperti memayungi sesuatu. Aku yang penasaran menghampirinya dan sedikit terkejut karena yeoja itu tengah memayungi seekor anjing kecil. Dara saat itu sibuk menyuapi anjing itu dengan roti dari bekal makannya, wajahnya sangat khawatir seperti menganggap anjing itu sangat penting. Aku menyapanya saat itu dan benar saja kalau dia kasihan pada anjing itu tapi tak mungkin membawanya pulang karena orang tuanya pasti tak akan mengijinkannya.

Entah kenapa saat itu tanpa banyak berpikir aku menawarkan diriku untuk merawat anjing itu, padahal orang tuaku belum tentu mengijinkannya. Melihat wajah Dara yang tersenyum ceria saat aku mengatakan itu, membuatku tak memikirkan hal lain saat itu. aku tak sempat berkenalan dengannya karena setelah yakin dengan janjiku untuk merawat anjing itu dia segera berlari pergi meninggalkanku. Aku pun membawa anjing itu pulang, meski awalnya orang tuaku menolak karena alasan kesehatan Jaejong tapi akhirnya mereka mengijinkanku merawatnya. Meski beberapa bulan kemudian anjing itu meninggal karena sakit, aku sedikit merasa bersalah pada Dara saat anjing itu meninggal.

Seminggu setelah pertemuanku itu aku kembali berpapasan dengan Dara di sebuah bis, ternyata sekolah Dara tak jauh dengan sekolahku, tapi sepertinya Dara tidak mengenaliku. Alhasil aku hanya bisa mengamatinya yang selalu duduk di depanku di bis itu, mengagumi yeoja itu diam-diam tanpa tau kalau aku mulai menyukainya.

Saat Jaejong bercerita kalau dia sudah jadian dengan Dara aku sangat gembira mendengarnya, meski sedikit menyakitkan tapi aku senang karena adikku mendapatkan yeoja yang tepat untuknya terlebih sepertinya Dara juga bisa menyemangati adikku yang tengah sakit itu. hampir setiap hari Jaejong menceritakan Dara kepadaku, membuatku kadang bahkan cemburu mendengarnya.

Semakin mendengar Jaejong menceritakan Dara semakin aku menyukainya, dan dari suka itulah tanpa sadar aku mulai mencintainya. Aku tau semua hal yang Jaejong lakukan untuk yeoja itu, aku tau semua kesukaan Dara, apa yang dia tak suka, dan bahkan aku tau kalau yeoja itu sangat suka menyendiri di sudut taman kampus atau pun pergi ke pantai yang memang suka Jaejong kunjungi bersamaku.

Memang sedikit aneh, tapi aku benar-benar jatuh cinta pada yeoja yang bertahun-tahun tak pernah ku temui, yang hanya sekali berbicara padaku dulu, yeoja itu bahkan tak mengingatku. Aku menahan perasaanku untuk Jaejong, meski ingin sekali aku berkenalan dengan Dara agar sekedar yeoja itu tau kalau aku ada. Sampai ku dengar Jaejong meninggal. Aku sangat shock mendengarnya padahal beberapa minggu sebelumnya saat aku menjenguknya ke seoul Jaejong sempat bercanda kepadaku, dia bilang aku harus menjaga Dara saat dia tak ada, tidak boleh membiarkan Dara jatuh cinta pada namja yang salah. Dan beberapa hari sebelum dia meninggal saat aku chatting bersamanya, Jaejong sempat bercerita bagaimana perasaan sayangnya pada Dara dan bagaimana dia tak ingin yeoja itu menangisinya saat kepergiannya.

“Jiyong ah, cepatlah, umma ingin kau mengantarku ke makam Jaejong” ujar umma ku pelan dari balik pintu menyadarkan lamunanku.

“ne, tunggu sebentar” sahutku pelan. Aku bangkit berdiri, di hari peringatan Jaejong ini aku akan mengunjungi makamnya. Untuk pertamakalinya semenjak Jaejong meninggal aku mengunjungi makamnya, sebelumnya aku tak berani mengunjungi makamnya. Takut akan rasa sakit setelah Jaejong meninggal merasukiku, tapi hari ini aku harus ke makamnya. Meminta maafnya karena telah lancang berani mencintai yeoja yang dia cintai bahkan berani membuat Dara juga mencintaiku. Saat aku berjalan sebuah sapu tangan pink jatuh dari meja. Aku memungutnya dan menggenggam sapu tangan itu erat, sapu tangan milik Dara. Kenapa ini semua sangat sulit Jaejong ah, mencoba melupakan Dara dan melihatnya terluka karena salahku. Aku memang bukan hyung yang baik untukmu, bahkan saat kau masih hidup pun diam-diam mencintai yeojachingumu. Miane.

***

Donghae POV

Jantungku semakin berdegup kencang saat aku dan Dara berjalan masuk ke dalam area pemakaman. Ku lihat Dara berhenti melangkah dan terduduk di sebuah kuburan, dia mengusap nisan itu. apa itu nisan Jaejong. Aku kembali menguatkan kakiku untuk melangkah kesana. Langkahku terhenti dan aku hanya dapat memandang pelan ke arah nisan bertuliskan nama Jaejong itu, perasaan bersalah kembali menyelimutiku.

Jaejong ah, aku sekarang ada di makammu dengan yeoja yang kau cintai sekaligus yeoja yang sampai saat ini juga aku cintai. Miane, karena aku membiarkanmu pergi tanpa tau kalau aku sangat menyesal telah merebut Dara darimu, ku harap kepergianku ke jepang bisa membuatmu sedikit memaafkanku karena tak perlu mengganggu hubunganmu dengan Dara lagi, sampai saat ini aku masih menganggapmu sahabatku Jaejong ah. Miane, karena sampai sekarang aku masih mencintai yeoja di sampingku ini. Perasaan ini tak pernah bisa hilang, aku bahkan sangat cemburu saat hanya bisa melihat kakakmu membawa Dara pergi dari hadapanku. Apa kau bisa mengijinkanku untuk mencintai Dara lagi??miane..

***

Dara POV

Ku lirik sekilas Donghae yang tengah memandangi nisan Jaejong, pandangannya kosong tanpa ekspresi. Aku mengalihkan pandanganku ke nisan Jaejong, mengusap ukiran namanya lembut. Angin musim panas berhembus menyapu kulitku, meskipun ini musim panas tapi angin itu masih terasa dingin menyapu tubuhku.

Perasaanku kembali sama seperti dulu Jaejong ah, perasaan tersakiti karena cinta. Apa kau tau kalau aku menyukai kakakmu??tapi kakakmu mengacuhkanku, membuatku lelah dan ingin melupakannya Jaejong.

“Dara ah” suara Donghae memanggilku lembut. Aku terdiam menunggunya melanjutkan perkataannya.

“lupakanlah Jiyong” tambahnya. Aku mendelik sedikit kaget. Menoleh berusaha melihat ke arahnya, ternyata Donghae sudah berjongkok di sebelahku, wajahnya menatapku serius. Membuatku menahan napasku kaget.

“aku mencintaimu” ujarnya lagi. Aku hanya bisa terpaku mendengar keseriusan di nada suaranya. wajah Jaejong dan Jiyong tiba-tiba terlintas di benakku begitu saja. Bagaimana aku harus menjawab perasaan Donghae??

TBC . .

tinggal satu part lagi,, hayoo siapa yang penasaran, apakah dara memilih kembali ke donghae atau hidup bersama Jiyong?? hehe.. dan anggep aja ya disini  si jaejongnya awet muda,, jd dia itu adeknya Jiyong

<<back   next>>

Advertisements

36 thoughts on “SUMMER BREEZE CHAPTER 4

  1. nggak nyangka ceritanya bakalan serumit ini…….Daebakkkkk
    dara pasti milih jiyong.
    pokoknya dara nggak boleh balik lagi sama donghae.

  2. Aigoo….benar2 rumit dan kusut seperti benang,
    Dara jangan mau disuruh melupakan jiyong,
    Jiyong udah lama menyukai kamu bahkan sebelum kamu pacaran sama jaejoong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s