You Call It Romance [Oneshoot]

YCIR

Author: ElsaJung | Cast: G-Dragon – BigBang, Sandara Park – 2NE1, Choi Seunghyun – BigBang, Park Bom – 2NE1 | Genre: Romance | Rating: Teen | Lenght: Oneshoot

.

.

.

.

.

“Love at first sight. Do you believe it?”

You Call It Romance

Terkadang manusia tidak menyadari beberapa hal kecil di sekitarnya, misalnya tentang kenapa seseorang bisa takut, benci atau suka kepada sesuatu? Kenapa seseorang yang sedang jatuh cinta bisa bertingkah bodoh bahkan sangat lamban dalam berpikir? Lalu, layaknya merak yang memamerkan ekornya saat mencari pasangan, kenapa seseorang selalu menunjukkan pesonanya kepada orang yang disukai? Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mau mencari tahu.

Cinta pada pandangan pertama? Terdengar konyol dan pasaran, bukan? Hanya membayangkannya saja sudah membosankan. Tidak perlu membayangkan. Coba saja hitung berapa banyak drama, film maupun novel yang mentakdirkan kedua tokoh utamanya terjebak dalam cinta pada pandangan pertama. Ada berapa? Ratusan, ribuan atau jutaan? Bahkan anak kecil pun tidak tertarik pada topik tentang ‘cinta pandangan pertama’.

Tapi, bagi Jiyong, cinta pada pandangan pertama adalah hal yang menakjubkan. Coba saja pikirkan. Bagaimana seseorang bisa menyukai orang yang belum pernah dikenalnya. Bagaimana seseorang bisa merasa hari-harinya serasa bak musim semi sepanjang tahun hanya karena bertatapan dengan orang yang disukainya meski itu tidak disengaja. Bagaimana bisa seseorang yang sudah ditakdirkan menjadi orang yang konyol, lamban dan idiot berubah bertingkah malu-malu dan maskulin setiap bertemu pujaan hatinya? Bukankah itu menakjubkan?

Jawab iya, dan telinga Jiyong akan semakin melebar.

“Jadi, kau datang ke kantin hanya untuk melihatnya?” tanya Seunghyun menunjukkan raut wajah malasnya. Bukan. Antara malas dan kesal – lebih tepatnya.

Jiyong mengibaskan tangannya dengan pandangan yang tertuju pada antrian mahasiswa yang berlomba-lomba mendapatkan jatah makan siangnya. “Kebetulan setiap Kamis kelas kami berakhir hampir bersamaan. Ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan, Seunghyun.”

“Dapatkah aku meralat ucapanmu? Tidak hanya hari Kamis. Kau selalu menunggunya selama berjam-jam sampai gadis itu menampakkan batang hidungnya.” Celetuk Seunghyun yang entah harus sampai kapan duduk di bangku kantin padahal meja di hadapannya sudah bersih tanpa makanan.

“Hehe~” Jiyong hanya meringis memperlihatkan deretan gigi putih nan rapinya. “Tidak ada orang yang mau melakukan hal ini bersamaku, Seunghyun. Kau ‘kan tahu, kau satu-satunya temanku di dunia ini.” Tambahnya membuat Seunghyun menggelengkan kepala.

Satu-satunya teman Jiyong? Ya, begitulah. Seperti yang terjadi dalam realita kehidupan seorang Kwon Jiyong, semua orang yang berteman dengannya menghilang satu per satu sampai mendekati kata punah. Ayolah, siapa yang tahan berlama-tama bersama Jiyong si happy virus yang gila, idiot, aneh dan berisik? Pasti siapa pun merasa risih dibuatnya.

Sebenarnya, Seunghyun tak kalah risih dengan orang-orang itu. Hanya saja, ia dan Jiyong sudah lama bersahabat. Mungkin dapat dikatakan mereka ditakdirkan bersahabat seumur hidup – takdir yang membuat Seunghyun bergidik ngeri setiap memikirkannya.

Baik. Sekarang bukan masalah persabatannya dengan Jiyong. Tapi, masalah Jiyong yang tengah tergila-gila pada seorang mahasiswa seangkatan dari jurusan astronomi. Seunghyun benar-benar tidak mau ambil pusing akan perasaan Jiyong pada gadis itu karena ia tak berhak ikut campur dalam kehidupan pribadi Jiyong. Namun, ada sesuatu yang membuatnya merasa prihatin. Pasalnya, tingkat kebodohan Jiyong bertambah sepuluh kali lipat sejak menyukai gadis itu.

Mari berbicara tentang kebodohan Jiyong akhir-akhir ini. Jiyong sempat demam selama satu minggu tepat di hari dimana dia baru saja bertemu gadis itu dan mendapatkan cinta pertamanya. Ya, cinta pertama yang entah bagaimana bisa terjadi hanya karena saling memandang beberapa detik saja. Berikutnya, Jiyong selalu berdiam diri di cafe selama berjam-jam demi melihat gadis itu. Diketahui Jiyong juga sempat tidak mengikuti kelas saking ia ingin melihat pujaan hatinya. Lalu, Jiyong beberapa kali menabrak dinding karena berjalan dengan pandangan tertuju pada gadis itu. Intinya, kebohohan Jiyong semakin menjadi.

“Kau harus berusaha kalau kau ingin dia memiliki perasaan yang sama terhadapmu! Berpura-pura saja seperti kau tak mengenalnya. Ajak bicara, bertanya siapa namanya, di mana tempat tinggalnya dan bertukar nomor dengannya.” Seunghyun menekan kalimatnya.

“Aku tidak terlalu berani untuk melakukannya.” Ujar Jiyong malu-malu.

Astaga, sebuah kejutan untuk Seunghyun. Apa? Jiyong malu?

“Kau bahkan tidak malu berdandan layaknya gadis penari tiang club.”

“Itu beda, Seunghyun. Kau memaksaku melakukannya.” Raut wajah Jiyong berubah datar.

“Salahkan dirimu sendiri karena banyak tingkah sampai-sampai membuatku mendapat nilai D di kelas Dosen Hwang. Hampir saja aku tidak lulus. Jiyong, kenapa sifat bodohmu itu membuat orang lain menderita, huh?” Celetuk Seunghyun.

Bukannya merasa bersalah, Jiyong meringis lebar. Ya Tuhan, apa lagi kali ini?

“Setidaknya sifat bodoh itu membuatku bertemu dengannya.”

“Benarkah?” Seunghyun mencoba meyakinkan dengan nada meledek.

Seunghyun berhasil membuat Jiyong tersipu malu. Oh, man! Sungguh, Seunghyun tidak memiliki maksud apa pun saat meledek Jiyong. Bukan. Bukan karena Jiyong orang yang mudah marah ketika diledek. Justru hal yang mengprihatinkan adalah karena Jiyong tidak bisa membedakan yang mana ledekan dan yang mana pujian. Laki-laki jangkung itu pasti mengira Seunghyun ingin mendengar peristiwa bersejarah dalam hidupnya yang entah sudah diceritakannya berapa puluh kali.

Flashback

“YAK! Kwon Jiyong!” Teriak Seunghyun dari kejauhan sembari mengacungkan telunjuknya layaknya seorang ibu yang hendak memarahi anaknya. Persis seperti itu.

“Ada yang salah?” Lain dari Seunghyun, Jiyong bertanya dengan santai dan tanpa dosa.

Seunghyun menyodorkan ponselnya, kesal. “Kau yang mengirim pesan ini pada Dosen Hwang?”

Jiyong meraih ponsel itu dari tangan Seunghyun. Ia mengedarkan pandangan pada beberapa baris kalimat yang tertera di layar ponsel. Mata Jiyong mengerling sesaat, berusaha memutar ulang memorinya. Jiyong tahu betul akan pesan itu karena ia sendirilah orang yang mengetiknya. Eh, tunggu. Tapi, kenapa Seunghyun berkata bahwa Jiyong mengirimnya kepada Dosen Hwang? Seingat Jiyong, ia mengirim pesan itu kepada Bom.

“Aku mengirim pesan itu ke nomor Bom Sunbae, bukan Dosen Hwang.”

Bibir Seunghyun terangkat ke samping kanan. “Oh, begitu? Kenapa kau tidak membaca setiap kata yang ada di layar ponselku sampai menemukan dua kata paling mengerikan dalam hidupku, huh? Ah, jangan lupa baca juga balasan dari pesan bodohmu.”

Semua pernyataan Seunghyun membuat otak Jiyong yang terbiasa berpikir lamban benar-benar berhenti berfungsi. Pasalnya, meski otak Jiyong lamban dalam urusan berpikir, tapi ingatannya tidak terlalu buruk. Memang pada saat mengirim pesan, Jiyong menemukan dua lembar kertas yang berisi dua nomor pula. Jiyong tidak tahu yang mana nomor Bom sehingga ia asal mengirim pesan dengan cara memilih satu diantara nomor itu secara asal.

Pandangan Jiyong berhenti di sebuah kotak dengan tiga kata tertera begitu jelas di sana. Tiga kata itu adalah ‘Aku Dosen Hwang’. Sial! Jiyong dapat melihat seberapa besar rasa kesal Seunghyun padanya. Hal itu tampak jelas dari wajah Seunghyun yang muram dengan kedua tangan menggegam kuat.

“Sudah menemukan apa yang kumaksud?” tanya Seunghyun menyeringai.

Jiyong tidak bisa membiarkan wajah tampannya babak belur karena mendapat pukulan dari Seunghyun. Sebelum melarikan diri, ada dua hal yang perlu diketahui. Pertama, Bom adalah gadis yang akhir-akhir ini sedang dekat dengan Seunghyun. Kedua, Dosen Hwang adalah dosen paling mematikan dalam sejarah. Dosen yang tak segan-segan memberi nilai E hanya karena tidak serius ketika mengikuti kelasnya. Dan, celakalah Seunghyun! Ia berurusan dengan setan neraka.

“Jiyong-ah, aku mendapat nilai D di mata kuliah Dosen Hwang karena kau!!”

Jiyong melangkah pelan ke belakang. “Um, aku tidak sengaja, Seunghyun.”

“Aku tidak peduli! Kalau aku tidak lulus, kau juga tidak boleh lulus.” Gumamnya geram sembari menolehkan kepalanya ke kanan-kiri bermaksud melakukan pemanasan sebelum melancarkan aksinya. “Aku mendapat nilai D dan kau harus masuk rumah sakit hari ini juga!”

Belum sempat Seunghyun melayangkan pukulannya, Jiyong melarikan diri lebih dulu dengan mengambil langkah seribu – berlari menyusuri koridor kampus. Tak mau kalah, di belakangnya, Seunghyun tampak mengejar dengan kecepatan maximum. Sungguh, Seunghyun akan melumat Jiyong sampai tulang laki-laki itu remuk tak bersisa. Selain marah karena mendapat nilai D, Seunghyun juga marah karena ini menyangkut harga diri. Pesan yang dikirimkan Jiyong pada Dosen Hwang sangatlah menggelikan!

Bagi Jiyong, menghindari Seunghyun dengan berlari secepat mungkin adalah cara paling jitu. Berlari secepat kilat adalah nilai plus lain yang dimiliki Jiyong setelah wajah tampannya. Ya, ia bisa berlari cepat dalam hitungan detik. Bahkan sekarang Jiyong tak bisa menemukan Seunghyun yang diyakininya tertinggal di belakang.

Jiyong mulai menurunkan kecepan larinnya hingga setara berjalan biasa. Ia sesekali menengok ke belakang, bermaksud berjaga-jaga dan memastikan Seunghyun tak lagi muncul di hadapannya. Sedetik kemudian, langkahnya berubah menjadi lari kecil sesaat setelah mendengar derap langkah mencurigakan. Tidak! Apa itu Seunghyun?

BRUK!!

“Aish,” runtuk Jiyong lirih.

Tubuh Jiyong terhempas ke belakang beberapa senti. Berbeda dengan Jiyong yang masih tetap dalam keadaan berdiri, seorang gadis yang tak sengaja ditabraknya jatuh terduduk dengan buku-buku berceceran di lantai. Jiyong segera duduk jongkok di lantai, kemudian membantu merapikan buku-buku bertemakan astronomi itu satu per satu. Laki-laki berambut hitam dengan highlight abu-abu itu hampir saja memarahi gadis yang masih terduduk di hadapannya. Hanya saja, bibirnya terasa kaku digerakkan saat mata Jiyong bertemu dengan mata gadis itu.

Sangat indah.

Itu yang ada di benak Jiyong.

Jiyong dan gadis itu saling melempar tatapan selama beberapa detik.

Satu, dua, tiga.

Yap! Jiyong jatuh cinta.

“Maaf dan terimakasih.” Gadis itu mengalihkan tatapannya sembari berdehem kecil, lalu segera mengambil alih bukunya dari tangan Jiyong.

“Ah, tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu.” Ujar Jiyong menggaruk leher yang sejujurnya tidak gatal. Tak ada lagi rasa takut pada Seunghyun. Jiyong berambisi untuk mengetahui nama gadis itu. “Um, siapa namamu?”

“Aku sibuk.” Jawabnya dingin tanpa ekspresi.

Jiyong tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan gadis tanpa nama itu pergi dari hadapannya. Tidak mungkin Jiyong menarik tangan gadis itu dan memaksanya memperkenalkan diri pada Jiyong. Sudah pasti gadis itu akan mengira Jiyong seorang psikopat didukung dengan suasana koridor yang cukup sepi.

Sebuah senyum tergurat di bibir Jiyong. Ya, ia jatuh cinta pada pandangan pertama.

Flashback End

Di hadapannya, Seunghyun menyambut dengan raut wajah datar. “Sudah selesai?”

“Seunghyun, peristiwa itu lebih bersejarah dari 9/11. Maka dari itu, kau tidak boleh melupakannya.”

“Bagaimana bisa aku lupa kalau kau menceritakannya hampir setiap jam padaku?”

Lagi-lagi Jiyong meringis. “Atas nama teman, kau harus berjanji tidak akan melupakannya.”

“Ssttt,” Seunghyun menyodorkan jali telunjuknya tepat di depan wajah Jiyong. “Dia datang.”

Tubuh Jiyong membeku seketika bak manekin. Ia selalu terpaku setiap gadis itu melintas di dekatnya. Aroma bunga azalea menyeruak menerpa ujung hidungnya. Jiyong memejamkan mata, kemudian mengontrol napasnya sebelum kembali memfokuskan pandangannya pada gadis itu – gadis bernama Sandara Park. Dia lebih indah dari bunga apa pun – menurut Jiyong.

***

Hari berikutnya masih seperti hari-hari sebelumnya. Jiyong duduk di bangku kantin paling belakang, sehingga ia bisa melihat pujaan hatinya yang selalu duduk tak jauh darinya.  Tidak ada yang berbeda, kecuali ketidak hadiran Seunghyun karena, ya, kemarin dia mendadak demam setelah mendapat pesan dari Bom bahwa gadis berambut pendek itu mengajaknya pergi ke bioskop akhir pekan nanti. Sekarang, tinggallah Jiyong seorang diri dengan segelas orange juice di tangannya.

Biasanya Jiyong perlu menunggu selama kurang lebih dua jam sampai gadis itu menampakkan batang hidungnya. Tapi, kali ini, baru saja duduk beberapa menit, Jiyong melihat seorang gadis berambut coklat yang selalu diikat dua di belakang dengan anak rambut tergerai di sisi kanan dan kirinya – mulai berjalan mendekat. Tuhan, Jiyong serasa kekurangan oksigen. Ia tidak bisa bernapas karena kupu-kupu memenuhi saluran pernapasannya. Tidak! Jiyong gugup.

Karena takut menghancurkan image-nya dengan bertingkah bodoh, Jiyong segera memasang sikap se-maskulin mungkin sembari berlagak membaca buku hingga menutupi separuh wajahnya. Sesekali Jiyong melirik ke arah gadis bernama Sandara Park yang duduk berhadapan di bangku yang berbeda dengannya. Sekarang musim gugur, tapi Jiyong merasa musim semi berjalan sepanjang hari selama ia memandang Dara.

“Kurasa kau salah membaca buku.”

Suara lembut seorang gadis berhasil membuat Jiyong tercekat. Ia terkejut bukan main.

“Y-ya? Ada yang salah?” tanya Jiyong gugup. Ya, dia gugup. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya sejak peristiwa bersejarah dua minggu lalu, akhirnya Dara dengan senang hati berbicara padanya. Jiyong akan menjadikan hari ini salah satu hari sejarah lainnya.

“Itu buku tentang permasalahan perempuan selama menstruasi.” Jawab Dara dingin.

Hah?

“Perempuan selama-” ujar Jiyong terhenti saat ia membaca judul buku yang dipegangnya.

Dara menggeleng-gelengkan kepala, lalu kembali pada kesibukannya – yaitu membaca buku astronomi dengan tebal beratus halaman.

“Ah, ki-kita belum sempat ber-berkenalan.” Jiyong berusaha menghilangkan kegugupannya, tapi ia tidak bisa melakukannya, apalagi Dara baru saja mengajaknya berbincang-bincang. Suara Dara sukses membuat jantung Jiyong berdebar tak karuan.

“Aku tidak berbincang-bincang dengan orang asing.” Dara masih berbicara dengan aksen kaku dan dingin. Bahkan ia tidak menatap Jiyong sedikit pun. Hal ini membuat bunga di sekeliling kepala Jiyong layu pada detik itu juga.

“Bukankah kau tadi berbincang-bincang denganku? Ya, hanya beberapa kalimat saja.”

“Aku hanya merasa tidak nyaman melihat seorang laki-laki membaca buku semacam itu.”

“Percayalah, buku ini bukan milikku.”

“Ya.” Dara menganggukkan kepalanya. Wajahnya masih tetap tanpa ekspresi.

Sial! Harga diri Jiyong seakan terinjak dan jatuh ke lapisan paling bawah bumi. Bagaimana nasib buruk ini menimpanya? Aish! Jiyong curiga, apa perkataan Seunghyun benar adanya? Dulu Seunghyun berkata bahwa kebodohan Jiyong adalah takdir dari Tuhan. Lihat saja. Padahal Jiyong sudah berusaha tampak sekeren mungkin di hadapan Dara. Semua hancur hanya karena sebuah buku aneh milik kakak perempuannya yang entah kenapa bisa berada di dalam tasnya.

Ini bukan sesuatu yang diinginkan Jiyong. Laki-laki jangkung itu sempat berangan-angan Dara mengajaknya berbicara karena mulai tertarik dengan ketampanan dan pesonanya. Jiyong juga memiliki angan-angan yang tinggi. Tadinya Jiyong mengira percakapan antara Dara dengannya akan menjadi pembicaraan yang menyenangkan yang dapat membuat mereka lebih mengenal satu sama lain. Tubuh Jiyong melemas sekarang.

Dara melirik Jiyong yang sedang meruntuk kesal sembari memukul-mukul bukunya gemas. Tanpa sepengetahuan Jiyong, Dara menarik bibirnya ke samping. Gadis itu tersenyum simpul.

***

“Jiyong, kau bercanda, ‘kan?” Seunghyun menelan ludahnya samar dengan pandangan tertuju pada tumpukan buku tebal yang menggunung di hadapan Jiyong.

“Tentu saja.” Jawab Jiyong mengangguk mantap diiringi desahan setelah menenggak sebotol cola.

“Aku tidak yakin apakah otakmu mampu menampung isi dari buku-buku itu.”

Jiyong membuka buku pilihannya. Ia menoleh ke arah Seunghyun sejenak. “Kau harus yakin karena aku melakukannya demi Dara.”

Benar. Jiyong sepertinya memang sudah seratus persen gila. Ya. Dia terlalu tergila-gila pada Dara sampai melakukan tindakan ekstrim. Oh, okay, tindakan ekstrim terdengar berlebihan. Secara garis besarnya, Jiyong berniat mempelajari segala hal tentang astronomi karena menurutnya hanya itu satu-satunya cara agar Dara tertarik padanya. Entah mendapat pencerahan dari mana, Jiyong tiba-tiba berteriak lantang sepulang dari kampus, mengatakan bahwa gadis seperti Dara memiliki ketertarikan tinggi pada laki-laki smart dan hebat dalam bidang astronomi – seperti bidang yang ditekuninya. Maka dari itu Jiyong bertekad menjadi laki-laki smart itu.

Tidak peduli benar atau tidak perkataan Jiyong, Seunghyun benar-benar ragu apakah Dara akan bermurah hati merendahkan dirinya untuk mencoba mencintai Jiyong. Tidak. Bukan berarti Seunghyun berpikiran negatif tentang Dara. Maksud Seunghyun, perasaan Jiyong sudah berjalan lebih dari sebulan. Tidak mungkin Dara tidak sadar akan sikap Jiyong padanya. Dara pun pasti tahu Jiyong selalu mengikutinya. Tapi, gadis itu tidak pernah memberi respon yang baik.

Seunghyun tidak ingin Jiyong berharap pada Dara sementara Dara hanya menganggap laki-laki jangkung itu sebagai stalker.

Aish, pikiran buruk macam apa ini?! Seunghyun tidak boleh menghancurkan niat baik sahabatnya.

Sementara itu, Jiyong tengah membuka selembar demi selembar buku astronomi, membaca satu per satu kata di dalamnya dengan semangat membara. Yap! Jiyong sangat bersemangat. Jiyong berjanji akan melakukan apa pun asal ia bisa berbicara dengan Dara – lebih tepatnya bisa dekat dengan Dara. Sejauh ini memang tidak ada laki-laki yang berkencan atau dekat dengan Dara – menurut penelitian Jiyong. Oleh karena itu, Jiyong berpikir ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati gadis berambut coklat ikat dua itu.

Tepat di halaman ke-15 dari bukunya, Jiyong mendesah panjang, membuat Seunghyun melempar pandangannya pada sumber suara.

“Menyerah?” Seunghyun menarik bibirnya ke kanan. Sebuah senyum meledek tampak jelas di sana.

Jiyong mengacak rambutnya frustasi. “Arrgghhh!!” teriaknya lantang. “Kenapa tidak ada satu pun yang kumengerti? Aku tidak tahu apa yang sedang kubaca dan apa yang dimaksud oleh buku ini. Rasanya kalimat-kalimat yang kubaca hanya melintas di otakku sesaat, lalu menghilang entah ke mana.” Ia memejamkan mata sejenak. “Apakah ini derita untuk orang bodoh sepertiku?”

“Kau bisa membuang buku-buku itu kalau kau menyerah mendapatkannya.”

Kening Jiyong mengerut. Tangannya mengetuk-ketuk meja beberapa saat.

“Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja!” serunya kembali memompa semangat yang sempat kempes. “Oppa akan mendapatkanmu, Dara.”

Seunghyun menjulurkan lidahnya – seakan hendak muntah. “Oppa? Menggelikan.”

“Hei, bilang saja kau iri! Bom Sunbae tidak bisa memanggilmu ‘oppa’ karena kau lebih muda darinya. Ya, meski kalian sudah menjadi pasangan kekasih, tetap saja terdengar aneh.” Jiyong meringis lebar sementara Seunghyun memasang ekspresi kesal. “Bersyukurlah aku yang lebih tua beberapa bulan dari Dara. Aku akan mendengarnya memanggilku ‘oppa’ dengan suara manjanya yang menggemaskan.”

Dude, kalau aku boleh berpendapat, hidupku lebih baik darimu. Tak masalah Bom tidak bisa memanggilku ‘oppa’.” Seunghyun menyeringai. “Bagaimana denganmu? Terlalu banyak berkhayal itu tidak baik. Dara belum tentu mau melakukannya. Eh, bukan. Dia bahkan belum menjadi milikmu.”

Bukannya marah atau merasa tersinggung, senyum Jiyong malah semakin lebar. “Tidak apa berkhayal. Hitung-hitung persiapan agar aku tidak terbang terlalu tinggi saat dia melakukannya. Kau ‘kan tahu, hatiku mudah meleleh.”

Benar apa yang dikatakan oleh buku yang pernah dibaca Seunghyun. Seseorang yang sedang jatuh cinta selalu mengatakan kata-kata tidak normal dan menggelikan. Lihat saja Jiyong yang tiba-tiba tersipu malu. Ya Tuhan, Seunghyun hanya bisa berdoa Jiyong segera mendapatkan kesadarannya.

“Aku memahami kondisimu, Jiyong.” Seunghyun bergumam lirih.

“Baiklah! Aja aja fighting!!” Seru Jiyong kembali membuka bukunya. Ia lebih bersemangat sekarang. Bayangan Dara yang tersenyum cerah padanya membuat semangat Jiyong membara. Ya, Jiyong tidak main-main dengan perasaannya.

Jiyong akan melakukan apa pun untuk Dara, termasuk membebani otaknya yang berkapasitas kecil untuk menampung semua isi buku yang dibacanya.

***

“Kemana dia?” tanya Dara kepada salah seorang temannya ketika merasakan adanya keganjilan selama tiga hari belakangan ini.

Si gadis dengan rambut pirang menyahut. “Siapa?”

Dara mengedarkan pandangannya, tapi nihil—orang yang dicarinya tak ada di sana. “Laki-laki jangkung yang selalu duduk di bangku belakang bersama temannya yang cantik. Apa dia sakit?”

Salah seorang gadis lainnya ikut menanggapi sembari menjentikkan jari. “Maksudmu Kwon Jiyong dan kekasih Bom Sunbae itu?”

Dara mengangguk cepat. “Ya. Dia—Kwon Jiyong atau siapa pun itu. Kemana dia?”

Si pirang kembali menyahut. “Hei, bukankah Bom Sunbae meminjam beberapa buku padamu kemarin? Kenapa dia meminjamnya?”

“Aku tak tahu.” Tukasnya to-the-point. “Aku bertanya, kenapa Jiyong tidak ada? Kemana dia?”

“Sandara Park, aku tidak tahu. Lagi pula, sejak kapan kau peduli?”

Benar. Sejak kapan Dara memedulikan Jiyong? Astaga, sepertinya ia butuh istirahat. Seorang Sandara Park mengkhawatirkan seseorang? Oh, tidak. Dia tidak tampak seperti Sandara Park sekarang.

“Aku hanya merasa ada yang kurang.” Jawab Dara memainkan jemarinya.

***

Tak terasa, dua minggu berlalu. Selama dua minggu itu pula Jiyong tidak menghadiri satu pun kelas di kampus. Jiyong benar-benar siap kalau suatu saat nanti ia menerima dampak dari perbuatan buruk yang dilakukannya – bolos kelas. Ya, bagaimana pun juga Jiyong memiliki alasan kenapa ia terpaksa tidak mengikuti kelas selama dua minggu lamanya. Justru dosen pengajarnya, terlebih Dosen Hwang seharusnya senang karena Jiyong kembali melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa tidak dengan otak kosong. Bahkan, otaknya telah terisi penuh segala hal berbau astronomi.

Jiyong tidak mungkin berbangga diri dengan mengatakan ia tahu segala hal tentang astronomi karena Dosen Hwang akan memberi nilai E untuknya. Bagaimana tidak? Astronomi bukan bidangnya. Jiyong mengambil jurusan musik, tapi ia belajar astronomi? Selain mendapat nilai E, lebih baik Jiyong cepat bersiap-siap mendapat bentakan dari Dosen Hwang. Ah, jangan lupakan dengan konsekuensi tidak bisa lulus tepat waktu.

Dan sekarang pintu ruangan Dosen Hwang telah terbuka lebar untuknya. Eh, bukan. Maksudnya, pintu neraka. Benar. Pintu itu adalah gerbang neraka bagi siapa pun yang hendak memasukinya.

“Jadi, kenapa kau tidak masuk selama dua minggu?” tanya seorang wanita paruh baya dengan mata memicing tajam.

Jiyong menelan ludahnya kasar. “Um, saya mempelajari beberapa hal penting, jadi tidak bisa masuk kuliah selama dua minggu. Paman saya bekerja di bidang astronomi dan dia membutuhkan bantuan saya untuk menyelesaikan pekerjaannya.” Jawabnya mencoba mengarang cerita.

“Siapa nama pamanmu?”

Sial! Dosen Hwang tidak percaya!

“Saya juga meminjam beberapa buku.” Jiyong berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Dosen Hwang memutar bola matanya malas. “Aku bertanya, siapa nama pamanmu?”

“Perpustakaan akan segera ditutup. Saya harus mengembalikan buku ini secepat mungkin.” Sergahnya sembari menunjukkan tumpukan buku yang tengah didekapnya. Okay, Jiyong tampak seperti seorang kutu buku sekarang. “Saya mohon, Dosen Hwang, jangan menuliskan nilai E di daftar nilai saya. Orang tua saya pasti akan sangat kecewa. Saya tidak punya uang untuk membiayai kuliah jika saya tidak lulus tahun depan. Saya berjanji akan rajin masuk kuliah, terutama di kelas anda.” Rengek Jiyong memelas dengan mata berkaca-kaca.

Napas panjang keluar dari balik bibir Dosen Hwang. “Baiklah. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran.”

Bingo! Jiyong tahu, Tuhan pasti sangat menyayanginya.

Sejak awal Seunghyun sudah memperingatkan Jiyong berkali-kali. Meskipun Jiyong sibuk mempelajari dan menghafal isi buku astronomi, setidaknya ia harus masuk kuliah dua hari sekali atau hanya mengikuti satu pertemuan. Tapi, bukannya mengamini dan meng-iyakan, Jiyong selalu menjawab dengan tawa lebarnya, kemudian berkata bahwa buku astronomi lebih penting daripada apa pun, termasuk kuliahnya. Seseorang yang sedang jatuh cinta memang seperti itu dan Seunghyun mencoba memahaminya dengan lapang dada meski terkadang ia risih harus membawa embel-embel itu setiap Jiyong mulai menggila.

Setidaknya, Jiyong berhasil membohongi Dosen Hwang. Terdengar mengerikan, memang. Tapi, apa boleh buat?

Sekarang waktunya untuk mengembalikan buku perpustakaan yang pernah dipinjamnya. Hoho~ Jiyong mungkin menambahkan sedikit bubuk kebohongan dalam alasannya, tapi ia tidak berbohong mengenai buku perpustakaan. Tujuan awal Jiyong pergi ke kampus adalah untuk mengembalikan buku. Hanya saja, seorang mahasiswa memintanya mendatangi ruangan Dosen Hwang berkaitan dengan kelasnya yang sempat tertinggal. Bagi Jiyong, masa bodoh dengan kelas-kelas membosankan itu! Toh paling tidak ia mendapat nilai C.

“Tinggal empat buku lagi.” Jiyong menghela napas panjang saat berdiri di hadapan rak buku. Ia mengadahkan kepala, tersenyum lega. “Um, buku ini,” Tubuh Jiyong terpaku. “Bukankah buku ini milik Dara? Ya, aku ingat! Seunghyun meminta Bom meminjam buku astronomi pada Dara.” Tubuh Jiyong hampir tumbang saat itu juga. Jiyong baru ingat bahwa ia meminta bantuan Bom untuk meminjam beberapa buku lagi kepada Dara—ya, karena persediaan buku di perpustakaan sudah habis.

Jiyong merasa kalut, gugup dan – astaga, dia berkeringat! Jantungnya berdetak lebih cepat, begitu juga dengan aliran darah dalam tubuhnya yang semakin deras. Ada tanda tanya besar bersemayam di benaknya – tentang bagaimana cara mngembalikan buku Dara. Haruskah Jiyong meminta bantuan kepada Seunghyun? Ah, tidak! Bom? Sepertinya itu bukan ide yang baik. Buku ini memberi kesempatan pada Jiyong agar ia bisa berbincang-bincang dengan Dara untuk kali ke tiga setelah pertemuan mereka hampir dua bulan lalu.

Tapi – lagi-lagi, tapi!

Tapi, Jiyong tidak berani melakukannya. Jiyong takut. Bukan. Ralat. Bukan takut. Jiyong bukan seorang penakut, buktinya ia berani berurusan dengan Dosen Hwang dan nyaris mendapat nilai E. Itu bukan hal yang bisa dilakukan oleh seorang penakut. Berhadapan dengan Dosen Hwang, sama saja artinya dengan menjual nyawa kepada malaikat maut.

Okay, kembali ke topik awal. Kini Jiyong membeku di tempat dengan tampang bodohnya. Ia tak mampu mempertahankan image maskulinnya ketika nama Daramelintas di benaknya. Bayangkan saja apa yang terjadi saat Jiyong benar-benar berbincang-bincang dengan Dara. Kemungkinan terburuknya adalah Jiyong pingsan di tempat. Ya Tuhan! Ini bencana!

Tidak! Jiyong tidak bisa terus seperti ini! Hanya ada dua pilihan. Maju atau mundur. Jiyong tak mungkin mundur teratur hanya karena merasa gugup setiap berhadapan dengan Dara. Justru Jiyong harus tetap maju agar keinginannya dapat terealisasikan secepat mungkin. Keinginan yang mana lagi kalau bukan menjadi kekasih Dara? Yap! Jiyong sudah sampai sejauh ini. Ia juga sudah menghafal buku astronomi sebagai bekal.

Jiyong tersenyum lebar. “Sandara Park, oppa da-” Belum sampai sepuluh detik, senyum itu memudar. “Sekarang sudah malam. Dosen Hwang pun datang hanya karena memiliki urusan penting denganku. Semua kelas berakhir tiga jam lalu.” Ia mendengus. “Dara pasti sudah pulang.”

Jiyong melangkahkan kakinya gontai menuju tempat dimata kendaraan roda duanya terparkir rapi bersama kendaraan lainnya yang hanya tinggal dua baris. Laki-laki jangkung dengan coat coklat selutut itu meraih helm lalu memakainya. Buku yang tersisa dibiarkan tinggal paling tidak satu hari lagi di dalam tasnya sebelum dikembalikan kepada pemilik aslinya. Tidak ada alasan bagi Jiyong untuk berlama-lama di kampus karena angin malam cukup dingin dan tampaknya cuasa sedang tidak bersahabat.

Selama perjalanan, hanya ada nama Dara di dalam benak Jiyong. Ia tak bisa berhenti tersenyum setiap mengingat pertemuan pertamanya dengan Dara. Tatapan itu. Mata indah Dara membuat Jiyong serasa tenggelam ke dalam palung terdalam. Palung yang didalamnya terdapat berjuta kebahagiaan. Saat ini Jiyong dapat merasakan pipinya yang mulai memanas karena merona.

Jauh di hadapannya, tepatnya di sebuah halte, bayangan seorang gadis jatuh tepat di retinanya. Jiyong melihat seorang gadis berdiri di halte tak beratap dengan pakaian yang tampak basah. Sudah dikatakan sebelumnya, cuaca sedang tak bersahabat. Pakaian Jiyong pun tak kalah basah – setidaknya tidak lebih parah dari pakaian gadis itu. Keadaan itu membuat Jiyong ingin turun tangan memastikan gadis yang dilihatnya baik-baik saja.

Satu hal yang membuat Jiyong menghentikan kendaraannya di dekat halte – karena gadis itu adalah Sandara Park. Ya! Sandara Park! Jiyong mungkin tak akan peduli jika gadis itu bukan Dara – terlebih gadis itu bukan seseorang yang dikenalnya karena Jiyong perlu menyelamatkan tubuhnya dari hujaman air hujan lebih dulu. Tapi, kenyataan bahwa gadis itu adalah gadis dengan rambut ikat dua bernama Sandara Park membuat Jiyong memiliki persepsi bahwa kesehatannya bukanlah yang nomor satu.

Jiyong melepaskan helm-nya, kemudian berjalan mendekati Dara yang tengah berdiri sembari memandang langit beberapa kali. Tampaknya Dara belum menyadari kedatangan Jiyong. Mereka berdiri saling diam beberapa menit.

Jiyong berdehem, berpura-pura batuk seakan katak baru saja terjun di tenggorokannya.

Suara husky itu berhasil membuat Dara menoleh ke arahnya, lalu kembali menatap lurus ke depan dalam sekejap.

“Dari mana saja?” Jiyong menyadari tatapan aneh Dara terhadapnya. Ia segera menyela. “Maksudku, kenapa baru pulang? Eh, tidak.” Sial! Kegugupan ini mengganggunya. “Hujan. Kau tidak membawa payung?”

“Tidak. Aku tidak tahu kalau malam ini akan turun hujan.” Jawab Dara yang selalu berbicara dengan nada datar dan acuh.

Jiyong menggosok hidungnya dengan jari telunjuk. Ia berusaha mencari topik pembicaraan yang menarik. Sesuatu yang membuat Dara tertarik berbincang-bincang dengannya. Bukan. Maksudnya, sesuatu yang membuat Jiyong paling tidak tampak sedikit pintar.

“Eh, iya. Seharusnya kau melihat langit terlebih dahulu. Kalau di langit ada banyak bintang, artinya cuaca cerah.” Jiyong menggaruk lehernya yang tidak gatal. “Kurang lebih seperti itu. Tidak ada hubungannya dengan astronomi. Ibuku yang mengatakannya padaku.” Gumamnya lirih.

Baiklah, Kwon Jiyong. Kau menghancurkan harga dirimu, LAGI. Jiyong terus mengumpat.

“Kau tahu apa tentang astronomi?” tanya Dara yang kali ini bersedia bertanya lebih dulu pada Jiyong – ya, meskipun dengan raut wajah datar seperti biasa.

Jantung Jiyong berdegup kencang sampai Jiyong yakin suara debaran itu berhasil menerobos gendang telinganya.

“Hanya sedikit.” Bohong! Seratus persen bohong! Jiyong tahu banyak tentang astronomi. Ia mengafal semuanya meski tidak terlalu paham apa maksud bacaan yang dihafalnya. “Hal-hal dasar seperti galaksi andromeda. Salah satu galaksi yang diketahui selain milky way.

Jackpot! Dara tertarik dengan topik pembicaraan ini. Setidaknya, lagi-lagi kebodohan Jiyong memberi keajaiban baginya. Yap! Dara tidak hanya tertarik, melainkan sangat tertarik. Ia tidak menyangka Jiyong – laki-laki yang dianggapnya aneh – ternyata tahu menahu mengenai galaksi andromeda. Meski galaksi andromeda termasuk hal dasar dari astronomi, tapi tidak semua orang mengetahuinya. Pencapaian yang cukup baik, menurut Dara.

“Pakar astronomi berkata bahwa galaksi andromeda dapat dilihat dengan mata telanjang, bukan begitu? Galaksi andromeda memiliki kesamaan dengan milky way, hanya saja ukurannya lebih besar dan jumlah bintangnya pun lebih banyak.” Cerocos Jiyong berbicara panjang lebar. “Bahkan sempat diberitakan bahwa galaksi andromeda dan milky way akan bertabrakan, walau belum tahu kapan peristiwa itu terjadi.”

Dara terkekeh kecil. Hal itu sontak membuat Jiyong tertohok. Bukan karena ditertawakan, tapi karena melihat wajah cantik Dara yang tampak semakin cantik saat bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk bulan sabit ketika tersenyum. Tak hanya itu, matanya yang bersinar bak bintang pun ikut membentuk bulan sabit. Di mata Jiyong, Dara lebih dari sempurna.

Jiyong tak lagi mengutuk dirinya sendiri. Ia tersenyum tipis, berusaha menunjukkan ekspresi senang yang tidak terlalu berlebihan. Catat. Semua hal berlebihan yang dilakukan Jiyong selalu berakhir menjadi sesuatu yang memalukan.

Seakan mengerti akan nasib baik yang menimpa Jiyong, hujan pun mulai reda – bermaksud memberi ruang untuk Jiyong dan Dara agar dapat berbincang lebih lama.

“Menarik. Sayangnya beberapa buku hanya memberi penjelasan umum mengenai galaksi andromeda. Setahuku belum ada penelitian mendetail berhubungan dengan seperti apa galaksi itu secara spesifik dan apakah ada kehidupan layaknya di bumi di galaksi itu. Tidak ada yang tahu.” Dara mengendikkan bahu, kemudian menoleh ke arah Jiyong dengan senyum simpul di bibirnya. Ia menjadi Sandara Park yang berbeda.

“Ah, um,” Jiyong salah tingkah – menggaruk lehernya yang tidak gatal.

“Aku tadi pergi ke cafe bersama teman-temanku sepulang dari kampus – kalau kau mau tahu.” Sergah Dara menjawab pertanyaan Jiyong beberapa menit lalu. Ia menatap Jiyong sejenak. “Kau sendiri? Kenapa berhenti di halte?”

Seakan maling yang tertangkap basah, Jiyong meringis lebar. “Dari kejauhan, aku serasa melihat seseorang yang kukenal. Awalnya aku tidak terlalu yakin, tapi orang yang kulihat adalah kau. Karena kau sendirian dan cuaca sedang buruk, aku menyempatkan diri untuk berhenti sejenak.”

“Begitu rupanya.” Dara bergumam. “Aku pulang dulu. Hujan juga mulai reda.”

Baru saja berjalan satu langkah, Dara merasa sesuatu menahannya. Jemari Jiyong melingkar tepat di pergelangan tangannya. Laki-laki itu tersenyum hangat, kemudian melepas coat-nya yang tidak terlalu basah dan melingkarkan coat selutut itu di bahu Dara. Entah dari mana Jiyong mulai mendapatkan keberanian, intinya Jiyong bertekad tak akan melakukan segalanya dengan setengah-setengah.

“Aku akan mengantarmu.”

Mata Dara mendelik, melirik Jiyong dengan tatapan bingung. “Mengantarku? Tidak perlu. Terima kasih karena sudah menemani dan menghiburku. Tapi, aku tidak-”

Jiyong segera menyela ucapan Dara dengan menarik gadis itu ke sisi motornya. “Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karena kau sudah menyelamatkanku dari rasa malu. Kau tentu ingat masalah buku yang kubaca dua minggu lalu.” Jiyong tersenyum lebar. Saking lebarnya, senyum itu hampir mencapai telinganya. “Hehe~ kau pasti kedinginan. Pakaianmu basah. Setidaknya, sekarang tubuhmu terasa lebih hangat.”

“Baiklah, terima kasih. Aku akan menunjukkan arah rumahku kepadamu.” Tukas Dara.

Tentu ini terlalu jauh! Sangat jauh – bahkan! Tidak pernah terbayang dipikiran Jiyong bahwa ia akan seberani ini – menawarkan tumpangan kepada Dara dan untungnya gadis itu tak menolaknya. Dapat dibayangkan tampang memalukan Jiyong kalau saja Dara menolak tawarannya. Jiyong berpikir, mungkin Dara mulai membuka dirinya untuk Jiyong – dalam artian dapat menerima Jiyong sebagai orang baru dalam hidupnya. Menurut gosip yang Jiyong terdengar beberapa waktu lalu, Dara bukan orang yang mudah terbuka pada laki-laki. Mungkin dia tampak easy going, tapi sebenarnya Dara tidak sesederhana itu.

Dan, Jiyong membenarkan gosip itu. Ah, bukan. Itu bukan gosip.

Itulah kenyataan yang Jiyong alami selama dua bulan belakangan. Dara sangat sulit dijangkau. Dia pendiam, dingin dan acuh pada segala hal. Awalnya Jiyong memang sempat berkecil hati. Apa yang bisa dilakukan orang bodoh sepertinya untuk membuat Dara menyukainya? Akan tetapi, sekarang bukan itu pertanyaan yang berkecambuk di benak Jiyong, melainkan bagaimana membuat Dara selalu terbuka kepadanya dihari-hari berikutnya.

Jiyong menyunggingkan senyum penuh kepuasan di balik helm-nya. Ia senang, terlebih setelah menyadari bahwa ada sepasang tangan mungil yang melingkari pinggangnya. Untuk saat ini Jiyong seratus persen senang. Sangat senang!!

“Kira-kira berapa meter lagi?” tanya Jiyong sesekali menoleh ke samping agar suara Dara dapat sampai di daun telinganya lebih cepat.

Dara menyipitkan matanya. “Di depan itu rumahku.” Gadis itu menunjuk rumah yang terletak di kanan jalan.

Jiyong menghentikan laju kendaraannya di depan pagar tinggi sebuah rumah berlantai dua dengan warna coklat menghiasi dindingnya. Setelah mesin motor benar-benar dalam keadaan mati, Dara segera beranjak, kemudian berjalan mendekati pagar rumahnya, diikuti Jiyong yang baru saja melepas helm.

“Terima kasih.” Ujar Dara tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

“Eh? Harusnya aku yang berterima kasih padamu.” Sergah Jiyong mengibaskan tangannya – sok keren. “Tidak seperti pertemuan pertama kita, kau berbicara lebih banyak.”

“Seperti yang kukatakan, aku tidak suka berbicara pada orang asing.”

Kalimat yang dikatakan Dara membuat Jiyong membekap mulutnya dengan cepat menggunakan sebelah tangannya.

Dara kembali terkekeh. “Kau tertarik pada ilmu astronomi?”

“Aku?” Jiyong terperangah sembari menunjuk dirinya sendiri. “Bukan begitu. Aku tidak tertarik pada sesuatu yang bukan bidangku. Semua orang tahu aku idiot. Apa kau pikir kapasitasku otakku ini cukup, huh?

Kali ini Dara tertawa. Sangat manis dan menggemaskan. Itu yang ada di benak Jiyong.

“Hei, semua orang memiliki kesempatan yang sama. Mau orang itu idiot atau kebalikannya, yang namanya kesempatan berlaku untuk semua orang.”

Kalimat Dara lagi-lagi membuat Jiyong terperangah. “Aku tidak tahu yang kau katakan pujian atau hinaan.” Jiyong menyisir rambut coklatnya dengan jemarinya. “Aku anggap itu pujian.”

“Ah, iya. Kita belum sempat berkenalan. Namaku Sandara Park.” Seru Dara mengulurkan tangan.

Terlambat! Tak ada kata lain yang dapat menggambarkan ucapan Dara. Bagaimana tidak? Jiyong sudah mengetahui namanya sejak pertama kali mereka bertemu. Ya, meski tak memiliki banyak teman dekat, Jiyong memiliki koneksi yang cukup baik dengan mahasiswa lainnya berkat sikap sok kenalnya.

Okay, masa bodoh dengan hal itu. Seperti saran Seunghyun, Jiyong hanya perlu berpura-pura tidak mengenal Dara. Akhirnya, Jiyong menjabat tangan yang terulur di hadapannya. Hangat. Itu yang Jiyong rasakan. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa peristiwa yang tidak direncanakan ini berbuah manis. Ya! Jiyong serasa menjadi laki-laki paling bahagia di muka bumi ketika ia sadar bahwa apa yang terjadi sekarang adalah kenyataan terindah dalam hidupnya.

“Kwon Jiyong.” Jiyong menunjukkan sisi maskulinnya, membuang sisi idiotnya tanpa sisa.

“Baik, Jiyong. Sekarang sudah larut malam. Maaf, aku tidak bisa menerima tamu karena orang tuaku tak ada di rumah.” Dara menundukkan kepalanya. “Mengenai coat-mu, aku akan mengembalikan coat ini setelah mencucinya.”

“Tidak masalah. Aku bisa menunggu-”

“Tidak.” Sela Dara menggerakkan telapak tangannya. “Kau bisa menghubungiku kalau kau membutuhkannya. Kapan pun. Aku tidak suka membiarkan seseorang menunggu karenaku.”

Gotcha! Bahkan Jiyong mendapatkan nomor ponsel Dara langsung dari sang pemilik. Sungguh hari yang sangat membahagiakan.

Jiyong mengangguk pelan. “Baiklah, aku pulang. Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur.”

Dara melambaikan tangannya. “Eo. Kau juga.”

Ya Tuhan! Hati Jiyong hampir mencelos dari tempatnya. Siapa sangka kalau hari ini adalah hari keberuntungan Jiyong?

Di detik terakhir sebelum Dara benar-benar menghilang dari hadapannya, Jiyong sadar bahwa cinta bukan masalah kenal atau tidak kenal, dekat atau tidak dekat, suka atau tidak suka. Tapi, cinta adalah tentang kenyamanan. Setelah seseorang merasa nyaman, maka cinta akan membuat orang itu kenal, dekat dan suka pada orang yang telah memberinya kenyamanan sementara hal-hal baik lainnya akan mengekor di belakang. Percaya atau tidak, hal itu terjadi pada Jiyong. Ia tidak terlalu yakin, tapi sepertinya Dara mulai nyaman dengannya.

Ya, nyaman. Rasa nyaman itu dimulai setelah Jiyong mengatakan beberapa kalimat tentang galaksi andromeda. Sepertinya pengorbanan Jiyong selama dua minggu akan membuahkan hasil.

Sepertinya. Masih sepertinya. Ini hanya menurut pendapat Jiyong. Tapi, siapa yang tahu?

***

Dua minggu sejak kejadian bersejarah itu, Jiyong tak pernah berhenti mengucapkan terima kasih pada galaksi andromeda. Cukup aneh, tapi berkat membicarakan galaksi itu Jiyong berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Belum terealisasikan memang. Dan, Jiyong memiliki rencana yang menakjubkan demi merealisasikan keinginannya. Ingat? Jiyong tidak mau melakukan hal apa pun dengan setengah-setengah.

Jiyong berniat mengungkapkan isi hatinya pada Dara malam ini. Meskipun dua minggu bukanlah waktu yang lama, tapi Jiyong rasa tidak ada yang salah berkaitan dengan niat mulianya untuk mengungkapkan sesuatu yang telah dipendamnya.

Sejak hari itu Jiyong dan Dara tiba-tiba akrab bak teman lama yang dipersatukan kembali. Di mana ada Dara, di situ ada Jiyong – dan sebaliknya. Mereka berjalan kesana-kemari berdua. Bahkan, mereka sering menghabiskan waktu bersama di kantin. Makan di meja yang sama, menu yang sama dan membicarakan banyak hal yang berkaitan dengan astronomi. Hal itu tentu berbeda dari yang terjadi dua bulan lalu, di mana Jiyong hanya bisa menatap Dara dari jarak yang cukup jauh. Intinya, entah apa yang merasuki Dara, dia bertingkah baik pada Jiyong.

Lupakan dengan sikap baik Dara. Selain menjadi lebih terbuka, tampaknya Dara tertular virus idiot Jiyong. Ada banyak bukti yang mendukung hipotesa bahwa Dara memang tertular virus mematikan Jiyong. Pertama, mereka berdua – Jiyong dan Dara – berulang kali diusir dari kedai kopi karena dituduh mengganggu suasana tenang di kedai itu. Mereka berisik! Kedua, Dara mendapat nilai B untuk yang pertama kalinya di kelas Dosen Kim. Bukannya bersedih – ya, dia seharusnya bersedih karena termasuk dalam jajaran murid berprestasi – Dara malah tertawa bahagia. Dan, masih banyak lagi.

Tidak hanya makan dan bepergian bersama. Jiyong dan Dara sempat beberapa kali tidak masuk kuliah di hari yang sama. Mungkin Dara tidak memiliki masalah dengan kata ‘bolos’. Ia bisa bolos beberapa kali kapan pun ia mau tanpa resiko berat karena nasib baik selalu membuntutinya. Namun, bagi Jiyong, ‘bolos’ adalah kata yang menakutkan dimana ia harus berurusan dengan Dosen Hwang yang selalu siap dengan pena dan daftar nilainya. Pikirkan, apa yang tidak bisa dilakukan oleh si idiot Jiyong? Ia bisa bersandiwara dengan wajah memelasnya dan Dosen Hwang akan memberi ampunan padanya. Sederhana, bukan?

“Dara-ya.” Panggil Jiyong, melirik seorang gadis berambut coklat ikat dua yang tengah memandang indahnya arus Sungai Han di malam yang sunyi. Anak rambutnya yang bergerak diterpa angin membuat wajahnya semakin mempesona.

Dara menoleh, menunjukkan senyum simpulnya. “Ada apa?”

“Kau banyak berubah.”

“Kupikir hanya teman-teman satu fakultas yang berpikiran seperti itu, ternyata kau juga.”

Jiyong melakukan kebiasaannya – menggaruk leher ketika gugup – sembari berdehem kecil. “Um, apa kau-”

“Apa aku mau menjadi kekasihmu? Kau mau mengatakan kalimat itu?”

Rahang Jiyong terjatuh. “Hah?”

“Aku mau.” Ujar Dara tetap menatap ke depan. “Kau kira aku akan menjawab kalimatmu seperti itu?” Mata Dara mendelik, memicing tajam ke arah Jiyong yang terperangah untuk kedua kalinya. Satu detik kemudian, gadis itu meringis lebar. “Tentu aku akan menjawabnya seperti itu.”

“Ya?” Jiyong memiringkan kepalanya.

“Seunghyun yang memberitahuku sebelum kau mengirim pesan untuk mengajakku bertemu di Sungai Han.” Jelas Dara seakan baru saja membaca pikiran Jiyong.

Sial! Si keparat Seunghyun!

“Dia berkata bahwa kau hendak mengungkapkan isi hatimu padaku. Pada awalnya, aku terkejut bahkan terus memikirkannya. Tadi pagi Seunghyun menemuiku. Dia memintaku untuk menerima perasaanmu. Bukannya apa-apa, dia hanya ingin aku tahu bahwa kau sudah menyukaiku sejak pertemuan pertama kita di koridor itu. Sebelumnya, jangan memarahinya karena aku menerimamu bukan karena permintaannya.” Dara tersenyum hangat. Jelas senyuman yang berbeda dari yang biasa ditunjukannya pada Jiyong. Kali ini lebih hangat dan tulus. “Meskipun begitu, berterima kasihlah pada Seunghyun.”

“Aku akan mengutuknya saat kami bertemu.” Umpat Jiyong tersenyum kecut.

Inilah alasan kenapa Jiyong enggan bercerita mengenai rahasia besarnya pada Seunghyun meski mereka bersahabat. Seunghyun si mulut tipis nan pedas itu mampu membeberkan rahasia Jiyong kepada siapa pun semudah membalikkan telapak tangan. Benar. Awalnya Jiyong berniat memangkas habis rambut Seunghyun kalau saja Dara menolaknya mentah-mentah. Tapi, karena kenyataan berkata lain, sepertinya Jiyong memang harus berterima kasih kepada Seunghyun. Ya. Terkadang hal-hal bodoh dan menyebalkan membawa manfaat.

“Cih, dasar idiot.” Celetuk Dara mengejek Jiyong yang tengah menunduk menahan tawa bahagia.

“Idiot?” pekiknya mendelik tajam. “Apa kau tidak sadar kalau kau juga tak kalah idiot dariku?”

“Kau bertingkah seolah-olah kau tidak campur tangan dalam hal ini. Hei, Tuan Kwon, kau yang membuatku sama idiotnya sepertimu.” Dara benar. Jiyong membuatnya idiot, banyak bicara, dan bertingkah menyebalkan layaknya sang empu. Bukan. Itu bukan Dara yang lain. Sesungguhnya, itulah Dara yang sebenarnya. Percayalah, semua gadis tentu menjaga image-nya, bukan?

“Kalau begitu, kita pasti akan menjadi pasangan idiot yang selalu bahagia. Bukankah itu terdengar menyenangkan?” Jiyong menaikkan sebelah alisnya. Hal itu sukses membuatnya mendapat satu pukulan keras di bahu kanannya.

Ya! Sakit!” Rengeknya manja.

“Hei, Kwon Jiyong! Bagaimana bisa kau menyukaiku padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya? Ah, tidak!” Dara mengibaskan jemarinya. “Seunghyun berkata kau menyukaiku diawal pertemuan kita sekitar dua bulan lalu. Apakah jatuh cinta adalah sesuatu yang sederhana bagimu?”

Jiyong mengendikkan bahunya. “Entahlah. Aku belum pernah jatuh cinta sebelumnya. Eh, tunggu!” Sepasang matanya mengerjap. “Sebenarnya apa saja yang diceritakan Seunghyun padamu?”

“Banyak. Dia menceritakan semua yang diketahuinya kemarin malam. Semalaman dia bercerita sampai tengah malam. Aku-”

“Jadi, kau menghabiskan waktu berdua bersama Seunghyun kemarin malam? Aku tidak percaya ini.” Sela Jiyong dramatis seolah-olah dia satu-satunya tokoh protagonis yang tersakiti.

Dara menatapnya malas. “Kau bertingkah idiot, LAGI!” Bola mata Dara memutar, malas. “Seunghyun menceritakannya padaku karena dia ingin aku sadar kalau kau menyukaiku. Dia berkata, sejak hari itu kau selalu menunggu kedatanganku di kantin. Awalnya aku bingung kenapa aku selalu bertemu denganmu di sana. Bahkan kau selalu duduk di bangku yang sama pula. Dan, sebentar. Aku tidak akan pernah lupa perihal buku yang kau baca. Sungguh, Seunghyun tertawa keras saat aku menceritakan peristiwa ajaib itu.”

“Hei, hei! Itu buku Dami Noona, bukan milikku.” Protes Jiyong tidak terima.

“Aku tahu. Laki-laki bodoh macam apa yang membaca buku semacam itu.” Sergah Dara menahan tawa. “Mulai saat itu aku menyukaimu. Terkadang aku tertawa di balik buku saat kau dan Seunghyun bertengkar karena hal kecil. Aku terlalu gugup, jadinya aku bertingkah acuh padamu. Ya, kau tahu sendiri, sekarang aku berubah.” Dara tersenyum puas. “Berkat kau dan galaksi andromeda. Dua minggu lalu di halte.”

“Yeah, sepertinya usahaku menghafal puluhan buku itu berhasil.” Jiyong menopang kepala menggunakan kedua tangannya dengan pandangan menuju aliran air sungai yang tenang. Tak lama, ia menoleh karena menyadari lawan bicaranya terdiam. Jiyong yang tahu maksud dari ekspresi aneh itu pun segera melanjutkan kalimatnya. “Aku sengaja tidak masuk kuliah selama dua minggu karena kau. Karena aku ingin lebih dekat denganmu, salah satu caranya adalah membaca buku tentang astronomi dan menghafalnya meski aku tidak tahu apa maksud dari semua kalimat yang kubaca.”

“Kwon Jiyong,”

“Tidak perlu terharu-”

Satu pukulan keras mendarat di kepala Jiyong.

“Apanya yang terharu? Aku mencarimu selama dua minggu! Kukira kau sakit.”

Jiyong terperanjat dengan senyum lebar nan bodoh menghiasi bibirnya – melupakan rasa sakit di kepalanya. “Kau memang tipe gadis yang mudah cemas.” Ujarnya menunjukkan ekspresi sok tampan sembari mengacak rambut Dara.

Okay, kegilaan Jiyong kambuh.

Dara mendengus dengan raut wajah masa bodohnya.

“Kau cantik, pintar, lucu, menggemaskan dan menarik – aku suka itu. Mungkin beberapa hal itu membuatku menyukaimu. Ingat, hanya suka.” Dara memperhatikan Jiyong seksama, mendengarkan ucapan laki-laki itu dengan seksama. “Tapi, aku tidak tahu apa yang membuatku mencintaimu. Cinta tidak selalu memiliki alasan, bukan begitu? Itulah yang kusukai dari cinta. Kita tidak memerlukan banyak alasan. Kalau kau bertanya, apa yang membuatku mencintaimu, aku akan menjawab karena orang itu adalah kau. Karena kau orang yang kucintai.”

Entah kenapa suasana aneh ini membuat hati Dara berdesir. Seorang Kwon Jiyong yang idiot nan bodoh tak biasanya mengucapkan kalimat puitis yang menyentuh. Jujur, di dalam lubuk hati yang paling dalam, Dara membenarkan perkataan Jiyong. Sikap Jiyong yang berbeda dari orang normal mungkin menjadi sesuatu yang membuat Dara menyukai laki-laki jangkung itu. Tapi, Dara memang tidak memiliki alasan pasti kenapa ia menyukai Jiyong. Sepertinya benar. Benar karena orang itu adalah Jiyong. Seseorang yang telah dipilihnya.

“Jadi, sekarang kau benar-benar menjadi kekasihku?” tanya Jiyong tersenyum gummy, menampakkan lesung pipi yang semakin membuatnya tampak manis.

“Ya, mau bagaimana lagi.” Dara memiringkan kepalanya.

“Sandara Park,” Rengek Jiyong bak anak kucing.

Dara menangkup pipi Jiyong dengan kedua tangannya. “Iya! Aku kekasihmu, kau kekasihku. Kita berdua menjadi pasangan kekasih. Kau puas?” Dara menekan kata terakhirnya.

“Baiklah. Kwon Jiyong dan Sandara Park akan bersama-sama selamanya!!” Serunya tertawa.

Mau tidak mau Dara pun ikut tertawa, meski – ya, sesungguhnya Dara ingin memukul kepala Jiyong karena orang yang berlalu-lalang mulai menatap ke arahnya dengan mata memicing. Akan tetapi, tepat saat Dara menarik bibirnya ke arah samping untuk tersenyum lebih lebar, Jiyong melingkarkan tangannya di pinggangnya yang mungil, membuatnya membeku seketika. Jantungnya berdegup begitu kencang.

Dara menatap Jiyong nanar, kemudian tersenyum simpul. Ah, jadi seperti ini sisi manis dari seorang Kwon Jiyong – laki-laki yang telah menjadi kekasihnya sejak tiga puluh menit lalu.

Belum sempat mendapat waktu luang untuk menormalkan detak jantungnya, napas Dara kembali tercekat. Pasalnya, Dara baru menyadari kalau jaraknya dengan Jiyong semakin dekat. Bahkan, Dara dapat melihat jelas betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang tengah memejamkan matanya. Sial! Pipi Dara terasa panas dan merona.

Tak terasa jarak mereka semakin dekat. Dara memutuskan menutup matanya, mengikuti gerakan Jiyong yang seakan memberinya intruksi untuk melakukan sesuatu yang sama sepertinya.  Napas Jiyong menerpa permukaan kulit wajah Dara. Semua itu berlangsung tepat sebelum Dara merasakan benda lembut yang menerpa bibirnya. Benda itu menyapu permukaan bibir Dara perlahan, membuat Dara menikmati sensasi yang tak pernah dirasakannya selama hidupnya. Ia pun mulai membalas lumatan Jiyong. Mereka berdua terkekeh disela-sila ciuman itu.

“Aku mencintaimu, Jiyong. Mari tetap seperti ini untuk jangka waktu yang lama.”

Jiyong membelai rambut Dara. “Aku juga mencintaimu, Jiyong. Mari tetap seperti ini untuk jangka waktu yang lama.”

Cinta. Layaknya kanker, cinta tidak mengenal waktu untuk bersemi. Layaknya bunga, cinta selalu tahu kapan waktunya untuk mekar. Layaknya takdir, cinta selalu tahu kapan ia harus hadir di antara dua orang yang ditakdirkan bersama.

Cinta. Satu-satunya hal yang membuat orang bodoh berusaha terlihat pintar—atau mungkin malah membuat orang itu tampak semakin bodoh. Satu-satunya hal yang membuat seseorang memperjuangkan sesuatu tanpa sebab. Satu-satunya hal yang membuat seseorang melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya.

Cinta adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Karena itulah kau menyebutnya cinta.

***

Note:

Halo haiiiiii!!!^^ Author comeback dengan ff baru. Hihi~ Ini sebenernya cuma oneshoot yang semoga bisa memperbaiki mood kalian. Mungkin bagi kalian yang lagi galau atau gimana *timpukauthor* Eh, iya, maaf kalo aku hiatus lama soalnya ada keperluan penting. Ff Bad Boy For Bad Girl-nya akan dipost secepatnya. Meskipun ga bisa janji sih. Jangan lupakan daku, okay? Oiya, aku seneng banget karena blog DGI akhir-akhir ini rame banget. Banyak ff baru dan lain-lain. Aku juga seneng bisa ikut meramaikan parade ff tersebut/? Makasih banyak buat Kak Zhie dan Kak Pinda yang ngasih kesempatan untuk terus post ff di DGI. Makasih banyak ya^^ Dan, buat kalian semua, aku juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Jangan bosen sama ff ku ya. Okay, see yaaaa^^

Advertisements

19 thoughts on “You Call It Romance [Oneshoot]

  1. Romantis banget sih jiyong.
    Dara yang dideketin dan dirayu kenapa aku yang meleleh
    Baru kali ini aku baca ff jiyong yang berperan sebagai namja polos ,lugu dan idiot
    Biasanya pasti dara yang punya sifat buruk,
    Besar banget pengorbanan jiyong buat dapetin dara,sampe2 bela2in baca dan menghapal buku yang bahkan dia sendiri gak ngerti,,
    Salut sama kegigihannya jiyong.
    Jadi pengen punya pacar kaya jiyong

  2. aku jg mncintai mu dara. gttu sih… kok jiyong cinta jiyong. wkekekekkeke…. pedang dong. hihi happy ending… yeahhhh senang 😀

  3. Perjuangan yg sangat panjang demi cinta.
    Dan untung lah dara jga memiliki perasaan yg sama dengan ji. Salut bgt sama ji, dia anaka jurusan musij sampe bela2in belajar tentang astronomi demi bisa deket sama dara….clap clap clap.
    Daebakkkk…thor ditunggu ff DG yg lainnya…fighting

  4. ya ampun manis bnget kisah cinta daragon disni, —— salu sama jiyong yang gak pernah nyerah sama cintanya ke dara…aouhhhh berasa kayak mrka bener” real di kehidupan nyatanyaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s