[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #6

SB Cover

Author : aitsil96

Category : PG15, Romance, Sad, Chapter

Main Cast : Kwon Ji Yong, Park Sandara

Author’s Note :

FF ini hasil remakedengan beberapa perubahan yang cukup besar di dalamnya dari judul FF yang sama dengan main cast yang berbeda yang sudah pernah saya post di blog lain. Kali ini saya juga menggunakan nama author baru. Main cast asli adalah Kwon Ji Yong dan Yong Na Ra. I’m not plagiator!

This is just my wild imagination. Don’t be a plagiator or reupload this FF without my permission. Don’t bash if you think my story isn’t perfect. Be a good reader, please. If you like to leave a comment, i really appreciate it. Thanks and happy reading all…

.

*perhatikan waktu karena alur maju mundur*

.

Summary         :

“Jika memang waktu bisa diulang, aku tak akan pernah hadir dalam kehidupannya. Aku terlalu tolol menyadari betapa berharganya gadis itu untuk aku rusak. Kini semua telah cacat, kehidupannya tak akan pernah sama lagi seperti dulu. Ini semua karena aku, karena jiwa bajingan egois sialan sepertiku yang terlalu pengecut untuk menghindarinya. Menghindari rasaku yang terlalu besar untuknya, gadisku.”

-Kwon Ji Yong-

“Luka yang ia torehkan sungguh sangat sempurna membekas bahkan hingga saat ini. Luka itu belum sembuh sepenuhnya, hanya mencoba untuk mengering walau aku telah bosan mengobatinya dengan segala cara yang memungkinkan. Rasa ini menyiksaku hingga ke dasar, menceburkanku menjadi manusia idiot yang tak pernah bisa melupakannya. Pria bajingan itu.”

-Park Sandara-

.

-PART 6-

.

London, January 2015

“Menikahlah denganku, Dara-ya.”

Pandangan mereka bertemu, menyiratkan perasaan masing-masing yang tercermin di dalamnya. Dara dengan tatapan bingung, sementara Il Woo masih menatap yakin gadis di hadapannya dengan pandangan teduh khas yang ia miliki.

 “Aku menyayangimu, Dara-ya. Tak bisakah kau merasakan hal itu? Awalnya ku kira ini hanya perasaan layaknya kasih sayang dan rasa melindungi dari seorang kakak pada adiknya, terlebih kau adalah teman masa kecilku. Namun perasaan ini tak dapat ku bendung lagi. Aku ingin bersama denganmu, menjaga, serta selalu berada di sampingmu kapanpun kau membutuhkanku.”

Tenggorokan Dara tercekat, “Kau…”

“Aku ingin kau menatapku sebagai pria,” tangan Il Woo terulur untuk menggenggam kedua tangan Dara. Mempertemukannya dalam jalinan yang hangat dan nyaman.

Gadis itu tak bisa berkata apa-apa saat ini, terlalu terkejut dengan pengakuan yang terlontar dari Il Woo. Kejadian ini amat tidak waras menurut Dara. Pria yang kini berada di hadapannya adalah seseorang yang ia anggap hanya sebagai teman. Il Woo adalah teman semasa kecilnya. Tak pernah lebih dari itu. Jikalau ada perasaan sayang untuknya, itu hanyalah bentuk kasih sayang darinya sebagai adik karena perbedaan usia yang terpaut lima tahun di antara mereka.

Dara telah menganggap Il Woo seperti pengganti Jun Hyung saat berada di London. Semenjak kehadirannya dua tahun lalu, ia selalu merasa nyaman karena ada seseorang yang memperhatikan hidupnya, melebihi dirinya sendiri. Il Woo adalah pria yang amat baik terhadap dirinya, bahkan terlalu baik menurut Dara. Pria itu bahkan terkadang mengabaikan kepentingannya demi gadis itu.

Dara mendesah. Tiba-tiba udara di sekitarnya terasa pengap, membuatnya kesulitan bernapas. Pengakuan Il Woo seakan memukul tepat di ulu hatinya. Ia tak bisa begitu saja mengabaikan pernyataan sinting itu. Terlebih karena kini bahkan pria itu telah berharap lebih pada dirinya. Ia tak ingin merusak hubungan pertemanan antara mereka yang terjalin begitu eratnya.

Namun di sisi lain entah mengapa ia juga seakan merasa bersalah. Berpikir mungkin selama ini perhatiannya pada Il Woo serta perlakuannya yang memang menerima segala kebaikan pria itu telah diartikan lebih olehnya. Dara sungguh merasa berdosa. Ia seolah-olah gadis jahat yang hanya memanfaatkan kebaikan pria itu di atas perasaan tulus Il Woo yang selama ini tak pernah ia ketahui sama sekali.

“Dengar, Il Woo-ya. Aku tahu selama ini kita dekat bahkan hingga tinggal bersama selama dua tahun terakhir. Aku tahu kau sangat baik padaku. Perhatianmu, kasih sayangmu, aku tahu kau melakukannya dengan tulus. Aku bisa merasakannya, bahkan aku juga harus berterima kasih untuk itu. Kau… temanku, bukan? Kita adalah teman semasa kecil. Sekarang kita dipertemukan lagi di London dan aku bahagia akan itu.Tapi sungguh, aku pikir… kita ini hanya sebatas teman.”

“Aku tahu betul akan perasaanmu. Sebelum aku mengungkapkannya aku sudah bersiap diri karena menduga kau hanya akan menganggapku sebagai teman. Kau tak ingin merusak hubungan pertemanan yang telah kita jalin dengan baik ini, bukan?”.

Dara mengangguk.

“Sejujurnya aku pun tak ingin membuat kau terbebani akan kenyataan yang aku rasa. Hingga aku bahkan memilih untuk memendam perasaan ini semenjakkau meninggalkanku di Busan.”

Mwo?” Dara merasa otaknya tambah berputar mendengar penuturan Il Woo. Apa maksudnya?

Il Woo tertawa pada dirinya sendiri, “Kau cinta pertamaku.”

Pernyataan sinting. Lagi. Apa yang salah dengan pria itu? Mungkinkah ia sedang sakit? Mengapa pembicaraan ini melantur kemana-mana? Astaga, kini susunan syaraf di otak Dara seakan ingin pecah. Ia… cinta pertama bagiIl Woo? Bagaimana mungkin? Jadi selama mereka tinggal di Busan pria itu telah menaruh perhatian lebih padanya? Mungkinkah selama ini hanya ia yang kurang peka? Atau pria itu memang sengaja ingin menyembunyikan kenyataan itu darinya?

“Aku tahu kau akan terkejut. Saat itu bahkan kau masih menjadi gadis kecil berkuncir dua yang tak mengerti dengan apa artinya cinta. Namun sungguh aku telah merasakan getaran yang berbeda dari dirimu. Aku menyukaimu saat itu. Tapi bodohnya aku yang hanya bisa memendam perasaan seorang diri. Aku hanya tak berani mengungkapkannya. Terlalu malu akan diriku sendiri.”

“Ku pikir itu hanya cinta sesaat, namun perasaan tersebut berkembang begitu saja tanpa pernah bisa ku kendalikan. Aku bahkan merasakan sakit hati saat kau memutuskan pindah ke Seoul dan setelahnya kau bahkan tak menghubungiku sama sekali,” lanjut Il Woo seraya tersenyum miris, membayangkan bagaimana menderitanya ia saat itu, “Terlebih saat aku melihat beritamu dan Ji Yong. Ya Tuhan, aku pikir hati ini telah remuk berkeping-keping mengetahui kau memiliki pria lain sementara aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan rasa sialan ini padamu.”

“Aku… sungguh tak tahu harus berkata apa,” Dara menggeleng lemah.

Il Woo makin menggenggam erat tangannya, “Maaf bila kejujuranku membebanimu. Namun kau tak akan pernah tahu betapa bahagianya aku saat bertemu lagi denganmu. Butuh dua tahun lamanya aku berpikir tentang rasa ini. Mengenyampingkan rasa egois untuk segera memilikimu setelah tahu kau sendiri. Namunkini sungguh aku tak bisa menahannya lagi. Ku mohon, mulailah awal yang baru denganku.”

“Il Woo-ya, kau tahu aku bahkan tak memiliki perasaan yang sama denganmu…”

“Ssst,” telunjuk Il Woo segera menghentikan ucapan Dara, “Aku mengetahui dengan jelas bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku bahkan mengetahui bahwa hatimu masih menyimpan nama lain hingga tak ada ruang untukku. Tapi percayalah, walau aku tak bisa menjanjikan hal lain padamu, tapi aku akan berusaha memberikan sisa hidupku hanya untuk mendampingimu seorang.”

Satu tangan pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan benda yang memang sejak telah lama ia simpan untuk menunggu saat yang tepat. Dan inilah saat yang tepat baginya. Il Woo membuka kotak kecil itu di hadapan Dara, kotak yang berisikan cincin emas putih sederhana. Manik hazel gadis itu melebar menatapnya, tak menyangka bahwa memang Il Woo tak main-main dengan perasaan yang baru saja ia akui pada Dara.

“Terimalah aku, Dara-ya. Aku akan membantumu menghapus nama pria itu dari hatimu perlahan-lahan. Hingga kau mungkin tak menyadari bahwa nantinya akan hanya ada aku. Hanya aku, pria yang kau tatap.”

Di tengah kebingungannya dengan kejadian mendadak yang membuat wajahnya terlihat dungu, ia melihat lagi tatapan itu. Tatapan pria yang tengah bersungguh-sungguh dengan segala ucapan yang telah ia lontarkan padanya. Dara meneliti lagi mata itu, mencoba mengorek secercah keraguan. Namun tak berhasil, yang ia temui hanyalah pancaran rasa tulus yang memang telah lama terpendam. Tak ada keraguan sama sekali di sana. Entah apa yang merasukinya kini, namun Dara hanya percaya satu hal. Il Woo tak akan pernah menyakiti hatinya.

*****

Seoul, March 2015

“Bagaimana kabarmu?”

Oppa?”

“Hei, jangan menatapku seperti itu! Aku bukan arwah gentayangan.”

Dara mendelik mendengar jawaban menyebalkan dari Jun Hyung yang datang tiba-tiba hingga membuatnya kaget dan melebarkan manik hazel miliknya. Malam ini adalah malam pertama Dara menginjakkan kakinya lagi di Korea Selatan. Kedua orangtuanya telah tidur di lantai bawah setelah makan malam bersama dan perayaan kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan putri bungsunya.

Sementara saat ini, Jun Hyung dengan santai melangkah mendekati Dara yang sedang duduk di balkon lantai dua rumahnya seraya membawa secangkir cokelat hangat untuk dirinya sendiri. Ck, ia memang kakak yang tidak perhatian terhadap adiknya. Jun Hyung mengambil tempat di kursi sebelah Dara dan menyecahkan bokongnya di sana.

“Kau mengagetkanku, oppa.”

Jun Hyung berdecak, “Kau saja yang melamun sedari tadi.”

“Kau memperhatikanku, eoh?” Dara melayangkan pandangan iseng yang menggoda pada saudara lelakinya itu. Jun Hyung saat ini hanya terpisah dengan meja kecil di samping kanannya, “Bagaimana menurutmu ekspresiku saat melamun? Apa aku masih terlihat cantik? Ah benar, jika saja aku bukan adik kandungmu, mungkin kau juga sudah terpesona padaku sejak lama, bukan?”

“Yak, jangan bicarakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu! Lagipula siapa yang memperhatikanmu? Aku hanya kebetulan lewat saja saat menuju kamarku,” ucap Jun Hyung seraya meringis.

Manik hazelnya berputar malas, secara tak sengaja melihat cokelat hangat yang baru saja Jun Hyung taruh di meja.

“Hei, hei, itu minumanku!” Jun Hyung berteriak nyaring saat melihat Dara merebut minumannya. Gadis itu dengan kekuatan ekstra menghabiskan setengah dari isinya, “Aish, harusnya kau buat sendiri jika kau mau.”

“Kau bisa menghabiskannya jika kau mau, oppa,” ucap Dara cuek.

“Minuman ini? Yang sudah terkontaminasi mulutmu? Lupakan.”

Kepalan tangan Dara segera melayang tepat pada kepala Jun Hyung, “Apa kau bilang? Hei, aku tak punya penyakit mematikan. Hentikan kebiasaan sok bersihmu itu!”

Pria itu mendengus sebal seraya mengedikkan bahunya tak peduli. Jun Hyung memang memiliki standar kebersihan super tinggi. Ia adalah salah seorang pria unik yang selalu membereskan ruangan di setiap sudut rumah yang ia anggap berantakan tanpa memberi tahu siapapun, lalu sebelum tidur selalu mengomel panjang lebar tentang kebiasaan keluarganya terutama Dara yang ia anggap tak layak menjadi seorang perempuan.

Kebiasaan unik lain dari pria ini juga adalah saat berada di kamar mandi. Jun Hyung rela berlama-lama menghabiskan waktunya untuk memeriksa dan memastikan persediaan sampo maupun sabun. Yang lebih menggelikan lagi, ia selalu mengurutkan warna sikat gigi sesuai warna pelangi. Oh Tuhan, lihatlah betapa konyol kelakuan pria yang menghiasi beberapa tubuhnya dengan tinta yang bernamakan tato tersebut. Tak hanya mulutnya yang berisik layaknya ahjumma, kelakuannya pun tak jauh berbeda. Selalu aneh.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” Jun Hyung mengabaikan ocehan Dara.

Dara menoleh, “Kabarku baik, kau bisa lihat sendiri bahwa adikmu ini memang baik-baik saja. Tetap cantik dan sehat seperti biasanya.”

“Aish…” Jun Hyung mencebik, “Hanya itu?”

“Lalu memangnya aku harus mengatakan apa untuk menjawab pertanyaanmu?”

“Kau tak akan memberitahukan sesuatu hal padaku, eomma, atau appa? Sesuatu yang mungkin lebih penting?”selidiknya kemudian.

Dara menggumam, “Aku… rindu kalian.”

“Tak adakah hal lain yang bisa kau sampaikan selain pernyataan bodohmu tadi?”

Gadis itu selanjutnya menggeleng dengan tegas setelah sejenak berpikir.

“Astaga, Dara-ya! Kau tak akan menjelaskan padaku tentang pria itu? Setelah sekian lama kau tak pernah pulang ke Korea, lalu kau membawa pria itu sebagai… tunanganmu? Ck, siapa dia? Bahkan aku tak pernah mengetahui kau berhubungan dengannya selama ini.”

Gotcha! Dara baru tahu maksud Jun Hyung. Aish, otaknya bekerja dengan lambat kali ini. Harus ia akui bahwa dirinya memang seorang gadis yang tak peka, “Pria itu bernama Il Woo, oppa. Jung Il Woo. Dia teman masa kecilku. Kau tak mengingatnya? Seingatku kalian juga setidaknya pernah mengobrol beberapa kali saat di Busan.”

Jun Hyung mengerutkan kening seraya berpikir keras, kini ia merasa tak asing dengan nama yang dilontarkan adiknya. Dahulu semasa kecil, Il Woomemang sering mengunjungi rumah lamanya yang berada di Busan sebelum akhirnya keluarga mereka pindah dan menetap di Seoul. Meskipun ia dan Il Woo seumuran, entah mengapa mereka tak terlalu akrab saat itu. Bukan berarti bermusuhan atau semacamnya, namun Jun Hyung hanya tak terlalu mengobrol banyak dengan pria itu. Terlebih Il Woo memang lebih sering menghabiskan waktu dengan adiknya. Mungkin itulah alasan mengapa ia tak mengingatnya saat bertemu di bandara.

“Oh, ia teman priamu saat di Busan itu?” Jun Hyung baru mengingatnya, “Bagaimana bisa kau bertemu dengannya lagi?”

“Aku tak sengaja dipertemukan dengannya di universitas. Dia mengambil jurusan yang sama denganku. Kami juga pernah berada di kelas yang sama beberapa kali.Mungkinkah itu semacam… takdir?”

“Bukankah terlalu naif bagi gadis sepertimu jika membicarakan takdir, huh?”

“Oh ya,” Dara menjentikkan jarinya, “Kau pasti akan tercengang jika mengetahui kenyataan lain di antara kami.”

Jun Hyung mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. Mulai terpancing akan godaan adiknya.

Dara sengaja mengarahkan wajahnya lebih dekat pada Jun Hyung demi membisikkan sesuatu, “Kami bahkan tinggal bersama selama di London.”

Mwoya?! Yak, kau pikir itu masuk akal? Bagaimana mungkin… kalian…”

Jun Hyung tak sanggup melanjutkan ucapannya. Terlalu kaget. Ayolah, selama ini gadis itu bahkan tak pernah memberi tahu keluarganya perihal tempat tinggal yang disewanya bersama dengan Il Woo. Untuk menceritakan kehadiran pria itu pada keluarganya pun, Dara tak pernah melakukannya. Ia hanya berniat untuk sedikit menghemat uang bulanannya hingga rela tinggal serumah dengan seorang pria.

Lagipula, Il Woo adalah teman masa kecilnya, bukan? Pikirnya saat itu. Oh benar, namun sekarang pria itu telah menjadi tunangannya. Wajar saja jika Jun Hyung kaget setengah mati. Pikirannya saat ini mungkin tengah dipenuhi bayangan macam-macam yang terjadi antara dirinya dan Il Woo. Astaga, ia merasa telah salah besar untuk menceritakan semua ini pada Jun Hyung.

“Berhentilah berpikiran macam-macam, oppa. Aku tak pernah melakukan sesuatu yang mengerikan dengan Il Woo seperti apa yang kau bayangkan saat ini dalam otak tumpulmu.”

Jun Hyung mendesis, mencoba menetralkan emosinya yang hampir meluap akibat ucapan Dara, “Tapi… kalian tinggal di atap yang sama. Selama dua tahun. Itu bukanlah waktu yang singkat. Kau juga tak pernah menceritakan apapun padaku tentangnya. Kau tak pernah pulang bahkan dengan aku yang memintanya setengah mati. Dan saat kau pulang, kau membawa pria itu dan mengenalkan padaku bahwa dia itu tunanganmu? Dimana otakmu, Dara-ya? Aku ini keluargamu, kakak kandungmu. Kau bahkan tak menganggapku ada. Juga jangan lupakan eomma dan appa.”

“Bukan begitu, oppa. Ada banyak hal yang membuatku bingung untuk menjelaskan semuanya pada kalian. Kau mungkin benar bahwa aku telah salah karena sama sekali tak memberitahumu tentang Il Woo, namun sungguh awalnya kami hanya berteman baik. Percayalah padaku, kau bahkan tahu selama berada di Busan aku sangat dekat sekali dengannya.”

“Untuk pertunangan itu… aku juga tak tahu harus menjelaskannya seperti apa. Hal ini sama sekali tak pernah kuduga akan terjadi. Ia tiba-tiba melamarku dan…” Dara menghela napasnya. Bingung. Kali ini bibirnya kelu, tak bisa berkata-kata lebih jauh. Ia membiarkan kalimatnya menggantung.

Hening menyelimuti mereka kini yang tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Jangan kau jadikan ia pelarianmu, Dara-ya.”

Deg! Jantung Dara berhenti beberapa detik.

“Bagaimanapun kau menyembunyikannya dariku, aku tetap bisa melihat bagaimana pancaran matamu terhadap Il Woo. Itu berbeda. Tatapan itu bukanlah rasa cinta tulus seperti yang pernah kau rasakan beberapa tahun lalu,” ada jeda sebelum Jun Hyung melanjutkan, “Kau tahu apa yang ku maksud, bukan?”

Setiap kata yang dilontarkan Jun Hyung diresapi Dara dan semakin membuat hatinya tertohok dengan sempurna. Ia tahu bahwa kini pria itu tengah serius dengan ucapannya. Meskipun terkadang konyol dan kekanakkan, namun jika ekspresinya telah berubah menjadi serius, maka semua perkataan Jun Hyung akan cenderung bijak dan menasehati dengan pikiran dewasanya. Seperti saat ini.

Apa benar ia menjadikan Il Woo hanya sebagai pelampiasan semata? Namun Dara memang tak bisa menolak perasaan pria itu. Entah dorongan darimana hingga ia menerima Il Woo, setuju untuk menjadi tunangannya, serta mungkin akan menikah dengannya dalam waktu yang belum dipastikan. Alasan ini pulalah yang membuat ia setuju untuk segera pulang ke Seoul dan memberitahukan kabar mengejutkan ini pada keluarganya.

Walaupun sampai saat ini perasannya pada pria itu masih belum berubah, namun ia memang membutuhkan Il Woo untuk selalu berada di sampingnya. Apakah ia egois? Membutuhkan pria itu tanpa memikirkan perasaannya yang masih gamang pada pria yang memang jelas-jelas tulus menyayanginya? Dara menggelengkan kepalanya. Tidak, itu tidak benar. Ia juga akan berusaha sebisa mungkin untuk memiliki perasaan yang sama dengan Il Woo, walaupun mungkin bukan sekarang waktunya.

“Ku dengar kau melamar untuk bekerja di kantornya? Daebak! Kau bisa langsung menempati posisi sebagai sekretaris CEO.”

Pikiran Dara langsung teralihkan setelah mendengar pernyataan sinis Jun Hyung yang dilontarkan kepadanya. Ia menjitak lagi kepala Jun Hyung dengan kekuatan yang tak main-main, membuat kakaknya itu menjerit nyeri, “Jangan bicara sembarangan, aku mendapatkan posisi itu dengan kemampuanku sendiri. Tak ada sangkut pautnya dengan hubunganku dan Il Woo.”

“Aish, mengapa kau gemar sekali menghajar kepalaku yang berisi otak brilian ini? Jika terjadi sesuatu padaku, kau yang harus bertanggungjawab!” Jun Hyung mengusap kepalanya sendiri, “Wajar aku berkata seperti itu, bukan? Kau itu tunangannya. Ya, ia tunanganmu dan aku sebagai saudara kandungmu bahkan tak mengetahui kapan lamaran itu terjadi.”

Delikan matanya pada Jun Hyung menandakan bahwa gadis itu kesal sendiri karena melihat tingkah laku konyol kakaknya. Daripada harus berlama-lama menghabiskan waktu untuk hal yang tak berguna seperti ini, lebih baik ia segera masuk kamar saja.

“Selain tampan, ternyata ia kaya juga. Kau bisa memanfaatkan situasi dengan cermat rupanya,”Jun Hyung berbicara dengan nada sarkastis.

Dara yang baru saja berdiri hendak untuk melangkah, segera mengurungkan niatnya dan memilih untuk menolehkan kepalanya ke arah Jun Hyung, “Berhenti merecoki hidupku!”

Bukan satu, melainkan dua kepalan tangan yang untuk ketiga kalinya Dara daratkan di kepala Jun Hyung sebelum ia melangkah untuk menuju kamar. Kekuatannya? Tak usah diragukan lagi karena kini Jun Hyung bahkan menjerit luar biasa bising hingga mungkin membangunkan anjing peliharaan tetangga.

*****

Seoul, April 2015

Kemeja putih itu ditumpuk blazer hitam serta dipadukan dengan rok pensil di atas lutut berwarna senada. Pakaian itu membungkus pas tubuh Dara yang sedang duduk tegak di kursi ruang tunggu lobi kantor. Gadis itu saat ini berada di perusahaan yang baru menerimanya untuk bekerja. Perusahaan milik Il Woo. Tanpa bantuan Il Woo sebagai tunangannya, gadis itu lolos tes dan dinyatakan dapat bekerja mulai hari ini.

Perusahaannya memang tak bisa dibilang besar, namun telah berdiri beberapa tahun belakangan dan sedang mencoba merambah pasar luar negeri. Cukup berkembang dan stabil.Prospeknya juga lumayan menjanjikan untuk pengalaman pertama Dara sebagai pegawai kantoran.Jika kau tanya apa posisi gadis ini, ia terpilih sebagai sekretaris dari CEO.Seperti yang dikatakan Jun Hyung.

Jangan berpikiran Il Woo yang menepatkannya pada posisi itu, Dara pun sama sekali tak menyangka akan mendapatkan posisi yang cukup tinggi untuk pengalaman pertamanya. Namun karena sekretaris lamanya mengundurkan diri dengan alasan untuk menikah, maka ia yang dipercaya untuk menggantikan posisinya. Dengan gelar cumlaude serta nilai yang memuaskan, gadis ini cukup beruntung, bukan?

Selang berapa lama, seorang wanita dengan rambut pendek berumur awal 30-an kemudian menghampirinya, “Maaf menunggu lama, ini kartu pegawaimu. Jangan lupa untuk gunakan ini setiap hari agar kau bisa masuk ke gedung kantor.”

Wanita yang kini menuntunnya menuju lift ini bernama Jang Mi Rae, kepala bagian staff yang bertanggung jawab terhadap seluruh pegawai kantor. Wajahnya manis namun terlihat sangat tegas dan disiplin, bisa dilihat dari caranya berjalan dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Dara agak gugup juga sebenarnya, bahkan keringatnya sedari tadi tak henti bercucuran walau saat berada di ruangan yang memiliki pendingin di dalamnya. Bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertamanya.

Lift mereka berdenting dan kemudian berhenti di lantai paling atas. Di lantai ini hanya terdiri dari lorong berhiaskan gambar mobil maupun motor sport di sepanjang dinding yang menuju ke arah satu ruangan, menunjukkan bagian kekuasaan CEO. Nampak pula sebuah ruangan kecil di sebelah kiri dengan kursi dan meja yang di atasnya terdapat laptop serta setumpuk berkas. Mungkin itu adalah ruangan yang akan ditempatinya, pikir Dara.

“Tempat ini adalah ruanganmu nantinya, ku harap kau menyukainya, Dara-ssi,” suara Mi Rae hampir membuat Dara terlonjak saking asiknya memperhatikan interior kantor.

Dara mengangguk lalu tersenyum canggung, “Ne, Mi Rae-ssi.”

Langkahnya berhenti di depan pintu kayu jati besar dengan dominasi warna hitam. Dara berdeham mencoba menetralkan kerongkongannya yang terasa kering seraya mencoba untuk membetulkan blazernya yang sebenarnya telah rapi. Sementara itu, Mi Rae telah melangkah masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu dan dijawab perintah masuk dari seseorang yang berada di dalam. Kakinya melangkah mengikuti Mi Rae dengan pandangan tertunduk, Dara sangat gugup kali ini.

Sajangnim, perkenalkan ini sekretaris barumu.Park Sandara.”

Dara yang berdiri beberapa langkah di belakang Mi Rae segera mengangkat wajah begitu mendengar namanya disebut. Dengan senyum yang setengah dipaksakan, ia mencoba terlihat sopan di hadapan CEO barunya. Meskipun itu adalah Il Woo, namun tetap saja saat di kantor ia harus menyesuaikan diri dengan jabatannya sebagai sekretaris pria itu. Hubungan mereka memang belum diketahui oleh orang-orang kantor, mereka hanya berusaha untuk terlihat profesional saat berada di lingkungan kerja.

Annyeonghaseyo, Il Woo-ssi.”

“Oh… annyeonghaseyo.”

Mi Rae segera mendelik ke arah Dara seraya mendesis, menekan setiap intonasi kata yang ia ucapkan, “Il WooSajangnim adalah CEO di perusahaan ini, Dara-ssi. Kau akan menjadi sekretarisnya.”

Sialan, saking gugupnya Dara lupa harus bersikap saat berada di kantor, “Oh… ne, jeo… jeoseonghamnida, Sajangnim.”

Gwaenchanayo. Terima kasih telah mengantarnya, Mi Rae-ssi. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu sekarang. Ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan dengan sekretaris baruku.”

Mi Rae mengangguk patuh kemudian keluar dari ruangan setelah tersenyum sekilas pada Dara.

“Silakan duduk, Dara-ssi.”

Dara yang sedari tadi diam di tempatnya hanya mengangguk canggung seraya menuruti perintah Il Woo untuk duduk di kursi yang berada di hadapan meja kantornya. Gadis itu beberapa kali mencuri pandang ke arah pria yang saat ini memakai setelan jas resmi lengkap dengan dasi yang memperlihatkan kewibawaannya. Sungguh, apakah ia benar-benar Il Woo yang ia kenal? Penampilannya yang selalu terlihat santai dengan pakaian casual sangat berbeda dengan pria yang saat ini berada di hadapannya.

“Santailah, Dara-ya, maaf untuk membuatmu canggung. Tapi jika kita sedang berada di hadapan orang kantor, lebih baik kita menggunakan sapaan formal. Kau tahu? Mereka menyebutnya profesionalitas kerja.”

Ne, Il Woo-ya. Ah…mian, Sajangnim.”

“Panggilan itu serasa asing jika kau yang mengucapkannya, Dara-ya,” Il Woo terkekeh, “Ataukah kau harus memanggilku chagiya?”

Dara tiba-tiba membeku mendengar panggilan itu. Panggilan yang tak akrab di telinganya, mengingat Il Woo yang selalu memanggilnya dengan sapaan nama meskipun dengan status mereka saat ini. Kenyataan yang lebih menohoknya adalah ia mengingat panggilan itu sebagai panggilan yang dilontarkan pria lain untuk menggodanya dulu. Oh Dara, kendalikan dirimu!

Il Woo tertawa melihat ekspresi Dara yang terlihat semakin canggung, “Mian, aku hanya bercanda, Dara-ya. Bagaimana kabarmu hari ini?”

“Bisa kau lihat sendiri, aku sangat baik. Bagaimana denganmu?”

“Sebagai pemilik perusahaan aku mencoba untuk selalu terlihat baik.”

“Wow, tak ku sangka aku berhadapan dengan seorang CEO saat ini.Daebak!” Dara mencoba mencairkan suasana.

Il Woo mengibaskan tangan seraya tertawa, “Jangan berlebihan seperti itu, Dara-ya. Hanya saat berada di kantor aku sebagai atasanmu. Di luar, kita bisa berkencan layaknya pasangan lain.” Il Woo tersenyum tulus pada Dara.

Gadis itu membalas seulas senyum. Walaupun dengan status mereka saat ini yang telah berubah, ia selalu merasa canggung setiap Il Woo membahas hal-hal tentang hubungan khusus mereka, seperti yang ia lontarkan barusan, “Jadi, ini perusahaan ayahmu?”

Il Woo berdeham sebelum menjawab, “Ne. Bagaimana menurutmu?”

“Aku sangat nyaman dengan desain kantornya,” Dara mengangguk-angguk seraya memperhatikan dekorasi ruangan pribadi Il Woo yang didominasi warna hitam dan putih serta beberapa gambar produk perusahaan yang ditempel besar-besar.

Il Woo membuka salah satu berkas yang tersaji di hadapannya, “Kau tahu? Aku sangat terkejut ketika melihat wajahmu di foto CV.”

Wae?”

“Kau tampak lebih gemuk dari aslinya.”

“Yak!”

Il Woo tertawa lagi, kali ini lebih lebar. Kehadiran gadis itu mampu membuatnya tertawa sesering mungkin saat berada di dekatnya. Percakapan mereka pun dilanjutkan dengan membahas pekerjaan yang harus dilakukanDara sebagai sekretaris, tak lupa diselingi candaan dan saling ejek satu sama lain. Jika kau bisa melihatnya, ada pandangan berbinar pada sorot mata kebahagiaan yang terpancar dari pria itu. Kebahagiaan karena bisa menemukan seorang gadis yang dikasihinya berada dalam jarak pandangnya. Il Woo sangat bersemangat sekali hari ini.

*****

Ting!

‘Pulanglah bersamaku. Aku tunggu di mobil.”

Dara tersenyum melihat isi pesan yang baru saja diterimanya dari Il Woo. Ia saat ini sedang berada di belakang meja kantor, membereskan beberapa dokumen yang baru saja diperiksa. Ia meregangkan tubuhnya, merasakan pegal di sekitar leher dan bahunya. Ternyata begini rasanya bekerja untuk pertama kali. Sungguh melelahkan. Dara berharap untuk segera terbiasa degan rutinitas pekerjaannya.

Gadis itu menoleh ke arah jam dinding, waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Jam kerja bahkan seharusnya telah berakhir dua jam lalu. Namun seperti larut dalam tugasnya sehingga ia tak menyadari waktu telah cepat berlalu. Ia memutuskan segera mengemasi barang pribadinya dan mematikan laptop lalu segera beranjak menuju parkiran karena seseorang telah menunggunya di sana. Il Woo.

“Kau tak akan pulang jika aku tak menyuruhmu untuk segera turun?” ucap Il Woo sesaat setelah Dara menyecahkan bokongnya di kursi samping kemudi.

Mian,” Dara terkekeh ringan, “Kita akan langsung pulang?”

“Bagaimana kalau makan malam denganku terlebih dulu?”

“Kedengarannya bagus. Aku tak perlu mengkhawatirkan biayanya, bukan?”

Il Woo tersenyum memandang Dara, “Atasanmu ini yang akan mentraktir, Dara-ssi.”

Mereka berpandangan seraya tersenyum satu sama lain sebelum akhirnya Il Woo menancapkan gas menuju pusat perbelanjaan Seoul. Perjalanan ditempuh tak lebih dari tiga puluh menit. Ia memilih salah satu mall di pusat kota dan telah memarkirkan mobilnya di basement. Saat melewati salah satu butik, Il Woo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menyeret Dara untuk masuk.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kita akan mencari restoran untuk makan malam?”

“Pilihlah beberapa baju yang kau inginkan.”

Dara membulatkan matanya, “Mwo?”

Alih-alih mengindahkan pertanyaan Dara, pria itu malah berjalan berkeliling ke arah gantungan blazer, “Bagaimana kalau yang ini? Warnanya terlihat cocok untukmu,” Il Woo memilih salah satu blazer dengan warna merah maroon untuk disandingkan di samping tubuh Dara.

“Il Woo-ya…”

“Biarkan aku membelinya untukmu. Oh ayolah, kau bahkan selama ini tak pernah merengek untuk meminta sesuatu dariku layaknya gadis lain. Bukankah seorang gadis akan senang jika dibelikan barang oleh pasangannya?”

Il Woo menatap Dara penuh kesungguhan. Dara memang selama ini tak pernah meminta apapun darinya. Setiap Il Woo bertanya tentang keinginannya, gadis itu pasti akan langsung menolak dengan alasan tak ingin merepotkan. Namun bukankah sebagai pasangan seharusnya Il Woo bisa memberikan sesuatu pada Dara sebagai hadiah demi menyenangkan hati gadisnya? Bukankah itu yang seharusnya dilakukan pasangan?

Maka dari itu Il Woo mengajak Dara untuk datang kemari dengan alasan ingin makan malam. Pria itu ingin membelikan Dara beberapa helai pakaian kantor sebagai ucapan selamat karena telah menjadi sekretaris tanpa campur tangannya. Melihat tatapan Il Woo, akhirnya gadis itu mengangguk dan membuat pria di hadapannya sukses tersenyum lebar. Il Woo dengan bersemangat menyuruh Dara mencoba beberapa pakaian yang dirasa cocok untuk diperlihatkan padanya.

Setelah beberapa kali mencoba dan menghabiskan waktu hampir satu jam di sana, akhirnya Il Woo menyelesaikan pembayaran di kasir setelah membungkus lima kantung belanjaan untuk gadisnya. Pria itu bahkan rela menenteng belanjaannya sendiri, meskipun Dara telah bersikeras untuk menolaknya. Dengan mengekori Il Woo, akhirnya mereka tiba di salah satu restoran jepang di mall tersebut yang letaknya tak jauh dari butik. Mereka duduk berhadapan setelah memesan makanan.

Gomawo, Dara-ya,” Il Woo membuka percakapan seraya tersenyum.

“Bukankah seharusnya aku yang mengucapkannya? Kau sedang mengejekku yang tak tahu berterima kasih?”

Aniya, bukan seperti itu maksudku. Aku berterima kasih karena kau mau menerima pemberianku. Hari ini aku senang sekali bisa mengajakmu belanja dan makan malam. Rasanya aku benar-benar mempunyai seorang tunangan. Kita berdua harus melakukannya lebih sering nanti.”

Dara tertegun. Benar-benar mempunyai seorang tunangan? Bukankah memang mereka selama ini bertunangan? Bahkan cincin emas putih itu masih melekat di jari manisnya. Mungkinkah Il Woo merasa tak dianggap olehnya? Jika diingat-ingat, ini bahkan adalah kali pertama mereka untuk kencan di luar setelah tiba di Seoul. Biasanya mereka hanya bertemu di rumah Dara jika Il Woo menyempatkan untuk mampir atau pria itu yang meminta untuk menjemputnya bila pergi ke suatu tempat.

Bodoh! Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan pria sebaik Il Woo? Pria yang rela mengantar-jemputmu, bahkan memaksa agar ia bisa membelikan hadiah serta mengajak makan malam untuk pertama kalinya. Selama ini ia tak pernah mengeluh akan dirimu yang sering melupakannya. Bukankah ini adalah impian semua gadis untuk menjadi pasangan dari pria tulus di hadapannya? Kau selama ini malah tak mengacuhkannya dan sibuk dengan duniamu sendiri. Ia tunanganmu, Park Sandara! Kau harus ingat itu!

 “Mianhae, Il Woo-ya…”Dara tertunduk, “Maaf jika aku sering mengabaikanmu hingga kau mungkin merasa aku tak menganggapmu sebagai tunanganku. Rasanya aku yang terlalu bodoh karena tak tahu diri telah mempunyai pria sebaik dirimu.”

“Astaga, aku sungguh tak bermaksud demikian. Aku hanya berusaha mengutarakan kebahagiaanku. Maaf, mungkin kata-kataku yang salah sehingga kau berpikiran seperti itu. Dengar, aku tak pernah merasa kau tak mengacuhkanku, karena aku tahu kau masih butuh waktu untuk terbiasa dengan kehadiranku. Jadi kau tak perlu merasa bersalah untuk itu. Aku berusaha mengerti akan posisimu.”

Dara menatap nanar Il Woo, “Gomawo. Jeongmal gomawo. Aku tak tahu lagi harus berkata apa selain hanya berterima kasih padamu. Aku sungguh tak ingin mengecewakanmu terlalu jauh. Kau… terlalu baik untukku, Il Woo-ya.”

Il Woo menatap gadis di hadapannya intens. Mengulurkan satu tangannya untuk menggenggam tangan Dara, “Jika kau tak ingin mengecewakanku, maka mulai tataplah aku. Cobalah terbiasa akan kehadiranku sebagai pasanganmu. Bukankah kau tunanganku?”

Ya. Kau adalah tunangan Il Woo, Sandara. Kalimat itu harus ia ingat dalam benaknya. Selalu. Ia harus menyadari akan statusnya yang telah terikat dengan seseorang. Pria itu tulus padamu. Ia bahkan bersungguh-sungguh akan perasaannya hingga melamar walau dengan kondisi dirimu yang masih tak bisa menyingkirkan nama pria sialan lain dalam benakmu. Il Woo akan membantumu perlahan-lahan untuk tak terus-menerus terpuruk dalam jurang yang tak berdasar akibat masa lalu.

Dara tersenyum. Ia kini akan lebih yakin pada pria di hadapannya tersebut. Itu janjinya. Tunggulah sebentar lagi, Il Woo. Dara akan segera memiliki rasa yang tulus untuk membalas kasih yang pria itu berikan padanya. Ia sangat yakin karena bersungguh-sungguh dengan janjinya. Namun tak lama kemudian, senyuman itu segera tergantikan dengan raut wajah tegang. Seorang wanita berpakaian rapi datang tiba-tiba pada mejanya sesaat setelah pelayan datang mengantarkan makanan.

Annyeonghaseyo, Sajangnim.”

Manik hazelnya tak lepas dari wanita yang kini memunggunginya tersebut. Tak tahu dari arah mana, namun ia langsung menyapa Il Woo dan kini sedang berbicara serius dengan pria itu. Otaknya mulai berputar. Rasanya ia pernah mengenali gesture familiar dan suaranya yang khas dari wanita ini. Mungkinkah… Kim Soo In? Kebetulan sialan apa yang menghampirinya kini?

Kalau Dara tak salah ingat, wanita ini adalah sekretaris Ji Yong beberapa tahun lalu. Semakin dipikirkan, maka ia semakin yakin dengan ingatannya. Wanita ini memang Kim Soo In. Ia hafal betul dengan cara bicaranya. Namun kini maniknya memutar tak tentu arah. Bingung dan kaget ia rasakan di saat yang bersamaan. Sebuah kalimat dari wanita itu dapat ia dengar jelas sebelum sedetik kemudian menghentak jantungnya.

“Atasan kami juga akan berada di sini untuk mengadakan pertemuan. Beliau sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi akan tiba.”

Dara melebarkan maniknya. Atasannya? Apakah itu berarti… Ji Yong? Tidak. Ia tidak boleh berada di tempat ini jika pria itu akan segera datang. Dengan pikirannya yang masih limbung, ia putuskan untuk meraih tasnya lalu melesat pergi tanpa berkata apapun.

“Kau akan pergi kemana?”

Panggilan Il Woo menghentikan langkahnya. Dara berbalik sekilas untuk kemudian mengisyaratkan dengan tangannya bahwa ia akan pergi ke kamar mandi tanpa berucap. Ia segera berlari setelahnya, sebelum bertemu pandang dengan Soo In.Yang dapat ia pikirkan saat ini adalah menghindar dan bersembunyi sejauh mungkin dari kemungkinan untuk bertemu dengannya. Ya, Dara memang terlalu pengecut jika harus berurusan lagi dengan pria itu. Ji Yong.

*****

 

To be continued…

 

Note:

Nah loh, Ji Yong-nya kemana? Untuk part ini diilangin dulu yaa. Kali aja ada yang baper sama Sandara-Il Woo *dikempleng applers. FYI, support cast di FF yang belum di-remake adalah Yong Hwa. Namun dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Il Woo yag dipilih untuk menggantikan. Berharapbanget feel-nya bagus meskipun cast-nya diganti. Part selanjutnya bakalan lebih seru dengan kehadiran Ji Yong lagi. Stay with my FF, readers… ^^

Advertisements

27 thoughts on “[DGI FESTIVAL 2016_PARADE] Selfish Bastard #6

  1. Dara harus tahu selama dia pergi jiyong gak pernah punya pacar dan hidupnya kayak orang urakan, harus ada orang yg ngasi tau dia tentang hal itu 😢

  2. Kasian klo ilwoo jd pelarian,
    Pdhl dara msh keinget jiyong mulu…

    Pgn liat mreka ktmu lg,,,
    Mgkn gilanya jiyong bisa smbuh,, atau bakal makin parahh…. Wkwkwkwkwk

  3. ngbca part inih , asem bgt rasanya kgk da manis gurihnya wkwk mngkin krn kgk da jiyong -_-
    btw gw kok jd sebel ma dara yah , ntahlah. 😂😂
    ni gw bca’a dicpetin. part ilwoo kgk dibca tak lewatin gitu ajah,hahaha
    jd mngkin dipart ni dkit bcanya wkwk intinya kgk demen ma dara yg lari dr mslah.. egois kgk mw dngerin pnjelasan jiyong. jg kesian ma ilwoo yg dijadiin pelarian😂, ilwoonya jg gtu,wong dara nya kgk cnta jg -_-
    au ah rumit nih. ahahaha

  4. Entah kenapa aku mulai suka sama kedekatan Dara-Il Woo karena ketiadaan Jiyong di chapter ini. So.. cepet datengin Jiyongnya biar aku gk beralih shiper wkwkwkwk😂

  5. Kok aku mh ngerasa ngeganjel d ulu hati lihat kedekatan dara-ilwoo.. Apalagi ketika tahu jiyong berubah jd pemabuk.. Penampilan ga se rapih dlu..
    Beda sma dara yg berubah mkin cantik..
    Apa gak ironis ya. Perbandingan Keadaan jiyong sma dara
    Smoga akhir ny daragon happy ending..
    Jd ikutan deg deg an jiyong mw ktmu dara stlh 2 thun ga ktmu..
    Tarik napas ..buang.. 3x

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s