CHEONGDAMDONG HOST CLUB ~ Loser~ [Chap 13]

cheongdamdong host club

Author :: Hanny G^dragon (twitter : @Hannytaukand)
Cast     :: Sandara Park (dara), Kwon Jiyong (Gdragon), All Member Big Bang
Genre  :: WARNING ~~Menjunjung tinggi kemewahan, kekonyolan, dan keromantisan,,,kekeke

 

            Annyeong, lagi pada potek atau happy liat mv Big Bang yang fenomenal hahaha. Author sedih mereka beranjak dewasa dengan cepat, hoho (ia lah duluan mereka yang lahir) mv nya ckckckc *ga ngedip.com liatnya hahaha. Tadinya ga mau terusin ini ff tapi chingu koplak, cyopta, plus istrinya panda @cumi_Orion ngetwiit suruh terusin jadi karena ada yang setia saya usahakan melanjutkannya (karena sempet males coz comentnya makin ngilang) oke deh udah curhatnya, mari baca semoga menghibur, gumawo readers yang setia dengan karya author hanny gumawo juga untuk yang suka ngetwiit tanyain ff author, hehehe *cipox basah (adegan Top_loser*kekeke).

Author Pov

“Oppa” ucap Dara kaget melihat namja yang ada di hadapannya.

“Dara? Jadi..” ungkap namja itu tak kalah terkejutnya dengan Dara.

“Apa kau mengikutiku?” tanya Dara pada namja jangkung itu.

“Hahaha, aku tak tahu kau akan berlibur ke sini. Dan bukankah ini sebuah pertanda bahwa kita dipertemukan di manapun, itu mengartikan kita berjodoh?” ungkap Woo bin dengan senyum khasnya*senyum_menggoda yongdo mood on.

“Aish, aku sedang tak mood bercanda oppa. kau disini berlibur juga?” tanya Dara lagi yang masih tak percaya Woo bin berada di tempat yang sama.

“Aku bekerja, aku fotografer dan senang sekali kau ternyata disini juga Dara-ah”jawab Woo bin sambil mengacak-acak rambut Dara.

“Yang aku tahu kau itu pebisnis, ternyata kau fotografer” gumam Dara pelan namun masih terdengar Woo bin.

“Kekeke, aku memang banyak keahlian Dara, jadi kau jangan menyalahkan dirimu sendiri jika kau berfikiran seperti itu” ucap Woo bin bangga.

“Omo, kau berkepala besar oppa, hehehe” ucap Dara yang kini sudah mencairkan kemarahan yang dia sendiri tak mengerti marah karena apa.

“Kau sedang apa di sini sendirian, bukankah ini sudah jauh dari pantai? Dan mana Jiyong kau tidak bersamanya? Apa ia meninggalkanmu sendirian seperti ini?” tanya Woo bin seperti mengintrogasi Dara.

“Emm, aku tanpa sadar berjalan sampai di sini, kekeke dan dengan si rambut kemoceng itu, aku tak tahu, mungkin dia sedang bersama yeoja yang ia kenal di pantai” jawab Dara kembali dengan wajahnya yang kesal.

“Kau kesal karena dia bersama yeoja lain?” tanya Woo bin tiba-tiba. Dan bersamaan dengan itu ekspresi wajah Dara berubah dan dalam hatinya pun bertanya apakah memang dia marah karena Jiyong bersama yeoja itu?.

“Annio, kau jangan mengada-ngada oppa. Apakah kau sering ke sini?” tanya Dara dengan mata bulatnya.

“Ne, modelku banyak yang meminta di Bali, wae kau menanyakan hal itu?” ungkap Woo bin sambil mengecek hasil pemotretannya dari kameranya.

“Bisakah kau mengajakku berkeliling pulau ini? Aku masih tidak mengenal siapapun dan aku belum mengerti bahasa yang di pakai di pulau ini” pinta Dara dengan memasang wajah memelas seperti kucing koboi di film Sreg.

“Omo, jangan memasang wajah seperti itu. Bisa-bisa kau tak akan pernah ku lepaskan Dara-ah. Kekekeke. Kajja aku akan dengan senang hati menjadi pemandu tour mu, namun ini tidak gratis kau harus membayarku dengan sesuatu” ucap Woo bin dengan mata yang memancarkan ide iblisnya *plus alis mata elang terbang.

“Isshh, kau ini perhitungan sekali oppa. emm baiklah, aku harus membayarmu dengan apa? Jika uang kau sudah tau aku tidak mempunyai uang banyak” ucap Dara cemberut sambil memainkan ujung kaos besar yang setengah basah karena bermain ombak.

“Aku sudah muak dengan uang Dara, jangan khawatir. Aku hanya ingin kau mau menjadi modelku, dan kau harus menjadi dirimu sendiri, menjadi Sandara Park sesungguhnya. Bukan Dara seorang namja, tapi Dara seorang yeoja. Bisa?” jelas Woo bin tersenyum. Sebenarnya ini adalah ide Woo bin yang ingin melihat kecantikan Dara lagi, dan itu selalu menjadi candu baginya.

“Mwo? Model? Bicara pada orang lainpun aku sangat kaku oppa, bagaimana aku bisa menjadi modelmu? Itu tidak mungkin” tolak Dara.

“Sudahlah, percayakan padaku. Kajja kita mulai make over” ucap Woo bin menarik Dara yang masih berfikir seribu kali untuk menyetujui ide Woo bin.

            Di sisi lain Jiyong yang sedang sibuk mencari Dara mulai seperti orang kerasukan. Dia berteriak ke sana kemari mengundang tatapan membunuh dari para pengunjung pantai yang terganggu oleh suara cemprengnya memanggil-manggil Dara namun Jiyong tidak pernah menghiraukan itu.

“Aiishht kemana si dada kerucut itu? Apakah ia sedang berenang bersama ubur-ubur? Atau dia diculik monster gurita?”ucap asal Jiyong sambil terus menghubungi nomor handphone Dara, namun hanya suara operator yang menjawab panggilan Jiyong.

**

Dara Pov

“Oppa, apakah aku harus memakai ini?” tanyaku pada Woo bin oppa, aku memakai dress selutut warna biru dan rambutku kini terurai panjang berwana coklat dan bergelombang. Ini adalah sihir yang dipakai oleh salon make up pilihan Woo bin oppa.

“…” namja yang sedang ku tanyai pendapatnya menatapku tak berkedip dan tak menjawab apapun. Oke aku mulai takut dengan tatapan matanya yang besar plus alis elangnya.

“Ya!! Apakah ini sangat jelek sehingga kau tak mau menjawab pertanyaanku. Baiklah aku akan kembali menjadi sebelumnya” ucapku kesal dan saat aku ingin berbalik tiba-tiba sebuah tangan menghentikan langkahku.

“Kau sangat cantik Dara-ah aku kehilangan kata-kata”ungkap Woo bin oppa. dia penggombal luar biasa.

“Isssh, kau seorang perayu Kim Woo bin oppa” ucapku sambil tersenyum dan ia pun membalas senyumku.

“Kajja, kita berkeliling. Kau sudah siap” ucap Woo bin masih dengan tersenyum.

“Call, kajja” ucapku semangat. Tapi tunggu dulu, aku belum menghubungi si kemoceng itu. Ah biarlah pasti dia sedang asik dengan yeoja cantik di pantai itu. Gah aku muak mengingatnya.

            Kami berkeliling pulau Bali. Di sini sangat indah dan aku sangat menyukainya. Dan kini kami berada di sebuah pasar tradisional yang sangat unik. Banyak sekali barang-barang unik khas pulau ini.

“Ya oppa! berhenti memfoto diriku” protesku pada Woo bin yang dengan sengaja memfotoku tanpa memberitahuku terlebih dahulu.

“Bukankah kau saat ini menjadi modelku? Dara kau tidak lelah seharian ini?” tanya nya padaku sambil memainkan kamera yang selalu tergantung indah di leher jenjangnya.

“Anni, aku sangat senang oppa. Gumawo. Kajja kita berfoto” ucapku menarik kamera yang masih menggantung di lehernya.

“KIMCHI” ucapku dan foto kami berduapun tercetak nyata pada kamera mahalnya.

“SANDARAAAAA, KAU MAU MATIIIII?” suara cempreng mengalihkan pandangan kami dari melihat hasil foto bersama kami menuju arah suara itu.

“Cih, bisakah kau tak mempermalukanku? Berhenti berteriak, huh?” Protesku setengah berbisik pada si rambut kemoceng yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

“YA! AKU SEJUTA KALI MENGHUBUNGIMU, MENCARIMU KEMANA-MANA SAMPAI AKUPUN BERTANYA PADA IKAN DI LAUT DAN KAU TERNYATA SEDANG BERSENANG-SENANG DENGAN NAMJA ANEH INI, HUH?” si kemoceng itu masih berteriak di depanku, aisshtt ingin sekali aku menyumpal mulutnya dengan sandalku.

“Oppa, kajja kita pergi. Aku tidak mengenal orang ini” ucapku cuek dan menggandeng lengan Woo bin lalu meninggalkan Jiyong yang melotot melihat sikapku.

“Aiisshht, terserah. Aku tidak akan mengkhawatirkanmu lagi. Dasar yeoja bar-bar” ucapnya masih dengan nada tinggi dan aku tidak menghiraukan itu.

~ cafe ~

“Kau mau pesan apa?” tanya Woo bin oppa padaku.

“Aku ingin segelas coklat panas” jawabku masih termenung, entah apa yang sebenarnya terjadi, mengapa aku selalu membayangkan si kemoceng itu. Menyebalkan.

“Aku juga pesan itu. Tolong pesankan ne” ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku. Tadaaaa, seseorang yang aku bayangkan mengapa kini ada di hadapanku, apakah aku bermimpi? Rambutnya yang berwarna warni dan berkilau menyilaukan mata.

“Hyung, kau di sini? Kau mengikuti kami?” tanya Woo bin menyadarkanku. Dan akupun menatap makhluk rainbow itu seakan mengartikan “Jawab pertanyaan itu kemoceng”.

“Emm, aku,,,” jawabnya menggantung.

“Bukankah kau tak ingin memperdulikanku lagi, dan kenapa kau berada disini sekarang kemoceng?” pungkasku dengan tatapan menyelidik dan menyerang dengan tatapan jarum padanya.

“Ya, ya, ya!! Aku tidak mengikuti kalian dan aku pun tidak mengkhawatirkanmu dada kerucut. Aku, emm aku hanya ingin istirahat disini dan kebetulan aku melihat kalian disini, apa salahnya jika aku bergabung, huh? Dan kau mengapa kau berpakaian seperti ini? Apakah karena dia?” tanya namja rainbow itu sambil menunjuk Woo bin namja yang ia maksud.

“Ne, wae?” jawabku cepat dan ketika itu pesanan kami datang. Karena kesal aku pun langsung meminum cokelat panasku dan puaaaah

“pftt, panas” ucapku sambil menjulurkan lidah yang mati rasa karena merasakan panas dari cokelat itu.

“YA!! Pabbo kau tak melihat itu masih berasap? Kajja kita ke dokter”ucap namja cungkring disebelahku.

“Shirro” ucapku menolak ajakannya.

“YA!! Kepala batu” ucapnya lagi sambil menarik tanganku. Namun sebuah tangan menahan tangan Jiyong.

“Dia tidak mau hyung. Kau jangan memaksanya. Dara kau tidak apa-apa?” ucap Woo bin oppa

“Kau, jangan mencampuri urusanku dengan dia, mengerti”ucap Jiyong mengeluarkan tatapan lasernya. Dan dengan berat hati aku harus mengikuti si kepala pelangi ini, aku sangat takut jika dia sudah mengeluarkan tatapan itu. Dan akupun menatap Woo bin, mengangguk pelan padanya mengartikan aku tidak apa-apa. Namun saat aku dan Jiyong melangkah, segerombol makhluk bercahaya dan mengeluarkan wangi menggoda menghampiri kami.

“Oppa, kau disini? Mengapa kau tadi menghilang begitu saja? kau belum memberi tahu hotelmu dimana padaku. Nanti malam aku berkunjung okey. Sekarang kita makan siang bersama” ucap yeoja yang aku temui di pantai pagi tadi.

“Lihat, kau sudah ada yang menunggu. Jadi biarkan aku” ucapku tajam sambil melepas genggaman tangannya padaku.

“Jangan pernah mencoba lari dariku lagi!” kini tatapannya mengarah padaku membuat aku tak bisa berkata lagi.

“Kris, mian aku tak bisa menemanimu makan siang. Jika kau ingin ditemani. Lihatlah namja itu pun sendirian” ucap Jiyong pada Kristal dan menunjuk Woo bin untuk menemaninya. Dia mulai gila. Dan dia langsung beranjak pergi dan aku terpaksa mengikuti langkah cepatnya.

Jiyong Pov

            Aku melajukan mobil menuju hotel kami, si kepala batu itu tetap tak ingin memeriksa lidahnya itu. Dalam perjalanan kami hanya berdiam diri. Entah aku seperti marah melihat dia dengan namja itu. Dan mengapa namja itu bisa di sini juga. Menyebalkan. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, kamipun sampai di depan hotel. Dan tanpa berkata apa-apa Dara langsung akan beranjak pergi dari mobilku namun aku mengunci pintu dari kendali kemudi. Aku muak dengan kondisi ini.

“Ya! Aku lelah, buka pintunya” ucap Dara yang bernada kesal padaku.

“Hei, kau marah? Kau kesal padaku?” tanyaku menatap bundaran kemudi di hadapanku tanpa berani menatapnya*takut mimisan kaya biasa.

“Sedikit” ucapnya singkat.

“Kau cantik memakai itu. Dan benarkah kau seperti ini karena namja itu?” tanyaku kini memberanikan diri menatapnya.

“Mwo? Emm itu, aku mempunyai perjanjian dengannya”jelasnya sedikit risih karena aku bertanya lagi tentang itu. Jujur aku sangat terusik karena jawaban dia di cafe tadi.

“Ahh begitu. Aku tidak akan bertanya perjanjian itu, naneun bisakah (jeda_Jiyong ambil nafas dulu) bisakah kau tak tampil cantik di hadapan namja lain? Aku merasa aneh di dalam sini melihatmu seperti itu dengannya” ucapku sambi menunjuk kearah dadaku. *acieee tatitnya tuh dicini ❤

“Mwo?” tanyanya masih tak mengerti.

“Pabbo -,-“ gumamku. *gagal romantis

“YA!! Kau mengataiku bodoh?” protesnya mendekatkan wajahnya padaku. (OMOOO, aku sudah merasakan kentalnya darah di rongga hidungku, ku mohon sekali ini saja tidak kambuh)

“Ne, kau sangat bodoh Dara, kau bodoh tidak mengerti apa yang aku rasakan padamu, dan mungkin ini bisa membuatmu mengerti” ucapku sambil menangkup wajahnya yang cantik dan memperkecil jarak kami, semakin kecil semakin kecil.

“KYAAAAAAAAAA” Dara berteriak tiba-tiba dan membuatku kaget. Kulihat wajah Dara masih terkaget dan jari telunjuknya menunjuk sesuatu di belakangku. Dan secara spontanpun aku menuju arah yang di tunjuk Dara.

“HUAAAAAH” akupun terkaget melihat wajah makhluk-mahluk astral menempel pada kaca mobilku, hidung seperti babi karena menempel pada kaca dan makhluk seperti itu bukan hanya 1 tapi 4 makhluk bodoh sedang mengintip mobilku. Tok, tok, tok, salah satu makhluk bodoh itu mengetuk kaca mobilku dan aku pun menurunkan kaca mobil.

“Apa yang kalian lakukan? Mengagetkanku saja” protesku pada ke 4 makhluk bodoh yang saat ini sedang memamerkan cengiran idiot mereka.

“Kau tadi sedang melakukan apa? Kau sungguh berbahaya hyung. Ckckckc” ucap makhluk bodoh bernama Daesung mengapa rambutnya menutupi matanya? Sudah terlalu kecil ia melihat dunia karena mata sipitnya dan kini harus terhalang poni aneh itu. Gila.

“Dara, kau tidak apa-apa? Apakah Jiyong mencoba melakukan pelecehan padamu” ucap makhluk bodoh yang biasanya membelaku kini ikut memojokkanku dan bernama Yongbae.

“Nuna, kajja menjauh dari Jiyong hyung, sebelum ia gila karena hormonnya yang tak bisa ia kendalikan” kini makhluk bodoh berbentuk panda mengambil Dara menjauh dariku dia benar-benar ingin menjadi panda setelah mencat rambutnya menjadi putih. Pabbo.

“YA panda kau mau mati hari ini huh??? Kalian mengapa tidak mengubungiku jika sudah sampai?” tanyaku pada makhluk-makhluk ini.

“kami berusaha menghubungimu Ji, kau lihat saja keadaan handphonemu” ucap Top hyung sambil memeriksa kuku jari tangannya. Sok imut sok cool. Dan saat aku mengecek ternyata handphoneku mati.

“Kajja ke hotel, keberadaan kalian membuat mobil terasa panas” ucapku sambil melangkah menuju hotel.

“Oh, sekarang kau keberatan dengan keberadaan kami disini Ji? Ucap Top hyung yang kini memperbaiki rambut anehnya. Mengapa ia tiba-tiba mengganti gaya rambutnya seperti yang tidak dicuci beberapa tahun? Aneh.

“Anni, bukan seperti itu hyung. Sudahlah jangan memojokkan aku lagi” aku lelah dengan mereka Tuhaaaaan, mengapa aku bisa berteman baik dengan namja aneh seperti mereka itu.

**

~Keesokan Harinya ~

            Kami sarapan di hotel sebelum kami menikmati pulau ini bersama-sama.

“Hyung, kau tak mengajak nuna sarapan?” tanya Seungri sambil melahap sarapannya.

“Dia sudah tahu kita akan sarapan, sebentar lagi mungkin dia akan turun” ucapku cuek.

“Aigoo, aku akan memanggilnya. Tak kusangka kau sangat egois Ji” ucap Taeyang, mengapa dia tak berada di pihakku lagi?

“Ya Bae, kau jangan terlalu memanjakan dia. Dia tetap rakyat jelata” ucapku tanpa sadar. Dan makhluk astral di sekelilingku melihatku dengan tatapan mengintimidasi.

“Kau jangan keterlaluan hyung. Jika kau hanya ingin menyembunyikan perasaanmu dengan sikapmu yang seperti itu. Kau hanya membuat dia akan merasa tersakiti hyung” ucap Daesung, hati malaikatnya sedang aktif.

“Setuju” ucap panda dengan mulut penuh makanan. Dan Top hyung-pun merespon dengan anggukkan kepala tanda ia pun setuju dengan perkataan Daesung.

“Arra, arra”ucapku menyesal. Tiba-tiba handphoneku berdering.

“Ya, mengapa kau menelfon Yongbae….?????” teriakku pada sabahatnya anehnya tidak tepat waktu. Bukankah tadi dia akan memanggil Dara ke kamarnya mengapa ia menelepon.

“Mwoooooo” responku saat mendengar ucapan Bae. Dan dengan secepat kilat aku menuju kamar Dara dan yang lainpun mengikutiku tanpa menunggu intruksi dariku.

**

“Daraa? Mengapa kau tak memanggil salah satu dari kami ah ani mengapa kau tak menelfonku? Kamarku tepat disebelah mu Dara” ucapku melihatnya berkeringat dan berwajah pucat. Tubuhnya sangat panas, sepertinya dia kelelahan kemarin.

“Kajja kita ke rumah sakit terdekat” ucap Top hyung dan aku mengangguk setuju. Namun sebuah tangan mungil meraih lengan kemejaku dengan lemah.

“Aku tidak suka rumah sakit, ku mohon jangan bawa aku ke tempat itu” ucapnya memohon dan sepertinya ia benar-benar tak ingin.

“Baiklah, tapi aku akan mendatangkan dokter dan ini tidak ada tawar-menawar oke, hyung bisakah?” ucapku pada Top hyung dan belum aku menjelaskan lebih Top hyung sudah mengeluarkan handphonenya dan menghubungi sesuai kemauanku.

“Bukankah kalian akan pergi bersenang-senang di Pulau ini? Pergilah aku tidak apa-apa” ucapnya dengan lemah. Kenapa ia bicara banyak sekali di saat seperti ini?

“Kami tidak akan meninggalkanmu Dara, kau beristirahatlah. Kami akan ada di kamar Jiyong hyung, hyung kau harus di sini ne menjaganya” ucap Daesung seperti tau aku ingin sekali merawatnya dan sangat mengkhawatirkannya. Merekapun keluar dari kamar Dara. Dan tak lamapun dokter datang dan memeriksa Dara, memberikan obat untuk penurun panas dan obat lainnya. Dan kini aku menjaga Dara yang sedang tertidur karena mungkin obat yang diminumnya menyebabkan ia tertidur.

“Mengapa kau tak memanggilku Dara di saat kau seperti ini? Apakah kau tak mempercayaiku? Apakah kau tak ingin bergantung padaku?”tanyaku pada yeoja yang sedang tertidur. Jari-jariku menyusuri rambutnya yang menghalangi wajah cantiknya dan menyusupkan pada belakang telinganya.

“Gumawo Ji, aku hanya tidak ingin merepotkanmu dan yang lain. Maaf jika aku merepotkan kalian” gumamnya namun masih mata yang tertutup.

“Gwencana, aku dan yang lain amat sangat khawatir jika kau seperti ini. Tidurlah aku akan menemanimu di sini” ucapku namun tiba-tiba handphone Dara berdering dan ku lihat “WOO BIN OPPA” bisakah dia tidak ada di moment seperti ini?

“Dari Woo bin, kau mau menjawab telfonnya?” tanyaku dengan berat hati dan sok baik padahal aku ingin sekali mengangkatnya dan berkata padanya bahwa Dara sedang bersama ku di dalam kamar, hahahaha *sisi jahat Jiyong On

“Tidak, aku hanya ingin tidur” jawab Dara, dan akupun dengan spontan meloncat-loncat, dan menari aneh kegirangan *bayangin Jiyong jadi Top di MV Bae-bae.

“Apa kau kerasukan?” ucap sini suara lemah yang ternyata matanya sedang memandangku yang bersikap aneh.

“Hehehe, mian aku mengganggumu. Palli kau harus istirahat” ucapku sambil merapihkan selimut Dara. Namun saat selimut itu sampai di bawah dagunya. Mataku melihat bibirnya yang selalu menggoda keimanan yang aku anut.

“Gumawo telah menjagaku. Kaupun harus istirahat. Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena merawatku Ji” ucapnya dengan lemah dan kami kini saling menatap wajahku tepat di atas wajahnya. Seakan bibir itu ah bukan semua yang ada pada dirinya merupakan magnet bagiku sehingga aku tertarik mendekat padanya.

“Jangan sakit seperti ini lagi, maaf jika aku tidak menjagamu dengan baik”ucapku dan tanpa sadar air mataku menetes dan jatuh pada pipi Dara karena wajahku masih di atas wajahnya.

“Gwencana Ji” ucapnya tersenyum sambil menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya. Omoooo aku mulai akan mimisan dan sebelum itu terjadi.

“Kau jangan menggodaku seperti itu nona Park” smirkku tergambar jelas di bibirku dan akupun menuju bibirnya yang menggoda, menyentuhnya dengan bibirku menggigit lembut bibirnya, memeperdalam ciumanku, kini Darapun membalas ciumanku. Dan kami memperdalam itu sampai tubuhku kini menyentuh tubuhnya.” Dan oh my….

“Yongbae, Daesung, Seungri, Tooooopp. Aku ingin pindah kamar” teriak Dara keluar dari kamar dan keluar dari moment manis kami.

“Ada apa Dara? Kau sudah membaik? Tapi mengapa kau ingin pindah kamar?” tanya Top dan yang lainpun sepertinya berekspresi demikian.

“Lihat itu? Dia mengotori kasurku dengan ingus darahnya”ucap Dara sambil menunjukku. Tuhan mengapa yeoja itu kini berubah lagi menjadi setan kecil menyebalkan. Dan aku tak bisa berbuat apapun selain menuju sudut kamar dan membawa sprai yang ujungnya ku buat untuk menyumpal hidungku. Kini aku tersudut, termenung, dan kesepian disudut ruangan bersama sehelai seprai yang menyumpal indah di hidungku.

 

 

 

TBC

 

 

 <<back next>>

Advertisements

37 thoughts on “CHEONGDAMDONG HOST CLUB ~ Loser~ [Chap 13]

  1. bikin sakit perut bacanya,
    bener2 lucu
    dara sakit dan dijaga oleh jiyong yang mesum
    hahaha
    mimisannya jiyong gak kenal sikon,
    moment romantisnya jadi tamat deh
    hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s