BE MINE [Chap. 23]

25335697-176-k89752

Story by : mbie07

Link : Meet her on Wattpat & Aff

Indo Trans : DANG

Karakter:

Kwon Jiyong, Sandara Park, Lee Chaerin, Lee Sung Ri, Choi Seung Hyun, Park Bom

—ooo—

Here you go, chapter 23!

 

“Aku ingat aku bertemu dengannya ketika aku di kelas satu SMA, itu seperti hari-hari biasa sebelumnya. Aku bolos sekolah karena aku merasa bosan dan aku tidak benar-benar mood hari itu,” Jiyong memulai ceritanya ia duduk di antara kakinya dan bersandar di tubuhnya. Dia kemudian meraih tangan Dara dan menggenggamnya, lalu ia menghela napas lagi. Lalu Dara mencium tangan Jiyong seolah meyakinkan Jiyong bahwa dia akan baik-baik saja. “Jika ingatan ku benar saat itu ia hanya seorang jaksa baru saat yang kebetulan ditugaskan untuk gangster dan siswa yang tawuran dan terlibat perkelahian,”  ia menghela napas sambil memeluk dan mennyandarkan dagunya di atas bahu Data.

“Hari itu adalah perkelahian gangster dan murid-murid, dan aku menjadi salah satunya dan kakakmu ada di sana untuk menghentikan kita dari membunuh satu sama lain dan jika dia tidak ada di sana aku pikir aku mungkin akhirnya membunuh seseorang. Setelah pertarungan itu kami dibawa ke kantor polisi untuk bimbingan dan pengawasan dan bahkan dihukum penjara, lalu orang tua kami tiba satu per satu untuk menjemput kami tapi tidak ada yang datang untukku dan aku keras kepala menolak untuk memberitahu mereka siapa aku dan mungkin itu yang membuat kakakmu memperhatikanku,”

“Dia duduk di depanku lalu ia memberi ku makanan dengan tersenyum. “Kau Kwon kan?” bisiknya saat aku memelototinya. “Jangan khawatir aku akan menyimpannya sebagai rahasia,” katanya tertawa karena aku terus diam dan masih menatapnya. Lalu ia mulai bercerita, ia mulai nyaman seperti kita tahu satu sama lain untuk waktu yang lama,” kata Jiyong setengah tertawa sebagai Dara tersenyum. “Seperti aku?” Tanya Dara sambil meliriknya. Dia mengangguk dan mencium keningnya. “Sepertmu,” bisiknya sambil tersenyum.

“Setelah sampai di rumah aku aku tidak akan pernah berhubungan dengannya lagi kecuali jika aku bertarung lagi dan tertangkap lagi. Tapi kemudian ia cukup keras kepala dan terus bertindak seperti kita adalah teman, dia tibatiba menerobos apartemen lamaku membawa kaleng bir dan pasti akan memintaku untuk minum jika aku bukan anak sekolah , lalu ia bercerita panjang dan hanya terus berbicara dan bicara … “ Jiyong tersenyum pahit. “Bererita?” Dara terkikik mengetahui satu hal bahwa ia dan kakaknya memiliki kesamaan, mereka sangat suka bercerita kepada orang.

Jiyong menariknya lebih dekat sambil mengencangkan pelukannya. “Kalau diingat-ingat dia selalu bercerita tentang adiknya yang manis yang ia sangat cintai,” katanya berbisik, Dara menegang sesaat lalu ia tersenyum. “Sangat? Siapa akan berpikir bahwa kau tahu aku bahkan sebelum kita bertemu,” Dara terkekeh. “Ya, siapa yang menyangka?” Kata Jiyong tertawa, lalu tawanya pudar.

“Lalu aku lelah dengannya. Aku membenci perhatiannya, aku membenci bagaimana ia berusaha mendapatkan perhatianku. Lalu suatu malam ketika kita minum ia bercerita tentang tunangannya seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta lalu aku menyuruhnya untuk menjauh dariku, setiap hari aku memperingatkannya, tapi dia sangat keras kepala dan tidak pernah menyerah. Dia keras kepala dan itu sama denganmu juga,”

“Suatu hari ia memperkenalkan tunangannya kepadaku dan aku dikenalkannya sebagai adik yang tidak punya hubungan darah dengannya….” Jiyong terhenti menelan ludah sedikit susah untuk menceritakan hal selanjutnya. Dara merasakan ketegangan Jiyong dan melakuan hal yang sama, menggenggam tangan dan menciumnya. Jiyong membenamkan wajahnya di lekukan lehernya saat ia mencoba untuk menenangkan dirinya. “Tapi selalu terhubung dalam hati,” Jiyong melanjutkan ceritanya lalu ia menarik diri dari pelukan.

“Lalu kita menghabiskan waktu sepanjang hari atau harus aku katakan dia memaksaku untuk menghabiskan waktu dengan mereka dan jujur merasa seperti chaperon mereka di sini, tapi di hari itu juga aku melihat bagaimana tunangannya terus menatapku seperti dia tertarik padaku. Pada awalnya aku menepisnya mengetahui perbedaan usia kami dan aku berpikir hanya perasaanku saja tapi ketika kakakmu berdiri dari meja untuk memesan makanan saat itulah aku melihat tunangannya itu memerah malu dan gelisah dan saat itulah sebuah ide bodoh datang ke pikiranku ketika aku melirik saudaramu … ide yang akan membuat dia menjauh dari ku muncul dan aku sudah lelah dengannya karena sudah berlagak dekat denganku.”

“Dan tanpa sengaja. Kakakmu mempercayainya untuk datang ke apartemenku. Semuanya terjadi cepat dan rasanya begitu sureal.  Aku meraih peluang itu, dan terakhir kali aku ingat aku sedang tidur dengannya dan kakamu memasuki ruangan, kemudian kekacauan besar terjadi aku menerima pukulan darinya yang menyebabkan aku jatuh kelantai, dan memang aku layak mendapatkanya, “

Rahangnya terkatup dan ia mulai menjambaki rambutnya frustasi, itu terasa seperti jantungnya di pukul dengan palu. Dara berbalik menatap Jiyong, tapi Jiyong mengalihkan wajahnya. Lalu Dara membuatnya menatap matanya, dengan itu ia melihat Jiyong menangis. Dara dengan lembut menyeka air matanya, ia tersenyum. “Melihat mu sekarang adalah lebih dari cukup untuk mengetahui seberapa banyak kau menyesali apa yang terjadi,” bisiknya masih dengan terus menatap mata Jiyong.

“Ji … tolong percayalah bahwa tidak ada di dunia ini, dan bahkan masa lalumu, tidak ada yang pernah bisa mengubah fakta bahwa aku mencintaim, sangat… ” bisiknya. “Bahwa aku punya pria sempurna,” Dara terkikik dan Jiyong memeluknya erat masih menangis dan Di sana Dara memeluknya kembali menenangkannya bahwa itu baik-baik saja. “Jangan tinggalkan aku,” pintanya. “Kenapa aku harus meninggalkan mu? Kau milikku ingat?” tanyanya. “Semua milikmu,” jawabnya.

“Setelah kejadian itu, aku mendapatkan apa yang aku inginkan saat ia berhenti ikut campur dengan urusanku, berhenti mengunjungiku dan memperlakukanku seolah-olah ia tidak pernah mengenalku. Aku pindah dari apartemen lamaku dan loss kontak dengannya, sampai suatu hari aku mempelajari tentang kematian Ji Eun,” kata Jiyong sambil menarik Dara ke pelukan lagi. ‘Ji Eun unnie meninggal karena kecelakaan … itulah yang aku tahu,” Dara jujur berkata sambil menggenggam jari jemari Jiyong. “Itu juga yang aku dengar, sampai saat kakakmu menyalahkanku atas semua itu… aku melakukan penelusuran tentang hal itu dan menemukan bahwa ia tidak mati dalam kecelakaan tapi ia memotong nadi di pergelangan tangannya dan bunuh diri. Dia tidak meninggalkan catatan atau apa pun dan sampai saat ini tidak ada yang tau kenapa dia bunuh diri, ‘ Jiyong mengatakannya dengan rahangnya terkatup.

‘Ji itu bukan kesalahamu,” bisik Dara sambil mencium tangannya sekali lagi. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri … ” kata Dara hampir memohon. Bibir Jiyong melengkung ke dalam senyuman lalu ia memberi kecupan cepat di lehernya membuat Dara heran. “aku mencintaimu, nyonyaku,” bisiknya saat bibir Dara melengkung membentuk senyuman. “Aku mencintaimu lebih dan lebih … “dia terhenti saat ia berbalik dan menghadapi dia sekali lagi. Dara kemudian membungkus kedua lengannya di lehernya saat ia menariknya ke dalam ciuman manis. “Dan lebih, ” bisiknya di antara ciuman mereka.

Dara menatap pantulan dirinya di cermin saat ia duduk di bangku tinggi dengan Jiyong menatapnya memegang gunting perak di tangannya. “Kau yakin tentang ini? ” tanyanya untuk kesekian kalinya saat ia tertawa padanya, Jiyong lebih gugup daripada Dara. “Kau sangat mencintai rambutmu kan?” Tanyanya. Dia mengangguk padanya. “Tentu saja.” Dara tersenyum. “Lalu untuk apa kau memotongnya?” Tanyanya. “Untuk perubahan? ” Ia mengangkat bahu cekikikan dengan JIyong memutar matanya. “Kita bisa melakukan ini besok aku akan membawamu ke salon terbaik di sini,” Jiyong berkata.

Dara menggeleng. “Aku ingin kau melakukannya untukku …” ia tersenyum pada Jiyong. “Please,” Dara menambahkan membuat Jiyong mendesah. “Tapi Dara rambutmu… itu indah … itu sangat disayangkan,” Jiyong berkata sambil membelai rambutnya. Dara cemberut. “Aku mulai berpikir kau berselingkuh dengan rambut ku,” ia cemberut membuat Jiyong tertawa. Dara memegang tangannya dan meremasnya ringan. “Please,” akhirnya Jiyong mengangguk, terpaksa. “Apakah kau benar-benar yakin?” Tanyanya untuk terakhir kalinya. “Yes, please,” jawabnya cekikikan. Jiyong kemudian menyisisr rambut Dara. Dia kemudian memotongnya perlahan. Setiap potong merupakan hal yang Dara ingin melepaskan dan setiap helai yang jatuh mewakili dirinya yang baru yang siap menghadapi apa pun dengan Jiyong.

Jiyong tersenyum sambil menatap sosok tidur Dara. Pemandangan ini yang selalu membuat jantungnya berdebar setiap kali bangun tidur dan menatap sosok yang dicintainya. Dia kemudian dengan lembut mencium kening Dara lalu akan keluar untuk menyiapkan sarapan. Dia tidak bisa untuk tidak tersenyum karena ia ingat apa yang terjadi semalam. Dia menutupi mukanya dengan telapak tangannya dan menggeleng tak percaya pada berapa banyak ia berubah dalam kurun waktu singkat. Dia kemudian meraih boxer dan celana trainingnya dan lalu berjalan keluar dengan hati-hati agar tak membangunkannya.

Dia kemudian menuruni tangga saat ia mendengar bel pintu berbunyi. Dia mengangkat alisnya lalu ia melirik jam dinding. Itu persis jam tujuh pagi dan dia kedatangan tamu? Dia mengangkat bahu berpikir mungkin tagihan telah tiba. Dia malas membuka pintu masih menggaruk-garuk kepalanya tanpa memakai kemeja sambil berjalan  ke pintu gerbang. Ia membuka pintu gerbang dan ia bertemu pengunjung yang paling tak terduga.

“Aku harus mengatakan bahwa kau punya selera yang bagus,” katanya sambil meneguk kopi yang Jiyong siapakan sebagai matanya menjelajahi seluruh rumah. “Apa yang kau lakukan di sini Ill woo? “Jiyong bertanya sambil bersandar di dinding dan menatap sekretaris ibunya sekaligus pacar rahasianya, Jung Ill Woo. “Ayolah Jiyong tidak kah kau bahkan senang melihatku?” ia tertawa sambil meletakkan cangkirnya di atas meja kayu di depannya saat ia membungkuk dan membuat dirinya nyaman di sofa. “Apakah aku terlihat senang untuk melihatmu?” kata Jiyong penuh sarkasme. “Mengakulah, kenapa ibu mengirimmu kesini? ” Tambahnya
membuat Ill Woo tersenyum.

“Jiyong, aku berasumsi bahwa kau menyadari ancaman jaksa Park untuk kami,” Ill Woo mengatakan menjatuhkan semua basa basi dan candaan. “Jangan bilang Jaksa Park mengancam perusahaan,” Jiyong berkata dengan suara kurang menarik. ‘Jiyong dengarkan baik-baik… ada banyak gadis lain di luar sana … Aku mendengar dia tidak begitu cantik dan ditambah siapa yang tahu mungkin semua yang dia inginkan adalah uangmu,” ia mengambil cangkir itu lagi dan menyeruput kopinya. Dia hampir melompat dari tempatnya ketika ia mendengar suara keras bahwa Jiyong meninju dinding. Ill Woo mengangkat pandanganny, ia melihat mata Jiyong yang tajam dengan kemarahan. “Katakan satu hal lagi tentang Dara dan aku akan menggorok tenggorokanmu. Dia kau Ill woo,” Jiyong menggertak membuat Ill Woo menegang di tempatnya.

“Jika semua yang kau punya hanya omong kosong , aku akan berterima kasih jika kau segera meninggalkan tempat ini. Sebelum aku kehilangan kesabaran, bangs*t!” Jiyong menggertak sekali lagi membuat Ill Woo merinding. Dari awal ia menyadari bahwa Jiyong tidak pernah suka dengannya tapi ia tidak pernah mengatakan apa-apa walaupun dia tahu hubungannya antara dia dan ibunya, tapi tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Dia tetap diam dan tidak pernah mengatakan satu halpun, ia menghormati keputusan mereka. Tapi hari ini ia tidak percaya ia menyaksikan kemarahannya dan bahkan mendengar dia mengumpat.

“Jiyong … dengarkan dulu,” katanya dengan suara tenang saat ia menempatkan cangkir kembali pada meja. “Perusahaan tidak memerlukan skandal dan kau juga tidak perlu apalagi kau akan diperkenalkan sebagai satu-satunya pewaris untuk perusahaan, jadi tolong berhentilah dari semua kebodohan ini,” tambahnya membuat Jiyong mengertakkan gigi lagi. “Kau tahu jika ini semua tentang perusahaan, aku tidak peduli bahkan ambillah, kau bisa memilikinya.” Jiyong menggertakkan gigi sambil mengepalkan tinjunya erat menahan kemarahannya karena ia tidak ingin membangunkan Dara dengan jenis keributan atau merusak seluruh hari nya. “Bilang pada mereka jangan mengakui ku sebagai anak, atau mereka bisa merilis pernyataan pers bahwa anak mereka akhirnya meninggal dunia dan terbakar di neraka,” tambahnya sambil meraup rambutnya frustrasi. “Jangan mengatakan itu,” kata Ill woo dengan tenang. ‘”Jika begitu silakan memilih  salah satu saran ku dan pergi, “kata Jiyong sambil membuka pintu hanya tapi malah dia melihat pengunjung lain. Jiyong  mengeluarkan serangkaian kutukan.

“Kau mau?” Ill woo menawarkan wanita yang duduk di sampingnya menggeleng dan hanya berterima kasih padanya. Jiyong menutup rapat matanya saat melihat di depannya. Ill woo saja sudah membuat matanya dan sekarang sekretaris ayahnya Kim Tae Hee dan sekaligus selingkuhan ayahnya sekarang duduk di depannya di sebelah Ill Woo. Dia memutar matanya dan-benar tidak bisa percaya dengan orang tuanya dan sekretaris mereka apa yang mereka lakukan disini. “Tae Hee,” ia berseru lagi sambil berlari telapak tangannya ke wajahnya. “Silahkan katakan apa yang ayahku ingin sampaikan” tambahnya, lalu wanita itu menatapnya dengan senyum di bibirnya.

“Aku senang melihat mu bahagia Jiyong,” katanya sambil mendesah membuat Jiyong melihat wanita itu. Jiyong selalu melihat dia berusaha untuk lebih dekat dengan dia atau Setidaknya membuat dia merasa bahwa dia peduli untuk Jiyong meskipun Jiyong membalasnya dnegan bahu dingin. ‘Terima kasih,’ gumamnya sambil bersandar pada dinding. Tae Hee tersenyum manis padanya. “Kau berubah … ‘ dia terhenti. ‘Banyak …’ tambahnya, semua mata terjudu pada gadis yang sedang turun tangga yang masih mengusap matanya dengan rambut berantakan dan juga masih menggunakan kaos besar darinya. ‘Ji,’ serunya, lalu Jiyong berjalan ke arahnya.

Dara kemudian berjinjit dan memberinya kecupan cepat di bibirnya masih tidak menyadari Kehadiran pengunjung mereka. “Pagi, babe” bisik Dara kepadanya sebagai Jiyong tersenyum dan menariknya ke dalam pelukan dan mencium rambutnya. “Selamat pagi juga,” katanya. Pengunjung mereka menyaksikannya dengan mata terbelalak dan mulut hampir menganga, Jiyong menjadi manis, memeluk dan tersenyum di depan mereka. Ill  Woo tersenyum tipir begitu juga Tae Hee, keduanya menyaksikan anak mereka yang mereka  pikir adalah orang tedingin di bumi sekarang tersenyum manis.

Melihat kehadiran mereka Dara tersentak saat ia cepat membungkuk kepada mereka. “Selamat Pagi.” Mereka juga membungkuk balik. “Selamat pagi,” Ill Woo tersenyum. “Dan aku akan memanggapmu Ms. Park Sandara,” tambahnya sambil menjabat tangannya. “Senang bertemu denganmu,” Ill Woo mengatakan lalu Dara mengangguk kepadanya. “Senang bertemu anda untuk Mr—“  “Ill Woo, Jung Ill Woo,” Ill Woo menyambung dengan senyum. “Aku Tae Hee, Kim Tae Hee,” Tae Hee kemudian mengulurkan tangannya untuk Dara dengan tersenyum menjabat tangannya. “Senang bertemu anda, aku Park Sandara,” dia malu-malu mengatakan lalu ia cepat pergi ke samping dan hampir bersembunyi di belakang Jiyong membuat mereka berdua tertawa di kelucuan. Dara kemudian menatap Jiyong lalu mengacak-acak rambutnya dan memberi kecupan cepat di bibirnya. “Tae Hee adalah pacar ayahku sekaligus sekretarisnya, sementara Ill Woo adalah pacar ibu sekaligus sekretarisnya juga,” katanya lalu bibir Dara membentuk o dan menatap keduanya tersenyum. “Ayah dan ibu mu memang mempunyai selera yang bagus,” Dara terkekeh membuat Jiyong tertawa bersamanya. “Aku tahu itu dan aku benar-benar mewarisinya,” kata Jiyong dan membuat Dara memerah lalu Jiyong tertawa dan mulai memeluknya lagi, dia melupakan keberadaan Ill Woo dan Tae Hee.

“Mengapa mereka di sini?” Tanyanya sambil duduk di sofa dan Jiyong jatuh diam. “Aku akan jujur Ms. Park, kami di sini untuk meminta kalian putus,” kata Ill Woo to the point membuat Dara menatapnya terkejut dan hampir tidak bernapas. “Babe, bagaimana jika kau mandi dan berganti pakaian dan biarkan kami menyelesaikan beberapa hal di sini, “kata Jiyong sambil dengan meraih tangan Dara lembut dan berjongkok di depannya.

Dara menatapnya khawatir. Dara menggeleng saat merasakan sudut matanya mulai menyengat. Terjadi lagi, kenyataannya benar-benar mengguncang mereka. Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit orang-orang yang mereka tinggalkan mulai menunjukkan diri mereka untuk membuat mereka berpisah. Dara memegang tangan Jiyong tanpa memperhatikan bagaimana ketat cengkeramannya. Dia menggigit bibirnya berusaha menahan air matanya tapi gagal.

Jiyong mengusap air matanya sambil menatap matanya ia bisa melihat rasa takut dan rasa sakit. Dia kemudian dengan lembut menarik wajahnya kepadanya dengan lembut lalu mulai menciunya, bahkan tidak peduli dengan  pengunjung mereka. Jiyong lalu menjauhkan wajahnya dari Dara, bibirnya melengkung tersenyum. “Babe aku akan bicara denganmu nanti, oke … ” bisiknya. ‘Percayalah,’ dia berbisik menatap langsung ke mata Dara  saat ia tersenyum lemah dan mengangguk. “Itu baru gadisku,” bisiknya mengacak-acak rambutnya lalu Dara berdiri dan membungkuk ke keduanya lalu ia naik tangga.

“Aku akan sangat menghargai jika kalian tidak memberinya stress,” Jiyong dengan tajam berkata sambil berdiri dan menghadapi mereka berdua. “Beritahu orang tuaku bahwa mereka dapat membuangku kalau mereka ingin tapi aku tidak akan pernah membiarkan Dara dan aku dipisahkan. Kata kataku sudah jelas dan aku percaya kalian berdua benar-benar pintar jadi silakan meninggalkan rumah kami sebelum aku menendang keluar kalian, “tambahnya sambil menjambak rambutnya sendiri. “Jiyong …” Tae hee memanggil membuat Jiyong mengangkat kepalanya. “Kata ayahmu jika kau keras kepala maka ia tidak punya pilihan selain memotong uang sakumu” membuat Jiyong menghela tawa kecil. “Katakan padanya terserah padanya,” jawabnya. “Ibumu mengatakan itu juga,” Ill woo menyela. “Aku tidak butuh uang mereka,” kata Jiyong angkuh.

“Tapi Dara membutuhkannya,” kata Tae Hee membuat mata mereka bertemu. Jiyong mengencangkan rahangnya, “Tidak dia tidak membutuhkannya—“  “Dia membutuhkannya untuk obatnya Jiyong …” Tae Hee memotongnya membuat Jiyong mengeluarkan serangkaian kutukan. “Bagaimana kau tahu?” Tanyanya saat ia menarik napas dalam menutupi mulutnya dengan tangannya berusaha untuk menjaga kesabaran. “Dia salah satu pasien kami,” jawab Ill Woo saat ia selesai meminum kopinya. “Dia lebih baik sekarang, dan aku punya uang yang cukup untuk obatnya, “kata Jiyong sambil memelototi kedua.

“Jiyong kau benar-benar berpikir ini sehat untuknya?” Ill Woo bertanya membuat Jiyong menatapnya tajam. “Ini benar-benar membuat stres Jiyong, kalian berdua dalam situasi stres,” dia menambahkan. “Kami senang,”Jiyong bersikeras dan ia mulai kehilangan kesabarannya. “Apakah kau yakin? Jiyong dia begitu baik, dia tidak bersalah dan aku tahu dia merindukan keluarganya dan tidak pernah ada satu hari bahwa dia berhenti berpikir tentang mereka, ” kata Tae hee membuat Jiyong membeku di tempatnya. Benar, meskipun Dara tidak pernah mengakui hal itu, ia dapat merasakan bahwa dia merasa rindu, bahwa dia khawatir tentang kakaknya dan semua orang. Ada saat-saat bahwa dia hanya akan menatap kosong dan bahkan kadang-kadang mengabaikan kehadirannya. Tapi kemudian ia takut untuk bertanya, takut bahwa ia mungkin mengatakan Dara merindukan mereka begitu banyak, takut bahwa ia mungkin menyadari bahwa ia merindukan mereka begitu banyak, bahwa dia merindukan mereka sehingga cukup baginya untuk meninggalkannya. Dia menjadi pengecut. benar benar menyedihkan. Tapi dia tidak tahan membayangkan Dara meninggalkan dia.

“Dia di bawah begitu banyak tekanan Jiyong … dan itu sesuatu yang tidak baik … tubuhnya mung—“ dia tidak mampu menyelesaikan apa yang ia katakan saat Jiyong tiba-tiba berbicara, rahangnya benar benar erat terkatup. “Jangan katakan itu!” Katanya marah. ‘Jiyong …’ Tae Hee berbisik cemas karena akhirnya ia melihat bahwa Dara bukan satu-satunya yang tertekan, tapi Jiyong mungkin dua kali tertekan. “Hanya dengarkan orang tuamu sekali saja,” kata Ill Woo dengan suara lembut melihat bahwa Jiyong hendak hancur depan mereka.

Jiyong menggigit bibirnya keras lalu ia mendaratkan pukulan kuat pada dinding dan hampir mengguncang seluruh tempat. Tae Hee hendak mengatakan sesuatu, tapi terhenti karena telponnya berdering. Dia cepat menekan tombol jawab sambil. Dia mendengarkan si pemanggil dan setelah satu menit dia menekan tombol end dan berdiri. Tae Hee kemudian menempatkan tangannya di bahu Jiyong. “Ayahmu ingin berbicara denganmu,” bisiknya lembut membuat Jiyong berbalik dan menatapnya tajam. “Apa yang dia tahu tentang ini?” Dia menggertak. “Semuanya,” Tae Hee tersenyum padanya saat ia melambaikan telepon di depannya. “Dia menunggu di luar, ” tambahnya membuat Jiyong mengutuk.

Dia menghela napas lalu ia menutup rapat matanya menenangkan diri. Tanpa sepatah kata ia kemudian pergi ke luar sambil melihat ayahnya bersandar pada Porsche hitam, mengenakan tuksedo dan mata tertuju di laut. Jiyong menghela napas lagi lalu ia pergi ke luar pintu gerbang dan bersandar di mobil di sebelah ayahnya dan memandang hal yang sama, laut. Tanpa melihat ke arah Jiyong, ayahnya mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya kepadanya. Ia mengambilnya dan membukanya lalu ia mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Ayahnya tidak pernah berubah, pakaian formal, dan wajahnya yang awet muda dan kebiasaannya memberinya lollipop rasa stroberi.

“Jika kau berada di sini untuk menceramahiku, kau hanya membuang buang waktumu,” kata Jiyong. “Kau punya tangan kanan sekarang? ” Jiyong tertawa kecil. “Aku selalu memiliki tangan kanan,” katanya menjawab kepadanya. “Tapi kau tidak pernah menyetujui atau menentang kami,” kata ayahnya sambil menatap laut. “Apakah itu penting apakah aku setuju atau tidak setuju kalian berdua hanya melakukan apa yang kalian inginkan,” kata Jiyong. “Aku harus mengatakan ini adalah tempat yang indah,” tambahnya membuat Jiyong meliriknya untuk sementara waktu. ‘Terima kasih,’ dia menjawab lalu kembali mengemut lollipopnya.

“Aku di sini untuk memberitahu kalian bahwa kalian berdua harus pulang, bukan karena aku ingin kalian berdua
dipisahkan … itu karena aku ingin kalian belajar bagaimana menghadapi masalah. Dan lebih baik jika kau membuktikannya kepada kakaknya jika kau adalah orang yang lebih baik, bahwa kau mencintainya … melarikan diri sesempurna mungkin tidak akan merubah apapun, dan cepat atau lambat kau akan tau rasanya … buktikan bahwa kau tidak salah, Jiyong, membuktikan kepadanya bahwa kau akan berjuang untuk dirinya, hadapi pertempuran ini … hadapulah … karena itu adalah bagaimana seorang kwon bertempur, nak,” katanya sambil menghela dan mendesah menatap langit biru.

Ayahnya memejamkan mata sejenak sambil merasakan angin. Jiyong tetap diam sambil terus menatapnya. Bibirnya melengkung ke dalam senyuman tipis sambil menatap laut dengan tangannya di saku dengan rambut menari terkena angin. “Ayah Terima kasih,” bisiknya dan mungkin itu adalah pertama kalinya ia memanggilnya ayah dan pertama kalinya di seluruh hidupnya ia merasa bahwa ia memiliki orang tua, bahwa ia tidak hanya pewaris mereka melainkan seorang anak. Bahkan untuk yang sesaat.

“Nak,” ayahnya memanggilnya. ‘Apakah boleh jika aku masuk dan melihatnya?” Tanyanya lalu menghadap Jiyong. “Aku ingin melihat gadis yang membebaskanmu …” katanya dengan senyum membuat Jiyong menyeringai dan mengangguk. Dia kemudian berjalan ke rumah dengan ayahnya mengikuti di belakangnya. Sebelum ia memasuki rumah dia bisa mendengar suara-suara riuh dan tawa. Dia kemudian membuka pintu hanya untuk melihat Dara menempatkan nampan kue dan jus di meja kayu lalu Ill Woo berbicara padanya dan  sementara Tae Hee tampak seperti dia menikmati percakapan itu.

Setelah melihat Jiyong, Dara cepat berlari dan memeluknya dengan tersenyum. “Mereka lucu,” kata Dara tersenyum. Jiyong kemudian memberinya ciuman cepat. “Benarkah? Aku tidak pernah benar-benar berpikir  mereka lucu mereka hanya terlihat seperti bussinesmen untukku,” katanya jujur membuat kedua orang itu tertawa sedikit. mata Dara bergeser pada pria jangkung yang berdiri di belakang Jiyong dan tersenyum padanya. Dia kemudian menarik diri dari Jiyong dan membungkuk pada orang itu. Ayah Jiyong membalasnya dengan menariknya ke dalam pelukan cepat. “Terima kasih banyak,” ujarnya membuat Dara memiringkan kepalanya bingung.

Dia kemudian melayang matanya untuk Jiyong sebagai senyum terakhir. “Dia adalah … ‘dia terhenti lalu ia melihat ayahnya. “… ayahku.” tambahnya yang mengejutkan tidak hanya Dara tapi Ill Woo dan Tae Hee bahkan kaget. Dara tersentak dan membungkuk sekali lagi membuat ayahnya tertawa.

“Kau sangat lucu … aku bisa melihat Jiyong mewarisi standarku yang tinggi,” ia tertawa sambil memandang ke Tae Hee membuatnya memerah. “Tuan, silahkan duduk,” Dara berkata canggung dan membuat Jiyong menekan tawanya. “Panggil aku ayah. Aku akan menghargai itu,” kata Mr. Kwon saat ia mengambil tempat duduknya di sebelah Tae Hee. Dara mengambil duduknya di sofa tunggal sebagai Jiyong duduk di bahu kursinya lalu ia melihat empat  orang didepannya terlibat dalam percakapan yang membuat dia mengerutkan kening, tertawa, tersenyum, merona, dan tertawa meskipun ia tidak ikut tetapi hanya mendengarkan.

Dan itu adalah saat dia menyadari bahwa tidak pernah ia memberi orang kesempatan untuk hidupnya, bahwa ia tidak pernah memberi dirinya kesempatan untuk mengenal orang-orang di sekelilingnya atau memberikan mereka kesempatan untuk mengenalnya. Sepanjang hidupnya ia telah bersikukuh percaya bahwa tidak ada yang merawatnya, bahwa tidak ada yang mencintainya dan bahwa ia sendiri yang membuat pikiran seperti itu. Dia tidak pernah sendirian orang orang disekitarnya membuktikan itu, dan Sanghyun membuktikan itu, tapi kemudian ia memilih untuk percaya kebalikannya. Itu tidak benar bahwa tak ada yang peduli untuk dia atau mencintainya seperti pengamatannya sekarang, ayahnya, Tae Hee dan III Woo membuktikan itu. Mereka punya begitu banyak hal untuknya. Pada kenyataannya mereka ada mengawasi setiap gerakannya dan membuktikan bahwa mereka cukup peduli dengannya.  Entah bagaimana hatinya menjadi ringan, ia merasa seperti dunianya menjadi lebih ringan. Dia sadar sekarang, dia tidak sendirian ia hanya memilih untuk berpikir bahwa ia sendirian. Dia hanya memilih untuk mengunci diri di balik dinding melankolis sementara ia sebenarnya bersama orang-orang yang peduli dan mencintainya.

Dia kemudian dengan lembut menggenggam tangan Dara lalu sedikit meremasnya membuat Dara melihat ke arahnya. Mereka saling tersenyum. Jiyong membungkuk dan memberinya ciuman di keningnya. “Terima kasih,” bisiknya membuat Dara tertawa tidak benar-benar mendapatkan apa yang dia maksud. ‘Untuk apa? “Tanyanya. ‘Untuk segala sesuatu … untuk datang … untuk mencintai aku dan untuk membebaskan aku,” bisiknya sambil mengusap tangannya. Dara kemudian berdiri dan memeluknya erat-erat. “Aku mencintaimu Jiyong, ” bisiknya. “Aku mencintaimu,” Jiyong menjawab sambil memeluk dan membenamkan wajahnya di bahunya. Dara tidak hanya membebaskan dia. Dia menyelamatkannya dan lebih dari itu ia mencintainya. Dia adalah malaikat-Nya, dia adalah keajaiban-Nya.

“Kemana kita benar-benar akan pergi?” Dara bertanya cekikikan saat ia hati-hati mengambil langkah-langkah
maju dengan Jiyong memegang tangannya dan membimbingnya karena matanya ditutup. Pasir di kakinya dan angin dingin yang mencium kulitnya yang cukup untuk menyimpulkan bahwa mereka berada di pantai. Hatinya berdebar karena setiap langkah yang mereka ambil. Jiyong tersenyum sambil memegang kedua bahu Dara dan membuatnya berhenti dari berjalan. “Aku mencintaimu,” bisiknya di telinga Dara lalu dengan lembut membuka penutup mata di matanya.

Mata Dara melebar, terkejut. Dia hanya melihat semua ini seperti drama drama yang ia saksikan selama ini, dan mimpi mimpinya yang ia harap suatu hari bisa ia alami. Dan sekarang semua itu ada di hadapannya, ia menatap meja yang penuh hiasan dan lilin yang tertata sedemikian rupa. Tubuhnya mulai gemetar karena terlalu banyak kebahagiaan yang membuncah, Ia menutup mulutnya dengan tangannya, dan ia mulai menangis. Jiyong menoleh dan menariknya untuk memeluknya. “Aku mencintaimu,” kata Dara lalu dia mulai menangis. “Aku tahu siapa yang tidak tahu itu” Kata Jiyong dengan nada kesombongan membuat Dara memukuldadanya dengan bercanda tawa. ‘”Sombong,” bisiknya.

Jiyong dengan lembut menyeka air matanya dengan ibu jarinya.  Dia kemudian membimbingnya menuju ke meja. Dia kemudian dengan lembut menarik kursi untuknya lalu Dara tersenyum dan duduk. “Oke jadi apa yang kita rayakan saat ini?” Tanya Dara. Jiyong tersenyum. “Apa?” Tanyanya polos sekali lagi membuat Jiyong memutar matanya. Dara menatapnya sambil merenungkan apa yang mungkin untuk dirayakan. ‘Ohh!’ Dara
akhirnya mengingat. “Ini anniversary 2 bulan kita, Bagaimana aku bisa melupakannya?” ujarnya sedih. Jiyong berdiri dengan lembut sambil menyelipkan rambut Dara kebelakang telinga. “Selamat hari jadi ke 60 dan terima kasih untuk hadiah spesialnya,” Jiyong tersenyum padanya membuat Dara menatapnya. “Aku tidak punya hadiah apapun, ” katanya dengan gemetar suara hampir menangis.

“Kau punya, dan itu lebih dari apa yang ingin aku minta,” dia tersenyum. ‘Ji,’ Dara memanggilnya dengan mata berkaca-kaca. “Hey milikku… “ Jiyong memanggil sambil meraih tangan Dara dan menggenggam bersama-sama menutupinya dengan tangannya sendiri lalu ia mencium kedua tangannya dengan lembut sambil menutup mata. “Membiarkan aku bersamamu selama dua bulan, membuat aku menyadari bahwa aku tidak pernah sendirian, mencintaiku meskipun dengan dosa-dosaku yang tak terampuni… ada begitu banyak Dara … kau hadiah mungkin bukan tentang materi tapi itu sesuatu yang selamanya terukir dalam hatiku dan sesuatu yang telah mengubah hidupku,” katanya sambil membuka matanya lalu ia menyetarakan tingginya dengan Dara. “Kau memberiku lebih dari apa yang aku inginkan … lebih dari siapa pun,” tambahnya membuat air mata Dara mengalir di pipinya. Dia tertawa sambil menyeka air matanya sekali lagi. “Come on babe, jangan menangis kau tahu bagaimana jika aku melihatmu menangis,” katanya terkekeh.

Dara menyeka air matanya tapi air matanya terus jatuh. “Aku tidak bisa menahannya!” Serunya. “Aku memiliki pacar yang sempurna,” tambah Dara tertawa membuat Jiyong tersenyum dan mencium dahinya. “Apakah aku pernah bilang bahwa aku selalu menyukai saat kau mencium dahiku?” Dara bertanya sambil tertawa namun masih menangis. “Seratus kali mungkin?” Katanya tertawa saat ia berdiri dan meraih makanan yang dia siapkan dan dengan lembut meletakkannya ke meja. “Dan apakah aku pernah menyebutkan bahwa kau memasak makanan terbaik di dunia?” Dara bertanya lalu Jiyong menggeleng tertawa dia hanya terus memuji.

Mereka kemudian makan sambil bercerita dan seperti biasa Jiyong mendengarkan dengan semua perhatiannya, sepenuh hati. Kemudian mereka menatap langit saat mereka duduk di atas pasir saling bercerita rencana dan impian mereka, tujuan yang mereka inginkan untuk dicapai. Mereka bermain di pantai lalu mereka mengejar satu sama lain dan bermain dengan air dingin. Mereka melakukannya berkali-kali seolah-olah mereka tidak pernah bosan melakukan itu. Kemudian mereka berbaring di atas pasir tidak berbicara tapi hanya menatap langit dengan tangan mereka berkaitan, merasakan detak keras yang datang dari hati mereka, merasa angin pada kulit mereka. Dara menyandarkan kepalanya di bahu Jiyong dan mereka terus memandang pada bintang-bintang lalu bintang jatuh berlalu di mana mereka menutup matanya dan membisikkan keinginannya.

Dara sekarang duduk di atas pasir dan ia bermain dengan itu, menggambar sesuatu atau hanya menggenggam dan menonton pasir itu mengalir dari tangannya. Dia tampak seperti anak kecil dan itu seolah-olah ia tidak akan pernah bosan bermain dengan itu. Jiyong duduk di depannya. Dara sedang menggenggam segenggam pasir lalu Jiyong memegang tangannya dan menyandarkan dahinya pada dahi Dara. “Dara …” dia memanggilnya sebagai mata mereka bertemu. “Mari kita pulang,” bisiknya. “Oh, baiklah kau ingin beristirahat?” tanya Dara lalu Jiyong menggeleng. “Bukan, maksudku mari kita kembali ke Seoul … kembali ke keluargamu,” ujarnya membuat mata Dara melebar kaget saat ia menarik kembali kepalanya dan menggelengkan kepala. “Tidak!” Serunya. “Apakah kau ingin mereka memisahkan kita ?!” dia berseru sambil terus menggelengkan kepala. Jiyong dengan lembut menangkup wajahnya. “Tentu saja tidak,” kata Jiyong lalu air mata Dara jatuh. “Apakah kau lelah karena aku?” Tanyanya. “Apakah yang aku melakukan sesuatu yang salah? “tanyanya menangis.

“Dengar, kau sempurna, kau tidak pernah melakukan sesuatu yang salah dan tidak akan pernah aku bosan dengan mu dan segala sesuatu tentangmu,” kata Jiyong lembut. “Lalu mengapa kau ingin kembali ke sana ketika kau tahu mereka hanya akan memisahkan kita?” tanyanya. Jiyong mencium bibirnya dengan lembut menenangkannya. “Dengar …” katanya sambil menarik dirinya dan menyandarkan dahinya dengan dahi Dara. “Kita tidak akan kembali ke sana untuk memisahkan kita … kita akan ke sana untuk meminta restu mereka,” tambahnya sambil tersenyum. “Bagaimana kalau mereka tidak mau mendengarkan?” Tanya Dara ragu-ragu. “Aku akan memohon,” jawabnya. “Bagaimana kalau mereka masih tidak mau mendengarkan?” Tanya Dara. “Aku tidak akan menyerah … tidak  akan pernah,” dia menjawab membuat Dara mulai menangis lagi.

Sebenarnya, ia membenci ide itu juga, tapi dia tidak bisa hanya menutup mata pada kenyataan bahwa Dara stres akhir-akhir ini bahwa ia memiliki banyak momen di mana dia sedang mengalami kesulitan bernafas. Jika kau bertanya, dia sangat ingin tinggal selamanya di tempat ini dengan Dara dan menjalani kehidupan yang sempurna tapi seperti apa ayahnya katakan kepadanya, seperti apa yang Seungri katakan mereka tidak dapat melarikan diri selamanya, cepat atau lambat kakaknya pasti akan datang kepada mereka dan mungkin pada waktu yang terburuk. Dia ingin memberikan Dara hidup bahagia bukan hidup yang hidup penuh stres karena ia juga menyembunyikan bagaimana ia sangat merindukan keluarganya. Seperti apa yang Dara erikan, dia ingin memberikan kebebasan dan kebahagiaan untuknya. Tidak hanya kebahagiaan, bukan hanya kebebasan, tetapi kedua.

Dara masih menangis dan Jiyong masih bisa merasakan bahwa ia meragukannya. Jiyong kemudian berdiri dan ia membuat Dara berdiri. Dia menyeka air matanya dan mencium rambutnya. Dia melingkarkan satu lengannya di pinggang Dara sambil memegang tangannya. “Apa yang kau lakukan?” Dara bertanya masih menangis. “Kita akan berdansa,” Jiyong tersenyum. Dara mengeluarkan tawanya sedikit. “Kita perlu musik untuk menari,” katanya sambil tersenyum dan menariknya lebih dekat menekan tubuhnya terhadap miliknya. “Apakah angin tidak cukup? Apakah detak jantung yang keras ini tidak cukup? Apakah suara ku tidak cukup? ” Tanyanya tersenyum lalu Dara tidak bisa membantu untuk tidak tertawa dengan perkataannya. Lalu Jiyong mulai bergerak dan Dara perlahan mengikutinya, tubuh mereka bergoyang. “Tutup matamu,” bisik Jiyong.

I wanna know

Who ever told you I was letting go

The only joy that I have ever known

Girl, they were lying

 

Dara bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, dan suara lembut Jiyong menggema di udara.

Just look around

And all of the people that we used to know

Just gave it up, they wanna let it go

But we’re still trying

 

Dara menangis sekali lagi, mengingat bagaimana Jiyong membenci lagu seperti ini. Mengingat di mana saat ia memutar music dengan Ipod JIyong hanya berisi dengan lagu metal, dimana itu benar benar berisik.

 

So you should know this love we share was never made to die

I’m glad we’re on this one way street just you and I

Just you and I

 

Jiyong menarik dirinya dari tubuhnya, lalu tersenyum. Lalu ia menyandarkan dahinya dengan dahi Dara. Mata mereka terkunci dan tersenyum penuh arti, lalu ia menghapus air mata Dara.

I’ll never gonna say goodbye

Coz I never wanna see you cry

I swore to you my love would remain

And I swear it all over again and I

I’ll never gonna treat you bad

Coz I never wanna see you sad

I swore to share your joy and your pain

And I swear it all over again

all over again…

 

(Song by: Swear It Again – Westlife)

Bersambung….

– 00 –

siapa yang kemaren spazzing garagara Daragon moment kemaren eak eak ?

Wowow 3 chapter to goo!

semangat!

terma kasih masih ada yang baca FF ini..

semoga menghibur kalian semua..

Rgd,

DANG

 

 

Advertisements

17 thoughts on “BE MINE [Chap. 23]

  1. Oh jd sanghyun dulu sayang jg sm jiyong tp jiyong nggak suka klu dia diperhatiin sm sanghyun makanya dia manfaatin jieun tunangan sanghyun yg suka sm dia buat nyingkirin sanghyun dr hidupnya dan malah buat jieun bunuh diri dan itu buat sanghyun benci sm jiyong….. Moment daragon memang slalu so sweet bikin cemburu deh…. ayah jiyong ternyata baik bgt ya dia jg langsung suka sm dara dan ilwoo sm taehee jg baik…..
    Sanghyun coba dong buka mata sm hati km klu jiyong itu udah berubah dan dia itu sayang bgt sm dara bahkan rela melakukan apapun untuk bisa buat dara bahagia dan tolong restui hubungan mereka jangan suruh mereka pisah…..
    Next chap aja deh Dang dan fighting buat Dang sarangheo♡♡♡ ^~^

  2. Henmm so sweet..
    Jadi ngebayangin siapa yg cocok jd papa mama nya jiyong..
    Aduhh kira” gmna kelanjutannya ya??
    Thor tinggal 3 eps lg kan??
    Jgn kelamaan yaa thor hehehehe..
    Fighting!!
    Ditunggu next chapnya

  3. jdi begitu ya kejadiannya. sampe2 sanghyun benci bgt sama jiyong.
    bener kan itu apa kata ayahnya ji? yey…semoga sanghyun jga bisa merestui mereka.

  4. Ohh ternyata mereka pernah saling temenan gitu dan putus persahabatan gegara ceweknya selingkuh sama Jiyong. Kasian Jiyong dituduh sbg penyebab kematian tunangannya SangHyun. Semoga DaraGon nggak bakalan tersakiti lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s