SOMETHING CALLED LOVE – Pelarian [Chap. 1]

1478513266448

Author: astarinur/ @daragonintheair

 

 ~~~

Hah.. Hah..

Hah.. Hah.. Hahh..

Hah..

Hah..

Napasnya terengah, keringat bercucuran tapi waktu untuk menarik napas dan beristirahat bukanlah sesuatu yang penting kali ini.

Di sela-sela pelariannya dia mengelap keringat yang membanjiri wajahnya. Malam yang gelap dengan penerangan yang remang-remang membuat matanya tak bisa focus walaupun kakinya tak henti berlari dan berlari. Komplek perumahan yang memang selalu sepi tak berpenghuni seakan semakin membuat keadaannya lebih tercekam.

Musim panas yang sudah berganti menjadi musim dingin seakan bukan kendala walaupun dia berlari dengan baju tipis yang menutupi tubuhnya. Dia menerawang kesebrang jalan memperhatikan sebuah rumah yang lampunya menyala terang. Dengan napasnya yang masih terputus-putus dia mengetuk – bukan, dia menggedor-gedor pintu rumah itu dengan keras. Dalam hatinya dia memohon dan memelas bahwa seseorang akan membuka pintu itu dengan sesegera mungkin.

“Tolong..! Jeball…Buka pintunya… aku mohon…!!” Hatinya menjerit dan matanya tak henti menengok kebelakang seakan dia takut sebuah monster akan segera menyergapnya jika dia hanya menunggu disana.

Tangannya yang sedari  tadi memukul-mukuli pintu kini melayang dan terjatuh saat pintu itu terbuka memperlihatkan seorang nenek tua yang menatapnya dengan terkejut. Dia berdiri tegap lalu membungkuk ingin bersikap tenang namun keadaan dan tekanan yang sedang terjadi memakasnya untuk terlihat lemah dan tak berdaya. Matanya membengkak merah dan air matanya berjatuhan kencang bagaikan aliran air terjun yang mengalir tanpa henti. Dia menunduk malu untuk menampakan wajahnya, tangannya yang penuh darah ia sembunyikan di balik punggungnya.

“Ada apa anak muda?” Akhirnya nenek itu mengeluarkan suara. Dia tetap menunduk dan diam. Nenek tua itu menatap sedih kepadanya, ketika orang yang sedang tersakiti, terbebani, tertekan, ketakutan, sedih dan bahkan marah kita akan sendirinya tahu jika sesuatu sedang terjadi tanpa harus bertanya  walaupun untuk orang asing sekalipun. Nenek tua itu membawanya masuk dengan tergesa-gesa tanpa memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi jika membawa orang asing masuk ke dalam rumahnya, perasaannya terenyuh tak ada sedikitpun pikiran buruk, tak ada kecurigaan terhadapnya, yang nenek tua itu lihat adalah jika orang yang dia lihat didepannya ini jelas tengah membutuhkan bantuan. Dia memberikannya air hangat dan sapu tangan untuk membersihkan darah yang sekarang sudah kering ditangannya. Dia melepaskan jas hitam yang ia kenakan dan mengenakan jaket tebal yang nenek itu berikan.

Tatapannya kosong dan dingin, tubuhnya masih bergetar atas kejadian yang belum lama ini terjadi pada dirinya. Nenek tua itu hanya diam memperhatikannya memberikan ruang dan waktu untuknya. Walaupun dalam pikiran nenek tua itu sudah bergulir pertanyaan-pertanyaan yang memekik tubuhnya untuk ditanyakan tapi dia memilih diam dan bersabar.

“Halmoni… !” Pelan dia memanggilnya. Dia menaikan wajahnya dan menemukan nenek tua itu sedang duduk diam didepannya.

“Ndeh..!” Nenek tua itu membalasnya dengan pelan. Sangat pelan sehingga terasa berbisik ditelinganya. Wajahnya yang sudah keriput dan rapuh tersenyum kepadanya seakan memberikan kekuatan dan kepercayaan bahwa apapun yang dia katakan nenek itu akan percaya kepadanya tanpa mempertanyakan alasan.

Dia meneteskan air matanya tak mengerti mengapa dia tetap menangis seperti ini. Dia merasa menyedihkan, lemah dan tak berdaya. Didepannya ada orang yang lebih rentan darinya tapi saat ini dia merasa menjadi manusia paling lemah dan tak berdaya. Tanganya menutupi matanya kencang menahan air mata untuk jatuh lebih dari apa yang bisa dia keluarkan. Namun aroma darah yang masih menempel ditangannya membuat perasaannya melemah kembali dan akhirnya menangis dengan keras. Nenek tua itu berjalan menghampirinya dan seakan putranya sedang berada dihadapannya, mengadukan permasalahannya, nenek tua itu tidak berpikir panjang dia langsung memeluknya dengan erat dan menangis bersamanya.

“Apapun yang sedang terjadi kepadamu anak muda… kuatkanlah dirimu! Jika kau merasa ini bukan apa yang seharusnya terjadi pikiranlah semua orang yang sedang berada di Rumah sakit yang meronta mempertanyakan mengapa dari sekian banyak orang mereka yang harus terbaring disana!! Jika kau merasa ini bukan kesalahanmu pikirkanlah kau adalah sebuah pedang yang sedang ditempa, dibakar, dilapisi, dipukuli dan dibentuk sekian rupa sampai kau menjadi sebuah pedang yang kuat!! Manusia selalu melakukan kesalahan itu mengapa kita mempunyai Tuhan karena kita manusia adalah makhluk yang selamanya mengejar kebenaran dan mencari apa yang benar itu! … jadi ndeh jika kau memang bersalah! Sekarang.. puaskanlah! Disini.. menangislah!!”

Mereka berdua terhanyut, sampai suara sirine terdengar menusuk kupingnya. Dia melepaskan pelukan nenek tua itu dan bangkit berdiri bersiap untuk pergi melarikan diri lagi.

“Halmoni.. gomawo.. tapi aku harus segera pergi sekarang juga!!” Dia dengan tergesa-gesa berlari namun tangan nenek tua itu menahannya, nenek itu menggeleng.

“Kamu diam dulu disini sampai keadaan sudah tenang!” Dia menatap nenek tua itu dengan ragu. Dia menggeleng keras, dia tidak ingin membuat masalah dengan orang baru yang sudah terlalu baik kepadanya. Dia tidak ingin melibatkan siapapun. Dia bersikeras untuk pergi.

“Anak muda tunggu.. !” Nenek tua itu tergesa-gesa mengambil sesuatu. Beberapa menit kemudian dia muncul kembali dan memberikan sesuatu kepadanya.

“Ini untukmu.. bawalah kamu pasti membutuhkannya!!” Dia menggeleng. “Tidak.. aku tidak bisa menerimanya!” Tapi nenek tua itu bersikeras sampai akhirnya dia tidak bisa menolak.

5 menit kemudian pria yang menangis didepan rumah nenek tua itu pun menghilang.

Tok tok…

“cusunghamnida halmoni.. saya dari kepolisian pusat ..!” Nenek tua itu menelan ludah keringnya dan membukakan pintu untuk mereka.

“Ndeh.. ada yang bisa saya bantu?”

“Saya dalam pengejaran seorang pembunuh.. jadi kami diperintahkan untuk memeriksa setiap rumah disekitar sini, jadi jika tidak keberatan kami akan memeriksa rumah halmoni sebentar…!” Nenek tua itu menengok kebelakang rumahnya sebentar lalu mengangguk kepada mereka.

Selama kurang dari 20 menit para polisi itu memeriksa rumah nenek tua itu namun tak ditemukan sedikitpun hal-hal yang mencurigakan jadi para polisi itu pergi untuk memeriksa rumah lainnya.

Setelah rumahnya kembali kosong nenek itu menjadi resah memikirkan bagaimana keadaan pria tadi. Dia berharap semuanya akan baik-baik saja.

***

“Haejin~ah… kita sudah mengerahkan semua petugas terdekat, mereka akan menyisir seluruh station, halte dan bandara yang kemungkinan akan dia lewati untuk melarikan diri!” Setelah mengkonfirmasi pergerakan dia langsung bersiap diri. Haejin dengan tatapan dingin dan marah lalu memasangkan jaketnya dan membawa 2 pistol dengannya, dia berlari ke dalam mobilnya dan melesat meninggalkan rumahnya. Melupakan kenyataan jika dia seharusnya lebih mengutamakan perihal lain.

Istrinya baru saja terbunuh. Jasadnya masih terbaring di rumah sakit dan darah masih menempel ditubuhnya. Tapi dia tidak mempedulikan itu, karena jika pembunuh istrinya sudah tertangkap maka apa yang sekarang dia lakukan akan terbalas tuntas. Nyawa dibayar nyawa, darah dibayar darah. Dia berjanji akan membunuhnya dengan tangannya sendiri.

Mobilnya melesat dijalanan yang sudah kosong, lampu-lampu jalan terlihat remang-remang. Keadaan yang seharusnya tenang, saat semua orang harusnya terbaring tidur dia malah harus menyaksikan istrinya mati didepan matanya. Kenyataan yang menyakitkan, lebih menyakitkan daripada dia terbunuh saat ini juga. Mata itu, kepedihan itu, air mata itu, darah itu, menghantui setiap denyut nadinya.

 ♡TBC♡

Jangan lupa komennya yah guys…

Support me all the way…..

I hate being ignore guys… jeball..

 

Advertisements

13 thoughts on “SOMETHING CALLED LOVE – Pelarian [Chap. 1]

  1. Kufikir haejin cewe hohoho
    Mungkin iya kali ya Jiyong yg bunuh, kalo bukan Jiyong malah ga seruu wkwk
    Baru baca chap 1 tapi tapi udah nagihhh, seru seruu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s