Bad Boy For Bad Girl [Chap. 7]

BFB Cover

Author: ElsaJung | Cast: Sandara Park/Dara – 2NE1, Kwon Jiyong/G-Dragon – BigBang, Jung Sooyeon/Jessica | Support Cast: Choi Seunghyun – BigBang, Park Bom – 2NE1, Dong Youngbae – BigBang, Kang Daesung – BigBang, Lee Seunghyun/Seungri – BigBang | Genre: Comedy, Romance, a little bit sad | Rating: Teen | Lenght: Chaptered/Series

.

.

.

.

Bab 7

Beep!

Lagi-lagi pesan dari si keparat.

‘Tik-tok-tik-tok.’

Shit! Dara akan merobek wajah orang itu jika mereka bertemu di Seoul nanti!

***

Fuck it!” Celetuk Dara membuka pintu rumahnya secepat mungkin.

Seorang wanita paruh baya melempar senyum ke arahnya. “Bukankah masih ada waktu seminggu? Kenapa kau pulang cepat?” tanya wanita itu sembari meletakkan sepiring kecil telur gulung di meja untuk lauk makan malam.

“Ke mana dia pergi, grandma?” Dara bahkan tak mampu mengatur napasnya dengan baik.

“Ah, gadis itu?” ujar nenek Dara memberi sebotol air mineral pada cucunya. “Gadis itu pergi beberapa menit sebelum kau datang. Dia ada di rumah ini hampir sehari sejak kau berlibur. Nenek baru saja menyiapkan makan malam untuknya.”

“Kenapa nenek membiarkan orang asing menginap di sini?” tanya Dara penuh emosi.

“Dia temanmu, jadi-”

She’s not my friend! I don’t know her!

“Tapi-”

“Aku tahu aku terlalu lancang, tapi kumohon jangan pernah membiarkan siapa pun yang tidak nenek kenal masuk ke dalam rumah saat aku pergi ke luar.” Dara memeluk neneknya erat. “Aku memiliki firasat buruk. Dan, jangan pergi ke mana pun tanpa memberitahuku, okay? Selain itu nenek harus lebih banyak istirahat.”

Nenek Park hanya mengangguk.

“Apa yang dia lakukan pada nenek? Apa dia membicarakan sesuatu?”

“Dia mengajak nenek pergi ke suatu tempat. Sebelumnya, dia ingin nenek meminta izin padamu. Dia bertanya banyak hal tentangmu. Awalnya nenek tidak berniat bercerita, tapi dia tampak antusias mengetahui segala tentangmu, dia juga baik, jadi nenek menceritakan beberapa hal.”

Dara mendesah frustasi. “Oh, God,

“Kau baik-baik saja? Apa nenek berbuat salah? Kau marah pada nenek?”

“Tidak, grandma. Nenek tidak salah sama sekali. Aku yang salah karena tidak datang lebih awal.”

“Ada apa sebenarnya, Dara?”

“Tidak ada, aku merasa sedikit lelah.”

Nenek Dara menggelengkan kepalanya. “Bukan itu. Kenapa kau pulang lebih awal?”

“Kurasa Jiyong lupa kalau besok ada ujian matematika. Aku tidak ingin mengecewakan nenek dengan membiarkan nilai ujianku kosong.” Jawab Dara berbohong. “Aku harus tidur dan bersiap untuk sekolah besok. Jangan lupakan pesanku, okay?

“Tentu.” Nenek Dara tersenyum lembut.

Dara melangkahkan kakinya. Langkahnya terasa sangat berat. Ia tak habis pikir, apa yang akan terjadi kalau sampai ia telat barang dua-tiga menit. Ya, penerbangan sempat terganggu dan tak mudah baginya membujuk Bom beserta anggota BigBang lainnya untuk pulang secepat ini. Untunglah, tidak ada hal buruk yang terjadi pada neneknya. Dara sangat bersyukur untuk itu.

Sial! Siapa gadis keparat yang berani bermain-main dengannya? Sungguh, Dara akan menguliti orang itu sampai dia meminta ampun. Tidak. Dara marah bukan karena orang itu menghancurkan masa tenang liburannya, tapi karena orang itu berani macam-macam dengan berusaha menyakiti neneknya. Keparat mana yang berusaha mencari masalah dengannya?! Dara tak akan tinggal diam. Sudah ditegaskan sebelumnya, Dara adalah salah satu orang terkuat di dunia ini.

“Siapa kau, huh?” gumam Dara sembari merebahkan tubuhnya di ranjang kecilnya.

Telepon misterius itu benar-benar membuat Dara hampir mati penasaran. Dara tidak bisa mengenali orang itu dari suaranya yang sama sekali tak familiar. Siapa gadis gila yang meneleponnya tengah hari dengan nada menakut-nakuti, huh? Apa seorang pengangguran yang kelewat tak memiliki pekerjaan? Tapi, jika itu memang pengangguran, siapa dia dan untuk apa dia menemui nenek Dara? Oh, God! Seharusnya sejak awal Dara mengasah kemampuannya untuk menjadi detektif dengan begitu ia bisa mengetahui dalang dibalik semua ini.

Beep!

Satu pesan masuk! Ah, dari Jiyong rupanya.

‘Hei, ular, apa kau baik-baik saja? Tidak ada hal buruk yang terjadi, ‘kan? Kuharap tidak karena aku ingin meminta pertanggung jawaban darimu. Cepat datang ke Taman Seonyudo sekarang juga! Kau berhasil menghancurkan liburanku, jadi datang dan lakukan apa yang kuingin! Jangan buat aku menunggu terlalu lama!’

Astaga naga, cobaan apa lagi kali ini? Apa Jiyong memang sangat kurang kerjaan? Dara serasa baru mendapatkan nyawanya kembali beberapa menit lalu dan Jiyong sudah memanggilnya, LAGI?! Ah, lupakan tentang panggilan ular dan sejenisnya. Sungguh, Dara hanya menginginkan istirahat sejenak. Baik, ia akan menemui Jiyong dan pulang secepat mungkin.

Mau tidak mau Dara beranjak dari tempat tidurnya, lalu memasukkan benda persegi tipis itu ke dalam saku celananya. Bukannya ia sukarela menjadi pesuruh Jiyong. Ya, hitung saja hal ini sebagai pertanggung jawaban. Rasanya memang salah menyusahkan orang lain karena masalah pribadi. Maksudnya, semua mendapat kesusahan karena Dara meminta jadwal pulang dipercepat secara paksa. Dara merasa bersalah pada Youngbae, Seunghyun dan Bom yang terpaksa harus meninggalkan kedamaian yang mereka dapatkan di sana. Ia juga merasa bersalah pada Jiyong yang sebelumnya sudah merencanakan liburan ini. Terakhir, ia merasa sangat bersalah pada Seungri dan Daesung yang terpaksa harus memberi salam perpisahan kepada dua gadis berambut blonde dengan penuh air mata.

Okay, ini bukan seratus persen salahnya. Sebenarnya semua ini salah si gadis gila itu! Awas saja!

Setelah berpamitan dengan neneknya, Dara segera mengunci pintu rumah dan bergegas pergi ke Taman Seonyudo – tempat Jiyong mengajaknya bertemu. Dara hanya perlu berjalan kurang lebih lima belas menit sebelum sampai di taman itu. Ya, tidak terlalu jauh, tapi cukup menguras tenaga. Dara sengaja berjalan kaki. Selain membuatnya sehat, berjalan kaki juga menghemat biaya. Penghasilan Dara memang berkurang akhir-akhir ini, jadi ia harus berusaha sehemat mungkin dalam membelanjakan uangnya.

Dari kejauhan, Dara dapat melihat seorang laki-laki bertubuh tegap tengah berdiri di jembatan di sekitar Taman Seonyudo. Laki-laki itu berdiri menghadap sungai sembari bersenandung lirih. Dara berjalan mendekat dengan raut wajah malas, kemudian menoyor kepala laki-laki itu saat jarak antara mereka semakin dekat.

“Ada apa?” tanya Dara dengan raut wajah malas. Jujur, Dara memang merasa sangat lelah hari ini.

“Bisakah kau memanggilku tanpa menoyor kepala dan semacamnya?” ketus Jiyong emosi.

Dara mendengus, kemudian mengulum senyum yang dipaksakan. “Apa apa, Kwon Jiyong?”

“Astaga, kau menuruti perkataanku. Tidak seperti biasanya, Dara, sungguh.”

“Begitulah.”

Jiyong menatap Dara dengan mata memicing. Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis yang tengah berdiri sembari melipat tangan di hadapannya? Apa dia terlalu lelah hari ini? Ya, itu mungkin saja. Atau dia merasa bersalah? Ya, itu pasti terjadi. Lalu, apa terjadi masalah? Entahlah, Jiyong tidak terlalu yakin tentang itu, tapi ia merasa sesuatu terjadi pada Dara. Dilihat dari tampangnya yang lusuh, raut wajah dan intonasi yang tidak bersemangat, dapat dipastikan Dara memiliki masalah.

“Sedang bermasalah, Park?” Jiyong menyodorkan sebuah lolipop kepada Dara yang disambut oleh tepisan dari sang pemilik tangan. “Sedang bermasalah?” Ulang Jiyong.

“Tidak.”

Baik, Jiyong tidak suka dengan situasi ini. Sama sekali tidak menyenangkan.

“Wajahmu yang lusuh itu sangat mengganggu.”

“Sejak kapan kau peduli?” Dara berkata datar.

“Hei, aku bukannya peduli, tapi wajahmu itu tidak nyaman untuk dipandang.”

Dara menarik bibirnya ke samping. “Wajahku memang tidak pernah nyaman dipandang.”

“Kau lupa?” Jiyong menoyor kepala Dara hingga terhempas pelan. “Aku pernah berkata, kalau kau memiliki masalah, seharusnya kau bercerita.” Tambahnya sembari menatap Dara diiringi senyuman kecut darinya. Ya, Jiyong tidak terlalu tertarik mendengar cerita Dara, tapi percayalah, ekspresi Dara sangat menggelikan hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jiyong mencoba jujur untuk itu.

“Kau sengaja membuatku kesal? Tenang saja, aku tidak berniat melakukannya saat ini. Maksudku, memukul dan membentakmu atau semacamnya.” Ujar Dara menghirup napas panjang. “Aku tidak tertarik bertengkar denganmu. Aku merindukan kehidupanku yang tenang. Apa yang kau inginkan?”

“Aku tahu suasana hatimu sedang buruk, jadi aku sengaja memintamu datang ke sini. Sebenarnya aku tidak menginginkan apapun darimu. Hanya saja, melihat Sandara yang berbeda, bagiku itu terasa aneh dan menyebalkan. Tenangkan pikiranmu dan jelaskan padaku apa yang terjadi. Setidaknya aku ingin bersikap sedikit manusiawi padamu. Mengerti maksudku, ‘kan?”

“Tidak ada yang terjadi padaku. Aku tidak bermasalah dan tidak berniat menceritakan apapun padamu. Aku hanya merasa lelah, kesal, bersalah dan marah diwaktu yang bersamaan. Jadi, Jiyong, jangan memaksaku di dalam situasi seperti ini. Mengerti maksudku, ‘kan?” Dara mengulangi kalimat terakhir yang Jiyong tekankan padanya dengan nada mengejek.

“Ternyata kau orang yang cukup pemikir dan emosional. Aigo,” tukas Jiyong tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit sembari mengacak rambut Dara gemas.

Tiba-tiba mata Dara memicing tajam. “Jauhkan tangan kotormu!”

Okay,” Balasnya santai.

Sedetik kemudian, Jiyong mengecup kening Dara singkat. Ia kembali mengecup pipi kanan Dara singkat serta bagian pipi lainnya, lalu memeluk gadis mungil itu sekejap. Tawa bahagia terdengar jelas dari suara yang keluar dari balik mulutnya. Ia tertawa melihat Dara yang terpaku dengan mata membelalak dan rahang jatuh bak ikan. Itu sangat menggemaskan.

Satu lagi, ia mengecup bibir Dara. Ah, tidak. Hanya menyentuh permukaannya saja.

Dara tetap diam tak berkutik. Dia sangat pantas untuk terkejut. Ya, Dara tidak hanya terkejut, tapi sangat terkejut. Apa-apaan ini? Ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara untuk membentak Jiyong. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya untuk meninju Jiyong. Yang bisa dilakukannya hanya terdiam memandang Jiyong yang menyunggingkan senyuman penuh arti padanya. Jelas senyum itu bukan senyum mengejek atau semacamnya.

“Pintar sekali.” Jiyong menepuk kepala Dara layaknya tengah memuji hewan peliharaannya yang baru saja melakukan sesuatu yang menakjubkan. “Lain kali saat aku melakukan hal yang sama, jangan membentak atau memukulku. Di samping itu, anggap saja apa yang kulakukan tadi merupakan hukuman untukmu. Aku akan menghukummu dengan cara yang sama setiap kau bersalah, mengerti?”

“He-hei, Kwon-Kwon Jiyong,” Dara tergagap.

“Lupakan masalahmu dan makan permenmu! Kau tampak menyedihkan.”

Dara hanya mengangguk, kemudian mengambil beberapa bungkus permen dari tangan Jiyong.

Beep!

 Dara merasakan sesuatu bergetar dalam saku ripped jeans-nya. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Lebih tepatnya nomor yang sengaja tidak Dara masukkan ke daftar kontaknya. Dara tak berharap mendapat pesan atau telepon dari orang gila ini, sungguh.

‘Apa kau kecewa karena aku tidak ada di sana saat kau datang? Bersyukurlah, kau datang tepat waktu, jadi aku pergi tepat waktu pula. Kau sedang berada di jembatan Taman Seonyudo, ‘kan? Kau bersama Jiyong di sana. Ah, apa kau menggodanya sampai dia memberimu perlakuan spesial, huh? Aku mengawasimu, Sandara Park!’

Shit!! Apa yang orang ini inginkan darinya?! Di mana dia sekarang?! Brengsek! Dara benci ini!

Tak sampai satu detik, Dara segera mengedarkan pandangannya. Dara menelusuri daerah sekelilingnya tanpa melewatkan satu tempat pun. Ia cukup kesulitan karena di malam hari seperti ini Taman Seonyudo sangat ramai. Menyebalkan!

“Hei, gadis gila, apa yang kau lakukan?” tanya Jiyong mulai penasaran karena melihat tingkah aneh Dara yang bak maling yang mencari tempat persembunyian.

“Ah, nothing.” Sergah Dara kembali menjadi Dara yang sesungguhnya. “Hei, orang gila! Tenagaku sudah pulih sekarang. Rasanya aku ingin memukul seseorang.” Tambahnya yang memang geram dengan pengirim pesan usil itu. “Jangan sampai aku memukulmu, mengerti?”

“Memangnya tanganmu yang kurus itu bisa apa? Cih, jangan berlagak sok kuat.” Cibir Jiyong menoyor kepala Dara hingga gadis itu hampir tersungkur. “Aku baru ingat. Ibu memintamu datang ke ruangannya besok sebelum jam pelajaran dimulai. Entah ide gila apa yang hendak direalisasikannya. Sudah malam, pulanglah. Aku ada urusan jadi tidak bisa mengantarmu.”

Okay, aku akan melakukannya. Tunggu. Kwon Jiyong, jangan pikir aku sangat bahagia saat kau mengantarku.” Dara mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Jiyong, lalu melesat pergi.

“Hei!” Seru Jiyong menahan tangan Dara. “Kau lupa satu hal.”

Dara membalikkan tubuhnya yang kini menghadap Jiyong.

“Apa?”

Tiba-tiba Jiyong mengecup bibir Dara singkat.

“Selesai. Sekarang, pulanglah dan cepat tidur!”

YAK! Aku akan membunuhmu, Kwon Jiyong!!” Dara memekik dengan suara melengking.

Jiyong mendorong tubuh Dara. “Pulanglah. Anggap itu pertanggung jawabanmu!”

Pertanggung jawaban apanya? Ini namanya kesempatan dalam kesempitan!

Akhirnya, Dara pulang dengan penuh paksaan. Sebenarnya ia memiliki keinginan tinggi untuk memukul Jiyong. Ya, setelah dipikir-pikir, Dara tidak tahan jika tidak memukul laki-laki itu meski hanya sekali dalam sehari. Rasanya seperti ada sesuatu yang kurang. Saat melangkahkan kakinya, Dara menengok beberapa kali ke belakang. Ia mendapati Jiyong masih termenung di sana, memandang ke sungai yang terbentang di hadapannya. Okay, lupakan tentang memukul Jiyong. Dara rasa si tengik bodoh itu tengah bahagia dengan me time-nya.

Dara berjalan menyusuri jalanan sepi. Hari memang sudah semakin larut. Sekarang jam kurang lebih menunjukkan pukul 10 malam. Tidak ada orang yang melewati jalan itu selain Dara. Kalau pun ada, orang-orang itu tidak jalan kaki sepertinya. Rumah di sekitar juga tampak sepi dengan pintu yang tertutup rapat. Jujur, Dara tidak takut sebab ia biasa melewati jalan itu tiap malam. Tapi, ia merasa aneh saat menyusuri jalan itu malam ini.

Seseorang mengikutinya.

Itu yang dirasakan Dara.

Bukan. Sepertinya seseorang memang tengah mengikutinya.

Langkah kaki Dara lebih cepat. Ia melangkah lebar-lebar berusaha meninggalkan jalanan remang-remang itu secepat mungkin. Tidak! Jalan ini tidak terlalu seram. Biasanya hanya terdengar suara jangkrik atau suara angin yang berdesir. Kali ini tidak. Dara tahu betul, ia mendengar langkah kaki yang berjalan beriringan dengannya. Ah, tidak. Nyaris bersamaan.

DEG!

Dara terkejut setengah mati saat lampu jalanan itu mati serentak.

Nyali Dara menciut seketika. Dara takut saat menyadari seseorang mengikutinya. Hal itu mampu membuat Dara memutar ulang kenangannya tiga belas tahun lalu. Hari itu Dara kecil tengah berjalan sendiri di salah satu jalan sepi di Swiss. Dara kecil merasa seseorang mengikutinya, tapi ia tetap berjalan. Sampai akhirnya ia disekap dan dipukuli beberapa kali. Saat bangun ia sudah berada di Korea, tepatnya di depan rumah neneknya. Itu sangat mengerikan. Dara benar-benar trauma.

Beep

Pesan masuk dari si gadis gila.

‘Perlu teman, Dara?’

Dara segera membalas pesan itu.

‘Pergilah ke neraka, Bitch!’

Tak lama, satu pesan kembali tertera di layar ponselnya.

‘Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang, sayang. Kau masih punya banyak waktu sebelum aku mengakhiri hidupmu. Kau takut karena seseorang mengikutimu? Tenang, aku sengaja mengikutimu. Ah, aku tahu betul seperti apa masa lalumu. Tidak semuanya memang. Tapi, aku akan tahu semua itu sebentar lagi. Kau membuatnya terlalu ketara.’

Shit!

Dara segera memacu langkahnya secepat mungkin. Persetan dengan siapa gadis penguntit itu! Dara benar-benar takut saat seseorang mengikutinya. Ia takut mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya. Dara takut saat ia memejamkan mata ia tak lagi berada di tempat yang sama. Ingat trauma yang dialaminya?

Beep

‘Malam ini kau selamat, Sandara Park. Aku mengawasimu.’

***

“Dia tidak banyak bicara hari ini.” Ujar Dasung melirik Dara.

“Lihat kantung matanya yang berwarna hitam. Benar-benar seperti panda.” Celetuk Seunghyun.

“Haruskah aku mendekatinya?” Seungri siap untuk beraksi.

Youngbae menahan dada Seungri dengan lengannya. “Kurasa dia sedang dalam kondisi siaga satu. Jika kau mendekatinya, bersiaplah ditendang dan dilempar sampai kau tidak sadar kalau kau memiliki bokong. Ya, itu terlalu sakit. Sarafmu akan mati rasa.”

“Separah itukah? Kau pernah merasakannya?” tanya Seungri bergidik ngeri.

“Bukan Youngbae.” Seunghyun menyela. “Tapi adik kelas perempuan yang berhasil dibuat babak belur oleh Dara karena mengganggunya minggu lalu. Dia mengunggah foto di SNS dan mengatakan kalau ia merasa bokongnya mati rasa setelah ditendang Dara.”

“Itu aneh.” Daesung mengikuti jejak Seungri – bergidik ngeri. “Dan, adik kelas yang aneh pula.”

“Begitulah. Kau bertingkah layaknya tidak tahu keganasan Dara. Dia lebih ganas dari reptil.”

“Dan lebih ganas dari tyrex.” Tambah Youngbae yang kali ini ikut bergosip.

“Hei, bocah-bocah menyebalkan, aku mendengar kalian!” sergah Dara dari kejauhan.

“Ucapkan selamat tinggal pada dunia.” Seunghyun memejamkan matanya ketakutan.

“Jaga bicara kalian, orang kaya! Aku bisa lebih ganas saat sedang marah, kalian tahu?”

Dara tidak berniat bercanda saat ini. Ia akan marah sungguhan jika seseorang berusaha memancing emosinya yang terlanjur tersulut sejak kemarin malam. Ya, kemarin malam. Syukurlah, Dara pulang dengan selamat tanpa luka sedikit pun. Tapi, satu hal yang dikhawatirkannya. Gadis gila itu mengirim pesan baru tadi pagi yang menyatakan bahwa si gadis tersebut akan selalu mengikuti Dara.

“Sandara Park, kadar emosimu itu harus dikurangi. Kau tidak mau memakan lebih banyak korban, ‘kan?” ujar Bom menaikkan sebelah alisnya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Dara. “Ayolah, ada apa denganmu? Apa yang membuatmu marah?”

Dara diam seribu bahasa. Tidak ada satu pun kata yang ingin diucapkannya.

“Apa sekawanan orang dungu itu membuatmu marah?”

“Tidak, Bom. Aku tidak marah, aku baik-baik saja. Sangat baik.”

Tidak. Dara tidak marah. Ia ketakutan.

Takut. Kata itu memang tidak biasanya menggambarkan suasana hati Dara. Dia tidak pernah takut pada apapun. Hanya saja, ia tidak suka ketika seseorang menguntitnya. Dara merasa sesuatu mengancamnya dari belakang. Ketakutan Dara bukan hanya selama perjalanan setiap sepulang kerja atau dari tempat lain, tapi ia selalu merasa takut di mana pun ia berada.

“Dara-ah, kau ada waktu senggang hari ini?” seorang gadis berponi menepuk pundaknya dari belakang, membuat Dara terkejut bukan main. Bom pun ikut menoleh.

“Jessica, apa lagi kali ini?” tanya Bom malas.

“Aku ingin mengajak Dara pergi ke bioskop, kau mau ikut?” Jessica bertanya dengan nada riang.

“Tidak, Jessica. Aku tidak dalam mood yang baik dan aku harus bekerja di cafe.” Berbeda dari biasanya, Dara menjawab tanpa bentakan atau nada sinis sedikit pun. Ia hanya menatap linglung ke depan sembari menggenggam ponselnya.

Jessica memajukan bibirnya. “Baiklah, aku akan pergi ke tempat kerjamu untuk membawakan makanan sepulang sekolah.” Serunya, kemudian menghambur pergi ke luar kelas.

“Astaga, gadis mengerikan.” Bom bergidik ngeri.

Beep!

‘Kusarankan, jangan menolak niat baik orang yang kasihan padamu, mengerti? Kau sangat menyedihkan. Apa kau merasa tertekan karena mendapat pesan dariku? Kkkk~ Lucu sekali melihat ekspresi menggelikanmu. Semoga harimu lebih mengenaskan! Ups! Menyenangkan!’

Hanya dengan membaca pesan itu mata Dara serasa terbakar. Panas. Panas sekali. Ia bisa saja langsung mengoyak tubuh si pengirim pesan jika orang gila itu menampakkan wujud aslinya di hadapan Dara. Tapi, mengingat orang itu memiliki mental kacang sehingga tak menampakkan batang hidungnya meski hanya seinci, hal itu membuat Dara kesal bukan kepalang. Siapa orang itu sebenarnya? Apa yang diinginkannya dari Dara?!

“Jessica tak pernah menyerah mendekatimu. Apakah sesuatu mengganggu otaknya? Ya Tuhan, ini membuatku merinding bukan main. Gadis psikopat itu memang mengerikan, bukan-” Belum sampai Bom menyelesaikan kalimatnya, ia sudah mendapat pemandangan yang membuatnya bertanya-tanya. “Dara, sebenarnya kau kenapa?”

Haruskah Dara bercerita? Sepertinya tidak. Ini adalah sesuatu yang bisa ditanganinya seorang diri. Dara tidak memerlukan bantuan siapapun. Ya, Dara yakin, orang yang mengiriminya teror aneh itu hanyalah cecunguk kecil yang bahkan bisa ditelannya bulat-bulat.

“Apa kau bertengkar dengan Jiyong?”

Ah, benar! Jiyong! Dara ingat bahwa Jiyong memintanya mendatangi ruangan Direktur.

“Maaf, Bom. Aku harus pergi.” Ujar Dara segera melesat pergi meninggalkan Bom.

Dara segera memacu langkahnya. Ia berlari secepat mungkin. Dara tidak bisa berjalan lamban atau berjalan normal seperti biasanya. Setiap Dara melangkahkan kakinya, ia mendengar suara langkah kaki lain yang seakan menjadi gema dari langkah kakinya. Dara tidak mau mendengar langkah kaki yang selalu mengikutinya lagi dan lagi, oleh karena itu Dara lebih memilih untuk berlari sehingga ia tak perlu khawatir pada bayang-bayang orang gila sialan itu.

Perlu waktu cukup lama bagi Dara untuk sampai di ruangan Direktur yang terletak di gedung lain, tepatnya di dekat gedung sekolah. Bukan hanya itu. Ruangan Direktur terletak di lantai paling atas sehingga Dara harus menggunakan tenaga ekstra setiap menaiki satu per satu anak tangga. Menggunakan lift? Oh, tidak. Dara tidak mau berdiam diri menunggu pintu lift terbuka dengan perasaan getir karena merasa diamati dan dibuntuti oleh seseorang.

Lima belas menit berlalu. Setelah melewati tangga darurat, akhirnya Dara sampai di ruangan Nyonya Kwon. Tangan mungil Dara bergerak memutar kenop pintu hitam di hadapannya. Dara mendorong pintu itu perlahan, hingga ia menemukan seorang perempuan paruh baya dengan rambut hitam yang hanya sepanjang leher menatapnya penuh rasa senang. Tak jauh dari keberadaan perempuan paruh baya itu, seorang laki-laki yang tampak berpuluh tahun lebih muda tengah duduk sembari menundukkan kepalanya.

“Apa Bibi Kwon mencariku?” tanya Dara yang kali ini bersikap lebih sopan dari biasanya.

“Astaga, Dara! Kau memanggilku ‘bibi’?” seru Nyonya Kwon tiba-tiba memeluk Dara dengan penuh puji syukur. “Aku tidak percaya ini!” tambahnya tetap histeris.

“Bibi, anda membuatku sulit bernapas.” Kalau perempuan yang tengah memeluknya bukan Nyonya Kwon, mungkin Dara sudah menendang orang itu sejak tadi karena bersikap lancang.

“Ah, maafkan aku.” Nyonya Kwon tersenyum penuh wibawa. “Dara-ah, bibi ingin meminta bantuanmu. Apa kau bersedia?” tanyanya mengusap ujung kepala Dara – berusaha membujuk.

Dara menaikkan sebelah alisnya sembari sesekali melirik Jiyong yang mengerlingkan matanya seakan memberi sinyal kepada Dara untuk menolak permintaan Nyonya Kwon.

“Tapi, Bibi-”

“Dia tidak akan melakukannya, ibu!” sergah Jiyong memotong ucapan Dara.

Nyonya Kwon memicingkan matanya kesal ke arah Jiyong – sukses membuat laki-laki itu diam seribu bahasa tak berani menjawab.

“Apa kau tertarik melakukan bisnis dengan bibi?” tanya Nyonya Kwon tampak antusias.

“Tapi, aku sudah memiliki pekerjaan.”

“Tidak, Dara. Bibi akan membayarmu berkali-kali lipat dari gajimu di cafe itu.”

Dara menggaruk lehernya. “Masalahnya, aku tidak enak pada Bibi Ahn. Tidak mungkin aku berhenti bekerja begitu saja mengingat dia sangat baik padaku.”

“Dara benar, ibu.” Celetuk Jiyong kembali menyela.

Lagi-lagi Nyonya Kwon memicing sembari menggeram garang.

Okay, aku akan diam.”

“Apa bisnis itu ada hubungannya dengan Jiyong?”

Nyonya Kwon menutup wajahnya malu-malu. “Jadi, begini, Dara. Kau ‘kan tahu, Jiyong sangat buruk dalam pelajaran. Bibi benar-benar bosan melihat nilai rapotnya yang penuh dengan warna merah. Mau dipaksa seperti apa pun, Jiyong tetap tidak berminat memperbaiki nilainya. Karena kau dekat dengan Jiyong, mungkin kau-”

“Kami tidak dekat!” Ucap Dara dan Jiyong serentak.

“Eh?” sebelah alis Nyonya Kwon terangkat.

Sial! Dara ingat pada persetujuannya dengan Jiyong jauh-jauh hari. Sama seperti Dara, Jiyong juga ingat bahwa mereka harus berpura-pura di hadapan Nyonya Kwon. Ahh, ini sangat menyusahkan!

“Maksudku, aku memang dekat dengan Jiyong, tapi aku sibuk dan tidak memiliki waktu luang untuk menjalankan bisnis atau apa pun itu. Aku sudah menjelaskan alasanku kepada bibi beberapa menit lalu. Kurasa aku tidak perlu memperjelasnya lebih dalam.”

“Ayolah, Dara, bibi mohon. Apa kau tega membiarkan Jiyong yang malang ini selamanya menjadi orang bodoh?”

Apa peduliku dengan itu! Runtuk Dara membatin.

“Ibu, jangan lakukan hal gila!”

“Hei, ibu hanya ingin kau mendapat nilai yang lebih layak, Jiyong! Apa kau tidak sadar kalau nilaimu benar-benar kacau?! Kau selalu membuat ibu menahan malu setiap rekan-rekan ibu bertanya tentang sekolahmu. Selama ibu masih hidup, tolong buat ibu bangga.” Celoteh Nyonya Kwon dengan emosi yang mulai tersulut. Sedetik kemudian, ia menatap Dara dengan mata berseri-seri. “Bagaimana Dara? Kau boleh bekerja di cafe setiap sore dan datang ke rumah bibi di malam hari setiap empat kali dalam seminggu. Bibi ingin kau mengajari Jiyong semua materi kelas XII yang kau ketahui. Bibi tidak peduli mau kau apakan dia. Mimpi bibi untuk memiliki putra yang pintar bergantung padamu.”

Tunggu dulu. Apa Nyonya Kwon baru saja memberi lampu hijau pada Dara untuk melakukan semua hal yang diinginkannya pada Jiyong? Sebenarnya bisnis itu tidak terlalu sulit dilakukan. Dara hanya perlu mengajari Jiyong pelajaran yang sudah dihafal dan dipahaminya dengan sekali membaca, lalu mendapat bayaran tinggi. Ya! Uang itu untuk pengobatan neneknya yang tertunda sebulan karena tidak memiliki cadangan uang. Permasalahannya hanya satu, yaitu Dara tidak tahan berada di dekat Jiyong dalam waktu lama. Tapi, setelah mendengar ucapan Nyonya Kwon, Dara merasa siap bergabung dalam bisnis itu secepat mungkin.

Dara menyeringai ke arah Jiyong. BANG! Mati kau, Jiyong!

Sementara Jiyong memicingkan matanya tanda tak suka. Jangan senang dulu, Dara!

“Aku akan melakukannya.” Ujar Dara membentuk guratan tipis di bibirnya.

“Benarkah? Bibi turut senang, Dara. Besok malam kau bisa datang. Terimakasih.” Nyonya Kwon kembali memeluk Dara erat.

“Tentu, aku akan datang besok malam.”

Hahaha.. Kwon Jiyong, aku akan menjadikanmu sebagai pelampiasan dari kemarahanku!

***

“Kau sengaja melakukannya?” tanya Jiyong mendorong Dara sampai gadis itu hampir tersungkur.

“Beraninya kau! YAK! Aku hampir mendapat luka karenamu!”

“Dan aku mendapat kesialan seumur hidup karenamu!”

“Kau pikir aku senang melakukannya?!!” teriak Dara lantang di koridor sekolah yang sepi.

“Kalau kau tidak senang, kenapa kau menyeringai?!” Jiyong tak mau kalah berteriak.

“Aku sedang membutuhkan uang, kenapa?!” Dara berteriak tepat di telinga Jiyong. “Kau mau ini?” tambahnya menyodorkan kepalan tangan di depan wajah Jiyong.

“Jangan main-main denganku, lidi!”

“Karena aku kurus, bukan berarti kau bisa memanggilku lidi!”

“Bagaimana dengan ular?”

“Aku bukan ular!!” Amarah Dara semakin menjadi.

“Ahh, bagaimana dengan babe?

YAKKK!!!

Seluruh benda di koridor memantulkan suara Dara yang melebihi suara lantang normal manusia. Suara yang memekakkan telinga Jiyong. Saat ini Dara tengah menatap Jiyong dengan tatapan tajam setajam ujung jarum. Ia memicing menunjukkan rasa tidak sukanya pada Jiyong. Astaga, laki-laki itu sangatlah gila. Disaat suasana hati Dara berada di puncak paling buruk, Jiyong dengan santainya mengucapkan kalimat yang membuat kepala Dara sakit seketika. Benar-benar tidak bisa dimaafkan!

Tangan Dara terasa gatal. Ia ingin memukul Jiyong saat ini juga!

“Dara Sunbae,

Seorang laki-laki dengan kacamata kotak berbingkai hitam berjalan mendekati Dara, membuat gadis itu menunda niat buruknya. Jiyong yang berada di dekat Dara pun terdiam bermaksud memberi kesempatan kepada laki-laki itu untuk berbicara.

“Selagi aku bersikap baik, bicaralah.” Jiyong melempar pandangannya dari laki-laki itu.

Laki-laki itu menunduk memasang tampang ketakutan. “Tadi saat aku keluar dari perpustakaan ada seseorang yang memintaku menyampaikan pesan kepada Dara Sunbae.” Ujarnya gugup. Dara menaikkan sebelah alisnya, sementara Jiyong tetap menyimak. “Dia ingin menemuni Dara di kolam renang bawah tanah.” Tambahnya.

“Kolam renang bawah tanah?” Kini giliran Jiyong yang menaikkan sebelah alisnya.

“Ya.”

“Bagaimana penampilan orang itu?” tanya Dara. “Hei, seperti apa? Katakan padaku!” Dara mengguncang bahu laki-laki di hadapannya seperti orang kerasukan. “Apa yang dia kenakan, seperti apa wajahnya dan apa dia memakai seragam seperti kita?”

“Dia memakai pakaian serba hitam dari atas sampai bawah. Dia mengenakan celana dan mantel. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia memakai masker dan kacamata hitam. Aku juga tidak dapat memastikan dia laki-laki atau perempuan karena dia menulis pesan untuk sunbae di selembar kertas.”

“Baik, kau boleh pergi.” Dara memijat keningnya.

“Apa kau membuat masalah dengan seseorang?” tanya Jiyong menarik Dara, mempersempit jarak antara keduanya.

“Pulanglah, Ji. Aku tidak membuat masalah dengan siapa pun.”

“Bagaimana aku bisa pulang, huh?

“Kau punya kaki, kenapa kau bertanya bagaimana caramu pulang?”

“Bukan begitu. Aku akan menemanimu, Dara.”

“Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu untuk itu.”

Jiyong menggenggam pergelangan tangan Dara. “Sekolah ini milikku. Kau tidak bisa memerintahku untuk melakukan hal yang tidak ingin kulakukan.”

“Aku akan mengunjungimu besok sepulang sekolah. Jangan menghubungiku sebelum kau menerima pesan dariku, okay? Sekarang, pulanglah.” Dara mendorong tubuh Jiyong membuat laki-laki dengan coat coklat itu berjalan beberapa langkah ke belakang. “Pulanglah!”

Jiyong menoleh beberapa kali ke belakang. Ia curiga dengan sifat Dara belakangan ini. Semenjak kepulangan mereka dari berlibur. Tidak. Semenjak kemarin malam, sikap Dara benar-benar aneh. Gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diperlihatkannya kepada siapa pun. Belum lagi sikap Dara yang seperti orang kerasukan beberapa menit lalu. Ini membuat Jiyong merasa penasaran sekaligus khawatir.

Sementara itu, Dara yang sebelumnya berdiam diri pun segera memacu langkah saat punggung Jiyong menghilang di ujung koridor. Dara berlari secepat kilat, menuruni puluhan anak tangga. Tidak ada yang ditakutkannya. Ia ingin tahu, siapa pecundang yang mencoba bermain-main dengannya? Diteror lebih menakutkan daripada bertemu dengan peneror aslinya. Dara tidak pernah dipermainkan seperti ini selama hidupnya.

Suasana kolam renang bawah tanah sangat suram. Selama ini Dara belum pernah memasuki kolam renang itu karena Dara selalu absen dari pelajaran renang. Renang menjadi trauma mendalam kedua setelah ketakutannya ketika dibuntuti seseorang. Hal itu saling berhubungan dan Dara tidak pernah membicarakannya kepada siapa pun.

Jadi, dulu, jauh sebelum Dara dibuang di Korea, Dara mendapat penyiksaan dari beberapa orang yang tidak dikenalnya. Dara kecil yang bahkan tidak mengerti cara menyelam dibiarkan berada di kolam renang yang dalam. Dara berusaha berenang, mencari bijakan dan menyelamatkan dirinya. Entah apa tujuan dari orang-orang itu melakukan tidak kejahatan pada Dara, hal itu membuatnya takut setengah mati. Dara pingsan. Saat bangun, ia sudah berada di tepi kolam renang dan para laki-laki berseragam hitam itu tak ada di sekitarnya. Peristiwa dibuntuti pun terjadi setelah Dara mencoba mencari keberadaan rumahnya karena Dara yakin, ia berada di tempat yang sangat jauh.

Ah, tidak! Dara tidak mau membahas masa lalunya yang mengerikan!

Dara memasuki kolam renang dengan pintu yang terbuka lebar-lebar. Ia terus berjalan sampai berada di tepi kolam renang. Di dalam benaknya, Dara serasa melihat dirinya dari masa lalu yang tengah terbaring di tepi kolam. Tubuhnya yang kedinginan. Shit!

“Dimana kau? Kau sengaja melakukan ini padaku?”

Tidak ada jawaban yang didengar Dara. Yang didengarnya hanya pantulan suaranya sendiri.

“Jawab aku!!”

Hening.

“JAWAB AKU, BODOH!! SHITTT!!” Dara mengumpat.

Masih hening.

“DIMANA KAU?!!” Dara mengedarkan pandangannya.

“Aku tidak tahan denganmu, kau membuatku kesal.”

BYURR!!

Sesaat setelah mendengar kalimat dari orang asing itu, Dara terdorong. Gadis itu kehilangan keseimbangan sampai terjatuh ke dalam kolam serang.

Bunyi kecipakan air menggema.

“Selamatkan dirimu.” Ujar seseorang yang berjalan mundur sembari mengencangkan mantelnya.

“To-long-” Ucap Dara tertahan karena air memasuki mulutnya.

“Selamat tinggal.” Orang itu menutup pintu ruang kolam renang bawah tanah, lalu menguncinya dari luar.

Batin Dara berteriak. Ketakutan menyelimuti tubuhnya. Ia benci kolam renang. Ia tidak suka!

Seseorang, tolong aku.

***

next>>

Note:

Holla, guys!! I’m comeback setelah berhibernasi dalam waktu yang lama. Maksudnya, dalam menggarap/? Ff ini. Yap, aku sengaja ngepost karena it’s too long. Aku gabisa hiatus dalam waktu yang lama. Aku bener-bener minta maaf kalo kalian mungkin terpaksa harus membaca chapter sebelumnya karena udah lupa karena kelamaan. Harapanku kalian tetap support ff ini. Mungkin aku bakal post ff ini seminggu sekali maksimal. Seperti pesanku di ff sebelumnya, aku sebenernya bukan orang yang mempermasalahkan UN sebagai alasan gabisa post ff. Tapi, memang begitu adanya. So, semoga kalian mengerti dan memaafkan kesalahan author yang hanya bisa berharap mendapat kritik dan saran dari kalian. Ah. Buat readers yang mau menghadapi UN, semangan yak!! Hope you like it. I love you so much, guys. Thankssss… Pyoonggg^^

 

Advertisements

33 thoughts on “Bad Boy For Bad Girl [Chap. 7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s