ROMANCE TOWN ~ “My Little Family” [Part.7]

romance town

Author  : Sponge- Y
Main Cast  : Kwon Jiyong (25 tahun) , Park Sandara (25 tahun)
Support Cast : Yoon Suk (4 th) , Kiko Mizuhara (24 th) , Park Bom (25 th) , Kim Jaejoong (25 th) , etc.
Genre : Romance, Comedy, Family.

 

Jiyong POV

Aku melirik jam di tanganku dan rupanya telah menunjukkan pukul sebelas malam. Sepertinya tidak mungkin jika Dara dan Yoonsuk masih menungguku di tempat itu, kupikir mereka sudah berada di rumah. Aku menatap pintu di depanku dengan perasaan yang sama sekali tidak kumengerti. Takut? Aish…. Tentu saja aku takut! Dara pasti akan menghajarku habis- habisan nanti. Tapi, kenapa aku harus takut pada yeoja gila itu? Gahh!! Lalu,, apa aku merasa bersalah? Tidak tidak! Untuk apa aku harus merasa bersalah pada mereka? Bukan salahku kan jika tiba- tiba aku tidak datang karena aku lebih mementingkan seseorang yang lebih dulu aku cintai? Sial! Jadi ada apa denganku? Seumur hidupku baru kali ini aku takut untuk masuk ke dalam rumahku sendiri. Aku merasa seakan ada monster di dalam sana yang siap memakanku hidup- hidup.

Atau lebih baik aku menginap di hotel saja? Oh God! Bahkan itu bukan ide yang lebih baik. Jika ada yang melihatnya dan apalagi jika orang tuaku tahu pasti semuanya akan hancur berantakan. Baiklah… sepertinya aku memang tidak punya pilihan lain. Aku mengacak rambutku frustasi lalu dengan ragu mengetik kode kuncinya. Aku mulai berjalan masuk sesaat setelah pintu terbuka dan kulihat lampu rumah sudah tidak menyala, mungkin mereka sudah tidur. Aku menghela napas lega, setidaknya malam ini aku bisa sedikit tenang, meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku berjalan dengan gontai menuju ke kamarku dan lagi- lagi aku ragu untuk memasukinya. Dara sedang tidur di dalam, jika dia menyadari kedatanganku, dia akan terbangun dan mungkin saja dia akan langsung mengamuk. Tidak tidak… lebih baik jangan mengganggu harimau yang sedang tertidur pulas dan siap menerkamku kapan saja. Hufthh….. Sepertinya sofa ruang tamu jauh lebih baik daripada itu.

“Kamu baru pulang?” Baru saja aku hendak berbalik dan berjalan menuju ruang tamu, tiba- tiba aku mendengar sebuah suara yang sangat ingin kuhindari detik ini juga.

“Omo!!” Aku terlonjak kaget dan menatap ngeri seseorang yang sedang memandangku tajam tak jauh dari tempatku berdiri. Mati! Ucapkan selamat tinggal pada dunia saat ini juga, Jiyong! Dia masih menatapku tajam dan dengan perlahan mulai berjalan mendekatiku. Baiklah… aku mulai panik! Pintu keluar! Dimana pintu keluarnya???? Aku ingin lari sekarang juga tapi entah kenapa kaki sialan ini bahkan tidak mau diajak kerja sama.

“Dara, tenanglah…. Biarkan aku menjelaskannya dulu.” Kataku dengan nada yang kubuat setenang mungkin, berharap jika dia mau mendengarkanku kali ini. Dia tetap tidak bergeming dan terus berjalan mendekatiku. Aku benar- benar panik, lututku bahkan sudah mulai melemas. Gahh!!! Ada apa denganmu Jiyong? Dia hanyalah yeoja gila bernama Sandara Park dan kenapa aku menjadi sangat takut padanya? Tidak, tidak…. Kupikir dia bukan wanita biasa, aku bahkan bisa melihat aura negatif terpancar dari tubuhnya. Bagaimana jika besok tidak ada seorang pun yang menemukan mayatku di rumah ini?

“Kamu menemui Kiko?” Tanyanya pelan setelah dia berhenti tepat di hadapanku. Aku tidak menjawab dan hanya memandangnya heran, ekspresi wajahnya… kenapa tiba- tiba berubah seperti itu? Beberapa detik yang lalu dia memandangku dengan tatapan yang mengerikan dan sekarang dia memandangku dengan ekspresi yang sulit diartikan. Apa dia begitu kecewa kepadaku?

“Ahh… tentu saja, kamu pasti lebih memilih dia daripada aku dan Yoonsuk. Mianhe, aku sangat bodoh. Kamu sudah menerima kami seperti ini saja harusnya aku berterima kasih bukan? Lalu apalagi yang aku harapkan?” Tanyanya lemah lalu berjalan melewatiku masuk ke kamar sedangkan aku masih berdiri terdiam disini. Apa maksudnya berkata seperti itu? Dan entah kenapa aku semakin merasa bersalah padanya. Mungkin tidak seharusnya aku meninggalkan mereka hanya untuk menemui Kiko. Argghhh!!! Tidak, tidak! Apa aku sebodoh itu? Bahkan aku lebih dulu mengenal Kiko daripada dia dan Yoonsuk. Lalu apa aku salah? Aku masih mencintai Kiko, sedangkan Dara hanyalah orang yang mencoba untuk membunuhku secara perlahan. Tapi…… aish! Entahlah, aku benar- benar bingung sekarang.

—-

Pagi yang menyebalkan. Rasanya aku seperti hidup bersama seorang zombie. Bayangkan saja dari tadi malam Dara terus mengabaikanku dan bahkan dia sama sekali tidak mau berbicara padaku. Dan sialnya, sikapnya ini benar- benar membuatku tidak nyaman. Lebih baik dia mengamuk seperti orang gila atau memukulku atau melempariku dengan apa saja daripada dia harus mengabaikanku seperti ini. Tapi…. Kenapa aku harus kesal dengan sikapnya? Bukankah dia yang diam saja seperti ini jauh lebih baik? Itu artinya dia tidak akan menggangguku lagi. Lalu…. Aish!! Baiklah… aku akui aku justru semakin merasa bersalah.

Aku duduk di meja makan sambil memandang kesal ke arahnya yang sedang mondar- mandir menyiapkan makanan. Lihatlah!! Dia bahkan tidak menganggap keberadaanku! Jinjja…. Berani- beraninya dia melakukan hal seperti ini padaku. Dia mulai meletakkan beberapa piring berisi makanan di atas meja makan dan tanpa melirikku sedikit pun. Oke baiklah, sebenarnya aku ini dianggap apa? Awas saja kau Sandara!!!!!!

Aku mengalihkan pandanganku ketika mendengar suara langkah kecil dan melihat Yoonsuk sedang berlari kecil ke arahku dan Dara. Perasaan ini lagi, kenapa dengan melihat Yoonsuk aku kembali merasa bersalah ? Mungkin dia juga akan marah seperti Dara. Dia tersenyum sangat manis ketika melihatku, dan… tunggu dulu! Dia tersenyum? Apa dia tidak marah padaku?

“Pagi Appa, pagi Eomma.” Katanya dengan riang. Apa dia tidak kecewa padaku? Dara tersenyum dan berjalan menghampiri Yoonsuk lalu mengacak pelan rambutnya. Ya! Kenapa dia harus tersenyum pada Yoonsuk sedangkan dari tadi dia hanya mengabaikanku. Aish…. Aku membencimu Sandara!!

“Pagi sayang, aigoo… tampannya anak eomma pagi ini.” Kata Dara sambil membelai lembut wajah Yoonsuk. Hoekk!!! Kemana sikap manisnya itu ketika bersama denganku tadi hah? “Kajja ppali makan, nanti kamu bisa terlambat masuk sekolah.” Yoonsuk mengikuti perintah Dara dan duduk di hadapanku. Dia polos sekali, bahkan sepertinya dia sudah melupakan kejadian kemarin. Huuuhhh… kenapa aku terus saja memikirkannya? Itu bahkan bukan salahku!! Aku mendengus kesal lalu mengambil piring dan mulai mengisi nya dengan nasi. Lebih baik aku makan saja daripada harus memikirkan hal bodoh ini terus.

“Kenapa Appa tidak datang kemarin?” Tanyanya tiba- tiba yang membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya. Heol! Ternyata aku salah, dia masih mengingatnya.

“A-Appa sedang banyak urusan kemarin. Appa minta maaf ne?” Kataku dengan ragu dan aku bisa merasakan Dara sedang menatapku dengan tajam sekarang. Oke, maaf jika aku harus berbohong, tapi tidak mungkin juga kan aku mengatakan pada Yoonsuk jika kemarin aku lebih memilih untuk menemui Kiko.

“Gwenchana Appa.” Kata Yoonsuk sambil tersenyum polos. Bagus… dia semakin membuatku merasa bersalah. Aigoo.. bukankah pepatah bilang jika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Lalu kenapa sikap Dara dan Yoonsuk begitu berbeda? Heol!! Aku bahkan baru tahu jika Dara adalah manusia pendendam, atau jangan- jangan dia juga beniat untuk membalaskan dendamnya? *sigh*

“Tapi… bisakah Appa menggantinya?” Tanya Yoonsuk sambil menatapku dengan ragu. Aku menghentikan kegiatan makanku lalu menatap lembut ke arahnya.

“Mwo? Katakan saja apa yang kamu inginkan,”

“Jinjja? Aku ingin ke taman bermain.” Kata Yoonsuk dengan riang. Aku tertawa mendengarnya sambil melirik ke arah Dara yang hanya menatap kosong ke arah Yoonsuk. Baiklah… aku akan dengan senang hati menuruti kemauannya, mungkin saja bisa mengurangi rasa bersalahku ini. Cihh… masa bodoh dengan zombie yang satu itu!

“Baiklah. Setelah Yoonsuk pulang sekolah, kajja kita pergi ke taman bermain.”

—-

Sandara POV

Aku melihat ke arah yoonsuk yang sedang menaikki sebuah wahana sambil sesekali melambaikan tangannya ke arahku. Aihh… dia terlihat begitu bahagia, jika dipikir- pikir sudah berapa lama dia tidak tertawa sebahagia itu? Aku hanya selalu membawanya ke dalam suatu masalah….

“Ini.” Kata Jiyong yang tiba- tiba datang sambil menyerahkan satu kaleng minuman. Sebenarnya aku enggan menerimanya, tapi karena aku cukup haus dengan terpaksa aku menerimanya juga. Aish… andai saja bukan Yoonsuk yang meminta, aku pasti tidak akan pernah mau pergi ke tempat ini bersamanya. Entah kenapa setelah kejadian kemarin, aku sangat kesal padanya bahkan berbicara dengannya pun aku muak. Sadar Dara… jangan bodoh, memang apa salahnya jika dia lebih memilih orang yang dicintainya daripada orang yang telah menghancurkan hidupnya?

“Mianhe.” Katanya pelan yang hampir terdengar seperti bisikan tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Tunggu dulu! Aku tidak salah dengar kan? Baru saja dia bilang…. Maaf? Seorang Kwon Jiyong meminta maaf? Ah tidak… tidak… pasti aku sedang berhalusinasi, atau memang aku terlalu mengharapkan permintaan maafnya sampai sampai aku berhalusinasi seperti ini?

“Ya Park Sandara! Aku tahu kamu marah tapi sampai kapan kamu akan terus mengabaikanku seperti ini hah??!!” Teriak Jiyong tiba- tiba yang mampu mengalihkan pandanganku dan menatapnya heran. Apa dia sedang kerasukan?

“Ada apa denganmu? Kenapa tiba- tiba marah seperti ini??!!” Balasku tak mau kalah. Aigoo…. Sampai kapan namja gila ini akan terus membuatku naik darah? Aku benar- benar membencinya!

“Kamu tidak mendengarkanku? Aku bilang mianhe. Mianhe……. aku telah mengingkari janjiku kemarin.” Katanya dengan merendahkan nada suaranya sedangkan aku hanya memandangnya dengan heran. Jadi tadi aku tidak salah dengar? Dia benar- benar meminta maaf? Jangan- jangan memang ada yang salah dengan otak namja ini.

“Jadi… kamu masih tidak mau memaafkanku?” tanyanya lagi menyadarkanku.

“B-baiklah, tapi ada syaratnya.” Kataku ragu dan kulihat ekpresi kelegaan dari wajah Jiyong, sepertinya dia memang benar- benar merasa bersalah. Aish… jujur saja aku baru tahu sisi lain dari seorang Kwon Jiyong, kukira dia hanya bisa marah- marah dan memperlakukanku dengan kasar.

“Arasso, katakan apa saja yang kamu mau.” Dia tersenyum dengan sangat manis, lalu mengacak pelan rambutku. Aku kembali terdiam, apa yang baru saja dilakukannya…… dan sejak kapan Jiyong bisa bersikap manis terhadapku? Gahh!!! Kumohon hentikan sekarang juga Jiyong bodoh! sebelum aku benar- benar tidak bisa mengendalikan perasaanku.

“Eomma… Appa…” Teriak Yoonsuk tiba- tiba yang membuat Jiyong mengalihkan pandangan ke arahnya, sedangkan aku masih terdiam dan enggan mengalihkan pandanganku darinya. Kulihat dia menundukkan badannya ketika Yoonsuk mendekat dan dia kembali tersenyum padanya.

“Kamu menikmatinya sayang?” Tanyanya dan Yoonsuk menjawabnya dengan anggukan kepala. Bukankah cara Jiyong memperlakukan Yoonsuk benar- benar seperti anak kandungnya? Seandainya saja jika Jiyong benar- benar menyayangi Yoonsuk, dan bukan hanya sekedar akting.

“Kajja Appa, kita coba yang lain.” Kata Yoonsuk sambil menarik tangan Jiyong dan mengajaknya pergi dari sini. Dasar bocah ini… jika sudah ada Jiyong sepertinya dia memang tidak membutuhkanku. Aku menghela nafas panjang lalu mengikuti mereka dari belakang. Bagaimana jika aku sudah tidak bisa lagi mengendalikan perasaanku? Aku memang bodoh, sebenarnya apa yang telah aku pikirkan. Seandainya pun aku tidak bisa mengendalikan perasaanku ini, pasti hanya aku sendiri yang akan tersakiti.

Aku hampir saja menabrak punggung Jiyong ketika dengan seenaknya dia menghentikan langkahnya tiba- tiba. Uggh!!! Tidak tahukah dia jika aku sedang melamun dan tidak memperhatikan jalan?

“Yoonsuk-ah, bagaimana jika rumah hantu?” Katanya kemudian yang membuatku menatapnya tidak percaya. Oh Tuhan… apa otak namja ini memang bermasalah? Aku maju satu langkah lalu memukul kepalanya.

“Argghh! Ya! Apa yang kamu lakukan?” Bentaknya sambil mengelus kepalanya bekas pukulanku. Kupikir dengan memukul kepalanya, otaknya yang bermasalah itu akan kembali normal. Mana ada orang tua yang mengajak anak berusia empat tahun masuk ke rumah hantu? Hanya Jiyong…. ya, hanya Kwon Jiyong bodoh.

“Kajja kita pergi saja ke tempat lain.” Kataku sambil memandang tajam ke arahnya. Bukankah masih banyak wahana yang pantas untuk anak- anak? Menyebalkan. Lagipula rumah hantu terlihat begitu menyeramkan bagiku.

“Lalu bagaimana dengan rumah hantunya eomma?” Celetuk Yoonsuk tiba- tiba yang membuatku mengarahkan tatapan mautku juga ke arahnya. Aigoo… sebenarnya ada apa dengan dua orang ini? Apa virus Kwon Jiyong begitu mempengaruhi Yoonsuk?

“Jadi… kamu mau masuk ke rumah hantu Yoonsuk-ah?” Tanya Jiyong penuh harap sedangkan Yoonsuk menganggukan kepalanya dengan mantap. Jiyong mengalihkan pandangannya ke arahku lalu tersenyum penuh kemenangan. Oh Tuhan! Aku benar- benar tidak mempercayai ini, apa Jiyong memiliki ilmu sihir? Bagus…. Dia kembali menjadi namja yang menyebalkan!

“Kamu tidak ingin ikut?” Tanyanya padaku sambil tersenyum licik. Oh terima kasih banyak… sayangnya aku sama sekali tidak berniat untuk memasuki rumah hantu sialan itu. Tapi… bagaimana dengan Yoonsuk? Gahh!! Awas saja kau Kwon Jiyong!

“Sepertinya Eomma takut.” Celetuk Yoonsuk lagi sedangkan Jiyong memandangku dengan sebelah alisnya terangkat ke atas. Aargghhh!! Sial, sial, sial!!! Dua makhluk ini benar- benar mengintimidasiku, entah kenapa tidak ada satupun dari mereka yang memihakku.

“Cihh… dasar penakut. Kajja Yoonsuk-ah, kita tinggalkan saja eomma.” Kata Jiyong dengan raut wajah yang sangat sangat menyebalkan. Dia kemudian menggandeng Yoonsuk menuju ke rumah hantu dan meninggalkan aku yang masih kesal begitu saja. Tenang Dara… tenangkan dirimu. Hanya rumah hantu, ya… sepertinya tidak begitu menakutkan lagipula semua yang ada di dalamnya pasti hanya manusia biasa. Aku menghela napas panjang lalu berlari kecil menyusul mereka.

Aku menghentikan langkahku ketika kita sampai tepat di depan pintu masuk. Oh Tuhan… haruskah aku masuk? Tidak Dara…. Lebih baik kamu tunggu saja di luar dan………………. Membiarkan Jiyong mengejekku begitu saja? Anni, anni, pokoknya aku harus masuk!

“Kamu yakin ingin ikut?” Tanya Jiyong meremehkanku sedangkan aku hanya mengalihkan pandanganku darinya sambil memasang wajah kesal. Aku pasti akan membalasnya suatu saat nanti, ya tunggu saja Kwon Jiyong! Akhirnya kita mulai memasuki rumah hantu sialan ini dengan Jiyong dan Yoonsuk yang berjalan di depan dan aku mengikutinya dari belakang. Gelap, dan…. menakutkan, jinjja… apakah Yoonsuk tidak ketakutan? Oh baiklah… mereka bahkan tidak menghargai keberadaanku, aku memang selalu diabaikan.

“Appa, kenapa dia meloncat- loncat seperti itu?” Tanya Yoonsuk tiba- tiba sambil menunjuk ke arah sesuatu yang tidak bisa aku lihat dengan jelas. Yah, itu karena tempat ini begitu gelap. Tapi aku bisa mendengarnya, seperti suara orang yang sedang melompat- lompat dan sepertinya suara itu semakin mendekat. Aku memfokuskan pandanganku dan tidak lama kemudian melihat…..

“Kyaaaaaaa!!!!” Tanpa menunggu lagi aku langsung berlari ke arah Jiyong dan menggenggam erat tangannya. Aku memejamkan mata dan meneggelamkan wajahku di lengannya. Aku baru saja melihat seseorang dengan baju serba hitam, wajah putih pucat, melompat- lompat , da aku yakin… itu adalah vampire!

“Ya Sandara! Apa yang kamu lakukan?” Kata Jiyong sambil mencoba menyingkirkan kepalaku dari lengannya. Dan tentu saja aku bersikeras tidak mau menyingkirkan wajahku dari lengannya. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi jika dia akan mengejekku habis- habisan nanti. Sungguh, aku benar- benar ketakutan, aku tidak menyangka jika hantu nya akan semenyeramkan itu.

“Apa eomma takut? Lihatlah eomma, dia hanya manusia biasa.” Kata Yoonsuk sambil menarik- narik rokku. Aku masih tidak bergeming dan aku sama sekali tidak berniat untuk melihatnya. Aku sangat yakin, disini tidak hanya ada vampire, pasti masih banyak hantu- hantu menyeramkan lainnya. Dan detik berikutnya aku mendengar Jiyong tertawa dan diikuti oleh Yoonsuk yang ikut- ikutan menertawaiku. Kali ini terserah!! Aku tidak peduli mereka akan menertawakanku seperti apa, aku sudah tidak peduli lagi!! Bukankah keselamatanku jauh lebih penting?

“Baiklah, kajja kita jalan lagi.” kata Jiyong kemudian, lalu mulai melanjutkan langkahnya. Tentu saja aku masih menempel padanya sambil menggenggam erat tangannya dan tidak mau melihat apapun yang ada disini. Yoonsuk-ah, aish… bagaimana mungkin anak sekecil itu tidak takut pada hantu? Benar- benar tidak dapat dipercaya. Sepertinya kita mulai masuk lebih ke dalam dan aku mulai mendengar suara musik yang membuat suasana menjadi sangat mencekam. Gahh!! Sial!! Aku memang tidak melihat, tapi suara menyebalkan itu bisa juga membuatku takut. Aku membenci tempat ini, akan kupastikan kamu akan mati setelah ini Kwon Jiyong!!

“Ya Sandara! kamu benar- benar takut? Lihatlah, ada sesuatu yang berjalan mendekatimu.” Bisik Jiyong dengan tiba- tiba yang membuatku kembali berteriak histeris dan semakin mengeratkan genggamanku pada lengannya. Sesuatu? Seperti apakah itu? Bagaimana jika dia menyentuhku? Aaarggghhh!! Jiyong-ah, kumohon jangan biarkan hantu sialan itu menyentuhku.

“Wahh… dia menyeramkan sekali. Lihatlah, matanya menonjol keluar, lidahnya menjulur, dan….arrghhh!!” Aku memukul tubuhnya agar dia berhenti mengoceh hal yang tidak berguna seperti itu. Dia tahu jika aku sedang ketakutan, lalu kenapa dia harus menjelaskannya? Oh Tuhan… kapan ini akan berakhir? Aku benar- benar ingin menangis sekarang.

“Bhuahahaha…..” Aku mendengar Jiyong dan Yoonsuk tertawa dengan sangat puas sekarang dan ketika itu juga aku menyadari sesuatu. Baiklah…. mereka mempermainkanku lagi kali ini, aku ingin marah, tapi tetap saja aku tidak bisa. Aku ingin segera keluar dari tempat terkutuk ini, Jiyong sangat- sangat keterlaluan.

Kita terus berjalan dengan sesekali Yoonsuk yang menanyakan hal- hal bodoh kepada Jiyong dan mereka juga masih tetap menertawakanku. Hingga akhirnya aku sudah tidak mendengar suara music yang menyeramkan tadi dan kupikir kita sudah sampai di luar. Apakah sudah berakhir?

“Sudah selesai, Dara. Menjauhlah dariku.” Kata Jiyong sambil menyingkirkan kepalaku dari lengannya. Aku melepaskan genggamanku lalu menjauhkan wajahku dari lengannya dan ternyata kita memang sudah berada di luar. Aku menghela napas lega kemudian merapikan rambutku yang berantakan dengan tubuh dan kakiku yang masih gemetaran. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah masuk ke rumah hantu lagi!!

“hahaha… lihatlah, wajahmu lucu sekali.” Kata Jiyong sambil tertawa terbahak- bahak mengabaikan tatapan tajam dariku dan tidak lama kemudian Yoonsuk ikut- ikutan lagi menertawakanku. Kupikir Jiyong benar- benar keterlaluan, apa aku yang sedang tersiksa adalah hiburan baginya? Kenapa dia selalu memperlakukanku dengan seenaknya? Aku mengabaikannya lalu berjalan meninggalkan Jiyong dan Yoonsuk begitu saja. Kwon Jiyong, aku sangat sangat membencimu!!

—–

Jiyong POV

Aku memberikan satu bungkus es krim rasa coklat pada Yoonsuk. Hari sudah mulai gelap dan tidak terasa kita sudah hampir seharian berada di taman bermain ini. Aku melirik ke arah Dara yang sedang duduk sambil menundukkan kepalanya. Apa dia marah lagi? Oh ayolah… hanya karena rumah hantu itu dia marah lagi? Lagipula siapa juga yang menyuruhnya mengikuti aku dan Yoonsuk masuk, dasar yeoja aneh. Tapi ekspresi wajahnya tadi benar- benar lucu, aku hampir tidak bisa berhenti tertawa andai saja dia tidak menatapku dengan tatapan mautnya.

“Minumlah.” Aku menyodorkan satu kaleng minuman ke arahnya tapi dia tetap tidak bergeming dan masih menundukkan kepalanya. Aku melirik Yoonsuk dengan tatapan bertanya- tanya dan dia hanya menggeleng pelan. Aish… yeoja ini benar- benar merepotkan.

“Dara, minumlah dulu.” Kataku lagi dengan nada suara yang kubuat semanis mungkin. Dan dia masih tetap tidak bergeming, apa dia baik- baik saja? Oke baiklah… aku mulai khawatir.

“Apa kamu sudah puas?” Tanyanya tiba- tiba dengan suara bergetar. Dia…. Menangis? Aku hanya diam bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Mungkin dia benar- benar ketakutan tadi… aish… dia membuatku kembali merasa bersalah. Tapi, oh ayolah…. Dimana Sandara yangmenyebalkan dan selalu marah- marah? Apa dia benar- benar takut dengan hantu? Jujur saja, aku baru tahu sisi kelemahan dari dirinya ini. Aku melirik ke arah Yoonsuk lagi dan kali ini dia menatapku dengan tatapan menyesal. Aku mendengus kesal lalu berjongkok dan mensejajarkan tubuhku dengan tubuh Dara.

“Arasso, mianhe….” Kataku sambil mencoba melihat wajahnya yang tertutup oleh sebagian rambutnya. Kudengar dia mulai terisak pelan dan ini sangat- sangat menyebalkan. Apa aku benar- benar keterlaluan tadi?

“Aku membencimu.” Katanya di sela- sela isak tangisnya. Tanpa dia mengatakannya pun aku sudah tau dari awal jika dia membenciku dan tentu saja aku juga membenci dirinya. Tapi kenapa aku harus selalu merasa bersalah? Argghhh!!! Aku benar- benar tidak mengerti dengan keadaan ini.

“Bukankah aku sudah meminta maaf? Maafkan aku ne?” Kataku sambil menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajahnya hingga aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Air mata masih mengalir dari matanya dan tanpa sadar aku menyeka air mata yang membasahi pipinya tersebut. Ini pertama kalinya aku melihat Dara menangis dan aku baru sadar jika ternyata dia juga seorang wanita biasa. Tentu saja kecuali tangis palsunya waktu itu! Dan entah kenapa aku justru lebih suka melihatnya seperti ini, ahh.. bukan.. bukan.. tentu saja bukan karena aku puas melihatnya tersiksa seperti ini, tapi…. Uughhh sial!! Apa yang aku pikirkan?

“Appa, eomma! Apa kalian akan terus bermesraan seperti ini? Aku lapar, kajja kita makan.” Celetuk Yoonsuk tiba- tiba yang membuatku tersadar dan segera menjauhkan tanganku dari wajah Dara. Dasar bodoh! Apa yang baru saja aku lakukan?

“O-oh, b-baiklah, kajja kita makan dulu sebelum pulang.” Kataku lalu segera bangkit berdiri. Damn! Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Tenang Jiyong… tenanglah, mungkin aku kelelahan, ya… aku pasti sedang kelelahan.

—-

Aku melirik jam tanganku dan ternyata sudah menunjukkan pukul delapan malam, itu artinya kita sudah hampir seharian berjalan- jalan. Benar- benar hari yang melelahkan, tapi entah kenapa aku justru merasa sedikit bahagia. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan kehadiran Dara dan yoonsuk di dalam kehidupanku, ahh entahlah… aku hanya ingin menjalani nya, lagipula hanya tersisa beberapa minggu lagi kan. Yoonsuk telah tertidur lelap di kursi belakang, mungkin dia juga kelelahan. Sedangkan Dara dari tadi tidak bersuara, sepertinya penyakit yeoja aneh ini kembali kambuh dan lagi- lagi dia mengabaikanku. Kenapa hanya untuk mendapatkan permintaan maaf darinya saja begitu sulit? Ahh… jinjja!

Aku menoleh ke arahnya dan dengan segera dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Bagus… kita benar- benar terlihat seperti pasangan suami istri sesungguhnya yang sedang bertengkar. Sebenarnya ada apa dengan yeoja ini? Bukankah tadi aku sudah meminta maaf dan bahkan aku sudah membelikannya banyak sekali makan malam. Hey!! Aku adalah seorang Kwon Jiyong yang sangat tidak mudah mengatakan maaf begitu saja pada orang lain dan bahkan hari ini aku sudah dua kali meminta maaf padanya. Sikapnya ini benar- benar menggagguku.

“Hei.. kamu masih marah?” Aku memberanikan diri untuk bertanya padanya dan tidak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya menatapku, tentu saja dengan tatapan yang sangat menyebalkan.

“Tentu saja.” Jawabnya dingin lalu kembali menatap lurus ke depan. Aku mendengus kesal dan rasanya ingin sekali aku melemparnya keluar dari mobilku. Kenapa harus selalu aku yang memahaminya? Sikapnya ini benar- benar membuatku muak! Sabar Jiyong, jangan sampai hanya karena yeoja gila ini aku sampai menjadi buronan polisi. Tapi, tidak bisakah dia menangis lagi seperti tadi? Dia bahkan terlihat lebih cantik jika sedang menangis dibandingkan dengan dia yang sedang ngambek seperti sekarang. Sial… aku kembali teringat kejadian tadi dan itu membuat pipiku terasa panas. Gahh!! Sadar Jiyong, aku sudah gila, ya… otakku pasti sedang terganggu. Aku lalu menghentikan mobilku di kawasan distrik Yongsan, sepertinya aku membutuhkan udara segar, udara di dalam mobil ini benar- benar menyesakkan.

“Wae?” tanyanya sambil memandangku dengan heran.

“Tidak apa- apa. Aku hanya ingin menghirup udara segar.” Jawabku lalu dengan segera keluar dari mobil. Aku berjalan menuju ke depan mobil dan duduk di bagian kapnya. Aku sering mengunjungi tempat ini ketika sedang stress ataupun sedang banyak masalah, itu karena tempat ini benar- benar menyejukkan dan bisa menenangkan pikiran. Dari sini kita dapat melihat indahnya lampu- lampu kota di bawah sana.

“Apa kamu sering mengunjungi tempat ini?” tanya Dara yang tiba- tiba sudah ada disampingku dan ikut duduk di atas kap mobil. Aish… membuatku kaget saja. Tapi ada apa lagi dengan dirinya? Bukankah tadi dia sedang marah dan mengabaikanku? Sudah kubilang, dia memang yeoja aneh. Kulihat dia memejamkan matanya dan sedang menikmati hembusan lembut udara malam. Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai ikut bergerak- gerak karena terpaan angin, dan itu membuatnya kelihatan sangat cantik. Ya! Anni, anni… apa yang baru saja aku pikirkan? Cantik? Cihh! Sadar Jiyong, dia Dara… dia Dara!!! Tidak lama kemudian dia membuka matanya lalu melihat ke arahku yang bahkan dari tadi tidak bisa mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

“Aku sudah memaafkanmu. Tapi kamu akan mati jika melakukannya lagi.” Katanya sambil mengarahkan kepalan tangannya padaku. Aku hanya tertawa kecil, dia terlihat sangat menggemaskan. Cihh… dasar yeoja aneh.

“Arasso.” Kataku sambil mengacak rambutnya dan kulihat dia mengerucutkan bibirnya. Entah kenapa hari ini Dara benar- benar berbeda, tidak seperti biasanya yang hanya bisa tersenyum licik, berbicara penuh kebohongan, marah- marah dan berteriak padaku. Atau mungkin memang inilah Dara yang sesungguhnya. Kita sama- sama terdiam menatap lurus ke depan dan sibuk dengan pikiran masing- masing.

“Aku juga minta maaf Ji.” Kata Dara tiba- tiba. Aku mengalihkan pandanganku menatapnya yang masih menatap lurus ke depan dan entah kenapa aku tidak suka dengan ekspresi wajahnya tersebut. “Aku minta maaf karena telah membawamu sampai sejauh ini. Mianhe, aku seharusnya tidak melakukan semua ini, tapi aku tidak punya pilihan lain. Seandainya saja aku tidak ada, kamu dan Kiko pasti bisa bersama lagi.” Lanjutnya sambil menundukkan kepalanya. Ternyata Dara tidak seburuk dengan apa yang aku pikirkan selama ini, kupikir dia benar- benar yeoja licik yang memang berniat menghancurkan hidupku. Aku menggenggam sebelah tangannya yang membuatnya menatapku dengan heran.

“Gwenchana, lagipula sudah terlanjur kan? Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menjalaninya selama seratus hari.” Kataku kemudian sambil mencoba tersenyum padanya. Ini aneh… jika dipikir- pikir ini adalah pertama kalinya kita saling berbicara normal layaknya manusia biasa. Biasanya kita hanya saling bertengkar, berteriak dan bahkan aku sering membuatnya marah. Oke baiklah… sepertinya aku perlu memeriksakan otakku ke rumah sakit besok.

“o-oh, t- tentu saja. Lagipula hanya tinggal beberapa minggu lagi kan,” balasnya sambil melepaskan tangannya dari genggamanku. Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya ketika menyentuh tangannya tadi. Sial! Ini benar- benar membuatku takut, sebenarnya ada apa dengan diriku? Baiklah baiklah… hanya untuk malam ini saja Jiyong….. mungkin besok kita akan kembali lagi seperti biasanya, dia pasti akan kembali menjadi Dara yang menyebalkan. Kita kembali larut dalam pikiran masing- masing dan suasana tiba- tiba menjadi hening. Yang terdengar hanyalah deru angin malam dan suara jangkrik yang bersautan.

Hening. Kita saling tidak bersuara hingga beberapa menit berlalu, dan aku sendiri bingung apa yang harus aku katakan padanya. Aku melirik ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Aish… hanya berdua dengan Dara seperti ini kenapa aku jadi gugup?

“Lalu… apa yang akan kamu lakukan setelah semua ini berakhir?” Akhirnya aku membuka suara dan entah kenapa aku malah menanyakan pertanyaan bodoh seperti ini. Bukankah apa saja yang akan dilakukan nya bukan menjadi urusanku lagi? Dan kenapa aku harus mempedulikannya?

“Mungkin aku akan memulai semuanya dari awal. Aku akan membawa Yoonsuk pergi dari Seoul dan tinggal di Busan, di rumah orang tuaku. Aku akan membesarkannya disana….” Jawabnya sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Sepertinya aku memang mulai gila, aku bahkan tidak menyukai idenya untuk membawa Yoonsuk pergi ke Busan. Mungkin dengan begitu aku tidak akan lagi bertemu dengan Dara maupun Yoonsuk. Bukankah seharusnya aku senang? Jika dia pergi tidak akan ada lagi Sandara yang selalu mengganggu kehidupanku.

“Dan gomawo, jangan khawatir aku tidak akan pernah melupakan bantuanmu.” Lanjutnya kemudian sambil menyunggingkan senyum manisnya ke arahku. Bukankah ini tidak adil? Setelah apa yang dilakukannya padaku, dengan tiba- tiba dia datang di kehidupanku dan bahkan dia memaksaku untuk mengakui anak yang sama sekali bukan darah dagingku, lalu setelah itu dia akan pergi begitu saja. Tapi itu juga tidak salah…. Di dalam perjanjian juga bukankah tertulis seperti itu. Seratus hari, ya…. Hanya seratus hari, dan sudah hari ke berapakah ini?

“Lalu soal Kiko, kamu bisa menjelaskan padanya bagaimana keadaan kita yang sebenarnya. Bahwa pernikahan kita hanyalah pura- pura, dan Yoonsuk bukan anak kandungmu. Kuharap dia bisa mengerti dan mau menerimamu kembali. Semoga kalian bisa hidup bahagia dan…….” Belum sempat Dara menyelesaikan kalimatnya, aku sudah menarik tubuhnya ke arahku dan mengecup lembut bibirnya. Aku tidak suka dengan apa yang dikatakannya itu, kupikir dengan begini bisa membuatnya berhenti mengoceh tentang sesuatu yang tidak penting. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang karena terkejut dan tentu saja aku juga terkejut dengan apa yang sedang aku lakukan ini. Logikaku berteriak untuk melepaskannya, tapi yang terjadi aku justru semakin melumat bibirnya yang lembut. Aku benar- benar tidak bisa berpikir apapun sekarang, entahlah… mungkin hanya untuk malam ini.

Dara mulai membuka mulutnya, membiarkan lidahku masuk lebih dalam ke dalam mulutnya. Sangat lembut dan manis, aku menyukainya. Bahkan lagi- lagi jantungku berdetak lebih cepat dan kupikir aku tidak pernah seperti ini jika sedang berciuman dengan Kiko. Aku sudah gila, benar… aku pasti sudah gila. Setelah cukup lama kita berciuman akhirnya aku melepaskan bibirku dari bibirnya. Kulihat Dara menatapku dengan ekspresi yang tidak kumengerti sama sekali. Aku sendiri bingung, kenapa aku melakukannya? Apa aku mencintainya? Ahh… tidak mungkin, bodoh sekali. Aku dan Dara masih saling menatap satu sama lain dengan nafas yang terengah- engah dan tidak ada satupun dari kita yang membuka suara. Aish… kenapa aku semakin gugup seperti ini? Dan kenapa tiba- tiba tidak ada angin yang bertiup?

Trililit Trililit

Tiba- tiba terdengar suara ponsel Dara memecah keheningan. Dia sedikit tersentak lalu dengan segera mengambil ponsel tersebut dan mengangkatnya.

“Yeobboseyo?” Aku hanya bisa memperhatikannya dengan otakku yang masih belum bisa berpikir dengan jernih dan bahkan jantungku masih belum berdetak dengan normal. Yeoja ini benar- benar membuatku gila. Kulihat Dara terdiam dan detik berikutnya dia membelalakan kedua matanya seakan terkejut dengan sesuatu. Kira- kira siapa yang meneleponnya? Tangannya mulai bergetar dan dengan tiba- tiba terjatuh lemas.

“Wae? Gwenchanayo?” Tanyaku khawatir karena sepertinya dia memang sedang tidak baik- baik saja. Dia mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan ekspresi ketakutan. Apa mungkin para rentenir itu lagi? Tapi bukankah aku sudah membayar lunas semua hutang- hutangnya?

“Ya bicaralah! Ada apa? Siapa yang menelepon?” Tanyaku lagi sambil menarik paksa tubuhnya menghadap ke arahku. Dia masih terdiam dan ini benar- benar membuatku kesal.

“Jaejoong-ah.” Akhirnya dia membuka suaranya juga namun dengan sangat pelan hingga aku hampir tidak bisa mendengarnya. Jaejoong? Siapa dia? Seperti nama seorang namja dan kenapa Dara harus ketakutan seperti ini?

“Kim Jaejoong, ayah kandung Yoonsuk. Dia telah kembali.”

 

<<back next>>

Advertisements

40 thoughts on “ROMANCE TOWN ~ “My Little Family” [Part.7]

  1. Yaampun jiyong udah main kisseu aja>.< jaejoong nongol, jiyong bakal cemburu gak? Udah jelas bgt kan mereka udah mulai saling suka:'D kiko dibiarin mati aja deh/? Lol XD chapt ini bikin ngakak mulu ya.. jiyong dan pikiran anehnya itu loh XD utk pertama kalinya mereka berbicara normal layaknya manusia biasa. Trus dulu2 nya apa? Bukan manusia? Apa manusia luar biasa? Lololol XD XD XD

  2. Ahhhh jj ngapain baliksih pergi aj sana ke segitiga bermuda klo bisa bareng sama si es kiko abis itu nikah jadi jidara bisa hidup bersama selamanyaaaaa

  3. Jj comeback???omaga..tp bgus lh klo jj kmbli..gmn ya reaksi si jidong…hmm si papan penggilesan itu jauh” aja klo bisa menghilang dri muka bumi ini hahaha ;-> *evil laugh* ditunggu next chapnya eonn ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s