Disguise [Chap.7]

76851_715168101835790_626252511_nAuthor : Zhie

Main Cast : Park Sandara (2ne1), Kwon Jiyong (Bigbang)

Support Cast  : Park Bom (2ne1), Lee Joon (Mblaq) 

Genre : Drama, Hurt

Length : Chapter

Rating : PG-13

Happy Reading. ^.^

2 jam berlalu, mata kuliah Mr. Kangpun telah berakhir…Dara sebisa mungkin untuk bisa mengontrol perasaannya, ini awal yang berat untuknya tapi ia tak ingin kalah. Ia akan tetap menjadi Sandara Park walaupun dengan identitas yang lain…ia akan menjadi sosok dirinya yang dulu, yang ceria dan selalu tersenyum, mengenyampingkan semua rasa sakit dihatinya. Ia ingin dengan sendirinya orang-orang disekelilingnya merasakan kehadirannya dan mengakui kalau dirinya bukanlah orang asing bagi mereka.

“Miss Jung.” Panggil Mr. Kang sebelum ia meninggalkan ruangan.

“Ne…Mr. Kang.” Jawab Dara cepat melihat kearahnya.

“Kurasa kau perlu berkeliling untuk dapat lebih mengenal fakultas ini dengan baik…dan saya rasa kau perlu seseorang untuk menemanimu.”

“Ah…Ne.” Ucap Dara yang sebenarnya ia tak memerlukan hal itu, karena ia sudah cukup tahu tentang seluk beluk fakultas itu…karena bagaimanapun ia dulu selalu mendatangi Jiyong ke fakultas itu disetiap ada kesempatan untuk bertemu, tapi kali ini ia harus berakting seperti orang yang tak tahu apa-apa dan mengiyakan seluruh saran dari Mr. Kang.

“Ya, Kwon Jiyong!”

‘Deg’

Seketika Dara melihat kearah tatapan yang dituju Mr. Kang, karena mungkin saja ia salah dengar…tapi ternyata tak ada yang salah dengan pendengarannya.

“Ne…Mr. Kang.” Jawab Jiyong kemudian melihat kearah dosennya, walaupun sekilas ia sempat membalas tatapan Dara padanya.

“Tolong kau temani Miss. Jung berkeliling agar ia dapat lebih mengenal fakultas ini.” Ucap Mr. Kang singkat membuat Jiyong dan Dara sama-sama tersentak dan menatap satu sama lain dengan canggung.

“Ah…Ne, algaesoyo.” Jawab Jiyong akhirnya membuat Dara seketika mengalihkan pandangannya dari seorang Kwon Jiyong.

“Aigo…ottoke?” Batin Dara berusaha bersikap setenang mungkin.

“Omo, kau beruntung Hyung…kau bisa berbicara secara langsung dengannya.” Ucap Seungri kemudian saat Jiyong tengah membereskan beberapa buku dan peralatan tulis ke dalam tas ranselnya.

“Aisht! Apa yang kau pikirkan, hah? Aku hanya akan menemaninya berkeliling Seungri-ah.” Jawab Jiyong kemudian.

“Tapi Hyung…bisa sekalian kau minta nomor ponselnya?”

“Ya! Mintalah nanti langsung padanya.” Jawab jiyong akhirnya berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Dara.

Dara Pov

Berjalan sejajar dengan orang yang membuatmu merasakan sakit itu seakan berjalan dengan memikul sesuatu yang sangat berat…ditambah lagi dengan keadaan dimana kau tidak memiliki alasan untuk bisa menampakkan rasa sakitmu padanya. Itu sangat menyesakkan.

“Ya! Kau tak mendengarkanku?” Tanya Jiyong kemudian menyadarkanku.

“Oh…Mwo?” Refleks aku melihat kearahnya.

“Aisht…ternyata kau benar-benar tak mendengarkanku.”

“Anio, aku mendengarkanmu.” Elakku padanya yang kini menghentikan langkahnya dan menatapku.

“Jinjja?”….”Kalau begitu coba sebutkan ruangan apa saja yang sudah kita lewati sebelumnya?”

“Mwo? Kau mengetesku?”

“Anio..hanya memastikan, apa kau benar-benar mendengarkanku atau tidak…karena aku paling tidak suka bila ada yang mengabaikanku saat bicara.” Jawabnya membuatku tersenyum dingin padanya.

“Ok, araesso. Pertama disudut koridor ini kita melewati ruang kimia, setelah itu di sisinya terdapat ruang biologi…lalu di depannya itu ruang pratikum dan kemudian terdapat ruang penelitian tak jauh dari lorong itu lalu kita baru saja melewati ruang teknologi dan pemurnian. Jadi apa yang akan kau tunjukkan lagi padaku sekarang, hah?”

“Omo, kau bahkan bisa menyebutkan ruangan yang belum aku jelaskan padamu…sebenarnya siapa dirimu, hah?” Tanyanya kali ini membuatku tersentak.

“Mwo?”

“Bahkan aku dapat melihat jelas sebenarnya kau tak membutuhkanku sebagai pemandumu…kau terlihat sudah sangat mengetahui tempat ini dengan baik, karena tanpa sadar beberapa kali kau berjalan didepanku dan meninggalkanku. Cih…ini seperti membuang-buang waktu, kau tahu?” Ucapnya kali ini berhasil membuatku kesal.

“Ah…Ne, tapi perlu kau ingat bukan aku yang memintamu…aku hanya berusaha untuk menghargaimu dan kalau boleh jujur…kau benar, ini sebenarnya bukan tempat yang asing bagiku…tapi karena sesuatu ini benar-benar menjadi sangat asing sekarang.” Jawabku tak mampu lagi memendung kekesalanku padanya.

“Apa maksudmu, hah?” Tanyanya dengan tatapan penuh selidik, akupun segera memalingkan wajahku darinya…

“Ani…lupakanlah.” Jawabku singkat. ”Aku akan pergi sekarang. Mianhe telah membuang-buang waktumu untukku.” Lanjutku beranjak pergi tanpa kembali melihatnya, tapi langkahku terhenti saat ia menahan pergelangan tanganku.

“Gidariseyo!”

“Wae?” Mau tak mau aku kembali membalas tatapan padaku.

“Kau benar-benar telah mengenal tempat ini sebelumnya, benarkan?”

Aku terdiam, membalas tajam tatapannya padaku. “Kau ingin tahu? Wae?” Ucapku kemudian balik bertanya, entah mengapa kini aku merasa siap menghadapinya.

“Karena-“

“Karena?” Tanyaku saat ia tak juga melanjutkan ucapannya.

“Ah….sudahlah. Lupakan saja…aku juga tak tahu alasannya, yang jelas aku sejenak merasa kau tidaklah asing bagiku tapi setelah kembali melihatmu, aku bisa memastikan kita tak saling mengenal sebelumnya.” Jawabnya membuatku hanya bisa kembali memalingkan wajahku darinya…mendengar kata-kata itu terlontar langsung dari mulutnya, membuatku ingin menampar keras dirinya. Ini benar-benar memuakkan…

“Kau benar, kita tidak saling mengenal sebelumnya Kwon Jiyong. Tapi, aku tidak memungkiri…aku telah mengenal tempat ini sebelumnya dengan baik dan lagipula bukankah kita sudah bertemu waktu itu, waktu kau menabrakku hingga aku tak sadarkan diri…jadi mungkin itu alasan yang membuatku tidaklah asing bagimu.”

“Ah…Ne, pasti itulah alasannya.” Ucapnya kemudian, dan ponselnya berbunyi…dengan cepat iapun menerima panggilan yang masuk itu. “Yeoboseyo!”….”Ah, Chagiya! Aku berada dilantai 2 sekarang…mwo, dibawah? Kau menjemputku? Aigo….mianhe, aku lupa Chagiya. Ah…araesso, araesso…tunggulah disitu, aku akan segera datang.” Ucapnya cepat, dan memutuskan sambungan…aku tahu jelas siapa yang menelponnya, pasti ‘DIA’. “Aku harus pergi sekarang, pacarku…ah maksudku Dara, yang waktu itu…kau tahukan? Dia telah menjemputku untuk makan siang…jadi aku-“

“Pergilah, aku juga akan pergi sebelumnya.” Ucapku cepat sebelum ia menyelesaikan ucapannya.

“Ah, Ne. Baiklah.” Akupun melihatnya berbalik dan beranjak pergi, tapi ia kembali menghentikan langkahnya…

“Wae?” Tanyaku saat ia kembali melihatku.

“Ani…hanya mengingatkan, kita ada kelas sore nanti. Jadi sampai nanti ya.” Jawabnya disusul lambaian tangan dan berlalu pergi. Aku hanya bisa memandangi dirinya yang menjauh…ingin sekali menahannya? Tapi bagaimana ini, aku bahkan tidak bisa bicara dengan baik padanya. Aku melihatnya menghilang menuruni tangga dan dengan sendirinya aku bergerak untuk melihat siapa yang menunggunya dibawah…dan benar saja, dari atas sini aku dapat melihat Bom dengan dandanan seperti diriku tengah menunggu Jiyong. Bahkan ia mengikat rambutnya sama sepertiku…rambut apel adalah ciri khasku dan ia benar-benar dapat mengikutinya dengan baik. Tak lama aku melihat Jiyong berlari menghampirinya…ia terlihat meminta maaf karena telah membuat Bom menunggu, segala gaya lucu ia gunakan untuk membuatnya tertawa. Cih…itulah yang ia lakukan padaku dulu, aku benar-benar menahan air mataku sekarang. Bom dengan aktingnya yang baikpun mengabaikan Jiyong dan jalan mendahuluinya…ia berlaku sepertiku jika aku kesal atau marah dengan Jiyong. Sampai akhirnya Jiyong akan menarikku dan memberikan ciuman cepat dipipiku sebagai tanda ia benar-benar inginku memaafkannya, dan…

‘Tes’

Air mataku jatuh dengan sendirinya…saat Jiyong terlihat jelas benar-benar melakukannya, tapi bukan dengan diriku…melainkan ‘Bom’.

Bom Pov

Sesekali aku menatap namja yang kini berjalan disampingku dengan menggenggam erat tanganku ini, namja yang selama 1.5 tahun selalu ada untukku dan menemani hari-hariku. Siapa lagi kalau bukan Kwon Jiyong…bisa memilikinya saat ini, itu seperti sebuah mimpi indah yang terwujud. Ah, bukankah aku sangat beruntung?

“Ya! Apa yang sedang kau pikirkan, hah? Kau terlihat mencuri pandang kearahku dan tersenyum. Aigo…kau menakutiku.” Ucap Jiyong melepaskan genggamannya ditanganku dan menyilangkan kedua tangannya didada, membuatku membulatkan mata.

“Omo…memang kau kira aku memikirkan apa, hah?” Balasku kali ini membuatnya tertawa dan jujur melihatnya seperti itu saja sudah sangat membuatku bahagia. “Ji.” Panggilku lirih saat kami kembali berjalan dengan tangan yang saling bertautan.

“Ne.”

“Apakah kau akan selalu bersamaku?” Entah mengapa aku tiba-tiba ingin menanyakan hal itu.

“Tentu.” Jawabnya cepat tanpa ragu.

“Lalu…apakah kau akan selalu mencintaiku?” Tanyaku lagi.

“Ne.” Jawabnya lagi-lagi tanpa ragu.

“Kalau begitu…bisakah kau berjanji untuk takkan meninggalkanku?” Pertanyaanku kali ini mampu membuatnya menghentikan langkahnya dan menatapku dalam.

“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan semua itu, hah?”

“Anio…aku hanya-aku..” Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya, karena jujur aku merasa takut akhir-akhir ini. Walaupun sebenarnya ketakutan itu sungguh tak berasalan, tapi tetap saja…

“Kajja, lihat aku.” Ucap Jiyong kemudian, membuatku membalas tatapannya padaku. “Dengarkan baik-baik…tak ada alasan untukku meninggalkanmu, jadi berhentilah berpikiran seperti itu, ne.” Lanjutnya berhasil kembali menenangkan hatiku, akupun mengangguk menanggapinya. “Aku sangat mencintaimu, yakinlah…aku tak mungkin pernah berpaling darimu.”….”Dara.”

Deg

Dara? Lagi-lagi nama itu. Cih…Akupun hanya bisa tersenyum miris, berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang tertahan dipelupuk mata. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, tapi tetap saja…mendengar ia menyebut namanya dengan tulus itu sangat membuatku kesal. Ani…anio, jangan menangis Bom. Kau harus kuat, kau harus bertahan…tidak perduli bagaimana dia menganggapmu, tidak perduli bagaimana sakitnya hatimu…karena satu hal yang pasti, dengan ini Jiyong akan benar-benar menjadi milikmu.

——–

‘Shhshhhhhsssssssssssssssssshhhhh’

Hujan deras mengguyur Kota Seoul sore ini, Dara baru saja mengakhiri kelas dihari pertamanya sebagai Jung Hye Min. Dan seperti pesan Joon, ia harus segera menghubunginya setelah jam kuliah berakhir agar Joon bisa menjemputnya.

Kini ia hanya bisa terdiam, menunggu Joon dengan memandang hujan yang menghadang langkahnya. Ia mengulurkan tangan dan merasakan air hujan yang jatuh membasahi telapak tangannya…itu mengingatkan ia akan sesuatu.

Flashback

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA…kita berdua diterima Bommie-yah.” Pekik Dara histeris setelah melihat pengumuman penerimaan siswa/i baru di salah satu SMA yang cukup terkenal di Seoul.

“Jinjja? Omo, ini hebat Dara.” Balas Bom saat itu memeluk saudari kembarnya itu dengan gembira.

“Aigo…aku benar-benar tak menyangka bisa masuk di SMA ini, ini berkat kau yang selalu mengajariku dengan sabar Bom.” Ucap Dara kali ini membuat Bom tersenyum.

“Aisht, itu bukan hanya karena diriku…tapi kemauanmu yang keras untuk mencapai sesuatu itulah yang membuatmu bisa seperti ini, Dara.” Jawab Bom membuat Dara benar-benar merasa bersyukur memiliki saudari kembar seperti Bom. Dan saat mereka akan pulang setelah melihat pengumuman itu, hujan turun dengan derasnya…

‘Sssssssssssssssssshhhhhhsssssssssss’

“Aigo…Bagaimana kita pulang?” Guman Bom lirih membuat Dara hanya bisa mengangkat bahu, “Kalau begitu…tunggu disini sebentar ya, aku mau ke kamar kecil.” Lanjut Bom pergi meninggalkan Dara, Darapun kembali menatap hujan. Ia mengangkat sebelah tangannya dan merasakan butiran-butiran jatuh membasahi telapak tangannya. Dan saat itu ia bisa merasakan kelembutan dan kesejukan hujan secara bersamaan.

“Aku menyukai hujan.” Guman Dara tanpa sadar.

“Jinjja?” Tanya sebuah suara membuat Dara mengerutkan keningnya, dan ia baru menyadari ada seorang namja yang berdiri disampingnya melakukan hal yang sama dengannya dan namja itupun membalas tatapan Dara padanya…”Aku juga.” Lanjutnya dengan tersenyum.

“Mwo?”

“Mau mendengar lagu tentang hujan?” Tanya namja itu lagi, dan sebelum Dara menjawab…namja itu telah lebih dulu meletakkan headsetnya ketelinga Dara, dan lagu itupun berputar membuat Dara seketika larut dengan lagu yang dimainkan. (Play lagu dibawah ini)

“Lagu ini terdengar menyedihkan, tapi aku menyukainya.” Ucap Dara membuka matanya disaat lagu itu telah berakhir, tapi ia tak lagi menemukan namja itu disampingnya…sementara headset yang ia gunakan terhubung dengan pemutar musik berwarna kuning yang kini telah berada disaku jaketnya. “Omo, mengapa namja itu meninggalkan ini?” Batin Dara tak mengerti, dan tak lama Bom datang dengan membawa sebuah payung berwarna kuning ditangannya.

“Dara-yah.”

“Mwo? Bommie-yah, kau membawa payung?”

“Ne, seorang namja tampan yang memberiku.” Jawab Bom cepat dengan wajah berseri-seri.

“Omo…wajahmu terlihat merona saat kau mengucapkannya.” Ucap Dara hanya ditanggapi Bom dengan senyum malu-malunya. Sementara Dara hanya menyimpan kenangan manis yang baru saja ia alami untuk dirinya sendiri…dan siapa sangka bahwa namja yang ditemui Dara itu ternyata satu kelas dengannya dan Bom. Namja itu tak lain adalah Kwon Jiyong.

Flashback End

“Kau belum pulang?” Sebuah suara menyadarkan Dara dari lamunan masa lalunya.

“Jiyong!”

Jiyong Pov

Aku melihat yeoja pertukaran itu tengah terdiam seperti patung memandang hujan, dengan sebelah tangannya yang terulur seakan ingin meraih butiran hujan. Akupun mendekatinya, bahkan ia tak menyadari kehadiranku saat aku telah berada disampingnya. Omo…apa yang tengah yeoja ini pikirkan?

“Kau belum pulang?” Tanyaku akhirnya membuka suara, membuat ia tersentak dari lamunannya dan melihat kearahku.

“Jiyong!” Entah mengapa aku ingin tersenyum melihat reaksinya terkejutnya, itu mengingatkanku akan seseorang…tapi aku berusaha menahannya.

“Hujan ini sepertinya akan lama berhenti.” Lanjutku akhirnya membuat yeoja ini kembali melihat kearah hujan.

“Ne.”…”Tapi aku suka.” Ucapnya lirih membuatku melihat kearahnya…

“Mwo?”

“Aku…menyukai hujan.” Ucapnya dengan kembali mengulurkan tangan, membiarkan telapak tangannya itu dibasahi oleh hujan.

“Ne, aku juga.” Jawabku singkat ikut mengulurkan tanganku seperti dia. Ah…ini mengingatkanku dengan sesuatu, mengingatkan awal pertemuanku dengan Dara. Akupun tersenyum, apa Dara masih mengingat akan hal ini?

“Ah, jinjja?” Tanyanya lagi yang hanya kubalas dengan anggukkan. “Kalau begitu-“….”Mau mendengar lagu tentang hujan?”

Deg

Aku kembali melihat yeoja disampingku ini…ia masih menatap jauh kedepan. Siapa sebenarnya yeoja ini? Semakin aku mengelak, semakin aku merasa ia tak asing…dan kata-kata itu-bukankah kata-kata yang kuucapkan pada Dara dulu, tapi mengapa dia-….apa ini hanya kebetulan.

Tin….tiiiiiinnnnn….

Suara klakson mobil menyadarkanku….

“Hye Min-ah.” Panggil seseorang dari jendela mobil yang terbuka.

“Ah…Lee Joon-ah.” Balas yeoja disampingku ini dan ia kembali melihat kearahku. “Aku duluan, Jiyong-shi. Sampai bertemu besok…bye!” Lanjutnya berlari pergi menembus hujan, dan dengan cepat ia masuk ke dalam mobil itu…sementara aku hanya memandang kepergiannya dengan seribu pertanyaan yang ada dipikiranku. Shit! Bagaimana bisa….

“Bagaimana bisa aku beranggapan ia sekilas seperti Dara.” Batinku merutuki pikiran bodohku itu sendiri….Omo, ini tidak benar. Apa yang yeoja asing itu katakan hanya kebetulan, ne…pasti hanya kebetulan.

Dara Pov

“Bukankah itu tadi Jiyong?” Tanya Joon saat mobil ini telah melaju meninggalkan kampusku. Akupun mengangguk…”Kau baik-baik saja, Dara?” Tanyanya lagi membuatku menyunggingkan senyumku, aku tahu ia sangat mencemaskanku sekarang.

“Ne…gwanchana.” Jawabku singkat membuatnya menghela nafas panjang.

“Ah, syukurlah. Aku pikir kau akan sulit untuk menghadapinya Dara, tapi kupikir kau telah siap sekarang.”

“Ne…kau benar, Joon. Aku telah siap sekarang….benar-benar siap bahkan, dan ini barulah awal. Awal untuk mereka mengakuiku secara perlahan.”

To be continued…

Selalu tinggalkan jejak guys, Hengsho. >.<

<<back next>>

 

 

 

Advertisements

59 thoughts on “Disguise [Chap.7]

  1. ayolah jiyong. sadar bahwa hye min itu dara yg asli.
    next eonni udh nggak sabar pengen tau kelanjutannya. dan nggak sabar nunggu semua kebohongan bom terbongkar.
    NEXTTTTTT.

  2. lagunya apa? duhh joon ganggu aja deh, coba kalau joon gak datang itu akan lebih jelas. jiyong udah mulai mikir kalau hye min itu dara. ihh otak pinter tapi lemot -,-
    aku mau lanjut lagiii

  3. Bom egois ! Srius …Q gk suka ma bom ..
    Huhuhu maapin q , mpok jagung..tp di ff nih dia emg nyebelin sih..
    Jnji dah kelar ni ff bkal lop lop ma bom lg deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s