Operation Love #2 -End-

loperation2 copy

Author : Rachi

Halllowwww, sudah lama sekali rasanya gk update2 cerita, maapkeun aqyu yg baru beredar lagi hari ini karena satu dan lain hal, kekekee… Dari mood lanjutin cerita yg males, kesibukan dikntor smpai flasdisk yg baru ketemu setelah hampir 2 tahun baru ketemu, hohohooo… So, sedikit demi sedikit sya akan update beberapa cerita ya, kalau lupa ceritanya silahkan dibaca-baca chap sebelumnya. Cerita ini sebenarnya dari taon 2014 udah dibuat, tapi keburu FDnya ngilang,  xixixii… Akan ada cerita baru tapi chapnya paling hanya 2 chap. Untuk author2 baru, haiii salam kenal 🙂

 ***

 “Jelaskan!”

 Dara dan Jiyong menunduk diam di sofa. Dara sudah mengganti baju tidurnya dengan kaos dan celana panjang, sedangkan Jiyong memakai bajunya yang semalam. Tuan Park menggebrak meja, membuat mereka bertiga melonjak kaget. Nyonya Park mengusap-usap lengan suaminya, berharap agar kemarahannya mereda.

 Dara  akhirnya memberanikan diri bicara lebih dulu. “Ap-appa, jangan salah paham dulu, ka-kami tidak melakukan apa-apa. Semalam ia mabuk, dan temannya menidurkannya di kamarku. Karena aku juga mabuk jadi aku tidak tahu kalau dia tidur di  ranjangku. Lagipula ia juga inspektur polisi sama sepertiku. Kami baru berkenalan kemarin dan tidak terlalu saling kenal. Jadi kupastikan apa yang appa dan eomma lihat,,, tidak seperti itu.” ujar Dara panjang lebar. Dara menyikut lengan Jiyong agar membantu menjelaskannya.

 “B-benar tuan Park, tidak terjadi apa-apa diantara kami.” Jiyong sedikit meringis setelah mendapat sikutan dari wanita itu.

 Tuan Park memandang Jiyong yang menunjukkan ekspresi tenang namun ia tahu pria muda itu cukup takut, terbukti dari nada bicaranya yang sedikit goyang. “Begitukah?” tuan Park memandangi Dara dan Jiyong bergantian. Dara dan Jiyong mengangguk bersama untuk menyakinkan tuan Park.

“Kumohon appa, eomma, percayalah padaku.” Dara memohon dengan muka memelas.

 “Kau ingin kami mempercayaimu?” Dara kembali mengangguk-angguk seperti anak kecil.

“I-iya appa.”

Tuan Park bersandar di kursi dan menyilangkan kedua tangan di dadanya. Ia tampak menimang-nimang penjelasan Dara dan Jiyong. Nyonya Park  ikut menenangkan suaminya karena ia tahu putrinya tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan kariernya sebagai inspektur hancur.

“Dengar bocah,” tunjuknya pada Jiyong. “Dara adalah putriku satu-satunya, aku tidak mau ada rumor buruk yang merebak bahwa di suatu malam ia ketahuan menghabiskan malam bersama seorang inspektur polisi karena hal itu bisa menyebabkan kariernya berantakan. Jika hal ini sampai beredar keluar…” Tuan Park sengaja menggantung nada bicaranya. Kemudian dengan gerakan lambat, tangan kanannya diangkat ke arah leher dan memberi isyarat bahwa ia akan mematahkan leher pria itu jika berani macam-macam.

Dara dan Jiyong menelan ludah masing-masing.

“Aku akan memaafkan kalian namun dengan satu syarat.” Tuan Park mengacungkan telunjuknya diantara wajah Dara dan Jiyong.  “Mulai sekarang, kalian harus benar-benar berkencan.”

“MWO!?!” teriak mereka bersamaan.

***

Setelah orangtua Dara pergi, Jiyong memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Tapi begitu ia sampai di depan kamarnya sendiri, ia tak menemukan kunci kamarnya, kemungkinan besar kuncinya terbawa Seungri. Bodohnya lagi, dompet beserta ponselnya juga masih berada di tangan anak itu. Mau tak mau akhirnya ia kembali ke kamar Dara dan meminta bantuannya.

Jiyong membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok. Ia mengutuk dirinya sendiri karena telah terjerat masalah ini. Kabar ia ditampar kemarin saja sudah membuat dadanya sesak dan rasa malu akut menempel kemanapun ia pergi. Dan sekarang, ia kembali berurusan dengan gadis itu. Bahkan lebih parahnya, ia harus berkencan!

Tak lama kemudian, Dara datang. Ia melangkah masuk dan terbengong melihat pria yang menyeretnya dalam masalah, membenturkan kepalanya ke tembok. Rasanya ia ingin tersenyum melihat kebodohan pria itu, tapi buru-buru ia melihat ke arah lain ketika pria itu menoleh menatapnya.

Begitu melihat Dara sudah berdiri di pintu, Jiyong langsung menghentikan tindakan anehnya dan berjalan mendekati pinggiran tempat tidur lalu duduk disana. “Jadi, mana baju baruku?” tanya Jiyong. Dara melemparkan sebuah bungkusan berisi 1 stel pakaian lengkap untuk Jiyong kenakan. Ia memutuskan membeli baju baru untuk Jiyong ketika pria itu mandi.

Begitu bungkusan itu diterima, Jiyong menyuruh Dara untuk berbalik karena ia tak suka dilihat orang ketika memakai baju. Dara dengan cepat memutar tubuhnya. Ia juga tak ingin berlama-lama menatap tubuh Jiyong yang bertelanjang dada di pagi hari.

“Maafkan aku.”

Dara menengok mendengar pria itu bicara, tepat saat Jiyong sedang mengancingkan salah satu lengan kemejanya.

“Wae?” tanya Dara.

“Karena semalam tidur di kamarmu.” Nada bicaranya terdengar tulus.

“Aniyo. Masalah ini akan cepat selesai jika appa dan eomma tidak datang tiba-tiba ke apartemenku.” katanya.

Wanita itu melihat Jiyong nampak kesulitan membuka kancing atas kemejanya yang kaku karena masih baru. Ia mendekati Jiyong bermaksud membantunya.

“Aku yang seharusnya minta maaf, menyeretmu dalam masalah keluargaku. Kita hanya akan berpura-pura berkencan jika ada mereka saja, bisa kan? Sampai aku berhasil meyakinkan mereka bahwa tidak ada hubungan spesial diantara kita. Terkadang  appa memang over protective.” katanya sembari menyuruh Jiyong untuk menundukkan kepalanya sedikit. Entah karena hawa pendingin ruangan yang sudah dimatikan, dada Jiyong terasa panas dan wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan setelah mendengar permintaan maaf Dara.

Kini pria itu bisa memandang Dara dengan sempurna. Struktur wajahnya yang ramping membuat wajah manis gadis itu terlihat imut di mata Jiyong. Rambut cokelatnya yang sedikit bergelombang nampak berkilauan. Tangan Dara yang sesekali menyentuh tengkuk lehernya ketika merapihkan leher kemejanya membuat Jiyong seperti kehabisan oksigen karena jarak mereka yang begitu dekat.  Jantungnya terasa terpompa lebih kuat dan paru-parunya ingin menyodok keluar.

Jiyong berhalusinasi ingin mengacak-acak rambut cokelat Dara dengan kedua jarinya. Mendorongnya ke dinding dan ingin menatapnya lama-lama. Tapi angan-angan itu segera ditepisnya. Ia sudah membayangkan akan menerima tamparan di pipi kanannya jika ia benar-benar melakukan hal itu. Astaga, sepertinya pikiranku sedang tidak waras, gumamnya dalam hati.

Dara telah selesai mengancingkan dan merapihkan leher kemeja Jiyong tanpa menyadari bahwa sejak tadi pandangan Jiyong tak pernah luput menatapnya. “Selesai.” ujarnya.

“A-ah ya, terimakasih.” Jiyong sudah kembali ke alam sadarnya. Ia segera memasang sepatu di kakinya dan berniat cepat-cepat pergi karena takut akan bertindak di luar penalarannya. “Jangan khawatir, aku pastikan rahasia kita tidak akan diketahui siapapun.”

Jiyong tersenyum manis.

Giliran Dara yang merasa pikirannya sedang tidak beres. Wajah Jiyong berubah menjadi banyak dan seolah-olah berputar-putar di depannya. Matanya berulang kali mengerjap, namun itu tak membuahkan hasil. Senyum Jiyong membuat Dara seketika bertransformasi menjadi Wendy Peter Pan yang dapat terbang bebas kemanapun ia mau. Jangan tersenyum bodoh!

“Hey,,” panggilan suara Jiyong membuyarkan lamunan Dara yang masih terhipnotis oleh senyum pria itu. Dara mengambil napas. Akhirnya ia bisa menenangkan diri sebelum detak jantungnya kian berdentum keras dan menggila.

“Huh? Oh tentu, aku juga akan menjaga rahasia kita baik-baik.”  Dara mengedarkan pandangannya lagi, takut kalau terlalu lama ia menatap Jiyong, ia tak akan sanggup untuk tak berhenti menatapnya.

Sesaat, mereka berdua terdiam. Tak ada pertengkaran seperti kemarin atau tadi pagi. Sampai akhirnya Jiyong memberanikan bicara.

“Mau pergi ke kantor bersama?”

***

“Oh Tuhan, kalian datang ke kantor bersama-sama?!” seru Seungri yang terdengar seperti teriakan saat  mendengar cerita  Jiyong dan Dara datang bersama dengan naik taksi. “Bagaimana bisa? Semalam kan aku meninggalkanmu di kamarmu hyung? Kok kalian bi – “

“Jangan bertanya.” potong Jiyong dengan tatapan sengit, membuat Seungri berpikir kalau saja tatapan mata Jiyong bisa membakar, maka dirinya sudah menjadi sosis bakar sekarang.

“Tapi hyuuuunggg, aku sangat penasaran.” rengeknya.

Jiyong mengusap wajahnya dengan pelan dan menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri juga bingung. Kemarin ia sangat kesal pada gadis itu bahkan sangat berharap jangan sampai ia bekerja sama dengannya. Tapi setelah kejadian pagi ini, wajah manis Dara tak pernah lepas dari ingatannya. Entah karena baju tidurnya yang tipis atau rambutnya yang sedikit awut-awutan ketika bangun tidur, nyaris membuat Jiyong ingin memangsanya. Sialan, pikiran itu datang lagi.

“Apartemennya sama denganku. Dan kau membawaku ke kamarnya, bukan kamarku. Bodoh.”

“MWO, JEONGMAL??!” jerit Seungri. Jiyong mengangguk pelan.

“Masa sih?” tanyanya masih setengah tak percaya. “Lalu, kau tidak kembali ke kamarmu sendiri?”

“Saat kunci kamar apartemenku kau bawa, begitu?”

“Hehehe maaf, semalam aku lupa memberitahumu.” Seungri menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Lalu kau mandi dan ganti baju disana?”

“Ya.”

“Tapi kemarin kau bilang dia aneh hyung?”

“Aku tahu.”

“Kau juga bilang dia sinting kan?”

“Aisht, ya ya, aku tahu!”

“Hahahaaa, lihat sekarang siapa yang kena batunya.” Seungri melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum puas. Tak butuh waktu lama baginya untuk bisa mengetahui bahwa hyung-nya tanpa sadar sedang terjerat masalah percintaan.

“Diam.” Jiyong mendelik tajam, membuat Seungri pura-pura mengunci mulutnya dengan  tangan dan niatnya untuk bertanya terhenti. Mungkin lain kali, jika si naga sudah lebih tenang.

***

“APPWWAA?!?” jerit Bom, hampir menyemburkan seluruh jagung manis di mulutnya. Beberapa butiran jagung sukses mengenai wajah Dara yang sedang menikmati sarapan paginya. Bom tergesa-gesa minum air putih kepunyaan Dara. Tak sabar ingin mendengar penjelasan gadis berambut cokelat itu yang diikat ke belakang.

“Ceritakan padaku. CERITAKAN.SEMUANYA!” perintahnya.

“Ceritakan apa?” Dara membersihkan sisa-sisa jagung di wajahnya. “Tidak ada yang perlu kuceritakan Bom.” Dara menjawab sekenanya.

“Tidak ada katamu?! Lalu apa maksudnya dengan kau dan inspektur Busan itu datang bersama ke kantor?” dengus Bom, berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Dara.

“Kami,,, bertemu.”

“Bertemu dimana?”

DI ranjang, kata Dara dalam hati. Tak mungkin Dara menceritakan seluruh kejadian sebenarnya, bisa-bisa kepalanya kena hantam berton-ton jagung mentah dari Bom. Terkadang, gadis yang bernama Bom itu lebih menakutkan dari hyena, si penguasa rimba.

Dara tak memungkiri pesona pria itu –yang ia bilang mesum sebelumnya, namun sekarang berubah menjadi charming–  ketika ia menatap punggungnya yang saat itu tengah memakai kemeja putih –yang merupakan warna favoritnya- setelah ia mandi. Sedikit tergila-gila dengan tampilan pria itu dengan pakaiannya yang lengkap dan terbungkus rapi di tubuhnya, hal yang sama yang pernah dirasakannya saat bersama Joonki.

“Aku tak akan memberitahumu, weww..” Dara menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan gadis hutan itu dengan penasaran akut.

“Yah, Yah, Dara, kembali!”

Dara cepat-cepat pergi mengabaikan panggilan Bom yang nadanya seperti mengintimidasi. Jika Bom sampai tahu, maka tamatlah Dara karena gadis itu bisa membongkar rahasia -yang amat sangat rahasia sekalipun- dengan kemampuan supernya yang sampai saat ini Dara juga tidak tahu darimana Bom mendapatkannya.

Beep beep beep

Mau pulang bersama nanti sore?

Jiyong

Dara tersentak kaget menerima sms dari pria itu. Darimana Jiyong mendapatkan nomor ponselnya? Dan sejak kapan kata-kata dalam sms yang sebenarnya sederhana itu berubah menjadi manis di matanya? Bahkan jauh lebih baik daripada rayuan Joonki oppa. Matanya belum beralih dari ponselnya. Siapa tahu kata-katanya akan berubah begitu ia melengos. Tapi ternyata kata-kata itu masih bertengger di sana.

“Apa otaknya sedang terjepit pintu?” gumamnya pelan.

“Ya ampun, dia mengajakmu pulang bersama?!” Dara langsung menutupi layar ponselnya begitu tahu Bom mengintipnya dari belakang. Tak salah Dara menyebutnya sebagai gadis rimba, larinya cepat sekali.

“Kau mau tahu saja atau mau tahu sekali?”

“Isht, gadis licik ini.” dengus Bom, mencoba merebut ponsel Dara dan berhasil.

“Yah, kembalikan!”

“Tidak, sebelum kau cerita padaku ada rahasia apa antara kau dan inspektur Busan itu?” katanya dengan nada mengancam.

“Shireo!” tolak Dara.

“Wae, wae, wae?”

“Karena mulutmu seperti ember, kekeke…” Dara kembali merebut ponselnya dari tangan Bom dan mengambil tasnya. Entah perasaan apa yang menyelimutinya, yang pasti ia ingin secepatnya sore datang.

“Yah, Dara Park!”

***

Tentu, aku akan menunggumu.

Dara

“Mwo?” Jiyong melongo, tak mampu berkata-kata. Meski cuma terdiri dari 1 baris kalimat, namun sms balasan dari Dara membuat aliran darahnya terasa naik ke ubun-ubun kepala. “Panas, panas…” Jiyong mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas dan memerah.

Salahkan dirinya sendiri yang mengirim sms lebih dulu. Ia tak tahan untuk tak menyimpan nomor  ponsel Dara saat gadis itu sedang membelikan baju baru untuknya. Baru duduk di meja kerjanya, tangannya sudah sibuk mengutak-atik ponselnya, mencari serangkaian bahasa indah nan ciamik hanya untuk mengajaknya pulang bersama. Semata-mata demi rahasia mereka yang jangan sampai diketahui orang lain.

 “Siapa yang meng-sms-mu hyung?” Jiyong terlonjak dari kursinya begitu mendengar bisikan Seungri di telinganya. Sesenti lagi, maka pipi mulus Jiyong akan bertemu dengan bibir Seungri, untungnya Jiyong cepat-cepat menyingkir.

“Bukan urusanmu.” ujarnya.

Seungri menyipit tapi tak lama kemudian menyeringai. Sepertinya ia sudah tahu dari siapa hyung-nya mendapat pesan. “Arasseo arasseo. Eh apa kau tak mau tahu berita apa yang kubawa hari ini hyung?” tanyanya.

“Tidak tertarik.” tolaknya.

“Yakin? Ini tentang inspektur Park.” Seungri menaik-turunkan kedua alisnya, berharap Jiyong akan penasaran dan akhirnya membagi rahasianya. Dan itu sukses. Jiyong nampak tergoda dengan tawarannya namun enggan untuk mengakui.

“Apa?” tanyanya sok cool.

“Ceritakan padaku dulu ada rahasia apa antara kalian berdua?” tawar Seungri. Ia sangat ingin tahu apa yang terjadi pada Jiyong dan gadis itu.

Tawaran yang menyebalkan. Jiyong menggemeretakkan jemarinya dan  dengan secepat kilat menjepit kepala Seungri di bawah ketiaknya. “Cepat.Katakan.Padaku.”

 Seungri meronta-ronta minta dilepaskan. “O-oke oke, ta-tapi lepaskan dulu cekikanmu hyung, uhukk uhukk..” Seungri pura-pura batuk, sekedar untuk mendramatisasi. Jiyong akhirnya melepaskan kepala Seungri. Pria itu melemaskan otot-otot lehernya karena dekapan lengan Jiyong cukup kuat menjepit kepalanya. “Jadi,,, “ lanjutnya. “Tadi pagi aku mendengar kabar, kalau semalam Inspektur Park dan kekasihnya, inspektur Lee Joonki, sudah putus-tus-tuss.”

Jiyong nampak kaget tapi sesaat kemudian ia melengos dan selagi Seungri tak melihat, ia tersenyum kecil. “Benarkah?” tanyanya pura-pura tak peduli namun dibalik nadanya, terselip nada gembira.

“Hu-oh..” Sekali lagi Seungri menyipit. Berharap menemukan ekspresi Jiyong yang lain dan, bingo. Sekilas ia melihat Jiyong tersenyum kecil. Oh hyung, ekspresimu mudah sekali kubaca, Seungri berkata  pada dirinya sendiri.

Jiyong memutar kursi kerjanya dan berbalik memunggungi Seungri. Ia tak ingin pria itu melihat senyumnya yang kian menggembang.

***

“Mianhae, aku terlambat. Kau sudah lama menunggu?”

Dara mengatur nafasnya berulang kali saat melihat Jiyong sudah berdiri tegak di belakangnya, dengan setelan kemeja putihnya yang dikeluarkan. Apalagi dengan dua kancing atasnya yang terbuka, membuat pesona pria itu kian menelusup dalam di otak Dara.

“A-ah tak apa-apa.” ucap Dara. Sialan, kenapa ia jadi  tergagap?

 

“Hmm, ayo..” ajak Jiyong.

“Ah, iya..”

Dara berjalan mendahului Jiyong yang mengikutinya dari belakang. Jiyong mengamati tubuh Dara yang mungil dan berpikir bahwa tubuh gadis itu sangat sempurna dan pas di pelukannya. Rambut cokelatnya adalah favoritnya. Unik, karena ia juga memakai rok dan memadu padankannya dengan sepatu kets. Hampir saja Jiyong tak bisa mengendalikan diri dan meneteskan air liur menatap kaki Dara yang cukup terekspos.

 “Sial.” gumamnya pelan.

“Huh? Kau bilang sesuatu?” tanya Dara menoleh ke belakang, ia merasa mendengar Jiyong bicara padanya.

“Hah? Ah tidak, tidak.” elak Jiyong.

“Oh.” Dara kembali berjalan.

Jiyong bernapas lega. Bodoh sekali ia mengucapkan itu. Sekarang pikirannya benar-benar kacau. Hanya Dara yang melayang-layang di pikirannya. Sepertinya aku harus segera mensterilkan pikiranku, kata Jiyong dalam hati.

Di sebuah perempatan jalan ketika lampu merah menyala, Jiyong melihat tali sepatu Dara terlepas. Jiyong segera berlari mendahului Dara dan tanpa berkata apapun ia berlutut dengan satu kakinya di hadapan Dara, membuat gadis itu kaget dan menghentikan langkahnya.

“Tali sepatumu terlepas.” ujarnya.

Dengan hati-hati, Jiyong membantu mengikat tali sepatu Dara. Dari atas, Dara dapat menatap wajah pria itu yang tertunduk. Oh sial. Padahal Jiyong hanya berjongkok tapi gerakan sederhana tangannya yang sedang mengikat tali sepatu membuat detak jantung Dara menjadi berkali-kali lipat lebih cepat, bagai naik rollercoaster dengan kecepatan 104km/jam. Maybe, he is not bad at all.

***

Di pinggir jalan dekat Kepolisian Seoul

Seorang pria paruh baya mengenakan seragam kepolisian Seoul duduk di kursi belakang sambil melihat-lihat layar ponseln ya. Ia mendapat kiriman gambar -dari informannya- berupa sebuah foto seorang pria sedang mengikat tali sepatu seorang gadis di sebuah perempatan jalan. Pria paruh baya itu tersenyum puas.

Tok tok tok

Pintu kiri mobilnya diketuk seseorang. Pria paruh baya tadi menyuruh supirnya untuk menurunkan kaca mobilnya. Setelah tahu siapa yang mengetuk, ia tersenyum dan menyuruh pria paruh baya yang mengetuk pintunya –yang ternyata juga berseragam kepolisian sama seperti dirinya- untuk segera masuk ke dalam mobil.

“Kau makin terlihat tampan Hyunsuk-ah.”  kata pria berseragam kepolisian Seoul.

“Ah terimakasih pak. Anda juga makin terlihat gagah.” balas pria bernama Hyunsuk yang ternyata adalah salah satu kepala inspektur polisi di Busan.

“Tidak perlu kau memanggilku dengan sebutan pak, cukup seperti biasa, Sooman hyung saja. Kau tidak pernah berubah, hahaha..”

Mereka berdua tertawa. Pria berseragam kepolisian Seoul memperlihatkan sebuah foto di layar ponselnya kepada Hyunsuk. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya.

“Pak, maksudku hyung, apa kau yakin bahwa rencanamu untuk membuat mereka saling jatuh cinta itu berhasil?” tanya Hyunsuk.

“Aku yakin sekali, tenang saja.” jawab pria itu.

“Tapi aku takut putraku akan membuat anda kecewa.”

“Tak perlu kuatir,” sergah pria itu. “Putriku itu sangat keras kepala. Sudah lama aku menyuruhnya untuk putus dari pacarnya tapi sia-sia. Aku tidak menyukai pria bernama Lee Joonki itu. Ia selalu dikelilingi banyak wanita di setiap kasus yang ditanganinya. Untung saja aku bertemu denganmu saat ada kasus di Busan. Dan ternyata kau punya anak lelaki, aku sungguh senang sekali, hahaha..”

Hyunsuk tersenyum. Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat ia sedang menangani kasus pembunuhan seorang pengedar narkoba dan kasus itu mempertemukannya kembali dengan seniornya dulu, yaitu Inspektur Park Sooman, kakak kelasnya yang sangat dikagumi.  Ia dipindah tugaskan ke Busan tak lama setelah ia lulus dari sekolah kepolisian dan meniti karier disana. Sedangkan Sooman, dengan cepat kariernya melesat di kepolisian Seoul. Dan setelah berpuluh-puluh tahun tak bertemu, mereka kembali dipertemukan melalui suatu kasus.

“Aku percaya Jiyong akan membuat Dara bahagia.” ucap Sooman lagi.

Hyunsuk mau tak mau tersentuh dengan perkataan seniornya. Sooman hyung sangat percaya diri dengan keputusannya, membuat Dara dan Jiyong saling jatuh cinta, lalu menikahkan mereka. Hyunsuk kembali mengingat kejadian saat Sooman hyung dan nyonya Park datang menemuinya secara pribadi dan terang-terangan ingin berbesan dengannya. Ketika itu  ia langsung syok, tak mengira pria itu berniat meminang putranya. Hyunsuk tak dapat menolak karena ia juga ingin Jiyong secepatnya menikah.

Untuk melancarkan misinya, inspektur Sooman membuat suatu rencana. Dengan sembunyi-sembunyi, ia dan Hyunsuk meminta pada salah satu rekanannya di kepolisian Busan untuk memindahkan Jiyong ke kepolisian Seoul, tanpa diketahui Jiyong.

Lalu di suatu malam, Inspektur Sooman menjalankan strategi briliannya. Ia menyuruh seseorang membawa pulang Dara dalam keadaan mabuk dan meninggalkannya di kamar yang sengaja tidak dikunci. Agar seseorang bisa menjalankan aksi lainnya, yaitu menidurkan Jiyong yang juga sengaja dibuat mabuk berat untuk tidur bersebelahan dengan Dara. Jadi, sebenarnya inspektur Park lah yang sengaja mengatur skenario membuat Dara dan Jiyong tidur bersama.

“Ngomong-ngomong hyung, siapa yang kau suruh untuk melakukan proyek-mu itu?” tanya Hyunsuk penasaran.

Sooman tertawa, tak segera menjawab pertanyaan juniornya. “Para informan sekaligus dedengkot-ku. Mungkin sekarang mereka sedang berlibur ke suatu tempat.” ujarnya sambil mengedikkan bahu dan tersenyum.

***

Pantai Kuta, Pulau Bali-Indonesia

“Bisa tidak kau tak menatap kakiku terus-terusan?”

Dari balik kacamatanya, Bom yang sedang bersandar di kursi memergoki Seunghyun yang sejak tadi memperhatikan kakinya yang tidak terbungkus apapun. Ia  memakai hotpants yang sangat pendek. Bom merasa pakaian yang dikenakannya wajar karena mereka bertiga sedang berlibur di pantai Kuta, salah satu pantai terindah di pulau Bali.

“Salah sendiri, kenapa kau memakai itu?!” tunjuk Seunghyun.

Bom membuka kacamata hitamnya dan duduk. “Pertama, kita dipantai. Kedua, karena aku ingin kulitku sedikit kecokelatan seperti kulit orang Asia Tenggara yang terkenal dengan ke-eksotikannya. Dan ketiga, salahkan otakmu yang mesum itu!” seru Bom kesal.

Seunghyun mendesah berat mendapat amukan Bom. Ia mendelik tajam pada Seungri yang nampak tenang-tenang saja bersandar di kursi pantai. Seunghyun berkacak pinggang.

“Yah!” teriaknya pada Seungri.

“Aisht, apa sih hyung?” sahutnya. Seungri kesal karena sudah diganggu, namun tak lama setelah itu ia nyengir dan langsung merubah nada bicaranya yang tadi tinggi menjadi pelan dan sok manis. “Ada apa hyung-ku sayang?”

“Sayangku kepalamu!” bentaknya. “Ayo temani aku beli minuman.” ajaknya.

“Shireo.” Seungri menolak.

“Apa, kau tidak mau? Ayo cepat temani!”

“Shireoooo!”

“Aisht Lee Seungri, kau berani menolak perintah hyung-mu!”

“Hyung, meskipun kau adalah kakak sepupuku, tapi bukan berarti aku harus mengikuti kemanapun kau pergi kan? Pokoknya aku tidak mau.” Seungri tetap tak bergeming dari kursi pantainya. Ia lebih memilih berjemur daripada menemani pria itu membeli minuman, ujung-ujungnya pasti ia akan disuruh membayar minumannya.

“Aisht, anak ini!” Seunghyun menarik-narik tangan Seungri agar segera bangun namun Seungri tetap bertahan di kursinya, membuat Bom yang tengah berjemur terusik dengan kekonyolan dua orang di sebelahnya.

“Yak kalian berdua! Bisakah kalian pergi saja dan tak mengganggu orang lain yang sedang berjemur?!” pekiknya. “Sulit sekali mendapat liburan seperti ini, tahu! Pergi sana! Jika dalam hitungan ketiga, aku masih melihat kalian, aku akan membawa kalian ke pulau tak berpenghuni lalu kugantung kalian berdua di pohon kelapa, mengerti?! ” Bom berkacak pinggang dan melotot tajam pada kedua makhluk hidup di depannya.

Seunghyun dan Seungri ngeri melihat Bom marah. Benar yang dikatakan Dara, bahwa Bom itu perpaduan antara gadis rimba dan hyena.

“CEPAT!!!” jeritnya.

“Hyung, lebih baik kita cepat menyingkir.” bisik Seungri pada Seunghyun, sudah mengambil ancang-ancang untuk lari.

“Itu ide yang bagus.” Seunghyun mengiyakan ajakan Seungri. “Dalam hitungan ketiga, 1,2,3, lariiiiiiiii!!”

***

Flashback di malam kejadian

 

“Akhirnya urusanku selesai juga.” Seungri mengambil kunci mobil dari saku celananya, lalu beranjak pergi sambil tersenyum.

Baru beberapa meter ia melangkah, seorang gadis cantik berpenampilan sexy berjalan menghampirinya. “Kau yakin ia sudah tertidur?” kata gadis itu.

“Ya, aku yakin sekali. “ Seungri merapihkan leher kemejanya, ia merasa bangga dengan apa yang sudah dilakukannya.  “Cepat lakukan tugasmu.” Ia mendorong gadis itu dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam kamar Dara.

“Yak! Jangan dorong-dorong!”

“Hehe, mian.”

“Jangan khawatir, aku pasti akan menyelesaikan misi ini dengan sempurna.” ucapnya yakin.

“Arasseo, aku dan Seunghyun hyung akan menunggumu di mobil. Bom noona, fighting!” Seungri mengepalkan kedua tangannya ke udara lalu berbalik meninggalkan Bom.

Setelah memastikan Seungri pergi, Bom segera masuk ke dalam kamar Dara dan mulai menjalankan aksinya. Dengan cepat ia mengganti pakaian Dara dengan baju tidur tipis tanpa lengan. Bom cekikikan sendiri melihat mereka tidur bersama. Saat yakin semua rencana sudah sesuai dengan perintah bos-nya, Bom keluar dari apartemen dan mendapati Seunghyun dan Seungri tengah menunggunya di dalam mobil. Mereka bertiga berhigh-five, lalu Bom segera menelepon seseorang.

“Yeoboseyo samchoon… Operation is complete.”

The End

<<< Back

Advertisements

22 thoughts on “Operation Love #2 -End-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s