[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 09

the-one-and-only-copy

THE ONE AND ONLY :: HAPPEN ENDING



“Ini untukmu, Oppa,” Sandara menyesahkan amplop coklat besar kepada Jiyong.

Kening Jiyong berkerut, bingung, tapi tetap diterimanya amplop itu dari Sandara. “Gomawo,” katanya.

“Neh,” balas Sandara riang. Senang melihat ekspresi kebingungan di wajah Jiyong. “Oppa boleh membukanya,”

Jiyong menurut, dibukanya amplop di tangannya dan dengan hati-hati mengarik keluar sebendel tebal jilidan kertas. Di lembar terdepan hanya tertulis empat kata, Sempurna by Park Sandara.

Pandangan mata Jiyong bergantian menatap tulisan di lembar pertama dan Sandara. Berkali-kali hingga Sandara terkikik geli.

“Itu adalah karya pertamaku yang akan dipublikasikan. Tadinya aku ingin meminta Oppa untuk membelinya, agar menambah royaltiku. Tapi berhubung aku sedang berbaik hati, jadi aku beri saja Oppa naskah aslinya,” Sandara menjelaskan. “Ini cetakan pertama setelah yang kuserahkan pada editor, loh… dengan printer yang ada di rumah, hehe…”

Jiyong memandang kagum gadis dihadapannya. “Selamat ya, Jagi…” ucapnya sambil mengelus kepala Sandara dengan sayang.

Mata Sandara menyipit mengancam, sama sekali tidak memberi efek menakutkan. Justru menurut Jiyong, Sandara justru semakin terlihat imut. Bulu mata lentiknya tampak jelas.

“Hanya kali ini aku membiarkan Oppa memanggilku ‘Jagi’, lain kali aku tidak akan memberi ampun, awas saja!”

Jiyong terkekeh karenanya.

“Jadi kali ini, aku yang traktir,” Sandara mengingatkan. Jiyong mengangguk patuh, walau dalam hati memiliki niatan lain.

Jiyong mulai membuka lembar demi lembar dan membaca halaman-halaman yang penuh dengna tulisan. Entah di halaman ke berapa, mendadak ekspresinya berubah, senyum yang tadi mengembang sirna dan rahangnya mengeras. Wajahnya berubah serius.

“Kenapa puisi Sora ada di sini?” tanya Jiyong tajam, tanpa disertai senyuman maupun candaan lagi.

Sandara sama sekali tak menyangka dengan reaksi Jiyong ini.

“Sora? Sora Sunbae?” tanyanya tak mengerti. Apa hubungannya Sora dengan hal ini? Dan lagi, tadi Jiyong bilang puisi Sora? Puisi Sora yang mana?

“Iya, kenapa puisi Sora ada di sini?” Jiyong mengulangi pertanyaannya dengan artikulasi yang lebih jelas.

“Puisi Sora Sunbae? Mana mungkin aku memasukkan puisi Sora Sunbae ke dalam buku yang akan dipublikasikan atas namaku. Mana mungkin aku memasukkan puisi orang lain ke dalam karyaku. Itu puisiku!”

Jiyong mendengar jawaban Sandara dengan jelas.

“Bukankah ini adalah puisi yang ada di mading?” Jiyong memelankan suaranya, menyadari beberapa pengunjung mulai memandangi ke arah mereka karena rasa penasaran.

Walaupun suara Jiyong pelan, tapi baginya tetap terdengar menyakitkan. Jiyong menuduhnya mencuri karya orang lain.

“Dan aku sudah mengkonfirmasi ke redaktur mading. Sora yang menyerahkannya kepada mereka. Ada inisial P. S. juga, Park Sora,” ada penekanan lebih saat Jiyong menyebut nama lengkap Sora.

Jika ada sembilu yang ditusukkan ke hatinya sekarang, Sandara pasti tidak akan merasakannya, karena hatinya sudah terlanjut sakit.

Kenapa Jiyong tidak percaya padanya?

Kenapa Jiyong enggan mendengarkan penjelasannya?

Kenapa Jiyong tidak bertanya baik-baik padanya?

“Aku tidak mungkin melakukan plagiasi. Dan terima kasih karena sudah melupakan namaku,” desis Sandara menahan air mata.

Detik berikutnya, Sandara bangkit berdiri. Meletakkan beberapa lembar uang di samping makanan yang baru setengahnya dia maakn. Lalu melangkah keluar dari kafe meninggalkan Jiyong.

**

Sandara memandang pantulan dirinya di cermin. Baju terusan kotak-kotak berpotongan lurus tanpa lengan sepanjang lutut berwarna hijau botol, legging hitam panjang, dan topi baret hijau. Terlihat manis dan imut. Tapi tidak dengan si pemakainya yang berwajah murung.

Sandara masih belum bisa melupakan kejadian di kafe siang tadi. Hatinya terlanjur sakit.

“Sandara, ada Jiyong datang,” suara ayahnya dari luar pintu.

“Neh, Appa…”

“Appa lupa untuk memintamu mengundang Jiyong, tapi kebetulan sekali dia datang,”

“Ani, Jiyong Oppa tidak bisa tinggal untuk acara Dayoung Unnie,”

Wajah ayahnya menyiratkan keheranan, tapi tidak berkomentar apa pun, terlalu sibuk menata makanan untuk mengkhawatirkan putri bungsunya. Hari ini putri pertamanya akan resmi dilamar!

Jiyong menunggunya di depan pintu pagar. Wajahnya tampak sangat menyesal. Sora sudah memberitahukan yang sebenarnya, bahwa dia menemukan kertas bercoretkan puisi yang dirasanya terlalu bagus untuk dibuang, dia ketik ulang dan diserahkan para redaktur mading. Tak lupa mencantumkan inisial P. S. yang dipikirnya adalah inisial si penulis.

Harusnya Jiyong memberikan kesempatan bagi Sandara untuk menjelaskan, bukannya langsung menyudutkan seperti itu.

“Annyeong,”

“Annyeong,”

Keduanya sama-sama canggung. Berdiri berhadapan, tapi tak berani menatap satu sama lain.  Jiyong merasa bersalah sementara Sandara merasa asing.

“Aku…”

“Oppa…”

Keduanya bersuara di saat bersamaan. Tapi Sandara memberikan isyarat agar Jiyong menyampaikan terlebih dahulu apa yang akan dikatakannya.

“Aku minta maaf, aku salah. Aku sudah menanyakannya pada Sora.” Kata Jiyong penuh penyesalan.

Sandara mengangguk, meski merasa kecewa. Menundukkan kepalanya kian dalam, menyembunyikan ekspresi wajahnya. Jiyong lebih percaya kepada orang lain dibandingkan dirinya. Hatinya kian merasa yakin mendengar penuturan Jiyong barusan.

“Oppa, aku tak bisa,” ucap Sandara setelah diam beberapa saat.

“Apa maksudmu?”

Memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap langsung mata Jiyong, dia berkata, “Oppa bagaimana kalau kita putus saja?”

Jiyong terkejut dan jelas tak menyangka akan apa yang dikatakan Sandara.

“Mwoya?”

“Aku tidak yakin aku akan bisa melupakan rasa sakit hatiku saat Oppa justru lebih mempercayai orang lain dibanding aku. Jadi sebelum hubungan kita justru menjadi buruk, sebaiknya kita putus saja. Terima kasih untuk selama ini,”

“Sandara,”

Sandara kemudian mendekat dan berjinjit untuk mengecup pipi kanan Jiyong. Jiyong masih berdiri diam di tempatnya.

Tak berselang lama, sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Rohye keluar dari pintu penumpang, diikuti oleh Rui dan kemudian kedua orang tua mereka.

“Oppa pulanglah, hari ini adalah hari spesial untuk Dayoung Unnie. Sekali lagi, gomawo untuk semuanya. Selamat tinggal,”



to be continue~



<< back next>>

Advertisements

16 thoughts on “[FESTIVAL_PARADE] THE ONE AND ONLY — 09

  1. Mantaaapp lngsung putus?? Woww ditunggu kabar happy endingny yaa wkwk kan ff nya hru happy ending wkwkw. Gilaaa keren yaa dara, emng sih masalahny sepele. Tpi kalo hal gini aja udh gak prcaya sma kita apalagi hal besar bakalan rumit nntinya. Benerr sih kata dara, utk apa dipertahanin kalo pcar kita gak prcaya sma kita

  2. waeeeeeee….knpa kejadian kek gini hrs terjadi.
    jiyong jgn diem aja dong bilang gk mau putus kek apa kek…..pertahanin dara.
    gk ikhlas klo sampe mereka putus 😥

  3. Makanya bang jiyong kalo mau ngomong dipikir dulu ya bang #galakamat# #digebukindragons# Emang jiyong bisa anggep itu masalah sepele karena mikirnya secara rasional sedangkan perempuan mikirnya pake perasaan. Semoga bisa jadi pelajaran buat bang jidong #ampundahgalakkuadrat#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s